PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 Linggau Jurnal Language education and literature Model Pembelajaran Learning Together (LT) terhadap Kemampuan Menyusun Proposal Siswa Kelas XI MA MazroAoIllah Lubuklinggau Hamimah Indriyani1. Dian Ramadan Lazuardi2. Inda Puspita Sari3 Prodi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Lubuklinggau1,2,3 Email: Hamimahindriyani25@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tuntas atau tidaknya hasil belajar melalui penerapan model pembelajaran learning together (LT) terhadap kemampuan menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa MA MazroAoillah Lubuklinggau kelas XI Tahun pelajaran 2020/2021. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan uji normlitas dan uji hipotesis atau uji-t. Hasil penelitian ini adalah model pembelajaran learning together diterapkan dapat menuntaskan pembelajaran menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. Hal ini berdasarkan nilai pre-test sebesar 36,4545 dan nilai post-test 82. Data tes yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji-t diperoleh thitung . > ttabel . ,7. untuk taraf signifikan 5% dan thitung . > ttabel . ,5. untuk taraf signifikan 1%, hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan kata lain hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima kebenarannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran learning together (LT) secara signifikan dapat menuntaskan kemampuan menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. Kata Kunci: Learning Together. Menyusun Proposal ABSTRACT This study aims to determine whether or not learning outcomes are complete through yhe application of the learning together (LT) learning model to the ability to prepare proposals for class XI MA MazroAoillah Lubuklinggau students. This study uses quasiexperimental methods and quantitative descriptive approaches. The population of this study were all students of MA MazroAoillah Lubuklinggau class XI for the academic year 2020/2021. The sample of this research the students of class XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. The technique of data collection is done by using the test technique. The data analysis technique was carried out using normality test and hypothesis testing of ttest. The result of this study is that the learning together learning model is applied to finish the learning process of preparing proposals for class XI MA MazroAoillah Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 Lubuklinggau students. This is based on the pre-test value of 36,4545 and the post-test value of 82,1818. The collected test data were then analyzed using t-test. It was obtained that tcount . > . ,7. for a significant level 5% and thining . ,5. fpr a significant level of 1%, this means H, rejected and H, be accepted. In other words, the hypoteisis proposed in this study can be accepted as true. So it can be concluded that the application of the learning together (LT) learning model is significantly in finishing the ability to prepare proposals for class XI MA MazroAoillah Keywords: Learning together, make a proposals PENDAHULUAN Proposal secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk penawaran kerja sama. Karena itu, proposal baru berupa rencana yang belum dilaksanakan. Meskipun demikian pembuat proposal harus sudah memiliki gambaran yang lengkap tentang segala hal yang diperlukan termasuk anggaran biaya yang diperlukan, seolah-olah kegiatan itu sudah Proposal harus mempunyai kemampuan meyakinkan pembaca (Sujito. Proposal secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk penawaran kerja sama. Karena itu, proposal baru berupa rencana yang belum dilaksanakan. Meskipun demikian pembuat proposal harus sudah memiliki gambaran yang lengkap tentang segala hal yang diperlukan termasuk anggaran biaya yang diperlukan, saat kegiatan akan dilaksanakan. Proposal harus mempunyai kemampuan meyakinkan pembaca . ihak yang diberi Lebih lanjut, proposal merupkan suatu wujud atau bentuk pengajuan penawaran, baik itu berupa ide, gagasan, pemikiran, maupun rencana kepada pihak lain untuk mencapai tujuan mendapatkan dukungan sekaligus izin, persetujuan, dana, dan sebagainya (Susanto, 2. Sedangkan (Kosasih, 2. menyatakan bahwa proposal dapat diartikan sebagai sebuah rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam bentuk tulisan yang sistematis dan terperinci. Proposal dibuat untuk mendapatkan izin atau persetujuan dari pihak lain. Dapat juga proposal dibuat untuk permohonan dana bantuan sebagai bentuk kerja sama antara pihak yang mengjaukan dan pihak yang memberikan bantuan. Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa proposal merupakan suatu rancangan yang disusun secara sistematis untuk suatu kegiatan yang sifatnya Proposal juga sudah memiliki gambaran yang lengkap tentang segala hal yang mencakup anggaran biaya yang diperlukan dan seolah-olah kegiatan terebut sudah Penyusunan proposal atau usulan merupakan langkah awal yang harus dilakukan peneliti sebelum melalui sebuah kegiatan atau penelitian. Ketika kita menyusun sebuah proposal banyak sekali hal penting yang harus diperhatikan, dari judul, latar belakang, tujuan kegiatan, tema, sasaran, tempat dan waktu, kepanitian, rencana anggaran kegiatan, dan yang terakhir ada penutup. Pembelajaran bahasa Indonesia mempunyai tujuan untuk menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, salah satunya bisa dengan menyusun sebuah Pembelajaran bahasa Indonesia mempunyai tujuan untuk menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, salah satunya bisa dengan menyusun sebuah proposal. Guru atau pendidik dituntut untuk mampu memotivasi peserta didik agar dapat meningkatkan semangat belajarnya dan kemampuannya ketika dalam menyusun proposal. Hal ini sangat diperlukan karena dalam menyusun proposal dapat menambah wawasan dan pengetahuan seorang siswa tersebut. Berdasarkan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia yaitu Bapak Agus Siswanto. Pd. tentang kondisi siswa di sekolah MA MazroAoillah Lubuklinggau pada tanggal 09 Januari 2021, bahwa pada saat belajar Bahasa Indonesia siswa kurang aktif dan tidak tertarik karena metode yang digunakan adalah metode penugasan. Terkadang pada saat pengumpulan tugas tersebut siswa tidak tepat waktu dalam pengumpulkan Selain itu, adanya permasalahan pada saat proses belajar mengajar diantaranya pada saat belajar menyusun proposal siswa tersebut kurang bisa memahami karena pada saat itu pembelajaran dilaksanakan dengan daring dan materi yang didapat pada saat pembelajaran tidak sepenuhnya. Selain itu, karena sistemnya daring, siswa juga tidak semuanya mempunyai kuota untuk mengikuti pembelajaran dan tugas yang diberikan Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 oleh gurunya pada saat daring. Banyak juga siswa yang tidak tepat waktu dalam mengumpulkan tugasnya dikarenakan terhambat kuota, jaringan dan lain sebagainya. Maka dari itu, tujuan pembelajaran tidak tercapai salah satunya bisa dikarenakan dengan model pembelajaran dan metode yang tidak tepat karena daring. Sehingga tujuan pembelajaran tersebut tidak tercapai dengan baik. Pada saat ini, pembelajaran sudah berlangsung secara luring, akan lebih baik jika pada saat belajar menyusun proposal dilaksanakan secara berdiskusi dan berkelompok. Karena adanya masalah tersebut peneliti memilih model pembelajaran learning together untuk diterapkan pada saat pembelajaran bahasa Indonesia di kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. Model pembelajaran learning together adalah belajar bersama, dimana siswa dibentuk oleh 4-6 orang siswa yang heterogen untuk mengerjakan suatu tugas yang diberikan oleh guru dan setiap kelompok diarahkan terlebih dahulu dan diskusi tentang bagaimana sebaikanya mereka bekerja nanti dalam kelompok yang sudah dibentuk (Fathurrohaman, 2. Model pembelajaran kooperatif tipe learning together ini mampu meningkatkan aktivitas siswa dan memberikan kesempatan bekerja sama kepada siswa agar dapat berinteraksi dengan yang lainnya (Umar, 2. Lebih lanjut, (Syanas, dkk. , 2. Learning Together (LT) mengutamakan empat unsur bagian di dalam pembelajaran ketika berlangsung, yaitu: . interaksi tatap muka para siswa sehingga berkerja sama dalam kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang. para siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok. harus ada tanggung jawab individual, dimana siswa harus mampu bahwa secara individual mereka menguasai materinya. para siswa harus mengenai sasaran yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja sama dalam mencapai tujuan kelompok. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe learning together adalah belajar bersama yang intinya adalah siswa di bagi menjadi beberapa kelompok laju di berikan lembar tugas, kemudian siswa tersebut berdiskusi berdasarkan kelompok yang telah dibentuk oleh guru dan setiap anggota kelompok juga wajib untuk mengerti atau memahami materi pelajaran. PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 Penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Katamsih, dkk. AuPenerapan Model Learning Together (LT) Berbasis Entrepreneurship Terhadap Minat Wirausaha dan Hasil Belajar SiswaAy. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Katamsih, dkk. , menunjukkanbahwa Berdasarkan analisis data hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: Skor rata-rata minat wirausaha siswa pada kelas eksperimen mengalami peningkatan yaitu dari 71 menjadi 73 yang berada pada kategori tinggi, dan skor rata-rata pada kelas kontrol juga berada pada kategori tinggi, akan tetapi mengalami perubahan minat wirausaha dari skor rata-rata 71 Penerapan model pembelajaran LT berbasis entrepreneurship berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan nilai sig. 036 < 0. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Prahesti, dkk. , . AuPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together Disertai Media Card Sort Dalam Pembelajaran Fisika di SMAAy. Hasil dari penelitian tersebut adalah Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together disertai media Card Sort lebih baik daripada model pembelajaran langsung . Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together disertai media Card Sort lebih baik daripada model pembelajaran langsung . METODE Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pre-test dan post test. Sebelum penulis menerapkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe learning together, penulis terlebih dahulu memberikan tes awal . guna untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menyusun proposal. Kegiatan pembelajaran tersebut dilakukan salama dua kali yaitu pada dengan memberikan dengan tes akhir . ost-tes. untuk mengetahui perbedaan ketuntasan kemampuan siswa dalam menyusun proposal sebelum dan sesudah menerapkan model kooperatif tipe learning together. Desain penelitian ini menggunakan desain one group pre-test dan post-test design. Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah teknik tes. Teknik tes dalam penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum . re-tes. dan sesudah . ost-tes. materi diajarkan. Tes yang diberikan pada siswa sampel kelas eksperimen, yaitu berupa tes kemampuan menyusun proposal. Tes yang diberikan berbentuk essai. Teknik analisis data pada penelitian ini berdasarkan data dari hasil penelitian. Adapun langkah-langkah analisis data yaitu. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui kenormalan sebuah data, rumus yang digunakan untuk uji kecocokan x2 . hi Selanjutnya. X2hitung dibandingkan dengan X2tabel, dengan jumlah taraf signifikan 5% dan dk = j Ae 1, dimana j adalah banyaknya kelas interval. Jika X2hitung ttabel baik pada taraf signifikan 5% maupun pada 1%. Hasil perhitungan uji perbedaan data rata-rata ini dapat ditulis seperti di bawah ini: thitung > ttabel atau 2. 7088 > 1,7207 thitung > ttabel atau 2. 7088 > 2,5176 Berdasarkan data, pada taraf signifikan 5% bahwa melalui penerapan model pembelajaran learning together (LT) terhadap menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau secara signifikan dapat mencapai ketuntasan. Pembahasan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan selama kurang lebih 3 minggu, maka model pembelajaran learning together ini dapat dijadikan alternatif dalam kegiatan belajar mengajar pada penelitian yang dilakukan. Pada penelitian ini yang terpilih menjadi sampel penelitian adalah siswa kelas XI MIA 1 MA MazroAoillah Lubuklinggau dengan menggunakan simple random sampling yang berjumlah 22 siswa. Penelitian dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan dengan rincian satu kali tes awal . re-tes. untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum diberikan perlakuan, satu kali pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran learning together (LT), dan pada pertemuan terakhir . os-tes. untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran leaning together (LT). Berdasarkan hasil data tes awal . re-tes. dan data tes akhir . ost-tes. , pada hasil tes menyusun proposal sebelum menerpakan model pembelajaran learning PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 Linggau Jurnal Language education and literature together diketahui nilai terendah yang diperoleh adalah 10 dan nilai tertinggi adalah 79, dengan nilai rata-rata 36,4545. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau sebelum diberi pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran learning together (LT) belum mencapai ketuntasan hasil belajar. Setelah tes awal dilakukan penulis memberikan tes akhir yaitu pada pertemuan ketiga atau terakhir. Karena pada saat penelitian penulis melakukan tiga kali tatap muka, pertama tes awal awal . re-tes. kedua pemberian materi, dan yang ketiga . ost-tes. Pada tes akhir ini nilai rata-rata yang diperoleh adalah 82,1818, nilai terendah yang diperoleh adalah 75 dan nilai tertinggi yang diperoleh adalah 89. Secara deskriptif dapat dikatakan bahwa kemampuan akhir siswa setelah penerapan model pembelajaran learning together (LT) termasuk kategori baik, karena nilai yang diperoleh 82. Pelaksanaan penelitian dilakukan kurang lebih 3 minggu dengan jadwal pelajaran yang disesuaikan dengan jadwal sekolah. Pada saat pembelajaran dengan model pembelajaran learning together, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran secara jelas, menumbuhkan sikap-sikap yang positif terhadap pelajaran, dan melaksanakan apa yang diharapkan untuk dilakukan oleh siswa. Pada pre-test siswa masih banyak yang mendapatkan nilai kecil karena siswa masih belum mampu menyusun proposal dengan baik dan sesuai dengan sistematika penyusunan proposal. Mereka juga masih bingung apa aja yang harus dicantumkan dalam menyusun proposal. Maka dari itu, pada pertemuan selanjutnya melakukan dengan model pembelajaran learning together kepada siswa. Selama proses pembelajaran berlangsung siswa dibentuk dalam beberapa kelompok, kemudian mereka diminta untuk berdiskusi secara berkelompok memecahkan suatu masalah yang diberikan, dalam hal ini guru bertindak sebagai pembimbing yang menyediakan bantuan, namun siswa harus berusaha untuk bekerja secara berkelompok guna untuk Selanjutnya mempresentasikan hasil kerja mereka dan kelompok lain berpartisipasi untuk menanggapi hasil kerja kelompok yang presentasi tersebut. Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 Berkenaan dengan itu, menurut hasil analisis data diperoleh thitung . > ttabel . ,7. untuk taraf signifikan 5% dan thitung . > ttabel . ,5. untuk taraf signifikan 1%, hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan kata lain disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran learning together (LT) secara signifikan efektif meningkatkan kemampuan menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. Hasil penelitian ini didukung dengan temuan penulis di lapangan selama proses belajar mengajar menggunakan model pembelajaran learning together (LT), siswa terlihat lebih aktif, siswa cenderung siap mengikuti kegiatan pembelajaran dengan mempelajari terlebih dahulu materi yang akan dibahas dikelas. Hal ini didukung oleh pendapat (Fathurrohaman, 2015:. bahwa model pembelajaran learning together adalah belajar bersama, dimana siswa dibentuk oleh 4-5 orang siswa yang heterogen untuk mengerjakan suatu tugas yang diberikan oleh guru dan setiap kelompok diarahkan terlebih dahulu dan diskusi tentang bagaimana sebaikanya mereka bekerja nanti dalam kelompok yang sudah dibentuk (Fathurrohaman, 2015:. Model pembelajaran kooperatif tipe learning together ini mampu meningkatkan aktivitas siswa dan memberikan kesempatan bekerja sama kepada siswa agar dapat berinteraksi dengan yang lainnya (Umar, 2019:. Maka, dapat diakui bahwa dengan penerapan model pembelajaran learing together dapat menuntaskan hasil belajar siswa dan membuat siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan model pembelajaran learning together (LT) kecenderungan guru menjelaskan dengan ceramah dapat dikurangi, sehingga siswa lebih bisa mengkontruksi pengetahuannya sendiri sedangkan guru lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator dari pada pengajar. Adapun kelebihan model pembelajaran learning together (LT) yang tampak dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas sebagai berikut: . pengetahuan atau keterampilan siap yang telah terbentuk sewaktu-waktu dapat dipergunakan dalam keperluan sahari-hari, baik untuk keperluan studi maupun untuk bekal hidup di masyarakat kelak, . Metode ini memungkinkan kesempatan untuk lebih memperdalam kemampuan secara spesifik, . dapat menambah kesiapan siswa dan meningkatkan Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 1 No. September 2021 Page: 11 - 23 kemampuan respon yang cepat, . berbagai macam strategi dapat menambah dan meningkatkan kemampuan. Perbedaan hasil belajar yang muncul juga disebabkan karena siswa yang diberi pembelajaran menggunakan model pelejaran learning together (LT) mempunyai pengalaman dalam mempresentasikan pendapatnya dan hasil kerjanya kepada teman. Hal ini sejalan dengan kelebihan penggunaan model pembelajaran learning together (LT) siswa dapat lebih mudah menemukan pertemanan secara signifikan saat belajar bersama dibandingkan belajar sendiri, menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dan kurang pintar, siswa menjadi lebih aktif dalam proses belajar, melatih tanggungjawab siswa, dan meningkatkan kerja sama siswa dalam kelompok dengan prinsip belajar bersama. SIMPULAN Simpulan pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran learning together (LT) dapat menuntaskan secara signifikan kemampuan menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. Nilai pre-test sebesar 36,4545 dan nilai post-test 82,1818. Data tes yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji-t diperoleh thitung . > ttabel . ,7. untuk taraf signifikan 5% dan thitung . ,5. untuk taraf signifikan 1%, hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan kata lain hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima kebenarannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran learning together (LT) secara signifikan tuntas terhadap kemampuan menyusun proposal siswa kelas XI MA MazroAoillah Lubuklinggau. DAFTAR PUSTAKA