E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif: Tinjauan Dari Perspektif Pendidikan Islam The Role of Emotional Intelligence in Building Effective Learning Styles: A Review from Perspective of Islamic Education Widia Apriliani1. Abdul Muhid2 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya. Jl. Ahmad Yani No. Jemur Wonosari. Kec. Wonocolo. Surabaya. Jawa Timur 60237. Indonesia e-mail: widiaapriliani459@gmail. ABSTRACT This study aims to analyze the role of emotional intelligence in forming an effective learning style based on the perspective of Islamic education. Emotional intelligence is an individual's ability to understand, manage, and express emotions positively which has been proven contribute to success of learning pro-cess. On the other hand, learning style is each individual's unique preference in absorbing information either visually, auditorily, or kinesthetically. Through a qualitative approach with library study method and this research found that emotional intelligence affects students' ability to recognize their learning style, manage academic stress, and increase motivation and perseverance in learning. In the Islamic perspective, emotional intelligence is in line with values such as patience, empathy, tawakal, and sincere and is strengthened through learning that is in accordance with students' learning styles. This study emphasizes the importance of integrating emotional intelligence and learning styles that are in line with Islamic values and can create more effective, flexible, and meaningful learning. Keywords: Emotional Intelligence. Learning Style. Islamic Education ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kecerdasan emosional dalam membentuk gaya belajar yang efektif berdasarkan perspektif pendidikan Islam. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu dalam memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara positif yang terbukti berkontribusi terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Di sisi lain, gaya belajar adalah preferensi unik tiap individu dalam menyerap informasi baik secara visual, auditori, maupun Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan penelitian ini menemukan bahwa kecerdasan emosional mempengaruhi kemampuan siswa dalam mengenali gaya belajar mereka, mengelola stres akademik, serta meningkatkan motivasi dan ketekunan belajar. Dalam perspektif Islam kecerdasan emosional selaras dengan nilai-nilai seperti sabar, empati, tawakal, dan ikhlas serta diperkuat melalui pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi kecerdasan emosional dan gaya belajar yang selaras dengan nilai-nilai Islam serta dapat menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, fleksibel, dan bermakna. Kata Kunci: Kecerdasan Emosional. Gaya Belajar. Pendidikan Islam FIRST RECEIVED: 2025-05-22 REVISED: 2025-09-27 ACCEPTED: 2025-10-08 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-10-27 Corresponding Author: Widia Apriliani AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang tidak hanya berfungsi membentuk kepribadian, tetapi juga mengembangkan seluruh potensi diri, menanamkan nilai-nilai moral, serta mempersiapkan individu agar mampu beradaptasi dan menghadapi tantangan hidup di tengah dinamika sosial, budaya, ekonomi, maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berubah. Dalam konteks pendidikan nasional maupun global keberhasilan pembelajaran selama ini cenderung diukur melalui aspek kognitif semata, seperti nilai ujian atau capaian akademik (Aprilina & Fauzi. Sedangkan proses pembelajaran yang sesungguhnya tidak hanya menyentuh ranah intelektual saja, tetapi juga mencakup kemampuan afektif dan psikomotorik yang berkaitan erat dengan kecerdasan emosional serta gaya belajar individu. Emotional intelligence, atau yang dikenal sebagai kecerdasan emosional, adalah kapasitas individu untuk mengenali, mengatur, dan menggunakan emosi diri sendiri dan orang lain secara konstruktif. Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional memainkan peran yang jauh lebih signifikan dalam kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (Goleman, 1. Dalam dunia pendidikan, peserta didik yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih stabil secara psikologis, mampu bekerja dalam kelompok, memiliki empati, serta lebih mampu mengatasi tekanan atau tantangan belajar. Hal ini menjadikan kecerdasan emosional sebagai kompetensi yang sangat relevan dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran (Putri Mukhlisa et al. , 2. Psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire adalah tokoh yang pertama kali memperkenalkan gagasan tentang kecerdasan emosional pada tahun 1990. Mereka mengatakan kecerdasan emosional sebagai Aukemampuan dalam kecerdasan sosial yang mencakup kemampuan untuk memantau perasaan orang lain, menganalisisnya, dan menggunakan informasi tersebut untuk mengarahkan pikiran dan tindakan (Fitria & Muhid, 2. Di sisi lain, gaya belajar merupakan cara atau preferensi individu dalam memahami dan menyerap informasi. Beberapa siswa lebih mudah memahami pelajaran melalui gambar dan tampilan visual . aya belajar visua. , sebagian lainnya melalui pendengaran . , dan ada pula yang belajar lebih efektif melalui aktivitas fisik atau praktik langsung . (Azizah et al. , 2. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki karakteristik belajar yang unik. Apabila proses pembelajaran tidak disesuaikan dengan gaya belajar siswa, maka potensi belajar mereka tidak akan berkembang secara optimal. Di sinilah pentingnya bagi guru dan tenaga pendidik untuk mengenali serta memahami keberagaman gaya belajar peserta didik agar metode dan strategi pembelajaran yang diterapkan bisa lebih efektif, inklusif, dan adaptif. Dalam perspektif pendidikan Islam, pembentukan karakter dan pengembangan potensi peserta didik dilakukan secara menyeluruh dan seimbang, mencakup aspek intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk insan kamil, yaitu manusia yang paripurna, seimbang antara dunia dan akhirat. Al-QurAoan dan hadis banyak memberikan perhatian terhadap pembentukan akhlak mulia, pengendalian emosi, penguatan kesabaran, serta pentingnya empati dan kasih sayang dalam interaksi sosial (Iqbal Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 et al. , 2. Bahkan. Rasulullah Saw. merupakan teladan sempurna dalam hal kecerdasan emosional, dimana beliau mampu memahami kondisi emosional para sahabat, membimbing mereka dengan lembut, serta menyampaikan ilmu dan nasihat dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter masing-masing individu. Konsep gaya belajar pun secara implisit telah diperkenalkan dalam pendidikan Islam. Islam mengakui adanya perbedaan potensi dan karakter pada setiap manusia. Dalam surah AlHujurat ayat 13. Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal dan belajar satu sama lain. Prinsip ini dapat dimaknai bahwa perbedaan karakter belajar bukanlah sebuah hambatan, melainkan sesuatu yang patut dihargai dan dijadikan dasar dalam menyusun pendekatan pendidikan yang beragam (Irfani, 2. Dalam praktik dakwah dan tarbiyah. Rasulullah SAW juga tidak menerapkan pendekatan satu arah, melainkan menyesuaikan gaya penyampaiannya dengan karakter dan kondisi audiensnya. Sejumlah penelitian sebelumnya telah banyak menelaah hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar dari sudut pandang psikologi modern (Goleman. Mayer. Salove. Namun, kajian yang secara spesifik mengaitkannya dengan perspektif pendidikan Islam, terutama dalam konteks gaya belajar yang beragam . isual, auditori, kinesteti. , masih sangat terbatas. Melalui kajian literatur ini, bertujuan menganalisis peran kecerdasan emosional dalam membangun gaya belajar yang efektif berdasarkan perspektif pendidikan Islam. METODE PENELITIAN Dalam mengkaji fenomena yang menjadi fokus penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. Pendekatan ini dilaksanakan secara sistematis melalui pengumpulan berbagai data dan informasi yang Proses penelitian kepustakaan meliputi penelusuran sumber-sumber yang beragam, mulai dari buku referensi yang menjadi dasar teoretis, hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan erat dengan topik, artikel ilmiah yang memberikan analisis mendalam, catatan akademik yang memuat wawasan penting, hingga jurnal-jurnal terbaru yang secara khusus membahas isu-isu terkait dengan pertanyaan penelitian (Sugiyono, 2. Dalam kerangka metodologi penelitian ini, data yang dikumpulkan diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama yang memiliki peran komplementer dalam menjawab pertanyaan Pertama, terdapat data primer, yang didefinisikan sebagai fondasi utama informasi dan dikumpulkan secara langsung dari sumber aslinya melalui metode yang relevan dengan tujuan studi. Kedua, data sekunder juga diikutsertakan dalam proses analisis, di mana fungsinya adalah untuk memberikan perspektif tambahan, memperkuat temuan dari data primer, serta melengkapi informasi yang mungkin belum terjawab secara komprehensif oleh data utama. Selanjutnya, untuk mengurai makna dan pola yang terkandung dalam kedua jenis data ini, penelitian ini mengadopsi teknik analisis isi sebagai pendekatan utama dalam menginterpretasi dan menarik kesimpulan yang valid dan reliabel (Sari, 2. Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Kecerdasan Emosional Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian AuCerdasAy adalah orang yang pintar, cerdik, tajam, dan cepat tanggap terhadap masalah. Kecerdasan menurut W. Stem, mencangkup kemampuan untuk berpikir abstrak, bekerja, menguasai tingkah laku instingtif, dan memahami hubungan yang kompleks. Sebagai suatu keadaan afektif, emosi sangat memengaruhi bagaimana seseorang bertingkah laku. Emosi sering kali muncul sebagai jawaban atas rangsangan eksternal maupun internal. Perubahan tubuh dan berbagai proses kognitif erat kaitannya dengan emosi. Fungsi penting emosi adalah memberikan kemampuan kepada individu untuk memilah informasi dan mempertahankan eksistensinya dari gangguan atau kesulitan (Mashar, 2. Menurut Goleman kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi . o manage our life with intelligenc. , menjaga keselarasan emosi dan kepekaan seseorang terhadap emosi dan kemampuannya untuk mengekspresikannya secara sesuai tercermin dalam aspek-aspek seperti keterampilan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. (Supriyadi, 2. Al-Qur'an menyajikan pemahaman yang mendalam tentang kompleksitas jiwa manusia, yang relevan dengan konsep kecerdasan emosional. Sebagai contoh. Surah AsSyams . menggarisbawahi pentingnya membersihkan jiwa dari perilaku negatif. Darwis Hude mencontohkan implementasi kecerdasan emosional ini melalui sifat-sifat seperti sabar, syukur, pemaaf, dan adaptif. Selain itu, berbagai metode seperti regresi, represi, relaksasi, dan reinforcement dapat pula digunakan (M. Darwis Hude, 2. Al-Qur'an turut memaparkan ragam perasaan emosional yang dialami manusia, termasuk ketakutan, kemarahan, cinta, kegembiraan, kebencian, kecemburuan, dan kesedihan. Pembahasan mengenai kecerdasan tak terpisahkan dari konsep ta'qilun . , sebab karakteristik individu yang cerdas adalah selalu menggunakan akalnya untuk yatafakkarun . dalam rangka menggapai kebenaran dan kebaikan. Lebih lanjut, orang yang cerdas akan terus yatadabbarun . alur kehidupannya (Shafaunnida & Muhid, 2. Goleman mengidentifikasi beberapa ciri khas individu dengan kecerdasan emosional yang mapan, yaitu kemampuan memotivasi diri secara internal, ketangguhan dalam menghadapi kekecewaan, kontrol terhadap impuls, kemampuan menahan diri dari kesenangan berlebihan, regulasi suasana hati yang efektif, kemampuan menjaga pikiran tetap jernih di bawah tekanan, adanya empati, dan praktik spiritual melalui doa (Goleman, 1. Dalam pandangan Mayer, kecerdasan emosional mencakup berbagai kemampuan mental yang membantu individu dalam mengenali serta memahami perasaan diri dan orang lain, yang pada akhirnya memungkinkan mereka untuk mengatur emosi tersebut. Oleh karena itu, kecerdasan emosional dapat disimpulkan sebagai kapasitas seseorang untuk mengontrol emosinya dengan cara yang cerdas, yang berpusat pada upaya menyeimbangkan antara emosi dan akal. Menurut Goleman, aspek-aspek kecerdasan emosional secara khusus dibagi menjadi lima bagian, sebagai berikut: Mengenali emosi diri adalah fondasi penting dalam kecerdasan emosional, yang melibatkan kemampuan untuk mengamati dan menyadari spektrum perasaan yang dialami, termasuk emosi yang muncul saat ini. Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 perasaan yang autentik menandakan bahwa individu tersebut tunduk pada kendali Mengelola emosi berarti memiliki kapasitas untuk menghibur diri, meredakan rasa cemas, kemurungan, atau ketersinggungan, serta mengatasi konsekuensi negatif dari kurangnya penguasaan emosi dasar. Individu yang lemah dalam keterampilan ini akan sulit keluar dari kesedihan, sementara mereka yang kuat akan lebih cepat bangkit. Kemampuan untuk mengendalikan dan menenangkan diri merupakan inti dari pengelolaan emosi. Kemampuan memotivasi diri, yang melibatkan regulasi emosi sebagai sarana meraih tujuan dan penguasaan diri, sangat krusial. Individu yang memiliki keterampilan ini cenderung menunjukkan tingkat produktivitas dan efektivitas yang lebih tinggi dalam berbagai aktivitas. Landasan kemampuan ini adalah pengendalian emosi, yaitu kemampuan menunda gratifikasi dan mengelola impuls, serta mencakup kekuatan pikiran positif dan pandangan yang optimis. Mengidentifikasi emosi pihak lain adalah sebuah kemampuan yang berakar pada pemahaman emosi diri, dan ini merupakan aspek penting dalam interaksi sosial. Orang yang berempati memiliki kecenderungan untuk memahami tanda-tanda sosial implisit yang mengisyaratkan apa yang dibutuhkan atau diinginkan orang lain. Esensi dari membina hubungan terletak pada kemampuan untuk memengaruhi dan mengelola emosi orang lain. Keterampilan sosial ini menjadi fondasi bagi popularitas, kepemimpinan yang efektif, dan hubungan interpersonal yang sukses (Goleman, 1. Pendidikan Islam memandang kecerdasan emosional sebagai potensi emosional dan sosial manusia yang signifikan dalam membentuk kepribadian. Potensi ini memungkinkan seseorang untuk menyadari dan mengatur emosinya, mengerti emosi orang lain, mendorong dirinya sendiri, dan membangun hubungan interpersonal. Oleh karena itu, kecerdasan emosional dapat dirumuskan sebagai kemampuan seseorang dalam mengerti esensi emosi dan bagaimana emosi-emosi saling berhubungan. Peserta didik dengan EQ yang tinggi lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar, meningkatkan hubungan interpersonal, mengelola emosi dan kesejahteraan mental, meningkatkan konsentrasi, produktivitas, mendorong pemecahan masalah yang kreatif, serta berkontribusi pada pengembangan karakter dan etika (Putri Mukhlisa et al. , 2. Gaya Belajar dalam Pendidikan Metode belajar yang khas bagi seorang siswa seringkali disebut sebagai gaya belajar. Gaya belajar ini merujuk pada bagaimana siswa merespons dan memanfaatkan rangsangan yang mereka terima selama kegiatan belajar. Lebih lanjut, gaya belajar dapat diartikan sebagai cara seorang anak menerima informasi baru dan pendekatan yang mereka gunakan dalam proses pembelajaran. Perbedaan gaya belajar menunjukkan cara tercepat dan paling efektif bagi setiap siswa untuk menyerap informasi. Beberapa siswa biasanya ada yang menyerap informasi dengan cara visual, auditori, dan kinestetik (Misliawati, 2. Gaya belajar adalah cara khas siswa dalam menerima, menata, dan memahami Ini tidak hanya melibatkan aspek sensorik seperti melihat, mendengar, menulis, dan berbicara saat berinteraksi dengan informasi, tetapi juga mencakup bagaimana informasi Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 tersebut diproses secara keseluruhan, dan bagaimana mereka menanggapi situasi dalam lingkungan belajar mereka (Hidayat & Nurjanah, 2. Menurut Nasution, gaya belajar didefinisikan sebagai cara siswa merespon informasi, mengingat, berfikir, dan memecahkan soal (Nasution, 2. Menurut De Poter dan Hernacki, gaya belajar manusia umumnya diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yakni visual, auditorial, dan kinestetik, di mana individu dengan kecenderungan gaya belajar visual biasanya lebih efektif dalam menyerap pengetahuan melalui aktivitas melihat dan mengamati, mengandalkan intuisi dalam memahami informasi, serta menjadikan indera penglihatan sebagai sarana utama untuk menerima, mengolah, dan mengingat berbagai materi pembelajaran. Sementara itu, gaya belajar auditorial menekankan penggunaan pendengaran sebagai modalitas utama dalam belajar, di mana individu mudah menyerap informasi melalui apa yang mereka dengar. Gaya belajar auditorial memiliki kekuatan pada kemampuan mendengar mereka. Sedangkan Gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar yang mengutamakan indera perasa dan penggerak fisik, yang membuat individu lebih mudah memahami materi atau sesuatu saat bergerak, meraba atau mengambil tindakan (De Porter & Mike Hernacki, 2. Adapun karakteristik masing-masing dari gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik sebagai berikut: Gaya belajar visual ditandai dengan preferensi terhadap informasi yang dapat dilihat. Siswa dengan gaya ini lebih menyukai instruksi tertulis, foto, dan ilustrasi. Mereka cenderung mengamati sebelum meniru tindakan dan mungkin menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Berbicara di depan publik bukanlah hal yang mereka sukai. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk tetap tenang di tengah keramaian. Strategi belajar mereka umumnya melibatkan penelaahan catatan dan pembuatan ringkasan materi. Gaya belajar auditorial menunjukkan preferensi terhadap informasi yang diterima melalui telinga atau lisan. Pembelajar auditorial meraih pemahaman dengan baik melalui interaksi diskusi grup, penyampaian materi dalam bentuk ceramah, dan bimbingan tutorial. Karakteristik umum mereka termasuk kemampuan mengingat melalui pengulangan verbal atau pembacaan dengan intonasi, kegemaran menghafal lagu, keahlian meniru bunyi, kecenderungan untuk banyak bicara, dan keengganan terhadap tugas-tugas yang melibatkan membaca. Peserta didik dengan gaya belajar ini akan merasa tertantang dan senang saat diminta menguraikan ide baru kepada orang lain, memiliki daya ingat yang kuat terhadap cerita, ilustrasi, atau lelucon yang menarik, dan proses belajarnya terbantu dengan adanya rekaman audio. Di sisi lain, mereka mungkin kurang peka terhadap perubahan visual di lingkungan sekitar dan kurang menyukai aktivitas menulis atau Gaya belajar kinestetik memiliki kecenderungan untuk mengeksplorasi lingkungan mereka melalui sentuhan dan kesulitan untuk berdiam diri. Mereka belajar secara optimal melalui aktivitas langsung, memanfaatkan tangan dalam mengerjakan tugas, memiliki keseimbangan tubuh yang baik, dan memproses informasi lebih baik melalui keterlibatan Mereka lebih memilih alat bantu belajar berupa objek nyata dan menikmati kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pelajaran. Di sisi lain, mereka mungkin Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 merasa terganggu jika harus pasif dalam waktu yang lama dan seringkali memanifestasikan kebutuhan gerak mereka dengan berinteraksi dengan benda-benda di sekitar mereka saat belajar (Mufidah, 2. Dalam pendidikan sangat penting menyesuaikan metode pembelajaran dengan gaya belajar, yang mana dengan memahami gaya belajar siswa, guru dapat memberikan pendekatan pembelajaran yang efektif dan memungkinkan setiap siswa untuk belajar dengan cara yang paling optimal (Simanungkalit et al. , 2. Metode pembelajaran yang memanfaatkan pendengaran, seperti diskusi, tanya jawab, dan ceramah, sangat sesuai untuk tipe belajar Sementara itu, gaya belajar visual akan lebih optimal dengan metode yang mengandalkan penglihatan, seperti penggunaan bahasa tubuh, gambar dalam video pembelajaran, poster, dan materi cetak yang menampilkan gambar, diagram, flow chart, dan Pentingnya menyesuaikan metode pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman keterlibatan siswa, meningkatkan efisiensi belajar dan memberikan umpan balik yang lebih Ketika siswa belajar dengan cara yang sesuai dengan preferensi mereka, mereka cenderung lebih cepat memahami konsep dan mengingat informasi. Lebih lanjut, membantu siswa untuk mengenali dan memahami gaya belajar mereka sendiri dapat memberdayakan mereka untuk menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan mampu mengembangkan strategi belajar yang efektif dalam berbagai situasi. Terdapat pula kaitan antara kecerdasan emosional dan gaya belajar. Kedua konsep ini saling mempengaruhi satu sama lain, dimana siswa dengan kecerdasan emosional yang baik mungkin menunjukkan kemampuan yang lebih besar untuk beradaptasi dengan berbagai gaya belajar (Faisal & Netrawati, 2. Kemampuan mengelola emosi dapat membantu siswa mengidentifikasi preferensi belajar mereka dan menyesuaikan strategi belajar mereka sesuai dengan metode pengajaran yang berbeda. Selain itu, kecerdasan emosional telah terbukti mempengaruhi motivasi belajar dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Rian et , 2. Siswa yang lebih cerdas secara emosional mungkin lebih terbuka untuk mencoba pendekatan belajar baru dan lebih gigih dalam menghadapi kesulitan. Perspektif Pendidikan Islam tentang Kecerdasan Emosional dan Gaya Belajar Kecerdasan emosional dalam perspektif pendidikan Islam merupakan kemampuan dalam memahami, mengelola, dan memanfaatkan emosi dengan cara yang selaras dengan prinsip-prinsip agama Islam. Konsep ini memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam melalui berbagai nilai yang membantu individu tidak hanya mengendalikan emosi diri, tetapi juga menjaga hubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dalam Pendidikan Islam telah diajarkan terkait pengelolaan emosi yang baik melalui nilai-nilai keislaman seperti sabar, tawakal . erserah diri pada Allah SWT), empati, dan ikhlas (Ramadhani & Khusnul Khotimah, 2. Dalam ranah Pendidikan Agama Islam mengajarkan pentingnya pengendalian emosi, yang dicontohkan dalam nilai-nilai kesabaran, ketenangan, dan kasih sayang. Nabi Muhammad SAW adalah representasi ideal dari kemampuan ini, memperlihatkan bagaimana seseorang seharusnya mampu mengelola emosinya dalam kondisi apapun. Dengan demikian, pendidikan agama Islam yang mengintegrasikan aspek kecerdasan emosional berpotensi besar Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 untuk melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, memiliki budi pekerti luhur, serta cakap dalam mengelola keseimbangan emosi dalam kehidupannya (SalsabilatussaAodyah & Akmal Rizki, 2. Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan keberhasilan pendidikan Islam diukur dari reaksi dan pertumbuhan emosi siswa. Hal ini akan mempengaruhi tingkat keberhasilan pendidikan Islam (Masruroh, 2. Dalam pendidikan Islam, kecerdasan emosional tidak dapat dipisahkan dari kecerdasan spiritual. Keduanya saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain, membentuk keseimbangan yang harmonis dalam perkembangan kepribadian siswa. Kecerdasan emosional dan spiritual dalam Islam memiliki hubungan yang erat dan saling Kecerdasan spiritual memberikan fondasi nilai dan tujuan yang jelas bagi pengelolaan emosi, sementara kecerdasan emosional membantu siswa mengaplikasikan nilainilai spiritual dalam konteks hubungan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari (Ramadhani & Khusnul Khotimah, 2. Kecerdasan emosional melibatkan kesadaran diri dan kemampuan beradaptasi. Keterampilan ini akan membuat siswa terhadap emosi mereka dan dapat mengelolanya secara efektif mungkin. Mereka juga akan lebih terbuka terhadap berbagai metode pengajaran dan lebih mampu menyesuaikan cara belajar mereka dengan berbagai gaya instruksional. Kemampuan beradaptasi ini dapat mengarah pada keberhasilan adaptasi terhadap gaya mengajar guru yang dominan. Strategi pembelajaran dalam pendidikan Islam dapat dirancang untuk mengintegrasikan kecerdasan emosional dan gaya belajar yang dapat menciptakan pengalaman pendidikan lebih holistik. Pembelajaran yang didasarkan pada nilai-nilai Islam dapat secara bersamaan membentuk karakter dan kecerdasan emosional siswa (Rian et al. Nilai-nilai seperti sabar, tawakal . erserah diri pada Alla. , empati, dan ikhlas, yang merupakan inti dari ajaran Islam, yang juga merupakan komponen penting dari kecerdasan Dengan menanamkan nilai-nilai ini melalui metode pengajaran yang bervariasi untuk mengakomodasi gaya belajar yang berbeda, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang dapat menumbuhkan pertumbuhan intelektual dan emosional dalam kerangka pendidikan Islam. Selain itu, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan demokratif juga sangat penting untuk pendidikan Islam saat ini (Widiastuti et al. , 2. Ketika siswa didukung secara emosional, mereka akan merasa terlibat dalam proses pembelajaran dan mengeksplorasi gaya belajar yang berbeda-beda. Dengan memasukkan nilai-nilai keislaman tersebut ke dalam metode pengajaran yang sesuai dengan berbagai gaya belajar, seperti menggunakan proyek kolaboratif untuk siswa dengan gaya belajar kinestetik, serta menekankan empati merekaIni dapat berkontribusi pada terbentuknya lingkungan belajar yang efektif bagi siswa. Tak hanya itu, guru juga memiliki peran sentral dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan mengakomodasi gaya belajar yang beragam pada siswa siswa secara efektif. Guru yang cerdas secara emosional dan sadar akan preferensi belajar siswa mereka dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendukung dan menarik. Guru yang menunjukkan kecerdasan emosional akan menjadi lebih berempatik, sabar, dan suportif dapat menciptakan suasana kelas, di mana siswa merasa aman untuk Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 mengekspresikan diri dan mengambil risiko dalam pembelajaran mereka. Ketika guru juga memahami gaya belajar siswa mereka, mereka dapat mengadaptasi metode pengajaran mereka untuk lebih terhubung dengan setiap siswa, membina pengalaman belajar yang lebih efektif dan dipersonalisasi yang mempromosikan pertumbuhan emosional dan akademik (Widiastuti et al. , 2. Membangun kecerdasan emosional dan gaya belajar dalam pendidikan Islam memiliki potensi yang sangat positif, yang mana hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dengan memenuhi kebutuhan kognitif dan emosional mereka. Selain itu, juga berkontribusi pada pembentukan karakter yang baik yang berakar pada nilai-nilai Islam, seperti sabar, tawakal . erserah diri pada Allah SWT), empati, dan ikhlas (Aini et al. , 2. Hal ini, mengarah pada terciptanya siswa yang seimbang secara emosional dan intelektual. Pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa dapat menciptakan suasana kondusif, meningkatkan motivasi, serta memudahkan mereka dalam menyerap dan mengolah informasi sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien. (Buseri, 2. Jadi. Mengenali dan memahami kecerdasan emosional serta gaya belajar siswa dalam pendidikan Islam sangat penting karena dapat meningkatkan pemahaman dan apresiasi mereka terhadap ajaran Islam, sekaligus memungkinkan siswa lebih mudah memahami materi ketika diajarkan sesuai gaya belajar yang dimilikinya, sehingga berkontribusi pada hasil belajar yang lebih baik dan pengalaman pendidikan yang lebih positif. Hubungan Kecerdasan Emosional dan Gaya Belajar yang Efektif Siswa dengan kecerdasan emosional yang baik akan memiliki kapasitas besar dalam mengembangkan bakat mereka. Menurut Daniel Goleman, tingginya IQ ternyata hanya menyumbang sekitar 20% terhadap faktor-faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam hidup. Sisanya, yang mencapai 80%, dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan lain di luar kecerdasan intelektual (Goleman, 1. Namun, faktanya adalah keberhasilan belajar siswa dianggap bergantung pada tingkat IQ mereka. Orang tua dan guru lebih terfokus pada upaya peningkatan intelektualitas saja, sedangkan kecerdasan emosional siswa tidak diperhatikan dan dikembangkan. Kesuksesan belajar siswa seringkali hanya diukur dari capaian nilai akademis semata, mengabaikan aspek penting seperti sikap sosial dan emosional mereka. Kondisi ini dapat menyebabkan siswa dengan prestasi akademik tinggi mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, yang termanifestasi dalam perilaku seperti mudah marah, sombong, cemas, depresi, serta kenakalan atau agresivitas. Oleh karena itu, dengan adanya kecerdasan emosional yang baik, siswa akan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi, termasuk memotivasi diri untuk mengikuti pembelajaran (Mahrudin, 2. Motivasi sebagai salah satu dimensi kecerdasan emosional secara langsung berhubungan dengan dorongan internal siswa untuk belajar. Siswa dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung memiliki motivasi yang kuat, yang membantu mereka bertahan dalam menghadapi kesulitan selama proses pembelajaran. Motivasi belajar siswa biasanya dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Kecerdasan emosional sebagai faktor internal dapat membantu siswa dalam mengontrol diri dan mengatur emosi ketika menghadapi kesulitan (Haluti et al. , 2. Dalam proses pembelajaran, siswa dengan Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 kecerdasan emosional yang tinggi lebih mampu mengatasi stres akademik, mengelola waktu belajar dengan lebih efisien, dan mempertahankan fokus pada tujuan pembelajaran. Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi merupakan aspek penting dari kecerdasan emosional yang secara langsung mendukung ketekunan dalam belajar. Metode pembelajaran yang mengakomodasi gaya belajar siswa, seperti visualisasi bagi siswa dengan gaya belajar visual, dapat meningkatkan efektivitas pemahaman materi. Pendidikan dasar yang menjadi fondasi penting dalam pembelajaran akan sangat terbantu oleh pendekatan multiple intelligences dalam menanamkan pengetahuan pada siswa (Azizah Putri et al. , 2. Kecerdasan emosional berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif, karena guru yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu membangun hubungan yang positif dan penuh rasa saling percaya dengan siswa, sehingga lebih mudah dalam menyampaikan materi, menciptakan suasana belajar yang kondusif serta menyenangkan, sekaligus merancang pembelajaran yang menarik agar siswa merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar (Umar et al. , 2. Sedangkan Siswa yang memiliki kecerdasan emosional baik akan turut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif melalui kemampuan mereka dalam menjalin hubungan sosial, menunjukkan empati, serta membangun interaksi yang harmonis dengan guru maupun teman sebayanya. Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kecerdasan emosional membantu siswa mengatasi stres, namun belum mengaitkannya dengan nilai-nilai Islam. Padahal dalam pendidikan Islam, mengendalikan emosi bukan hanya soal psikologis, tapi juga ibadah yang berlandaskan sabar, tawakal, ikhlas, dan empati. Karena itu, artikel ini berusaha melengkapi penelitian sebelumnya dengan memadukan kecerdasan emosional dan gaya belajar yang dikaitkan dengan nilai-nilai Islam. Strategi Meningkatkan Kecerdasan Emosional dan Gaya Belajar Menurut Pendidikan Islam Pendidikan Islam sangat menekankan perbedaan individual, karena setiap individu diciptakan secara unik oleh Allah. Pendidikan Islam juga menekankan pentingnya mengakomodasi perbedaan-perbedaan ini dalam proses belajar mengajar, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw. terhadap kebutuhan individu dalam mengajar. Prinsip pendidikan holistik dan humanis dalam Islam menekankan pengembangan potensi individu, sehingga bisa disesuaikan dengan penerapan gaya belajar dan kecerdasan emosional siswa (Azizah, 2. Pendidikan Islam sangat bersifat universal dan inklusif, yang bertujuan untuk menjangkau semua siswa tanpa memandang latar belakang atau kemampuan mereka. Penekanan Islam pada keunikan setiap siswa, mangatakan bahwa praktik pendidikan harus inklusif untuk memenuhi beragam kebutuhan gaya belajar dan kecerdasan emosional siswa. Islam mengajarkan bahwa setiap siswa diciptakan dengan memiliki potensi unik. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus berusaha menciptakan lingkungan belajar yang menghormati dan mengakomodasi beragam gaya belajar siswa, memperhatikan kecerdasan emosioal siswa, serta memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang (Buseri, 2. Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 Darwis Hude, berpendapat bahwa Pendidikan Agama Islam yang komprehensif melibatkan pengembangan kecerdasan emosional di samping kemampuan kognitif dalam memahami ilmu agama. Tujuannya adalah agar siswa dapat menginternalisasi ajaran Islam secara mendalam dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Darwis Hude juga menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai emosional dan spiritual dalam pendidikan agama yang ideal, yang akan menghasilkan siswa yang tidak hanya berpengetahuan luas, tetapi juga memiliki kebijaksanaan dalam mengelola emosi dan perilaku (SalsabilatussaAodyah & Akmal Rizki, 2. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam memenuhi beragam kebutuhan gaya belajar kecerdasan emosional siswa dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam. nilai-nilai tersebut seperti kesabaran . , rasa syukur . , keikhlasan . , kasih sayang . , dan keadilan ('ad. yang merupakan komponen penting dalam membentuk karakter siswa dan menumbuhkan kecerdasan emosional mereka dalam pendidikan Islam (Rian et al. Penanaman dan praktik nilai-nilai Islam ini secara signifikan berkontribusi pada pengembangan kompetensi kecerdasan emosional, termasuk pengendalian diri dan regulasi emosi, rasa empati, memahami perasaan orang lain, kesadaran dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum dapat juga menumbuhkan kecerdasan secara lengkap, yang mencangkup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual (Saputra, 2. Nilai-nilai Islam ini juga dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran yang mengakomodasikan berbagai gaya belajar, untuk memperkuat pesan-pesan moral dan tujuan pendidikan secara holistic. Sebagai contohnya, seorang guru mencerminkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, yang mana hal ini dapat mengembangkan siswa yang berpengetahuan luas dan memiliki kecerdasan emosional yang kuat (Ikhwan, 2. Hasil dari integrasi nilai-nilai tersebut juga dapat membantu siswa menjadi lebih mampu mengendalikan diri, saling menghargai, dalam lepih peka terhadap perasaan orang Siswa akan cenderung menjadi lebih termotivasi dan suasana kelaspun menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan proses pembelajaran terasa lebih bermakna. Selain itu, pembinaan karakter dan pendidikan spiritual sangatlah penting dalam mendukung proses pembelajaran. Jika diterapkan, dapat juga mengarah pada pembelajaran yang lebih fokus dan efektif karena melibatkan penanaman nilai-nilai Islam. ketika siswa memiliki karakter dan dasar pendidikan spiritual yang kokoh, mereka akan cenderung fokus dan serius dalam belajar. Tantangan dan Rekomendasi Penelitian Selanjutnya Tantangan dalam menerapkan kecerdasan emosional untuk membangun gaya belajar yang efektif prespektif pendidikan Islam, tidaklah sederhana. Salah satu tantangan utamanya adalah pendekatan pendidikan yang masih mengukur keberhasilan siswa hanya dari nilai ujian atau prestasi akademik, tanpa memperhatikan keseimbangan aspek emosional, sosial, dan Akibatnya, banyak siswa yang kurang mampu mengelola stres, emosi, dan kesulitan belajar dengan cara yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka. Dalam praktik mengajar, tak jarang juga guru menggunakan metode yang sama untuk semua siswa, tanpa mempertimbangkan bahwa ada siswa yang lebih mudah belajar lewat visual, ada yang melalui pendengaran, dan ada pula yang perlu bergerak aktif. Ketika gaya belajar siswa tidak Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 terpenuhi, mereka cenderung bosan, mudah frustrasi, atau merasa tidak mampu. Ini tentu bisa mengganggu perkembangan akademik dan emosional mereka. Selain itu, studi-studi yang mengkaji kecerdasan emosional menerapkan kecerdasan emosional untuk membangun gaya belajar yang efektif prespektif pendidikan Islam masih terbatas jumlahnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Mayoritas penelitian masih bersifat umum atau terfokus pada pendekatan psikologis modern, namun belum mengaitkan secara kuat dengan nilai, prinsip, dan tujuan pendidikan Islam. tantangan yang lainnya adalah studi yang mengupas bagaimana gaya belajar Islami terbentuk dan bagaimana kecerdasan berperan di dalamnya masih jarang dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana membangun hubungan emosional yang sehat dengan siswa, serta bagaimana menyesuaikan metode mengajar dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Selain itu, juga perlu menciptakan suasana sekolah yang Islami dan penuh perhatian, seperti membiasakan ibadah bersama dan memberikan bimbingan spiritual, juga sangat penting untuk mendukung perkembangan emosional dan cara belajar siswa secara menyeluruh. Penelitian ke depannya disarankan untuk mengkaji mengenai kecerdasan emosional dan gaya belajar dalam pendidikan Islam tidak hanya berhenti pada tataran teori saja, tetapi juga lebih banyak melakukan penelitian langsung di berbagai jenjang pendidikan. Seperti madrasah atau pesantren, untuk melihat bagaimana kecerdasan emosional berperan dalam menyesuaikan gaya belajar. Dengan begitu, hasil penelitian bisa lebih aplikatif dan membantu guru serta lembaga pendidikan Islam dalam membangun proses pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa. SIMPULAN Gaya belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional siswa. Kemampuan mengelola emosi dan beradaptasi dengan berbagai cara belajar memicu motivasi internal yang membantu siswa bertahan saat menghadapi tantangan belajar. Siswa pasti memiliki preferensi gaya belajar yang berbeda-beda . isual, auditorial, kinesteti. , yang perlu dipahami dan difasilitasi oleh guru. Guru yang cerdas secara emosional dapat menyesuaikan pengajaran untuk membuat lingkungan belajar yang menyenangkan dan memotivasi, serupa dengan metode Rasulullah Saw. Dalam prespektif pendidikan Islam, mengintegrasikan kecerdasan emosional dan gaya belajar siswa akan menciptakan proses belajar yang efektif, fleksibel, dan bermakna. Proses ini bukan hanya menekankan pada prestasi dalam bidang akademik dan non akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan aspek emosional Penelitian ini memiliki beberapa implikasi. Pada level sekolah, guru dapat menjadikan kecerdasan emosional berbasis nilai Islam sebagai dasar dalam merancang strategi pembelajaran sesuai gaya belajar siswa. Bagi pengambil keputusan, hasil ini dapat menjadi pertimbangan dalam menyusun kebijakan pengembangan kurikulum dan program pelatihan guru yang menekankan integrasi antara kecerdasan emosional, gaya belajar, dan nilai Islam. Pada penelitian berikutnya disarankan untuk memperluas kajian melalui penelitian lapangan agar dapat menguji penerapan kerangka konseptual ini secara praktis, sekaligus melibatkan siswa dan guru secara langsung sehingga hasilnya lebih kontekstual. Widia Apriliani: Peran Kecerdasan Emosional Dalam Membangun Gaya Belajar Yang Efektif:T injauan Dari Perspektif Pendidikan Islam E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 DAFTAR PUSTAKA