Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Edukasi dan Implementasi Pengelolaan Sampah untuk Meningkatkan Kesadaran Hidup Bersih bagi Warga SMAN 1 Lebak Wangi Kabupaten Serang Anharudin1. Delsa Miranty2. Dina Ayu Wulandari3. Rikki Gabriel Batistuta Simanullang4. Bakhtiar Kamil5. Yani Indika Putri 6 1Sistem Komputer. Fakultas Teknologi Informasi. Universitas Serang Raya. Jl. Raya Cilegon KM. 5 Taman Drangong Kota Serang Banten 42162 2Pendidikan Bahasa Inggris. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Jl. Ciwaru Raya Cipare Kota Serang Banten 42117 3,6Manajemen. Fakultas Teknologi Informasi. Universitas Serang Raya. Jl. Raya Cilegon KM. Taman Drangong Kota Serang Banten 42162 4Administrasi Negara. Fakultas Teknologi Informasi. Universitas Serang Raya. Jl. Raya Cilegon KM. 5 Taman Drangong Kota Serang Banten 42162 5Bisnis Digital. Fakultas Teknologi Informasi. Universitas Serang Raya. Jl. Raya Cilegon KM. 5 Taman Drangong Kota Serang Banten 42162 dean@gmail. ABSTRAK Permasalahan pengelolaan sampah masih menjadi isu penting di lingkungan sekolah, termasuk di SMAN 1 Lebak Wangi Kabupaten Serang. Kurangnya pemahaman dan kesadaran warga sekolah mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik berdampak pada kondisi lingkungan yang kurang bersih dan kurang nyaman. Tujuan dan manfaat dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan edukasi dan mengimplementasikan pengelolaan sampah berbasis partisipatif guna meningkatkan kesadaran hidup bersih bagi siswa, guru, dan staf sekolah. Penyuluhan, demonstrasi pengelolaan sampah organik dan anorganik, kemudian pendampingan dalam pembuatan tempat pemilahan sampah merupakan metode yang akan digunakan dalam kegiatan ini. Dari hasil kegiatan terlihat bahwa adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap warga sekolah terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah yang tepat. Implementasi program ini juga mendorong terbentuknya tim kecil peduli lingkungan sekolah sebagai bentuk keberlanjutan kegiatan. Harapannya kegiatan ini menjadi starting point dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berbudaya ramah lingkungan. Kata kunci: Pengelolaan Sampah. Edukasi Lingkungan. Hidup Bersih. Sekolah. Partisipasi Warga Sekolah ABSTRACT Waste management issues are still an important issue in the school environment, including at SMAN 1 Lebak Wangi. Serang Regency. The lack of understanding and awareness of school residents regarding the importance of good waste management has an impact on environmental conditions that are less clean and less comfortable. The purpose and benefits of this community service activity are to provide education and implement participatory-based waste management to increase awareness of clean living for students, teachers, and school staff. Counseling, demonstrations of organic and inorganic waste management, then assistance in making waste sorting places are the methods that will be used in this activity. From the results of the activity, it can be seen that there is an increase in knowledge and changes in attitudes of school residents towards the importance of maintaining environmental cleanliness through proper waste management. The implementation of this program also encourages the formation of a small school environmental care team as a form of sustainability of the activity. It is hoped that this activity will be a starting point in realizing a clean, healthy, and environmentally friendly school environment. Keywords: Waste Management. Environmental Education. Clean Living. School. Community Participation School SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN MASYARAKAT LPPM UNIVERSITAS SERANG RAYA Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 PENDAHULUAN Permasalahan sampah telah menjadi isu global yang mendesak, tidak terkecuali di lingkungan sekolah. Sekolah sebagai institusi pendidikan yang berfungsi membentuk karakter dan perilaku siswa, menanamkan kesadaran dan praktik pengelolaan sampah yang bertanggung jawab sejak dini. Sayangnya, kondisi riil di banyak sekolah menunjukkan tantangan signifikan terkait volume sampah yang dihasilkan dan belum optimalnya sistem optimalisasi pengelolaan sampah melalui proses pemilihan. edukasi dengan solusi yang ditawarkan meliputi sumber daya yang dimiliki adalah sosialisasi, edukasi dan pendampingan pemilahan sampah di sumber timbulan sampah/pelanggan. (Sandika et al. , 2. Dalam Undang Ae Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah definisi sampah yaitu sisa kegiatan sehari Ae hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan menurut definisi World Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2. Data menunjukkan bahwa setiap individu menghasilkan rata-rata 0,7 kg sampah per hari. Bayangkan, dengan ratusan atau bahkan ribuan warga sekolah . iswa, guru, dan sta. , berapa ton sampah yang dapat dihasilkan dalam sebulan atau Sampah-sampah ini didominasi oleh sampah organik . isa makanan kantin, dedauna. dan sampah anorganik . otol plastik, kemasan makanan dan minuman, kertas beka. Pelakasanaan Pelatihan budidaya maggot membantu Masyarakat dalam peningkatan ekonomi. (Indraningrat et al. , 2. Tanpa pengelolaan yang tepat, tumpukan sampah di sekolah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain: Pencemaran Lingkungan: Sampah yang menumpuk dan tidak terpilah mencemari lingkungan sekolah, baik di dalam kelas, koridor, maupun halaman. Bau tak sedap, pemandangan yang kotor, dan keberadaan vektor penyakit seperti lalat dan tikus dapat mengurangi kenyamanan dan kebersihan lingkungan Gangguan Kesehatan: Lingkungan sekolah yang kotor akibat sampah berpotensi menjadi sarang kuman dan Siswa dan staf rentan terpapar penyakit saluran pernapasan, diare, atau penyakit kulit yang dapat mengganggu proses belajar mengajar. Penurunan Estetika: Tumpukan kenyamanan lingkungan sekolah. Hal ini dapat memengaruhi semangat belajar siswa dan citra positif sekolah di mata Ketersumbatan Saluran Air: Sampah yang dibuang sembarangan, khususnya sampah plastik, seringkali menyumbat saluran air atau selokan di area sekolah, berpotensi menyebabkan genangan air atau bahkan banjir saat musim hujan. Hilangnya Potensi Ekonomi dan Edukasi: Sampah yang tidak dipilah kehilangan potensi untuk didaur ulang atau diolah menjadi kompos, padahal sampah memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Selain itu, hilangnya kesempatan untuk mendidik siswa tentang pentingnya daur ulang dan ekonomi Pengolahan sampah rumah tangga dapat dijadikan sebagai pupuk kompos dsb. (Gusti Ayu Kade Sutariati et , 2. Sampah sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari aktivitas manusia, telah menjadi isu krusial yang menuntut perhatian serius di berbagai tingkatan, termasuk di lingkungan pendidikan. SMA Negeri Lebak Wangi, sebagai salah satu institusi pendidikan menengah atas yang memiliki ratusan siswa, guru, dan staf, secara otomatis menghasilkan volume sampah yang signifikan setiap harinya. Sampah ini beragam, mulai dari sisa makanan di kantin, kemasan plastik minuman dan makanan ringan, hingga kertas bekas dari kegiatan belajar Kemudian dengan transfer keterampilan dan transfer teknologi khususnya Teknologi Tepat Guna (TGG) kepada kelompok mitra akan membantu Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 mengakses potensi yang dimilikinya Sedangkan learning by doing artinya belajar sambil bekerja/berusaha. (Maruka & Ibrahim. Pengelolaan sampah yang tidak efektif di lingkungan sekolah seperti SMA Negeri Lebak Wangi serangkaian dampak negatif yang serius. Ini bukan hanya masalah kebersihan visual, tetapi juga berdampak pada kesehatan, kenyamanan, dan bahkan citra Berdasarkan pengamatan sbb : Secara umum, beberapa tantangan dalam pengelolaan sampah di SMA Negeri Lebak Wangi mungkin meliputi: Volume Sampah yang Tinggi: Dengan aktivitas harian yang padat, terutama saat jam istirahat dan makan siang, sampah organik dari sisa makanan dan sampah anorganik dari kemasan produk sekali pakai menumpuk dengan Kurangnya Pemilahan Sampah di Sumber: Kesadaran memilah sampah berdasarkan jenisnya . rganik, anorganik. masih perlu ditingkatkan di kalangan warga sekolah. Sampah cenderung dicampur dan dibuang ke tempat sampah yang sama. KeterbatasanFasilitas Pengelolaan: Mungkin ada keterbatasan dalam jumlah dan jenis tempat sampah terpilah, atau fasilitas pendukung seperti area pengomposan atau sampah daur ulang. Edukasi yang Belum Optimal: Meskipun ada mata pelajaran yang implementasi praktis dan edukasi berkelanjutan tentang pengelolaan sampah yang benar mungkin menyeluruh dalam kegiatan seharihari. Perilaku Konsumtif: Peningkatan tren penggunaan produk kemasan sekali pakai di kalangan siswa juga berkontribusi pada volume sampah yang besar. METODE PELAKSANAAN Pelaksanaan Pengabdian ini dilakukan pada SMA Negeri 1 Lebak Wangi yang merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri yang berlokasi di Kabupaten Serang. Provinsi Banten. Sekolah ini beralamat lengkap di Jl. Ciptayasa Km. RT. 09 RW. Desa Tirem. Kecamatan Lebak Wangi. Kabupaten Serang. Banten. Sekolah ini diresmikan oleh Pj Gubernur Banten Al Muktabar pada 21 Februari 2023, sebagai bagian dari upaya peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di Provinsi Banten. Sebelum diresmikan. SMA Negeri 1 Lebak Wangi sempat menumpang di SDN Karanganyar untuk kegiatan belajar mengajar selama sekitar 8 tahun. Gambar 1. Peta SMAN 1 Lebak Wangi Pengabdian Masyarakat dilakukan selam kurang lebih 10 hari kerja dari tanggal 26 Mei Ae 07 Juni 2025. Adapun tahapan dari kegiatan ini adalah : Metode dan Tahapan Pengelolaan Sampah di Sekolah Pengelolaan sampah yang efektif di sistematis dengan tahapan yang jelas dan partisipasi aktif dari seluruh warga Berikut adalah metode dan tahapan yang dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan: Sosialisasi dan Pembentukan Tim Pengelola Sampah Tahap awal adalah membangun kesadaran dan komitmen. Sosialisasi Menyeluruh: Edukasi kepada seluruh warga sekolah . Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 guru, staf, kantin, penjaga kebersiha. tentang pentingnya pengelolaan sampah, dampak negatif sampah, dan manfaat dari praktik 3R (Reduce. Reuse. Recycl. Gunakan presentasi, poster, mading, atau video Pembentukan Tim Khusus: Bentuk tim atau gugus tugas pengelolaan sampah Pada pembentukan ini telah disepakati siswa yang sedang mengikuti program Adi Wiyata yang menjadi Tim Dengn sosialisasi dan pemaparan atau presentasi dan pembuatan pupuk kompos dapat lebih cepat di mengerti oleh (Meinarni et al. , 2. Penyusunan Aturan dan Prosedur: Susun aturan yang jelas mengenai pemilahan sampah, jadwal pengumpulan, dan sanksi . bagi yang melanggar. Identifikasi dan Pemilahan Sampah Ini adalah langkah krusial dalam pengelolaan sampah. Audit Sampah Awal: Lakukan survei atau audit singkat untuk mengetahui jenis dan perkiraan volume sampah yang dihasilkan sekolah setiap hari. Ini membantu dalam perencanaan fasilitas dan strategi. Penyediaan Fasilitas Pemilahan: Sediakan tempat sampah terpilah di lokasi strategis . etiap kelas, koridor, kantin, ruang guru, area publik sekola. dengan label yang jelas untuk: Sampah Organik: Sisa makanan, daun kering, ranting kecil, ampas kopi/teh. Sampah Anorganik/Daur Ulang: Plastik . otol, kemasa. , kertas, kardus, kaleng. Sampah Residu (Non-Daur Ulang/B. Sampah yang tidak bisa didaur ulang, baterai bekas, lampu rusak, atau bahan berbahaya lainnya . ika ada, sediakan tempat khusu. Edukasi Praktis Pemilahan: Berikan contoh dan bimbingan langsung kepada siswa dan staf tentang cara memilah sampah dengan benar. Adakan kompetisi kelas terbersih atau lomba pemilahan sampah untuk memotivasi. Pengolahan Sampah Organik (Compostin. Sampah organik memiliki potensi besar untuk diolah di lingkungan sekolah. Pengomposan: Manfaatkan sampah organik menjadi kompos. Metode yang bisa digunakan antara lain: KomposterTakakura/Drum Komposter: Cocok untuk skala kecil hingga menengah. Lubang Biopori: Untuk sampah organik yang langsung ditanam ke tanah, membantu penyerapan air. Metode Tak Bertumpuk (Open Compostin. : Jika lahan memungkinkan, bisa membuat area pengomposan terbuka. Budidaya Maggot (Black Soldier Fly BSF): Untuk sisa makanan dalam jumlah banyak, budidaya maggot dapat menjadi solusi efektif dan cepat dalam mengurangi menghasilkan biomassa maggot yang bisa Pemanfaatan Hasil Kompos: Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di taman sekolah, pot bunga, atau bahkan dijual untuk mendukung kas pengelolaan sampah. Pengelolaan Sampah Anorganik (Daur Ulang dan Bank Sampa. Sampah anorganik memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Pengumpulan Terpilah: Pastikan sampah anorganik terkumpul sesuai Kerja Sama Bank Sampah/Pengepul: Jalin dengan bank sampah lokal atau pengepul barang bekas. Sampah yang terkumpul dapat dijual, dan dananya bisa digunakan untuk operasional pengelolaan sampah atau kegiatan sekolah lainnya. Kreativitas Daur Ulang: Dorong kegiatan kreatif siswa untuk mengubah sampah anorganik menjadi kerajinan tangan atau produk bernilai ekonomis . Bisa juga dengan cara mengajarkan siswa EcoBrick. Contoh: botol plastik menjadi pot bunga, kertas bekas menjadi buku catatan, atau kemasan bekas menjadi tas. Salah satu cara daur ulang sampah yang ramah lingkungan Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 adalah dengan membuat ecobrick. (Ratri Enggar Pawening et al. , 2. Pengurangan Sampah (Reduc. dan Penggunaan Kembali (Reus. Prinsip 3R, terutama "Reduce" dan "Reuse", adalah yang paling utama. Gerakan Tanpa Sampah Plastik Sekali Pakai: Mendorong siswa dan staf membawa botol minum isi ulang, kotak makan, dan kantong belanja kain. Mengurangi Cetak Kertas: Memaksimalkan pengumuman, dan tugas. Jika harus mencetak, gunakan kertas bolak-balik. Penggunaan Ulang Barang: Mendorong penggunaan kembali barang yang masih layak pakai . isalnya buku bekas, seragam bekas yang masih bagus, atau alat Pemantauan Evaluasi Berkelanjutan Pengelolaan sampah harus terus dipantau dan dievaluasi. Pencatatan dan Pelaporan: Tim pengelola sampah mencatat volume sampah yang dihasilkan, yang berhasil dipilah, diolah, atau didaur ulang. Buat laporan berkala. Evaluasi dan Perbaikan: Berdasarkan data dan observasi, identifikasi area yang Lakukan penyesuaian strategi atau metode jika Apresiasi dan Penghargaan: Berikan apresiasi atau penghargaan kepada kelas, individu, atau kelompok yang paling aktif dan konsisten dalam pengelolaan sampah untuk memotivasi. Melalui tahapan ini. SMA Negeri 1 Lebak Wangi, dapat secara sistematis dan bertahap membangun budaya pengelolaan menjadikan lingkungan sekolah lebih bersih, sehat, dan menjadi teladan bagi komunitas yang lebih luas. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Berdasarkan metode dan tahapan dipaparkan sebelumnya, bagian ini akan menguraikan hasil yang diharapkan serta pembahasan mengenai implikasi dan tantangan yang mungkin muncul dalam implementasinya di SMA Negeri 1 Lebak Wangi. Gambar 2. Diskusi dengan Pihak SMAN 1 Lebak Wangi Implementasi program pengelolaan sampah terpadu di SMA Negeri 1 Lebak Wangi diharapkan akan membawa hasil positif sebagai berikut: Penurunan Volume Sampah yang Dibuang ke TPA: Dengan optimalisasi pemilahan di sumber, pengomposan sampah organik, dan daur ulang sampah anorganik, volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan Ini berkontribusi pada pengurangan beban lingkungan dan masa pakai TPA. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Gambar 4. Proses Pengolahan Sampah Organik Gambar 3. Proses Pemilahan Sampah Peningkatan Kebersihan dan Estetika Lingkungan Sekolah: Lingkungan SMA Negeri 1 Lebak Wangi akan menjadi lebih bersih, rapi, dan bebas dari tumpukan Hal ini menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, sehat, dan kondusif bagi seluruh warga sekolah. Peningkatan Kesadaran dan Perilaku Ramah Lingkungan Warga Sekolah: Melalui sosialisasi dan praktik langsung, siswa, guru, dan staf akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pengelolaan sampah dan menerapkan kebiasaan 3R (Reduce. Reuse. Recycl. dalam kehidupan seharihari, tidak hanya di sekolah tetapi juga di Terbentuknya Sumber Daya Manusia yang Berkarakter Peduli Lingkungan: Siswa akan tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, memiliki keterampilan praktis dalam pengelolaan sampah, dan berpotensi menjadi agen perubahan di komunitas Potensi Pendapatan Tambahan dan Pemanfaatan Sumber Daya: Sampah anorganik yang terpilah dan dijual ke bank menghasilkan dana yang bisa digunakan untuk mendukung operasional program pengelolaan sampah atau kebutuhan sekolah lainnya. Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk perawatan taman sekolah. Gambar 5. Proses Pengolahan Sampah Anorganik SMA Negeri 1 Lebak Wangi sebagai Pilot Project/Sekolah Percontohan: Keberhasilan pengelolaan sampah dapat menjadikan SMA Negeri 1 Lebak Wangi sebagai model bagi sekolah lain di Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Kabupaten Serang mendorong replikasi program serupa. PEMBAHASAN Pencapaian hasil-hasil di atas tidak lepas dari beberapa faktor kunci dan potensi tantangan yang perlu diantisipasi serta diatasi: Komitmen Kepemimpinan: Keberhasilan program sangat bergantung pada komitmen penuh dari kepala Kepemimpinan memastikan program berjalan konsisten dan menjadi bagian integral dari budaya Ketersediaan Pemeliharaan Fasilitas: Penyediaan tempat sampah terpilah yang memadai, komposter, atau fasilitas pengolahan sampah lainnya adalah prasyarat. Namun, pemeliharaan fasilitas agar tetap berfungsi dengan baik dan bersih juga tidak kalah penting. Gambar 7. Penyerahan Tempat Sampah kepada Mitra Gambar 6. Proses Membuat Ecobrick Partisipasi Aktif Seluruh Warga Sekolah: Program ini tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh segelintir orang. Keterlibatan aktif siswa sebagai pelaksana utama di tingkat kelas, didukung oleh guru sebagai fasilitator dan teladan, sangat Peran penjaga kantin dan petugas kebersihan juga vital dalam menjaga kebersihan dan alur sampah. Konsistensi Edukasi dan Monitoring: Edukasi tidak bisa hanya dilakukan di Perlu ada program edukasi berkelanjutan yang disisipkan dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler. Monitoring berkala dan evaluasi terhadap praktik pemilahan dan pengolahan melakukan perbaikan. Gambar 8. Foto Bersama DPL. Mahasiswa dan Mitra Integrasi dengan Kurikulum: Untuk pengelolaan sampah dan pendidikan lingkungan hidup perlu diintegrasikan secara lintas mata pelajaran. Misalnya, pelajaran IPA dapat membahas proses pengomposan, pelajaran IPS membahas dampak sosial ekonomi sampah, atau Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 pelajaran seni membahas daur ulang Tantangan Perubahan Perilaku: Mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi kebiasaan memilah adalah proses yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan pendekatan yang beragam. Mungkin akan ada resistensi awal atau kurangnya disiplin dari sebagian warga sekolah, sehingga diperlukan pendekatan persuasif, edukatif, dan, jika perlu, konsekuensi yang mendidik. Dukungan Eksternal: Kerja sama (Dinas Lingkungan Hidu. , organisasi peduli lingkungan, atau bank sampah di luar sekolah dapat memberikan dukungan teknis, pelatihan, atau fasilitasi dalam pemasaran hasil daur ulang. Gambar 9. Penyerahan Sertifikat kepada Mitra Secara sampah di SMA Negeri 1 Lebak Wangi memiliki potensi besar untuk tidak hanya mengatasi masalah sampah internal, tetapi juga menjadi model pembelajaran praktis tentang keberlanjutan. Melalui perencanaan yang matang, implementasi yang konsisten, dan kolaborasi seluruh pihak. SMA Negeri 1 Lebak Wangi dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan mendidik, sekaligus berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan yang lebih luas. KESIMPULAN Pengelolaan sampah di SMA Negeri 1 Lebak Wangi merupakan langkah krusial untuk menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan edukatif. Tantangan utama terletak pada volume sampah yang tinggi dan rendahnya kesadaran pemilahan di sumber, yang berpotensi menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan estetika sekolah. Melalui pendekatan sistematis yang melibatkan sosialisasi, pembentukan tim pengelola, penyediaan fasilitas pemilahan, . engomposan/maggo. , anorganik . aur ulang/bank sampa. , serta upaya pengurangan . dan penggunaan kembali . SMA Negeri 1 Lebak Wangi dapat mencapai beberapa hasil signifikan. Ini termasuk penurunan volume sampah ke TPA, peningkatan kesadaran dan perilaku ramah lingkungan warga sekolah, serta potensi pendapatan tambahan dari daur ulang. Keberhasilan implementasi program ini sangat bergantung pada komitmen kepemimpinan sekolah, partisipasi aktif seluruh warga sekolah . iswa, guru, sta. , konsistensi edukasi berkelanjutan yang terintegrasi kurikulum, serta kemampuan mengatasi tantangan perubahan perilaku. Dengan kolaborasi yang kuat dan pemanfaatan sumber daya secara optimal. SMA Negeri 1 Lebak Wangi tidak hanya akan menyelesaikan masalah sampahnya sendiri, tetapi juga menjadi model lingkungan yang membentuk generasi muda peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kami ucapkan yang tidak terhingga Kepada Ketua LPPM Universitas Serang Raya Bapak Dr. Ing Farid Wajdi. Sc. beserta jajarannya di LPPM UNSERA sepenuhnya kegiatan pengabdian pada Masyarakat ini. Selanjutnya kami juga berterima kasih kepada Ibu Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lebak Wangi Kabupaten Serang yaitu Ibu Sri Hariyanti. Pd. yang telah memberikan kesempatan Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM Unsera Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 serta membersamai kegiatan ini dari awal sampai akhir sehingga kegiatan ini berjalan dengan lancer tanpa kurang satu Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih juga kepada Bapak Yusri Firdaus. Si. Pd. Selaku Wakasek Sarana dan Prasarana yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk dapat berkontribusi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarat di sekolah Terakhir kami ucapkan terima kasih banyak atas kerjasama dan bantuannya untuk temen-temen Mahasiswa Kelompok 12 yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu-satu, yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini dari awal sampai akhir kegiatan. DAFTAR PUSTAKA