IMPLIKASI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN PENDIDIKAN SEKSUALITAS PADA PESERTA DIDIK KELAS Vi SMP NEGERI BALIKPAPAN Musdalifah1. Rury Muslifar2. Yasintha Sari Pratiwi3 Universitas Mulawarman. Jalan Banggeris No. Samarinda. Kalimantan Timur musdalifahsukses99@gmail. Telah dipresentasikan dalam Parade Penelitian Psikologi Pendidikan Tahun 2021 ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena seksualitas yang selalu terjadi di SMP Negeri 9 Balikpapan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk engetahui implikasi yang dilakukan guru BK serta aspek pendidikan seksualitas yang di berikan guru BK terkait peningkatan pemahaman pendidikan seksualitas di SMP Negeri 9 Balikpapan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek berjumlah tiga guru bimbingan dan konseling dan dua Siswa kelas Vi. Instrumen pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa implikasi guru BK dalam meningkatkan pemahaman pendidikan seksualitas sudah terlaksanakan dengan strategi layanan bimbingan kelompok, kolaborasi, konseling kelompok konseling individu, referal dan konferensi kasus. kemudian aspek pendidikan seksualitas yang diberikan yaitu aspek biologis, psikologi, dan juga sosial Kesimpulannya implikasi yang guru BK lakukan dalam ranah Pendidikan seksualitas dari aspek biologis, psikologis dan sosial yang di berikan kepada peserta didik melalui berbagai strategi layanan Bimbingan dan konseling tersebut sangat berdampak kepada peserta didik dan mencapai keberhasilan sekitar 80%. Kata Kunci: Implikasi Guru BK. Pendidikan Seksualitas ABSTRACT The study is based on a phenomenon of sexuality that always occurs in the 9th country junior high school, the purpose of the study is to understand the implications of the bk teacher and the aspect of sexuality education given by the bk teacher to an increase in sexuality education in the ninth year of the year. This type of research is qualitative with a descriptive method. Subject number three guidance and counseling teachers and two eighth graders. Data-collection instruments using interviews and documentaries. Data analysis techniques using data collection, data reduction data presentation and deduction Research has shown that the bk teacher's implication in promoting an understanding of sexuality education is already implemented with a group guidance service, collaboration, individual counseling group counseling strategy, referral and case The aspect of sexuality education, which is given to the biological, psychological, and social aspects of the implications the guidance teacher does in the sphere of sexuality education from the biological, psychological and social aspects given to students through the strategies of guidance services and counseling has had a profound impact on the protege and achieving about 80% of the success. Keywords: The Guidance and counseling teacher implication, the sexuality education PENDAHULUAN Pendidikan seksualitas bagi remaja, bukanlah suatu pelajaran untuk bagaimana para remaja melampiaskan nafsu seksualnya, melainkan untuk memberikan pelajaran dan informasi yang benar tentang seputar permasalahan seksualitas termasuk di dalamnya kesehatan reproduksi remaja. Pendidikan seksualitas ini penting bagi remaja, karena secara psikologis masa remaja merupakan masa yang rawan dan labil untuk mengambil sebuah keputusan, masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, sedangkan pada masa ini gejolak seksualitas remaja semakin tinggi. Melihat berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia, khususnya di Kota Balikpapan hal ini dapat dilihat dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga berencana (DP3AKB) di tahun 2020 terdapat 51 kasus kekerasan terhadap anak dan yang paling tinggi adalah kasus kekerasan seksual yang terdapat 30 kasus di tahun 2020. Dan pada tahun 2019 kasus kekerasan seksual ada 42 kasus. sehingga ada penurunan kasus tentang kekerasan seksual di kota balikpapan Kemudian data dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan jumlah pengidap HIV/AIDS pada periode Januari-Mei 2019 terdata sebanyak 258 Orang. Dengan rincian laki-laki 159 orang dan 38 diantaranya telah masuk ke fase AIDS. Sementara Perempuan sebanyak 99 orang, 36 di antaranya masuk fase AIDS. Mayoritas kasus HIV disebabkan karena perilaku seks bebas. Begitu juga data dari hasil Studi pendahuluan yang dilakukan di sekolah SMP Negeri 9 Balikpapan kepada Guru BK pada tanggal 22 dan 24 November 2021, guru BK menyatakan bahwa di sekolah ini setiap tahunnya selalu terjadi kasus seksual namun persentasenya selalu berkurang setiap tahunnya. Guru BK juga mengatakan di sekolah ini sering sekali terjadi kasus yang mengarah kepada Seksual seperti ada peserta didik yang ketahuan oleh guru di dalam satu WC berduaan, kemudian juga pernah menemukan kasus pada saat razia HP itu terdapat foto dan Screenshoot Video Call dengan memperlihatkan tubuh yang telanjang tanpa busana, memperlihatkan alat kelamin dan juga payudaranya, dan ada kasus kekerasan seksual juga yang mengganggu psikis peserta didik tersebut sehingga pernah di referalkan kasusnya ke pihak Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Kemudian baru baru saja terjadi kasus peserta didik yang sudah melakukan seks pranikah kemudian hamil dan menikah siri tanpa sepengetahuan pihak sekolah karena terbatasnya pengawasan di sekolah pada saat daring. Setelah tahu kebenarannya akhirnya guru BK, kepala sekolah dan orang tua peserta didik memutuskan bersama untuk kelanjutan anaknya di sekolah seperti apa. Data kasus yang setiap tahunnya selalu terjadi ini membuat guru BK harus mulai memberikan layanan yang wajib diberikan kepada peserta didik khususnya di kelas Vi tentang pendidikan seksualitas dan juga dibantu oleh pihak dinas kesehatan dan juga Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) yang tiap tahunnya selalu memberikan Pelatihan kepada guru BK dalam hal perkembangan remaja salah satunya tentang pendidikan seksualitas tersebut. Kasus-kasus yang terjadi tersebut pada dasarnya disebabkan dari beberapa faktor, sebagaimana yang dikutip dari pandangan Sarlito W. Sarwono . dalam buku yang berjudul Psikologi Remaja bahwa ada beberapa Faktor penyebab Masalah seksualitas pada remaja yaitu : . Meningkatnya Libido Seksualitas, . penundaan usia pernikahan, . TabuAeLarangan, . pergaulan yang semakin bebas dan yang terakhir . Kurangnya Informasi Tentang Seksualitas. Faktor yang lebih diutamakan adalah informasi tentang seksualitas dari sumber yang benar dan tepat. Kurangnya informasi atau pemahaman tentang pendidikan seksualitas sangat berbahaya bagi perkembangan remaja. Banyak remaja kurang memahami tentang Pendidikan Seksualitas yang mencakup dampak dari perilaku seksual yang menyimpang tersebut sehingga mereka tidak bisa memikirkan resiko apa yang akan mereka dapatkan jika mereka melakukan seks bebas misalnya saja resiko dari segi Psikologisnya, sosialnya yang akan mengganggu dirinya dan lingkungannya. Pendidikan seksualitas yang diberikan kepada remaja menyangkut dengan aspek biologis, psikologis, dan sosial. Dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatan. Dimensi psikologis berkaitan dengan identitas peran jenis, bagaimana dinamika aspek- aspek psikologis . ognisi, emosi, motivasi, perilak. terhadap seks itu sendiri, dan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual. Dimensi sosial berkaitan dengan bagaimana seks muncul dalam relasi antar-manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seks dan pilihan perilaku seks. Dari penjelasan diatas maka perlu adanya tindakan dalam meningkatkan pengetahuan tentang seksualitas di kalangan remaja dengan melibatkan berbagai pihak. Djamal . berkata bahwa berdasarkan perkembangan sejarah pendidikan seks disebutkan ada tiga lembaga yang memiliki tanggung jawab dalam memberikan pendidikan seks yaitu: rumah . , institusi keagamaan, dan sekolah. Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pemahaman pendidikan seks kepada peserta didik. Berkaitan dengan bagaimana seharusnya sekolah berperan aktif terhadap pendidikan seksualitas, adalah sekolah . ara gur. khususnya guru Bimbingan dan Konseling harus memiliki paradigma yang persis terbalik dengan pandangan negatif terhadap pendidikan seksualitas oleh masyarakat pada umumnya. Pendidikan seksualitas dalam cangkupan ilmu Bimbingan dan Konseling yaitu menekankan pada aspek biologis, psikologis, dan sosial yang dapat diberikan dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Hal yang dapat dilakukan oleh guru BK dalam meningkatkan pemahaman pendidikan seksualitas di sekolah yaitu dengan memberikan strategi layanan BK yang sesuai dengan Tugas Perkembangan remaja dan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik di sekolah. Dengan adanya pendidikan seksualitas yang sesuai dengan perkembangan remaja dan SKKPD di sekolah ini, maka peserta didik akan mendapatkan informasi yang benar dan jelas tentang perkembangan tubuh di masa peralihan anak ke remaja, dapat mencegah remaja melakukan seks bebas, mencegah kekerasan dan pelecehan seksual, mencegah aborsi akibat kehamilan di luar nikah, mencegah pernikahan di usia dini, mencegah penularan penyakit kelamin, membuat remaja mampu menghadapi tekanan dari teman-teman mereka dan dapat memelihara tegaknya nilai-nilai Dengan begitu guru BK di sekolah-sekolah dapat memberikan pemahaman tentang pendidikan seksualitas yang saat ini masih jarang disampaikan oleh orang tua maupun guru-guru yang ada di sekolah. Dari penelitian ini kita akan mengetahui apa saja implikasi atau keterlibatan yang guru BK berikan kepada peserta didik dan Aspek apa saja yang sudah disampaikan dalam meningkatkan pemahaman pendidikan seksualitas di METODE Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 9 Balikpapan Jl. Gunung. IV, Margo Mulyo. Kec. Balikpapan Barat. Kota Balikpapan. Kalimantan Timur 76123. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2021 Ae July 2022. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer peneliti menggunakan teknik purposive sampling yaitu penentuan sampel dengan pertimbangan Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah 3 Guru BK dan 2 Peserta didik yang telah di berikan pemahaman pendidikan Seks oleh guru BK yaitu kelas Vi. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan dari data dokumentasi . tudi dokumente. yang berkaitan dengan objek penelitian. Yaitu berupa data keadaan demografis sekolah, visi dan misi sekolah serta pelaksanaan kegiatan Bimbingan dan Konseling di SMP N 9 Balikpapan. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi. Teknis analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Pengumpulan data. Reduksi data. Penyajian Data dan Penarikan Kesimpulan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik pemeriksaan data triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber, peneliti membandingkan hasil wawancara yang diperoleh dari masing Aemasing sumber atau informan penelitian sebagai pembanding untuk mengecek kebenaran informasi yang didapatkan. Selain itu peneliti juga melakukan derajat kepercayaan melalui teknik triangulasi metode, yaitu dengan melakukan pengecekan hasil penelitian dengan teknik pengumpulan data yang berbeda yakni wawancara dan dokumentasi sehingga derajat kepercayaan data dapat valid. HASIL Hasil penelitian yang telah dilakukan di SMP Negeri 9 Balikpapan menemukan bahwa dalam implikasinya guru BK memberikan layanan sesuai dengan fungsi BK yaitu fungsi pemahaman, pencegahan dan pengentasan. Proses pemberian pemahaman pendidikan seksualitas yang dilakukan oleh guru BK yaitu membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya terhadap seksualitas. Guru BK di sekolah memiliki keterlibatan dalam memberikan pemahaman Pendidikan seksualitas yaitu dengan melihat kondisi peserta didik dan menyampaikan materi yang berhubungan dengan Pendidikan seksualitas seperti materi tentang perkembangan remaja, berteman dengan lawan jenis sesuai dengan etika dan agama dan juga dampak pacaran. Guru BK memberikan materi ini dengan media Power Point, gambar dan Video serta dalam prosesnya menggunakan berbagai strategi layanan dasar BK diantaranya layanan klasikal dan layanan bimbingan kelompok. Hasil yang didapatkan bahwa Peserta didik mendapatkan layanan yang sudah di sampaikan oleh guru BK t dan mereka sudah memahami apa yang guru BK berikan saat layanan. Proses pencegahan yang dilakukan guru BK yaitu membantu peserta didik mencegah agar tidak melakukan kesalahan yang besar terhadap diri dan masa depannya seperti masalah tentang seksualitas yang menyimpang, seks pranikah, pelecehan seksual atau bahkan kekerasan seksual yang akan menghancurkan masa depannya. Dalam pencegahan ini guru BK berkolaborasi dengan pihak puskesmas yang mana termasuk dalam program yang diadakan oleh Dinas Sosial kota Balikpapan, dari kolaborasi ini guru BK mendapatkan pelatihan materi yang menyangkut tentang pendidikan seksualitas. Selain itu guru BK juga melakukan proses pencegahan dengan memberikan layanan Bimbingan Kelompok disertai materi dampak pacaran dan cara berteman dengan lawan jenis sesuai dengan etika dan agama. Materi tersebut sangatlah penting untuk diberikan kepada peserta didik kelas Vi karena di usianya mereka sangat rentan tertarik dengan lawan jenis sehingga perlu adanya bimbingan yang menjelaksan berbagai dampak yang akan di dapatkan Ketika mereka berpacaran. Guru BK juga memberikan pijakan bahwa tidak ada kata berpacaran bagi peserta didik. mereka harus lebih fokus untuk karir dan Dari layanan yang telah diberikan guru Bk hasilnya peserta didik merasa terbantu dan lebih waspada terhadap lawan jenis. Proses pengentasan yang guru BK lakukan yaitu membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminnya, dengan berbagai cara seperti konseling Individu. Konferensi Kasus dan juga referal. Pertama kali yang di lakukan oleh guru BK dalam pengentasan masalah ini yaitu melakukan konseling individu untuk memastikan informasi yang di dapat langsung dari anaknya dan setelah dipastikan selanjutnya di tindak lanjuti sesuai dengan yang sudah di sampaikan oleh anaknya. Jika anaknya mengalami trauma atau mendapatkan kekerasan maka akan di alih tangankan ke psikolog maupun ke dokter untuk di periksa lanjutan terhadap kesehatan mental dan fisik anaknya. Tidak hanya itu saja guru BK juga melakukan konferensi kasus untuk mengambil keputusan dalam penyelesaian masalah anak tersebut apakah masih bisa bersekolah di sekolah ini atau perlu di pindahkan atau di keluarkan. Sebelum mengarah kesana guru BK meminta persetujuan anak tersebut mengenai permasalahannya agar masalah dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Kemudian dalam Aspek Pendidikan Seksualitas Yang Diberikan Guru BK Dalam Meningkatkan Pemahaman Pendidikan Seksualitas Di SMP Negeri 9 Balikpapan. Ditemukan hasil bahwa dalam pemberian pemahaman Pendidikan Seksualitas mencakuptiga aspek Pendidikan seksualitas di antaranya: Aspek biologis dalam Pendidikan seksual yang diberikan guru Bk yaitu memperkenalkan tentang perubahan fisik di masa perkembangan remaja dengan media ppt gambar dan juga video. Guru BK memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang perubahan fisik yang akan terjaditerhadap tubuhnya jika sudah memasuki masa pubertas, menjelaskan perubahan dari fungsi tubuhnya, sampai akibat yang akan terjadi jika tidak menjaga dan merawatnya dengan baik dan benar. Memberitahukan bahwa di usia mereka sudah bisa menghasilkan janin karna reproduksi mereka sudah berkembang maka disini guru BK memperlihatkan video mengenai proses terjadinya janin, sembari guru BK menjelaskan untuk hati-hati agar tidak terjadi seks pranikah. Dengan penjelasan guru BK tersebut peserta didik akhirnya paham dan mulai mengerti untuk merawat dan menjaga tubuhnya dengan baik. Aspek psikologisnya dalam pendidikan seksual yang diberikan guru Bk yaitu menjelaskan berkaitan dengan identitas peran jenis, kognisi, emosi, motivasi, perilaku terhadap seksualitas itu sendiri, dan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual dengan penjelasan tersebut peserta didik dapat memahami dan tidak khawatir lagi dengan terjadinya perubahan Ketika memasuki masa puber. Guru BK berusaha memahamkan peserta didik agar bisa mengontrol emosinya Ketika mengetahui dirinya sudah memasuki masa pubertas, dengan memberikan penjelasan mengenai emosi seperti ketakutan yang berlebihan sehingga muncul kekhwatiran yang nantinya akan membuat peserta didik jadi pendiam, mengurung diri atau mungkin terlalu berlebihan dalam menangapi hal yang terjadi pada dirinya saat masuk ke masa pubertas. Selain itu guru BK juga memberikan motivasi agar lebih tenang dan menerima dirinya yang mengalami perubahan tersebut serta hal yang harus peserta didik lakukan di saat memasuki masa pubertas sehingga peserta didik dapat memahami kondisi dirinya dan juga dapat menjalankan sesuai dengan kondisi yang terjadi pada dirinya. Aspek sosial dalam pendidikan seksualitas yang diberikan guru BK yaitu berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar- manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks. sehingga perlu adanya penjelasan mengenai pengaruh dari proses pergaulan dalam pertemanan Usaha dalam aspek sosial ini sama dengan aspekaspek sebelumnya, namun dalam aspek sosial ini bisa dikatakan cukup rawan memunculkan perilaku-perilaku menyimpang. Sehingga usaha yang dilakukan guru BK yakni dengan memantau cara peserta didik bersosialisasi. Selain itu usaha untuk memberikan pemahaman mengenai pergaulan yang baik dan benar sehingga memunculkan kesadaran dalam diri peserta didik agar bisa menjaga dirinya sendiri ketika di luar sekolah. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menemukan bahwa keterlibatan atau implikasi yang guru BK berikan pada siswa kelas Vi yaitu dengan fungsi dan strategi layanan bimbingan dan Guru BK memberikan pemahaman mengenai pendidikan seksualitas melalui layanan klasikal, dan layanan bimbingan kelompok setiap layanan yang di berikan tidakhanya sekali namun berkelanjutan dan terus di berikan hal ini sama seperti ungkapan Kumar dkk . pendidikan seksualitas harus menjadi bagian integral dari proses pembelajaran yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Materi yang diberikan berupa tugas perkembangan remaja, etika berteman dengan lawan jenis dan dampak berpacaran. Berdasarkan hasil dari wawancara peserta didik sudah memahami dengan baik mengenai pendidikan seksualitas yang diberikan oleh Guru BK. Dewi . melalui penelitiannya menunjukan bahwa tingkat pengetahuan Pendidikan seksualitas yang dimiliki peserta didik setelah diberikan layanan konseling menunjukan adanya peningkatan pemahaman. Kondisi ini juga terjadi pada peserta didik SMPN 9 Balikpapan, yang mana keberhasilan pemberian layanan pendidikan seksualitas mengarah pada prosentase 80% dari data kasus yang di temukan selama 3 tahun terakhir pada tahun 2019 terdapat tujuh peserta didik yang dikeluarkan, kemudian di tahun 2020 empat Peserta Didik dan di tahun 2021 tiga Peserta didik dari data ini membuktikan bahwa adanya penurunan kasus di setiap tahunnya dan ini menjadi capian yang sangat baik saat layanan bimbingan dan Konseling mengenai Pendidikan seksualitas di berikan di sekolah. Pada proses pemberian pemahaman pendidikan seksualitas guru BK melakukan pendekatan melalui hati nurani, sehingga peserta didik lebih mampu menerima materi yang diberikan dan meningkatkan kesadaran dirinya. Proses pencegahan selama ini yang diberikan oleh guru BK seperti memberikan informasi dan contoh nyata dampak dari berpacaran. Strategi yaitu dengan layanan klasikal, bimbingan kelompok dan konseling individu. Semua proses yang di lakukan guru BK di sekolah membuktikan bahwa peran sekolah cukup penting sebagaimana yang di sampaikan Saripah dkk, . Peran sekolah dikatakan cukup penting dalam membentengi peserta didik dengan rasa tanggung jawab terhadap nilai, moral, dan agama. Sekolah melalui guru Bk dapat memberikan pengarahan kepada peserta didik dengan keterampilan, dukungan dan informasi yang dibutuhkan sebagai pencegahan, juga membentuk budaya dan kepercayaan peserta didik mengenai pandangannya terhadap yang baik dan buruk. Upaya dalam mencegah terjadinya seksualitas pada peserta didik yakni dengan pemberian layanan bimbingan konseling, secara individu, klasikal dan kelompok. Pada layanan konseling individu guru BK membantu peserta didik menyelesaikan permasalahanya secara intens. Layanan bimbingan klasikal yang dilakukan guru BK melalui presentasi power point dalam lintas kelas atau satu kelas, sehingga menjangkau peserta didik lebih luas. Layanan bimbingan kelompok guru BK mengelompokkan peserta didiknya untuk membangun kesadaran akan tanggung jawabnya. Jadi guru BK memberikan fasilitas mengenai keterampilan hidup pada peserta didik. agar mampu mengenal dirinya sendiri, menerima keadaan, dan membangun hubungan sosial dengan Proses pengentasan kasus yang sudah terjadi pada peserta didik guru BK biasanya melakukan dengan layanan konseling individu, referal, kunjungan rumah dan konferensi kasus. Selain itu sekolah juga sudah bekerjasama dengan lembaga pemerintah dalam menangani peserta didik yang berada dalam masalah seksualitas. Kondisi ini sudah memberikan gambaran bahwa dalam hal ini kontribusi guru BK cukup penting dalam pengentasan kasus seksualitas peserta didik. Aspek Pendidikan Seksualitas menurut Hurlock, . ada tiga aspekseksualitas yaitu : aspek biologis. Psikologis dan aspek sosial. Begitu juga dengan Aspek pendidikan seksualitas yang diberikan oleh guru BK kepada peserta didik di SMP Negeri 9 Balikpapan. Peneliti menemukan dari hasil penelitian tersebut yaitu pertama Guru BK memberikan materi mengenai perubahan fisik yang terjadi Ketika memasuki masa remaja, melalui media gambar dan video. Seperti yang disampaikan oleh Nasution dalam Yarza. Maesaroh & Kartikawati . , pengetahuan remaja mengenai Kesehatan reproduksi dan cara-cara melindungi dirinya terhadap resiko kesehatan masih rendah dan perlu menjadi perhatian bagi orang tua dan guru. Pada masa ini sangat penting bagi remaja untuk memahami kesehatan reproduksi sebagai salah satu cara untuk mencegah perilaku seksual yang tidak sehat. Kegiatan ini termasuk dalam Aspek Biologis yang sudah dilakukan oleh guru BK di SMPN 9 Balikpapan, yang mana bahkan sekolah sudah bekerjasama dengan Lembaga kesehatan seperti puskesmas. Kedua menyangkut mengenai identitas, peran, jenis, kognisi, emosi, motivasi, dan perilaku terhadap seksualitas. Secara garis besar guru BK sudah berhasil untuk memberikan pemahaman mengenai dampak dari perilaku seksualitas. Pemahaman tersebut diberikan secara berkala. Pemberian aspek psikologis memang tidak kentara seperti aspek biologis, maksudnya supaya peserta didik mulai memahami makna yang disampaikan oleh guru BK, sehingga mampu membantu dalam perkembangan kognisi dan cara pandangnya terhadap suatu hal. Ketiga secara sosial Taufik dkk, . terkadang perbedaan persepsi individu terhadap suatu rangsangan dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya dan pengalaman belajar individu. Guru BK memantau para peserta didiknya, serta melakukan pendekatan menggunakan hati nurani, supaya nantinya kesadaran dalam diri peserta didik akan mulai tumbuh, dengan begitu peserta didik mampu membatasi dirinya dari pergaulan-pergaulan yang kurang sesuai dengan masa perkembangannya. Peserta didik dirasa sudah memahami bagaimana cara berperilakunya sesuai dengan peran gendernya dalam masyarakat, juga mengenai konsep pergaulan yang sehat antara laki-laki dan SIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Implikasi guru BK dalam meningkatkan pemahaman pendidikan seksualitas pada peserta didik kelas Vi di SMP Negeri 9 Balikpapan, disimpulkan bahwasanya Implikasi yang guru BK lakukan dalam ranah pendidikan seksualitas di sekolah yaitu dengan Strategi layanan BK seperti bimbingan klasikal. Bimbingan kelompok, konseling Individu, konseling kelompok. Kolaborasi, kunjungan rumah, referal dan konferensi kasus. Aspek Pendidikan seksualitas yang guru BK berikan dalam hal proses pemberian pemahaman tentang seksualitas yaitu . Aspek Biologis peserta didik telah memahami dan menjaga kebersihan dan juga Kesehatan fisik terlebih alat reproduksinya. Aspek Psikologis, peserta didik mulai paham dan tidak panik lagi, lebih tenang dan tidak begitu khawatir lagi terhadap perubahan fisik di masa pubertas. Aspek Sosial, peserta didik memahami dan mulai menjaga diri dari lawan jenis dan berhati-hati dengan orang lain yang mengajak berkenalan. Selama layanan tersebut di berikan hasil capaian yang terlihat sekiatar 80% peningkatan siswa terhadap pengetahuan tentang pendidikan seksualitas, dan kasus yang terjadi di sekolah ini pun sudah berkurang. DAFTAR PUSTAKA