973 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 STRATEGI PELESTARIAN KERAJINAN TENUN SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BUDAYA DI DESA PRINGGASELA KABUPATEN LOMBOK TIMUR Oleh Jirdi Rihardian1. I Made Suyasa2. I Wayan Bratayasa3 1,2,3 Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram Email : 1jerdirihar@gmail. com, 2kadeksuyasa@gmail. com, 3wyanbratayasa@gmail. Article History: Received: 06-11-2024 Revised: 10-11-2024 Accepted: 12-11-2024 Keywords: Strategi. Pengembangan. Kerajinantenun. Abstract : Permasalahan dalam penelitian ini yang akan dikaji yaitu Bagaimana Potensi Pelestarian Kerajinan Tenun Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Desa Pringgasela Kabupaten Lombok Timur dan Bagaimana Strategi Pelestarian Kerajinan Tenun Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Desa Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil dari penelitian ini, bahwa Strategi Pelestarian Kerajinan Tenun Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Desa Wisata Pringgasela. Lombok Timur yaitu dilihat dari jenis motif ada beberapa motif seperti, sundawa, sari menanti, ragi genep,pucuk rebung, abayan, ragi poposan dan ragi tunggul. Kerajinan tenun tradisional di pulau Lombok telah ada sejak abad ke-14 Masehi. Kain tenun yang terdapat di daerah ini adalah Kain Tenun Gedogan, karena pada pembuatan, teknik, peralatan dan perlengkapannya masih menggunakan alat yang sangat sederhana. Motif kain tenun Pringgasela memiliki ciri khas tersendiri. Pada umumnya, kain tenun Pringgasela memiliki motif bergaris memanjang. Selain itu pelestarian yang paling menjol yaitu melalui event budaya yang rutin dilakukan tiap tahun seperti event Alunan Budaya Pringgasela dan Boteng Tanggul. Dari kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi pelestarian kerajinan tenun Desa Wisata Pringgasela dapat meningkat kunjungan wisata karena daya tarik kain tenun dan menjadi atraksi utamanya. PENDAHULUAN Kain tenun merupakan salah satu wastra Indonesia yang dikenal sebagai kekayaan warisan budaya tidak saja dilihat dari teknik dan aneka ragam corak serta jenis kain yang dibuat, tetapi lebih jauh kita dapat mengenal berbagai fungsi dan arti kain dalam kehidupan masyrakatnya yang mencerminkan adat istiadat, kebudayaan, dan kebiasaan budaya yang bermuara pada jati dirinya sebagai komponen bangsa Indonesia. Salah satu kerajinan tenun yang masih ada saat ini berada di Desa Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Kain tenun Tradisional Gedogan Pringgasela ini bersamaan dengan adanya Desa Pringgasela. Tenun Tradisional Gedogan ini pertama kali diperkenalkan oleh Lebai Nursini seorang tokoh Agama Islam yang datang dari Sulawesi untuk menyebarkan Agama Islam di Desa Pringgasela. Kemudian setelah itu tenun Pringgasela ini diajarkan secara turun temurun dan hingga saat ini masih bertahan. Tenun Pringgasela ini juga sudah ditetapkan oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya sebagai Warisan Budaya tak benda Indonesia pada tahun 2018 dengan domain budaya kemahiran dan kerajinan tradisional. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 (Wawancara Maliki, selaku pelaku usaha tenun Pringgasela, tanggal 23 November 2. Desa Wisata Pringgasela adalah salah satu desa yang berada di bawah kaki gunung rinjani bagian selatan, dimana desa ini dapat dijangkau 1 jam setengah jam perjalanan terhitung dari Bandara Internasional Lombok. Desa ini terletak di Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur NTB. Desa Wisata Pringgasela disebut juga dengan sebutan desa sentra tenun, itu dikarenakan Desa Wisata Pringgasela merupakan salah satu desa yang menghasilkan kerajinan kain tenun yang masih diproduksi secara tradisional. Untuk itu di sini peneliti mengkaji hal Strategi Pelestarian Kerajinan Tenun Sebagai Daya Tarik Budaya Di Desa Wisata Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. LANDASAN TEORI Mariana Afrida dan Roseven Rudiyanto . Penelitian ini beri judul Strategi Pelestarian Kain Songke Berbahan Pewarna Alami Oleh Rumah Tenun Baku Peduli di Labuan Bajo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi Rumah Tenun Baku Peduli dalam melestarikan kain songke berbahan pewarna alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi Rumah Tenun Baku Peduli dalam melestarikan kain songke berbahan pewarna alam di Labuan Bajo adalah dengan menggunakan pewarna alam dalam pembuatan songke, menanam tanaman yang menghasilkan bahan baku alami, dan mengedukasi pengunjung tentang pewarna alami. Persamaannya yaitu membahas tentang pelestarian tenun dan menggunakan metode kualitatif. Perbedaannya terletak pada lokasi penelitian, fokus penelitian dan teori yang akan digunakan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metodepurposive sampling, yaitu teknik pengambilan sample didasarkan atas tujuan tertentu artinya orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sample(Sugiono 2011:. Informan ini di butuhkan untuk mengetahui kondisi yang sesuai dengan keadan pariwisata di Desa WisataPringgasela melalui kerajinan kain tenun. Teknik yang digunakan dalam pemilihan informasi menggunakan purposive sampling ,artinya teknik penentuan sumber datamempertimbangkan terlebih dalu, bukan di acak, artinya menentukan informan sesuaidengan kriteria terpilih yang relevan denganmasalah penelitian (Bungin,2. Adapun kriteria informan Dalam penelitian ini adalah orang yang paham tentang kain tenun, orang yang paham tentang pemasaran, orang yangpaham tentang harga kerajinan kain tenun dan orang yang paham tentang pariwisata adapun informan dalam penelitian ini adalah para pengerajin tenun . nak-ina. ,pelaku usahakerajinan, dan staf Desa Wisata Pringgasela (BUMDES). Metode Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode diantanya Metode observasi,Metode wawancara Metode dokumentasi Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatifdengan pendekatan SWOT yang terdiri dariStrenghts. Weakness. Opportunites, dan threaths. Analisis SWOT bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan (Strenght. dan peluang (Opportunite. , namun dapat menimbulkan kelemahan (Weaknes. dan ancama (Streath. Teori Strategi Menurut Suryono dalam Primadany . strategi pada prinsipnya berkaitan dengan persoalan: Kebijakan pelaksanaan, penentuan tujuan yang hendak dicapai, dan penentuan cara-cara atau metode penggunaan sarana prasarana. Strategi selalu berkaitan dengan 3 hal yaitu tujuan, sarana, dan cara. Oleh karena itu, strategi juga harus didukung oleh kemampuan untuk mengantisipasi kesempatan yang ada. Dalam melaksanakan fungsi dan peranannya dalam a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 pengembangan pariwisata daerah, pemerintah daerah harus melakukan berbagai upaya dalam pengembangan sarana dan prasarana pariwisata. Pariwisata Berkelanjutan Pariwisata berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai pariwisata yang memperhitungkan sepenuhnya dampak sosial, lingkungan dan ekonomi baik saat ini maupun masa depan, menangani kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat lokal. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yaitu, . menghormati keaslian sosial-budaya masyarakat tuan rumah, melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai tradisional yang dibangun dan hidup, serta berkontribusi pada pemahaman dan toleransi antar budaya, . memanfaatkan sumber daya lingkungan secara optimal yang merupakan elemen kunci dalam pengembangan pariwisata, mempertahankan proses ekologis yang penting dan membantu melestarikan warisan alam dan keanekaragaman hayati, . memastikan operasi ekonomi jangka panjang yang layak, hal ini berkaitan terhadap pemberian kesempatan kerja yang stabil terhadap masyarakat didaerah destinasi dan peluang memperoleh tambahan penghasilan dari setiap aktivitas pariwisata yang dilakukan. yang sudah ada. Pengembangan pariwisata pada suatu daerah tujuan wisata selalu akan diperhitungkan dengan keuntungan dan manfaat bagi masyarakat yang ada di Pengembangan pariwisata harus sesuai dengan perencanaan yang matang sehingga bermanfaat baik bagi masyarakat, baik juga dari segi ekonomi, sosial dan juga budaya. Daya Tarik Wisata Menurut undang-undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan pengertian daya tarik adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Secara garis besar terdapat empat kelompok daya tarik wisata yang menarik wisatawan datang ke daerah tujuan wisata (Yoeti, 2. , yaitu: Natural Attraction. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah pemandangan laut, pantai, danau, air terjun, kebun raya, agro wisata, gunung merapi, termasuk pula dalam kelompok ini adalah flora dan fauna. Build Attraction. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah bangunan dengan arsitek yang menarik, seperti rumah adat dan yang termasuk bangunan kuno dan modern. Cultural Attraction. Dalam kelompok ini yang termasuk di dalamnya adalah peninggalan sejarah, cerita-cerita rakyat, kesenian tradisional, museum, upacara keagamaan, festival kesenian dan semacamnya. Social Attraction. Tata cara hidup suatu masyarakat, ragam bahasa, upacara perkawinan, potong gigi, khitanan atau turun mandi dan kegiatan sosial lainnya. Menurut peneliti Daya Tarik Wisata Budaya merupakan minat, ketertarikan, dan keinginan wisatawan berkunjung keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. SWOT Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif dengan pendekatan SWOT yang terdiri dari Strenghts. Weakness. Opportunites, dan threaths. Analisis SWOT bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan (Strenght. dan peluang (Opportunite. , namun dapat menimbulkan kelemahan (Weaknes. dan ancama (Streath. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi penelitian di lakukan di desa Pringgasela Kecamatan Pringgasela. Kabupaten Lombok Timur. Desa Wisata pringgasela mempunyai 5 dusun dengan jumlah penduduk 8210 jiwa disebut jugadengan sebutan desa sentra tenun . itu dikarenakan desa pringgasela merupakan salah satu desa yang menghasilkan kerajinan kain tenunMata pencarian masyarakat utama Desa Pringgasela adalah bertani dan berdagang dan bertenun. Potensi kerajinan kain tenun Desa Wisata Pringgasela sangatlah beragam kain tenun Desa Pringgasela selain motifnya yang diburu oleh konsumen sekarangbanyak konsumen yang mencari produk yang dihasilkan dari kerajinan kain tenun Desa Wisata Pringgasela seperti, baju, tas,dompet, sajadah, sepatu, topi dan selendang. Berikut adalah daftar kelompok nama kelompok pengerajin kain tenun di Desa wisata Pringgasela. Faktor kekuatan Faktor yang menjadi kekuatan dari kerajinan Tenun Pringgasela dalam memasarkan produk Memiliki banyak jenis motif Kain tenun desa pringgasela lebih dikenal dengan motifyang berupa garis-garis begitu juga dengan hasil wawancara dengan pak maliki yang mengatakan bahwa kebanyak motif yang diproduksi oleh kelompok bimbinganya motif garis-garis seperti motif sundawa,sarimenanti,abayan, dan ragi genep bahkan kain yang pertama kali ditenun oleh tetua adat yangberusia 8 abad juga menggunakan jenis motif garis-garis. Proses tenunan dengan sistem manualsehingga kualitas produk tinggi Produksi merupakan salah satu hal yang sangat penting yang dilakukan oleh sebuah perusahaan. Dalam proses produksi Tenun pringgasela masih menggunakan alat secara manual, sehingga menghasilkan kualitas produk yang terjaga. Seperti yang dikatakan oleh inak mas pengerajin tenun ketika saya melakukan wawancara dengan beliu, dia mengatakanAuselama saya membuat kain tenun tidak ada yang berubah dari hasil yang saya buat ketika masih dedara . dengan yg sekarang, masih dengan cara tradisional mulai dari alat, bahan dan proses masih sama juga. Ay Dari hasil wawancara tersebut hal ini membuktikan kalau kain tenun pringgasela mempunyai kualitas yang tinggi dan kualitas itu masih dijaga sampai sekarang. Produk yang dihasilkan beraneka ragam Produk merupakan sesuatu yang bisaditawarkan kepada konsumen baik berupabarang maupun jasa konsumen di pasar. Produk yang dihasilkanTenun Pringgasela Yaitu: kain tenun meteran, pakaian/baju, selendang, ikat kepala, sandal, sepatu, dan tas. Peniliti mencoba mewawancarai owner dari Galeri sentosa kain tenun Desa Wisata Pringasela yang mengatakan Aukami disini memcoba menghasilkan produk baru tidak terpaku dengan kain tenun meteran atau lembaran akantetapi kami mencoba menggabungkan antara kain tenun dengan fashion yang sedang trend contohnya kami membuat baju, outer, dompet sepatu, tas, sajadah dank ikat kepalaAy Hal ini membuktikanbahwa sebenarnya kain tenun pringgasela mempunyai banyak produk yang pasarkan akan tetapi ketika kita menyebut kata tenun maka konsumen dengan otomatismenyebut kain tetun yang ada di Lombok Tengah. Tempat yang strategis berada diwilayah Desa Wisata Tempat juga berpengaruh terhapat pejualan suatu produk, dimana tempat yang strategis bisa meningkat penjualan dan permintaan konsumen terhadap suatu produk, para pelaku usaha tenun Desa Wisata Pringgasela rata-rata store mereka berada di pinggir jalan bahkan show room tenun Desa Wisata Pringgasela juga berada dipinggir jalan bukan itu saja wilayah desa pringgasela saat ini sudah menjadi daerah desa wisata, hal ini diharapkan mampu menarik konsumen seperti yang dikatakan oleh M. Surya staf BUMDES desa pringgasela Aubelum lama ini desa kami a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 masuk desa wisata selain alam dan budaya yang kami miliki kami juga menawarkanwisata belanja yang dimana produk yang kami tawarkan berupa kain tenunAy Produk Original Kain Tenun Pringgasela untuk saat ini produk satu-satunya yang ada di Lombok dan hanya di dapatkan di DesaPringgasela, motif yang ada di kain tenun pringgasela sudah emiliki hak dipaten. Pak Maliki juga mengatakan bahwa Aukain tenun Desa Wisata Pringgasela ini sudah kita daftarkan hak ciptanya jadi tidak sembarangan orang yang bisa membuat kain tenun ini, kenapa kami melakukan ini karna kain tenun ini merupakan warisan nenek luhur kami dan menjadi kekayaan intlektual IndonesiaAy. Adanya kelompok pengerajin kain tenun Desa Wisata Pringgasela sudah membentuk kelompok-kelompok kerajinan kain tenun hal ini dilakukan guna untuk menjadikan kerajinan kain tenun sebagai barometer perekonomian masyarakat setempat. Dari hasil wawancara peneliti dengan pak Maliki mengatakan Audi Desa Pringgasela ini sudah terbentuk 5 kelompok pengerajin yaitu sentosa sasak tenun, selema adil, adam maksa, sundawa makmur dan asiraman masing-masing kelompok ini memasukan hasil kerajinan mereka di galeri sentosa kain tenun Desa Pringgasela. Faktor kelemahan Faktor kelemahan merupakan hal-hal dari dalam maupun luar perusahaan yang menghambat perkembangan usaha. Beberapakelemahan dari tenun Desa Wisata Pringgasela dalam memasarkan produk yang dihasilkannyaadalah: Produksi yang rendah atau terbatas Kain tenun Desa Wisata Pringgasela karna di produksi masih menggunakan alat tradisional yang masih mengandalkan pengerajin yang menenun maka produksinya terbataas Sulitnya mendistribusikan produk Pendistribusian produk dilakukan lansung di lokasi tempat bertenun, dan sebagianpendistribusian produk Tenun Pringgasela dilakukan melalui BUMDES dan pelaku usaha tenun. Hal ini merupakan kelemahan bagi pengerajin tenun Desa Wisata Pringgaseladimana masih banyak masyarakat yang berada diluar Desa Wisata Pringgasela belum tahu akan keberadaan kain tenun ini. Seperti yang dikatakan oleh pelaku usaha, pengerajin dan BUMDES mereka sama-sama kesulitan dalam memasarkan produk mereka dipasaran ini di karnakan banyaknya kain tenun di Lombok ini yang beredar. Belum memiliki kemasan yang khusus kemasan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam pengembangan suatu produk. Kemasan bisa memberikan dan menjelaskansuatu produk, dalam hal ini kain tenun Pringgasela masih belum mepunyai kemasan khusus pada saat ini kemasaan hanya menggunakan plastik bening. Dari keterangan M. Maliki yang mengatakan Aysaat ini kami belum menggunakan packing khusus, kami masih menggunakan plastik bening untuk mengkemas produk kamiAy sedangkan inak mas mengatakan Aysaya dari dulu tidak pernah mengkemas kain tenun bautan saya secara khusus kalau ada yang mengambil pesanannya saya kasih pakai kantong plastik biasa. Dari kedua hasil wawancara ini mengenai kemasan produk kerajinan kain tenun yang ada di Desa Wisata Pringgasela rata-rata belum ada kemasan khusus atau packing. Masih kurang efektif promosi yang dilakukan Promosi merupakan ujung tombak dalam pemasaran produk,dengan kegiatan promosi produk dapat sampai ke konsumen. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh Desa Wisata Pringgasela selama ini masihkurang efektifseperti yang dikatakan oleh M. Maliki dan M. Autentu saja dizaman sekarang ini saya rasa mempromosikan produk kita paling mudah ya menggunakan sosial media contohnya instagram,facebook, shopee, tokopedia, lazada dan media sosial lainyaAy a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Faktor Ekternal Lingkungan eksternal perusahaan merupakan faktor di luar kendali perusahaan yang dapat memberikan pada kinerja perusahaan. Keberhasilan perusahaan terletak pada kemampuannya menghadapi dan beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah, halini mempengaruhi strategi perusahaan untuk menentukan bagaimana cara serta kapan saat yang tepat untuk bertahan dan Faktor Peluang Peluang merupakan salah satu komposisi dalam perkembangan kearah yang lebih baik, dimana peluang adalah situasi penting yangberada diluar lingkungan perusahaan. Berdasarkan hasil obervasi di lapangan,Berikut ini ada beberapa peluang yang dimiliki tenun Desa Wisata Pringgasela dalam pemasaran produk adalah sebagai berikut: Permintaan pasar tinggi terhadap Produk Setelah diadakanya festival budaya dan pegelaran fashion show di Jakarta yang bertema tenun menjadikan permintaan pasarterhadap produk semakin meningkat. Wilayah pemasaran luas melalui media digital Wilayah pemasaran untuk kain tenun pringgasela sekarang tidak hanya di dalam kecamatan saja tetapi sudah bisa kedaerah lainya. Dengan luas wilayah pemasaran tersebut menjadikan suatu peluang bagi tenunDesa Wisata Pringgasela untuk menjadi usaha tenun yang besar, dan mampu bersaing dengan perusahaan yang telah menduduki pasar. Pemasaran yang digunakan melalui media digital seperti, tokopedia, shopee, lazada, facebook, instagram dan media sosial lainnya. Masyarakat menerima produk yang dihasilkan Produk yang dihasilkan mendapatkan sambutan baik oleh masyarakat hal ini dapat dilihat dari kalangan kaum muda khususnya anak pendaki yang banyak memesan ikat kepala. Faktor Ancaman Ancaman merupakan situasi yang datang dari luar dan tidak menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan industri. Ancaman dalam pemasaran produk kain tenun Desa Wisat Pringasela antara lain: Produk yang sejenis memiliki keunggulan Tidak bisa dipungkiri bahwa produk unggulan di Lombok bukan hanya di Desa Wisata Pringgasela, kain tenun Desa Wisata pringgasela mempunyai produk unggulanSundawa. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Strategi Pengembangan Kerajinan Tenun Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Desa Wisata Pringgasela. Lombok Timur yaitu dilihat dari jenis motif ada beberapa motif seperti, sundawa, sari menanti, ragi genep,pucuk rebung, abayan, ragi poposan dan ragi tunggul. Adapun kendala dalam pemasaran kain tenun Desa Wisata Pringgasela yaitu: pasar target, produk, promosi, dan harga. Dari kendala-kendala tersebut maka peneliti mencoba menganalisis starategi pemsaran kain tenun Desa Wisata Pringgasela mempunyai faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan. Dimana kekuatan yang terdidri dari banyaknya jenis motif, proses tenunan dengan sistem manual sehingga produk kualitas tinggi, produk yang dihasilkan beraneka ragam, tempat strategis berada di wilayah desa wisata, produk original, dan adanya kelompok pengerajin. Sedangkan kelemahannya yaitu: produksi rendah atau terbatas, sulitnya mendistribusikan produk, belum memiliki kemasan khusus, masih kurangnya promosi yang dilakukan, harga yang ditetapkan lumayan tinggi dari pesaing dan kurang sumber a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 dana dari pemerintah. Faktor ekternal dari pemasaran kain tenun desa wisata pringgasela yaitu peluang dan ancaman. Dimana peluangnya yaitu: permintaan pasar tinggi terhadap produk, wilayah pemasaran luas, masyarakat menerima produk yang dihasilkan dan pemerintah daerah mendukung. Sedangkan ancamanya yaitu: Produk yang sejenis memiliki keunggulan, banyaknya tenunan ditempat lain lebih menariknya promosi yang dilakukan oleh pesaing. Selain itu pemasaran yang paling menjol yaitu melalui event budaya yang rutin dilakukan tiap tahun seperti event Alunan Budaya Pringgasela selain itu juga pemasaran dilakukan melalui Wisata Edukasi tentang kerajinan Dari kegiatan tersebut diharapkan mampu mendatangkan konsumen sehingga kerajinan kain tenun Desa Wisata Pringgasela semakin dikenal oleh masyarakat luas dan mampu menyaingi pangsa pasar tenun yang lainnya. Keberadaan kain tenun di Desa Wisata Pringgasela dapat meningkat kunjungan wisata karena daya tarik kain tenun dan atraksi utamanya. Saran Kepada Instansi Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram diharapkan dapat memberikan arahan untuk pemsaran kerajinan tenun yang ada daerah Lombok ini khususnya di Desa Wisata Pringgasela Lombok Timur. Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur diharapkan memberikan perhatian khusus terutama tentang packaging untuk kerajinan kain tenun yang ada di Desa Wisata Pringgasela Lombok Timur. Kepada masyarakat desa Wisata Pringgasela diharapkan mampu bertahan atau mempertahankan kualitas kain tenun yang diproduksinya Kepada Pemerintah desa dan tetap menggunakan produk melalui yang dihasilkan. DAFTAR PUSTAKA