Anterior Jurnal. Volume 15 Nomor 1. Desember 2015. Hal 30 Ae 38 ISSN 1412-1395 . 2355-3529 . PENERAPAN PLAY THERAPY UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU BERSEKOLAH PADA ANAK DENGAN SCHOOL REFUSAL BEHAVIOR (SRB) ESTY ARYANI SAFITHRY Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Email : estyesty07@yahoo. ABSTRACT This research aims to determine whether play therapy can improve the behavior of school children with school refusal behavior. This research used single case study. The subjects used in this research amounts to one person who has school refusal behavior. Methods of data collection using interviews, observation and documentation. Stages ofis divided into10 sessions of therapy sessions plus pretreatment, post-treatment and follow-up. Results of this research showed improvement in school behavior at the time pre treatment only1 time a week to 6 times on a follow-up session. Keywords: play therapy, school refusal behavior ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah play therapy dapat meningkatkan perilaku bersekolah pada anak dengan school refusal behaviour. Penelitian menggunakan jenis penelitian studi kasus tunggal. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 1 orang yang memiliki perilaku school Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Tahap terapi dibagi menjadi 10 sesi ditambah sesi praterapi, pasca terapi dan follow up. Hasil penelitian ini menunjukan ada peningkatan perilaku bersekolah yang pada saat praterapi hanya 1 kali dalam seminggu menjadi 6 kali pada sesi follow up. Kata kunci : play therapy, school refusal behavior PENDAHULUAN dengan keluarga, yang membuat anak merasa Sekolah pada masa kini, telah menjadi tidak nyaman untuk bersekolah. Sayangnya tidak lingkungan esensial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak karena sebagian besar masalahnya kepada orang lain dan cenderung waktu anak dihabiskan untuk beraktivitas di memendam ketakutannya sendiri (Wenar & Kerig, tempat tersebut. Akan tetapi terdapat beberapa Hal itu membuat mereka tidak memperoleh bersekolah karena memendam rasa takut yang berlebihan (Beidel & Turner, 2. Rasa takut menemukan cara untuk mengatasi ketakutannya. tersebut mungkin disebabkan oleh peristiwa Tak jarang anak akhirnya menolak pergi ke sekolah untuk menghindari hal yang ia takuti. guru, teman, pelajaran, atau bahkan masalah Esty Aryani Safithry. Penerapan Play Therapy Untuk Meningkatkan Perilaku BersekolahA Berdasarkan hasil wawancara awal dengan dimana seorang anak mengalami keengganan orang tua bahwa subjek RP sebenarnya masih untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. berusia 5 tahun dimana pada usia itu seharusnya School Refusal ini kasus yang masih ringan RP masih duduk di bangku TK, namun karena sejak nol kecil RP sudah bisa membaca dan sekolah/School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit langsung dimasukan ke SD saja dan orangtuanya kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, pun setuju. Ia memang terlihat lebih kecil dari takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. anak seusianya namun berbadan gemuk. School Refusal yang kurang ditangani dengan Ia tidak menunjukan permasalahan pada saat masih TK dan awal-awal masuk SD. Namun Fobia baik biasanya akan berkembang menjadi fobia setelah libur semester 1 subjek mulai malas Penelitian yang diterbitkan pada Journal of masuk sekolah, biasanya terjadi pada hari senin. Behavior Therapy & Experimental Psychiatry Setiap pagi khususnya pada hari senin RP . Terapi bermain adalah proses terapi mengatakan bahwa ia tidak mau sekolah, jika khusus yang berfokus pada kebutuhan anak ditanya kenapa ia tdak mau masuk sekolah untuk mengekspresikan diri melalui penggunaan biasanya jawabanya adalah ia sakit kaki kalau permainan dan mainan. Anak-anak didorong pakai sepatu, takut dimarahi ibu guru, tidak suka untuk bermain sebagaimana biasanya dan terapis sekolah itu, dan lain-lain. Biasanya pergi ke akan menyediakan lingkungan yang aman serta memberi arahan. Dalam proses ini, proses dengan orang tua menunjukkan sikap rewel. bermain anak-anak untuk diarahkan mendorong Kejadian ini telah berlangsung sekitar 2 bulan. ekspresi emosional mereka. Anak-anak diberi Tentu perilakunya ini sangat mengganggu aktifitas kesempatan untuk mengekspresikan diri melalui dimana kedua orangtuanya harus bekerja dan berbagai gaya termasuk bermain seni, bermain kakanya juga sekolah. Biasanya kalau RP sudah pasir, bermain drama dan bermain fantasi. menangis, orangtuanya akan mengatakan bahwa Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini ia tidak boleh main PS lagi kalau tidak mau adalah untuk mengetahui apakah play therapy berangkat sekolah dan akhirnya ia mau juga dapat meningkatkan perilaku sekolah pada anak berangkat sekolah. Tetapi hal tersebut selalu dengan school refusal behaviour dan mengetahui berulang pada minggu berikutnya, dimulai pada perilaku positif apa yang muncul setelah diberikan hari senin. Biasanya ia mengalami School Refusal play therapy. ini sekitar 3-5 kali dalam seminggu. Walaupun sudah dibujuk, dirayu, dan diiming-imingi dengan METODOLOGI hadiah yang menarik, dia tetap tidak mau sekolah. Rancangan Penelitian Permasalahan yang dihadapi oleh orang Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tua subjek diatas dapat diambil kesimpulan bahwa subjek mengalami School Refusal yaitu kejadian Anterior Jurnal. Volume 15 Nomor 1. Desember 2015. Hal 30 Ae 38 mengevaluasi efek suatu perlakuan dengan kasus ISSN 1412-1395 . 2355-3529 . Tahap terapi Elemen desain yang digunakan dalam Pada tahap ini terdiri dari 9 sesi. Kegiatanya penelitian ini adalah ABA design, di mana A antara lain modelling yang dilakukan oleh adalah fase sebelum terapi. B adalah fase terapi orang tua subjek, game play therapy dan atau intervensi yang kemudian dilanjutkan dengan Tahap pascaterapi fase tindak lanjut A (Kazdin, 2. Subjek Penelitian Kegiatan paska terapi ini kegiatanya adalah Subjek yang digunakan dalam penelitian ini mengidentifikasi perilakuAeperilaku positif apa berjumlah 1 orang yang memiliki perilaku school yang telah muncul dan pemberian lembar refusal yaitu. Biasanya pergi ke sekolah sambil evaluasi kepada orang tua yang berisi apa menangis, menempel terus dengan orang tua saja perubahan yang telah subjek rasakan. menunjukkan sikap rewel. Kejadian ini telah Tahap follow up berlangsung sekitar 2 bulan. Tahap ini dilakukan untuk melihat apakah hasil Metode Pengumpulan Data Wawancara dari proses terapi bisa bertahan permanen, meskipun sudah tidak ada lagi penanganan. untuk melakukan asesmen pada tahap pra terapi. Tahap ini akan dilakukan 2 minggu setelah selama proses terapi, pasca terapi dan tindak proses terapi berakhir. Observasi dalam penelitian ini bersifat non partisipan yang berarti peneliti tidak terlibat dalam HASIL DAN PEMBHASAN aktivitas yang diamatinya (Poerwandari, 2. Hasil Terapi Observasi dilakukan oleh peneliti dan subyek Proses terapi dilaksanakan pada sesi 1Ae9. sendiri terhadap tingkah laku yang menjadi fokus Prosesnya antara lain : Prosedur Intervensi Sesi 1Ae3 Modeling Tahap intervensi ini berjumlah 14 sesi, . Terapis terdiri dari 2 sesi praterapi, 10 sesi proses terapi, perilaku-perilaku 1 sesi tahap post terapi dan 1 sesi tahap follow up Tahap praterapi . Anak Pada tahap ini kegiatan yang dilaksanakan pengetahuan kepada orang tua mengenai . Subjek disuruh menceritakan kembali kenapa spongebob tidak mau masuk tersebut bisa terjadi serta alternatif-alternatif Selain pemberian informasi spongebob tidak mau sekolah karena pada tahap ini, orang tua berkomitmen untuk takut diganggu oleh teman-temanya, bekerja sama selama proses terapi agar tujuan kemudian patrick membujuknya untuk terapi dapat tercapai. sekolah karena setelah pulang sekolah Esty Aryani Safithry. Penerapan Play Therapy Untuk Meningkatkan Perilaku BersekolahA bermain binatang-binatang ini yang mau pergi ke sekolah" jadi dengan sekolah maka patrick akan marah dan binatang-binatang tidak mau berteman lagi denganya, menggambarkan situasi sekolah. kemudian spongebob mau berangkat . Ada binatang yang berperan sebagai dia dan temannya, ada binatang yang Game Play Therapy berperan sebagai gurunya, ternyata . Subjek bermain Authe SimsAy bersama anak menceritakan bahwa "Guru ini kakak dan sepupunya. suka memarahi dan teman-temanya . Pada permainan ini kakak subjek yang suka mengambil bekal makanannya" jadi pemenangnya dan subjek menjadi juara ke dua dimarahi oleh gurunya dan diejek oleh . Kemudian subjek ditanya kenapa ia Game Play Therapy kalah dan subjek menjawab karena the simsnya terlalu banyak bermain Kali ini subjek masih tetap menjadi juara dan tidak mempunyai teman maka ia dua namun ia sudah mendapatkan teman lupa sekolah dan dikeluarkan dari menceritakan bahwa dengan mempunyai Role Play . Kakak teman yang banyak maka ia menajadi juara kelas. mendengarkan cerita kakak Role Play . Anggota yang lain menanggapinya Masing-masing anak bercerita dan yang . Kemudian adik yang disuruh bercerita lain menanggapi cerita tersebut. Behavioral Dilakukan sepupunya menanggapi cerita subjek. Dilakukan perilaku yang baik, misal saat subjek Behavioral mendapatkan nilai yang bagus, orang tua mengatakan bahwa ia adalah anak yang perilaku yang baik, misal saat subjek mendapatkan nilai yang bagus, orang tua mengatakan bahwa ia adalah anak yang paling pintar di kelasnya. paling pintar dikelasnya. Sesi 6Ae7 CBPT dengan Modeling . anak dibebaskan bercerita tentang apa Sesi 4Ae5 saja tetapi temanya adalah tentang CBPT dengan Modeling . Dengan menggunakan lebih banyak Terapis bercerita "Mari kita Anterior Jurnal. Volume 15 Nomor 1. Desember 2015. Hal 30 Ae 38 disekolahnya dan bagaimana cara ISSN 1412-1395 . 2355-3529 . Game Play Therapy . Subjek ditanyai apa saja yang telah ia pelajari dari bermain AuThe SimsAy . Kemudian anak bercerita bahwa anak . Ia dapat menjelaskan bahwa dengan dikeluarkan dari sekolah dan yang mempunyai banyak teman ia dapat mau sekolah akan mendapatkan nilai menjadi murid yang paling pintar di yang bagus Game Play Therapy Role Play . Subjek beserta kakak dan sepupunya memperagakan permainan Authe simsAy tersebut sesuai dengan kararkter yang mereka mainkan. Misal Masing-masing anak bercerita dan yang lain menanggapi cerita tersebut. Behavioral Dilakukan berpura-pura perilaku yang baik, misal saat subjek makan sebelum berangkat sekolah mendapatkan nilai yang bagus, orang tua dan mencari banyak teman serta mengatakan bahwa ia adalah anak yang belajar agar mendapatkan nilai yang paling pintar dikelasnya. bagus dan naik kelas . ebih kepada Pembahasan metode role playin. Role Play Berdasarkan hasil konseling diatas dapat masing-masing anak bercerita dan yang diambil kesimpulan bahwa subjek mengalami lain menanggapi cerita tersebut. mogok sekolah atau School Refusal, adalah Behavioral Dilakukan keengganan untuk datang ke sekolah karena perilaku yang baik, misal saat subjek suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih mendapatkan nilai yang bagus, orang tua ringan dibandingkan dengan fobia sekolah Fobia mengatakan bahwa ia adalah anak yang sekolah/School Phobia biasanya lebih sering paling pintar dikelasnya. disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit Sesi 8Ae9 kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang. CBPT dengan Modeling takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Anak Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia brangkat kesekolah. Ia juga memainkan peran orang tua yang mencoba menenangkan anaknya yang sedang menangis. Esty Aryani Safithry. Penerapan Play Therapy Untuk Meningkatkan Perilaku BersekolahA Tabel 1. Kemajuan subjek per sesi Metode Sesi 1 - 3 Sesi 4 - 5 Sesi 6 - 7 Modelling Mampu figur yang sesuai dengan yang dicontohkan terapis Dapat menjelaskan Menyadari bahwa kenapa ia tidak mau anak yang tidak beragkat kesekolah mau sekolah akan dikeluarkan dari sekolah dan yang mau sekolah akan mendapatkan nilai yang bagus Dapat berperan sebagai guru dan orang tua yang anaknya menangis dan mampu Game play Dapat menceritakan dengan banyak teman, ia akan menjadi juara kelas Dapat menjelaskan manfaat dari bermain AuThe simsAy Role play Mengetahui bahwa tidak punya teman akan berakibat dikeluarkan dari Mampu bercerita dan mampu Behavioral Dapat memerankan peranya masingmasing di game Authe simsAy Sesi 8 - 9 Merasa senang karena ceritanya Mengetahui bahwa Mampu di sekolah bersama teman dan teman-teman yang bercerita dapat . ilakukan bersama orang tua, tidak tergantung ses. Anak mulai percaya diri dengan mengatakan bahwa ia anak pintar dikelasnya walaupun badanya paling kecil. Gambar 1. Grafik penurunan perilaku school refusal dari sesi praterapi sampai follow up Anterior Jurnal. Volume 15 Nomor 1. Desember 2015. Hal 30 Ae 38 Penyebab dari kasus penolakan bersekolah ISSN 1412-1395 . 2355-3529 . dikelompokkan menjadi 3: menghadapi situasi-situasi yang serius. Seperti pada RP, salah satu penyebab Faktor dari dalam diri anak Anak kenapa ia tidak mau sekolah dikarenakan tertentu seperti kecemasan, depresi atau ketidaksiapan dia mamasuki bangku SD, dimana ia baru berusia 5 tahun yang lingkungan, serta kesulitan belajar. seharusnya masih duduk di bangku TK. Pada masalah RP ini, ia mengalami Situasi di SD yang berbeda dari TK kecemasan akan perpisahan . eparation Anak dengan kecemasan ini menyesuaikan diri, diantaranya tidak ada cenderung terikat pada orang tua, jika mainan, teman-temanya yang berbadan harus berpisah dengan orang tuanya ia akan menunjukan suatu perilaku tantrum. mengganggunya dan guru yang tidak RP hampir setiap minggu menunjukan seramah sewaktu ia TK. Faktor mengatakan bahwa ia takut berada jauh terutama berkaitan dengan interaksi anak- dari orang tuanya dan sangat gelisah jika orangtuanya terlambat menjemputnya. Anak dengan temperamen sulit dan pemalu Anak kesulitan dalam menyesuaikan diri seringkali memiliki interaksi buruk dengan Masa kanak-kanak biasa disebut dengan orangtuanya sehingga memicu kecemasan tahap mainan, karena pada tahap ini hampir semua permainan menggunakan Orang tua RP selalu memaksanya untuk Bahkan jika RP memulai mogok (Hurlock, bermain anak memiliki nilai kesempatan untuk mengekspresikan sesuatu yang ia bahwa ia tidak boleh bermain jika ia tidak rasakan dan pikirkan. Dengan bermain, mau berangkat kesekolah. Akhirnya anak anak sebenarnya sedang mempraktekkan mau berangkat kesekolah namun dengan kepuasan dalam bermain, yang berarti mengkomunikasikan perasaannya kepada mengembangkan dirinya sendiri. Dalam bermain, anak dapat mengembangkan menjawab bahwa ia malas memakai sepatu atau karena rumahnya penalaran, dan memahami keberanaan yang jauh dari Faktor lingkungan sekolah imajinasi, daya fantasi, dan kreativitas. Hubungan yang tidak serasi antara anak Jadi jika pada masa bermain anak ini terhambat maka anak akan mengalami Dikarenakan usia RP yang lebih muda teman-teman Esty Aryani Safithry. Penerapan Play Therapy Untuk Meningkatkan Perilaku BersekolahA daripada teman-temanya dan ia merasa menunjukan kepercayaan dirinya di dalam murid yang paling kecil dikelas. Teman- kelas, seperti berani maju ke depan kelas temanya memang sering mengganggunya untuk menjawab pertanyaan dari guru dan menertawakanya saat pelajaran olah raga. teman-temanya. Saran Play terapi dilakukan selama 3 kali, setiap sesi dilihat bagaimana perkembangan anak dan Untuk orang tua memberi pujian pada anak memberikan beberapa tugas kepada orang tua sekecil apapun usaha yang telah dilakukan yang akan dievaluasi pada sesi berikutnya. Kemajuan anak pada setiap sesi sangat Untuk guru kelas sebaiknya peka jika ada jelas terlihat, hal ini dikarenakan kemampuan anak didik yang dibully oleh teman-temanya komunikasi dan kerjasama anak yang bagus apalagi didukung dengan hobi anak yang senag terhadap perilaku yang negatif tersebut. bermain maka terget terapi mudah sekali tercapai. Untuk pihak sekolah agar lebih intens untuk Selain kerjasama dengan anak yang bagus, berkomunikasi dengan orang tua, karena permasalahan anak tidak saja terjadi di dimana orang tua dapat melakukan tugas mereka dengan baik dan sangat mendukung dalam sekolah tetapi juga di rumah Untuk proses play terapi ini. Kendala dari terapi ini penelitian lebih diperluas yaitu menangani adalah tidak dapat mengahadirkan guru dan masalah bullying agar perilaku school refusal murid-murid dapat diturunkan dikarenakan keterbatasan waktu dan prosedur DAFTAR PUSTAKA