Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . DESKRIPSI HASIL BELAJAR AFEKTIF SISWA DARI SUDUT PANDANG TAKSONOMI BLOOM PADA SISWA KELAS II MI MAAoARIF AL FALAH JOYOKUSUMO PARAKANCANGGAH BANJARNEGARA Anisa Nur Azizah 1. Ageng Satria Pamungkas 2. Nur Innayah Ganjarjati 3 1,2,3 STIT Tunas Bangsa Banjarnegara e-mail : ganjar0406@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Proses pembelajaran siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo . Hasil belajar afektif siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo . Mendeskripsikan kemampuan Afektif siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo terhadap Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus, setiap siklus terdapat empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo pada kelas II dengan jumlah siswa 31, 18 siswa laki-laki dan 13 siswi perempuan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil belajar siswa kelas II menurut sudut pandang Taksonomi Bloom sudah cukup baik. Siswa kelas II memiliki tingkat afeksi penerimaan yang sangat tinggi yaitu dengan nilai 3. 21, tingkat afeksi responsif sangat tinggi dengan 05, tingkat afeksi penilaian yang tinggi dengan nilai 2. 80, tingkat afeksi organisasi rendah dengan nilai 2. 61, dan tingkat afeksi karakterisasi tinggi dengan nilai 2. Kata Kunci : Afektif. Taksonomi Bloom,Hasil Belajar Abstract This study aims to determine . the learning process of class II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo students . the affective learning outcomes of class II yyMI MaAoarif Al Falah Joyokusumo students . describe the affective abilities of class II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo students towards This study uses a descriptive qualitative research method. The research was conducted in 2 cycles, each cycle consisting of four stages, namely planning, implementing, observing and reflecting. This research was conducted at MI Ma'arif Al Falah Joyokusumo in class II with a total of 31 students, 18 male students and 13 female students. The data collection techniques used are through observation, interviews and documentation. According to Bloom's Taxonomy, the learning outcomes of grade II students are quite good. Class II students have a very high acceptance level of affecyytion with a score 21, a very high level of responsive affection with a score of 3. 05, a high level of appraisal affection with a value of 2. 80, a low level of organizational affection with a value of 2. 61, and a high level of characterization affection with a value of 2. Keywords: Affective. Bloom's Taxonomy. Learning Outcomes PENDAHULUAN Kemampuan lulusan jenjang pendidikan harus sesuai dengan penerapan kurikulum yang Menurut Permendikbud No. 23 Tahun 2016. Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Pada kurikulum 2013 yang berlaku saat ini, penilaian standar kelulusan memuat tiga aspek, yaitu penilaian Kognitif. Afektif Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . dan Psikomotor. Menurut Howard L. Kingskey . megatakan bahwa learning is the by which behavior . n the broader sens. is originated or changed through practice or training. Belajar adalah proses dimana tingkah laku . alam arti lua. ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. (Drs. Slameto, 2000:. juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan Menurut Skinner . dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching2 Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasannya bahwa belajar adalah. Aya process of progressive behavior adaptationAy. Berdasarkan eksperimennya. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat . Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat dipahami bahwa belajar dalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga ditujukan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan yang baru. Perubahan fisik akibat sengatan serangga, patah tangan, patah kaki, buta mata, tuli telinga, penyakit bisul, dan sebagainya bukanlah termasuk perubahan akibat belajar. Oleh karenanya, perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang. Imam Gunawan. Anggarini Retno Palupi . Pada tahun 1956. Bloom. Englehart. Furst. Hill dan Krathwohl berhasil menungkapkan bahwa tujuan pendidikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga ranah kemampuan intelektual . ntellectual behavior. yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah 3 kognitif menurut taksonomi bloom yaitu mengurutkan keahlian berpikir sesuai dengan tujuan yang Proses berpikir menggambarkan tahap berpikir yang harus dikuasai oleh siswa agar mampu mengaplikasikan teori kedalam perbuatan. Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Sedangkan ranah Afektif menurut taksonomi bloom mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi. Misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat, minat, motivasi, dan sikap. Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor , dari berbagai ranah tersebut terdapat fungsi dan peran yang berbedabeda. Nilai menurut Rokeach . merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu. Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler . , yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh 4 individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat. Menurut Schwartz . penilaian adalah program untuk memberikan pendapat dan Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . penentuan arti atau faedah suatu pengalaman. Penilaian juga merupakan usaha untuk memeriksa sejauh mana anak telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar. Belajar dengan penilain merupakan suatu hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya erat kaitannya agar mengetahui hasil akhir dari sebuah proses belajar. Penilaian dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya. Setelah siswa selesai melaksankan kegiatan,selesai ulangan harian, praktek, bahkan saat pembelajaran berlangsungpun guru dapat menilai siswa. Penilaian menempati dan merupakan aspek yang penting karena berkenaan dengan tercapainya tujuan pengajaran, kelancaran, dan efisiensi prosedur instruksional, dan penentuan tingkat keberhasilan yang telah Dengan demikian, aspek penilaian dapat ditempatkan sebagai titik sentral dalam proses belajar-mengajar. Penilaian 5 merupakan salah satu dari tiga aspek dalam proses belajar-mengajar yang meliputi . tujuan pengajaran, . prosedur belajar Ae mengajar, dan . penilaian hasil belajar. Sudjana . terdapat beberapa fungsi dari penilaian, yaitu sebagai alat untuk mengetahui tercapai dan tidaknya tujuan instruksional, sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajarmengajar, sebagai dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tua peserta didik yang didalamnya memuat kemampuan dan kecakapan belajar peserta didik dalam berbagai bidang studi. Sementara, menurut Arikunto . beberapa fungsi penilaian yaitu penilaian digunakan untuk mengadakan seleksi dan penilaian terhadap peserta didik, penilaian berfungsi sebagai diagnostik digunakan untuk mengadakan diagnosa terhadap peserta didik tentang kelemahan dan kelebihan dari peserta didik, untuk menentukan posisi dari peserta didik didalam sebuah kelompok. Dari kedua penjelasan di atas sangat jelas bahwa penilaian sangatlah penting dan erat kaitannya dengan belajar. Tanpa adanya penilaian kita tidak bisa mengetahui hasil dari proses belajar yang telah Ranah afektif dalam pembelajaran sangatlah penting karena berkenaan dengan sikap dan nilai, dari ranah afektif kita dapat mengetahui hasil belajar seseorang. Seseorang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu akan sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang lebih optimal. Selain itu, emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Menurut Popham . , ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, serta hubungan sosial. Bahan pengajaran berisi ranah afektif menjadi salah satu bagian yang peting dari bahan tersebut. Tak hanya itu, namun harus tampak dalam proses belajar dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Berdasarkan uraian diatas, penilaian afektif sangat penting dalam penilaian hasil belajar siswa. Pada implementasinya, penilaian afektif dapat dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan tata cara yang Kemampuan afektif siswa pada tingkat dasar rupanya sangat diperhatikan. Pengutamaan kemampuan afektif harus dibangun sejak awal agar nantinya siswa mampu menjadi penerus bangsa yang tidak hanya handal pengetahan, namun generasi penerus bangsa yang berbudi luhur. Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan di MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo Parakancanggah Banjarnegara pada siswa kelas II bersama Kepala Madrasah dan Guru Kelas II, pengetahuan afektif siswa kelas II terdapat kesenjangan. Pada tingakat sekolah dasar khususnya di kelas rendah tingkat afeksi harus menjadi perhatian lebih. Berbagai macam kemampun afektif yang terlihat pada siswa kelas II. Seperti halnya dapat mendengarkan pendapat teman saat berdiskusi, ikut Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . berpartisipasi saat berdiskusi, mengusulkan kegiatan kelompok pada suatu pelajaran, dapat menyelesaikan suatu permasalahan dengan mandiri serta memiliki karakter yang baik. Pada siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo Parakancanggah Banjarnegara masih terdapat beberapa siswa yang harus dimotivasi belajarnya, keaktifan saat berdiskusi, menghargai pendapat teman bahkan belum munculnya semangat belajar. Seluruh dewan guru tentunya selalu berupaya memberikan hal yang terbaik untuk siswanya. Namun seluruh upaya itu akan sia-sia pula apabila kerjasama orang tua tidak maksimal. Kerjasama antara guru, orang tua dan siswa sangat dibutuhkan dalam belajar. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas II, lingkungan siswa juga sangat mempengaruhi motivasi belajar, sikap, minat dan nilai siswa. Siswa yang bertempat tinggal dan dalam keluarga dengan pendidikan agama baik, maka menjadikan siswa lebih baik dalam hal sikap serta Keharmonisan kedua orang tua rupanya menjadi hal yang sangat penting bagi tumbuh kembang Lingkungan sekolah dan teman sebaya yang mengarah pada sikap rajin, tentunya menjadikan siswa tergugah hatinya untuk memiliki motivasi belajar yang tinggi. Sebagai contoh, saat temanteman di kelas memperhatikan penjelasan guru, maka akan berpengaruh juga pada teman yang Namun apabila lingkungan kelasnya atau teman-temannya tidak memperhatikan penejelasan guru maka akan terpengaruh dengan hal serupa. Lingkungan kelas dan kakak kelas yang dapat memberikan contoh baik, maka adik-adik kelasnya pun akan terpengaruh dalam hal kebaikan. Sikap dan motivasi belajar harus dibina sedini mungkin. Walaupun terdengar sepele, namun justru itu hal yang paling penting untuk kehidupan anak di masa yang akan datang. Saat dewasa nanti siswa dihadapkan dengan dunia luar yang keras dan bertemu dengan berbagai macam karakter manusia. Saling menghargai, menyayangi dan menghormati sesama teman harus ditanamkan kepada siswa sedini mungkin. Berdasarkan pengamatan yang dilaksanakan di kelas II masih terdapat siswa yang kurang menghargai sesama teman. Karena mereka masih kelas rendah sehingga ketika berbicara terkadang menyinggung perasaan temannya. Semua itu dapat dilatih dan perlu adaptasi yang lama. Agar nantinya terbiasa dengan perilaku baik. Dalam hal ini, kemampuan afektif siswa kelas II di MI Maarif Al Falah Joyokusumo perlu dikaji lebih lanjut, agar guru dapat meningkatkan kemampuan afektif siswanya. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu Penelitian Kualitatif deskriptif. Bogdan dan Taylor . mengemukakan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang Selain itu. Sugiono . juga mengemukakan penelitian kualitatif sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dengan triangulasi, analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Menurut Sukmadinata . , penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan. Penelitian dilakukan kepada siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo Tahun pelajaran 2020/2021. Adapun penelitiannya yaitu mengenai deskripsi kemampuan Afektif Siswa dari sudut pandang Taksonomi Blom. Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Lokasi penelitian terletak di MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo, yang terletak di Jl. Parman 56 ParakancanggahAeBanjarnegara RT 4/RW 4 Kec. Banjarnegara. Kab. Banjarnegara, provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2021 hingga bulan Agustus 2021 Semester Genap Tahun Pelajaran 2020Ae2021. Subjek penelitian yaitu siswa Kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo, yang berjumlah 31. Adapaun siswa Laki-laki sebanyak 18, siswi perempuan 13. Dari 31 siswa, peneliti mengambil 20 siswa untuk sample data. Dari 20 siswa tersebut sudah cukup untuk diambil data yang valid. Melalui observasi, peneliti mengambil data mengenai kemapuan afektif siswa-siswi kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo menurut sudut pandang taksonomi bloom. Diantaranya yaitu penerimaan, responsif, penilaian, organisasi, dan karakterisasi. Peneliti melakukan kegiatan wawancara dengan guru kelas dan guru Mata Pelajaran (Bahasa Arab. PJOK dan Tilawa. sebagai sarana untuk mendapatkan data Siswa yang memiliki kemampuan dari sudut pandang taksonomi Dokumen yang digunakan untuk penelitian yaitu nilai raport sikap spiritual dan sosial, buku sikap spiritual dan sosial serta buku bimbimgan konseling yang dimiliki guru kelas. Dalam pengumpulan data penelitian, peneliti juga menggunkan metode angket. Menurut Sugiyono . 39 angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan. Untuk itu, kuesioner yang digunakan harus mencakup ranah afektif siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo. Dokumentasi penelitian di ambil dari rapot sikap spiritual dan sosial, buku sikap spiritual dan sosial milik guru kelas serta buku bimbingan konseling. Adapaun wawancara dilakukan kepada guru kelas dan guru mata pelajaran (PJOK. Bahasa Arab dan Tilawa. Pedoman wawancara yang digunakan kepada guru adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan Afektif yaitu sikap, motivasi, semangat, minat, penghargaan, perasaan dan nilai Berikut pedoman wawancara yang digunakan oleh peneliti. Fraenkel . AuValiditas menunjukkan kesamaan, pengertian maupun penggunaan masing-masing peneliti yang berbeda dalam mengumpulkan data. Ay Sedangkan batasan validitas menurut Sugiyono . 7: . dikatakan bahwa,AyValiditas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Ay Pada kegiatan observasi, peneliti terjun secara langsung ke kelas untuk mengamati siswa-siswi kelas II disaat pembelajaran berlangsung. Tak hanya itu, ketika sedang bermain dan beristirahat peneliti juga mengamati kegiatan mereka, sikap mereka terhadap teman. Terlebih pada saat kegiatan diskusi di Peneliti mendapatka info yang kuat terkait kemampuan afektif siswa-siswi kelas II. Nilai Rapot, nilai sikap sosial, spiritual dan buku bimbingan konseling yang dimiliki oleh guru kelas menambah kefalidan data. Melalui kegiatan wawancara dan observasi peneliti dapat mengambil dokumentasi kegiatan penelitian yang telah di laksanakan pada siswa-siswi kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo. Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi sumber ini digunakan oleh peneliti untuk mengecek data yang diperoleh dari siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo, guru kelas dan guru Mata Pelajaran. Triangulasi teknik yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Triangulasi teknik ini digunakan oleh peneliti setelah mendapatkan hasil wawancara yang kemudian dicek dengan hasil observasi dan dokumentasi. Wawancara ditujukan kepada guru kelas dan guru mata pelajaran. Sedangkan observasi dan dokumentasi ditujukan kepada siswa-siswi MI Maoarif Al Falah Joyokusumo. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, dengan teorinya Milles dan Huberman dalam (Pawito, 2010:. menawarkan suatu teknik analisis yang lazim Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . disebut interview model, teknik analisis ini pada dasarnya terdiri tiga komponen. Reduksi data merupakan upaya yang dilakukan oleh penelitian selama analisi data dilakukan dan merupakan langkah yang tak terpisahkan dari analisis data. Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Pada komponen terakhir, yakni penarikan dan pengujian kesimpulan, peneliti pada dasarnya mengimplementasikan prinsip induktif dengan mempertimbangkan pola-pola data yang ada atau kecenderungan dari penyajian data yang telah dibuat. Untuk mengukur persepsi responden dalam penelitian ini digunakan skala likert. Menurut Sugiyono . , skala likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan perspepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penelitian didapatlah berbagai informasi mengenai kemampuan afektif siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif. Melalui wawancara dengan guru dan siswa, observasi di lapangan, angket, dan dokumentasi yang berkaitan dengan kemampuan afektif siswa peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan falid. Peneliti melakukan observasi dan wawancara kepada guru kelas, guru mata pelajaran Bahasa Arab, guru Tilawah dan guru mata pelajaran PJOK untuk mengetahui proses pembelajaran pada siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilaksanakan oleh peniliti maka bisa tarik kesimpulan bahwa tingkatan afeksi siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo meurut sudut pandang taksonomi bloom pada tingkatan sikap dan semangat belajar cukup baik . Sedangkan pada tingkatan motivasi cenderung lebih rendah atau bisa dikatakan kurang. Pada observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap kegiatan pembelajaran siswa kelas II terlihat pada kegiatan awal pembelajaran guru membimbing siswa untuk berdoa, kemudian ketua kelas yang sudah ditujuk menjadi ketua kelas memimpin temantemannya untuk menyiapkan. Guru juga mengingatkan siwanya pada materi kemarin yang telah Sebelum masuk ke pembelajaran, guru memberikan semangat melalui tepuk semangat. Kegiatan Awal Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, kegiatan awal pembelajaran suasana terlihat kondusif, hampir seluruh siswa duduk dan berdoa dengan tertib. AuIya, memang dia istimewa sekali bu, jadi penanganannya juga berbeda, itu masih mending, biasanya malah ganggu temantemannyaAy(Khikmah,2. Menurut guru kelas II saat diwawancarai, pada awal pembelajaran hampir seluruh siswa selalu berdoa dengan baik, semangat mengikuti pembelajaran dan mengikuti arahan guru dengan baik. AuAlhamdulillah, untuk keseluruhan mereka berdoa dengan tertib , semangat dan ketika saya arahkan mereka nurut dengan kata-kata saya, jadi saya enjoy saja. Kecuali anak-anak tertenu memang harus diberi perhatian lebih dari temantemannya. Ya kalo semua nurut nanti saya nggak ada tantangan dong he he. AyUcap (Khikmah,2. Peneliti melakukan observasi pada saat mata pelajaran yang diajarkan oleh guru mapel Bahasa Arab dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan kebugaran (PJOK). Pada awal pembelajaran Bahasa Arab, guru membukanya dengan salam dan menyapa siswa. Guru meningkatkan semangat siswa dengan sapaanAesapaan yang menggunakan Bahasa Arab. Guru Bahasa Arab mengatakan bahwa Ausiswa kelas II cukup antusias untuk mengikuti Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . pembelajaran, namun terkadang juga anak-anak seperti tidak semangat, mungkin mereka sudah termainset bahwa bahasa arab itu sulit, padahal sebenarnya asikAy. Guru tidak patah semangat dan terus berinovasi agar siswa-siswa memiliki antusias tinggi untuk belajar Bahasa Arab. Guru Bahasa Arab tidak membuka kelas dengan doa, karena bukan jam pertama pelajaran, melainkan sudah masuk jam ke tiga, sehingga cukup dengan salam dan sapaan saja. AuBiasanya kalo pas jam pertama ,saya juga buka kelas dengan berdaoa, ini kan karena suda jam ketiga , sehingga tidak perlu saya buka dengan doa , cukup dengan salam dan menyapa anak-anak biar makin semangatAy (Saputra, 2. Saat observasi ,beberapa kursi kosong, beberapa siswa laki-laki belum masuk ke Siswa laki-laki tersebut baru dari WC. Guru mengingatkan agar tidak boleh terlalu lama dan bermain ketika ijin kebelakang. AuYa biasa begitu bu, namanya juga anak-anak apalagi masih kelas dua, ijin mau pipis, pipisnya kadang lama banget , ternyata waktu di cek sering mereka sedang bermain-main di tanggaAy (Saputra,2. Observasi juga dilakukan pada saat mata pelajaran PJOK, guru PJOK membuka kelas dengan salam. Semua siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran PJOK. Menurut guru mapel PJOK, sebagian besar siswa antusias mengikuti pembelajaran , terlebih ketika praktek. Saat Peneliti melakukan observasi pembelajaran Tilawah, guru membuka kelas dengan salam. Terlihat siswa-siswa tidak antusias seperti pada 60 saat pembelajaran PJOK. Siswa tertib dan terkendali. Guru menyapa dan tak lupa mengecek kehadiran siswa. Menurut guru mapel Tilawah, mengajarkan Tilawah tidaklah muda, karena metodenya tidak bisa bervariasi seperti mata pelajaran lain. Tilawah harus didengarkan berulang-ulang dan berlatih melantunkan berulangulang juga. Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada kegiatan awal pembelajaran siswa kelas II sudah cukup baik. Seperti halnya berdoa dengan tertib, menjawab salam guru, memberi respon saat guru mengecek kehadiran, serta semangat mengikuti Kegiatan Inti Pada kegiatan inti, guru kelas menyampaikan mata pelajaran Tematik. Semua siswa memperhatikan penjelasan guru, saat guru memberikan pertanyaan, beberapa siswa antusias menjawab dengan jawaban-jawaban yang berbeda-beda. Ada siswa yang tidak semangat, posisi duduk tidak tegap seperti teman-teman yang lain. Ditengah proses pembelajaran guru memancing siswa agar selalu aktif. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya terhadap materi yang telah dijelaskan. Dua siswa bertanya. Dari hal tersebut, dapat diketahui dua anak sangat antusias mengkuti pembelajaran dan selalu ingin menggali informasi yang telah ia dapat dari guru. Guru menjelaskan materi selanjutnya. Ada siswa yang asik mengobrol sendiri, bermain pensil, mencoret-coret buku, tidak semangat dan terlihat lesu. Guru bertanya, siswa mengatakan bahwa ia merasa lapar. Semua teman-teman dikelas tertawa terpingkal-pingkal. Mengenai respon siswa ketika guru melontarkan pertanyaan, baru sebagian besar siswa yang mampu merespon dengan baik dan cepat. Beberapa siswa harus dipancing berulang-ulang. Ada siswa yang tidak semangat megikuti pembelajaran, usil mengganggu teman-teman sedang belajar. Anak-anak tersebut menjadi PR Guru Kelas agar dibina, diberi teguran, pengertian, serta motivasi agar kedepannya semakin baik. AuYa memang begitu bu , mengajar siswa kelas dua seperti halnya dengan anak-anak TK ,terkadang membuat hati gemes , tapi disisi lain juga hiburan , anak-anak yang spesial itu sudah sering mendapatkan pembinaan , saya yakin nantinya pasti akan lebih baik Au (Khikmah, 2. Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Pada pembelajaran Bahasa Arab, siswa semangat ketika guru menggunakan nyanyian untuk menghafal kosakata Bahasa Arab. Menurut guru Bahasa Arab, siswa lebih semangat ketika pembelajaran diselingi dengan nyanyian untuk menghafal kosakata materi. Lain halnya dengan mata pelajaran PJOK, siswa selalu antusias mengikuti, karena PJOK sering materi praktek. Mata pelajaran Tilawah siswa tidak terlalu antusias dan semangat seperti mata pelajaran PJOK dan Bahasa Arab. Bahkan, ada siswa yang mengantuk, beberapa siswa tidak mau menirukan lantunan Tilawah yang disampaikan guru. Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa pada saat kegiatan inti pelajaran masih terdapat siswa yang kurang semangat, kurang antusias, lesu, mengantuk, kurang respon dan ada pula hal yang kurang baik terkat akhlak maupun sikapnya. Namun sebagian besar siswa kelas dua pada saat kegiatan inti pembelajaran suda baik dalam sikap afeksinya. Kegiatan Penutup Pada akhir pembelajaran, guru mengulang kembali materi yang telah disampaikan dan menarik kesimpulan. Guru melaukan tanya jawab, siswa-siswi cukup aktif menjawab dan lebih antusias dari kegiatan inti. Guru mengingatkan siswanya agar selalu hidup tertib dan saling menyayangi kepada makhluk hidup. DoAoa pulang dipimpin oleh ketua kelas. Suasana kelas cukup tenang dan semua siswa terlihat tertib. Syarat boleh pulang, guru memberikan pertanyaan kepada siswa dan apabila bisa menjawab maka diijinkan pulang. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas Setelah belajar orang memiliki keterampilan pengetahuan, sikap dan nilai. (Dimyati dan Mudjiono, 2002:. Gagne berpendapat, bahwa belajar merupakan kecenderungan perubahan pada diri manusia yang dapat dipertahankan pada diri manusia yang dapat dipertahankan selama proses pertumbuha. Hal tersebut dijelaskan kembali Gagne . alam Riyanto:2. bahwa belajar merupakan suatu proses peristiwa yang terjadi didalam kondisiAekondis tertentu yang dapat diamati,diubah,dan dikontrol. Lebih lanjut Degeng . menyatakan bahwa belajar merupakan pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar. Hasil tersebut mempunyai arti bahwa dalam proses belajar, siswa akan meghubung-hubungkan pengetahuan atau ilmu yang tela tersimpan dalam memorinya dan kemudian menghubungkan dengan pengetahuan yang baru. Dengan kata lain, belajar adalah suatu proses untuk merubah seseorang yang tidak terbatas pada keterampilan, tetapi juga meliputi fungsi-fungsi seperti skill, persepsi, emosi, proses berfikir, sehingga dapat menghasilkan perbaikan performansi. Kesimpulannya bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang yang dilakukan melalui usaha dan latihan serta pengalaman secara sadar dan sengaja yang menimbulkan adanya perubahan tingkah laku seseorang. 74 Proses kegiatan belajar-mengajar ada beberapa tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan ini dan kegiatan penutup. Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas II MI MaAoarif Al Falah Joyokusumo, kegiatan awal pembelajaran sudah cukup baik. Seperti halnya berdoa dengan tertib, menjawab salam guru, memberi respon saat guru mengecek kehadiran, serta semangat mengikuti pembelajaran. Pada kegiatan inti pelajaran masih terdapat siswa yang kurang semangat, kurang antusias, lesu, mengantuk, kurang respon dan ada pula hal yang kurang baik terkat akhlak maupun sikapnya. Namun sebagian besar siswa kelas dua pada saat kegiatan inti pembelajaran suda baik dalam sikap afeksinya. Pada akhir pembelajaran, guru mengulang kembali materi yang telah disampaikan dan menarik kesimpulan. Guru melaukan tanya jawab, siswa- siswi cukup aktif Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . menjawab dan lebih antusias dari kegiatan inti. DoAoa pulang dipimpin oleh ketua kelas. Suasana Kelas cukup tenang dan semua siswa terlihat tertib. Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar di anggap berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan 75 sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatan. Pada tahun 1956 (Gunawan dan Palupi, 2001:. Bloom. Englehart. Furst. Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom adalah struktur hierarkhi yang mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tujuan pendidikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga ranah kemampuan intelektual . ntellectual behavior. yait u kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif menurut taksonomi bloom yaitu mengurutkan keahlian berpikir sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir menggambarkan tahap berpikir yang harus dikuasai oleh siswa agar mampu mengaplikasikan teori kedalam perbuatan. Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Ketrampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya. Perkembangan tersebut dpat diukur sudut kecepatan, ketepatan, jarak, cara/teknik pelaksanaan. Sedangkan ranah Afektif menurut taksonomi bloom mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi. Misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat,minat, motivasi, dan sikap. Lima kategori ranah ini diurutkan mulai dari perilaku yang sederhana hingga yang paling kompleks. Pada ranah afeksi. Bloom menyusun pembagian kategorinya dengan David Krathwol yaitu penerimaan, responsif, penilaian, organisasi dan karakterisasi. Dari beberapa teori di atas, erat kaitannya dengan hasil penelitian 76 yang peneliti lakukan. Bahwa siswa kelas II masih perlu bimbingan, arahan, motivasi dan penanganan yang lebih. Karena kelas II merupakan kelas rendah, masih dalam masa peralihan mencari jati dirinya. Jika tidak diarahkan maka dikhawatirkan terjadi hal yang tidak baik dalam kehidupan selanjutnya Berdasarkan observasi, hampir semua siswa kelas II sudah dapat mendegarkan pendapat orang lain, datang tepat waktu pada saat pembelajaran serta dapat mengerjakan tugas/PR dengan baik. Siswa kelas II sudah dapat merespon pembelajaran, seperti halnya menjawab pertanyaan guru, dapat menggali informasi yang telah di sampakan guru serta aktif dalam pembelajaran maupun kerja kelompok. Mulai berkembang, seperti halnya ada siswa yang memberikan usul kepada guru terkait pembelajaran yang dipraktekkan serta siswa sudah bisa membedakan perbuatan baik maupun buruk. Namun masih perlu bimbingan ,seperti contoh ketika ditunjuk menjadi ketua kelas, sekretaris kelas, bendahara kelas. Mereka harus dibimbing tugas dan tanggungjawab mereka. Karena pada dasarnya mereka belum begitu faham dan masih dalam tahap Hal tersebut sesuai dengan ranah afektif yang telah disebutkan oleh Taksonomi Bloom di Tidak dapat terlakasananya watu penelitian sesuai rencana. Karena adanya wabah Covid-19, sehingga dilaksanakannya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas dengan durasi hanya 2 jam. Penelitian dilakukan 3 kali, 2 kali ketika pembelajara luar jaringan . dan satu kali saat PTM SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai manajemen pemasaran pendidikan Islam dalam meningkatkan peserta didik baru di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegar dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan hasil peneitian dan pembahasan yang dilakukan,dapat disimpulkan Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . sebagai berukut: Proses pembelajaran siswa meliputi kegiatan awal, inti dan penutup. Pada kegiatan awal pembelajaran meliputi doAoa ,salam dan sapa. Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi dengan metode yang berbeda-beda. Pada kegiatan penutup, guru menutup pembelajaran dengan megingatkan dan meyimpulkan materi, doAoa , duduk tertib dan salam. Hasil belajar siswa kelas II menurut sudut pandang Taksonomi Bloom sudah cukup baik. Siswa kelas II memiliki tingkat afeksi penerimaan yang sangat tinggi yaitu dengan nilai 3. 21, tingkat afeksi responsif sangat tinggi dengan nilai 3. 05, tingkat afeksi penilaian yang tinggi dengan nilai 80, tingkat afeksi organisasi rendah dengan nilai 2. 61, dan tingkat afeksi karakterisasi tinggi dengan nilai 2. Siswa kelas II sudah dapat mendegarkan pendapat orang lain, datang tepat waktu pada saat pembelajaran serta dapat mengerjakan tugas/PR dengan baik. Siswa kelas II sudah dapat merespon pembelajaran, seperti halnya menjawab pertanyaan guru, dapat menggali informasi yang telah di sampaikan guru serta aktif dalam pembelajaran maupun kerja kelompok. Mulai berkembang, seperti halnya ada siswa yang memberikan usul kepada guru terkait pembelajaran yang dipraktekkan serta siswa sudah bisa membedakan perbuatan baik maupun buruk. Namun masih perlu bimbingan, seperti contoh ketika ditunjuk menjadi ketua kelas, sekretaris kelas, bendahara DAFTAR PUSTAKA