INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO PROGRAM STUDI ILMU FILSAFAT JURNAL FILSAFAT LEDALOGOS https://journal. id/index. php/JLOG Mengintegrasikan Pepatah Manggarai Neka Tapa Satar. Neka Poka Puar dengan Prinsip Keharmonisan Alam dalam Filsafat Timur Martinus Sau1. Sebastianus Agor2. Yoakim Ano Grevi3 1Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia . martinusau250320001@gmail. 2Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia . sebastianusagor5@gmail. 3Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia . mail: yoakimgrevi@gmail. ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk menggali makna pepatah Manggarai Article history: Received: 13 May 2025 neka tapa satar, neka poka puar, lalu mengintegrasikannya dengan Revised: 16 June 2025 prinsip keharmonisan dalam filsafat Timur. Secara harfiah pepatah Accepted: 16 June 2025 Manggarai tersebut berarti Aujangan menebang pohon, jangan Available online: 01 July 2025 membakar hutanAy. Metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah Kata Kunci: studi kepustakaan dengan metode analisis data primer dan Neka Tapa Satar. Neka Poka Puar. Penulis pertama-tama akan menganalisis prinsip-prinsip integrasi dan prinsip keharmonisan kosmis dalam filsafat Timur yang menekankan aspek kesatuan Keywords: antara ciptaan, lalu mengeksplorasi nilai-nilai lokal yang Neka Tapa Satar. Neka Poka Puar. terkandung dalam pepatah Manggarai neka tapa satar, neka poka integration and harmony principles Berdasarkan hasil analisis dari sumber-sumber di atas disimpulkan bahwa pepatah Manggarai neka tapa satar, neka poka puar dan prinsip keharmonisan dalam filsafat Timur memiliki makna yang sama, yakni undangan untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai sumber kehidupan. Penulis juga menyimpulkan bahwa pepatah Manggarai neka tapa satar, neka poka puar, memiliki kontribusi dalam pelestarian alam. Selain itu, tulisan ini juga dapat memberikan pemahaman secara baru bagi masyarakat Manggarai akan pentingnya menjaga ekosistem alam yang memiliki nilai berharga bagi proses keberlangsungan hidup manusia. ARTICLE INFO ABSTRACT This paper aims to explore the meaning of the Manggaraian proverb AuNeka tapa satar, neka poka puarAy and then integrate it with the principle of harmony in Eastern philosophy. The Manggaraian proverb literally means Audo not burn savanna, do not cut down the forestAy. The method used in this paper is a literature study, focusing on the analysis of the primary and secondary literature. The authors will first analyze the cosmic principles in Eastern philosophy that emphasize the aspect of unity of the elements of creation and explore local values contained in the Manggaraian proverb of AuNeka tapa satar, neka poka puarAy. Based on the analysis of the above sources, it is concluded that the meaning of the Manggaraian proverb Auneka tapa satar, neka poka puarAy and the principle of harmony in Eastern philosophy share the same meaning, namely the invitation to protect and preserve nature as a source of The author also concludes that the Manggaraian proverb Auneka tapa satar, neka poka puarAy has a contribution to the conservation of nature. In addition, this paper can also provide a new understanding for the Manggaraian people of the importance of protecting the natural ecosystem. Nature has the most precious and valuable value for the process of human survival. 88 | Ledalogos Martinus Sau. Sebastianus Agor & Yoakim Ano Grevi PENDAHULUAN Neka tapa satar, neka poka puar merupakan salah satu pepatah Manggarai yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Neka tapa satar secarah harfiah berarti Aujangan membakar sabanaAy dan neka poka puar berarti Aujangan menebang hutan . Ay. Kedua frasa ini memiliki makna yang sama, yakni perintah untuk menjaga keutuhan hidup dari segala makhluk, baik manusia maupun hewan serta tumbuh-tumbuhan. Manusia menjadi titik sentral dalam menjaga keutuhan dan kesatuan dari setiap makhluk hidup. Selain itu, adanya sikap tanggung jawab dari pihak manusia dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar menjadi suatu hal yang mesti dikembangkan oleh setiap individu. Dewasa ini, ada program-program pembangunan dari pemerintah yang katanya AumeningkatkanAy perekonomian masyarakat namun dalam praksisnya tidak sejalan dengan visi yang dikampanyekan oleh pemerintah kepada masyarakat. Akibatnya, masyarakat perlahan mulai merasakan dampak dari kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh program-program tersebut. Di tengah situasi yang demikian, penting bagi masyarakat untuk melihat kembali nilai-nilai tradisional yang dapat mengatasi persoalan lingkungan tersebut. Di sisi lain, tema tentang keharmonisan juga menjadi tema sentral dalam filsafat Timur yang menekankan prinsip keselarasan antara manusia, alam dan Pencipta. Dalam konteks dunia modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi, industrialisasi serta urbanisasi yang berdampak pada kelestarian lingkungan, pemaknaan terhadap pepatah tersebut menjadi suatu hal yang sangat urgen, khususnya pada masyarakat Manggarai. Tulisan ini bertujuan untuk menggali makna filosofis pepatah Manggarai neka tapa satar, neka poka puar yang mengandung nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang dapat memantik semangat masyarakat untuk menjaga keharmonisan dengan alam semesta, lalu mengintegrasikannya dengan prinsip keharmonisan yang juga terkandung dalam filsafat Timur. Hasil pengintegrasian dari keduanya, hemat penulis, dapat menjadi instrumen untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam. METODE PENULISAN Dalam penyusunan tulisan ini, penulis menggunakan jenis studi kepustakaan dengan metode analisis data primer dan sekunder. Data dan informasi penulis dapatkan dari perpustakaan lalu dikaitkan dengan sumber-sumber lain seperti jurnal, dokumen, kamus, ensiklopedi dan dipadukan dengan pemikiran dari penulis. Sumbersumber yang dipakai tentunya relevan dengan tema tulisan, sehingga ada korelasi dalam setiap bagian artikel ini. ARTI DAN MAKNA PEPATAH NEKA TAPA SATAR. NEKA POKA PUAR Neka tapa satar dan neka poka puar merupakan pandangan hidup dalam masyarakat Manggarai yang umumnya dipengaruhi oleh kepercayaan mereka akan Wujud Tertinggi. Frasa neka tapa satar dan neka poka puar juga menjadi semacam regulasi yang disepakati oleh masyarakat Manggarai untuk tidak mengganggu 89 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. No. Mei 2025 kenyamanan dari ekosistem alam. Hal ini juga mau menggambarkan bahwa masyarakat Manggarai umumnya ingin menjaga dan memelihara apa yang telah diberikan oleh Mori Kraeng (Tuhan Alla. kepada manusia. Sikap atau praktik ini kemudian menjadi suatu rujukan atau basis bagi orang Manggarai yang pada akhirnya mengantar mereka pada suatu penghormatan yang konkret kepada Tuhan sebagai pemberi kehidupan. Dalam konteks kehidupan orang Manggarai, wujud tertinggi umumnya disebut Mori Kraeng atau bisa juga Mori Kraeng ata jari agu dedek (Tuhan pencipta segala Oleh karena itu, dalam kehidupan orang Manggarai segala sesuatu dipandang sebagai kekayaan yang mesti dijaga, dilestarikan dan dirawat, termasuk Selain itu, mereka juga meyakini bahwa alam melahirkan kehidupan bagi Dengan kata lain, kehidupan mereka selalu bergantung pada alam, khususnya makanan dan kebutuhan lainnya. Pandangan semacam ini merupakan suatu realitas yang masih aktual, terjaga dan masih dipraktikkan hingga saat ini oleh masyarakat Manggarai yang sangat menghormati dan menghargai roh alam yang dipandang sebagai roh sakral dan ibu yang dari rahimnya muncul kehidupan. Oleh karena itu, alam harus disembah, dijaga dan tidak boleh dirusakkan (Gole & Sudhiarsa. Dengan demikian, masyarakat Manggarai melihat alam sebagai suatu entitas yang sakral. Sakralitas alam berkaitan dengan pandangan bahwa alam bukan saja sebagai entitas yang dapat dimanfaatkan secara bebas tetapi juga sebagai entitas yang memiliki nilai spiritual yang patut dihormati. Oleh karena itu, dalam tradisi orang Manggarai, ada berbagai macam ritus yang dikhususkan untuk menghormati alam, misalnya barong wae, roko molas poco, penti ongko/nongko gejur dan lain sebagainya. Pertama, ritus barong wae. Secara etimologis, barong wae terdiri atas dua kata Manggarai, yakni barong dan wae. Barong berarti mengabarkan, mengundang atau memanggil roh-roh yang mendiami daerah mata air . lu wa. untuk menghadiri suatu upacara pesta atau syukuran. Sedangkan wae, menurut Jillis Verheijen berarti zat cair, air, misalnya dalam ungkapan way iso . ir luda. , way nio . ir kelap. , way tyku . ir timb. , way mosy . afkah, penghidupan: kawe mosy: mencari rezek. (Nanur & Lega. Dalam kaitannya dengan ritus barong wae, wae yang dimaksudkan adalah air sumber kehidupan atau air minum. Dengan demikian, tujuan dari ritus barong wae adalah bersyukur dan berterima kasih kepada roh pelindung mata air yang telah menjaga air sepanjang tahun, sehingga air masih mengalir, dan pada saat yang sama mengundangnya untuk mengikuti upacara penti. Kedua, roko molas poco. Secara harfiah roko molas poco berarti meminang atau mengambil . anak gadis . dari hutan yang ada di perbukitan . Secara filosofis, hal ini dikaitkan dengan pandangan hidup orang Manggarai yang melihat alam sebagai seorang gadis perawan. Oleh karena itu, dalam ritus tersebut personifikasi molas poco atau kayu yang akan menjadi tiang tengah suatu rumah adat dipandang sebagai gadis perawan yang cantik dan suci. Dalam ritus ini, molas poco . ersonifikasi dari ala. kemudian diarak menuju kampung. Sebelum memasuki kampung molas poco diterima secara adat dan disambut dengan tarian-tarian sebagai ungkapan kebahagiaan masyarakat dalam menerima tamu yang akan memberikan kehidupan, keturunan, kesuburan bagi manusia, sebab dia adalah simbol yang menghubungkan manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya dan manusia 90 | Ledalogos Martinus Sau. Sebastianus Agor & Yoakim Ano Grevi dengan Wujud Tertinggi (Jemali et al, 2. Dengan demikian, ritus roko molas poco mau menunjukkan sikap hormat terhadap alam yang dipersonifikasi sebagai seorang gadis sangat dijunjung tinggi. Dalam hal ini molas poco dimuliakan dan dihormati. Ketiga, penti ongko/nongko gejur. Secara harfiah, ritus ini berarti syukuran atas hasil panen. Ritus ini menjadi tanda atau bentuk kesadaran religius masyarakat Manggarai terhadap nilai-nilai spiritual. Tujuan dari ritus ini adalah untuk menghindari adanya bencana alam akibat dari keegoisan manusia atas nikmat yang diberikan oleh Mori Kraeng (Tuhan semesta Ala. (Ganggang, 2. Dengan demikian, ritus penti ongko/nongko gejur memiliki makna spiritual yang mendalam. Alam tidak hanya dipandang sebagai entitas yang dapat dimanfaatkan tetapi juga sebagai entitas yang perlu dihormati. Makna Harfiah Pepatah neka poka puar, neka tapa satar merupakan imperatif yang berisi larangan bagi orang Manggarai untuk tidak menebang atau membakar hutan secara Neka poka puar diartikan sebagai larangan untuk tidak menebang pohon di hutan sedangkan Neka tapa satar diartikan sebagai larangan untuk tidak membakar hutan. Berangkat dari latar belakang sumber kehidupan orang Manggarai, pepatah ini menjadi dasar bagi terciptanya keharmonisan antara manusia dengan alam. Masyarakat Manggarai, yang hidup bergantung pada alam, berusaha untuk mengenali dan memahami sumber daya alam agar dapat memanfaatkannya secara optimal dan berkelanjutan, sekaligus beradaptasi dengan kondisi sumber daya alam dan lingkungan yang ada (Iswandono, 2. Neka poka puar memiliki kaitan dengan mata pencaharian orang Manggarai zaman dulu, yaitu bercocok tanam (Gole & Sudhiarsa. Ungkapan ini sebetulnya tidak hanya sebatas larangan, tetapi juga bertujuan agar masyarakat melihat hutan sebagai bagian dari kehidupan sehingga semestinya dijaga dan dirawat. Sedangkan neka tapa satar adalah ungkapan yang berkaitan dengan aktivitas berburu orang Manggarai pada zaman dahulu. Konon orang Manggarai ketika berburu di padang, tempat tersebut akan dibakar untuk memudahkan mereka menangkap hewan buruan. Atas dasar inilah, orang Manggarai menggunakan istilah neka tapa satar untuk menyelamatkan alam sekitar. Terminologi neka tapa satar, neka poka puar pada umumnya lebih mengarah kepada ungkapan syukur orang Manggarai atas berkat berlimpah dari Mori Kraeng melalui alam. Dalam artikelnya. Venansius Vikroltus mengatakan bahwa orang Manggarai percaya bahwa alam adalah ibu yang menyediakan segala sesuatu bagi Oleh karena itu, alam mesti diperlakukan selayaknya. Keindahan alam tentu mencerminkan sikap manusia yang peduli terhadap alam. Pemahaman ini mampu mengantar orang Manggarai pada kepedulian yang tinggi terhadap sesama ciptaan. Makna Filosofis Dalam filsafat Timur, alam adalah sesuatu yang bukan hanya dipandang sebagai entitas fisik, tetapi juga bagian dari hal yang memiliki dimensi spiritual dan kosmis. Alam sebetulnya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh apabila alam dan manusia memiliki satu kesatuan yang utuh. Demikian pula dengan terminologi neka tapa satar, neka poka puar memiliki makna filosofis yang mendalam. Pertama, keseimbangan ekologis dan harmoni dengan alam. 91 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. No. Mei 2025 Masyarakat Manggarai percaya bahwa menjalin hubungan dengan alam adalah bentuk satu kesatuan yang harmonis. Salah satu contoh bentuk keharmonisan orang Manggarai dengan alam adalah penghormatan terhadap hutan dan mata air yang dianggap sakral bagi orang Manggarai. Kepercayaan tradisional yang merupakan nilai sosial ini adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang menunjukkan hubungan harmonis antara masyarakat adat dan hutan (Iswandono, 2. Prinsip ini tentu saja bertujuan mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara teratur dan bijak. Neka tapa satar, neka poka puar adalah bentuk bahasa yang mencerminkan kondisi lingkungan masyarakat Manggarai sendiri. Kesadaran akan pemanfaatan alam yang baik akan menjamin keberlangsungan hidup dan keseimbangan ekosistem. Menjaga alam dengan baik akan menjamin keberlanjutan hidup di masa mendatang. Hingga saat ini, hal yang masih dipertahankan orang Manggarai adalah sistem pertanian tradisional yang disebut lingko. Masyarakat percaya bahwa pembagian lahan dalam bentuk lingko dapat menjamin kesuburan Para leluhur telah menanamkan rasa peduli terhadap alam sekitar kepada generasi penerus karena alam dinilai sebagai sumber kehidupan. Ini adalah bentuk kearifan lokal sekaligus pedoman bagi masyarakat Manggarai dewasa ini untuk menjaga alam (Rambut, 2. Kedua, tanggung jawab sosial dan keberlanjutan. Menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama. Orang Manggarai berprinsip bahwa keberhasilan setiap orang tidak terlepas dari campur tangan orang lain. Keyakinan ini juga memiliki hubungan dengan pemanfaatan alam. Alam sebagai kepunyaan bersama seharusnya dipelihara dengan baik. Jika seseorang merusak alam sekitar, maka dampak yang dirasakan tidak hanya oleh dia sendiri tetapi semua orang. Selain itu, kepedulian akan alam juga selalu atas dasar pertimbangan akan keberlanjutan bagi generasi penerus. Dengan menerapkan nilai-nilai ini, orang Manggarai dapat hidup dalam keharmonisan dan keberlanjutan. Filosofi yang terkandung dalam pepatah neka tapa satar, neka poka puar menjadi pegangan untuk beralih pada gaya hidup berkelanjutan, yakni pemenuhan kebutuhan sehari-hari tanpa merusak atau mengeksploitasi alam secara Dengan kata lain, gaya hidup berkelanjutan merupakan gaya hidup yang ramah lingkungan dengan tetap mempertahankan esensi dari alam itu sendiri. Kepedulian orang Manggarai terhadap alam tidak hanya disampaikan melalui pepatah, tetapi juga melalui lagu, salah satunya berjudul senget runing ngkiong. Lagu yang bertemakan lingkungan ini menceritakan bagaimana manusia harus peduli pada lingkungan sebagai tempat tinggal (Lidi. Ningsih & Dhiki, 2. Ketiga, relevansi dengan kehidupan modern. Pepatah neka tapa satar, neka poka puar sebetulnya tidak hanya relevan dengan kehidupan tradisional orang Manggarai tetapi juga dengan konteks dunia saat ini, di mana persoalan lingkungan menjadi semakin nyata akibat ulah manusia. Sejak tahun 2000-an, masalah lingkungan menjadi isu hangat dalam berbagai media. Persoalan lingkungan menjadi masalah serius di belahan bumi. Pepatah neka tapa satar, neka poka puar mengajarkan manusia untuk tidak merusak alam sebagaimana yang sering terjadi sekarang ini. Proses eksploitasi alam menjadi masalah global yang merugikan makhluk hidup. Prinsip yang terkandung dalam pepatah ini sejalan dengan konsep tanggung jawab dan berkelanjutan, di mana ada kepedulian terhadap generasi mendatang. Ada 92 | Ledalogos Martinus Sau. Sebastianus Agor & Yoakim Ano Grevi beberapa contoh tindakan yang sejalan dengan pepatah ini yaitu, konservasi hutan, laut, dan penghijauan. PRINSIP KEHARMONISAN DALAM FILSAFAT TIMUR Prinsip keharmonisan adalah konsep yang paling integral dalam mengatur hubungan manusia dengan alam. Berdasarkan prinsip ini, munculnya kesejahteraan pada manusia bergantung pada hubungan yang dibangun antara manusia dengan Konsep ini sebetulnya mengandung unsur-unsur spiritual yang memungkinkan terjadinya hubungan simbiotis, yakni manusia menyatu dengan alam. Alam dengan segala kelebihannya, menyediakan sesuatu yang dibutuhkan manusia. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab manusia untuk menjaga dan merawat alam itu sendiri. Corak berpikir berpikir orang Manggarai yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dengan alam juga sering kita jumpai dalam tradisi berpikir filsafat Timur. Filsafat Timur merupakan salah satu aliran filsafat yang berkembang di Asia. Aliran pemikiran ini agak berbeda dengan alur pemikiran filsafat Barat. Salah satu hal yang membedakan filsafat Timur dari filsafat Barat adalah filsafat Timur lebih menekankan aspek keseimbangan atau kesatuan dengan alam daripada rasionalitas maupun analisis yang pada umumnya ditemukan dalam filsafat Barat. Oleh karena itu, dalam filsafat Timur muncul beberapa aliran yang fokus pada tema seputar menjaga keseimbangan atau keharmonisan dengan alam, seperti taoisme, konfusianisme, buddhisme, hinduisme dan lain sebagainya. Istilah taoisme itu berasal dari kata tao, yang secara harfiah berarti AujalanAy (Pitoyo, 2. Istilah tao kurang lebih sama dengan apa yang disebut oleh para filsuf barat sebagai AuYang mutlakAy. Istilah ini bukanlah sesuatu yang bernama dan bukan suatu objek layaknya objek-objek yang lain. Istilah ini sebetulnya mengandung makna metafisis dan menjadi dasar terbentuknya segala sesuatu. Dalam Taoisme ada tiga bentuk konsep utama, yaitu . Tao, . Wu Wei, . Yin-Yang. Ketiga konsep ini saling Meski demikian, penjelasan tentang manusia dan hubungannya dengan alam itu termuat dalam prinsip keseimbangan Yin dan Yang. Dalam pandangan taoisme, kehidupan harmonis hanya akan dicapai apabila manusia dapat memahami alam. Oleh karena itu, konsep Yin dan Yang adalah prinsip yang mengatur hubungan manusia dengan alam (Rahman et al, 2. Yin dan Yang adalah konsep filsafat Tiongkok kuno atau taoisme yang mengatur segala sesuatu dalam alam semesta (Riswandi, 2. Gambaran umum dari Yin dan Yang adalah siklus alam, di mana adanya pergantian masa seperti hujan dan kemarau, dingin dan panas, yang sampai pada titik keharmonisan alam. Prinsip yang terdiri dari dua kekuatan ini saling melengkapi sehingga membentuk satu keseimbangan. Yin adalah suatu yang dilambangkan dengan air, bumi dan malam hari, sedangkan Yang adalah api, matahari dan siang hari. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ini terealisasi dalam aktivitas fisik maupun psikis yang wajib dilakukan, seperti bekerja. Aktivitas ini merupakan bagian dari bentuk keselarasan antara Yin dan Yang. Kedua konsep ini tidak terpisahkan karena sama-sama menjadi unsur pembentuk 93 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. No. Mei 2025 Dalam kaitannya dengan alam. Yin dan Yang selalu mengandaikan adanya dua unsur pembentuk yang tidak bisa dipisahkan. Ini menimbulkan keharmonisan alam semesta yang sampai pada kesejajaran antara manusia dengan alam. Wayan Widiana mengatakan bahwa manusia dan alam adalah sesuatu yang saling bersandar, dalam arti manusia tidak dipandang sebagai dua entitas terpisah, tetapi, merupakan bagian dari alam yang memiliki kesadaran dan kecerdasan. Dalam ilmu alam, segala benda yang ada di alam semesta terbentuk dari atom, yang merupakan unit terkecil dari Pemahaman ini sama dengan makna dari konsep Yin dan Yang . egatif dan positi. di mana ada dualisme yang tak terpisahkan. Yin dan Yang tidak hanya menjelaskan dualisme berlawanan, tetapi juga mendeskripsikan keseimbangan yang dinamis dalam alam. Keseimbangan Yin dan Yang yang bisa dilihat dari alam berupa siklus kehidupan, seperti kemarau dan hujan, panas dan dingin, dan sebagainya. Prinsip dualisme juga terdapat dalam diri manusia. Keseimbangan antara aspek rasional dan emosional, fisik dan spiritual, senang dan sedih, memberi dan menerima, mampu mengantar manusia pada pencapaian yang Menghidupi ajaran atau konsep ini dalam keseharian mampu membawa manusia pada kedamaian dan ketenangan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsep Yin dan Yang bukan hanya suatu refleksi akan keseimbangan alam tetapi juga suatu penegasan akan pentingnya hubungan manusia dengan alam. Taoisme mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, mengikuti alur dan tidak melawan alam itu secara paksa. Keharmonisan berfokus pada hubungan terpadu yang merupakan hasil interaksi dan perpaduan berbagai elemen (Wang, 2. Melalui konsep Yin dan Yang, hubungan antara manusia dan alam menjadi bentuk ekspresi yang menjamin kehidupan bersama dan saling Di sisi lain, terdapat konfusianisme salah satu aliran filsafat Timur yang berkembang pada sekitar abad V hingga IV SM dan digolongkan ke dalam filsafat moral dan etika. Konfusianisme menekankan aspek keharmonisan, kebajikan dan ketertiban sosial. Nama konfusianisme itu sendiri merujuk pada salah seorang filsuf besar dalam dinasti Chou, yaitu Confucius . ama yang dilatinkan, sedangkan dalam bahasa Cina dikenal sebagai KAoung Tzu atau Empu KAoun. (Soemargono, 1. Confusius lahir pada 551 SM di negara Lu bagian selatan provinsi Shantung. Cina bagian Timur. Dalam masa hidupnya. Confucius dikenal sebagai seorang pendidik. ingin murid-muridnya menjadi manusia yang utuh yang berguna bagi negara dan masyarakat (Fung-Yu Lan, 2. Oleh karena itu, ia mengembangkan beberapa ajaran atau konsep hidup yang diyakininya mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, seperti Ren . onsep kemanusiaan atau kebajika. Li . itus atau protoko. Xiao . erbakti kepada orang tua atau menghormati leluhu. Yi . onsep keadilan, moral dan integrita. serta Zhi . onsep kebijaksanaan dan pengetahua. Pertama. Ren . Dalam pandangan konfusianisme alam selalu dilihat dalam kaitannya dengan manusia. Ren atau kemanusiaan mengacu pada sikap kasih sayang, keikhlasan serta kebaikan dalam hubungan dengan seluruh ciptaan (Heriyanti, 2. Manusia dipandang sebagai makhluk yang memainkan peran penting dalam menjaga keutuhan ciptaan. Oleh karena itu, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga harmoni dalam alam semesta. 94 | Ledalogos Martinus Sau. Sebastianus Agor & Yoakim Ano Grevi Kedua. Li . Li berkaitan dengan perilaku atau tata krama yang mampu menjamin keteraturan serta keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat. Pemaknaan konsep Li dalam kehidupan bermasyarakat mencerminkan relasi yang baik pula dengan alam. Menghidupi konsep Li mendorong orang untuk semakin berintegritas dalam hidup (Arifin, 2. Ketiga. Xiao . enghormatan atau pengabdian kepada orang tua/leluhu. Hal ini berarti manusia berkewajiban untuk menghormati bumi yang adalah warisan dari Oleh karena itu, tindakan menghargai alam dipandang sebagai penghormatan kepada leluhur. Tindakan menghormati ini umumnya didasarkan pada kebiasaan yang tulus atas dasar cinta. Cintalah yang kemudian merekatkan ikatan keluarga dan mendorong anak-anak untuk memperlakukan orang tua mereka dengan perhatian, simpati dan rasa pengertian (Imandika. Dewi, & Hartati, 2. Keempat. Yi . eadilan, moral dan integrita. Konsep ini amat menekankan pentingnya melakukan tindakan-tindakan yang adil, benar dan berintegritas. Dalam kaitannya dengan alam, konsep ini menjadi basis larangan bagi manusia untuk mengeruk alam. Pengaktualisasian konsep Yi dalam kehidupan sehari-hari dapat menjamin keutuhan sumber daya alam. Kelima. Zhi . onsep tentang kebijaksanaan dan pengetahua. Menurut konfusianisme, kebijaksanaan perlu dimiliki oleh setiap individu. Kebijaksanaan dapat menuntun seseorang untuk mempertimbangkan dengan baik segala kemungkinan yang akan terjadi, sehingga bisa mendapatkan solusi yang terbaik dari setiap masalah yang dihadapi (Arifin, 2. Dalam kaitan dengan alam semesta, kebijaksanaan perlu dimiliki oleh setiap manusia. Manusia perlu bersikap futuristik, bukan terikat pada pertimbangan-pertimbangan praktis yang hanya menawarkan kebahagiaan yang bersifat sementara. Lebih lanjut, buddhisme merupakan ajaran yang berasal dari Siddhartha Gautama dan dianggap sebagai salah satu ajaran yang agung dan sempurna kepada segala makhluk di dalam sembilan alam kehidupan (Kung, 2. Sebagai sebuah ajaran, buddhisme hanya memberikan prinsip-prinsip dasar dan saran untuk membantu mencapai sesuatu, sedangkan selebihnya tergantung pada kemampuan Dalam buddhisme, standar atau patokan dalam menggapai pencerahan adalah pikiran, sehingga dalam alam pemikiran buddhisme bijaksanaan sejati selalu lahir dari pikiran yang murni. Dengan demikian, manusia hanya dapat mencapai kebebasan sejati kalau ia benar-benar menghayati ajaran yang ditawarkan buddhisme (Kung, 2. Salah satu ajaran termasyhur dari buddhisme yang membahas tentang keharmonisan adalah ahimsa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini diartikan sebagai ajaran agama Hindu dan Budha yang berarti tidak menyakiti makhluk apapun dan menghindari kekerasan (Rabbani, 2. Berdasarkan akar katanya . ahasa Sansekert. , ahimsa dipahami sebagai Auanti kekerasanAy yang menekankan prinsip menahan diri untuk tidak menyakiti makhluk hidup yang lain. Konsep ini mendorong manusia untuk memiliki rasa peduli terhadap makhluk hidup yang lain termasuk alam sekitar, sebab semua makhluk memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang. 95 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. No. Mei 2025 Di dalam lima pedoman hidup Buddha, ajaran tentang ahimsa menempati posisi pertama sebagai suatu ajakan untuk tidak menjadi penyebab bagi timbulnya penderitaan bagi makhluk lain. Apabila manusia membatasi setiap kebebasan segala makhluk maka kerugian tidak hanya dirasakan oleh satu pihak, tetapi juga manusia. Dengan demikian, ajaran ini berusaha menciptakan suatu ikatan yang dinamis dalam hubungan antara sesama makhluk hidup, terutama manusia dan alam. Artinya bahwa hubungan antar ciptaan hendaknya dibangun atas dasar saling menghormati. Aliran terakhir dalam filsafat Timur yang juga menggeluti tema keharmonisan adalah hinduisme. Hinduisme merupakan agama tertua di Asia dengan usia kitab sucinya yang berkisar 1400-1500 SM (Muliadi, 2. Dalam sejarahnya Hinduisme memiliki beragam doktrin yang terimplementasi dalam berbagai macam sekte. Hinduisme umumnya tersebar di India dan Nepal. Orang-orang Hindu sendiri menyebut agama mereka sanata dharma. Audharma abadiAy (Zaehner, 1. Istilah ini mengacu pada kewajiban "abadi" yang harus dijalankan oleh seluruh umat Hindu tanpa memandang derajat, kasta, atau aliran, seperti kejujuran, tidak menyakiti makhluk hidup, menjaga kesucian, berniat baik, pemaaf, bersabar, mengendalikan nafsu, mengendalikan diri sendiri dan murah hati. Secara etimologi, kata dharma berasal dari kata dhr- yang berarti Aumemegang, mempunyai, atau menjagaAy dari akar kata yang sama berasal dari kata latin firmus. AukuatAy dan forma bentuk (Zaehner. Paham atau ideologi hinduisme menekankan aspek tanggung jawab dari manusia atas alam dan ciptaan lainnya. Dalam arti bahwa, manusia sebagai agen utama dalam menjaga segala sesuatu di bumi. Dengan demikian, menjaga dan merawat alam atau menjalin relasi yang baik dan harmonis dengan segala ciptaan dipandang sebagai ibadah atau salah satu bentuk penghormatan terhadap Allah INTEGRASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MANGGARAI DAN FILSAFAT TIMUR Pepatah neka tapa satar, neka poka puar mengharuskan manusia untuk tidak mengeksploitasi alam sesuka hati, melainkan menjaga dan merawatnya karena alam menjamin manusia bisa bertahan hidup (Riberu, 2. Dalam hal ini, ada satu hal yang mesti dilakukan oleh manusia sebagai bentuk kewajiban moral, yakni mendahulukan kepentingan umum dan bukan mementingkan diri sendiri. Karena itu, masyarakat Manggarai dituntut untuk mengikuti pesan moral yang disepakati bersama, yakni neka tapa satar, neka poka puar sebagai cita-cita dari setiap pribadi dalam masyarakat. Pada hakikatnya masyarakat harus memiliki kesadaran sebagai makhluk sosial supaya masyarakat mampu melihat alam sekitar sebagai saudara. Dalam diri manusia, terdapat nilai-nilai yang ditanam dan disepakati secara bersamasama. Sangat penting jika manusia mampu menciptakan suatu ikatan dengan dunia di luar dirinya yaitu alam sekitar. Hal ini mencakup kehormatan atas keberadaan segala makhluk hidup sebagai ciptaan. Makna pepatah Manggarai neka tapa satar, neka poka puar diintegrasikan atau dihubungkan dengan prinsip keharmonisan yang terkandung dalam filsafat Timur serta bagaimana keduanya dapat diaktualisasikan dalam kehidupan dunia modern. 96 | Ledalogos Martinus Sau. Sebastianus Agor & Yoakim Ano Grevi Kesamaan Nilai antara Pepatah AuNeka Poka Puar. Neka Tapa SatarAy dan Prinsip Keharmonisan dalam Filsafat Timur Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa baik dalam kearifan lokal Manggarai maupun filsafat Timur ditemukan suatu prinsip yang sama, yakni bagaimana manusia seharusnya menyelaraskan hidupnya dengan alam dan bukan mengeksploitasi alam secara semena-mena. Berdasarkan pepatah neka tapa satar, neka poka puar masyarakat diajarkan untuk menghormati alam sebagai ibu bumi yang menyediakan segala macam kebutuhan manusia. Oleh karena itu, agar alam tetap menjadi penyedia kebutuhan manusia, maka sudah sepatutnya manusia menjaga keseimbangan alam dengan tidak menebang pohon secara sembarangan serta menjaga agar tanah tetap subur. Filsafat Timur juga menegaskan hal yang sama bahwa manusia harus menjaga keseimbangan dengan alam ciptaan. Dalam taoisme dikenal prinsip wu wei, yakni tidak memaksakan kehendak. Prinsip ini mau mengajarkan kepada manusia betapa pentingnya hidup seturut ritme alam. Selain itu, dalam buddhisme juga ditemukan konsep ahimsa yang berbicara tentang menjaga keseimbangan alam sebagai tanggung jawab manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri. Di sisi lain, konfusianisme menganjurkan agar manusia bertindak secara bijaksana dalam mengelola alam. Dalam hinduisme alam dipandang sebagai manifestasi dari yang ilahi yang lazim disebut sebagai Brahmana. Brahmana dipandang sebagai realitas tertinggi dan sumber dari segala sesuatu. Dengan pandangan yang demikian, maka masyarakat tentunya dituntut untuk menghormati, merawat serta bertanggung jawab atas alam Penghayatan Nilai sebagai Upaya Pelestarian Alam dalam Dunia Modern Salah satu fakta sosial yang sering dijumpai dewasa ini adalah adanya tindakan pengeksploitasian alam secara berlebihan yang berakibat pada deforestasi, pencemaran tanah serta perubahan iklim yang tidak menentu. Oleh karena itu, penghayatan pepatah Manggarai serta filsafat Timur dapat menjadi basis untuk kebijakan dan praktik yang berkelanjutan. Pepatah neka poka puar dapat menjadi dasar dalam kebijakan pelestarian alam dengan tidak menebang pohon secara liar dan memulai dengan upaya reboisasi serta menerapkan prinsip tebang pilih. Atau pepatah neka tapa satar dapat dijadikan sebagai basis untuk kebijakan yang menekankan keharmonisan ciptaan, di mana manusia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi juga ciptaan lain. Dengan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam pepatah Manggarai tersebut dan filsafat Timur, manusia akhirnya dituntun pada pola pikir yang lebih ramah lingkungan, memahami tindakan pengeksploitasian alam yang dapat merugikan keutuhan ciptaan. Melalui penghayatan nilai-nilai tersebut, manusia diarahkan untuk menerapkan kebijakan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Di sisi lain, manusia juga diarahkan untuk menjadi makhluk yang peduli dengan lingkungan sekitarnya, bukan hanya pada taraf teoretis tetapi juga pada taraf praktis. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dipahami dan dimengerti harus diwujudnyatakan melalui tindakan nyata. Karena itu, sebagai makhluk bermartabat, rasional dan produktif, nilai-nilai moral dan regulasi yang disepakati bersama haruslah dijalankan dan diwujudnyatakan melalui tindakan yang konkret. 97 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. No. Mei 2025 PENUTUP Neka tapa satar, neka poka puar merupakan filosofi atau pandangan hidup orang Manggarai yang memandang alam sebagai AuybuAy yang selalu menyediakan kebutuhan dari anak-anaknya. Pepatah ini mengandung makna yang sangat mendalam terkait bagaimana seharusnya manusia memperlakukan alam. Secara harfiah neka tapa satar berarti jangan membakar hutan. Hal ini berkaitan dengan prinsip keharmonisan dengan alam. Manusia diminta untuk menghormati segala ciptaan yang ada dalam alam dengan tidak membakar hutan sembarangan. Sedangkan neka poka puar berarti jangan menebang pohon. Frasa ini berangkat dari kepedulian sosial masyarakat Manggarai tempo dulu yang menebang pohon secara liar agar memudahkan mereka dalam berburu. Dengan situasi yang demikian, maka lahirlah kedua frasa di atas, yakni neka poka puar, neka tapa satar. Pepatah ini umumnya dilihat oleh orang Manggarai sebagai salah satu ajakan untuk melindungi alam dan memanfaatkannya secara etis. Tema tentang menjaga keharmonisan dengan alam tampaknya tidak hanya ditemukan dalam prinsip hidup orang Manggarai tetapi juga dalam filsafat Timur. Filsafat Timur merupakan tradisi pemikiran yang berkembang di wilayah Asia seperti Cina. India Jepang dan sebagainya. Filsafat Timur memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan filsafat Barat. Filsafat Barat umumnya sangat menekankan rasionalitas dan logika analitis sedangkan filsafat Timur menekankan hubungan yang harmonis antara alam dan manusia. Oleh karena itu, dalam filsafat Timur muncul aliran-aliran yang begitu getol memperjuangkan prinsip keharmonisan, seperti buddhisme, konfusianisme, taoisme, hinduisme dan lain sebagainya. Buddhisme didirikan pertama kali oleh Sidharta Gautama. Salah satu konsepnya yang terkenal adalah Ahimsa yang menekankan pentingnya kesejahteraan bersama dalam alam dengan tidak melukai makhluk hidup lain. Ciptaan sudah semestinya hidup dalam kasih dan kedamaian. Sedangkan, konfusianisme didirikan oleh filsuf Tiongkok Confucius. Aliran ini lebih menekankan moralitas, etika dan keharmonisan. Karena itu relasi yang baik dengan alam dipandang sebagai satu struktur moral yang Sementara di sisi lain taoisme berasal dari Cina yang menekankan jalan/tao atau prinsip dasar alam semesta. Taoisme amat menekankan prinsip kehidupan yang selaras dengan alam dengan mengikuti alur yang sudah ada dalam alam. Salah satu konsep yang terkenal dalam taoisme adalah yin dan yang, dua kekuatan yang saling melengkapi sehingga dapat menciptakan keseimbangan dalam alam semesta. Akhirnya, dalam hinduisme alam dipandang sebagai manifestasi dari realitas Karena itu, tindakan menghormati dan merawat alam dipandang sebagai penghormatan kepada yang ilahi. Dalam hinduisme terdapat tiga pilar pokok yang menyokong keselarasan alam, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama dan hubungan dengan alam. Penghayatan terhadap ketiga nilai tersebut turut mempengaruhi relasi manusia dengan Tuhan serta ciptaan lainnya di Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa pengintegrasian antara nilai yang terkandung dalam pepatah Manggarai neka poka puar, neka tapa satar dengan filsafat Timur dapat mendorong terciptanya suatu kehidupan yang harmonis antar semua Alam hanya akan dapat menyediakan kebutuhan manusia apabila manusia 98 | Ledalogos Martinus Sau. Sebastianus Agor & Yoakim Ano Grevi bertanggung jawab merawat dan menjaga alam agar tetap lestari. Selain itu, pemaknaan terhadap keduanya juga dapat mempengaruhi para pengambil kebijakan untuk memperhatikan keutuhan ciptaan dengan tidak mengambil kebijakan yang gegabah dan terburu-buru yang berdampak negatif terhadap keutuhan alam ciptaan. DAFTAR PUSTAKA