JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 PENGARUH TOXIC LEADERSHIP. EMOTIONAL INTELLIGENCE DAN JOB INSECURITY TERHADAP BURNOUT KARYAWAN PADA RICHEESE FACTORY KOTA PALEMBANG Sunarti1. Destia Aktarina2. Sri Porwani3. Echi Kurniati4. Imam Heryanto5 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mulia Darma Pratama1,3,4,5 Akademi Keuangan dan Perbankan2 narrsun28@gmail. com1, destiaaktarina86@gmail. com2, porwani@gmail. ek@gmail. com4, imamher2019@gmail. ABSTRAK Penelitian ini di latar belakangi oleh fenomena burnout yang semakin meningkat di industri makanan cepat saji akibat tingginya tuntutan kerja, kepemimpinan yang tidak sehat, rendahnya kecerdasan emosional, serta rasa tidak aman dalam pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh toxic leadership, emotional intelligence, dan job insecurity terhadap burnout karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif verifikatif, populasi berjumlah 50 karyawan dari tiga outlet Richeese Factory dengan teknik sampling jenuh, data diperoleh melalui kuesioner, dan studi pustaka, serta dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial toxic leadership berpengaruh positif signifikan terhadap burnout, emotional intelligence berpengaruh negatif signifikan terhadap burnout, dan job insecurity berpengaruh positif signifikan terhadap burnout, sedangkan secara simultan ketiganya berpengaruh signifikan terhadap burnout. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang toksik dan ketidakamanan kerja meningkatkan burnout, sementara kecerdasan emosional mampu menurunkannya. Perlunya perbaikan gaya kepemimpinan, peningkatan pelatihan kecerdasan emosional, serta menciptakan rasa aman kerja agar risiko burnout dapat diminimalkan. Kata kunci: Kepemimpinan Destruktif. Kecerdasan Emosional. Ketidakamanan Kerja. Kelelahan Kerja ABSTRACT Burnout is becoming increasingly prevalent in the fastfood industry due to high work demands, poor leadership, low emotional intelligence, and job insecurity. This study aims to analyze the effects of toxic leadership, emotional intelligence, and job insecurity on employee burnout at Richeese Factory in Palembang. The study used a quantitative method with a descriptive-verificative approach, with a population of 50 employees from three Richeese Factory outlets using a saturated sampling technique. Data were obtained through questionnaires, interviews, and literature studies, and analyzed using multiple linear regression with SPSS version 27. The results show that toxic leadership, emotional intelligence and job insecurity all have a significant effect on burnout, with toxic leadership having a positive effect and emotional intelligence and job insecurity having negative effects. This study concludes that toxic leadership and job insecurity increase burnout, while emotional intelligence can reduce it. To minimise the risk of burnout, there is a need to improve leadership styles, enhance emotional intelligence training, and create a sense of job security. Keywords: Toxic Leadership. Emotional Intelligence. Job Insecurity. Burnout PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam era globalisasi dan perkembangan industri yang semakin pesat, setiap perusahaan dituntut untuk terus meningkatkan efisiensi dan produktivitas agar mampu bersaing di tengah persaingan yang kompetitif. Sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen inti dalam setiap organisasi karena peran strategisnya dalam mengelola, mengarahkan, dan menjalankan berbagai aktivitas operasional untuk mencapai tujuan perusahaan. Menurut Hasibuan, . sumber daya manusia adalah tenaga kerja yang siap, mampu, dan terampil yang menjadi penggerak utama dalam setiap proses organisasi, tidak hanya sebagai alat produksi tetapi juga sebagai subjek yang mengatur dan mengembangkan potensi Menurut Karina et al. , . Sumber JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 daya manusia merupakan bagian terpenting perusahaan karena merupakan penggerak utama untuk menunjang produktivitas perusahaan. Berhasil atau tidaknya suatu organisasi tersebut dipengaruhi oleh sumber daya manusia karena tanpa peran manusia meskipun faktor lain telah terpenuhi, organisasi tidak akan dapat berjalan dengan baik, apabila individu dalam sumber daya manusia berjalan efektif maka organisasi akan berjalan efektif pula, dengan kata lain kelangsungan suatu organisasi atau perusahaan ditentukan oleh manajemen sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, kualitas dan kondisi psikologis SDM perlu mendapat perhatian khusus, terutama dalam menghadapi tekanan kerja yang tinggi. Sumber daya manusia menjadi aset penting dalam mencapai keunggulan Kinerja optimal dari karyawan akan sangat menentukan keberhasilan suatu organisasi, termasuk dalam industri makanan cepat saji yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan pelayanan prima dalam proses operasionalnya. Namun, tingginya tuntutan kerja yang dihadapi karyawan seringkali menimbulkan tekanan yang dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis Salah satu isu penting yang semakin mendapat perhatian adalah burnout atau kelelahan kerja, yaitu kondisi psikologis yang dialami oleh individu di tempat kerja akibat stres pekerjaan yang berkepanjangan. Kondisi ini ditandai dengan perasaan kelelahan emosional, depersonalisasi, dan pencapaian pribadi yang berkurang (Wanzhi, 2. Burnout dapat berdampak langsung terhadap produktivitas, keterlibatan, dan efektivitas kerja karyawan, menyebabkan turnover dan menurunnya kualitas layanan dalam organisasi (Anjani et al. , 2. Sebagai elemen kunci dalam organisasi, sumber daya manusia tidak hanya dituntut untuk berkinerja optimal, tetapi juga menghadapi tekanan yang tinggi dalam proses pencapaian target organisasi, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memicu gejala burnout (Nugroho & Lestari, 2. Burnout umumnya timbul akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan yang tinggi dengan dukungan yang rendah dari lingkungan kerja (Sari & Hidayati, 2. Oleh karena itu, perusahaan harus memperhatikan kesejahteraan psikologis karyawan sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam menjaga stabilitas dan kinerja organisasi. Kurniati & Kadarsih, . menjelaskan bahwa kualitas hubungan interpersonal dalam organisasi sangat menentukan kondisi psikologis individu, kurangnya empati dan komunikasi dalam interaksi pelayanan dapat menurunkan kepuasan, yang menunjukkan bahwa aspek psikologis dan sosial berperan penting dalam mencegah maupun memperburuk burnout. Menurut Utami & Saputra, . Burnout tidak hanya dipicu oleh beban kerja yang berat, tetapi juga oleh kurangnya kepemimpinan yang suportif, rendahnya pengakuan atas prestasi kerja, serta minimnya otonomi dalam pengambilan keputusan. Selain itu Prasetyo et al. mengidentifikasi sejumlah faktor signifikan yang berkontribusi terhadap burnout pada karyawan, yakni kepemimpinan toksik . oxic leadershi. , rendahnya kecerdasan . motional ketidakamanan kerja . ob insecurit. Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menyoroti kurangnya dukungan sosial dari rekan kerja dan atasan, ketidaksesuaian antara nilai pribadi dengan budaya organisasi, serta konflik peran dan ambiguitas tugas sebagai pemicu yang memperparah kondisi burnout. Dengan memperhatikan berbagai faktor penyebab tersebut, peneliti mengambil variabel Toxic Leadership. Emotional Intelligence dan Job Insecurity terhadap Burnout Karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang. Menurut Karina et al. , . Kepemimpinan Operasional perusahaan bergantung pada seberapa baik dan usaha pemimpin mengelola, memberi arahan, membuat mempengaruhi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu. Untuk itu kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dan dalam mewujudkan tujuan organisasi yang telah di Menurut Kusumawati & Rachmawati, . psikologis, ditandai dengan perilaku otoriter, manipulatif, tidak adil, dan tidak mendukung Pemimpin yang toksik menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan dan tidak nyaman, sehingga menurunkan motivasi dan JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 semangat kerja karyawan. Menurut Shary & Alamsyah, . Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosiona. adalah kemampuan mengelola dan memahami emosi diri sendiri dan orang lain sangat penting untuk menghadapi tekanan kerja. Emotional intelligence yang tinggi mampu mengurangi gejala burnout. Menurut Goleman 1995 yang dikutip oleh Oktaviani & Rachmawati, . emotional intelligence adalah kemampuan individu dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Karyawan yang memiliki kecerdasan emosional rendah akan lebih rentan terhadap tekanan kerja, mudah stres, serta kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal di tempat kerja. Hal ini menjadikan mereka lebih berisiko mengalami burnout karena tidak mampu menghadapi dinamika emosional di lingkungan kerja dengan baik. Menurut Afizah & Syamantha, . Job Insecurity (Ketidakpastian Kerj. adalah perasaan cemas terhadap keberlangsungan Ketidakpastian ini bisa menguras energi emosional dan fisik, memicu kecemasan dan pada akhirnya meningkatkan risiko burnout. Menurut Wicaksono & Handayani, . Job insecurity adalah perasaan tidak aman dan cemas atas keberlangsungan pekerjaan, yang sering kali timbul akibat kebijakan organisasi, kontrak kerja tidak tetap, atau perubahan struktur Ketidakpastian ini menciptakan tekanan mental yang konstan, membuat karyawan merasa tidak stabil dan kehilangan motivasi kerja. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi kelelahan emosional yang serius atau burnout. Richeese Factory adalah sebuah perusahaan yang berdiri pada tahun 2011 di Paris Van Java Mal. Bandung. Jawa Barat. Richeese Factory dikenal sebagai restoran cepat saji yang menyajikan menu utama olahan ayam krispi dengan saus keju dan saus barbeque pedas dengan tingkat kepedasan yang berbeda Ae beda. Richeese Factory merupakan sebuah jaringan restoran cepat saji yang dimiliki oleh PT. Richeese Kuliner Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari PT. Kaldu Sari Nabati Indonesia. Richeese Factory terus tumbuh dan semakin dikenal dan digemari oleh masyarakat, outletnya telah berkembang pesat di kota Ae kota besar Indonesia. Hingga Oktober 2023 Richeese Factory telah memiliki 238 Outlet di Indonesia dan bahkan telah merambah pasar internasional dengan membuka gerai di Kuala Lumpur. Malaysia (Factory, 2. Dalam penelitian ini peneliti akan membahas Richeese Factory yang ada di kota palembang, dimana sudah terdapat 9 Outlet yang tersebar di seluruh Kota Palembang diantaranya Richeese Factory Abdul Razak. Richeese Factory Sumpah Pemuda. Richeese Factory Plaju. Richeese Factory Opi Mall. Richeese Factory Simpang Bandara. Richeese Factory Sudirman. Richeese Factory Dermaga. Richeese Factory Burlian dan Richeese Factory Lemabang. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil tiga dari sembilan outlet Richeese Factory yang tersebar di Kota Palembang yakni Richeese Factory Sumpah Pemuda. Richeese Factory Plaju. Richeese Factory Opi Mall sebagai objek Dalam beberapa tahun terakhir, industri makanan cepat saji mengalami pertumbuhan yang pesat di Indonesia(Safitri et al. , 2. Salah satu pemain utama di industri ini adalah Richeese Factory, termasuk cabangnya yang berada di Kota Palembang. Di tengah tuntutan produktivitas tinggi, pelayanan cepat, dan standar kerja yang ketat, muncul fenomena kelelahan kerja atau burnout yang semakin dirasakan oleh para burnout ini terlihat dari gejala-gejala seperti penurunan motivasi kerja, meningkatnya tingkat keterlambatan, rendahnya antusiasme dalam melayani pelanggan, hingga sikap acuh terhadap kualitas pekerjaan. Dari hasil observasi awal dan perbincangan informal dengan beberapa karyawan Richeese Factory Sumpah Pemuda. Richeese Factory Plaju dan Richeese Factory Opi Mall, diketahui bahwa munculnya burnout tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal organisasi. Salah satu faktor yang menonjol adalah gaya kepemimpinan yang bersifat toksik . oxic leadershi. Beberapa karyawan menyampaikan bahwa mereka merasa ditekan secara berlebihan oleh atasan, tidak mendapatkan penghargaan atas kerja keras mereka, serta kurangnya komunikasi dan Kepemimpinan yang tidak sehat ini membuat JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 karyawan merasa terasing dan tidak dihargai. Selain itu, temuan lain yang mencuat adalah rendahnya kecerdasan emosional . motional intelligenc. pada sebagian karyawan, terutama dalam mengelola emosi saat menghadapi beban kerja dan tekanan dari Hal ketidakmampuan untuk merespon tekanan kerja dengan cara yang sehat, sehingga menimbulkan stres berkepanjangan yang memicu burnout. sisi lain, terdapat juga kecenderungan rasa tidak aman terhadap pekerjaan . ob insecurit. , khususnya pada karyawan kontrak yang merasa posisi mereka tidak stabil dan bisa digantikan kapan saja. Kondisi ini menambah tekanan psikologis yang berpotensi menurunkan semangat kerja dan loyalitas terhadap perusahaan. Temuan ini menandakan bahwa burnout di lingkungan kerja Richeese Factory Sumpah Pemuda. Richeese Factory Plaju dan Richeese Factory Opi Mall bukan hanya disebabkan oleh beban kerja semata, melainkan juga oleh dinamika kepemimpinan, kondisi psikologis individu, dan rasa aman dalam bekerja. Jika tidak segera ditangani, burnout dapat menurunkan meningkatkan angka turnover, serta berdampak negatif terhadap citra dan produktivitas Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Millennia, . dengan judul AuPengaruh Toxic Leadership. Beban Kerja dan Faktor Demografis terhadap Burnout Karyawan di JabodetabekAy menunjukkan bahwa toxic leadership, beban kerja, dan faktor demografis seperti usia dan jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap burnout karyawan di wilayah Jabodetabek. Penelitian ini menemukan bahwa sebanyak 35,1% variabel burnout dapat dijelaskan oleh ketiga faktor tersebut. Temuan menarik dalam studi ini adalah dimensi selfpromotion dan performance dari toxic leadership yang terbukti berkontribusi signifikan terhadap peningkatan burnout. Selanjutnya Shary & Alamsyah, . dengan judul penelitian AuPengaruh Self Efficacy dan Job Insecurity terhadap Burnout karyawan di Indorama Technologies Complex PurwakartaAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self efficacy memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap burnout, sementara job insecurity justru memberikan pengaruh positif yang signifikan. Secara simultan, kedua variabel ini memengaruhi burnout sebesar 15,2%, menandakan pentingnya kondisi psikologis internal dan persepsi keamanan kerja dalam menurunkan risiko burnout. Penelitian lain oleh Afizah & Syamantha, . dengan judul penelitian AuPengaruh Emotional Intelligence terhadap Burnout Karyawan pada PT Charoen PokphandAy. Hasil intelligence memberikan pengaruh sebesar 60,7% terhadap burnout. Dengan kata lain, semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki karyawan, maka semakin rendah tingkat burnout yang dialaminya. Hal ini menegaskan bahwa kemampuan untuk mengelola emosi diri dan memahami emosi orang lain merupakan faktor penting dalam menghadapi tekanan kerja. II. METODELOGI PENELITIAN Locus Penelitian Penelitian ini dilakukan di Richeese Factory Kota Palembang cabang Sumpah Pemuda yang beralamat di Jl. Sumpah pemuda No. Lorok Pakjo Kec. Ilir Barat I Kota Palembang. Richeese Factory cabang Plaju yang beralamat di Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 1020 Kel. 9/10 Ulu Kec. Seberang Ulu II Kota Palembang Sumatera Selatan 30116 dan Richeese Factory cabang Opi Mall yang beralamat di : Jl. Gubernur H. Bastari No. 16 Kel. Sungai Kedukan Kec. Rambutan Kota Palembang Sumatera Selatan Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah karyawan Richeese Factory Sumpah Pemuda. Richeese Fcatory Plaju dan Richeese Factory Opi Mall. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Richeese Factory sumpah pemuda sebanyak 25 karyawan, seluruh karyawan Richeese Factory Plaju sebanyak 15 karyawan dan seluruh karyawan Richeese Factory Opi Mall sebanyak 10 karyawan dengan total 50 Penelitian ini menggunakan metode yaitu JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 Sampling jenuh. Menurut Sugiyono, . Sampling jenuh merupakan teknik penentuan sampel dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, seluruh anggota populasi menjadi anggota dari kerangka sampel. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 50 orang, yang terdiri dari seluruh karyawan Richeese Factory sumpah pemuda sebanyak 25 karyawan, seluruh karyawan Richeese Factory Plaju sebanyak 15 karyawan dan seluruh karyawan Richeese Factory Opi Mall sebanyak 10 Pemilihan metode ini didasarkan pada tujuan untuk memastikan bahwa hasil penelitian representatif terhadap populasi dan bebas dari bias dalam proses pengambilan sampel. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono, . data kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan positivistic . ata konkri. , data penelitian berupa angkaangka yang akan diukur menggunakan statistik sebagai alat uji perhitungan, berkaitan dengan masalah yang diteliti untuk menghasilkan suatu Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penilitian ini menggunakan kuisioner, dan studi pustaka Kuesioner Kuesioner Merupakan sebuah instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang dirancang untuk mengumpulkan informasi dari responden yang berkaitan dengan variabel yang sedang diteliti. Jawaban yang masih kategoris tersebut kemudian diubah dengan cara diberi nilai . berskala, skala yang digunakan adalah skala likert yang digunakan 1 sampai 5, dengan pemetaan sebagai berikut: Skala 5 = Sangat Setuju (SS) Skala 4 = Setuju (S) Skala 3 = Netral (N) Skala 2 = Tidak Setuju (TS) Skala 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Studi Pustaka Studi pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menganalisis berbagai literatur, dokumen, buku, jurnal, artikel ilmiah, laporan, serta sumber informasi lainnya yang relevan dengan topik penelitian yang sedang dilakukan. Studi ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang teori, konsep, dan temuan memberikan landasan teoretis yang kuat serta Dengan demikian, studi pustaka memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi, informasi dari berbagai sumber, serta mengidentifikasi celah penelitian atau masalah yang belum terpecahkan. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode verifikatif. Metode verifikatif merupakan metode penelitian melalui pembuktian untuk menguji hipotesis hasil penelitian deskriftif dengan perhitungan statistik sehingga didapat hasil pembuktian yang menunjukkan hipotesis ditolak dan diterima (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas Uji validitas adalah untuk mengukur kelayakan butir-butir dalam suatu pernyataan dengan variabel. Uji ini dilakukan untuk mengukur data yang telah didapat setelah Validitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur melakukan tugasnya dalam mencapai sasarannya. Data yang diperoleh melalui kuesioner dapat menjawab tujuan penelitian, untuk memperoleh hasil yang tearah dengan kriteria sebagai berikut: Jika rhitung > rtabel maka pernyataan dinyatakan Jika rhitung < rtabel maka pernyataan dinyatakan tidak valid. Adapun hasil dari uji validitas dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1 Hasil Uji Validitas Variabel Toxic Leadership (X. Nilai Nilai Ket 0,766 0,750 0,2787 0,2787 Valid Valid JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 Pernyataan 1 0,776 0,2787 Valid Pernyataan 2 0,845 0,2787 Valid Pernyataan 3 0,660 0,2787 Valid Pernyataan 4 0,833 0,2787 Valid Pernyataan 5 0,624 0,2787 Valid Pernyataan 6 0,737 0,2787 Valid Pernyataan 7 0,766 0,2787 Valid Pernyataan 8 0,808 0,2787 Valid Pernyataan 9 Pernyataan 10 2 Emotional Intelligence (X. 0,864 0,2787 Valid Pernyataan 1 0,874 0,2787 Valid Pernyataan 2 0,786 0,2787 Valid Pernyataan 3 0,832 0,2787 Valid Pernyataan 4 0,777 0,2787 Valid Pernyataan 5 0,806 0,2787 Valid Pernyataan 6 0,876 0,2787 Valid Pernyataan 7 0,879 0,2787 Valid Pernyataan 8 0,729 0,2787 Valid Pernyataan 9 0,869 0,2787 Valid Pernyataan 10 3 Job Insecurity (X. 0,900 0,2787 Valid Pernyataan 1 0,884 0,2787 Valid Pernyataan 2 0,832 0,2787 Valid Pernyataan 3 0,844 0,2787 Valid Pernyataan 4 0,750 0,2787 Valid Pernyataan 5 0,874 0,2787 Valid Pernyataan 6 4 Burnout (Y) Pernyataan 1 0,834 0,2787 Valid Pernyataan 2 0,790 0,2787 Valid Pernyataan 3 0,897 0,2787 Valid Pernyataan 4 0,826 0,2787 Valid Pernyataan 5 0,861 0,2787 Valid Pernyataan 6 0,859 0,2787 Valid Pernyataan 7 0,873 0,2787 Valid Pernyataan 8 0,810 0,2787 Valid Sumber : data hasil olahan menggunakan SPSS 27 Berdasarkan perbandingan antara rhitung dan rtabel dari masingmasing pernyataan-pernyataan. Untuk menentukan rtabel yaitu df . erajat kebebasa. = n . anyaknya sampe. Ae 2, sehingga df = 50 Ae 2 = 48, maka nilai rtabel pada taraf signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi adalah 0,2787 . ihat pada lampiran tabel . Karena semua pernyataanpernyataan pada masing masing variabel nilai rhitung lebih besar dari rtabel maka dapat disimpulkan bahwa semua pernyataan instrumen adalah valid. Uji Reliabilitas Uji menunjukkan konsistensi dari jawaban responden terhadap pernyataan yang terdapat pada kuesioner dimana telah diuji validitasnya. Suatu instrumen yang dipakai dalam variabel dikatakan handal . bila memiliki koefisien CronbachAos Alpha lebih dari 0,70 (Ghozali, 2. Tabel 2. Tingkat Reliabilitas Nilai Cronbach's Alpha () Ou 0,90 0,70 O < 0,90 < 0,70 Sumber: (Ghozali, 2. Tingkat Reliabilitas Sangat reliable Reliabel Tidak reliable Hasil uji reliabilitas pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini: Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas Variabel (X. (X. (X. (Y) CronbachAos Alpha 0,916 0,949 0,921 0,942 Nilai Minimal 0,70 0,70 0,70 0,70 Ket Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber : data hasil olahan menggunakan SPSS 27 Berdasarkan tabel 3 hasil uji reliabilitas dapat diketahui bahwa variabel toxic Leadership (X. , emotional Intelligence (X. , job Insecurity (X. , dan burnout karyawan (Y) memiliki nilai lebih besar dari 0,70. Variabel toxic leadership, emotional intelligence, job insecurity dan burnout karyawan tersebut dikatakan handal . untuk digunakan sebagai alat ukur karena nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,70. Uji Normalitas Uji mengetahui apakah sebaran data berbentuk distribusi normal atau tidak. Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: Jika Sig > 0,05 maka data berdistribusi Jika Sig < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 Adapun hasil dari uji normalitas dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah Tabel 4 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Mean Most Extreme Differences Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. c Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Sumber : data hasil olahan menggunakan SPSS 27 Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa nilai signifikan Asymp. Sig . 0,200 lebih besar dari 0,05. Maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas KolmogorovSmirnov diatas, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis digunakan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk membuktikan hipotesis mengenai pengaruh toxic Leadership (X. , emotional intelligence (X. , job insecurity (X. , dan burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Kota Palembang. Perhitungan statistik dalam analisis regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan alat bantu yaitu program aplikasi statistik SPSS 27. Hasil pengolahan data dengan menggunakan alat bantu program aplikasi statistik SPSS 27 selengkapnya ada pada lampiran dan selanjutnya dijelaskan pada tabel berikut ini: Tabel 5. Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Std. Error (Constan. Toxic Emotional Job insecurity Dependent Variable: Burnout Stand Coeffi Beta Sig. Sumber : data hasil olahan menggunakan SPSS 27 Jika Sig > 0,05 maka data berdistribusi Jika Sig < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal Dari tabel 5 hasil tersebut berdasarkan unstandardized coefficients beta maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = a b1X1 b2X2 b3X3 e Y = -6. 335X1 0. 203X2 0,672X3 e Keterangan: : Burnout Karyawan : Toxic Leadership : Emotional Intelligence : Job Insecurity : Konstanta : error b1, b2, b3 : Koefisien Regresi Persamaan regresi linear berganda tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Koefisien konstanta sebesar -6. 195, artinya apabila toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. dan job insecurity (X. bernilai 0, maka burnout karyawan (Y) mamiliki nilai -6. Koefisien regresi variabel toxic leadership (X. 335 menunjukan bahwa apabila toxic leadership (X. mengalami kenaikan 1%, maka burnout karyawan (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,335 dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. Koefisien ini bernilai positif yang berarti terdapat pengaruh positif antara toxic leadership dan burnout karyawan. Koefisien intelligence (X. sebesar 0,203 menunjukan bahwa apabila emotional intelligence (X. JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 mengalami kenaikan 1%, maka burnout karyawan (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,203 dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. Koefisien ini bernilai positif yang berarti terdapat pengaruh positif antara emotional intelligence dan burnout karyawan. Koefisien regresi variabel job insecurity (X. sebesar 0,672 menunjukan bahwa apabila job insecurity (X. mengalami kenaikan 1%, maka burnout karyawan (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,672 dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. Koefisien ini bernilai positif yang berarti terdapat pengaruh positif antara job insecurity dan burnout karyawan. Pengujian Secara Parsial (Uji . Uji t digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel bebas yaitu variabel toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. , job insecurity (X. secara parsial mempuyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat yaitu variabel burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Kota Palembang. Adapun hasil uji t pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini: Tabel 6 Hasil Uji Parsial (Uji . Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Std. Error (Constan. Toxic Emotional Job insecurity Dependent Variable: Burnout Standard Coefficie Beta Sig. Sumber : data hasil olahan menggunakan SPSS 27 Kriteria pengambilan keputusan : - Jika thitung < ttabel berarti Ho diterima dan Ha - Jika thitung > ttabel berarti Ho ditolak dan Ha Berdasarkan tabel 6 hasil uji parsial (Uji . dapat dijelaskan bahwa: Variabel Toxic Leadership (X. Hasil pengujian diperoleh thitung sebesar 3,627 dengan nilai signifikan sebesar 0,001. Nilai ttabel pada taraf signifikasi 0,05 dengan df . erajat kebebasa. = n . anyaknya sampe. Ae k . umlah variabel beba. Ae 1 maka df = 50 Ae 3 Ae 1 = 46, sehingga nilai thitung 3,627 > ttabel 2,013 dan nilai signifikasinya 0,001 < 0,05 dapat disimpulkan hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak artinya variabel toxic leadership (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Variabel Emotional Intelligence (X. Hasil pengujian diperoleh thitung sebesar 2,601 dengan nilai signifikan sebesar 0,012. Nilai ttabel pada taraf signifikasi 0,05 dengan df . erajat kebebasa. = n . anyaknya sampe. Ae k . umlah variabel beba. Ae 1 maka df = 50 Ae 3 Ae 1 = 46, sehingga nilai thitung 2,601 > ttabel 2,013 dan nilai signifikasinya 0,012 < 0,05 dapat disimpulkan hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak artinya variabel emotional intelligence (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Variabel Job Insecurity (X. Hasil pengujian diperoleh thitung sebesar 5,646 dengan nilai signifikan sebesar 0,000. Nilai ttabel pada taraf signifikasi 0,05 dengan df . erajat kebebasa. = n . anyaknya sampe. Ae k . umlah variabel beba. Ae 1 maka df = 50 Ae 3 Ae 1 = 46, sehingga nilai thitung 5,646 > ttabel 2,013 dan nilai signifikasinya 0,000 < 0,05 dapat disimpulkan hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak artinya variabel job insecurity (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Pengujian Secara Simultan (Uji F) Uji F dilakukan untuk melihat secara simultan apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Metode yang digunakan uji F terhadap signifikansi model regresi yang menunjukkan mampu tidaknya model atau persamaan yang terbentuk dalam memprediksi nilai variabel terikat dengan tepat. Adapun hasil dari uji f pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 7 dibawah ini: Tabel 7 Hasil Uji Simultan (Uji . ANOVAa JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 Sum of Model Squares Mean Square Sig. Regression Residual Total Dependent Variable: Burnout Predictors: (Constan. Job insecurity. Toxic leadership. Emotional intelligence Sumber : data hasil olahan menggunakan SPSS 27 Kriteria pengambilan keputusan: - Jika Fhitung > Ftabel. H0 ditolak dan HA diterima. - Jika Fhitung < Ftabel. H0 diterima dan HA ditolak. Berdasarkan tabel 7 hasil uji F pada tabel diperoleh Fhitung sebesar 17,752 dengan nilai signifikasi sebesar 0. 000, pada taraf signifikasi 05 yang didapat dari df . erajat kebebasa. = n . anyaknya sampe. Ae K . umlah variabel beba. Ae 1 atau df = 50 Ae 3 Ae 1 = 46 hasil diperoleh untuk Ftabel sebesar 2,81 . ihat pada lampiran uji F), jadi kesimpulannya Fhitung 17,752 > dari Ftabel 2,81 dan tingkat signifikasi 0,000 < 0,05, maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya variabel toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. , dan job insecurity (X. berpengaruh secara simultan terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Kota Palembang. Koefisien Determinasi (R. Koefisien determinasi ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai koefisien determinasi untuk variabel bebas lebih dari dua digunakan Adjusted R Square sebagai berikut: Tabel 8 Koefisien Determinasi (R. Model Summaryb Adjusted R Std. Error of Model R Square Square the Estimate Predictors: (Constan. Job insecurity. Toxic leadership. Emotional intelligence Dependent Variable: Burnout Sumber : data hasil olahan menggunakan SPSS 27 Uji nilai koefisien determinasi bertujuan untuk menunjukan persentase tingkat kebenaran dari prediksi penguji regresi yang dilakukan, semakin besar Adjusted R Square maka semakin besar variasi dari variabel dapat dijelaskan oleh variabel bebas. Koefisien determinasi Adjusted R Square yang diperoleh adalah 0,506, nilai ini menunjukan bahwa 50,6% burnout karyawan (Y) dipengaruhi oleh toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. , dan job insecurity (X. dan sisanya 49,4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Pembahasan Variabel (X. berpengaruh secara signifikan terhadap burnout karyawan (Y) hasil pengujian diperoleh thitung 3,627 > ttabel 2,013 dan nilai signifikan 0,001 < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak yang artinya bahwa variabel toxic leadership (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Millennia, . dengan judul AuPengaruh Toxic Leadership. Beban Kerja, dan Faktor Demografis Terhadap Burnout Karyawan di JabodetabekAy, menunjukkan bahwa toxic leadership dan beban kerja berpengaruh positif signifikan terhadap burnout karyawan di wilayah Jabodetabek. Namun, faktor demografis dalam penelitian ini tidak berpengaruh signifikan terhadap burnout. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Nunes & Palma-Moreira, . dengan judul AuToxic Leadership and Turnover Intentions: The Role of Burnout SyndromeAy yang dipublikasikan dalam jurnal MDPI, menunjukkan bahwa toxic leadership berpengaruh positif signifikan terhadap burnout, dan burnout berperan sebagai mediator dalam hubungan antara toxic leadership dengan turnover Temuan ini menekankan bahwa lingkungan kepemimpinan yang toksik dapat memperburuk kondisi psikologis karyawan dan mendorong niat untuk resign melalui peningkatan Variabel emotional intelligence (X. berpengaruh secara signifikan terhadap burnout karyawan (Y) hasil pengujian diperoleh thitung 2,601 >ttabel 2,013 dan nilai signifikan 0,012 < 0,05, maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak yang artinya bahwa emotional intelligence (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 yang dilakukan oleh Afizah & Syamantha, . dengan judul AuPengaruh Emotional Intelligence Terhadap Burnout Karyawan PT. Charoen PokphandAy, menunjukkan bahwa emotional intelligence berpengaruh negatif dan signifikan terhadap burnout karyawan PT. Charoen Pokphand. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa emotional intelligence berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat burnout karyawan dapat diterima. Artinya, semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional yang dimiliki karyawan, maka semakin rendah tingkat burnout yang mereka Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Widjaja et al. , . dengan judul AuHubungan Kecerdasan Emosional Kecenderungan Burnout pada Karyawan bagian PemasaranAy, menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan burnout pada karyawan bagian pemasaran. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional, maka semakin rendah tingkat burnout yang dialami. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam menurunkan kecenderungan burnout pada karyawan pemasaran. Variabel job insecurity (X. berpengaruh secara signifikan terhadap burnout karyawan (Y) hasil pengujian diperoleh dari thitung 5,646 > ttabel 2,013 dan nilai signifikan 0,000 < 0,05, maka hipotesis alternatif alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak yang artinya bahwa job insecurity (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Shary & Alamsyah, . dengan judul AuPengaruh Self Efficacy dan Job Insecurity terhadap Burnout Karyawan pada PT Indorama Technolgies Complex PurwakartaAy, menunjukkan bahwa self efficacy dan job insecurity berpengaruh signifikan terhadap burnout karyawan baik secara parsial maupun Hasil uji parsial . -tes. menunjukkan bahwa self efficacy memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap burnout, sedangkan job insecurity berpengaruh positif signifikan terhadap Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa self efficacy dan job insecurity berpengaruh secara signifikan terhadap burnout karyawan pada PT Indorama Technologies Complex Purwakarta dapat diterima. Variabel toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. , dan job insecurity (X. berpengaruh secara simultan terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Kota Palembang dengan nilai diperoleh Fhitung sebesar 17,752 dengan tingkat signifikasi sebesar 0. pada taraf signifikasi 0. 05 yang didapat dari df . erajat kebebasa. = n . anyaknya sampe. Ae K . umlah variabel beba. Ae 1 atau df = 50 Ae 3 Ae 1 = 46 hasil diperoleh untuk Ftabel sebesar 2,81 . ihat pada lampiran uji F), jadi kesimpulannya Fhitung 17,752 > dari Ftabel 2,81 dan tingkat signifikasi 0,000 < 0,05, maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya variabel toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. , dan job insecurity (X. berpengaruh secara simultan terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Kota Palembang. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori tentang faktor-faktor yang mempengaruhi burnout karyawan. Menurut Utami dan Saputra, . , burnout tidak hanya dipicu oleh beban kerja yang berat, tetapi juga oleh kurangnya kepemimpinan yang suportif, rendahnya pengakuan atas prestasi kerja, serta minimnya otonomi dalam pengambilan keputusan. Selain itu. Prasetyo et al. , . mengidentifikasi sejumlah faktor signifikan yang berkontribusi terhadap burnout pada karyawan, yakni kepemimpinan toksik . oxic leadershi. , rendahnya kecerdasan emosional . motional intelligenc. , dan ketidakamanan kerja . ob Begitupun dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Millennia, . menunjukkan bahwa variabel toxic leadership, beban kerja, dan faktor demografis secara simultan berpengaruh signifikan terhadap burnout karyawan di Jabodetabek. Dalam penelitian oleh Afizah & Syamantha, . variabel yang digunakan adalah emotional intelligence sebagai satu-satunya prediktor. Oleh karena itu, uji simultan (F-tes. menunjukkan bahwa emotional intelligence secara keseluruhan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Dengan intelligence mempengaruhi burnout karyawan JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 PT. Charoen Pokphand. Berdasarkan penelitian oleh Shary & Alamsyah, . uji simultan menunjukkan bahwa self efficacy dan job insecurity secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap burnout karyawan pada PT Indorama Technologies Complex Purwakarta. Penelitian oleh Widjaja et al. , . berfokus pada hubungan antara kecerdasan emosional dan burnout menggunakan pendekatan korelasi berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan IV. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan analisa hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. , dan job insecurity (X. terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Kota Palembang sebagai berikut: Gambaran toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. , dan job insecurity (X. dan burnout karyawan (Y): Variabel Toxic Leadership (X. Berdasarkan hasil tanggapan responden Lingkungan toxic leadership (X. memperoleh rata-rata skor 3. 87 dengan persentase 77,5 %, maka dapat disimpulkan bahwa toxic leadership sudah baik dalam mempengaruhi burnout karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang. Variabel Emotional Intelligence (X. Berdasarkan hasil tanggapan responden menunjukkan bahwa variabel emotional intelligence (X. memperoleh rata-rata skor 3,6 dengan persentase 71,6 %, maka dapat disimpulkan bahwa emotional mempengaruhi burnout karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang. Variabel Job Insecurity (X. Berdasarkan hasil tanggapan responden menunjukkan bahwa variabel job insecurity (X. memperoleh rata-rata skor 3,9 dengan persentase 78,4 %, maka dapat disimpulkan bahwa job insecurity sudah baik dalam mempengaruhi burnout karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang. Variabel Burnout Karyawan (Y) Berdasarkan hasil tanggapan responden menunjukkan bahwa variabel burnout karyawan (Y) memperoleh rata-rata skor 3,7 dengan persentase 74,7 %, maka dapat disimpulkan bahwa burnout karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang sudah baik. Hasil Uji Hipotesis Secara Parsial Variabel Toxic Leadership (X. Diperoleh thitung sebesar 3,627 > ttabel 2,013 dengan nilai signifikan sebesar 0,001 < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak yang artinya menyatakan bahwa variabel toxic leadership (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Variabel Emotional Intelligence (X. Diperoleh thitung sebesar 2,601 > ttabel 2,013 dengan nilai signifikan sebesar 0,012 < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak yang artinya menyatakan bahwa emotional intelligence (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Variabel Job Insecurity (X. Diperoleh thitung sebesar 5,646 > ttabel 2,013 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05 maka hipotesis alternatif alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak yang artinya menyatakan bahwa job insecurity (X. berpengaruh secara parsial terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Palembang. Hasil Uji Hipotesis Secara Simultan Diperoleh Fhitung sebesar 17,752 > Ftabel 2,81 dengan nilai signifikasi sebesar 0. 000 < 0. maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya variabel toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. dan job insecurity (X. berpengaruh secara simultan terhadap burnout karyawan (Y) pada Richeese Factory Kota Palembang. Koefisien determinasi Adjusted R Square yang diperoleh adalah 0,506, nilai ini menunjukan bahwa 50,6 % JEMBATAN (Jurnal Ekonomi. Manajemen. Bisnis. Auditing dan Akuntans. Vol. No. Desember 2025: 198-210 burnout karyawan (Y) dipengaruhi oleh toxic leadership (X. , emotional intelligence (X. dan Job Insecurity (X. dan sisanya 49,4 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini dan selanjutnya dapat diteliti lebih lanjut oleh peneliti lain. Saran Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut: Bagi Richeese Factory Kota Palembang, memperhatikan gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh para atasan atau supervisor. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif, perusahaan sebaiknya mengurangi praktik toxic leadership dengan memberikan pelatihan kepemimpinan yang menekankan pada komunikasi efektif, empati, dan keterbukaan. Selain itu, perusahaan juga perlu mendorong karyawan melalui pelatihan soft skills, khususnya dalam hal pengelolaan emosi dan kemampuan interpersonal, guna membantu karyawan mengatasi tekanan kerja dan mengurangi risiko burnout. Upaya untuk menekan rasa job insecurity juga penting dilakukan, antara lain dengan memberikan informasi yang jelas dan transparan mengenai status kepegawaian, jenjang karier, dan jaminan masa depan pekerjaan, agar karyawan merasa lebih aman dan Bagi karyawan, disarankan untuk lebih kemampuan diri baik secara pribadi maupun Karyawan dapat mengikuti pelatihan, memperluas wawasan, dan belajar mengelola emosi secara mandiri agar lebih tangguh dalam menghadapi tekanan kerja. Selain itu, menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi juga sangat penting untuk meminimalkan kelelahan emosional dan fisik yang dapat mengarah pada burnout. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menambahkan variabel lain yang juga berpotensi memengaruhi burnout, seperti beban kerja, kurangnya kepemimpinan yang suportif, rendahnya pengakuan atas prestasi kerja, serta minimnya otonomi dalam pengambilan keputusan. Hal ini dapat komprehensif mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap burnout. Selain itu, penggunaan pendekatan kualitatif atau dipertimbangkan agar mampu menggali lebih dalam dinamika psikologis dan pengalaman subjektif karyawan terkait faktor-faktor yang menyebabkan burnout, yang mungkin tidak terungkap dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA