E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 Pengaruh Work overload dan Work stress Terhadap Employee performance pada Organisasi Sektor Publik Sub Sektor Kesehatan (Studi Kasus UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandun. Nindya Joandis Puteri. Vika Aprianti. Aggi Panigoro Syarifiyono Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia Email: nindyajoandis3101@gmail. aprianti@unibi. aggipanigoro@unibi. Diterima: 22 November 2023 Diterima Setelah Revisi: 19 April 2024 Dipublikasikan: 30 April 2024 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan work overload, work stress, dan employee performance serta mencari tahu besaran pengaruh work overload, work stress, terhadap employee performance pada Organisasi Sektor Publik Sub Sektor Kesehatan UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung baik secara parsial maupun simultan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung yang berjumlah 62 orang dengan menggunakan Teknik non probability sampling yaitu purposive sampling dengan menentukan sampel berdasarkan kriteria pegawai sebagai tenaga medis sebesar 40 sampel. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa work overload dan work stress berada pada kategori tinggi dan employee performance berada pada kategori rendah. Berdasarkan hasil uji determinansi work overload berpengaruh sebesar 42,3% terhadap employee performance, work stress berpengaruh sebesar 32,0% terhadap employee performance, work overload dan work stress berpengaruh sebesar 50,3% terhadap employee performance. Hasil penelitian secara parsial memiliki nilai thitung -4,043 > ttabel -2,026 dan nilai sig. 0,000 < 0,05 menunjukkan work overload berpengaruh negatif dan signifikan terhadap employee performance, nilai thitung -2,870 > ttabel -2,026 dan nilai sig. 0,007 < 0,05 menunjukkan work stress berpengaruh negatif dan signifikan terhadap employee performance. Secara simultan nilai Fhitung 20,702 > Ftabel 3,25 dan nilai sig. 0,000 < 0,05 menunjukkan work overload dan work stress berpengaruh signifikan terhadap employee performance. Kata Kunci: Work overload. Work stress. Employee performance Abstract This research aims to determine the state of work overload, work stress, and employee performance and to find out the magnitude of the influence of work overload, work stress, on employee performance in Public Sector Organizations. Health Sub-Sector. UPT Padasuka Community Health Center. Bandung City, both partially and simultaneously. The method used in this research is a descriptive and verification method with a quantitative approach. The population used in this research were all employees of the UPT Padasuka Health Center. Bandung City, totaling 62 people using a non-probability sampling technique, namely purposive sampling by determining the sample based on the criteria for employees as medical personnel, amounting to 40 samples. Based on the research results, it was found that work overload and work stress were in the high category and employee performance was in the low category. Based on the results of the determination test, work overload has a 42. 3% effect on employee performance, work stress has a 32. 0% effect on employee performance, work overload and work stress have a 50. 3% effect on employee performance. The partial research results have a tcount value of -4. 043 > ttable -2. 026 and a sig. 000 < 0. 05 shows that work overload has a negative and significant effect on employee performance, the tcount value is Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 870 > ttable -2. 026 and the sig value. 007 < 0. 05 indicates work stress has a negative and significant effect on employee performance. Simultaneously the Fcount value is 20. 702 > Ftable 3. and the sig value. 000 < 0. 05 indicates work overload and work stress have a significant effect on employee performance. Keywords: Work overload. Work stress. Employee performance PENDAHULUAN Suatu organisasi tentu memerlukan sumber daya dalam upayanya untuk mencapai tujuan. Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan perkembangannya yaitu sumber daya manusia, memiliki sumber daya manusia yang profesional akan sangat membantu memaksimalkan kinerja dalam suatu perusahaan. Dengan adanya sumber daya manusia yang baik maka kinerja yang dihasilkan akan mempengaruhi kemajuan perusahaan. Menurut Fransiska dan Tupti . employee performance salah satu dari indikator keberhasilan operasi perusahaan atau lembaga pemerintahan dalam pencapaian tujuannya. Employee performance saat ini masih menjadi perhatian dalam bidang sumber daya manusia. Sendawula dkk, . menyatakan bahwa fenomena performance merupakan konstruk multidimensi dan kriteria yang sangat vital untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi. Menurut Siska dkk, . salah satu yang menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia saat ini yaitu mengenai performance pada organisasi sektor publik. Organisasi sektor publik diungkapkan oleh Wahid . yaitu merupakan bagian dari sistem perekonomian negara yang bertujuan untuk membantu dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Nurhidayat dkk. mengungkapkan bahwa organisasi sektor publik itu fokus kepada penyediaan layanan terhadap Dewi dkk, . menyatakan organisasi sektor publik di Indonesia, di antaranya adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, partai politik. LSM, yayasan, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, dan lembaga kesehatan (Rumah Sakit. Puskesma. Puskesmas menurut Maniagasi dkk, . yaitu Pusat Kesehatan Masyarakat yang dipandang sebagai organisasi publik guna bertugas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Menurut Tanisri dan Setyorini . puskesmas memiliki indikasi performance pada pelayanan yang dapat tercermin dari persepsi pasien atas layanan Kesehatan yang diterima. UPT Puskesmas Padasuka adalah salah satu fasilitas pelayanan Kesehatan yang berada di Kota Bandung. Berdasarkan data yang Peneliti dapatkan dari ringkasan ulasan google pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung, terdapat indikasi ulasan gambaran mengenai performance pada pelayanan yang kurang baik dari sejumlah pasien. Hasil ulasan pada google. com UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung dengan rating bintang hanya 3,1 dari banyaknya ulasan pasien yaitu 258 Hasil dari kesuluruhan ulasan yang diamati banyak pasien yang memberi rating bintang dibawah bintang 5, bahkan cukup banyak rating bintang 1 dengan menjelaskan pengalaman buruknya terutama mengenai pelayanan yang diberikan oleh UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung. Capaian performance/kinerja UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung mengalami penurunan dan tidak mencapai target dari nilai rata-rata yang seharusnya, terutama pada Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan Masyarakat swasta dalam rangka untuk memelihara, meningkatkan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Berdasarkan data Penilaian Kinerja Pegawai (PKP) dari UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung pada tahun 2019 sampai tahun 2022 dengan cakupan kegiatan UKM (Upaya Kesehatan Masyaraka. pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung mengalami fluktuasi dan penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2021 sampai tahun 2022 sebesar 10,23%. Lestari . menyatakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan selain motivasi adalah tingkat stress dan beban kerja yang ada. Selaras dengan yang disampaikan Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 oleh YSA, & Haryani . berpendapat bahwa kinerja karyawan antara lain dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keterampilan, kemampuan, pendidikan, work overload, work stress, motivasi. K3 dan lain-lain. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, terjadinya work overload untuk setiap Standar kerja yang diterima oleh pegawai dalam implementasinya banyak pekerjaan yang harus dilakukan sedangkan jumlah pegawai terbatas. UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung mengalami kekurangan Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) terutama dengan jumlah kekurangan SDMK paling besar pada jabatan Bidan sebesar 10 SDMK, disusul dengan jumlah terbesar kedua pada jabatan Perawat sebesar 5 SDMK, pada jabatan Epidemiologi Kesehatan dan Terapis Gigi sebesar 3 SDMK, sedangkan dengan jumlah kekurangan sebesar 2 SDMK terdapat pada jabatan Administrasi Kesehatan. Apoteker. Asisten Apoteker. Nutrisionis, serta Penyuluh Kesehatan Masyarakat, dan dengan jumlah kekurangan sebesar 1 SDMK terdapat pada jabatan Dokter Gigi. Sanitarian, serta Pramu Laboratorium Kesehatan. Terdapat beberapa ketidaksesuaian antara jumlah Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) yang dibutuhkan dan jumlah SDMK yang tersedia sehingga menimbulkan terjadinya kesenjangan dalam melaksanakan banyaknya tugas yang harus diselesaikan, karena idealnya satu pegawai bertanggungjawab terhadap satu pemegang kegiatan, tetapi pada tahun 2022 satu pegawai bisa melakukan tugas melebihi yang seharusnya seperti banyaknya tugas pokok dan tugas tambahan yang Selain itu. UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung memiliki data kunjungan pasien perbulan yang mengalami fluktuasi dan cukup banyak pasien yang berkunjung terutama pada tahun 2022 sebanyak 29. 921, jumlah kunjungan pasien tersebut setelah mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2021 sebanyak 20. 815, jumlah kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2021 hingga tahun 2022 sebesar 9. Karyawan UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung merasa terbebani karena memiliki beban kerja berlebihan/tidak sesuai dengan kemampuan, terbebani dengan tingkat kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan, terbebani dengan beban kerja yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, terbebani karna adanya batasan waktu dalam melaksanakan tugas, serta sebagian besar merasa sangat terbebani karena jumlah karyawan dan jumlah tugas yang tidak sesuai, tetapi pegawai tidak merasa terbebani dengan jam kerja yang ditetapkan dan hanya sebagian pegawai yang merasa cukup terbebani dengan prosedur kerja yang ditetapkan. Selain work overload. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi employee performane yaitu work stress. Menurut Ratnasari dan Purba . menyatakan bahwa work stress juga terkadang menjadikan seorang pegawai atau karyawan lupa akan berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah kerja dan mencari solusi agar apa yang diinginkan oleh perusahaan dapat dimaksimalkan sebaik mungkin. Pegawai yang mengalami tingkat work stress akan berdampak terhadap pertumbuhan perusahaan karena work stress yang dirasakan oleh karyawan akan memicu rendahnya kualitas pelayanan, reputasi, citra perusahaan menjadi buruk dan katidakpuasan pekerja. Karyawan UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung merasa stress dengan kondisi pekerjaan, merasa stress karena pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan, merasa stress mengenai batas tanggung jawab pekerjaan yang di jalani, serta hampir sebagian besar merasa sangat stress karena melakukan pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya, tetapi hanya sebagian kecil pegawai yang merasa stress karena pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan, sebagian kecil juga pegawai yang merasa stress karena kesulitan menjalin komunikasi yang baik dengan rekan kerja dan hanya sebagian kecil pegawai yang merasa cukup stres dengan ketidakjelasan tugas yang dikerjakan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Arfani & Luturlaen . menyatakan bahwa variabel stres kerja berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kinerja karyawan, sedangkan variabel beban kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Penelitian Gunardi . 8 menyatakan bahwa beban kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai yang dimana artinya ketika beban kerja meningkat maka kinerja pegawai akan menurun, sedangkan stres kerja berpengaruh Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 terhadap kinerja pegawai yang dimana artinya stres kerja meningkat maka kinerja pegawai akan KAJIAN PUSTAKA Pengertian Manajemen sumber daya manusia menurut Armstrong & Taylor . mengemukakan AuHuman resource management (HRM) is about how people are employed, managed, and developed in organizationsAy yang berarti manajemen sumber daya manusia merupakan bagaimana di dalam suatu organisasi mempekerjakan, mengelola, dan mengembangkan sumber daya manusia yang dimiliki. Sedangkan menurut Simamora . Mengemukankan bahwa Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu strategi dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen yaitu planning, organizing, leading and controlling, dalam setiap aktifitas atau fungsi operasional sumber daya manusia mulai dari proses penarikan, seleksi, pelatihan dan pengembangan, penempatan yang meliputi promosi, demosi dan transfer, penilaian kinerja, pemberian kompensasi, hubungan industrial, hingga pemutusan hubungan kerja, yang ditujukan bagi peningkatan kontribusi produktif dari sumberdaya manusia organisasi terhadap pencapaian tujuan organisasi secara lebih efektif dan Dari definisi atau pengertian Manajemen Sumber Daya, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari manajemen keorganisasian yang menekankan pada unsur SDM dan sudah menjadi tugas manajemen sumber daya manusia untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja yang tepat sesuai pekerjaannya, sehingga mampu bekerja optimal demi tercapainya tujuan perusahaan atau organisasi. Secara sederhana Manajemen Sumber Daya Manusia dapat dipahami sebagai pengelolaan sumber daya manusia dengan mengimplementasikan fungsi manajemen dalam aktivitas operasional demi terwujudnya tujuan organisasi. Maka dari itu Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan faktor penting dalam kegiatan organisasi atau perusahaan yang berperan dalam hal merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, serta mengendalikan jalannya suatu organisasi agar sesuai dengan tujuan yang telah Pemeliharaan Sumber Daya Manusia Kurniawati . menyatakan bahwa pemeliharaan SDM merupakan usaha untuk mempertahankan dan meningkatkan Kondisi fisik, mental, dan sikap karyawan, agar mereka tetap loyal dan bekerja produktif untuk menunjang tercapainya tujuan perusahaan. Menurut Kurniawati . mengungkapkan pemeliharaan SDM merupakan usaha untuk membina dan mengembangkan kondisi fisik, mental, sikap dan perilaku karyawan agar karyawan menjadi loyal dan mampu bekerja secara optimal sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dari uraian definisi atau pengertian pemeliharaan SDM, dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan SDM merupakan bagian penting dalam suatu perusahaan atau organisasi, guna mempertahankan dan mengembangkan kondisi fisik, mental dan sikap karyawan agar mereka menjadi loyal dan tetap bekerja secara efektif sesuai dengan ketentuan perusahaan serta dapat menunjang tercapainya tujuan perusahaan. Employee performance Menurut Mangkunegara . istilah kinerja berasal dari kata job performance atau Actual Permormanse . restasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseoran. Pengertian kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Menurut Sinambela . kinerja adalah hasil dari suatu proses yang mengacu dan diukur selama periode Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan yang telah ditetapkan sebelumnya. Secara umum kinerja dapat diartikan sebagai keseluruhan proses bekerja dari individu yang hasilnya dapat digunakan landasan untuk menentukan apakah pekerjaan individu tersebut baik atau sebaliknya. Nabawi . Kinerja karyawan mengacu pada prestasi kerja karyawan yang diukur berdasarkan standar atau kriteria yang telah ditetapkan perusahaan. Pemeliharaan untuk mencapai kinerja yang tinggi terutama dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara Dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil dari suatu proses prestasi kerja yang dicapai seseorang maupun organisasi dengan ketentuan dan periode tertentu berdasarkan standar atau prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Menurut Ramadani . untuk mengetahui baik tidaknya kinerja karyawan dapat dinilai dari 5 kriteria dasar atau indikator pengukuran kinerja yaitu: Kualitas Kuantitas Ketepatan Waktu Efektivitas Kemandirian Work overload Irawan . menyatakan work overload merupakan suatu rangkaian kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu. Nabawi . menjelaskan work overload adalah sebuah proses yang dilakukan seseorang dalam menyelesaikan tugas-tugas suatu pekerjaan atau kelompok jabatan yang dilaksanakan dalam keadaan normal dalam suatu jangka waktu tertentu yang semuanya berhubungan dengan indikatornya. Menurut Ramadani . , beban kerja berlebihan atau work overload merupakan konflik yang diakibatkan ketika tingkat permintaan melebihi sumber daya yang tersedia dan pekerja memiliki banyak tanggung jawab yang memerlukan perhatian. Definisi lain tentang work overload beban kerja adalah kegiatan dari masing-masing pekerjaan dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian yang dimaksud dengan beban kerja adalah sejumlah kegiatan atau tugas yang harus diselesaikan oleh pekerja dalam jangka waktu tertentu. Menurut Masriati, dkk . satiap orang pernah mengalami beban kerja yang terlalu berat . ork overloa. pada suatu waktu. Beban kerja berlebihan . ork overloa. adalah suatu kondisi yang terjadi bila lingkungan memberi tuntutan melebihi kemampuan individu. Sedangkan menurut Henani . beban kerja yang terlalu banyak dapat menyebabkan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stres. Beban kerja berlebihan dipercaya sebagai salah satu sumber terbesar penyebab stres kerja. Dari definisi beban kerja dan beban kerja berlebihan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa beban kerja berlebihan . ork overloa. adalah sejumlah tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh pekerja dalam waktu tertentu karena dalam pelaksanaannya menuntut kemampuan yang lebih dari yang dimiliki individu tersebut. Tugas-tugas tersebut melebihi kadar rutinitas dari yang biasa dilakukan oleh pekerja sehingga membutuhkan tenaga ekstra. Menurut Ramadani . Mengungkapkan bahwa indikator work overload/beban kerja yaitu: Target yang harus dicapai Kondisi pekerjaan Standar pekerjaan Penggunaan waktu Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 Work Stress Menurut Sulastri dan Onsardi . menyatakan bahwa stres kerja merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Sama hal nya dengan tanggapan Triningsih,dkk . bahwa stres merupakan sebuah keadaan yang mengalami tingkat ketegangan dan memengaruhi emosi, pikiran, serta kondisi dari seseorang. Stres yang terlalu berlebihan dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Ginting dan Pancasasti . stres bisa diartikan sebagai status yang individu alami ketika muncul ketidakcocokan antara tuntutan-tuntutan yang individu hadapi dengan kemampuan yang di miliki. Mukhtar . Stres kerja juga bisa diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Stresor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres Menurut Manihuruk dan Tirtayasa . stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Hasilnya, stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan, yang akhirnya mengganggu pelaksanaan tugas-tugasnya berarti mengganggu prestasi kerjanya. Stres kerja adalah suatu kondisi kategangan yang menciptakan adanya katidakseimbangan fisik dan psikis, yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang karyawan. Stres pada pekerjaan adalah pengalaman stress yang berhubungan dengan pekerjaan. Bisa disimpulkan bahwa stres kerja adalah umpan balik atas diri karyawan secara fisiologis maupun psikologis terhadap keinginan atau permintaan organisasi. Stres kerja merupakan faktorfaktor yang dapat memberi tekanan terhadap produktivitas serta dapat mengganggu individu. Menurut Sulastri dan Onsardi . indikator stres kerja yaitu: Tuntutan tugas Tuntutan peran Tuntutan antar pribadi Stuktur organisasi Kepemimpinan organisasi METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik non-probability sampling dengan sampling purposive. Populasinya adalah seluruh karyawan UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung yang berjumlah 62 orang. Sampel dari penelitian ini yaitu hanya pegawai dengan profesi sebagai tenaga medis pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung sebanyak 40 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan data dilakukan menggunakan microsoft excel dan SPSS 25. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 40 responden, karakteristik yang diambil adalah jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, lama bekerja, status kepegawaian dan profesi. Karakteristik Responden Pada penelitian ini diketahui bahwa mayoritas responden pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung berjenis kelamin Perempuan, berusia 31 Ae 40 tahun. Pendidikan terakhir Diploma (D1/D2/D3/D. , lama bekerja 1 Ae 5 tahun, status kepegawaian yaitu pegawai tetap, serta profesi sebagai bidan. Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 Tanggapan Responden Mengenai Variabel Work Overload Berdasarkan hasil penelitian pada tanggapan responden mengenai Work overload pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung termasuk pada kategori tinggi, hal tersebut karena nilai rata-rata dari skor keseluruhan yang diperoleh sebesar 3,73. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pegawai UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung dengan profesi sebagai tenaga medis menyatakan Work overload pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung cukup buruk karena terdapat pada nilai interval 3,41-4,20. Peneliti menyimpulkan bahwa tanggapan karyawan mengenai Work overload pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung sesuai dengan keadaan yang dirasakan, sebagian besar pegawai merasa sangat terbebani ketika jumlah pegawai tidak sesuai dalam melaksanakan tugas yang ditentukan, dimana tugas tersebut cukup banyak dengan rincian tugas pokok dan tugas tambahan yang diberikan, tetapi pada implementasinya UPT Puskesmas Padasuka kota Bandung mengeluhkan kekurangan jumlah karyawan, sehingga pada saat ini karyawan memiliki tugas dan tanggung jawab yang merangkap. Sementara dalam hal harus membuat keputusan dengan cepat pada saat melakukan pekerjaan, para pegawai merasa tidak terbebani karena hal tersebut wajar terjadi pada pegawai dengan profesi sebagai tenaga medis karena dituntut untuk dapat membuat keputusan dengan cepat ketika menangani kondisi seorang pasien dengan keadaan yang darurat ataupun menghadapi masalah dalam menjalankan kegiatan dari sebuah program apabila tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Tanggapan Responden Mengenai Variabel Work stress Berdasarkan hasil penelitian pada tanggapan responden mengenai Work stress pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung termasuk pada kategori tinggi, hal tersebut karena nilai rata-rata dari skor keseluruhan yang diperoleh sebesar 3,55. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pegawai UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung dengan profesi sebagai tenaga medis menyatakan Work stress pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung cukup buruk karena hasil penelitian deskriptif menunjukan skor terdapat pada nilai interval yang tinggi yaitu 3,41-4,20, dengan keadaan sebagian besar pegawai merasa stres mengenai pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan, dimana yang menjadi faktor hal tersebut dapat terjadi yaitu terdapat beban kerja berlebih, tekanan pekerjaan, sikap pimpinan yang kurang adil dan wajar, keterbatasan waktu serta terjadi konflik antar pribadi dengan pimpinan atau dengan kelompok kerja. namun dengan demikian pegawai tidak merasa stress mengenai kurang jelasnya deskripsi pekerjaan, karena pada dasarnya deskripsi pekerjaan yang diberikan oleh UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung sudah cukup jelas. Tanggapan Responden Mengenai Variabel Employee performance Berdasarkan hasil penelitian pada tanggapan responden mengenai Employee performance pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung termasuk pada kategori rendah, hal tersebut karena nilai rata-rata dari skor keseluruhan yang diperoleh sebesar 2,04. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pegawai UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung dengan profesi sebagai tenaga medis menyatakan Employee performance pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung dinilai buruk karena terdapat pada nilai interval 1,81-2,60, dengan keadaan sebagian besar pegawai merasa tidak selalu menghasilkan capaian target yang telah ditetapkan,yang menjadi faktor hal tersebut dapat terjadi yaitu terdapat ketidaksetaraan beban kerja, kurangnya sumber daya, serta ketidakmampuan mengelola waktu. meski demikian pegawai merasa telah memanfaatkan tenaga semaksimal mungkin dalam melaksanakan pekerjaan. Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 Hasil Pengolahan Data Setelah hasil data terkumpul, kemudian data tersebut diolah menggunakan SPSS 25 untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh atau tidak dari kedua variabel baik secara parsial maupun 1 Uji Asumsi Klasik Peneliti menggunakan uji asumsi klasik untuk mengetahui metode yang tepat untuk melakukan uji perhitungan data dalam melakukan penelitian ini. Tiga uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Uji asumsi klasik yang pertama yaitu uji normalitas. Uji normalitas data pada penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan grafik P-P Plots yang memiliki syarat bahwa titik data membentuk linier secara diagonal pada grafik P-P Plots atau mendekati garis diagonal. Berikut adalah uji normalitas menggunakan P-P Plots: Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Gambar 1. Iji normalitas menggunakan P-P Plots Hasil dalam uji normalitas bahwa titik plots menghasilkan garis diagonal, maka dapat dikatakan pola terdistribusi normal dan data memenuhi uji asumsi klasik pada uji normalitas sehingga dapat dilanjutkan pada uji multikolinieritas. Selain menggunakan grafik P-P Plots, untuk lebih memperkuat dan melihat nilai dari uji normalitas pada penelitian ini, digunakan juga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Uji Normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Mean Parametersa,b Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,145. Hal ini menyatakan bahwa data tersebut terdistribusi normal karena nilai lebih besar dari 0,05. Hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test konsisten dengan hasil uji grafik Normal Probability Plot sebelumnya. Uji asumsi klasik yang kedua yaitu uji multikolinieritas. Tabel 2. Hasil Multikolinieritas menggunakan Tolerance atau VIF Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Collinearity Statistics Model Sig. Std. Error Beta Tolerance VIF (Constan. 1 Work overload Work stress Dependent Variable: Employee performance Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat variabel Work overload dan Work stress mendapatkan nilai Tolerance 0,827 Ou 0,10 dan nilai VIF 1. 209 O 10. Maka dapat dinyatakan bahwa seluruh variabel independen tidak terjadi multikolinieritas. Uji asumsi klasik yang ketiga yaitu uji heteroskedastisitas. Berikut merupakan hasil uji heteroskedastisitas dengan menggunakan grafik scatterplot. Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Gambar 2. Hasil uji heteroskedastisitas dengan menggunakan grafik scatterplot Untuk melihat atau lebih mendeteksi terjadi atau tidaknya heteroskedastisitas dapat menggunakan uji glejser. Pada uji ini, apabila hasilnya sig > 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas, berikut merupakan uji glejser pada uji heteroskedastisitas: Tabel 3. Hasil Uji Glejser Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model Std. Error Beta Sig. 1 (Constan. Work overload Work stress Dependent Variable: RES_2 Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Hasil dari uji heteroskedastisitas menggunakan uji glejser, menunjukkan nilai sig lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas atau data telah memenuhi syarat asumsi klasik heteroskedastisitas. 2 Analisis Koefisien Regresi Linier Berganda Analisis koefisien regresi linier berganda digunakan untuk memprediksi dan meramalkan hasil dari suatu variabel terikat berdasarkan dari satu . egresi sederhan. atau lebih . egresi bergand. Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 variabel bebas didalam suatu persamaan regresi. Peneliti menggunakan uji regresi linier berganda untuk mengetahui seberapa kuat hubungan antara variabel Work overload. Work stress dan Employee Hasil uji regresi linier berganda diberikan pada Tabel 5. Tabel 4. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model Std. Error 1 (Constan. Work Work stress Dependent Variable: Employee performance Beta Sig. Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Berdasarkan Tabel 4 didapatkan hasil yang menujukkan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut: Employee performance (Y)= 44,332 -0,145X1 -0,107X2 Persamaan tersebut dapat diartikan sebagai berikut: Nilai konstan atau = bernilai positif sebesar 44,332, hal ini menunjukkan bahwa ketika semua variabel independen (Work overload dan Work stres. diabaikan (X1,X2=. , maka Employee performance nilainya sebesar 44,332. Nilai koefisien Work overload (X. sebesar 0,145 dengan nilai negatif, yang berarti bahwa apabila nilai Work overload dinaikkan satu satuan dengan koefisien variabel X2 diabaikan, maka Y atau Employee performance akan turun sebesar 0,145 satuan. Nilai sig. pada uji regresi linier berganda variabel X1 sebesar 0,000 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa Work overload berpengaruh secara signifikan. Nilai koefisien Work stress (X. sebesar 0,107 dengan nilai negatif, yang berarti bahwa apabila nilai Work stress dinaikkan satu satuan dengan koefisien variabel X1 diabaikan, maka Y atau Employee performance akan turun sebesar 0,107 satuan. Nilai sig. pada uji regresi linier berganda variabel X2 sebesar 0,007 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa Work stress berpengaruh secara signifikan. 3 Analisis Koefisien Korelasi Berganda Analisis koefisien korelasi berganda digunakan untuk mengetahui korelasi dua variabel bebas dengan satu variabel terikat dengan cara melihat nilai R pada tabel model summary. Selain itu, untuk mengetahui tingkat hubungan antar variabel dapat dilihat pada interval koefisien yang dapat menunjukkan nilai tinggi atau rendahnya hubungan. Berikut merupakan hasil uji analisis koefisien korelasi berganda. Tabel 5. Hasil Uji Korelasi Berganda Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Work stress. Work overload Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa korelasi antar variabel Work overload dan Wrok Stress dengan Employee performance adalah sebesar 0,727 atau 72,7%. Nilai tersebut termasuk pada interval 60-79,9% atau dapat disebut mempunyai tingkat hubungan yang tinggi/kuat. Hal ini memiliki arti bahwa hubungan variabel Work overload dan Work stress adalah tinggi/kuat. Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 4 Analisis Koefisien Determinasi Berganda Koefisien determinasi pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui persentase pengaruh dari variabel Work overload terhadap Employee performance, persentase pengaruh variabel Work stress terhadap Employee performance serta persentase Work overload dan Work stress terhadap Employee performance. Hasil dari uji determinasi pada penelitian ini adalah sebagai berukut: Tabel 6. Hasil Uji Koefisien Determinasi Variabel Work overload terhadap Employee performance Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Work overload Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa variabel Work overload berpengaruh sebesar 0,423 atau 42,3% terhadap Employee performance, sedangkan sisanya sebesar 57,7% dipengaruhi oleh variabel Work stress dan variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi Variabel Work stress terhadap Employee performance Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Work stress Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui bahwa variabel Work stress berpengaruh sebesar 0,320 atau 32,0% terhadap Employee performance, sedangkan sisanya sebesar 68,0% dipengaruhi oleh variabel Work overload dan variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Tabel 8. Hasil Uji Koefisien Determinasi Variabel Work overload dan Work stress terhadap Employee performance Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Work stress. Work overload Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Berdasarkan tabel 8 diketahui bahwa variabel Work overload dan Work stress, menghasilkan nilai keofisien determinasi sebesar 0,503 atau 50,3% terhadap Employee performance, sedangkan sisanya 49,7% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Hasil Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis bertujuan untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel Work overload dan Work stress secara parsial maupun simultan terhadap Employee performance sehingga dapat diketahui penerimaan atau penolakan hipotesis. Pada Tabel 9 diberikan hasil pengujian hipotesis secara parsial sebagai berikut. Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 Tabel 9. Hasil Uji t (Parsia. Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model Std. Error Beta Sig. 1 (Constan. Work overload Work stress Dependent Variable: Employee performance Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Nilai dari t-hitung pada variabel Work overload sebesar -4. 043 dan t-tabel pada penelitian ini sebesar 2,026, maka t-hitung dapat diketahui lebih besar daripada t-tabel (-4. 043 > 2,. dan nilai signifikansi variabel Work overload (X. ,000 < 0,. Sehingga keputusan hipotesis pertama adalah H0 ditolak dan Ha1 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Work overload (X. berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Employee performance (Y). Nilai dari t-hitung pada variabel Work stress sebesar -2. 870 dan t-tabel pada penelitian ini sebesar 2,026, maka t-hitung dapat diketahui lebih besar daripada t-tabel (-2,870 > 2,. dan nilai signifikansi variabel Work stress (X. ,007 < 0,. Sehingga keputusan hipotesis pertama adalah H0 ditolak dan Ha1 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Work stress (X. berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Employee performance (Y) Tabel 10. Hasil Uji F ANOVAa Sum of Mean Model Squares Df Square Sig. 1 Regression 14,786 2 7,393 20,702 ,000b Residual 13,214 37 ,357 Total 28,000 39 Dependent Variable: Employee performance Predictors: (Constan. Work stress. Work Sumber: Hasil Olah Data SPSS 25 . Berdasarkan tabel 10 diketahui hasil pengujian hipotesis secara simultan sebagai berikut: Variabel Work overload dan Work stress berpengaruh secara signifikan terhadap Employee Hal ini dapat dilihat dari nilai F hitung sebesar 20,702 > 3,25 sehingga signifikansi untuk pengaruh Work overload dan Work stress secara simultan terhadap Employee performance adalah sebesar 0,000 < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Work overload dan Work stress berpengaruh terhadap Employee performance. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian deskriptif dan verifikatif yang telah dilakukan mengenai Work overload. Work stress dan Employee performance pada Organisasi Sektor Publik Sub Sektor Kesehatan (Studi Kasus UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandun. , maka dapat ditarik kesimpulan untuk hasil penelitian deskriptif sebagai berikut: Pertama, berdasarkan hasil penelitian pada tanggapan responden dapat diketahui pada nilai rata-rata dari skor keseluruhan yang telah diperoleh mengenai Work overload berada pada kategori Pernyataan dengan nilai terbesar berada pada pernyataan AuSaya merasa sangat terbebani ketika jumlah karyawan tidak sesuai dalam melaksanakan tugas yang ditentukanAy, dengan demikian dapat diketahui bahwa keadaan sebagian besar pegawai merasa sangat terbebani ketika jumlah karyawan tidak sesuai dalam melaksanakan tugas yang ditentukan. Sementara pada pernyataan AySaya Economics Professional in Action (E-Profi. E-Profit e-ISSN: 2686-1461 p-ISSN: 2686-1463 Volume 6 No. 1 April 2024 merasa terbebani ketika harus membuat keputusan dengan cepat pada saat melakukan suatu pekerjaanAy, diketahui bahwa para pegawai merasa tidak terbebani karena mereka merasa hal tersebut wajar terjadi pada pegawai dengan profesi sebagai tenaga medis. Maka dapat disimpulkan bahwa UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung memiliki Work overload dengan kapasitas yang tinggi. Kedua, berdasarkan hasil penelitian pada tanggapan responden dapat diketahui pada nilai ratarata dari skor keseluruhan yang telah diperoleh mengenai Work stress berada pada kategori tinggi. Pernyataan dengan nilai terbesar berada pada pernyataan AyPekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan saya membuat saya merasa stresAy. Diketahui sebagian besar pegawai merasa sangat stres karena melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Sementara pada pernyataan AuKurang jelasnya deskripsi pekerjaan membuat saya merasa stresAy memiliki nilai terkecil, dengan demikian diketahui bahwa pegawai tidak merasa stres mengenai kurang jelasnya deskripsi pekerjaan, karena pada dasarnya deskripsi pekerjaan yang diberikan oleh UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung sudah cukup jelas. Maka dapat disimpulkan bahwa UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung memiliki Work stress dengan kapasitas yang tinggi. Ketiga, berdasarkan hasil penelitian pada tanggapan responden dapat diketahui pada nilai ratarata dari skor keseluruhan yang telah diperoleh mengenai Employee performance berada pada kategori rendah. Pernyataan dengan nilai terbesar berada pada pernyataan AuSaya selalu memanfaatkan tenaga semaksimal mungkin dalam melaksanakan pekerjaanAy, dapat disimpulkan bahwa keadaan sebagian besar pegawai merasa telah memanfaatkan tenaga semaksimal mungkin dalam melaksanakan pekerjaan. Sementara pada pernyataan AuSaya selalu menghasilkan capaian target yang ditetapkan oleh PuskesmasAy memiliki nilai terkecil, dengan demikian diketahui bahwa pegawai merasa tidak selalu menghasilkan capaian target yang telah ditetapkan. Maka dapat disimpulkan bahwa Employee performance pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung belum Hasil penelitian verifikatif menunjukkan besaran pengaruh Work overload terhadap Employee performance pada Organisasi Sektor Publik Sub Sektor Kesehatan Studi Kasus UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung menunjukan hasil uji keofisien determinasi sebesar 42,3%, dengan t hitung yang lebih besar daripada t tabel. Semakin tinggi Work overload, maka semakin rendah Employee performance, begitu pula sebaliknya. Pihak berwenang disarankan untuk dapat lebih menstabilkan work overload sehingga kinerja karyawan pada UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung dapat Sedangkan hasil penelitian mengenai besaran pengaruh Work stress terhadap Employee performance pada Organisasi Sektor Publik Sub Sektor Kesehatan Studi Kasus UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandung, menunjukan hasil uji keofisien determinasi sebesar 32,0%, dengan t hitung lebih besar dengan t tabel sehingga hipotesis penelitian yang diajukan dapat diterima. Semakin tinggi Work stress, maka semakin rendah Employee performance, begitu pula sebaliknya. Work stress dapat dikurangi dengan memberikan pekerjaan sesuai pengetahuan dan kompetensi karyawan. Terakhir, hasil penelitian mengenai besaran pengaruh Work overload dan Work stress terhadap Employee performance pada Organisasi Sektor Publik Sub Sektor Kesehatan (Studi Kasus UPT Puskesmas Padasuka Kota Bandun. , menunjukan hasil pengujian keofisien determinasi variabel Work overload dan Work stress sebesar 50,3% terhadap Employee performance, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Dengan F hitung lebih besar daripada Ftabel maka disimpulkan bahwa variabel Work overload dan Work stress berpengaruh terhadap Employee performance. Semakin tinggi Work overload dan Work stress, maka semakin rendah Employee performance. DAFTAR PUSTAKA