Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 RELASI GENDER DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA PANTAI MUTIARA DI DESA TASIKMADU KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK Luki Ricard Yuga Nanta1*. Diyah Utami2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Universitas Negeri Surabaya 17040564075@mhs. Abstract This study aims to identify the role of women in the management of pearl beach tourism in Tasikmadu Village. Watulimo District. Trenggalek Regency and analyze the form of gender relations in pearl beach tourism management in Tasikmadu Village. Watulimo District. Trenggalek Regency. Research method with a qualitative approach and using the perspective of liberal feminism Naomi Wolf. The results of this study show that the division of labor in the management of Pearl Beach tourism between men and women has not been balanced. In addition to the dominance of men, it is also caused by women. Pearl Beach tourism managers are more passive in every activity. Some cultural views that have been believed by the community often make women seem to be cornered, causing gender inequality in the management of Pearl Beach tourism. In the division of labor of the Pearl Beach tourism management group, many men occupy strategic positions. Gender relations that occur make men get an important role while women act more as supporters than men. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran perempuan dalam pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek dan Menganalisis bentuk relasi gender dalam pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan prespektif feminisme liberal Naomi Wolf. Hasil penelitian ini menujukan bahwa pembagian kerja dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara antara laki-laki dan perempuan belum seimbang. Selain dominasi dari laki-laki juga dikarenakan oleh perempuan pengelola wisata Pantai Mutiara yang lebih bersifat pasif dalam setiap kegiatan. Beberapa pandangan budaya yang sudah dipercayai oleh masyarakat sering membuat perempuan seolah tersudutkan sehingga menimbulkan ketidaksetaraan gender dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara. Pada pembagian kerja kelompok pengelola wisata Pantai Mutiara laki-laki banyak yang menempati posisi strategis. Relasi gender yang terjadi membuat laki-laki memperoleh peranan penting sedangkan perempuan lebih bertindak sebagai pendukung dari laki-laki. Keywords: Gender Relations. Management. Mutiara Beach Pendahuluan Model relasi gender tradisional lebih berbasis pada pandangan superioritas laki-laki dan subordinat perempuan sehingga memunculkan berbagai diskriminasi dan merendahkan Sementara itu model relasi yang lebih modern dapat berbasis cara pandang kesamaan derajat perempuan dan laki-laki secara liberal tetapi menimbulkan permasalahan dan konflik dalam masyarakat. Dengan pandangan terkait kesamaan derajat perempuan dan laki-laki dan dengan tetap mengenal hak dan kewajiban pada ranah domestic maupun sosial, saat ini dikenalkan dengan istilah AumitraAy yang lebih dipandang sejajar dengan laki-laki. Sehingga degan hubungan mitra tersebut masing-masing dapat mengembangkan diri, namun tetap bersama memelihara kerjasama, tolong menolong, saling menghargai, dan saling Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Berdasarkan beberapa penelitian yang telah ada sebelumnya, terdapat beberapa perbedaan dengan penelitian ini. Pada penelitian yang dilakukan sebelumnya mengulas terkait relasi gender dalam lingkup keluarga sedangkan dalam penelitian ini menganalisis relasi gender dalam lingkup yang lebih luas yaitu pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu. Beberapa penelitian terdahulu yang ada menggunakan teori struktural fungsional Talcott Parsons dan teori fenomenologi. Sedangkan penelitian ini berfokus pada hubungan kerja antara laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan industri pariwisata dengan menggunakan prespektif teori feminisme dari Naomi Wolf. Lebih dari itu, kebaharuan yang ditampilkan pada penelitian ini juga agar dapat mengidentifikasi bagaimana relasi gender yang terjadi pada industri pariwisata yang tidak ditampilkan pada penelitian-penelitian sebelumnya, mengidentifikasi peran perempuan yang sebagian tidak disadari oleh masyarakat dan bentuk relasi gender yang terjadi pada pengelolaan pariwisata khususnya pantai mutiara di Desa Tasikmadu. Pada Kabupaten Trenggalek yang daerahnya terletak di ujung selatan yang telah mengoptimalkan berbagai tempat strategis didaerahnya sebagai objek wisata dan banyak di dominasi wisata pantai. Desa Tasikmadu yang masuk dalam Kecamatan Watulimo menjadi desa dengan objek pariwisata yang lebih banyak dari desa lain dengan kunjungan wisatawan paling banyak baik itu wisatawan dari dalam daerah maupun wisatawan dari luar daerah Trenggalek. Secara geografis Desa Tasikmadu sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan laut sehingga dapat dimanfaatkan menjadi tempat wisata khususnya pantai dan terdapat pantai yang menjadi ikon pariwisata di Trenggalek. Sektor pariwisata bukan hanya ditempati oleh laki-laki tetapi ada juga perempuan yang ikut berpartisipasi walaupun masih banyak didominasi oleh laki-laki. Peran perempuan pada bidang pariwisata secara konseptual diharapkan dapat menjadi pemerataan pembangunan dan mengatasi kesenjangan pertumbuhan ekonomi. Seperti yang terjadi dalam pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu dimana sebagian besar pengelola pariwisata adalah laki-laki sementara itu perempuan hanya berkisar 35% dari seluruh pengelola pada tempat pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu. Perempuan pada pengelolaan tempat wisata banyak ditempatkan pada bagian seperti administratif, keuangan ataupun kerjasama usaha sehingga peranannya tidak banyak menonjol (Tasikmadu, 2. Perempuan telah banyak memberikan kontribusi dalam pembangunan dan pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu, namun kesadaran publik mengenai peran perempuan dalam hubungan kerjasama dengan laki-laki untuk pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu belum banyak disadari. Peran perempuan jika dipahami lebih mendalam pada kegiatan wisata dan pengelolaan lingkungan hidup memiliki pengaruh yang sama pentingnya dengan laki-laki. Dasar pemikiran tersebut menjadi pedoman dari penelitian ini, dan penulis tertarik untuk dapat melaksanakan penelitian tentang bagaimana Relasi Gender dalam Pengelolaan Pariwisata Pantai Mutiara di Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Kajian Pustaka 1 Relasi Gender Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Relasi gender merupakan hubungan timbal balik antara perempuan dan laki-laki pada kehidupan bermasyarakat dan organisasi yang menentukan batas antara feminism dan maskulin (Karniawati, 2. Gender bukanlah perbedaan yang didasari dari perbedaan jenis kelamin, karena relasi gender merupakan hubungan antar gender dari hasil kontruksi sosial Sifat dari relasi gender berbeda-beda dan bergantung pada tempat dan waktu tertentu, berubah sejalan dengan perubahan zaman dan menunjukan keberagaman dari sosial budaya pada tempat tersebut. Gender dikontruksikan dalam institusi sosial, meliputi kultur, ideology, dan praktik diskursif. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dapat dikatakan sebagai salah satu bagian Relasi gender mempunyai banyak bentuk pengimplementasian baik di Negara tertentu, kelompok ras, kelas sosial dan generasi yang berbeda, akan tetapi mempunyai dasar tujuan yang sama untuk dapat menciptakan kesempatan yang dapat diperoleh bagi perempuan dan laki-laki. Pada buku Dr. Riant Nugroho yang menyatakan tentang relasi gender dengan mempertanyakan ulang posisi laki-laki dan perempuan dalam pembagian kekuasaan, hakhak, sumberdaya, tanggungjawab, dan manfaat sebagai sebuah analisa yang tidak lagi hanya tertuju pada diskriminasi yang terjadi pada perempuan (Nugroho, 2. 2 Feminisme Liberal Naomi Wolf Feminisme liberal mempunyai fokus tersendiri dalam memahami pandangan AukesetaraanAy dalam gerakan feminisme. Feminism liberal berupaya untuk mendorong perempuan agar berani memperjuangkan diri mereka dari diskriminasi. Diposisikan pada sektor domestik membuat perempuan dinilai dibawah laki-laki karena pada posisi tersebut perempuan tidak mempunyai nilai produktif. Perkembangan masyarakat Amerika mengarah pada budaya matrealistis dan individualis, sehingga perempuan tidak lagi harus bergantung pada laki-laki, perempuan harus mampu mengupayakan pemenuhan kebutuhan mereka dengan bekerja diluar rumah atau sektor public dan berkarir lebih bebas, karena budaya tersebut mempunyai sisi positif untuk mendukung kesetaraan dengan mengukur semuanya pada materi yang Tokoh dari feminisme liberal yakni Naomi Wolf juga dikenal dengan Feminisme Kekuatan yang menurutnya perempuan harus menghimpun kekuatan untuk dirinya agar dapat mempunyai kesempatan yang sama di masyarakat. Dengan perkembangan budaya matrealistis, perempuan dapat mempunyai kekuatan dari pendidikan dan materi sehingga dapat terbuka kesempatan kesetaraan hak dan menentukan kehendaknya tanpa adanya doktrin dari pihak lain. Naomi Wolf menilai laki-laki dan perempuan mempunyai derajat yang setara karena memiliki kualitas dan kapasitas yang sama untuk berpikir dan bertindak secara Kesetaraan dapat dicapai dengan tidak menilai bahwa perbedaan yang ada berarti terdapat perbedaan posisi pada mereka. Sementara itu menurut Wolf terdapat feminisme korban yang merupakan kebalikan dari feminisme kekuatan yang dimana perempuan memang secara harfiah berada dibawah posisi laki-laki. Sedangkan feminisme kekuasaan menyatakan bahwa pengalaman perempuan mempunyai makna yang penting dan menempatkan perempuan dan laki-laki mempunyai pengaruh yang sama pentingnya dalam kehidupan(Wolf, 1. Melalui teori feminisme liberal dari Naomi Wolf ini harapannya dapat mengupas permasalahan relasi gender yang terjadi dalam masyarakat khususnya dalam industri pariwisata. Kesetaraan gender Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 dimaksudkan agar antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat maupun lingkungan kerja dapat memberikan keseimbangan peran sehingga tidak terjadi pelabelan peran yang mutlak hanya dimiliki laki-laki atau dimiliki perempuan saja. Metode Penelitian Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan prespektif gender dapat mengungkapkan dan memahami ketimpangan sosial yang terjadi akibat ketidaksetaraan gender baik pada ranah domestik maupun publik. Feminisme merupakan hasil kontribusi dari berbagai pemikiran dan pandangan yang berbeda dengan tujuan yang sama dalam membangun kesetaraan gender. Pada penelitian ini juga menggunakan perspektif feminisme liberal dari Naomi Wolf yang digunakan untuk mengetahui relasi gender dalam lingkup pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu. Peneliti ingin mengungkapkan apa saja peran perempuan dalam industri pariwisata dan bagaimana bentuk relasi gender yang Subjek penelitian atau seseorang yang dapat memberikan informasi tantang fenomena yang diteliti pada penelitian ini yaitu masyarakat Desa Tasikmadu yang bekerja pada pengelolaan industri pariwisata atau berkontribusi dalam pengelolaan pariwisata pantai mutiara di Desa Tasikmadu. Pedoman subjek penelitian yang akan digunakan meliputi criteria sebagai berikut: . Masyarakat yang bekerja sebagai pengelola tempat pariwisata Pantai Mutiara di Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Anggota kelompok masyarakat pengelola pariwisata Pantai Mutiara. Sudah bekerja di industri pariwisata di Desa Tasikmadu minimal 3 tahun. Berusia antara 25-50 tahun dan. Tidak mempunyai keterbatasan sehingga mampu memberikan informasi data yang representatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini agar mendapatkan data yang diperlukan dengan menggunakan tiga metode, yaitu: Observasi digunakan dengan cara melakukan pengamatan pada subjek penelitian untuk bisa memahami kondisi yang se-nyatanya, pengamatan tidak hanya berdasarkan apa yang dilakukan subjek tetapi juga meliputi apa saja yang dikerjakan, tempat kerja, dan masyarakat sekitar. Kemudian wawancara dilakukan agar mendapatkan informasi serta ide melalui proses tanya jawab dan dilakukan pertemuan antara dua orang atau lebih pada pelaksanaannya. Kemudian dokumentasi didapatkan dari catatan sebuah peristiwa yang sebelumnya telah terjadi dan dicatat dalam sebuah dokumen yang berbentuk gambar, tulisan, maupun karya-karya monumental seseorang (Sugiyono, 2. Analisis data pada penelitian ini bersifat deskriptif yakni menguraikan fenomena yang terjadi untuk mengidentifikasi permasalahan dalam bentuk naratif terkait relasi gender masyarakat Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif grounded theory karena dapat menggali data secara lebih mendalam dan berkelanjutan dimana lebih bersifat proses, tahapan analisis dapat dilakukan setelah mendapatkan informasi dan terus berkelanjutan dengan menambahkan informasi baru yang diperoleh(Creswell, 2. Adapun tahapannya berupa: Deskripsi. Coding. Kategorisasi, dan Analisis. Hasil dan Pembahasan Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 1 Peran dan Partisipasi Perempuan Pengembangan pariwisata di Desa Tasikmadu membawa dampak yang baik bagi masyarakat Salah satu dampak yang dirasakan masyarakat dari pariwisata adalah mampu memberikan kesempatan tenaga kerja yang masih menganggur dan terbukanya peluang bagi masyarakat sekitar untuk membuka usaha agar bisa mengubah taraf hidup mereka menjadi lebih baik. Kesempatan ini juga membuka peluang bagi perempuan untuk ikut berpartisipasi. Perempuan semakin menyadari peran mereka yang kompleks, yakni tidak hanya sebagai ibu dan istri tetapi juga sebagai masyarakat untuk dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan masyarakat dan membantu keluarga untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat akibat pertumbuhan ekonomi. Bagi perempuan yang dari keluarga menengah kebawah bekerja bukan merupakan tawaran, tetapi lebih pada usaha untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi, apalagi tidak mempunyai lahan untuk diolah. Sejalan dengan berkembangnya industri pariwisata di kawasan Watulimo mendorong perempuan yang dulunya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga atau membantu mengurus perkebunan keluarga untuk ikut ambil bagian dalam pengelolaan pariwisata di daerah sekitar mereka. Tetapi karena perempuan kalah bersaing dengan laki-laki dan lebih dibutuhkannya tenaga laki-laki sehingga tidak banyak perempuan yang dapat ikut serta dalam pengelolaan pariwisata Pantai Mutiara dan posisi pekerjaan perempuan bukannya posisi yang strategis. Kemampuan perempuan diperlukan dalam membantu memecahkan permasalahan ekonomi dan masalah administratif pada pengelolaan pariwisata di Pantai Mutiara serta menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan. Meskipun perempuan mampu menunjukan keefektifan kerja dan tanggung jawab yang tinggi tetapi perempuan tetap menjadi nomor dua dalam kelompok masyarakat pengelola Pantai Mutiara dibawah laki-laki karena tidak memiliki kekuasaan sebesar laki-laki didalam masyarakat. Perempuan yang ada di kawasan wisata Pantai Mutiara secara alami menjalankan peran sebagai orang tua atau orang dewasa dalam keluarga yang antara lain tampak pada sikap yang penuh tanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga. Perempuan juga dapat membantu pengelolaan atau bekerja secara langsung di warung makan atau kedai, oleh-oleh dan lainnya dalam kawasan pantai mutiara tersebut. Tidak jarang perempuan akan menjalani peran ganda pada waktu yang bisa saja bersamaan, yaitu pengelola wisata serta pekerjaan domestik . erdagang dan mengurus ana. karena tidak semua yang mempunyai kerabat yang dapat membantu menjaga anak atau usaha mereka. Secara umum perempuan berusaha membantu perekonomian keluarga tanpa melepaskan tanggung jawab domestik mereka atau bergantung pada bantuan suami atau kerabat. Dengan demikian, perempuan seakan terus bekerja dan berpikir sepanjang hari. Mereka dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi dan menjalankan tanggung jawab domestik secara tumpang tindih baik di luar maupun di dalam rumah. Kenyataan yang terjadi pada masyarakat merupakan pemahaman yang turun temurun dipercayai sehingga tidak jarang terjadi ketidaksetaraan diantara laki-laki dan perempuan pada ranah akses, kontrol maupun yang lainnya. Ketimpangan gender banyak terpengaruh karena nilai sosial yang ada pada masyarakat, budaya patriarki yang masih berjalan, produk peraturan perundang-undangan yang terdapat bias gender, kepercayaan agama yang tidak Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 dipahami secara menyeluruh dan cenderung parsial, serta rendahnya semangat dan keinginan dari perempuan itu sendiri. Perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara lebih banyak berperan sebagai penunjang kegiatan yang tidak strategis. Peluang dari perempuan masih sangat terbatas dalam berpartisipasi dalam pekerjaan pengelolaan wisata Pantai Mutiara. Dasar dari peran perempuan karena secara fisik perempuan dianggap lebih lemah daripada laki-laki, perempuan diidentikan pada pekerjaan rumah, pemerintah kurang memberikan pemahaman lebih untuk membuka kesempatan bagi Beberapa faktor tersebut sangat merugikan perempuan, akan tetapi sebagian besar perempuan belum dapat menyadari hal tersebut dan menganggap hal tersebut wajar sesuai dengan apa yang ada dimasyarakat. Pada pembagian peran yang diperoleh perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara masih banyak dipengaruhi oleh laki-laki. Beberapa posisi yang ditempati oleh perempuan seperti sekertaris, bendahara, administrasi dan anggota biasa. Sedangkan laki-laki banyak yang mengisi posisi-posisi penting yang ada dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara. Karena dalam penunjukan posisi atau rapat, perempuan cenderung pasif selain itu laki-laki dengan pemahaman tradisional mereka membuat doktrin bahwa perempuan tidak seharusnya mengisi posisi-posisi strategis karena pada dasarnya perempuan hanya sebagai pendukung dari laki-laki. Sehingga partisipasi perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara sangat terbatas. Keterbatasan peran dan partisipasi perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara banyak dipengaruhi kondisi dalam keluarga dan lingkungan sosial mereka. Pada lingkup keluarga tidak jarang perempuan harus dapat menjalankan dua peran dengan baik dimana mengerjakan keperluan keluarga apalagi untuk yang sudah berkeluarga harus mengurus anak mereka, sedangkan disisi lain karena tuntutan ekonomi keluarga yang belum mampu dipenuhi suami maka perempuan juga membantu dengan bekerja diluar rumah. Karena kepercayaan terhadap budaya yang sudah lama berjalan beranggapan bahwa urusan rumah merupakan kewajiban utama perempuan sehingga mereka tidak dapat melepaskan tanggung jawab 2 Akses dan Kontrol Perempuan Pada beberapa sumber, patriarki dibedakan dalam dua aspek yakni patriarki sebagai kontrol pada reproduksi biologis dan seksualitas terutama pada kehidupan pernikahan monogami, serta patriarki sebagai kontrol pada pembagian kerja, seksual dan sistem pewarisan. Eksploitasi pada perempuan serta kekerasan sering terjadi pada perempuan, baik itu dalam lingkup domestik maupun publik. Pada masyarakat tradisional patriarki dipandang sesuatu yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan. Kepercayaan digunakan sebagai patokan dalam menetapkan posisi dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, sehingga dalam kehidupan masyarakat telah diatur berdasarkan perbedaan tersebut. Begitupun pada masyarakat Desa Tasikmadu, dimana secara umum masyarakat Desa Tasikmadu masih tergolong tradisional dengan masih banyaknya kepercayaan masyarakat sebelumnya yang masih dianut dan menilai laki-laki mempunyai kemampuan yang lebih dari perempuan secara alamiah. Sistem patriarki pada masyarakat Desa Tasikmadu masih dipergunakan hingga saat ini. Dengan kepercayaan tersebut membuat posisi perempuan selalu Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 dibawah laki-laki, sehingga laki-laki selalu dipertimbangkan terlebih dahulu menempati posisi penting daripada perempuan. Akses dan kontrol yang ada pada kelompok pengelola wisata pantai mutiara sangat didominasi oleh laki-laki. Keterlibatan laki-laki sangat mendominasi pada bagian strategis kelompok, dan posisi penting dalam kelompok. Hal ini terjadi karena pandangan bahwa lakilaki mempunyai kemampuan lebih dan kebutuhan tenaga yanng dimiliki oleh laki-laki. Untuk pengembangan awal dalam segi permodalan kelompok pengelola diperoleh dari iuran masing-masing anggota yang kemudian disepakati sebagai investasi untuk pengelolaan wisata pantai mutiara, sedangkan untuk pinjaman kepada bank atau sumber lain belum dapat dilakukan karena pengelolaan wisata pantai mutiara sendiri masih belum lama didirikan. Wewenang dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara masih dibawah pengawasan dari Perhutani dengan LMDH sebagai penghubung dengan pengelola. Masyarakat yang ikut serta masih belum banyak melibatkan perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara. Dengan jumlah perempuan yang ikut dalam pengelolaan masih sedikit sehingga laki-laki dapat mengisi peran-peran strategis. Meskipun berada di wilayah milik Perhutani, tetapi secara keseluruhan dikelola oleh masyarakat lokal tetapi terus berada pada pengawasan Perhutani. Meskipun kewenangannya masih terbatas, namun pengelolaan wisata Pantai Mutiara masih dapat berjalan dengan optimal. Berdasarkan keterbatasan akses perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara tersebut berpengaruh pada tingkat partisipasinya dalam pekerjaan. Keterbukaan akses bagi perempuan hanya pada pekerjan yang tidak strategis atau bahkan hanya untuk mengurus kios atau Pada pengelolaan sendiri perempuan ditempatkan pada bagian seperti sekertatis, bendahara, administratif atau anggota biasa. Seperti yang sudah banyak diketahui pada budaya patriarki, tanggung jawab utama sebagai seorang perempuan hanya untuk mengurus keperluan rumah tangga. Sehingga pandangan ini kemudian sangat berpengaruh pada penempatan posisi perempuan dalam pekerjaan. Sebagian besar perempuan yang bekerja di wisata Pantai Mutiara juga masih mengerjakan beberapa urusan dalam rumah setelah selesai bekerja. Sebagai pemahaman bahwa perempuan yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi banyak yang mengeluhkan kondisi mereka dimana setelah pulang bekerja pasti merasakan kelelahan dan harus mengejakan juga pekerjaan rumah. Pembagian peran sendiri masih belum bisa seimbang karena lebih dominanya kontrol dari laki-laki apalagi jika suami juga bekerja diluar rumah. Sementara itu beberapa perempuan pengelola wisata Pantai Mutiara memiliki suami yang tidak mempunyai pekerjaan tetap sehingga pada setiap kesempatan jika suami tidak bekerja maka suami yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. Tetapi jika suami juga bekerja diluar rumah maka perempuanlah yang harus mengerjakan keperluan rumah tangga. Apabila dipahami lebih jauh alasan mereka mengerjakan hal tersebut karena pemahaman mereka terhadap gender yang selama ini mereka pahami dan sudah menjadi suatu hal wajar sehingga menjadi kebiasaan dalam masyarakat untuk melakukan urusan tersebut sehingga pemahaman budaya tersebut mengontrol perempuan. Pada dasarnya ini adalah sebuah kontruksi sosial budaya yang sudah dari sekian lama masyarakat percayai dan jalani untuk dilakukan oleh perempuan hingga sampai saat ini. Konsep patriarki yang banyak ditemui pada masyarakat khususnya di Desa Tasikmadu ini untuk senantiasa membuat perempuan Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 untuk selalu mendahulukan hormat pada suami sebagai kepala keluarga. Walaupun dari segi kekuatan ekonomi yang diperoleh perempuan sama bahkan bisa lebih banyak daripada suami. 3 Bentuk Relasi Gender dalam Pengelolaan Pariwisata Pantai Mutiara Perkembangan ekonomi masyarakat Desa Tasikmadu perlahan-lahan merubah pandangan dan budaya yang telah dianut sejak dahulu mengenai gender. Dapat dilihat dengan terbukanya kesempatan perempuan untuk bekerja diluar rumah. Sebelumnya akses untuk bekerja diluar rumah sangat terbatas bagi perempuan, dimana bekerja diluar rumah hanya diprioritaskan untuk laki-laki dan perempuan lebih banyak menghabisakan waktunya untuk mengurus keperluan rumah tangga, hal ini juga dipengaruhi oleh desakan ekonomi keluarga yang harus Kesempatan tersebut dapat membuka peluang untuk dapat melihat hubungan lakilaki dan perempuan dalam pekerjaannya dan sejauh mana relasi gender dalam pembagian Pada dasarnya, semua anggota kelompok pengelola baik itu laki-laki ataun perempuan, mempunyai hak akses yang sama untuk dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh kelompok pengelola wisata Pantai Mutiara karena hal ini sudah teramanatkan pada AD/ART yang telah diatur dan dimusyawarahkan seluruh anggota. Diantaranya seperti peran yang dapat diambil, akses pada setiap kegiatan, menghadiri rapat rutin kelompok pengelola, memberikan kritik dan saran pelaksanaan pengelolaan, hak dalam pengambilan keputusan pengelola, kesempatan untuk dapat berpartisipasi, kontrol terhadap sumberdaya dan manfaat dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara dan lain sebagainnya. Relasi yang dibangun dalam kelompok pengelolaan wisata Pantai Mutiara diatur dengan sebaik mungkin agar dapat menghasilkan komunikasi yang baik dan efektif antara laki-laki dan perempuan. Pada saat perempuan memilih untuk bekerja diluar rumah, pada dasarnya itu merupakan keputusan pribadi dan keinginan untuk membantu perekonomian keluarga dan sebagian besar bukan dari kemauan suami. Proses awalnya pasti akan meminta persetujuan dari suami untuk dapat bekerja diluar rumah, hal ini dilakukan atas dasar agar dapat menyesuaikan pada peran dirumah dan menyadari bahwa dalam kehidupan berkeluarga harus didiskusikan secara terbuka dan atas pertimbangan dari suami sebagai kepala keluarga. Dalam pandangan feminisme liberal pada dasarnya laki-laki maupun perempuan diciptakan dengan memiliki kemampuan masing-masing yang seimbang dan keunikan fungsi yang Oleh sebab itu harusnya dapat saling menghargai satu sama lainnya dan berusaha membangun kerjasama yang baik, baik itu dalam lingkup keluarga maupun lingkup publik dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tercermin dalam prinsip-prinsip pencerahan dimana kesempatan harusnya diberikan oleh semua baik laki-laki dan perempuan karena mempunyai kemampuan khusu masing-masing. Secara ontologis baik laki-laki ataupun perempuan mempunyai kedudukan yang sama, dimana apa yang dapat diperoleh oleh laki-laki juga dapat diperoleh oleh perempuan tanpa harus melihat perbedaan gender antara keduanya. Dengan perkembangan budaya matrealistis, membuka peluang perempuan untuk dapat mempunyai kekuatan dari pendidikan dan materi sehingga dapat terbuka kesempatan kesetaraan hak dan menentukan kehendaknya tanpa adanya doktrin dari pihak lain. Laki-laki dan perempuan pada posisi yang setara karena memiliki kualitas dan kapasitas yang sama untuk berpikir dan bertindak secara rasional. Kesetaraan dapat dicapai dengan tidak menilai Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 bahwa perbedaan yang ada berarti terdapat perbedaan posisi pada mereka. Masyarakat Desa Tasikmadu yang masih dominan tradisional menyebabkan pemahaman patriarki masih banyak digunakan dalam ranah keluarga bahkan mempengaruhi ranah publik yang ada, sehingga laki-laki dan perempuan belum dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dalam ranah publik. Pada penempatan kerja perempuan dalam kelompok pengelola wisata Pantai Mutiara menempati posisi sebagai sekertaris, bendahara, administratif atau anggota biasa. Kemudian dalam pengelolaan hariannya dibagi kembali sesuai kebutuhan setiap harinya diluar posisi dalam kelompok pengelola wisata pantai mutiara yang sudah ditentukan diawalnya. Dari pembagian tersebut dapat memberikan kesempatan setiap anggotanya untuk berbagi tanggung jawab baik antara laki-laki maupun perempuan dapat saling membantu dengan keterbatasan yang ada. Pekerjaan strategis yang biasanya dipegang oleh laki-laki dapat dikerjakan oleh perempuan begitupun sebaliknya. Tetapi tetap dibatasi dimana pekerjaan berat yang memerlukan tenaga lebih akan dikerjakan laki-laki. Penempatan setiap posisi pada kelompok pengelola wisata Pantai Mutiara ditetapkan pada musyawarah yang dihadiri seluruh anggota dalam Rapat Anggota. Kesempatan untuk mengisi posisi pada kelompok terbuka untuk setiap anggota. Anggota kelompok dapat mengajukan diri untuk mengisi suatu posisi tertentu atau mencalonkan orang lain untuk mengisi posisi tersebut dan yang dicalonkan untuk mengisi posisi tertentu dapat menerima atau menolak penunjukan tersebut. Dasar dari kualifikasi setiap posisinya ditentukan hanya berdasarkan kemampuan dan kemauannya. Dengan pandangan patriarki yang banyak tersebar dalam masyarakat sehingga hal ini menyebabkan laki-laki dapat memperoleh kesempatan untuk mengisi posisi penting karena laki-laki dirasa mempunyai kemampuan lebih dan juga perempuan merasa bahwa mereka dibawah laki-laki. Dapat dilihat bahwa pada pembagian kerja antara laki-laki serta perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara belum sepenuhnya lepas dari budaya patriarki yang masih ada dalam masyarakat Desa Tasikmadu. Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai pembagian kerja berdasarkan pandangan sosial mengenai apa yang pada umumnya dikerjakan laki-laki dan perempuan pada lingkup keluarga. Sehingga dalam hal ini mempengaruhi bagaimana penempatan posisi perempuan dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara dan bagaimana hubungan kerjasama antara laki-laki dan perempuan dalam proses mengelola wisata Pantai Mutiara. Dalam relasi gender yang terjadi membuat laki-laki memperoleh peranan penting sedangkan perempuan lebih bertindak sebagai pendukung dari laki-laki. Laki-laki telah banyak memperoleh peluang dari pada perempuan yakni dalam kemudahan akses pada pekerjaan yang diperoleh, tingkat partisipasi yang lebih luas, dan kesempatan untuk mengambil kontrol dalam kelompok. Beberapa faktor tersebut mempengaruhi manfaat yang dapat diperoleh, semakin terbukanya kesempatan yang diperoleh maka manfaat yang diperoleh dapat semakin besar pula. Laki-laki tentu lebih dapat merasakan keuntungan dari adanya wisata Pantai Mutiara jika dilihat dari keterlibatannya dalam kelompok pengelola. Laki-laki dapat mendapat pendapatan yang lebih besar, jaringan sosial yang semakin terbuka karena berhubungan dengan orang baru, serta dapat meningkatkan kemampuan mereka karena kesempatan memperoleh pengetahuan baru dan kesempatan mengekspresikan diri. Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Kesimpulan Pembagian kerja dalam pengelolaan wisata Pantai Mutiara antara laki-laki dan perempuan belum seimbang. Selain dominasi dari laki-laki juga dikarenakan oleh perempuan pengelola wisata Pantai Mutiara yang lebih bersifat pasif dalam setiap kegiatan. sehingga menyebabkan peran, partisipasi, akses dan kontrol yang dimiliki perempuan sangat terbatas. Beberapa pandangan budaya yang sudah dipercayai oleh masyarakat sering membuat perempuan seolah tersudutkan sehingga menimbulkan permasalahan terkait kesetaraan gender. Stereotip juga terus berkembang dalam masyarakat Desa Tasikmadu sehingga dapat kita temui untuk posisi penting akan banyak ditempati oleh laki-laki daripada perempuan walaupun perempuan Desa Tasikmadu juga memiliki kemampuan yang tidaklah jauh berbeda dengan laki-laki. Pada pembagian kerja kelompok pengelola wisata Pantai Mutiara laki-laki banyak yang menempati posisi strategis sedangkan perempuan dapat dikatakan menempati posisi pendukung. Kemudian dalam pengelolaan hariannya dibagi kembali sesuai kebutuhan setiap harinya diluar posisi dalam kelompok pengelola wisata pantai mutiara yang sudah ditentukan diawalnya. Daftar Pustaka