Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Quran and Hadith Learning through Cooperative Learning Model at MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi: A Classroom Action Research Maisyarah 1. Nurul Hikmah 2 1 MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi 2 MIS Rohani Ikhwanul Muslimin Correspondence: mais91519@gmail. Article Info Article history: Received Jun 12th, 20xx Revised Aug 20th, 20xx Accepted Aug 26th, 20xx Keyword: Classroom Action Research. Quran and Hadith. Cooperative Learning Model. Student Engagement. Islamic Education. MI Permata Hati Bangsa. Collaborative Learning. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding and engagement in Quran and Hadith learning at MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi through the implementation of the Cooperative Learning Model. The study was conducted with a focus on enhancing students' ability to comprehend and apply the teachings of the Quran and Hadith in their daily lives. The research involved a group of 25 students from grade 5 who were selected as participants. Data collection methods included classroom observations, interviews, tests, and student feedback. The research was conducted in two cycles, following the action research model of planning, action, observation, and reflection to ensure continuous improvement in the learning process. The results of the study showed that the Cooperative Learning Model effectively enhanced student participation, motivation, and comprehension of Quranic texts and Hadith. Students were more engaged in the learning process and showed improved collaborative skills, as they worked in groups to discuss and interpret Quranic verses and Hadith. Moreover, their understanding of key Islamic concepts deepened as they were encouraged to teach and learn from one another. The teacher's role as a facilitator was crucial in guiding students to work together and explore the material in a more meaningful way. The research also indicated that students' retention of the material improved through peer collaboration and interactive learning In conclusion, the Cooperative Learning Model proves to be an effective approach in enhancing the understanding of Quran and Hadith among students at MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi. It is recommended that this model be further integrated into the schoolAos curriculum to support active and collaborative learning. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama, khususnya dalam mempelajari Al-Qur'an dan Hadis, memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa di sekolah dasar. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan ajaran Islam, tetapi juga membentuk moral dan etika siswa yang akan membawa mereka dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di banyak sekolah dasar, pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis seringkali dilakukan dengan pendekatan yang konvensional, yang cenderung kurang menarik bagi siswa. Pembelajaran yang hanya berfokus pada hafalan dan pemahaman teks tanpa mengaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari membuat siswa cenderung kurang tertarik dan tidak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran (Budi, 2. Di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi, pembelajaran AlQur'an dan Hadis juga mengalami tantangan yang serupa, di mana siswa merasa kesulitan untuk mengaitkan ajaran tersebut dengan kehidupan nyata mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model ini berfokus pada interaksi antar siswa dalam kelompok kecil, yang dapat memfasilitasi diskusi, kolaborasi, dan pembelajaran Pembelajaran kooperatif telah terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, karena mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berperan aktif dalam proses belajar (Siti, 2. Di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi, penggunaan model ini dapat membantu siswa tidak hanya memahami materi Al-Qur'an dan Hadis dengan lebih baik, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi yang penting dalam kehidupan Pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di sekolah dasar memiliki tantangan tersendiri. Selain materi yang sering dianggap sulit, pendekatan pengajaran yang monoton juga mempengaruhi efektivitas pembelajaran. Siswa sering kali merasa bosan dengan metode yang hanya mengandalkan ceramah dan hafalan. Dalam konteks ini, model pembelajaran kooperatif dapat memberikan solusi dengan melibatkan siswa dalam kegiatan yang lebih interaktif. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa dapat saling berbagi pemahaman, berdiskusi, dan mendalami materi secara lebih mendalam. Menurut Hanafi . , pembelajaran berbasis kolaborasi memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih holistik karena mereka dapat melihat berbagai perspektif dari teman sekelas mereka. Model pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar AlQur'an dan Hadis. Pembelajaran yang berbasis kelompok menciptakan suasana yang lebih menyenangkan dan tidak monoton, sehingga siswa lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif. Ketika siswa merasa bahwa mereka dapat berkontribusi dalam diskusi kelompok dan mendapatkan umpan balik dari teman-temannya, mereka akan merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk belajar lebih giat. Ahmad . menjelaskan bahwa pembelajaran yang kolaboratif dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Al-Qur'an dan Hadis. Di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi, penerapan model pembelajaran kooperatif dalam pelajaran Al-Qur'an dan Hadis dapat menciptakan suasana yang lebih hidup dan dinamis. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya menghafal teks, tetapi juga dapat mengkaji dan mendiskusikan isi Al-Qur'an dan Hadis dalam kelompok mereka. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna ajaran Islam, serta cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Rina . menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis, yang penting dalam memahami teks agama yang lebih kompleks. Dalam konteks pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis, penting untuk mengaitkan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa perlu memahami bahwa ajaran agama bukan hanya sebuah teks yang harus dihafalkan, tetapi juga panduan hidup yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa dapat mendiskusikan bagaimana ajaran dalam Al-Qur'an dan Hadis relevan dengan isu-isu yang mereka hadapi sehari-hari. Siti . menjelaskan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan relevansi materi ajar, sehingga siswa merasa lebih terhubung dengan apa yang mereka pelajari. Pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan nilainilai sosial dan moral yang terkandung dalam ajaran Islam. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa dapat saling berbagi pengalaman dan perspektif tentang bagaimana mereka menerapkan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan mereka. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa untuk belajar dari satu sama lain dan mendiskusikan berbagai cara untuk mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam tindakan sehari-hari. Dewi . mengungkapkan bahwa melalui kolaborasi antar siswa, mereka dapat lebih memahami pentingnya nilai-nilai Islam, seperti saling menghormati, berbagi, dan bekerja sama. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Penerapan model pembelajaran kooperatif juga berpotensi meningkatkan keterampilan sosial siswa, seperti kerja sama, komunikasi, dan empati. Dalam kelompok, siswa diajarkan untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, yang penting untuk pengembangan keterampilan sosial mereka. Dengan saling membantu dan bekerja sama, siswa belajar untuk saling menghargai pendapat dan kontribusi teman mereka. Joko . menyebutkan bahwa keterampilan sosial yang dikembangkan melalui pembelajaran kooperatif akan berguna bagi siswa dalam kehidupan mereka di luar sekolah, terutama dalam interaksi sosial di masyarakat. Sebagai tambahan, penerapan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi. Siswa yang sebelumnya kurang tertarik dengan pelajaran agama kini dapat merasa lebih tertarik dan terlibat aktif dalam setiap sesi pembelajaran. Dengan memanfaatkan kekuatan kelompok, siswa dapat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Kartika . mencatat bahwa pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman mereka terhadap ajaran Selain itu, pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Mereka diajak untuk menganalisis isi Al-Qur'an dan Hadis lebih mendalam, bukan sekadar menerima informasi begitu saja. Hal ini memberi siswa kesempatan untuk mempertanyakan, mendiskusikan, dan menemukan makna yang lebih dalam dari teksteks agama yang mereka pelajari. Fatimah . menjelaskan bahwa pembelajaran yang memfasilitasi diskusi dan refleksi ini membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan kritis terhadap ajaran agama. Meskipun pembelajaran kooperatif memberikan banyak manfaat, tantangan yang dihadapi dalam penerapannya juga tidak sedikit. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana mengelola kelompok agar setiap siswa dapat berpartisipasi aktif dan tidak ada yang merasa Pembelajaran yang berbasis kelompok membutuhkan keterampilan manajerial yang baik dari guru untuk memastikan setiap siswa dapat terlibat dan berkontribusi secara optimal. Widi . mencatat bahwa kesuksesan pembelajaran kooperatif sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengatur dinamika kelompok dan memberikan tugas yang tepat sesuai dengan kemampuan siswa. Namun, tantangan ini dapat diatasi dengan perencanaan yang matang dan pendekatan yang Guru perlu memantau proses diskusi dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara dan berbagi pendapat. Siswa juga harus diberi arahan yang jelas tentang bagaimana bekerja sama dalam kelompok dan mengelola tugas secara efektif. Hal ini akan membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan kolaboratif. Zahra . menyarankan agar guru memberikan tugas yang dapat melibatkan semua anggota kelompok secara aktif, untuk menghindari dominasi dari satu atau dua siswa saja. Penerapan pembelajaran kooperatif di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis. Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan kolaboratif, siswa diharapkan dapat lebih memahami ajaran-ajaran Islam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui diskusi kelompok dan refleksi bersama, siswa dapat membangun pemahaman yang lebih dalam dan lebih relevan mengenai Al-Qur'an dan Hadis. Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan dan mengadaptasi model pembelajaran ini agar lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman agama siswa. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif. Model ini dipilih Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 karena dapat meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar dengan bekerja dalam kelompok untuk berdiskusi dan memecahkan masalah bersama. PTK dilakukan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus pertama berfokus pada penerapan dasar model pembelajaran kooperatif, sementara siklus kedua difokuskan pada perbaikan berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama (Budi, 2. Subjek penelitian ini adalah 25 siswa kelas 5 MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi yang dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa mereka memiliki pemahaman yang cukup tentang Al-Qur'an dan Hadis namun membutuhkan pendekatan yang lebih menarik untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi kelas, tes tertulis, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen hasil kerja siswa. Penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu empat bulan untuk memastikan bahwa setiap siklus memberikan kesempatan bagi siswa untuk merespons dan beradaptasi dengan model pembelajaran yang diterapkan (Siti, 2. Pada tahap perencanaan, guru menyusun RPP yang mengintegrasikan pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis dengan pendekatan kooperatif. Rencana ini mencakup aktivitas seperti diskusi kelompok, studi kasus, dan presentasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Dalam tahap tindakan, pembelajaran dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan topik-topik Al-Qur'an dan Hadis. Setiap kelompok diharapkan dapat berbagi pengetahuan dan saling membantu untuk memperdalam pemahaman mereka melalui kolaborasi yang aktif (Rina, 2. Pada tahap observasi, peneliti memantau aktivitas kelas untuk menilai keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok serta kemampuan mereka dalam mengaplikasikan pemahaman tentang AlQur'an dan Hadis. Data juga dikumpulkan melalui tes tertulis untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa mengenai materi. Selain itu, wawancara dengan siswa dan guru dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana siswa merespons pembelajaran kooperatif dan apakah mereka merasa lebih termotivasi dan tertarik dengan materi yang diajarkan. Hasil observasi dan wawancara digunakan untuk mengevaluasi efektivitas model ini dalam meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran (Ahmad, 2. Setelah siklus pertama, tahap refleksi dilakukan untuk menganalisis hasil yang diperoleh dan mengevaluasi keberhasilan penerapan model pembelajaran kooperatif. Berdasarkan hasil refleksi ini, perbaikan dilakukan pada siklus berikutnya, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di setiap siklus dan memastikan bahwa siswa memperoleh manfaat maksimal dari model pembelajaran yang diterapkan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan solusi yang bermanfaat untuk meningkatkan pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi (Dewi, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan Model Pembelajaran Kooperatif menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis. Sebelumnya, siswa cenderung pasif dan kurang tertarik dengan materi ajar, namun setelah pembelajaran dilakukan dengan pendekatan kooperatif, mereka lebih aktif berdiskusi dalam kelompok. Model ini memungkinkan siswa untuk saling berbagi pemahaman dan pengetahuan mengenai topik yang dipelajari, sehingga mereka merasa lebih terlibat dalam proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menciptakan suasana kolaboratif, siswa merasa lebih termotivasi dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial Budi . mengungkapkan bahwa pembelajaran yang mengutamakan interaksi antar siswa mampu mendorong partisipasi aktif mereka dalam kelas. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada siklus pertama, penurunan signifikan terlihat dalam pemahaman siswa terhadap materi Al-Qur'an dan Hadis yang sebelumnya sulit mereka pahami. Pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa untuk mendiskusikan materi bersama teman-temannya, sehingga mereka dapat memperdalam pemahaman melalui perspektif yang berbeda. Selain itu, kelompok yang bekerja sama dapat saling melengkapi pemahaman satu sama lain. Hasil ini sejalan dengan temuan dari Siti . yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berbasis kelompok meningkatkan pemahaman siswa karena mereka dapat belajar dari pengalaman dan pengetahuan teman-teman mereka. Pembelajaran yang lebih interaktif membantu mereka memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis dengan lebih jelas. Dalam hal keterampilan berbicara, siswa yang biasanya merasa malu atau ragu untuk mengungkapkan pendapat mereka mulai menunjukkan perubahan yang positif. Pembelajaran kooperatif memberi mereka kesempatan untuk berbicara dan berbagi pemahaman tanpa rasa takut salah. Mereka merasa lebih percaya diri saat berada dalam kelompok yang mendukung, yang memungkinkan mereka untuk menyampaikan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Proses ini juga meningkatkan kemampuan mereka dalam menjelaskan konsep-konsep yang mereka pelajari kepada teman-teman mereka. Ahmad . menunjukkan bahwa model ini dapat meningkatkan keterampilan komunikasi siswa, karena mereka lebih sering berinteraksi dengan teman-temannya dalam diskusi kelompok. Selain itu, pada siklus pertama, terlihat adanya peningkatan dalam pemahaman konteks dan aplikasi ajaran Al-Qur'an dan Hadis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk berdiskusi tentang bagaimana ajaran tersebut dapat diterapkan dalam tindakan sehari-hari mereka. Pembelajaran yang relevan dengan kehidupan mereka membuat siswa lebih mudah mengaitkan ajaran agama dengan tindakan yang mereka lakukan di luar kelas. Siti . berpendapat bahwa pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap ajaran agama karena mereka melihat langsung manfaatnya dalam kehidupan mereka. Pada siklus kedua, setelah adanya perbaikan dan evaluasi dari siklus pertama, penerapan model pembelajaran kooperatif menghasilkan perubahan yang lebih besar dalam motivasi belajar Ketika siswa diberi kesempatan untuk bekerja dalam kelompok yang lebih beragam, mereka lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif. Diskusi kelompok memberi mereka ruang untuk bertanya, berbagi, dan memberikan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasi siswa untuk lebih tertarik pada materi ajar, karena mereka merasa lebih terlibat dan dihargai dalam proses pembelajaran. Dewi . menjelaskan bahwa motivasi siswa meningkat ketika mereka merasa memiliki kontribusi dalam proses pembelajaran. Perubahan positif juga terlihat dalam kemampuan menulis siswa. Pada siklus pertama, banyak siswa yang merasa kesulitan dalam menyusun ide dan menjelaskan pemahaman mereka secara Namun, setelah pembelajaran kooperatif diterapkan, mereka mulai menunjukkan peningkatan dalam kemampuan menulis mereka. Pembelajaran yang berbasis pada diskusi kelompok membantu mereka menyusun argumen dan mengembangkan tulisan dengan lebih jelas dan terstruktur. Joko . mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa karena mereka mendapatkan umpan balik dari teman-temannya, yang membantu mereka memperbaiki dan menyempurnakan tulisan mereka. Selain keterampilan menulis, siklus kedua juga menunjukkan bahwa siswa mulai mengembangkan keterampilan berpikir kritis mereka. Diskusi kelompok yang memfokuskan pada topik-topik Al-Qur'an dan Hadis mendorong siswa untuk mempertanyakan dan menganalisis materi secara lebih mendalam. Mereka diajak untuk berpikir tidak hanya tentang apa yang tertulis dalam teks, tetapi juga bagaimana ajaran tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan mereka secara lebih luas. Pembelajaran yang menantang siswa untuk berpikir kritis ini sangat penting dalam mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Rina . mencatat bahwa model kooperatif dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena mereka diajak untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan berbicara secara terbuka dalam diskusi. Penerapan model pembelajaran kooperatif pada siklus kedua juga memberikan dampak yang positif terhadap kemampuan siswa dalam bekerja sama. Kerja sama dalam kelompok membuat mereka belajar untuk mendengarkan dan menghargai pendapat teman mereka. Mereka juga mulai menyadari pentingnya kontribusi masing-masing anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Keterampilan sosial ini sangat penting untuk pengembangan pribadi siswa, karena mereka belajar untuk menghargai keberagaman dan bekerja dalam tim. Hanafi . mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat membangun keterampilan sosial yang berguna dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pada siklus kedua, peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran kooperatif juga menjadi lebih jelas. Guru tidak lagi berfungsi sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan sebagai pengarah dan pembimbing yang mengatur jalannya diskusi kelompok. Guru memberi siswa kebebasan untuk berinteraksi dan belajar satu sama lain, sambil memberikan panduan dan klarifikasi ketika diperlukan. Peran guru yang lebih sebagai fasilitator ini meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar, yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi mereka. Fatimah . menyatakan bahwa peran guru sebagai fasilitator meningkatkan kualitas pembelajaran karena siswa lebih banyak terlibat dalam proses belajar Namun, meskipun ada banyak hasil positif, beberapa tantangan masih muncul pada siklus Salah satunya adalah bagaimana mengelola dinamika kelompok yang berbeda-beda. Beberapa kelompok masih terlihat tidak seimbang dalam kontribusinya, dengan beberapa siswa lebih dominan dibandingkan yang lain. Oleh karena itu, guru perlu lebih teliti dalam memantau dan mengatur pembagian tugas dalam kelompok agar setiap siswa memiliki kesempatan untuk berkontribusi secara aktif. Widi . mencatat bahwa pengelolaan yang baik sangat penting dalam pembelajaran kooperatif agar semua siswa terlibat secara maksimal. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran kooperatif di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan pemahaman siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang materi ajar, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, dan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif membantu siswa untuk saling belajar satu sama lain, menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan. Budi . mencatat bahwa pembelajaran kooperatif dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk pembelajaran yang lebih efektif. Dengan hasil yang diperoleh pada siklus pertama dan kedua, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif sangat berpotensi untuk diterapkan dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi. Pembelajaran yang berbasis pada diskusi dan kerja sama kelompok meningkatkan keterlibatan siswa, memperdalam pemahaman mereka, dan membekali mereka dengan keterampilan sosial yang berguna. Oleh karena itu, disarankan untuk terus menerapkan dan mengembangkan model ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Zahra . menyarankan agar pembelajaran yang berbasis kolaborasi diterapkan lebih luas untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 CONCLUSION Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif. Berdasarkan hasil dari dua siklus yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model ini memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran serta pemahaman mereka terhadap materi ajar. Pembelajaran kooperatif terbukti efektif dalam meningkatkan berbagai aspek, seperti keterampilan berbicara, menulis, berpikir kritis, serta kerja sama antar siswa. Pada siklus pertama, penerapan model ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal keterlibatan siswa. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif dan kurang tertarik terhadap materi Al-Qur'an dan Hadis, mulai menunjukkan partisipasi yang lebih aktif dalam diskusi kelompok. Melalui interaksi dalam kelompok, mereka merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk berbagi pemahaman, bertanya, dan menjelaskan ide mereka. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan pembelajaran yang berbasis kolaborasi, siswa dapat lebih aktif terlibat dan merasa lebih terhubung dengan materi yang diajarkan. Pembelajaran yang melibatkan siswa dalam diskusi kelompok membantu mereka untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Al-Qur'an dan Hadis. Siklus kedua, yang didasarkan pada evaluasi dan refleksi dari siklus pertama, menunjukkan hasil yang lebih baik. Perbaikan yang dilakukan dalam pembagian tugas dalam kelompok serta variasi aktivitas pembelajaran meningkatkan efektivitas pembelajaran kooperatif. Siswa mulai menunjukkan peningkatan dalam keterampilan berpikir kritis, di mana mereka dapat menganalisis dan mengkritisi isi Al-Qur'an dan Hadis dengan lebih mendalam. Diskusi kelompok yang dilakukan memberi mereka ruang untuk mempertanyakan dan mendalami makna ajaran yang lebih luas, serta mengaitkan materi yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi, tetapi juga membantu mereka mengaplikasikan ajaran tersebut dalam kehidupan mereka. Salah satu manfaat utama yang ditemukan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif adalah peningkatan keterampilan sosial siswa. Dalam setiap kelompok, siswa diajak untuk bekerja sama dan saling menghargai satu sama lain. Mereka belajar bagaimana cara mendengarkan, memberikan pendapat, serta berbagi ide dengan teman-temannya. Keterampilan sosial ini sangat penting, karena selain meningkatkan interaksi di dalam kelas, keterampilan ini juga akan berguna bagi siswa dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari. Pembelajaran kooperatif memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerjasama, yang menjadi bekal penting dalam interaksi mereka di masyarakat. Selain itu, pembelajaran kooperatif juga berhasil meningkatkan keterampilan menulis siswa. Sebelumnya, banyak siswa yang kesulitan mengekspresikan pemahaman mereka dalam bentuk tulisan, namun setelah pembelajaran dilakukan dengan model ini, siswa dapat menghasilkan tulisan yang lebih terstruktur dan mendalam. Diskusi kelompok dan umpan balik dari temanteman mereka memberikan kesempatan untuk memperbaiki dan menyempurnakan tulisan mereka, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas tulisan yang dihasilkan. Secara keseluruhan, penerapan Model Pembelajaran Kooperatif di MI Permata Hati Bangsa Tebing Tinggi memberikan hasil yang positif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis. Model ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa dalam kelas, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari. Selain itu, pembelajaran kooperatif mengembangkan keterampilan sosial, berpikir kritis, dan komunikasi siswa, yang sangat penting dalam pembentukan karakter mereka. Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif sangat dianjurkan untuk terus diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut, tidak hanya dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis, tetapi juga pada mata pelajaran lain di sekolah dasar, guna menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES