AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 62-73 AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak Journal homepage: https://ejournal. edu/audiensi p-ISSN 2829-9353 e-ISSN 2829-8659 Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara Anak Kelompok B di TK Melalui Metode Bercakap-cakap menggunakan APE Buku Cerita Bergambar Sugiyono TK Negeri Nusawungu, sugiyonodanasri@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRACT This study aims to improve Listening and Speaking Skills in Group B 3 of Nusawungu State Kindergarten. Nusawungu District. Cilacap Regency through conversation activities using picture story books in the second semester of the 2021/2022 academic year. This study was conducted in 2 cycles. Each cycle includes the stages of planning, action, observation, evaluation and The data collection techniques used were observation and documentation methods. The data analysis method used in this study was Keywords: descriptive analysis. Improvements occurred in each cycle, in the initial Listening. Speaking, condition, children who were not yet able to listen and speak well were 14 Conversation. Early children . %), children who were able to listen and speak well were 6 children Childhood. Picture . %). In cycle I, children who were not yet able to listen and speak well were Stories 8 children . %), children who were able to listen and speak well were 12 children . %). In cycle II, children who were not yet able to listen and speak well were 4 children . %), children who were able to listen and speak well were Kata Kunci: Menyimak. Berbicara, 16 children . %). This improvement shows that the method of talking with Bercakap-cakap. Anak picture books is effective in developing children's language skills, especially in listening and speaking. Behavioral changes are also seen, where children who Usia Dini. Cerita were initially less enthusiastic become more active and interested in Bergambar Riwayat Artikel: Received: Revised: Accepted: ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara pada Kelompok B 3 TK Negeri Nusawungu Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap melalui kegiatan bercakap-cakap menggunakan media buku cerita bergambar pada semester dua tahun pelajaran 2021/2022. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus meliputi tahapan perencanaan, tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Peningkatan terjadi pada setiap siklus, pada kondisi awal anak yang belum mampu menyimak dan berbicara dengan baik 14 anak . %), anak mampu menyimak dan berbicara dengan baik 6 anak . %). Pada siklus I anak yang belum mampu menyimak dan berbicara dengan baik 8 anak . %), anak mampu menyimak dan berbicara dengan baik 12 anak . %). Pada Siklus II anak yang belum mampu menyimak dan berbicara dengan baik 4 anak . %), anak mampu menyimak dan berbicara dengan baik 16 anak . %). Peningkatan ini menunjukkan bahwa metode bercakap-cakap dengan buku cerita bergambar efektif dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak, khususnya dalam menyimak dan berbicara. Perubahan perilaku juga terlihat, di mana anak-anak yang awalnya kurang antusias menjadi lebih aktif dan tertarik untuk berkomunikasi. AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 62-73 PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan jenjang pendidikan yang sangat krusial dalam pembangunan kualitas manusia sejak usia dini. PAUD tidak hanya berperan sebagai fondasi dalam mempersiapkan anak untuk jenjang pendidikan dasar, tetapi juga sebagai wadah bagi pengembangan holistik yang mencakup perkembangan fisik, motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta moral dan agama (Permendikbud No. 137 Tahun 2. Rentang usia PAUD, menurut Pasal 28 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, adalah dari 0 hingga 6 tahun, namun dalam kajian keilmuan dan praktik internasional. PAUD sering kali mencakup anak usia 0 hingga 8 tahun, yang dikenal sebagai periode emas perkembangan anak. Pada masa usia dini, perkembangan bahasa menjadi salah satu aspek fundamental yang sangat mempengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Tanfidiyah & Utama, 2. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter dan sosial-emosional anak (Cendana & Suryana, 2. Oleh karena itu, stimulasi bahasa yang efektif pada usia ini sangat penting untuk memastikan anak memiliki kesiapan optimal dalam menghadapi tantangan pendidikan dasar dan kehidupan selanjutnya. Akan tetapi, dalam praktiknya, tidak semua anak usia dini menunjukkan perkembangan bahasa yang optimal. Berdasarkan pengamatan di Taman KanakKanak Negeri Nusawungu. Kecamatan Nusawungu. Kabupaten Cilacap, semester I tahun pelajaran 2021/2022, ditemukan bahwa 35% anak dari Kelompok B3 yang berjumlah 20 anak mengalami kesulitan dalam menyimak dan berbicara, 20% anak mampu menyimak tetapi masih mengalami kesulitan dalam berbicara, dan 15% anak kesulitan dalam menyimak tetapi sudah mampu berbicara. Hanya 30% anak yang menunjukkan kemampuan menyimak dan berbicara dengan baik. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak. Salah satu strategi yang terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak usia dini adalah metode bercakap-cakap menggunakan buku cerita Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa metode ini tidak hanya meningkatkan kemampuan menyimak anak tetapi juga memperkaya kosakata mereka Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara Anak A. (Sugiyon. serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan imajinatif. Studi oleh Ayu . menunjukkan bahwa penggunaan buku cerita bergambar secara konsisten dalam kegiatan bercakap-cakap dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menyimak hingga 40%. Penelitian lain oleh Indiaswari & Katoningsih . juga mengungkapkan bahwa anak-anak yang sering terlibat dalam aktivitas membaca buku cerita bergambar menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan menyimak dan memahami cerita. Selain itu, buku cerita bergambar memberikan visualisasi yang membantu anak memahami konteks cerita, yang pada gilirannya meningkatkan fokus dan konsentrasi anak selama kegiatan menyimak (Zubaedah & Hidayati, 2. Hal ini sejalan dengan temuan-temuan yang menyatakan bahwa anak usia dini lebih mudah memahami informasi yang disampaikan melalui kombinasi visual dan verbal dibandingkan dengan informasi verbal saja (Jannah dkk, 2. Meskipun hasil-hasil penelitian ini menunjukkan efektivitas metode bercakapcakap menggunakan buku cerita bergambar, perlu adanya pengembangan lebih lanjut mengenai variasi teknik dan pendekatan yang dapat lebih memaksimalkan potensi anak dalam menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas yang berfokus pada upaya peningkatan kemampuan menyimak dan berbicara melalui metode ini menjadi sangat relevan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan menarik, sehingga dapat mengoptimalkan perkembangan bahasa anak usia dini dan mempersiapkan mereka dengan lebih baik untuk jenjang pendidikan berikutnya. KAJIAN PUSTAKA Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Perkembangan bahasa merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh anak usia dini, mencakup beberapa tahapan yang sesuai dengan usia dan karakteristik perkembangan anak. Perkembangan ini dipengaruhi oleh interaksi antara berbagai faktor biologis, kognitif, dan sosio-emosional, yang berperan penting dalam pembentukan kompetensi komunikasi anak. Bahasa, sebagaimana didefinisikan oleh Santrock dalam Rohaina . , adalah sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi, yang meliputi fonologi . nit suar. , morfologi . nit art. , sintaksis . ata bahas. , semantic . ariasi art. , dan pragmatik . enggunaan bahas. Dengan AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 62-73 bahasa, anak mampu mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, dan perasaannya kepada orang lain. Pada masa kanak-kanak awal, khususnya pada usia 4-5 tahun, perkembangan kosa kata anak berkembang pesat. Owens . alam Harliza, 2. mengemukakan bahwa anak pada usia ini memperkaya kosa katanya melalui pengulangan, di mana mereka sering mengulang kata-kata baru meskipun mungkin belum sepenuhnya memahami artinya. Proses ini dikenal sebagai fast mapping, yaitu proses di mana anak menyerap makna kata baru setelah mendengarnya satu atau dua kali dalam percakapan (Harliza, 2. Pada periode ini, anak-anak mulai mengkombinasikan suku kata menjadi kata dan kata menjadi kalimat, yang menunjukkan perkembangan kemampuan bahasa yang semakin kompleks. Perkembangan Menyimak pada Anak Usia 5-6 Tahun Menyimak adalah kemampuan yang sangat penting bagi anak usia dini, karena berkaitan langsung dengan upaya memahami lingkungan sekitar mereka. Kemampuan menyimak harus dikembangkan secara sistematis, karena merupakan langkah awal dalam proses memperoleh pengetahuan (Putri dkk. , 2. Menurut Lubis . , pada usia 5-6 tahun, anak-anak mulai mengembangkan kemampuan untuk mengingat informasi yang mereka dengar, meskipun tidak selalu menjadi pendengar yang baik. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan anak usia ini untuk lebih fokus pada kegiatan bermain, sehingga terkadang mereka kurang memperhatikan apa yang disampaikan oleh orang dewasa di sekitarnya. Kemampuan menyimak pada anak usia 5-6 tahun dipengaruhi secara signifikan oleh daya tarik cerita yang mereka dengar, yang mencakup berbagai elemen naratif seperti panjang cerita, kompleksitas alur, dan keberagaman karakter (Sarumpaet & Ayre . Anak-anak cenderung lebih terlibat dan fokus ketika mendengarkan cerita yang memiliki alur menarik, penuh konflik, resolusi, dan kejutan, serta karakterkarakter yang kaya akan kepribadian dan peran yang berbeda. Cerita-cerita semacam ini tidak hanya menarik perhatian anak, tetapi juga merangsang imajinasi mereka, memungkinkan mereka untuk membayangkan situasi, tokoh, dan peristiwa yang Proses ini, di mana anak-anak secara aktif memvisualisasikan dan menginternalisasi informasi, memperkuat kemampuan kognitif mereka dalam menyimak dan memahami informasi secara lebih mendalam. Oleh karena itu, penting Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara Anak A. (Sugiyon. bagi pendidik dan orang tua untuk memilih atau menciptakan materi cerita yang tidak hanya sesuai dengan minat dan kemampuan anak, tetapi juga mampu menstimulasi daya pikir mereka melalui narasi yang kaya dan beragam, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan (Dewayani & Setiawan, 2. Karakteristik Kemampuan Bahasa Anak Usia 5-6 Tahun Menurut Ariska . , pada usia 5-6 tahun, anak-anak telah menguasai lebih 500 kosa kata, mencakup berbagai lingkup seperti warna, ukuran, bentuk, rasa, bau, keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan, jarak, dan permukaan . isalnya kasar dan halu. Pada tahap ini, anak juga sudah mampu berperan sebagai pendengar yang baik, serta dapat berpartisipasi aktif dalam percakapan. Mereka mampu mendengarkan pembicaraan orang lain dan memberikan tanggapan yang sesuai, menunjukkan perkembangan pragmatik bahasa yang signifikan. Berdasarkan paparan Khairi . , percakapan yang dilakukan oleh anak usia 5-6 tahun umumnya sudah mencakup berbagai komentar tentang tindakan diri mereka sendiri, orang lain, dan apa yang mereka lihat di lingkungan sekitar. Pada usia ini, anakanak juga mulai menunjukkan kemampuan ekspresi diri yang lebih kompleks, termasuk kemampuan menulis, membaca, dan bahkan berpuisi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kemampuan bahasa anak usia 5-6 tahun telah memasuki fase yang lebih maju, di mana mereka mampu menggunakan bahasa untuk berbagai tujuan komunikasi yang lebih luas dan kompleks. Metode pembelajaran melalui kegiatan bercakap-cakap di Taman Kanakkanak Metode bercakap-cakap adalah salah satu metode pembelajaran bahasa yang sering digunakan di TK dan memiliki perbedaan signifikan dengan metode tanya Dalam metode bercakap-cakap, interaksi antara guru dengan anak didik atau antara anak dengan anak lain bersifat menyenangkan dan tidak kaku, berupa dialog yang bisa bersifat bebas atau ditentukan sebelumnya (Harmawati dkk. , 2. Guru berperan sebagai fasilitator yang memotivasi anak untuk lebih aktif mengemukakan pendapat atau mengekspresikan ide-idenya secara lisan. Sebaliknya, pada metode tanya jawab, interaksi cenderung lebih kaku karena terikat pada pokok bahasan tertentu, dengan struktur dialog yang lebih formal dan terfokus pada pertanyaan dan AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 62-73 jawaban yang benar (Moeslichatoen, dalam Muliawati dkk, 2. Metode bercakap-cakap melibatkan komunikasi lisan yang dapat dilakukan melalui kegiatan monolog atau dialog. Monolog adalah kegiatan di mana anak berbicara di depan kelas atau di tempat duduknya, mengungkapkan pengalaman, perasaan, atau keinginannya. Sementara itu, dialog melibatkan percakapan antara dua orang atau lebih, di mana setiap peserta mendapat kesempatan untuk berbicara secara Metode bercakap-cakap perkembangan anak TK. Menurut Moeslichatoen . alam Tobi, 2. , metode ini Meningkatkan Keberanian dan Keterampilan Berbahasa, dimana anak dilatih untuk menyatakan pendapat, perasaan, keinginan, dan kebutuhan secara lisan, yang meningkatkan keberanian dan keterampilan ekspresif mereka. Mengembangkan Hubungan Sosial yang Menyenangkan, dimana melalui interaksi yang sering terjadi antara anak-anak atau antara anak dan guru, metode ini membantu anak mengembangkan keterampilan sosial dan memperkuat hubungan Memperluas Pengetahuan dan Wawasan, percakapan yang dilakukan secara terusmenerus memberi anak kesempatan untuk mendapatkan informasi baru, memperluas kosa kata, dan memperkaya pengalaman belajar mereka. Merangsang Perkembangan Kognitif dan Emosional, dengan seringnya bercakapcakap, anak-anak tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, imajinasi, dan empati. Metode bercakap-cakap di TK dapat diterapkan dalam tiga bentuk utama: Bercakap-Cakap Bebas. Ini adalah bentuk percakapan yang dilakukan secara bebas antara guru dan anak atau antara anak dengan anak lainnya, yang membahas berbagai topik terkait pembelajaran di TK. Bercakap-Cakap Menurut Pokok Bahasan. Percakapan yang dilakukan dengan pokok bahasan yang telah ditetapkan sebelumnya, disesuaikan dengan tema pembelajaran yang dipilih oleh guru. Bercakap-Cakap dengan Menggunakan Cerita Bergambar. Percakapan yang dilakukan berdasarkan cerita bergambar, yang bertujuan untuk memupuk kemampuan anak dalam menarik kesimpulan dari tanggapan-tanggapan visual yang Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara Anak A. (Sugiyon. diberikan oleh guru. Adapun kelebihan metode bercakap-cakap, antara lain, anak mendapat kesempatan untuk mengemukakan ide dan pendapatnya, mengembangkan cara berpikir kritis dan sikap menghargai pendapat orang lain, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Sedangkan kelemahannya, memerlukan waktu yang cukup lama untuk pelaksanaannya, dan sering kali percakapan didominasi oleh beberapa anak saja, sehingga partisipasi tidak merata. Oleh karena itu, metode bercakap-cakap adalah salah satu pendekatan efektif dalam pembelajaran bahasa di Taman Kanak-Kanak yang melibatkan interaksi lisan antara guru dan anak-anak atau antar anak itu sendiri, dengan tujuan meningkatkan keterampilan berbahasa, mengembangkan hubungan sosial, serta memperluas pengetahuan dan wawasan anak. Metode ini memungkinkan anak untuk berpartisipasi secara aktif, mengemukakan ide dan pendapat, serta merangsang perkembangan kognitif dan emosional mereka. Meskipun memiliki kelebihan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan menghargai pendapat orang lain, metode ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam pelaksanaannya dan bisa didominasi oleh beberapa anak, yang dapat mengakibatkan partisipasi yang tidak merata. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di TK Negeri Nusawungu, khususnya pada kemampuan menyimak dan berbicara siswa. Metode PTK ini sesuai dengan pendapat Arikunto . di mana penelitian dilakukan oleh guru yang bertindak sebagai peneliti dengan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif. PTK ini melibatkan siklus berulang yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi, dengan tujuan utama memperbaiki proses pembelajaran. Penelitian dilaksanakan di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Taman Kanak-Kanak Negeri Nusawungu. Kecamatan Nusawungu. Kabupaten Cilacap, pada Kelompok B3 selama Semester I Tahun Pelajaran 2021/2022. Subjek penelitian adalah 20 siswa, terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Selanjutnya, penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus selama bulan Agustus hingga September 2021. Setiap siklus terdiri dari lima kali pertemuan, dengan Siklus AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 62-73 I dilaksanakan pada tanggal 19-21 Agustus 2021 dan Siklus II pada tanggal 02-04 September 2021. Adapun tahapan penelitian sebagai berikut: Tahap Perencanaan: Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Pembuatan lembar observasi dan penilaian yang sesuai dengan pedoman. Tahap Pelaksanaan: Implementasi skenario pembelajaran sesuai dengan rancangan yang telah Tahap Pengamatan: Observasi mengumpulkan data terkait kemampuan menyimak dan berbicara anak. Tahap Refleksi: Evaluasi hasil pengamatan dan penilaian untuk menentukan dampak dari tindakan yang telah dilakukan, serta perencanaan tindakan selanjutnya. Selanjutnya, penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2021. Masing-masing siklus dilaksanakan dalam lima pertemuan dengan fokus pada peningkatan kemampuan menyimak dan berbicara anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyimak dan berbicara pada anak usia 5-6 tahun di kelompok B3 TK Negeri Nusawungu melalui penggunaan metode tertentu dalam dua siklus tindakan kelas. Berdasarkan hasil observasi yang digambarkan pada grafik, terdapat peningkatan signifikan dalam kemampuan menyimak dan berbicara anak-anak dari kondisi awal hingga siklus Berikut adalah tabel hasil penelitian mulai dari kondisi awal atau pra-siklus, siklus I hingga siklus II untuk kemampuan menyimak dan berbicara pada anak usia 56 tahun di kelompok B3 TK Negeri Nusawungu. Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara Anak A. (Sugiyon. Belum Mampu Mampu Column1 Kondisi Awal Siklus I Siklus II Gambar 1 : Perbandingan Hasil Belajar Pra Siklus. Siklus I dan Siklus II Pada kondisi awal kemampuan menyimak dan berbicara siswa masih rendah, yaitu masih ada 35% anak yang kesulitan dalam menyimak dan berbicara yaitu 7 anak dari 20 siswa, 20 % anak yang sudah dapat menyimak tetapi masih kesulitan dalam berbicara yaitu 4 anak dari 20 siswa, 15 % anak masih kesulitan dalam menyimak tetapi sudah dapat berbicara yaitu 3 anak dari 20 siswa dan hanya 30 % anak yang sudah dapat menyimak dan berbicara dengan baik yaitu 6 anak dari 20 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa mengalami kesulitan dalam kemampuan menyimak dan berbicara pada tahap awal penelitian. Setelah pelaksanaan tindakan pada Siklus I, terjadi peningkatan yang cukup Jumlah siswa yang mampu meningkat menjadi 12 siswa . %), sementara jumlah siswa yang belum mampu berkurang menjadi 8 siswa . %). Peningkatan ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan mulai memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan menyimak dan berbicara siswa. Melihat kondisi ini, peneliti selanjutnya melakukan refleksi dan perbaikan terhadap siklusi I yang telah dilakukan dengan memperhatikan penggunaan alat peraga yang menarik, menyediakan lingkungan yang menyenangkan, memberikan motivasi kepada anak didik maka terjadi peningkatan dalam kemampuan menyimak. Pada Siklus II, hasil menunjukkan peningkatan yang lebih besar lagi. Sebanyak 16 siswa . %) sudah mampu dalam hal menyimak dan berbicara, sedangkan hanya 4 siswa . %) yang masih belum mampu. Peningkatan ini menandakan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini efektif dalam meningkatkan kemampuan menyimak dan berbicara siswa. Ternyata penggunakan alat peraga yang menarik. AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 62-73 menyediakan lingkungan yang menyenangkan, memberikan motivasi kepada anak didik, memberikan perhatian yang lebih kepada anak didik, dan anak diberi lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan teman maka terjadi peningkatan kemampuan menyimak dan berbicara yang lebih tinggi dari siklus sebelumnya. Hasil penelitian di atas mendukung ide-ide menurut Moeslichatoen dalam Tobi . tentang kemampuan bercakap-cakap yang memiliki manfaat untuk meningkatkan keberanian anak untuk mengaktualisasikan diri dengan menggunakan kemampuan berbahasa secara ekspresif, menyatakan pendapat, menyatakan perasaan, menyatakan keinginan, dan kebutuhan secara lisan, meningkatkan keberanian anak untuk menyatakan secara lisan apa yang harus dilakukan oleh diri sendiri dan anak lain, meningkatkan keberanian anak untuk mengadakan hubungan dengan anak lain atau dengan gurunya agar terjalin hubungan sosial yang menyenangkan, dengan seringnya anak mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya, perasaannya, dan keinginannya maka hal ini akan semakin meningkatkan kemampuan anak membangun jati dirinya, dan dengan seringnya kegiatan bercakap-cakap diadakan, semakin banyak informasi baru yang diperoleh anak yang bersumber dari guru atau anak lain. Penyebaran informasi dapat memperluas pengetahuan dan wawasan anak tentang tujuan dan tema yang ditetapkan guru. Selain itu, peningkatan yang signifikan dari kondisi awal ke Siklus I dan kemudian ke Siklus II menunjukkan bahwa intervensi yang diterapkan dalam penelitian ini berhasil memperbaiki kemampuan menyimak dan berbicara siswa. Faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap peningkatan ini antara lain metode pembelajaran yang lebih interaktif dan komunikatif, penggunaan alat bantu atau media pembelajaran yang relevan dan menarik perhatian anak-anak, dan pemberian kesempatan yang lebih besar bagi siswa untuk berlatih dan mengekspresikan diri secara lisan (Parapat, 2. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa tindakan yang diambil dalam penelitian ini mampu meningkatkan kemampuan menyimak dan berbicara pada anak usia 5-6 tahun. Ini memberikan bukti kuat bahwa penggunaan metode yang tepat dan pembelajaran yang terstruktur dapat mendukung perkembangan bahasa anak-anak di usia dini (Zulviana & Wathon, 2. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya penelitian ini memiliki beberapa kelemahan dan keunggulan. Kelemahannya adalah penelitian ini memerlukan ketelitian yang sangat rumit karena Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara Anak A. (Sugiyon. kemampuan yang diteliti kemampuan yang abstrak yaitu kemampuan menyimak dan Sedangkan, keunggulannya adalah biaya yang diperlukan tidak terlalu besar dan dapat berjalan dengan lancar karena peneliti merupakan guru yang bertugas di sekolah yang diteliti sehingga peneliti telah mengetahui karakteristik sifat masing masing peserta didik. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa metode bercakapcakap menggunakan alat peraga edukatif berupa buku cerita bergambar secara signifikan meningkatkan kemampuan menyimak dan berbicara anak. Penerapan metode ini secara konsisten, disesuaikan dengan tema pembelajaran, serta menggunakan bahasa ibu pada awal kegiatan, terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak. Peningkatan mencapai 40%, menunjukkan dampak positif yang signifikan. Perubahan perilaku siswa terlihat jelas, di mana anak-anak yang awalnya tidak antusias menjadi lebih tertarik untuk berbicara, baik dengan guru maupun teman sebaya, sehingga hasil pembelajaran pun meningkat. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengeksplorasi metode bercakap-cakap dengan alat peraga lain serta memperluas sampel penelitian guna memastikan generalisasi hasil yang lebih luas. Penelitian juga dapat difokuskan pada pengaruh jangka panjang metode ini terhadap perkembangan keterampilan bahasa anak-anak. DAFTAR PUSTAKA