Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jac. TERHADAP PEMBERIAN KOMPOS BATANG PISANG The Growth Response of Oil Palm Seedlings (Elaeis guineensis Jac. Due to Banana Stem Compost Treatment Suhadi1*. Afiah Hasibuan1. Syafri Amir1. Riza Syofiani1. Dyah Puspita S1 Program Studi Pengelolaan Perkebunan. Jurusan Bisnis Pertanian. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh Corresponding author :Suhadi66pyk@gmail. Abstrak Pembibitan kelapa sawit pada pembibitan utama . ain-nurser. membutuhkan media tumbuh yang subur agar menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi. Media tanam yang biasa digunakan untuk pembibitan kelapa sawit main-nursery adalah campuran tanah lapisan atas . op soi. dengan pasir dan bahan organik pada perbandingan yang sesuai. Banyak jenis bahan organik yang dapat digunakan, salah satunya adalah batang pisang bekas tebangan yang dibuat menjadi kompos, namun demikian, penggunaan kompos batang pisang belum banyak dilakukan untuk pembibitan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon pertumbuhan bibit kelapa sawit main nursery terhadap pemberian kompos batang pisang yang ramah lingkungan. Penelitian yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh pada Bulan November 2023 ini menggunakan Rancangan acak kelompok, menguji empat taraf pemberian kompos batang pisang yaitu 0 g/polybag, 450 g/polybag, 900 g/polybag dan 1. 350 g/polybag. Respon pertumbuhan bibit diamati melalui parameter pertumbuhan yang meliputi tinggi bibit. jumlah daun. berat basah dan berat kering bibit. berat basah dan berat kering akar. serta panjang akar primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos batang pisang yang diberikan dengan taraf 450 g/polybag, 900 g/polybag dan 1. 350 g/polybag memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di main-nursery dibandingkan dengan kontrol . g/polyba. , terlihat bahwa pertumbuhan bibit pada media yang diberi kompos batang pisang menjadi lebih baik, dan semakin banyak kompos batang pisang yang diberikan, semakin baik pertumbuhan bibit kelapa sawit di main-nursery. Kata Kunci : Sawit. Kompos. Pembibitan Abstract The cultivation of oil palm seedlings in the main-nursery requires fertile growing media to ensure the production of high-quality planting material. The planting medium commonly used consists of a mixture of topsoil, sand, and organic matter in appropriate proportions. Various organic materials can be utilized, including compost derived from felled banana stems. However, the use of banana stem compost remains uncommon in oil palm nurseries. This study aimed to evaluate the growth response of oil palm seedlings in the main-nursery to different rates of banana stem compost application, providing insights into the potential of banana stems as an eco friendlycompost material. The experiment was conducted at the Experimental Farm of Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh in November 2023, using a Randomized block design with four levels of compost application: 0 g/polybag, 450 g/polybag, 900 g/polybag, and 1,350 g/polybag. Seedling growth was assessed through parameters such as seedling height, number of leaves, fresh and dry weights of shoots and roots, and primary root length. The results demonstrated that banana stem compost significantly influenced seedling growth. Compared to the control treatment, the addition of banana stem compost improved seedling performance, with higher compost rates resulting in better growth outcomes in the main-nursery. Keywords: Oil Palm. Compost. Nursery Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 dan tidak menjadi gulma di perkebunan kelapa sawit, ia dapat dimanfaatkan menjadi kompos. Sebagaimana dijelaskan diatas, batang pisang dapat dimanfaatkan sebagai kompos, namun demikian belum ada informasi berapa takaran . yang sesuai untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama. Meskipun penelitian yang dilakukan oleh (Susilawardhani dan Faustine, 2. sudah diketahui takaran pemberian kompos batang pisang yang terbaik adalah pada dosis 450 g/polybag, namun demikian dosis tersebut adalah untuk bibit kelapasawit di pre-nursery . embibitan awa. Sementara itu untuk bibit kelapa sawit di main-nursery membutuhkan media tanam yang lebih banyak dibanding dengan di pre-nursery, sehingga dosis komposnya harus ditambah. Berdasarkan permasalahan di atas dilakukan penelitian untuk menguji takaran . pemberian kompos batang pisang yang sesuai untuk bibit kelapa sawit main-nursery. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menganalisis respon pertumbuhan bibit kelapa sawit di main-nursery terhadap pemberian kompos batang pisang, dan diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi pemanfaatan batang pisang untuk pembuatan kompos yang ramah lingkungan, murah, dan mudah dibuat. PENDAHULUAN Penyediaan bibit yang sehat, potensinya yang unggul, dan tersedia tepat pada waktunya merupakan salah satu aspek yang menunjang program pengembangan perkebunan kelapa Oleh karena itu pelaksanaan pembibitan kelapa sawit perlu dilakukan secara baik dan Pertumbuhan awal bibit kelapa sawit fase . ain-nurser. merupakan periode kritis yang sangat menentukan keberhasilan tanaman tersebut dalam mencapai pertumbuhannya yang baik. Kesehatan tanaman pada masa pembibitan mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman selanjutnya setelah Pembibitan kelapa sawit membutuhkan media tumbuh yang subur agar menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi. Pada umumnya media tanam pembibitan kelapa sawit mainnursery adalah terdiri dari campuran tanah lapisan atas . op soi. yang berada pada kedalaman 30 cm dengan pasir dan bahan Banyak jenis bahan organik yang digunakan, misalnya limbah organik rumah tangga, limbah pertanian, limbah pabrik kelapa sawit, limbah kotoran ternak, dan lain-lain. Batang pisang yang sudah ditebang yang telah dikomposkan juga merupakan bahan organik yang dapat digunakan sebagai campuran media tanam. Sugiarti . , melakukan analisis pada sampel kompos batang pisang dan hasilnya menunjukkan bahwa kompos batang pisang mengandung unsur Nitrogen 1,25 %. Fosfor (P) 1,5 %, dan Kalium (K) 2,7 Unsur hara makro tersebut merupakan unsur hara yang dibutuhkan dan dapat termasuk tanaman kelapa sawit. Namun demikian, batang pisang ini belum digunakan untuk kompos. Batang pohon pisang yang sudah mati seringkali terbuang percuma dan tidak dimanfaatkan secara optimal. Kebiasaan yang dilakukan masyarakat adalah setelah buahnya dipanen batangnya ditinggalkan begitu saja dan selalu terbuang percuma. Di perkebunan kelapa sawit batang pisang ini sangat banyak ditemukan, baik yang sengaja ditanam ataupun yang tumbuh sendiri dan tidak terawat, sehingga terkadang menjadi gulma dan berpotensi mengganggu. Oleh karena itu, supaya batang pisang ini tidak menjadi limbah METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian November 2023 di Kebun Percobaan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh di Kecamatan Harau. Kabupaten Limapuluh Kota. Sumatera Barat. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat pertanian . angkul, knapsack sprayer, parang, gembor, garu dl. , timbangan analitik, jangka sorong, meteran, gelas ukur, dan alat-alat tulis. Sementara itu bahan yang digunakan adalah bibit kelapa sawit varietas Tenera umur 4 bulan di pre-nursery asal benih dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat Medan, kantong bibit . ukuran 50 x 40 cm, batang pisang, sekam padi, pupuk kandang sapi, dedak, pestisida, larutan Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 aktivator, pupuk NPK, fungisida, insektisida. Aplikasi Kompos Batang Pisang pada Media Tanam. Media tanam yang digunakan adalah tanah lapisan atas . op soi. yang diambil pada kedalaman A 30 cm dipermukaan tanah, dari lahan kebun percobaan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Tanjung Pati. Sumatera Barat. Ciri-ciri tanah lapisan atas yang diambil adalah berwarna coklat-kehitaman bertekstur remah dan gembur, dan bersih dari sisa-sisa tanaman ataupun sisa-sisa akar. Media tanaman yang digunakan tersebut ditakar sejumlah volume yang muat untuk masingmasing polybag yang digunakan untuk penanaman bibit kelapa sawit, berukuran 50 cm x 40 cm. Aplikasi kompos batang pisang yang menjadi objek percobaan, dilakukan dengan cara mencampurkannya ke masing-masing media tanam yang akan dimasukkan ke dalam Kompos batang pisang tersebut ditimbang terlebih dahulu sejumlah takaran dosis menurut masing-masing perlakuan, yaitu 450g, 900g dan 1. Setelah itu, dicampurkan dengan top soil dan diaduk sampai tercampur rata. Setelah bahan tercampur rata dimasukkan ke dalam masingmasing polybag untuk ditanami dengan bibit kelapa sawit. Penanaman Bibit Kelapa Sawit dan Pemeliharaan Penanaman bibit kelapa sawit dilakukan satu minggu setelah polybag berisi media tanam tersusun dengan jarak antar polybag 90 cm x 90 cm. Satu hari menjelang penanaman, media tanam dalam polybag disiram terlebih dahulu sampai jenuh yang ditandai dengan terlihatnya rembesan air penyiram pada lubang-lubang yang ada di bagian sampingnya. Bibit kelapa sawit yang sudah berumur 4 bulan di pre-nursery dimasukkan ke dalam lubang tanaman yang sudah dibuat pada masingmasing polybag setelah plastik polybag kecil disayat untuk melepaskannya dan dibuang ke luar area. Pemeliharaan bibit yang dilakukan mencakup penyiraman yang dilakukan setiap pagi dan sore hari, penyiangan gulma yang tumbuh di dalam ataupun diantara polybag, pemberian pupuk NPK, dan penyemprotan fungisida untuk mengendalikan serangan jamur dan insektisida untuk mengendalikan serangan serangga hama. Konsolidasi bibit Rancangan Analisis Penelitian ini menguji 4 . taraf jumlah pemberian kompos batang pisang pada bibit kelapa sawit main-nursery yaitu :K0=Tanpa kompos batang pisang. K1= kompos batang pisang 450 g/polybag. K2= kompos batang pisang sebanyak 900 g/polybag. dan K3= kompos batang pisang 350 g/polybag. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok dengan masing-masing perlakukan diulang sebanyak 6 ulangan. Pelaksanaan. Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari pembuatan kompos batang pisang yang digunakan sebagai campuran media tanam, dan penanaman bibit kelapa sawit mainnursery. Pembuatan kompos batang pisang. Batang pisang yang digunakan adalah batang pisang yang sudah ditebang . edebok pisan. beberapa hari sebelumnya. Gedebok pisang tersebut dicacah menjadi potonganpotongan kecil berukuran A 2 cm kemudian dijemur di bawah terik matahari selama 1 Sembari penjemuran cacahan batang pisang, dibuat larutan aktivator pengomposan dengan cara fermentasi. Larutan aktivator dibuat dengan mencampurkan 100 ml larutan EM4 dengan 1 kg gula dan dilarutkan dalam 15 liter air bersih dalam wadah tertutup. Fermentasi dilakukan dalam wadah tersebut selama 3 hari. Pengomposan batang pisang dilakukan dengan cara mencampurkan cacahan batang pisang yang sudah kering dengan dedak dan pupuk kandang sapi . erbandingan 2 : A . dan diaduk secara merata. Setelah itu, siramkan larutan aktivator dengan cara dipercikkan dan diaduk kembali sampai larutan tercampur rata dengan bahan. Bahanbahan tersebut ditumpuk diatas terpal plastik dengan ketebalan tumpukkan A50 cm. Tumpukan bahan tersebut ditutup rapat dengan plastik tebal berwarna hitam untuk menghindari tetasan hujan dan paparan sinar matahari lansung. Pengomposan dilakukann selama 30 hari. Dan setiap satu minggu sekali selama pengomposan, bahan diaduk secara merata menggunakan cangkul. Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 dilakukan setiap dua minggu sekali untuk (DMRT) pada taraf signifikansi 5% untuk menjaga agar bibit tetap tumbuh pada posisi menelaah perbedaan antar perlakuan lebih yang normal, baik letaknya maupun arah HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan Parameter Pengamatan. Respon pertumbuhan bibit kelapa sawit bibit kelapa sawit sebagai respon terhadap terhadap pemberian perlakuan percobaan pemberian kompos batang pisang dengan diamati melalui parameter pertumbuhan yaitu berbagai dosis, terlihat bahwa perlakuan tinggi bibit, jumlah daun, panjang akar primer, pemberian kompos batang pisang berpengaruh bobot basah dan bobot kering bibit, bobot terhadap pertumbuhannya di main-nursery. basah dan bobot kering akar. Selain itu juga Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi dilakukan analisa kandungan hara pada media tinggi bibit, jumlah daun, berat basah bibit, dan kompos batang pisang yang digunakan. berat kering bibit, panjang akar primer, berat basah akar, dan berat kering akar pada umur Analisa Data Data hasil pada setiap parameter yang 70 hari setelah tanam (HST) di main-nursery. diamati, dilakukan interpretasi dengan uji Tinggi Bibit. Analysis of Variance (ANOVA), yang Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada bahwa pemberian kompos batang pisang perbedaan akibat perlakuan yang diberikan. dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata Jika hasil analisis menunjukkan ada pengaruh terhadap tinggi bibit kelapa sawit mainyang berbeda nyata, maka dilakukan uji lanjut nursery pada umur 70 HST, sebagaimana menurut uji DuncanAos Multiple Range Test ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata tinggi bibit kelapa sawit akibat pemberian kompos batang pisang dengan berbagai taraf dosis, pada umur 70 HST di main-nursery. Perlakuan Tinggi Bibit . % peningkatan dibanding kontrol Dosis kompos batang pisang K0 = 0 g/polybag 44,56 K1 = 450 g/ polybag 46,39 4,11 K2 = 900 g/ polybag 53,28 19,57 K3 = 1. 350 g/ polybag 53,44 19,94 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. Hasil uji DMRT pada selang kepercayaan 95% (Tabel 1. ) menunjukkan bahwa pemberian kompos batang pisang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tinggi bibit dibanding dengan yang tidak diberikan Pemberian kompos sebanyak 1. g/polybag (K. menghasilkan tinggi bibit yang paling tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan pemberian kompos sebanyak 900 g/polybag (K. , namun berbeda nyata dengan perlakuan pemberian kompos sebanyak 450 g/polybag (K. Selain itu, bila dibandingkan dengan Kontrol (K. , pemberian kompos batang pisang sebanyak 450 g/polybag (K. memberikan peningkatan tinggi bibit 4,11%, namun demikian berbeda nyata dengan pemberian kompos batang pisang sebanyak 900 g/polybag (K. yang memberikan peningkatan tinggi bibit sebesar 19. 57% dan pemberian kompos batang pisang sebanyak 1350 gr/polybag (K. Hal ini berarti bahwa dengan pemberian kompos batang pisang dapat meningkatkan pertumbuhan bibit bila dibandingkan dengan yang tidak diberikan Selain itu untuk menghemat biaya, dianjurkan memberikan kompos sebanyak 900 g/polybag yang memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata dibanding pemberian sebanyak 1350 g/polybag. Pertambahan kaitannya dengan unsur yang diserap oleh bibit, terutama unsur Nitrogen (N). Menurut (Sofyan et al. , 2. unsur hara yang paling berperan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman adalah unsur hara N karena unsur hara ini sangat dibutuhkan saat masa vegetatif Nitrogen (N) berfungsi dalam merangsang pertunasan dan penambahan Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 tinggi tanaman. Menurut (Nasrullah et al. unsur hara N berperan merangsang pertumbuhan tinggi tanaman, batang, cabang dan daun serta membentuk zat hijau daun, lemak, protein dan senyawa organik lainnya. (Hasibuan et al. , 2. menyebutkan nitrogen (N) mempunyai peran utama untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan termasuk memacu pertumbuhan tinggi Jumlah Daun. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos batang pisang dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata jumlah daun bibit kelapa sawit main-nursery pada umur 70 HST, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-rata jumlah daun bibit kelapa sawit akibat pemberian kompos batang pisang dengan berbagai taraf dosis, pada umur 70 HST di main-nursery. Jumlah Perlakuan %peningkatan dibanding kontrol Daun. Dosis kompos batang pisang K0 = 0 g/ polybag 10,58 K1 = 450 g/ polybag 11,09 4,74 K2 = 900 g/ polybag 11,22 6,02 K3 = 1. 350 g/ polybag 11,53 8,92 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. Berdasarkan Tabel 2. terlihat bahwa pemberian kompos batang pisang berpengaruh terhadap jumlah daun bibit kelapa sawit, dan ada kecendrungan semakin banyak kompos yang diberikan dapat meningkatkan jumlah daun bibit. Pemberian kompos sebanyak 1350 g/polybag (K. menghasilkan jumlah daun yang terbanyak dan berbeda nyata dengan pemberian kompos sebanyak 900 g/polybag (K. dan 450 g/polybag (K. Selain itu bila dibandingkan dengan Kontrol (K. , pemberian kompos sebanyak 1350 g/polybag (K. memberikan peningkatkan jumlah daun yang terbesar yaitu sebesar 8,93% berbeda nyata dengan pemberian kompos sebanyak 900 g/polybag (K. dengan peningkatan jumlah daun sebesar 6,02%. Sementara itu pemberian kompos sebanyak 450 g/polybag (K. dapat meningkatkan jumlah daun sebesar 8,93%. Meningkatnya jumlah daun bibit kelapa sawit diduga disebabkan oleh tersedianya unsur hara yang dibutuhkannya dalam media tanam yang digunakan. Pemberian kompos batang pisang yang mengandung bahan organik yang tinggi dapat memperbaiki baik sifat fisik dan biologi tanah, yang pada akhirnya akan meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah. Dari hasil analisa kandungan hara, kompos batang pisang memiliki kandungan unsur nitrogen sebesar 1,70% dan lebih tinggi dibanding kandungan nitrogen pada tanah yang tidak diberikan kompos batang pisang yaitu sebesar 0,60%. Alfian, et al. , . menyatakan bahwa ketersedian unsur hara akan memacu proses fotosintesis dan metabolisme pada tanaman sehingga meningkatkan jumlah daun. Unsur hara N merupakan unsur hara yang sangat berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Pemenuhan kebutuhan unsur hara N melalui kompos sangat diperlukan karena merangsang pertumbuhan akar, batang, daun. Berat Basah Bibit dan Berat Kering Bibit Hasil analisis sidik ragam berat basah bibit (Tabel 3. ) dan berat kering bibit (Tabel ) menunjukkan bahwa pemberian kompos batang pisang dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata terhadap berat basah bibit dan berat kering bibit kelapa sawit mainnursery pada umur 70 HST . Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 Tabel 3. Rata-rata berat basah bibit kelapa sawit akibat pemberian kompos batang pisang dengan berbagai taraf dosis, pada umur 70 HST di main-nursery. Perlakuan Berat BasahBibit . % peningkatan dibanding kontrol Dosis kompos batang pisang K0 = 0 g/polybag 46,67 K1 = 450 g/polybag 62,67 34,28 K2 = 900 g/polybag 90,17 93,21 K3 = 1. 350 g/polybag 130,67 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. Pada Tabel 3 terlihat bahwa masingdibandingkan dengan Kontrol (K. , pemberian masing perlakuan memberikan pengaruh yang g/polybag berbeda nyata, pada Tabel 3 juga terlihat meningkatkan berat basah bibit sebesar bahwa semakin banyak kompos yang 34,29%, pemberian kompos sebanyak 900 diberikan menyebabkan berat basah bibit g/polybag meningkatkan berat basah bibit menjadi semakin tinggi. Berat basah yang sebesar 93,21%, dan pemberian kompos tertinggi adalah pada perlakuan 1. 350 gr/polybag. Meningkatkan berat g/polybag (K. dan yang terendah adalah pada basah bibit sebesar 130,67%. perlakuan tanpa pemberian kompos (K. Bila Tabel 4. Rata-rata berat kering bibit kelapa sawit akibat pemberian kompos batang pisang dengan berbagai taraf dosis, pada umur 70 HST di main-nursery. Berat Kering Perlakuan % peningkatan dibanding kontrol Bibit . Dosis kompos batang pisang K0 = 0 g/polybag 22,78 K1 = 450 g/polybag 30,59 34,31 K2 = 900 g/polybag 42,17 85,15 K3 = 1. 350 g/polybag 69,92 207,01 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. Pada Tabel 4. terlihat bahwa masinggr/polybag meningkat sebesar 85,16% dan masing perlakuan memberikan pengaruh yang pemberian kompos sebanyak 450 g/polybag berbeda nyata. Sama halnya juga pada Tabel meningkatkan bobot kering sebesar 34,31% , juga terlihat bahwa semakin banyak Terjadinya perbedaan yang nyata pada kompos batang pisang yang diberikan masing-masing perlakuan dan terlihatnya ada menyebabkan berat kering bibit menjadi kecendrungan meningkatnya berat basah bibit semakin berat. Berat kering bibit tertinggi dan berat kering bibit, sebagaimana pada terdapat pada perlakuan pemberian kompos Tabel 3. dan Tabel 4. , seiring dengan 350 g/polybag (K. , kemudian peningkatan jumlah pemberian kompos batang secara berturut-turut diikuti oleh perlakuan pisang menunjukkan bahwa pertumbuhan bibit pemberian kompos sebanyak 900 gr/polybag menjadi lebih maksimal dengan penambahan (K. , perlakuan pemberian kompos sebanyak kompos batang pisang. Pertumbuhan yang 450 g/polybag (K. sementara itu yang maksimal ini diduga disebabkan oleh tersedianya unsur hara yang cukup di dalam (K. Bila tanah yang telah diberikan kompos batang dibandingkan dengan Kontrol (K. pemberian pisang dan terserap oleh bibit kelapa sawit, g/polybag sehingga metabolisme pada bibit kelapa sawit meningkatkan berat kering bibit sebanyak berlangsung maksimal. Sitompul & Guritno, 207,18%, pemberian kompos sebanyak 900 . menyatakan bahwa berat basah dan Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 berat kering tanaman dapat menunjukkan dan perkembangan tanaman sehingga erat aktivitas metabolisme tanaman, dimana nilai kaitannya dengan ketersediaan hara. berat basah dipengaruhi oleh kandungan air Widyastuti . menyatakan bahwa jaringan dan unsur hara, jika kandungan air berat basah dan berat kering tanaman dan usur hara mencukupi maka jaringan tergantung banyak sedikitnya serapan hara. tanaman tumbuh secara maksimal. Sementara Serapan hara yang tinggi menyebabkan itu menurut Supriadi dan Soeharsono . fotosintesa meningkat sehingga kontribusinya bahwa berat kering tanaman mencerminkan terhadap berat basah dan berat kering tanaman akumulasi senyawa organik yang berhasil juga meningkat. Jika fotosintesis berlangsung disintesis oleh tanaman. Berat kering tanaman dengan baik, maka tanaman akan tumbuh mencerminkan status nutrisi suatu tanaman dan juga merupakan indikator yang meningkatnya bobot segar dan bobot kering menentukan baik tidaknya suatu pertumbuhan memberikan pengaruh yang berbeda nyata Berat Basah Akar dan Berat Kering Akar Hasil analisis sidik ragam berat basah terhadap berat basah akar dan berat kering akar (Tabel . dan berat kering akar (Tabel . akar bibit kelapa sawit pada umur 70 HST di menunjukkan bahwa pemberian kompos main-nursery. batang pisang dengan dosis yang berbeda Tabel 5. Rata-rata berat basah akar bibit kelapa sawit akibat pemberian kompos batang pisang dengan berbagai taraf dosis, pada umur 70 HST di main-nursery. Berat Basah Perlakuan % peningkatan dibanding kontrol Akar. Dosis kompos batang pisang K0 = 0 g/polybag 4,01 K1 = 450 g/polybag 4,48 11,67 K2 = 900 g/polybag 5,27 31,32 K3 = 1. 350 g/ polybag 6,42 60,03 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. Pada Tabel 5 di atas terlihat bahwa pemberian kompos (K. yaitu 4,01 g. Bila masing-masing dibandingkan dengan Kontrol (K. , pemberian pengaruh yang berbeda nyata terhadap berat g/polybag basah bibit kelapa sawit. Pada Tabel 5 juga meningkatkan berat basah bibit sebesar 60,03, terlihat bahwa semakin banyak kompos yang 29%, pemberian kompos sebanyak 900 diberikan menyebabkan berat basah akar bibit g/polybag meningkatkan berat basah bibit menjadi semakin tinggi. Berat basah akar sebesar 31,32%, dan pemberian kompos yang tertinggi adalah pada perlakuan 1. 350 g/polybag meningkatkan berat gr/polybag (K. yaitu 6,42 gr dan yang basah bibit sebesar 11,67%. terendah adalah pada perlakuan tanpa Tabel 6. Rata-rata berat kering akar bibit kelapa sawit akibat pemberian kompos batang pisang dengan berbagai taraf dosis, pada umur 70 HST di main-nursery. Perlakuan Berat Kering % peningkatan dibanding kontrol Akar. Dosis kompos batang pisang K0 = 0 g/ polybag 2,91 K1 = 450 g/ polybag 2,98 2,23 K2 = 900 g/ polybag 3,54 21,47 K3 = 1. 350 g/ polybag 4,28 46,82 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 Sementara itu, pada Tabel 6 terlihat bahwa masing-masing perlakuan memberikan penambahan kompos. Bahan organik ini akan pengaruh yang berbeda nyata terhadap berat mengikat partikel-partikel pasir, debu, dan liat kering akar bibit kelapa sawit. Berat kering yang ada dalam tanah tersebut sehingga akar yang tertinggi terdapat pada perlakuan membentuk agregat-agregat atau gumpalanpemberian kompos sebanyak 1. 350 g/polybag gumpalan tanah yang strukturnya menjadi (K. yaitu 4,28 g, dan yang terendah terdapat gembur dan mampu mengikat air dalam poripada perlakuan tanpa pemberian kompos porinya serta melancarkan aerase udara dalam batang bisang (K. namun tidak berbeda nyata Sebagaimana dinyatakan Marpaung et perlakuan pemberian kompos sebanyak 450 , . , bahwa pemberian pupuk organik g/polybag (K. , berbeda nyata dengan seperti pupuk kandang dan kompos dari sisa perlakkuan pemberian kompos sebanyak 900 residu tanaman dapat memperbaiki sifat fisika, g/polybag (K. Bila dibandingkan dengan kimia dan biologi tanah. Kondisi struktur kontrol (K. pemberian kompos batang pisang tanah yang gembur tersebut dapat menunjang sebanyak 450 g/polybag (K. hanya pertumbuhan dan perkembangan akar sehingga meningkatkan berat kering akar bibit kelapa berat basah dan berat keringnya menjadi sawit sebanyak 2,23%, sementara itu Berat basah akar mencerminkan pemberian kompos batang pisang sebanyak berat total akar termasuk air, yang 900 g (K. 350 g/polybag (K. dapat memberikan informasi tentang kemampuan menigkatkan berat kering akar secara tanaman menyerap air dan biomassa akar. signifikan yaitu, berturut-turut. Sedangkan berat kering akar mencerminkan sebanyak 21,46%, dan sebanyak 46,82%. berat padatan setelah air dihilangkan yang Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, memberikan informasi tentang akumulasi baik berat basah maupun berat kering akar fotosintesis, serapan unsur hara, dan biomassa bibit kelapa sawit yang di beri kompos batang tanaman secara keseluruhan. pisang lebih tinggi dan berbeda nyata dengan Panjang akar Primer. bibit yang tidak diberikan kompos batang Hasil analisis sidik ragam menunjukkan Selain itu juga terlihat kecenderungan bahwa pemberian kompos batang pisang berat basah dan berat kering akar juga dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata meningkat dengan semakin banyaknya terhadap panjang akar primer bibit kelapa kompos batang pisang yang diberikan. Hal ini sawit pada umur 70 HST di main-nursery, disebabkan oleh meningkatnya kandungan sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 7. Tabel 7. Rata-rata panjang akar primer bibit kelapa sawit main-nurseryakibat pemberian kompos batang pisang dengan berbagai taraf dosis, pada umur 70 HST . Panjang Akar % peningkatan dibanding control Perlakuan Primer . Dosis kompos batang pisang K0 = 0 g/ polybag 69,17 K1 = 450 g/ polybag 61,67 -7,5 K2 = 900 g/ polybag 55,00 K3 = 1. 350 g/ polybag 48,33 -20,84 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. tersedia dalam tanah. Pada Tabel 7 terlihat Pengamatan panjang akar bertujuan untuk masing-masing memperlihatkan pengaruh yang berbeda nyata menjangkau air yang tersedia dalam tanah terhadap panjang akar bibit kelapa sawit, pada yang dapat diserap untuk mendukung taraf 5%. Bila dibandingkan dengan pertumbuhannya, disamping itu juga untuk kontrol/tanpa pemberian kompos (K. , mendapatkan informasi kemampuan akar panjang akar bibit kelapa sawit pada perlakuan tanaman dalam penyerapan unsur hara yang pemberian kompos sebanyak 450 g/polybag Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 292- 301 Author. Suhadi,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 (K. , 900 g/polybag dan 1. 350 g/polybag terlihat lebih pendek. Selain itu, pada Tabel 7 juga terlihat bahwa, semakin banyak kompos batang pisang yang diberikan meyebabkan panjang akar juga semakin menurun. Panjang air dalam tanah berkaitan dengan kandungan bahan organik tanah. Menurut Hadisuwito, . , kemampuan tanah untuk mengikat air dan air tersedia akan meningkat melalui penggunaan bahan organik. Pemberian kompos batang pisang pada masing-masing perlakuan meningkatkan kadar bahan organik dalam tanah sehingga kadar airnya menjadi lebih tinggi, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 8. Kondisi ini justru berbeda dengan perlakuan pemberian kompos 0 gr/polybag (K. dimana kadar air tersedianya rendah memperpanjang akarnya. Hal ini diduga menjadi penyebab mengapa bibit pada perlakuan pemberian kompos 0 g/polybag (K. akarnya menjadi lebih panjang dibanding perlakuan pemberian kompos sebanyak 450 g/polybag (K. , 900 g/polybag (K. g/polybag (K. akar dan kadar air tanah adalah dua faktor yang saling berkaitan dalam dinamika Panjang mempengaruhi kemampuan tanaman untuk mengakses air dalam tanah, sementara kadar air tanah menentukan ketersediaan air bagi Santoso & Badrudin . menyatakan bahwa, akar yang lebih panjang memudahkan tanaman dalam mencari air dan mineral dari dalam tanah. Semakin rendah kadar air tanah maka tanaman akan memanjangkan akarnya untuk menjangkau air yang ada. Sebagaimana sudah disinggung di bahasan sebelumnya di atas bahwa, kandungan Tabel 8. Hasil analisa kandungan tanah awal dan kompos. HASIL ANALISA KANDUNGAN TANAH AWAL DAN KOMPOS No urut Jenis Analisa Tanah Jenis Analisa Awal pH H2O 6,00 pH H2O Kadar Air (%) 7,50 Kadar Air (%) N (%) 0,53 N (%) P Bray II . 3,20 P (%) K-dd . 0,01 K (%) KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan kompos batang pisang pada media tanam memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit sampai umur 70 hari sesudah tanam (HST) main-nusery. Dibandingkan dengan pertumbuhan pada media tanam yang tidak diberikan kompos pertumbuhan bibit kelapa sawit menjadi lebih baik pada media yang diberikan kompos batang pisang. Semakin banyak kompos batang pisang yang diberikan semakin baik pertumbuhan bibit kelapa sawit. Pemberian kompos batang pisang sebagai campuran media tanam bibit kelapa sawit main-nursery dapat Kompos 6,50 21,60 1,70 0,60 0,65 memperbaiki struktur tanah serta menambah ketersediaan air dan unsur pertumbuhan bibit kelapa sawit DAFTAR PUSTAKA Alfian. Nelvia. Amri. Pengaruh Pemberian Amelioran Organik dan Anorganik pada Media Subsoil Ultisol terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jac. Di Prenursery. Jom Faperta, 3. , 63Ae77. Hadisuwito. Membuat Pupuk Organik Cair. AgroMedia Pustaka,