Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article Analysis of Stunting Incidence in Toddlers at Muara Enim Health Center Analisis Kejadian Stunting Pada Anak Balita Di Puskesmas Muara Enim Risnia Oktavia1. Arie Wahyudi2. Lilis Suryani3 1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang. Indonesia *Corresponding Author: Risnia Oktavia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang. Indonesia Email: risniaoktavia780@gmail. Keyword: Stunting. Children. Toddlers. Clean Water Source Kata Kunci: Stunting, anak, balita, sumber air AThe Author. 2025 Abstract Stunting is a condition where a child's physical development is impaired, resulting in a shorter stature than appropriate for their age. This study aims to determine the factors associated with stunting among children under five at Muara Enim Public Health Center. Muara Enim District, in 2025. This research employed a quantitative design with a casecontrol approach. The population consisted of mothers with stunted children in 2024. The sample included both case and control groups with a 1:1 ratio. The case group consisted of 30 children under five with stunting in 2024, while the control group included 30 nonstunted children from the Muara Enim Public Health Center area, totaling 60 respondents. The sampling technique used total sampling for the case group and simple random sampling for the control group. The research was conducted from May 2 to May 16, 2025. Data were collected using questionnaires. Bivariate data analysis was conducted using the Chi-Square test, and multivariate analysis was also performed. The results showed significant associations between stunting and the following variables: maternal age . , maternal education . -value 0. , family income . -value 0. , birth weight . -value 0. , birth spacing . -value 0. , history of infectious disease . -value 0. exclusive breastfeeding . -value 0. , clean water source . -value 0. , and feeding practices . -value 0. The most dominant factor associated with stunting was the clean water source . -value 0. OR: 25. The health center is advised to improve access to clean water and provide sanitation education to the community, particularly to families with children under five, deliver nutrition education to mothers of young children, and conduct screening for children at risk of stunting. Abstrak Article Info: Received : May 31, 2025 Revised : July 19, 2025 Accepted : July 22, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Stunting yaitu ketika perkembangan fisik anak terhambat, lebih pendek dari yang seharusnya untuk usianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting anak balita Puskesmas Muara Enim Kabupaten Muara Enim tahun 2025. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan case Populasi adalah ibu balita stunting tahun 2024. Sampel penelitian terdiri dari kelompok kasus dan kelompok kontrol dengan perbandingan kasus dan kontrol 1 : 1. Sampel kasus yaitu balita stunting pada tahun 2024 sebanyak 30 responden. kontrol adalah balita diwilayah Puskesmas Muara Enim tahun 2024 berjumlah 30 responden dengan jumlah total sebanyak 60 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling untuk kasus dan simple random sampling untuk kontrol. Penelitian ini telah di laksanakan pada tanggal 02-16 Mei tahun 2025. Pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Hasil penelitian menunjukan ada hubungan umur ibu . value 0,. , pendidikan ibu . value 0,. , penghasilan keluarga . value 0,. , berat badan lahir . value 0,. , jarak kelahiran . value 0,. , riwayat penyakit infeksi . Asi Ekslusif ( p value 0,. , sumber air bersih . value 0,. , sumber air bersih . value 0,. dan pola pemberian makan ( p value 0,. dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim Kabupaten Muara Enim tahun 2025. Faktor yang paling dominan dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim Kabupaten Muara Enim tahun 2025 yaitu sumber air bersih . Value 0,. OR . Bagi pihak puskesmas dapat meningkatkan akses air bersih dan edukasi sanitasi kepada Masyarakat, terutama bagi keluarga dengan balita, memberikan edukasi seperti penyuluhan pada ibu dengan anak balita terhadap pola makan yang bernutrisi serta melakukan skrining pada anak balita yang berisiko stunting. https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 PENDAHULUAN Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, serta produktivitas dan kualitas hidup saat dewasa . Berdasarkan laporan global, sebanyak 148,1 juta anak mengalami stunting, 45 juta anak mengalami wasting, dan 37 juta anak mengalami overweight jika dibandingkan dengan tinggi badan mereka . , . Indonesia, prevalensi stunting pada tahun 2022 mencapai 21,6%, menurun dari 24,4% pada tahun 2021, namun masih jauh dari target nasional sebesar 14% pada tahun 2024 dan di atas standar WHO sebesar 20% . Sumatera Selatan mencatatkan angka 20,3%, peningkatan sebesar 1,7% menurut data SSGI tahun 2022 . Di Kabupaten Muara Enim, prevalensi stunting mengalami peningkatan bertahap dalam tiga tahun dari 0,25% pada 2021 menjadi 0,72% pada 2022 dan mencapai 1,1% pada tahun 2023 . Meskipun angka tersebut masih tergolong rendah, peningkatan yang konsisten menunjukkan perlunya analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang berkontribusi . Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan stunting adalah umur anak . Usia balita merupakan masa krusial dalam tumbuh kembang, di mana kebutuhan nutrisi sangat tinggi dan defisiensi gizi kronis pada masa ini dapat berdampak Beberapa studi menunjukkan bahwa balita pada usia 12Ae24 bulan lebih rentan mengalami stunting karena transisi dari ASI ke makanan pendamping tidak selalu disertai dengan asupan gizi yang memadai . Oleh karena itu, penting untuk meninjau lebih jauh apakah kelompok usia tertentu dalam kategori balita di wilayah Muara Enim lebih berisiko mengalami stunting dibanding kelompok usia lainnya. Pendidikan orang tua, terutama ibu, juga memainkan peranan penting dalam pencegahan stunting. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan gizi, pola asuh, kebersihan, dan akses terhadap Kesehatan. Rendahnya pendidikan sering kali menyebabkan rendahnya pengetahuan tentang praktik pemberian makan yang benar dan anak. Sehingga, dalam konteks Muara Enim, penting untuk mengidentifikasi apakah rendahnya pendidikan ibu menjadi faktor yang mempengaruhi kejadian stunting di wilayah tersebut. Faktor ekonomi atau penghasilan keluarga menjadi komponen penting lainnya. Keluarga dengan penghasilan rendah cenderung memiliki keterbatasan dalam memperoleh makanan bergizi, air bersih, dan layanan kesehatan yang berkualitas. Kekurangan zat gizi seperti protein, zat besi, dan mikronutrien lainnya sering terjadi pada anak-anak dari keluarga miskin. Selain itu, ketidakstabilan ekonomi juga memengaruhi prioritas pengeluaran rumah tangga, yang sering kali tidak memfokuskan pada kesehatan anak. Oleh sebab itu, penghasilan keluarga patut dianalisis secara khusus sebagai salah satu faktor utama . Berat badan lahir yang rendah (BBLR) merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap terjadinya stunting. Anak dengan BBLR umumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan karena pertumbuhan organ tubuh sejak dalam kandungan sudah tidak optimal . Studi sebelumnya menyatakan bahwa berat badan lahir berkaitan erat dengan kualitas gizi ibu selama kehamilan dan kondisi kesehatan ibu secara umum. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian stunting di Muara Enim. Jarak kelahiran yang terlalu dekat juga berdampak terhadap status gizi anak . Ibu yang belum pulih secara optimal https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 setelah kehamilan sebelumnya mungkin belum memiliki kesiapan fisik maupun Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya perhatian dan alokasi sumber daya pada anak yang lebih muda, yang kemudian meningkatkan risiko terjadinya stunting. Selain itu, jarak kelahiran yang pendek dapat menyebabkan gangguan gizi pada anak karena kompetisi sumber daya antar anak dalam satu keluarga. Riwayat penyakit infeksi pada balita juga sangat berperan dalam kejadian stunting. Anak yang sering mengalami diare. ISPA, atau infeksi lainnya mengalami gangguan penyerapan nutrisi yang berdampak pada keterlambatan pertumbuhan . , . Infeksi kronis mempercepat kehilangan energi dan protein serta menurunkan nafsu makan anak, yang berujung pada defisiensi gizi kronis . Dalam konteks ini, penting menelaah apakah riwayat infeksi menjadi salah satu penyumbang kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Muara Enim. Faktor lingkungan seperti akses terhadap air bersih dan pola pemberian makan juga tidak dapat diabaikan. Konsumsi air yang tidak higienis meningkatkan risiko infeksi, sementara pola pemberian makan yang tidak sesuai usia atau tidak memenuhi kecukupan gizi dapat memperparah kekurangan nutrisi. ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan terbukti melindungi anak dari infeksi dan memberikan nutrisi optimal. Kurangnya ASI eksklusif telah dikaitkan dengan tingginya risiko stunting. Oleh karena itu, variabel pola pemberian makan, sumber air bersih, dan status pemberian ASI eksklusif menjadi komponen penting dalam analisis ini. Berdasarkan latar belakang tersebut, berhubungan dengan kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Muara Enim, meliputi umur, pendidikan, penghasilan keluarga, berat badan lahir, jarak kelahiran, riwayat penyakit infeksi, pemberian ASI eksklusif, sumber air bersih, dan pola pemberian METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan case control untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak balita. Desain ini memungkinkan identifikasi hubungan kausal antara berbagai faktor risiko dengan kejadian stunting dengan pendekatan retrospektif, yakni dimulai dari penentuan status kasus terlebih dahulu kemudian ditelusuri faktor Dalam konteks ini, kelompok kasus adalah balita yang mengalami stunting, sementara kelompok kontrol terdiri dari balita yang tidak mengalami stunting, keduanya berasal dari wilayah kerja Puskesmas Muara Enim tahun 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak balita di wilayah kerja Puskesmas Muara Enim. Sampel penelitian terdiri dari 60 responden, yang terbagi atas 30 responden kelompok kasus . bu dari balita stuntin. dan 30 responden kelompok kontrol . bu dari balita tidak stuntin. , dengan rasio perbandingan 1:1. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling untuk kelompok kasus berdasarkan data sekunder stunting tahun 2024, dan simple random sampling untuk kelompok kontrol. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 2 hingga 16 Mei Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner terstruktur dan panduan wawancara yang telah disusun berdasarkan definisi operasional variabel penelitian. Kuesioner mencakup variabel-variabel yang diteliti, antara lain umur ibu, tingkat pendidikan, penghasilan keluarga, berat badan lahir anak, jarak kelahiran, riwayat penyakit infeksi, status pemberian ASI eksklusif, sumber air bersih, dan pola Beberapa https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 tambahan juga diperoleh dari Buku KIA dan catatan medis yang tersedia di Puskesmas. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung kepada kuesioner yang telah diuji kelayakannya. Peneliti lapangan dan pengecekan data sekunder yang berkaitan dengan status gizi anak. Validitas data dijaga melalui proses editing, coding, dan tabulasi data secara sistematis sebelum analisis Semua kegiatan dilakukan dengan pendampingan memastikan akurasi informasi. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui tiga pendekatan. Pertama, analisis karakteristik responden. Kedua, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dan kejadian stunting. Ketiga, analisis multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengontrol variabel perancu dan menentukan faktor paling dominan yang berkontribusi terhadap kejadian Variabel dengan nilai p < 0,25 pada uji bivariat dimasukkan ke dalam model multivariat sebagai kandidat, dan pengujian interaksi antar variabel juga dilakukan pada tahap akhir analisis. Pertimbangan etik dalam penelitian ini telah diperhatikan dengan baik. Seluruh responden diberikan penjelasan mengenai tujuan dan manfaat penelitian serta dijamin kerahasiaannya. Partisipasi dalam penelitian bersifat sukarela dan hanya melibatkan responden yang memberikan persetujuan melalui informed consent. Peneliti juga memastikan bahwa data yang dikumpulkan tidak akan digunakan untuk tujuan lain selain kepentingan ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menyajikan distribusi frekuensi variabel-variabel yang diteliti dalam kaitannya dengan kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Muara Enim. Tabel 1. Distribusi Frekuansi Karakteristik Responden Variabel Kejadian stunting Tidak stunting Stunting Umur Ibu Tidak berisiko Berisiko Pedidikan Pendidikan tinggi Pendidikan rendah Penghasilan keluarga UMK Tidak UMK Berat badan lahir Normal Tidak normal Jarak Kelahiran Tidak berisiko Berisiko Riwayat penyakit infeksi Tidak ada Ada Frekuensi . Persentase (%) https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Variabel Asi ekslusif Memberikan ASI ekslusif Tidak memberikan ASI ekslusif Sumber Air Bersih PAM Non PAM Pola pemberian makan Baik Tidak baik Dari total 60 responden, diketahui bahwa jumlah balita yang mengalami stunting dan yang tidak mengalami stunting masing-masing sebesar 30 anak . %). Berdasarkan karakteristik ibu, sebagian besar responden termasuk dalam kategori umur berisiko sebanyak 36 orang . %), dan mayoritas memiliki tingkat pendidikan rendah sebesar 34 orang . ,7%). Dari sisi ekonomi, sebagian penghasilan di bawah UMK yaitu sebanyak 32 orang . ,3%). Sementara itu, sebanyak 29 balita . ,3%) memiliki berat badan lahir tidak normal, dan Frekuensi . Persentase (%) 33 balita . %) dilahirkan dengan jarak kelahiran yang tergolong berisiko. Sebagian besar responden melaporkan bahwa anak mereka memiliki riwayat penyakit infeksi, yaitu sebanyak 52 anak . ,7%). Dalam hal pemberian ASI, hanya 25 responden . ,7%) yang memberikan ASI eksklusif, sedangkan sisanya tidak memberikan ASI eksklusif. Untuk variabel lingkungan, sebanyak 30 responden . %) menggunakan sumber air bersih dari PAM, . %) menggunakan sumber non-PAM. Adapun dalam hal pola pemberian makan, responden terbagi merata antara yang memiliki pola baik dan tidak baik, masing-masing sebanyak 30 orang . %). Tabel 2. Hubungan umur, pendidikan, penghasilan keluarga, berat badan, jarak kelahiran,riwayat penyakit infeksi, asi ekslusif, sumber air bersih, pola pemberian Variabel Umur ibu Tidak berisiko Berisiko Pendidikan Pendidikan tinggi Pendidikan rendah Penghasilan keluarga UMK Tidak UMK Berat badan Normal Tidak normal Jarak kelahiran Tidak berisiko Berisiko Riwayat penyakit infeksi Tidak ada Ada Asi eklsusif Memberikan Tidak memberikan Kejadian Stunting Tidak stunting Stunting Total pValue 0,01 0,01 0,00 0,00 0,03 0,00 0,03 https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Sumber air bersih PAM Non PAM Pola pemberian makan Baik Tidak baik 0,00 Pada tabel 2. ada hubungan umur ibu . value 0,. , pendidikan ibu . value 0,. , penghasilan keluarga . value 0,. , berat badan lahir . value 0,. , jarak kelahiran . value 0,. , riwayat penyakit infeksi . Asi Ekslusif ( p value 0,. , 0,76 sumber air bersih . value 0,. , sumber air bersih . value 0,. dan pola pemberian makan ( p value 0,. dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim Kabupaten Muara Enim tahun 2025. Tabel 3. Faktor dominan kejadian stunting pValue Step 1a Sumber air bersih Constant 0,00 1,60 Pada tabel 3. Dari hasil akhir analisis multvariat ternyata terdapat variabel yang paling dominan terhadap kejadian stunting anak balita Puskesmas Muara Enim Tahun 2025, variabel sumber air bersih . Value 0,. PEMBAHASAN Hubungan umur ibu dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara umur dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Fitriana . hasil penelitian ada hubungan yang signifikan antara umur ibu saat melahirkan dengan kejadian stunting. Penelitian Wanimbo Wartiningsih hasil penelitian ada hubungan yang signifikan antara kejadian stunting baduta usia 7-24 bulan dengan usia ibu. Umur yaitu jumlah waktu yang telah berlalu atau ada . ejak dilahirkan atau Terjadinya stunting kehidupan terutama pada 1000 hari pertama sejak pembuahan hingga umur 2 tahun . 0,40 Lower 0,01 95,0% C. for EXP(B) Upper 0,15 Berdasarkan asumsi peneliti, umur ibu saat hamil akan mempengaruhi terhadap janin yang dikandungnya, dimana jika umur ibu hamil muda akan mempengaruhi terhadap organ-organ reproduksi, sehingga dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin selama kehamilan. Hubungan pendidikan orang tua dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Husnaniyah. Yulyanti. penelitian terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian Penelitian oleh Kusumawati. Budiarti. hasil pengetahuan ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk memanusiakan manusia, dalam proses pendidikan bukanlah menjadi tugas utama bagi sekolah saja, tetapi semua unsur harus memiliki peran yang sama dalam memajukan pendidikan. Semua unsur harus memiliki andil dan terhubung antar unsur dalam pengembangan lembaga https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 pendidikan atau proses keberlangsungan suatu pendidikan. kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025. Berdasarkan asumsi peneliti, pendidikan mempengaruhi ibu dalam meningkatkan pengetahuan, semakin tinggi pendidikan diharapkan pengetahuan ibu semakin banyak baik pengetahuan secara umum dan pengetahuan yang berhubungan dengan stunting pada anak balita. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Putri and Levia. hasil penelitian ada hubungan antara berat badan lahir terhadap kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Iswani. ada hubungan antara berat badan lahir dengan stunting. Hubungan antara penghasilan keluarga dengan kejadian stunting anak balita. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi, berat lahir adalah berat yang ditimbang 1 . atu ) jam setelah lahir . , . Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara penghasilan keluarga dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Yunita. Asra. hasil penelitian faktor yang menyebabkan stunting salah satunya adalah keadaan sosial dan ekonomi. dipengaruhi oleh faktor langsung dan tidak Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Aini. Gonxa. hasil penelitian terdapat hubungan antara risiko terjadi stunting dengan tingkat ekonomi orang tua. Penghasilan keluarga mempengaruhi status ekonomi yang rendah menyebabkan ketidakterjangkauan dalam pemenuhan nutrisi sehari-hari yang pada akhirnya status ekonomi memiliki efek signifikan terhadap kejadian malnutrisi . Berdasarkan asumsi peneliti penghasilan berhubungan dengan stunting, dimana dapat diketahui bahwa stunting lebih banyak dijumpai pada keluarga dengan penghasilan rendah dibandingkan dengan yang tinggi. Hubungan berat badan lahir dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara berat badan lahir dengan Berdasarkan asumsi peneliti berat badan lahir rendah disebabkan oleh kekurangan gizi pada masa kehamilan, sehingga bayi yang lahir rendah mempunyai risiko mengalami gangguan pertumbuhan yaitu Hubungan antara jarak kelahiran dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara jarak lahir dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Gentina and Siregar32 hasil penelitian yaitu ada hubungan yang bermakna antara jarak kelahiran dengan kejadian stunting. Penelitian lainnya Jayanti33 hasil penelitian terdapat hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian stunting. Jarak kelahiran anak yang baik yaitu memiliki anak dengan jarak 2-3 tahun. The World Health Organization(WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan kepada wanita untuk mengatur selang waktu melahirkan yaitu antara 3 . tahun dan 5 . tahun atau 36 bulan dan 60 bulan, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko kesehatan pada anak dan ibu . , . https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Berdasarkan kelahiran merupakan faktor terjadinya Sebaiknya jarak kelahiran anak yang optimal yakni berumur 2 tahun sebelum anak berikutnya lahir. Hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Eldrian. Karinda. hasil penelitian ada hubungan penyakit infeksi yang berhubungan dengan kejadian stunting. Penelitian lainnya Pulungan. faktor risiko penyebab stunting yang dominan dan meningkatkan angka kejadian stunting yaitu penyakit infeksi. Penyakit infeksi dapat memperburuk taraf gizi, begitupun sebaliknya, gizi juga dapat memperburuk kondisi tubuh bayi dan balita dalam mengatasi penyakit infeksi. Berdasarkan asumsi peneliti penyakit infeksi merupakan faktor langsung penyebab stunting, seperti penyakit diare dan ISPA. Pemberian nutrisi yang sesuai dengan pertumbuhan akan mencegah terjadinya stunting pada anak balita. Hubungan pemberian asi ekslusif dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara asi ekslusif dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Windi and Nurdiawati. terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Putri and Ayudia. adanya hubungan yang bermakna antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting. ASI eksklusif memiliki kontribusi yang besar terhadap tumbuh kembang dan daya tahan tubuh anak. Anak yang diberi ASI eksklusif akan tumbuh dan berkembang secara optimal karena ASI mampu mencukupi kebutuhan gizi bayi sejak lahir sampai umur 24 bulan . ASI eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain . ecuali obat, vitamin, dan minera. Pemberian ASI direkomendasikan sampai dua tahun atau lebih . Berdasarkan asumsi peneliti pemberian Asi ekslusif merupakan upaya pencegahan terhadap kejadian stunting, dimana asi mampu memberikan kecukupan nutrisi yang dibutuhkan didalam tubuh. Hubungan sumber air bersih dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara sumber air bersih dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Olo. Mediani. hasil penelitian faktor air . umber air minum tidak layak, pengolahan air minu. , faktor sanitasi . enggunaan fasilitas toilet, perilaku open defecation, pembuangan tinja balita tidak pada jamba. berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian lainnya Wardita. Hasanah. ada hubungan signifikan antara sumber air minum yang dikonsumsi balita dengan kejadian stunting. Air bersih adalah salah satu jenis sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi. Dalam pengembangan sumber daya air dasar utama kebijakan yang diambil harus mengacu pada undang Ae undang sumber daya air No. 7 tahun 2004 Air permukaan adalah sumber air yang terdapat diatas permukaan bumi yang dilihat secra visual dengan tidak menggunakan peralatan tertentu . Berdasarkan asumsi peneliti sumber air yang tidak terlindungi, mempunyai risiko akan adanya penyakit yang menyebabkan diare pada anak balita. Balita dengan diare Hubungan pola pemberian makan dengan kejadian stunting anak balita. Hasil uji statistik diperoleh nilai p Value 0,00 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting di Puskesmas Muara Enim tahun 2025 Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Dewi. Jayanti. hasil penelitian ada terdapat hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian Penelitian lainnya Syafei and Afriyani. terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh pemberian makan dengan kejadian stunting. Pola pemberian makan yang diberikan dalam suatu keluarga berkaitan erat dengan nilai budaya keluarga dan bagaimana pola perilaku hidup sehatnya . Berdasarkan asumsi peneliti pola makan perlu diperhatikan bagi ibu yang mempunyai anak balita. Membuat jadwal atau menu harian serta asupan gizi seharihari merupakan upaya pencegahan terhadap terjadinya stunting pada anak Faktor dominan kejadian stunting. Dari hasil akhir analisis multvariat ternyata terdapat variabel yang paling dominan terhadap kejadian stunting anak balita Puskesmas Muara Enim Tahun 2025, variabel sumber air bersih . Value 0,. Hasil analisis multivariat adalah bila variabel indepeden di uji secara bersamasama maka variabel sumber air bersih adalah variabel yang paling dominan berhubungan kejadian stunting anak balita Puskesmas Muara Enim Tahun 2025. Berdasarkan asumsi peneliti sumber air bersih merupakan kebutuhan sehari-hari bagi keluarga yang digunakan seperti memasak, mandi serta mencuci. Sumber air yang tidak layak atau tercemar yang digunakan masyarakat mengakibatkan disebabkan air yang tidak baik seperti diare yang merupakan penyakit infeksi pada anak SARAN Bagi pihak puskesmas dapat meningkatkan akses air bersih dan edukasi sanitasi kepada masyarakat, terutama bagi keluarga dengan balita, memberikan edukasi seperti penyuluhan pada ibu dengan anak balita terhadap pola makan yang bernutrisi serta Melakukan skrining pada anak balita yang berisiko stunting. DAFTAR PUSTAKA