Vol. No. June 2026, pp. ISSN: 2964-6677 Case Identification and Risk Factors of Enterobius Vermicularis Infection in Children at the Coastal Area Identifikasi Kasus Dan Faktor Risiko Infeksi Enterobius Vermicularis Pada Anak-Anak Di Wilayah Pesisir Aldiana Astuti1. Novian A Yudhaswara2. Cezia Bernitha Ambesa3. Michaael B Bia4. Meliance Bria5 Poltekkes Kemenkes Kupang ABSTRACT Enterobiasis is an infectious disease caused by Oxyuris vermicularis (Enterobius vermiculari. or pinworms and is a non-STH . on-Soil Transmitted Helmint. intestinal worm that can move from one individual to another without the need for transmission through the soil and is widespread in children and toddlers. In Indonesia, the prevalence of Enterobiasis is quite high, this is because Indonesia is a country with a tropical climate, high temperature, humidity, social economic factors and poor sanitation, making it suitable for the development of pinworms. Children with poor hygiene behavior (PHBS), such as rarely changing underwear, and not washing hands after the toilet are at risk of contracting pinworms. Children who live around the coast still have a lack of knowledge of the importance of maintaining personal hygiene and also a lack of knowledge about the dangers of helminthiasis and the examination and treatment of helminthiasis. The method used in this study is descriptive. Respondents in this study included 24 people with the number of female respondents at 54% and men at 46%. The results of Enterobius vermicularis examination in children aged 3-9 years living in the coastal area of Lasiana beach obtained 21% of children positive for enterobiasis and 79% of children negative for Enterobiasis. The level of parental knowledge, environmental sanitation conditions, and children's personal hygiene is pretty good. Keywords: Enterobiasis. Enterobius vermicularis. Lasiana coastal area ABSTRAK Enterobiasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Oxyuris vermicularis (Enterobius vermiculari. atau cacing kremi dan merupakan cacing usus golongan non STH . on-Soil Transmitted Helmint. yang dapat berpindah dari satu individu ke individu yang lain tanpa perlu transmisi melalui tanah dan tersebar luas pada anak dan balita. Di Indonesia prevalensi Enterobiasis cukup tinggi, hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis, suhu, kelembaban udara yang tinggi, faktor ekonomi sosial dan sanitasi yang masih kurang baik, sehingga sesuai untuk perkembangan cacing kremi. Anak-anak dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang masih kurang, seperti jarang mengganti pakaian dalam, dan tidak mencuci tangan setelah dari toilet beresiko tertular cacing Anak-anak yang tinggal di sekitar pesisir pantai masih memiliki pengetahuan yang kurang akan pentingnya menjaga personal hygiene dan juga kurangnya pengetahuan tentang bahaya kecacingan serta pemeriksaan dan pengobatan kecacingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Responden dalam penelitian ini meliputi 24 orang dengan jumlah responden perempuan sebesar 54% dan laki-laki sebesar 46%. Hasil pemeriksan Enterobius vermicularis pada anak-anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana diperoleh sebesar 21% anak positif enterobiasis dan 79% anak negatif Enterobiasis. Tingkat pengetahuan orang tua, kondisi sanitasi lingkungan, dan personal hygiene anak yang baik. Kata Kunci: Enterobiasis. Enterobius vermicularis. Pesisir Pantai Lasiana Corresponding Author: Novian A Yudhaswara. Poltekkes Kemenkes Kupang. Email: novianagni@yahoo. PENDAHULUAN Enterobius vermicularis merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Enterobiasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Oxyuris vermicularis (Enterobius vermiculari. atau cacing kremi dan merupakan cacing usus golongan non STH . on-Soil Transmitted Helmint. yang dapat berpindah dari satu individu ke individu yang lain tanpa perlu transmisi melalui tanah dan tersebar luas pada anak dan balita. Angka kejadian enterobiasis 92% terjadi pada anak-anak terutama pada anak- anak SD dari mulai usia 7-10 tahun. Angka kejadian ini dapat dilihat berdasarkan pola hidup di sekitar, dan juga berdasarkan asuhan orang tua. Rute tinja-oral adalah metode penularan yang paling umum (Novriani & Dyah, 2. Cacing ini menginfeksi sekitar 500 juta penduduk dunia dari berbagai kelas sosio ekonomi (Indrianto, 2. Case Identification and Risk Factors of Enterobius Vermicularis Infection in Children at the Coastal Area (Aldiana Astuti et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 Menurut data oleh World Health Organization (WHO) Enterobius vermicularis . acing krem. adalah salah satu parasit cacing paling umum pada manusia. Pada tahun 2019, sekitar 200 juta orang di seluruh dunia terinfeksi enterobiasis dengan 30% dari kasusnya terjadi pada anak-anak berusia 5-10 tahun. Namun, dibandingkan dengan sebagian besar cacing usus, prevalensi infeksi cacing kremi belum terlalu dianggap penting karena migrasi parasit ini terjadi saat malam hari dan kesulitan deteksi telur dalam pemeriksaan tinja rutin (Fan et al. , 2. Di Asia, angka kejadian Enterobiasis pada siswa sekolah dasar di Taiwan adalah 0,62%. Thailand 38,8%. Malaysia 38%. Korea Selatan 18,5%, dan China 10,2% (Sopyan et al. , 2. Berdasarkan hasil survei pada anak SD di 175 Kabupaten/Kota di Indonesia pada tahun 2013, prevalensi kecacingan di Indonesia sebesar 85,9% dengan rata-rata prevalensi 28,12% (Utomo, 2. Prevalensi infeksi cacing pada anak sekolah dasar di Indonesia berkisar antara 2,7% hingga 60,7% (Kartini, 2. Lebih lanjut, prevalensi infeksi cacing kremi di Indonesia pada tahun 2017 sekitar 60%-80%, dengan prevalensi tertinggi di kelompok usia 5-9 tahun (Anjarsari, 2. Di NTT, angka kejadian infeksi kecacingan menduduki posisi ketiga dengan persentase 28% (Dinas Kesehatan NTT 2. setelah Provinsi Banten 60,7% dan Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) 59,2% (Djuma et al. , 2. Enterobius vermicularis secara khusus menghuni usus besar dan bermigrasi ke arah anus lalu akan melepaskan sekitar 10. 000 telur kemudian memfasilitasi penularan telur yang menular ke individu lain dan selfreinfeksi yang dapat terjadi karena telur cacing yang dilepaskan oleh cacing dewasa melekat pada kulit di sekitar anus dan menyebabkan iritasi dan gatal. Jika seseorang menggaruk area tersebut, telur dapat menyebar ke tangan dan benda lainnya untuk memfasilitasi penularan telur ke individu lain atau ke diri sendiri (Moussavi et al. , 2023. Bundy et al, 2. Anak-anak dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang masih kurang, seperti jarang mengganti pakaian dalam, dan tidak mencuci tangan setelah dari toilet beresiko tertular cacing kremi (Okta et al. Seseorang dikatakan menderita kecacingan apabila pada hasil pemeriksaan feses ditemukan telur cacing atau cacing (Nedra et al. , 2. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi enterobiasis meliputi hygiene diri yang buruk, sosial ekonomi rendah, faktor penularan pada keluarga, sanitasi yang jelek, pola asuh yang kurang, pengalaman orang tua tentang kecacingan yang kurang, pekerjaan orang tua, dan pengetahuan orang tua akan kecacingan yang minim (Astuti dkk. , 2. Cacing Enterobius vermicularis mempunyai penyebaran terluas di dunia dari pada semua cacing. Ini disebabkan karena hubungan yang erat antara manusia dan lingkungan yakni keluarga atau kelompok- kelompok yang hidup dalam suatu lingkungan yang sama (Sabirin et al. , 2. Indonesia prevalensi enterobiasis cukup tinggi, hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis, suhu, kelembaban udara yang tinggi, faktor ekonomi sosial dan sanitasi yang masih kurang baik, sehingga sesuai untuk perkembangan cacing kremi (Mulyowati et al. , 2. Transmisi telur cacing E. vermicularis terjadi melalui tangan atau kuku, lalu ke mulut dan tertelan bersama Penularan telur Enterobius vermicularis lebih banyak terjadi pada daerah kumuh dan tidak memenuhi syarat kesehatan seperti sanitasi lingkungan yang ditunjang dengan kepadatan penduduk. Anak-anak yang tinggal di sekitar pesisir pantai masih memiliki pengetahuan yang kurang akan pentingnya menjaga personal hygiene dan juga kurangnya pengetahuan tentang bahaya kecacingan serta pemeriksaan dan pengobatan kecacingan. Adapun faktor risiko lain dari penularan enterobiasis yaitu masih ada anak-anak dengan kebiasaan menghisap jari atau memasukkan tangan ke mulut sehabis bermain di tanah saat bermain di lingkungan kotor (Novriani & Dyah, 2. Pantai Lasiana merupakan salah satu pantai yang terletak di Kota Kupang. Provinsi Nusa Tenggara Timur dan merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di Kota Kupang. Namun, di balik keindahan pantai Lasiana terdapat risiko kesehatan yang mengancam anak-anak yang tinggal di area sekitar pesisir pantai ini. Salah satu risiko kesehatan tersebut adalah infeksi kecacingan Enterobius vermicularis hal ini dapat disebabkan oleh tempat tingal yang padat, kebersihan pribadi yang buruk, konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, sanitasi lingkungan yang buruk, dan anak-anak tersebut yang masih belum mengerti dan paham tentang kebersihan diri dan lingkungan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya telur cacing Enterobius vermicularis dan mengevaluasi risiko penularan infeksi cacing Enterobius vermicularis pada anak-anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana Kota Kupang. Faktor risiko yang diamati tim peneliti seperti personal hygiene, sanitasi lingkungan, dan pengetahuan orang tua. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran tentang infeksi oleh cacing Enterobius vermicularis dan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi pada risiko penularan Enterobiasis pada anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana Kota Kupang (RT 22/RW . Penelitian ini dilakukan pada 12-13 April 2024. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana Kota Kupang di RT 22/RW 05 yang berjumlah 24 orang dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Tingkat pengetahuan orang tua, kondisi sanitasi lingkungan, dan personal hygiene anak diukur berdasarkan jawaban terhadap kuisioner yang diberikan sedangkan identifikasi telur cacing dengan mikroskopis anal swab (Gandahusada, 2026. Ferlianti dkk. Prasetyo, 2013. Soedarto, 2. Case Identification and Risk Factors of Enterobius Vermicularis Infection in Children at the Coastal Area (Aldiana Astuti et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 HASIL PENELITIAN Penelitian dilakukan di wilayah pesisir pantai Lasiana Kota Kupang yakni di RT 22/RW 05 yang berjarak kurang lebih 100 meter dari bibir pantai. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan Enterobius vermicularis pada anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana serta pengukuran tingkat pengetahuan orang tua, tingkat personal hygiene anak dan sanitasi lingkungan menggunakan kuisioner. RT 22 memiliki 81 Kepala Keluarga dengan jumlah total anak berusia 3-9 tahun sebanyak 24 orang terdiri dari 11 anak laki laki dan 13 anak Perempuan yang bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini dan telah menandatangani informed consent. Tabel 1. Distribusi Hasil Pemeriksaan Berdasarkan Karakteristik Responden Umur Positif ( ) Negatif (-) Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah Didapatkan 5 orang anak positif cacing 3 laki laki dan 2 Perempuan pada umur 5,6 dan 8 tahun. Sedangkan faktor risiko yang diteliti dan diobesrvasi dalam penelitian ini adalah persinal hygiene anak, sanitasi lingkungan dan pengetahuan orang tua. Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Personal Hygiene Pertanyaan Selalu mencuci tangan dengan air/sabun sebelum makan Selalu memotong kuku Selalu menggunakan alas kaki Selalu mandi 2 kali sehari Selalu mencuci tangan setelah BAB Selalu menggigit atau mengisap jari Tidak Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Sanitasi Lingkungan No. Pertanyaan Rumah berlantai Ada sumber air bersih (PDAM/Sumur/Fibe. Ada kecukupan air bersih Memiliki WC dengan jamban yang bersih Memiliki kamar dengan cahaya yang cukup . leh matahar. Apakah ada tempat untuk mencuci tangan Tidak Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Sangat Baik Baik Kurang Sangat Kurang Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tingkat pengetahuan diukur dari ketepatan orang tua menjawab 10 soal pilihan berganda tentang enterobiasis apabila orangtua menjawab 9-10 soal dengan benar maka Tingkat pengetahuan sangat baik jika menjawab 6-8 soal dengan benar maka baik, 3-5 soal benar artinya kurang dan 1-2 soal benar berarti sangat kurang. PEMBAHASAN Hasil pemeriksaan Enterobius vermicularis dari 24 sampel yang diperiksa diketahui bahwa didapatkan sampel positif telur cacing Enterobius vermicularis pada anak usia 5 tahun sebanyak 2 orang . %), anak usia 6 tahun sebanyak 1 orang . %), dan anak usia 8 tahun sebanyak 2 orang . %). Menurut penelitian oleh Agustin et al. 2018 dalam (Indrianto, 2. menyatakan bahwa di Indonesia, prevalensi Enterobiasis terjadi sebesar 3% - 80% pada berbagai golongan manusia, dengan kelompok usia terbanyak yang terinfeksi adalah kelompok usia antara 5-9 tahun dan terutama terjadi pada lingkungan tempat anak tinggal, bermain, dan tidur bersama-sama. Sedangkan berdasarkan Case Identification and Risk Factors of Enterobius Vermicularis Infection in Children at the Coastal Area (Aldiana Astuti et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 jenis kelamin, dijumpai hasil positif pada anak laki-laki sebanyak 3 . %) orang dan pada anak perempuan sebanyak 2 . %) orang. Menurut penelitian Novriani & Dyah, tahundinyatakan bahwa jika dilihat dari jenis kelaminnya anak laki-laki cenderung lebih banyak terinfeksi cacing dibandingkan anak perempuan. Anak laki-laki lebih aktif dalam beraktifitas sehinga memperbesar risiko kontak, juga laki-laki yang relatif kurang menjaga kebersihan badan dari pada anak perempuan. Kebiasaan anak laki-laki yang cenderung lebih suka bermain atau melakukan aktivitas di luar rumah merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terinfeksi cacing (Febriantika dkk, 2. Mengenai faktor risiko personal hygiene responden terhadap infeksi Enterobius vermicularis yang diisi oleh orang tua responden, didapatkan hasil yaitu kebiasaan anak mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan diketahui sebanyak 58% anak memiliki kebiasaan mencuci tangan yang baik dan 42% anak masih memiliki kebiasaan mencuci tangan yang buruk. Kebiasaan anak memotong kuku diketahui sebanyak 92% anak memiliki kebiasaan baik selalu memotong kuku dan 8% lainnya masih memiliki kebiasaan memotong kuku yang buruk. Pada pertanyaan mengenai selalu menggunakan alas kaki diketahui sebanyak 71% anak memiliki kebiasaan baik selalu menggunakan alas kaki dan 29% anak lainnya masih memiliki kebiasaan buruk mengenai kebiasaan menggunakan alas kaki. Pada pertanyaan mengenai kebiasaan mandi anak 2 kali sehari didapatkan hasil yaitu sebanyak 96% anak memiliki kebiasaann mandi 2 kali sehari yang baik dan 4% anak masih memiliki kebiasaan mandi yang buruk. Kebiasaan anak selalu mencuci tangan setelah BAB diketahui bahwa sebanyak 96% anak memiliki kebiasaan yang baik sementara 4% anak memiliki kebian yang buruk. Pada pertanyaan mengenai kebiasaan anak selalu menggigit atau mengisap kuku didapatkah hasil bahwa sebanyak 79% anak memiliki kebiasan tidak menggigit atau mengisap kuku . sementara 21% anak lainnya masih memiliki kebiasaan mengigit atau mengisap kuku . Menurut Okta et al. , 2022 dalam penelitian oleh (Indrianto, 2. menyatakan bahwa telur Enterobius vermicularis yang ada di perianal dapat menular ke orang lain. Anak-anak yang memiliki personal hygiene yang buruk contohnya tidak mencuci tangan sangat beresiko untuk terinfeksi enterobiasis (Priyoto, 2. Penelitian oleh Novriani & Dyah . mengenai gambaran telur cacing oxyuris vermicularis pada anak di wilayah pesisir pantai merpati Bulukumba menyatakan bahwa sering kali secara tidak sengaja, telur cacing kremi yang terinfeksi terdapat pada kuku, di bawah kuku, pada pakaian, tempat tidur, dan benda-benda serta permukaan yang terkontaminasi. Karena ukurannya yang kecil, telur cacing kremi kadang-kadang dapat menyebar di udara dan terhirup saat bernapas. Distribusi responden berdasarkan sanitasi lingkungan yang telah diisi didapati hasil jawaban Ya sebanyak 100% mengenai kondisi rumah berlantai, ada sumber air bersih, ada kecukupan air bersih dan memiliki WC dengan jamban yang bersih. Sedangkan pada kondisi memiliki kamar dengan cahaya matahari yang cukup diketahui sebanyak 96% responden memiliki kamar dengan cahaya matahari yang cukup dan 4% tidak memiliki kamar dengan cahaya matahari yang cukup. Menurut Astuti dkk . menyatakan bahwa kurangnya pencahayaan ruangan akan membuat ruangan menjadi lembap sehingga apabila terdapat telur cacing Enterobius vermicularis ataupun cacing Enterobius vermicularis yang menempel pada benda-benda disekitar akan susah mati, dan jika ventilasi ruangan baik maka sinar matahari akan membuat ruangan terasa hangat sehingga telur cacing Enterobius vermicularis akan cepat Sedangkan pada kondisi memiliki tempat untuk mencuci tangan diketahui sebanyak 58% responden memiliki tempat mencuci tangan dan 42% tidak memiliki tempat mencuci tangan. Menurut penelitian oleh (Indrianto, 2. menyatakan bahwa Infeksi enterobiasis yang disebabkan oleh cacing Enterobius vermicularis dimulai setelah manusia menelan telur cacing Enterobius vermicularis. Penularan yang terjadi melalui jari tangan dan kuku tangan dapat dipengaruhi oleh kurangnya fasilitas tempat mencuci tangan yang memadai di lingkungan sekitar. Kondisi sanitasi lingkungan masyarakat di wilayah pesisir pantai Lasiana masih perlu dipehatikan. Kurangnya penyediaan tempat untuk mencuci tangan dapat berpengaruh terhadap risiko infeksi Enterobius vermicularis karena kondisi area pesisir yang memiliki tanah lembab dan merupakan tempat bermain anak sehingga ketika anak-anak bermain di area pantai anak-anak cenderung tidak mencuci tangan karena kurangnya penyedian tempat cuci tangan pada masing-masing rumah (Indrasari, 2020. Nida dkk. , 2. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Novriani & Dyah, 2. tentang gambaran telur cacing oxyuris vermicularis pada anak di wilayah pesisir pantai merpati Bulukumba menyatakan bahwa tanah merupakan media dari cacing kremi. Transmisi telur cacing dari tanah ke manusia melalui tangan atau kuku, lalu ke mulut dapat tertelan bersama makanan sehingga penularan enterobius vermicularis lebih banyak terjadi pada daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti sanitasi lingkungan yang ditunjang dengan kepadatan penduduk seperti wilayah pesisir Pantai (Rahayu dkk. , 2021. Nida dkk. , 2. Kondisi rumah di area pesisir ini juga memiliki risiko infeksi penularan Enterobius vermicularis karena kondisi rumah dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi sehingga anak-anak yang terinfeksi Enterobius vermicularis biasanya bermain bersamaan dengan anak lainnya. RT 22 merupakan daerah yang paling dekat dengan area bibir Pantai Lasiana yang mana tergolong area pesisir pantai dengan kebiasaan masyarakat sekitar yang diantaranya sering mengikat hewan ternak di area sekitar sehingga kotoran hewan ternak masih sering terlihat di sekitar jalan maupun di lingkungan sekitar pesisir. Anak-anak yang bermain tanpa menggunakan alas kaki dan jarang memperhatikan kebersihan diri akan sangat berisiko terinfeksi Enterobius vermicularis (Lalangpuling dkk. , 2. Pertanyaan mengenai tingkat pengetahuan orang tua terhadap Enterobius vermicularis didapati keterangan pada jawaban orang tua dari tiap pertanyaan yaitu baik dengan persentase >50% sedangkangkan tingkat pengetahuan orang tua 84 persen baik dan 14% sangat baik. Berdasarkan penelitian oleh (Yurika et al. , 2. dikatakan bahwa Case Identification and Risk Factors of Enterobius Vermicularis Infection in Children at the Coastal Area (Aldiana Astuti et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 peran orang tua sangat penting dalam menjaga kesehatan anak. Tanpa pengetahuan yang cukup, orang tua tidak dapat menjaga kesehatan dan pertumbuhan anak dengan baik. Menurut Astuti dkk. menyatakan bahwa tingkat pengetahuan orang tua berperan sangat penting sebagai faktor risiko terjadinya infeksi cacing Enterobius Semakin tinggi tingkat pengetahuan orang tua diharapkan dapat meminimalkan risiko kecacingan, dikarenakan peranan orang tua sangat dominan dan dapat menentukan kualitas hidup anak. Namun, meskipun tingkat pengetahuan orang tua baik, anak-anak masih dapat terinfeksi Enterobius vermicularis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hayati dkk. , menyatakan faktor risiko yang terkait dengan infeksi Enterobius vermicularis antara lain kondisi sanitasi lingkungan, kebersihan pribadi yang buruk, dan kesadaran akan kebersihan yang masih Oleh karena itu, meskipun orang tua memiliki pengetahuan yang baik, terkadang anak-anak masih dapat terinfeksi jika tidak dilakukan upaya-upaya preventif yang tepat, seperti menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan yang baik. KESIMPULAN DAN SARAN Kasus infeksi Enterobius vermicularis pada anak-anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana Kota Kupang. Prevalensi Enterobius vermicularis pada anak-anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana sebesar 21%. Tingkat pengetahuan orang tua, personal hygiene dan sanitasi lingkungan di penelitian ini ditemukan dalam keaadan yang baik. Walaupun kondisi personal hyginie baik masih dapat terinfeksi Enterobiasis. Hal ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang juga berperan dalam penularan Enterobiasis di kalangan anak-anak, faktor tersebut dapat meliputi interaksi sosial yang dekat antar anak-anak, kontak dengan objek yang terkontaminasi, serta kemungkinan adanya sumber infeksi lain yang belum teridentifikasi atau dikontrol dengan baik. Perlu adanya penyuluhan untuk masyarakat tentang menjaga pola hidup bersih dan sehat pada anakanak serta adanya pemberian obat cacing pada anak minimal 1 kali setiap 6 bulan dan pemeriksaan kecacingan berulang pada anak-anak yang memiliki risiko infeksi Enterobius vermicularis. Masyarakat perlu mempertimbangkan dan mengupayakan kebersihan lantai rumah yaitu dengan menggunakan lantai keramik dibandingkan lantai semen karena lebih higienis dan dapat mencegah risiko penularan Enterobiasis. Diharapkan Masyarakat juga menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan tidak mengikat hewan ternak di sekitar rumah warga sehingga tidak terjadi penularan Enterobiasis pada anak-anak yang tinggal di wilayah pesisir Pantai Lasiana. ETIK PENELITIAN Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Poltekkes Kemenkes Kupang dengan nomor LB. 03/1/0079/2024. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih diberikan kepada Direktur dan Civitas akademika Poltekkes kemenkes kupang. Warga dan Ketua RT 22. Bapak RW 05 serta Bapak Lurah Lasiana yang telah banyak memberikan dukungan materil dan nonmateri sehingga penelitian ini dapat diselesaikan tepat waktu. DAFTAR PUSTAKA