Local Economic Development through Corn Farming in Batui and Kintom Sub-Districts Irmansyah TijaA*. Lailul FebriyantiA. Widi AlfiantiningtiasA. Muhammad YasinA Article Info *Correspondence Author A CSR Department. PT Donggi Senoro LNG How to Cite: Tija. Irmansyah. Febriyanti. Alfiantiningtias. Yasin. Local Economic Development through Corn Farming in Batui and Kintom SubDistricts. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 . Article History Submitted: 14 Juli 2025 Received: 21 Juli 2025 Accepted: 7 September 2025 Correspondence E-Mail: comdevdslng@gmail. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. https://doi. org/10. 55381/jpm. https://prospectpublishing. id/ojs/index. php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Abstract Corn is one of the national strategic commodities, playing a crucial role in supporting food security and other industries. The demand for Corn is increasing due to the development of the food and animal feed industries. Although Corn production in 2024 experienced a surplus of 2. 98%, there are still challenges in meeting domestic Corn needs. Fluctuating production, climate change, land degradation, and dependence on imports are major issues in Corn development. The government aims to produce 16. 7 million tons of Corn by 2025 as part of its strategy to reduce imports and increase food self-sufficiency. In addition, the surge in demand for animal feed resulting from increased animal protein consumption is also driving the priority of developing this commodity. The Local Economic Development Program can be one of the supporting efforts in increasing Corn production as a strategy to fulfil food security. As a community empowerment program initiated by DSLNG, this program can reach three sub-districts in Banggai Regency: Batui. Nambo, and Kintom. One of the focuses of the Local Economic Development Program is to support the increase of local corn production, especially in the Kintom District. As a result of the assistance provided by the company, the corn harvest can reach 4,683 kg, equivalent to IDR 21,073,500, specifically in the Kintom Sub-district. Keywords Local Economic Development. Integrated Farming. Corporate Social Responsibility Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/bysa/4. 0/) which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access Pengembangan Ekonomi Lokal melalui Pertanian Jagung di Kecamatan Batui dan Kintom Irmansyah TijaA*. Lailul FebriyantiA. Widi AlfiantiningtiasA. Muhammad YasinA Article Info Abstrak A Departemen Jagung adalah salah satu komoditas strategis nasional yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan dan industry lainnya. Peningkatan kebutuhan jagung meningkat karena perkembangan industri pangan dan pakan ternak. Meskipun produksi jagung pada tahun 2024 mengalami surplus sebesar 2,98%, tetapi masih terdapat tantangan dalam pemenuhan kebutuhan jagung dalam negeri. Fluktuasi produksi, perubahan iklim, degradasi lahan, dan ketergantungan terhadap impor menjadi isu utama dalam pengembangan jagung. Pemerintah menargetkan produksi 16,7 juta ton jagung pada tahun 2025 sebagai strategi mengurangi impor dan meningkatkan kemandirian pangan. Selain itu, lonjakan permintaan pakan ternak sebagai akibat dari peningkatan konsumsi protein hewani turut mendorong prioritas pengembangan komoditas ini. Program Pengembangan Ekonomi Lokal dapat menjadi salah satu upaya pendukung dalam peningkatan produksi jagung sebagai strategi pemenuhan ketahanan pangan. Sebagai program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), program ini dapat menjangkau tiga kecamatan di Kabupaten Banggai yang meliputi Kecamatan Batui. Nambo, dan Kintom. Salah satu fokus Program Pengembangan Ekonomi Lokal adalah dukungan pada peningkatan produksi jagung lokal khususnya di Kecamatan Kintom. Adapun dari adanya bantuan yang diberikan perusahaan, panen jagung dapat mencapai 4. 683 kg atau setara dengan Rp21. 500 khusus hanya di Kecamatan Kintom. *Korespondensi Penulis CSR. PT Donggi Senoro LNG Email Korespondensi: comdevdslng@gmail. Kata Kunci Pengembangan Ekonomi Lokal. Integrated Farming. Corporate Social Responsibility A Tija, et. Pendahuluan Jagung merupakan salah satu komoditas penting di Sulawesi karena tingginya kebutuhan, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun bahan baku industri. Secara nasional pada tahun 2024. Jagung bahkan menempati posisi komoditas kedua dalam sektor tanaman pangan dengan produksi mencapai 15,21 juta ton setelah padi yang mencapai 100 juta ton Pemanfaatan jagung saat ini tidak hanya digunakan untuk konsumsi langsung, tetapi juga digunakan untuk bahan baku utama industri pakan dan industri pangan. Pengembangan olahan jagung juga memberikan pengaruh akan kebutuhan jagung saat ini seperti pengolahan jagung sebagai minyak nabati non-kolesterol dan bahkan menjadi sumber energi seperti Hal ini menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan jagung tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga produk olahan lain yang menjadi Produksi jagung pada tahun 2024 mengalami surplus sebesar 2,98% menjadi 15,21 juta ton dibandingkan tahun 2023 sebesar 14,77 juta ton. Produksi jagung mengalami surplus, sehingga kebutuhan konsumsi-konsumsi baik rumah tangga maupun non rumah tangga dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Pulau Jawa menjadi pulau dengan produksi jagung terbesar di Indonesia sebesar 7,89 juta ton atau setara dengan 51,86 persen dari total produksi nasional (BPS, 2. Rangkaian perencanaan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan nasional, pemerintah pada tahun 2025 berusaha untuk mengurangi impor jagung. Menurut data UN Comtrade, nilai impor jagung Indonesia melonjak dari US$114 juta pada 2017 menjadi US$368 juta pada 2023. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, rata-rata volume impor Jagung di Indonesia masih mencapai 374. 066 ton per tahun, dan hanya 17% atau 63. 300 ton yang digunakan untuk pakan ternak. Defisit dari adanya 17% konsumsi untuk pakan ini masih dinilai sebuah tantangan bagi pemerintah. Salah satu peningkatan produksi jagung yang akan ditargetkan pemerintah hingga 16,7 juta ton dinilai akan memenuhi 13 juta ton kebutuhan dalam negeri. Fluktuasi produksi jagung nasional yang hanya mencapai 18 hingga 22 juta ton per tahun masih menjadi tantangan tersendiri menurut Badan Pangan Nasional. Sebagai negara dengan iklim yang memiliki kecocokan sebagai lahan andalan dalam pengembangan bidang pangan, industri dan energi, dengan salah satunya jagung merupakan potensi dan tantangan tersendiri. Produksi jagung dalam negeri memiliki tantangan tersendiri, di mana cuaca dan iklim yang mulai berubah dan komponen tanah yang memerlukan perawatan untuk keberlanjutan masih perlu dipikirkan secara komprehensif. Sebagai negara agraris. Indonesia mempunyai keragaman hayati yang tinggi. Kesesuaian iklim dan perkembangan sejarah menjelaskan bahwa salah satu komoditas yang seharusnya dapat menjadi andalan dalam bidang pangan, industri, dan energi adalah jagung. Sebagai salah satu bahan baku untuk industri, baik industri makanan olahan dan juga produk industri pakan ternak, minyak, gula dan turunannya. Saat ini jagung juga sudah mulai dilirik sebagai bahan baku produksi etanol untuk bahan bakar . Hal ini dapat juga berpengaruh signifikan akan kebutuhan jagung, seperti sebelumnya terhadap kebutuhan sawit untuk biodiesel. Hal lain yang berpengaruh terhadap kebutuhan jagung tidak lain adalah adanya peningkatan jumlah penduduk yang juga membutuhkan protein hewani. Jagung merupakan salah satu kebutuhan utama dalam industri pakan ternak di Indonesia yang kebutuhannya dapat mencapai 51 persen. Hal ini juga yang mendukung pemerintah memprioritaskan pengembangan jagung untuk memenuhi kebutuhan domestik dan mengurangi impor. Kondisi global dan fluktuatif serta pergeseran konsumsi negara eksportir sehingga pemenuhan kebutuhan dari impor masih memberikan risiko tinggi yang dapat memberikan A Tija, et. dampak untuk industri olahan makanan dan peternakan dalam negeri. Kondisi dapat berdampak hingga pada ketersediaan dan kenaikan harga yang cukup signifikan untuk pakan Belum lagi dihadapkan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar yang juga berpengaruh pada harga. Oleh karena itu, diperlukan upaya terus menerus untuk meningkatkan produksi jagung dalam negeri, tidak hanya untuk pangan dan pakan, tetapi juga untuk produksi industri dan bahan bakar di kemudian hari. Akibat adanya kondisi permintaan akan jagung sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri dan di luar negeri, pengaruh signifikan dirasakan pada area penyediaan bahan baku jagung di Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun, sinyal permintaan akan jagung ini juga mendapatkan respons positif dari petani-petani di Sulawesi Tengah, salah satunya di Kabupaten Banggai. Sementara dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sendiri memberi keterangan bahwa produksi jagung pada tahun 2025 dapat mencapai surplus 064 ton. Khusus untuk Kabupaten Banggai, pada tahun 2024 produksi jagung telah 728 ton. Pemerintah menargetkan produksi jagung di Kabupaten Banggai dapat mencapai 4 ton per hektare dengan kapasitas lahan tanah sekitar 11. 210 hektare (BPS, 2. Peluang pengembangan budi daya jagung ini juga mendapatkan respons positif dari PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG), sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan ekonomi lokal. Dalam hal ini, artikel penelitian ini berusaha menilai sejauh mana program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) DSLNG dapat memberikan dampak positif atas kebutuhan dan pemenuhan pasokan jagung lokal untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Metode Program CSR DSLNG dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan, implementasi serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan yang dilaksanakan berfokus pada peningkatan perekonomian masyarakat lokal melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat di wilayah Kecamatan Batui. Kintom, dan Nambo. Pada tahap perencanaan. CSR DSLNG melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat untuk mengidentifikasi potensi ekonomi serta kebutuhan yang ada di lapangan. Hasil koordinasi ini digunakan sebagai dasar dalam merancang bentuk kegiatan pemberdayaan yang sesuai dengan karakteristik sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Tahap implementasi dilakukan melalui serangkaian kegiatan pemberdayaan yang melibatkan masyarakat secara aktif seperti pelatihan, penyediaan sarana pendukung usaha, dan pendampingan teknis. Seluruh kegiatan dijalankan dengan pendekatan partisipatif untuk membangun rasa memiliki dan mendorong keberlanjutan program. Tahap monitoring dan evaluasi dilaksanakan dengan melakukan pemantauan terhadap proses dan dampak kegiatan, baik melalui kunjungan lapangan maupun diskusi bersama kelompok penerima manfaat. Monitoring dan evaluasi ini menjadi dasar dalam perbaikan program ke depan serta sebagai upaya memperkuat efektivitas dan akuntabilitas pelaksanaan CSR DSLNG di wilayah pengembangan masyarakat. Pembahasan Produksi Jagung Nasional dan Peningkatannya Perkembangan hasil panen jagung di Indonesia mengalami fluktuasi yang cukup Kinerja perdagangan jagung di Indonesia dalam wujud segar dan olahan selama periode 2019-2023 secara umum mengalami defisit perdagangan. Pada tahun 2022, produksi jagung dalam negeri mengalami defisit, sehingga terdapat kenaikan volume ekspor dibandingkan tahun 2021. Pada tahun 2023, produksi jagung di Indonesia mengalami A Tija, et. penurunan dengan rata-rata 12,5% dari tahun 2022, dengan total 14,46 juta ton, sehingga mempengaruhi kapasitas ekspor jagung segar. Kondisi ini juga terjadi secara global, dengan rata-rata penurunan sekitar 16% dari tahun 2022. Dengan adanya kondisi penurunan produksi jagung di dalam negeri pada tahun 2023. Indonesia tercatat membutuhkan impor jagung segar sebesar 7,92% dengan tingkat swasembada sebesar 92, 67% (Pertanian, 2. Pada tahun 2024, terjadi perubahan dengan ditandai luasan panen jagung yang mencapai 2,55 juta hektare atau mengalami kenaikan sebesar 72,56 ribu hektare atau 2,93 persen dibandingkan dengan tahun 2023 yang sebesar 2,48 juta hektare (Statistik, 2. Gambar 1. Luas Panen Jagung tahun 2023, 2024, 2025 Sumber: BPS, 2025. Berdasarkan Gambar 1, puncak panen jagung terjadi pada bulan Maret dengan luas panen sebesar 0,36 juta hektar, berbeda dengan 2023 yang puncak panen terjadi pada Bulan Februari. Puncak panen pada Bulan Maret 2024 relatif lebih tinggi 112,76 ribu hektare . ,79%) dibandingkan dengan Bulan Februari 2023. Diperkirakan hal ini juga mengalami peningkatan dari Bulan JanuariAeMaret 2025 hingga 0,85 juta hektare atau mengalami peningkatan sebesar 0,24 juta hektare . ,89%) dibanding Bulan JanuariAeMaret 2024 (Pertanian, 2. Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Jagung amatan Maret 2025, realisasi luas panen jagung pipilan pada Maret 2025 sebesar 0,29 juta hektar, atau mengalami penurunan sekitar 73,18 ribu hektare . ,08 perse. dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 0,36 juta hektare (Gambar . Sementara itu, potensi luas panen jagung pipilan pada Bulan AprilAeJuni 2025 diperkirakan sekitar 0,58 juta hektare (BPS. Luasan Panen dan Produksi Jagung di Indonesia , 2. Dengan demikian, total luas panen jagung pipilan pada Bulan JanuariAeJuni 2025 diperkirakan sebesar 1,42 juta hektar, atau mengalami kenaikan sebesar 0,15 juta hektare . ,64%) dibandingkan luas panen pada Bulan JanuariAeJuni 2024 yang sebesar 1,27 juta Luas panen jagung hasil Survei KSA Jagung terdiri dari tiga jenis panen yaitu: panen hijauan, panen muda, dan panen pipilan. Luas panen jagung pipilan pada Bulan JanuariAe Maret 2025 sebesar 0,84 juta hektar. Di sisi lain, luas panen hijauan dan luas panen muda A Tija, et. pada Bulan JanuariAeMaret 2025 masing-masing sebesar 0,03 juta hektare dan 0,12 juta hektare (Tabel . Tabel 1. Luas Panen Jagung Menurut Jenis Panen di Indonesia Periode Januari-Maret 2024 dan Jenis Panen Januari-Maret 2024 Januari-Maret 2025 Panen Hijauan Panen Muda Panen Pipilan Total Luas Panen . Persentase (%) 4,83 12,22 82,95 Luas Panen . Persentase (%) 3,44 12,40 84,16 *Perbedaan angka di belakang koma disebabkan oleh pembulatan angka Sumber: BPS, 2025. Berdasarkan data yang dimiliki oleh BPS 2025, provinsi dengan luasan panen jagung pipilan terbesar adalah Jawa Timur dengan total 2,8 juta ton, diikuti oleh Jawa Tengah 715,45 ton, kemudian diikuti dengan Nusa Tenggara Barat dengan total produksi jagung 1 juta ton. Kedudukan Provinsi Sulawesi Tengah masih jauh di bawah tiga provinsi penyedia jagung terbesar di Indonesia, adapun kontribusi Sulawesi Tengah dalam penyumbang kebutuhan jagung nasional hanya 53,78 ribu ton pada tahun 2025. Masih jauh di bawah Provinsi Gorontalo yang dapat mencapai 522,87 ribu ton. Peluang ini masih sangat besar melihat banyaknya lahan kosong yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian jagung. Tabel 2. Luas Panen Pipilan Menurut Provinsi Periode Januari-Juni 2024 dan 2025 Provinsi Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Kalimantan Utara Luas Panen Pipilan Januari-Juni 2024 Januari-Juni 2025* Selisih (Periode 2025 2. A Tija, et. Provinsi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Barat Daya Papua Papua Selatan Papua Tengah Papua Pegunungan Indonesia Luas Panen Pipilan Januari-Juni 2024 Januari-Juni 2025* Selisih (Periode 2025 2. *Total luas panen jagung Januari-Juni 2025 adalah angka sementara -0 adalah data sangat kecil atau mendekati 0 *Sampel KSA Jagung tidak mencakupi wilayah DKI Jakarta Perbedaan angka di belakang koma disebabkan oleh pembulatan angka Sumber: BPS, 2025. Pada tahun 2024, hasil produksi pertanian jagung di Kabupaten Banggai mengalami kenaikan yang meliputi target luas tanam dan luas panen juga hasil produksi rata-rata per Kementan RI memberikan target luas tanam sebesar 13. 000 hektare yang kemudian tercapai di lapangan sebesar 13. 816 hektar. Dengan demikian menunjukkan bahwa adanya hasil yang melebihi target. Dari luas lahan tersebut, dapat menghasilkan total produksi jagung 728 ton dengan rata-rata produksi per hektare adalah 4 ton bergantung dari hasil Adapun data yang diperoleh dari Kabupaten Banggai dalam angka tahun 2025 untuk tiga kecamatan Batui. Kintom dan Nambo adalah sebagai berikut. Tabel 3. Hasil. Luasan, dan Produktivitas Panen Jagung di Kecamatan Batui. Kecamatan Kintom, dan Kecamatan Nambo Kecamatan Batui Kintom Nambo Hasil Panen . 26,75 Luasan Panen Jagung . 26,75 Produktivitas . w/h. 5,00 3,00 1,00 Sumber: BPS Kabupaten Banggai, 2025. Target luas tanam jagung di tahun 2025 adalah 13. 000 hektar. Hingga kini capaian realisasi luas tanam sekitar 45% dan diperkirakan hasil produksi jagung akan meningkat. Hal tersebut dikarenakan adanya intervensi dari institusi Polri dengan Program Satu Juta Satu Hektare yang bergerak di pengembangan tanaman jagung oleh Polres Banggai. Program ini adalah komitmen Kepolisian RI dalam mendukung Program Presiden Prabowo Subianto. Pendampingan Pengembangan Ekonomi Lokal Secara umum, kondisi ekonomi masyarakat di Kecamatan Batui. Kecamatan Kintom, dan Kecamatan Nambo menunjukkan karakteristik yang serupa dengan nuansa yang berbeda di setiap wilayah, di antaranya adalah: A Tija, et. Dominasi Sektor Pertanian Sebagian besar masyarakat di ketiga kecamatan ini menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Namun, praktik pertanian yang masih tradisional, keterbatasan akses terhadap teknologi dan informasi serta fluktuasi harga komoditas seringkali menyebabkan pendapatan petani tidak stabil dan cenderung rendah. Potensi Sektor Peternakan Peternakan, meskipun belum menjadi sumber pendapatan utama bagi semua kelompok, memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Keterbatasan modal, pengetahuan tentang praktik beternak yang modern, dan akses ke pasar menjadi kendala utama. Kendala pertanian berkaitan erat dengan kondisi lingkungan di 3 kecamatan dengan karakteristik tropis dan curah hujan yang bervariasi. Beberapa tantangan lingkungan dan kendala pertanian yang dihadapi masyarakat di antaranya: Degradasi Lahan Praktik pertanian yang kurang berkelanjutan, seperti pembukaan lahan yang tidak terkontrol dan penggunaan pupuk kimia berlebihan, dapat menyebabkan degradasi lahan dan penurunan kesuburan tanah. Keterbatasan Akses Air Ketersediaan air untuk irigasi seringkali menjadi masalah, terutama pada musim Sistem irigasi yang belum optimal dan perubahan iklim semakin memperparah kondisi ini. Serangan Hama dan Penyakit Petani secara rutin menghadapi risiko serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menyebabkan kerugian hasil panen yang signifikan. Pengetahuan dan akses terhadap metode pengendalian hama dan penyakit yang efektif dan ramah lingkungan masih terbatas. Dampak Perubahan Iklim Perubahan iklim global berdampak pada pola curah hujan yang tidak menentu, peningkatan suhu, dan kejadian cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan. Hal ini memberikan tantangan besar bagi sektor pertanian dan peternakan. Program Pengembangan Ekonomi Lokal yang dilaksanakan di Kecamatan Batui. Kecamatan Kintom, dan Kecamatan Nambo merupakan respons terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang sangat bergantung pada sektor pertanian dan peternakan, tetapi dengan produktivitas yang rendah dan akses pasar yang terbatas. Program ini secara aktif berjalan sejak tahun 2024 yang diinisiasi oleh DSLNG dengan pendekatan multipihak. Tahapan implementasi mencakup identifikasi kebutuhan masyarakat, pembentukan kelompok penerima manfaat, pelatihan, penyediaan sarana produksi, dan pendampingan secara intensif. Sejak awal pelaksanaannya, program ini difokuskan pada penerapan sistem pertanian terpadu . ntegrated farmin. , yakni pendekatan yang menggabungkan sektor pertanian dan peternakan secara efisien. Program ini menjangkau lebih dari 80 kepala keluarga yang tersebar di 3 kecamatan. Salah satu contoh nyata penerapan sistem ini adalah pengolahan limbah jagung pascapanen menjadi pakan ternak fermentasi . yang kemudian digunakan oleh kelompok ternak ayam dan sapi binaan. Model ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menurunkan biaya produksi. A Tija, et. Sebelum program, mayoritas petani mengandalkan cara tradisional dengan hasil panen rendah. Setelah program, rata-rata hasil panen jagung mencapai 14 ton dari lahan seluas 13 hektar. Dua kelompok peternak ayam menghasilkan sekitar 200 butir telur per hari, sementara kelompok ternak sapi menunjukkan peningkatan kualitas dan produktivitas Tabel 4. Perbandingan Kondisi Sebelum dan Sesudah Program Aspek Produktivitas Jagung Teknologi Pertanian Sebelum Program 2-3 ton/Ha Manual dan tradisional Kapasitas SDM Rendah, belum terlatih Akses Pasar Terbatas Sesudah Program Rata-rata 5-6 ton/Ha Penggunaan alat modern . ultivator, sensor, dl. Peningkatan signifikan pasca pelatihan OISCA-Jepang Terhubung ke BUMDes dan mitra agribisnis Sumber: CSR DSLNG, 2024. Program Pengembangan Ekonomi Lokal ini direncanakan untuk dilaksanakan dalam beberapa tahapan sesuai dengan rencana kerja dan rencana strategis yang telah disusun dengan memperhatikan siklus anggaran dan kebutuhan masyarakat di tiga kecamatan sasaran di antaranya: Program ini akan dimulai pada tahun anggaran 2024. Sampai dengan tahun ini akan menjadi tahun inisiasi dan mobilisasi program, yang meliputi kegiatan sosialisasi program kepada masyarakat, pembentukan dan penguatan kelompok penerima manfaat (PKK. Kelompok Wanita Tani. Kelompok Tani. Kelompok Ternak, dan Kelompok UMKM) serta pelaksanaan asesmen kebutuhan dan potensi yang lebih mendalam di masing-masing kelompok dan wilayah. Lokasi program akan dilaksanakan di 3 kecamatan dengan berfokus untuk mendorong potensi yang dimiliki masing-masing wilayah dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Metode exit program direncanakan berjalan intensif selama 3 tahun, yaitu dari tahun anggaran 2024-2027 yang dirancang secara bertahap dan berkelanjutan dengan tujuan agar masyarakat penerima manfaat dapat mandiri secara ekonomi dan organisasi setelah masa pendampingan selesai. Beberapa elemen kunci dalam strategi exit program meliputi: Penguatan Kapasitas Kelembagaan Kelompok Sejak awal program, fokus akan diberikan pada penguatan struktur organisasi, tata kelola, dan kemampuan manajerial kelompok masyarakat. Hal ini akan memastikan keberlanjutan kegiatan kelompok setelah program berakhir. Pengembangan Kewirausahaan dan Akses Pasar Program akan memfasilitasi pengembangan jiwa kewirausahaan anggota kelompok dan membantu mereka membangun jaringan pasar yang kuat dan berkelanjutan, baik melalui kerja sama dengan pihak swasta, platform digital maupun pasar tradisional yang diperbaiki. A Tija, et. Transfer Pengetahuan dan Teknologi Program akan memastikan adanya transfer pengetahuan dan teknologi yang efektif kepada anggota kelompok, sehingga mereka memiliki keterampilan dan pemahaman yang cukup untuk terus mengembangkan usaha secara Pendampingan Berkelanjutan (Tahap Akhi. Pada tahun-tahun terakhir program, pendampingan akan dikurangi secara bertahap, dengan fokus pada monitoring dan evaluasi mandiri oleh kelompok Dukungan teknis akan tetap tersedia namun dengan intensitas yang lebih rendah. Pembentukan Forum Komunikasi Antarkelompok Program akan mendorong pembentukan forum komunikasi dan kerja sama antarkelompok di 3 kecamatan, sehingga mereka dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan membangun sinergi yang berkelanjutan. DSLNG menyadari pentingnya peran perusahaan dalam memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Sebagai wujud komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). DSLNG telah memberikan dukungan yang signifikan dan akan terus berlanjut terhadap program Pengembangan Ekonomi Lokal melalui peningkatan mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Batui. Kecamatan Kintom, dan Kecamatan Nambo. Dukungan ini diimplementasikan melalui berbagai inisiatif yang terstruktur dan berkelanjutan, meliputi: Peningkatan Kapasitas melalui Pelatihan: DSLNG secara aktif terlibat dalam upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dari kelompok penerima manfaat. Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok seperti pelatihan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practice. dan Pelatihan peternakan modern. Pendampingan Berkelanjutan: DSLNG menyediakan tenaga pendamping yang kompeten untuk memberikan bimbingan dan konsultasi secara berkelanjutan kepada kelompok masyarakat. Pendampingan ini meliputi: Pendampingan Teknis: Bantuan teknis dalam implementasi praktik pertanian, peternakan, pengolahan produk, dan manajemen usaha. Pendampingan Manajemen dan Pemasaran: Bimbingan dalam perencanaan bisnis, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, dan pengembangan jaringan pasar. Monitoring dan Evaluasi: Bersama dengan kelompok masyarakat, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan usaha dan mengidentifikasi solusi terhadap kendala yang dihadapi. Dengan perencanaan yang matang, diharapkan Program Pengembangan Ekonomi Lokal dapat memberikan dampak yang signifikan dan berkelanjutan bagi peningkatan mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Batui. Kecamatan Kintom, dan Kecamatan Nambo. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh DSLNG, termasuk pelatihan pertanian modern dan manajemen usaha yang bekerja sama dengan lembaga pelatihan internasional seperti OISCA di Jepang. Sebanyak 6 pemuda lokal dikirim mengikuti pelatihan intensif yang menggabungkan teori dan praktik selama A Tija, et. lebih dari tiga bulan. Setelah menerima pelatihan, para pemuda tersebut menjadi fasilitator lokal untuk memperkuat pendampingan di lapangan. Selain peningkatan produktivitas, program ini juga berhasil menurunkan biaya produksi peternakan. Di Desa Honbola, kelompok ternak yang sebelumnya menghabiskan Rp1. 000 per bulan untuk pakan, kini hanya mengeluarkan sekitar Rp700. 000 berkat penggunaan silase. Hal tersebut menunjukkan adanya penghematan sekitar Rp300. 000 per bulan atau Rp3. 000 per tahun per kelompok. Untuk mendukung keberlanjutan hasil panen dan peternakan. DSLNG juga memfasilitasi kemitraan dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. serta Seger Agro Nusantara sebagai mitra pemasaran hasil pertanian. Melalui kemitraan ini, kelompok tani tidak hanya mendapatkan pasar yang lebih luas, tetapi juga harga jual yang lebih adil dan stabil. Aktivitas dan Hasil Pertanian Jagung Bantuan Perusahaan Berdasarkan hasil observasi, analisis dan diskusi dengan pemerintahan setempat, salah satu prioritas kegiatan masyarakat yang dibantu oleh Perusahaan, melihat potensi wilayah, sumber daya manusia serta mayoritas mata pencarian masyarakat, maka Perusahaan memberikan perhatian khusus pada pendampingan pengembangan produksi tanaman jagung. Pada proses pendampingan pertanian Jagung sebagai salah satu prioritas bantuan Perusahaan kepada Maka adapun aktivitas yang telah dilakukan Perusahaan adalah sebagai berikut. Verifikasi Lahan Kelompok Aktivitas pertama yang dilakukan oleh Perusahaan untuk memastikan bahwa bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat sesuai dengan kondisi lahan yang akan ditanami jagung. Verifikasi ini juga melibatkan PT SAN sebagai salah satu penyedia dan penerima jagung di wilayah Kabupaten Banggai. Gambar 2. Verifikasi Lahan Kelompok Sumber: CSR DSLNG, 2024 Adapun, dalam aktivitas verifikasi ini terdapat 13 lahan kelompok yang dicek nilai pH tanah guna menyesuaikan jenis jagung yang dapat tumbuh baik di wilayah tersebut, verifikasi ini dilakukan secara terbatas sesuai dengan kesediaan kelompok serta kondisi yang ada, sementara kelompok-kelompok lain yang tidak dilakukan verifikasi lahan namun tetap mendapatkan bantuan dari Perusahaan disesuaikan dengan kondisi lahan yang sekiranya berdekatan dengan lahan yang telah diverifikasi. Hasil dari verifikasi lahan dengan menggunakan metode pengecekan lahan adalah sebagai berikut: A Tija, et. Tabel 5. Hasil Verifikasi Lahan dan Rekomendasi Bibit Jagung Kecamatan Batui Kintom Desa/Kelurahan Nama Kelompok Luas Lahan Bakung Bakung Jaya 1 Ha NilaiI Tanah Rekomendasi Bibit Tolando 1 Ha Bisi 18, 99 Balantang Langkoyang Potoutusan Batui Menanam 1 Ha Bisi 18, 99 Lamo Sejati 1 Ha Bisi 18 Kayowa Butong Jaya 1 Ha Bisi 18, 99 Honbola Tunas Muda 1 Ha Bisi 18 Ondo-Ondolu1 Sumber Rejeki 2 1 Ha Babang Buyangge Pemdes 1 Ha Nk Pendekar Sakti. Sumo Bisi 99 Padang Langganan Batu 1 Ha Bisi 18 Manyula Etap Jaya 1 Ha Bisi 18 Uling Mawar 1 Ha Bisi 18 Samadoya Benteng Jaya 1 Ha Bisi 16, 99 Dimpalon Baru Momposaangu 1 Ha Bibit 99 Bisi 18 Sumber: CSR DSLNG, 2024. Menurut jenis pH yang menjadi salah satu penilaian karakteristik tanah dan pada umumnya menjadi salah satu acuan utama dalam bidang pertanian antara lain adalah pH tanah Netral berada pada angka 6,5 hingga 7,8. Pada tingkat ini keadaan dan kandungan senyawa organik, mikroorganisme, unsur hara dan mineral-mineral dalam kondisi yang Pada pH tanah Asam berada pada pH antara 6 hingga 6,5 masih dianggap subur dan cocok untuk sebagian besar tanaman. Rentang ini cenderung mendukung ketersediaan nutrisi yang baik bagi tanaman, termasuk nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Beberapa petani biasanya mengurangi kadar keasaman sebelum bercocok tanam supaya bisa menanam sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Selain itu pH Basa biasanya berada di daerah pesisir pantai dengan pH lebih dari 7,8. Biasanya pada tanah ini ada kandungan seperti natrium yang lebih tinggi, ion magnesium, kalium hingga kalsium. Kondisi ini tentu saja tidak ideal untuk menanam. Biasanya harus diberikan seperti kapur gypsum untuk menetralkan pH tanah tersebut. A Tija, et. Gambar 3. Verifikasi pH Tanah Sumber: CSR DSLNG, 2024 Berdasarkan hasil verifikasi tanah yang dilakukan bersama PT SAN, terdapat 7 lokasi dengan pH tanah tergolong Asam dengan pH tanah antara 6- 6,5 yaini di Desa Lamo. Kayowa. Honbola. Ondo-ondolu 1. Babang Buyange. Manyula. Dimpalon Baru. Lokasilokasi tersebut masih dianggap subur dan cocok untuk sebagian besar tanaman termasuk Pada pH tanah yang tergolong asam. PT SAN memberikan rekomendasi bibit jagung jenis BIBIT 99. BISI 18 dan NK Pendekar Sakti. Sumo. Adapun 6 lahan lain yang memiliki rentan pH tanah antara 4-5,5 adalah Desa Bakung. Tolando. Balantang. Padang. Uling dan Samadoya. Lokasi dengan rentan pH tersebut direkomendasikan untuk mendapatkan bibit jenis Bisi 18, 16 dan 99. Pemberian Bibit Jagung dan Persiapan Lahan Pemberian bibit jagung kepada masyarakat tergantung juga terhadap cuaca dan curah hujan yang sedang terjadi di wilayah tersebut. Tanah merupakan fondasi keberhasilan budi daya Pertimbangan pertama adalah jenis tanah yang dapat sangat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas tanaman. Berbagai varietas jagung tumbuh subur di berbagai jenis tanah, jadi memahami tanah yang akan dikerjakan sangatlah penting. Sesuai dengan proses verifikasi lahan dengan mengukur pH tanah, petani melakukan pengolahan tanah sesuai dengan jenis tanah dan bibit yang diberikan oleh Perusahaan. Persiapan lahan dapat dilakukan melalui persiapan tanah sempurna dengan menggunakan mesin traktor dan persiapan tanah minimum dengan alat sederhana seperti cangkul, dan tanpa olah tanah. Tidak hanya itu di wilayah Sulawesi Tengah, kondisi iklim merupakan faktor mendasar dalam persiapan lahan jagung. Jagung sensitif terhadap suhu, curah hujan, dan sinar matahari. Berangkat dari pertimbangan iklim setempat, khususnya lamanya musim tanam dan suhu rata-rata, penentuan jadwal tanam dapat disesuaikan. Jagung membutuhkan tanah yang hangat agar dapat berkecambah dengan baik, jadi memastikan untuk mengatur waktu persiapan lahan sesuai dengan cuaca sangat berpengaruh. Selain itu, daerah yang rawan kekeringan memerlukan lebih banyak teknik pengelolaan air seperti irigasi agar menjadi bagian dari strategi persiapan lahan. Wilayah Sulawesi Tengah memiliki iklim yang berbeda dengan mayoritas wilayah di Pulau Jawa, musim hujan di Sulawesi Tengah biasanya dimulai dari Bulan April hingga Mei. Maka, petani mulai menanam bibit pada Bulan Oktober-November karena pada masa itu saat di mana mulai musim kemarau. A Tija, et. Penanaman Jagung Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, penanaman jagung disesuaikan dengan kesiapan tanah dan musim yang terjadi di wilayah tersebut. Pada umumnya populasi 66. 000 tanaman/ha, dengan jarak tanam 70-75 cm x 20 cm . tanaman perluban. , atau 7075 cm x 40 cm . tanaman per luban. Menurut BPSIP Sulawesi Tengah, populasi tanaman ditentukan oleh jarak tanam dan mutu benih yang digunakan. Benih yang mempunyai daya tumbuh 95% dapat memenuhi populasi 66. 000Ae75. 000 tanaman per hektar. Dalam budi daya jagung tidak dianjurkan menyulam karena pengisian biji pada tanaman sulaman tidak Pembibitan jagung pada umumnya membutuhkan tanah yang subur dan berdrainase baik dengan tingkat pH 6,0 hingga 6,5 dan kaya bahan organik untuk menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Pemberian dan pengelolaan pupuk yang hati-hati dapat membantu memastikan bahwa tanah menyediakan nutrisi yang tepat untuk tanaman. Bibit jagung membutuhkan pemupukan secara teratur untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang tepat. Menurut BPSIP Sulawesi Tengah pemupukan penting untuk menyediakan nutrisi penting, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang optimal. Pada saat awal tanam diperlukan pemupukan berimbang, seperti pupuk campuran 10-1010, dapat diterapkan untuk memberikan unsur hara awal yang dibutuhkan bibit untuk perkecambahan dan pertumbuhan awal. Ketika tanaman tingginya bertambah, aplikasi pupuk lain dapat dilakukan untuk memberikan nutrisi tambahan untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Pemupukan teratur, berdasarkan pengujian tanah dan pengelolaan yang hati-hati, sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan bibit jagung yang optimal. Hal ini menjadi salah satu kendala dalam proses pendampingan pertanian jagung yang dilakukan Perusahaan, terbatasnya akses akan pupuk yang mudah dijangkau dan murah menjadi kendala dalam pengoptimalan kondisi lahan agar dapat menghasilkan tanaman jagung yang baik, berkualitas dan optimal. Akibat adanya keterbatasan akan akses pupuk yang terjadi pada proses penanaman, jagung yang dihasilkan oleh masyarakat dari adanya bantuan Perusahaan masih memerlukan treatment untuk dapat menghasilkan produk jagung yang optimal. Pelatihan Salah satu persoalan yang menjadi keluhan petani adalah saat panen jagung tidak ada yang menyerap atau membeli. Sementara di sisi lain, industri pakan sebagai pemakai utama jagung justru mengeluh keberadaan jagung di dalam negeri. Sedangkan permasalahan-permasalahan mengenai perkebunan jagung masih dirasa cukup memberi tantangan seperti tingkat kesuburan tanah dan sumber air. Untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. DSLNG memberikan pelatihan serta memperkenalkan pasar yang dapat membeli produk jagung masyarakat, yakni PT SAN. Melalui Dinas Pertanian. Perusahaan memberikan pelatihan kepada kelompok-kelompok yang sebelumnya telah menerima bantuan bibit Adapun, pelatihan lainnya adalah pemanfaatan limbah pohon jagung untuk dijadikan silase pakan ternak. Silase adalah hijauan pakan ternak yang diawetkan melalui proses fermentasi secara anaerob dan disimpan dalam tempat kedap udara seperti silo, kantong plastik, atau Proses fermentasi ini membantu menjaga kualitas nutrisi pakan hijauan dan memperpanjang masa simpan. Pemanfaatan jerami jagung merupakan sisa dari tanaman jagung setelah buahnya dipanen tanpa penggunaan akar dan sebagian batang yang tersisa sebagai pakan ternak, baik dalam bentuk segar maupun kering. Nilai nutrisi tanaman jagung A Tija, et. sangat bervariasi, kulit jagung mempunyai nilai kecernaan bahan kering in vitro yang tertinggi . %) sedangkan batang jagung merupakan bahan yang paling sulit untuk dicerna dalam rumen . %). Nilai kecernaan kulit jagung dan tongkol . %) ini hampir sama dengan nilai kecernaan rumput gajah sehingga kedua bahan ini dapat menggantikan rumput gajah sebagai sumber hijauan pada ternak. Regenerasi Petani Secara umum, salah satu permasalahan dan tantangan pembangunan pertanian yaitu semakin berkurangnya sumber daya manusia yang berkecimpung di sektor pertanian. Survei BPS menyebutkan terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani (RTP). Pada tahun 2003 jumlahnya sebanyak 31 juta RTP, tetapi pada tahun 2013 tersisa 26 juta RTP. Artinya dalam sepuluh tahun terakhir terjadi penurunan 5 juta RTP. Padahal masa depan pembangunan pertanian tergantung pada generasi muda saat ini. Dengan jumlah yang cukup besar, generasi muda mempunyai peran strategis mengungkit keberhasilan pembangunan nasional, termasuk pembangunan pertanian. Dengan adanya tantangan tersebut. Perusahaan melakukan pendampingan kepada pemuda-pemudi Kecamatan Batui. Kecamatan Kintom dan Kecamatan Nambo untuk mendapatkan pelatihan pertanian yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banggai melalui program OISCA. Para peserta OISCA yang telah mendapatkan pelatihan pertanian juga memberikan edukasi-edukasi kepada petani agar dapat mengolah dan memanfaatkan tanahnya agar dapat memberikan hasil optimal. Hasil Bantuan Bibit Jagung Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Perusahaan dalam proses pemberian bantuan bibit jagung adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Panen Kecamatan Kintom Nama Kelompok Dodoku Mandiri Etab Jaya Alamat Dimpalon Baru Manyula Jenis Benih Bisi 18 Tanggal Tanam 05 Oktober 2024 Jumlah Benih 15 Kg Bisi 18 07 Desember 16 Desember 15 Kg 13 Desember 11 Januari 2025 15 Kg Buyangge Mandiri Sejahtera Mobaba Babang Buyangge Bisi 959 Padang Bisi 18 Mawar Uling Bisi 18 15 Kg 15 kg Tanggal Panen 12 Februari 14 April 28 April Hasil Panen 142 Kg 20 April 14 Mei 2025 931 Kg 540 Kg 630 Kg 440 kg Sumber: CSR DSLNG, 2025. Dari total bantuan 75 kg bibit jagung yang diberikan Perusahan, telah menghasilkan 4. 683 kg atau setara dengan Rp21. Perolehan hasil panen terbesar diperoleh oleh kelompok Mawar, dengan total panen 1. 440kg atau setara Rp6. Kemudian diikuti oleh kelompok Dodoku Mandiri, dengan total 1. 142kg atau setara dengan Rp5. Kemudian diikuti oleh Kelompok Mobaba dengan jumlah panen sebesar 931 kg atau setara dengan Rp4. Kelompok dengan hasil panen terkecil dari 4 kelompok yang berhasil menanam jagung diperoleh oleh Kelompok Eteb Jaya dengan total panen 540 kg atau setara dengan Rp2. Hasil produksi ini masih dapat meningkat dengan seiringnya waktu panen yang berbeda-beda menurut jadwal penanaman dari masing-masing kelompok. A Tija, et. Kesimpulan Program Pengembangan Ekonomi Lokal oleh DSLNG pada komoditas jagung merupakan bentuk intervensi yang berbasis potensi wilayah dan mata pencaharian utama masyarakat di Kecamatan Batui. Kintom, dan Nambo. Kegiatan ini mencakup verifikasi pH tanah untuk penyesuaian jenis bibit, penjadwalan tanam berdasarkan iklim lokal serta pelatihan teknis budi daya. Namun, implementasi program menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan akses terhadap pupuk yang berdampak pada hasil panen petani. Untuk mengatasi tantangan tersebut. Perusahaan tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memfasilitasi akses pasar melalui kemitraan dengan PT SAN serta mendorong regenerasi petani dengan melibatkan pemuda dalam pelatihan bersama OISCA. Dari total bantuan 75 kg bibit jagung yang diberikan, program ini telah menghasilkan 683 kg jagung, senilai sekitar Rp21. Jumlah ini masih berpotensi meningkat seiring panen bertahap dari masing-masing kelompok. Hasil tersebut menunjukkan kontribusi awal yang positif, meskipun efektivitas program masih dapat ditingkatkan melalui perluasan verifikasi lahan ke seluruh kelompok tani dan peningkatan akses terhadap pupuk bersubsidi. Pembentukan kerja sama formal antara kelompok tani dan mitra seperti PT SAN juga menjadi strategi penting untuk menjamin kepastian penyerapan hasil panen secara Sebagai kesimpulan. Program Pengembangan Ekonomi Lokal oleh CSR DSLNG memberikan gambaran bahwa intervensi berbasis potensi lokal, pelibatan generasi muda, dan pembukaan akses pasar dapat memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan ekonomi Namun, untuk memperkuat keberlanjutan sektor pertanian, diperlukan langkah lanjutan berupa diversifikasi usaha, pelatihan pengolahan hasil jagung serta replikasi pelatihan pemuda di wilayah lain. Pengolahan komoditas jagung menjadi produk pangan, pakan, kerajinan hingga energi dapat meningkatkan nilai tambah dan memperkuat circular economy. Dengan demikian, kontribusi Perusahaan terhadap sektor pertanian lokal tidak hanya bersifat temporer, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pertanian berkelanjutan. Daftar Pustaka