Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 STUDI KORELASI KREATININ SERUM DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MINUMAN BERENERGI. MASA KERJA. DAN UMUR PADA PEKERJA BANGUNAN DI KEC. SELEBAR KOTA BENGKULU Rahayu Safitri Bevi1. KPutra Adi Irawan1. Jon Farizal1. Dahrizal2. Sahidan1. Gani Asa Dudin1. Wa Ode Vivi Nursalam3 Teknologi Laboratorium Medis. Poltekkes Kemenkes Bengkulu Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Bengkulu RSU Bahteramas Sulawesi Tenggara Info Artikel: Disubmit Direvisi Diterima Dipublikasi ABSTRAK : 25-01-2025 : 06-03-2025 : 24-04-2025 : 20-06-2025 Penulis Korespondensi: Email: putraadiirawan45@gmail. Kata kunci: Kreatinin. Masa Kerja. Minuman Energi. Umur. Pekerja Bangunan DOI: 10. 47539/gk. Pekerja bangunan merupakan salah satu kelompok tenaga kerja yang memiliki beban fisik tinggi dan rentan terhadap gangguan kesehatan. Dalam menjalani aktivitas kerjanya, sebagian besar pekerja bangunan mengandalkan minuman berenergi sebagai penambah stamina dan daya tahan tubuh. Konsumsi minuman berenergi yang mengandung kafein, gula tinggi, dan berbagai zat aditif lainnya, dalam jangka panjang dapat memberikan dampak terhadap ginjal. Kreatinin serum merupakan salah satu indikator penting dalam menilai fungsi ginjal. Selain konsumsi minuman berenergi, faktor-faktor lain seperti masa kerja yang panjang serta pertambahan usia. Kecamatan Selebar Kota Bengkulu salah satu wilayah dengan pekerja bangunan dengan latar belakang usia dan masa kerja beragam yang bekerja rutin di lapangan. Namun, hingga saat ini belum banyak dilakukan kajian ilmiah secara spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi kadar kreatinin serum dengan kebiasaan konsumsi minuman berenergi, masa kerja, dan umur pada pekerja Penelitian ini merupakan survei analitik pada pekerja bangunan di Kec. Selebar Kota Bengkulu menggunakan teknik sampling accidental sampling sebanyak sampel 34 responden. Pemeriksan kreatinin menggunakan metode Jaffe Reaction. Data selanjutnya dilakukan analisis univariat dan korelasi. Kadar rerataASD kreatinin responden sebesar 0,84A0,56 mg/dL. RerataASD frekuensi konsumsi minuman energi sebesar 5A1,35 kali/ minggu. Rerata A SD umur responden sebesar 40 A 10 tahun, dan rerata ASD Masa Kerja responden sebesar 4,18A0,9 tahun. Hasil analisis korelasi antara kreatini serum dan setiap variabel menunjukkan nilai koefiensi yang variatif. Kadar kreatinin responden memiliki korelasi yang cukup signifikan dengan kebiasaan masa kerja responden (<0,. Sedangkan frekuensi konsumsi minuman energi dan usia responden tergolong lemah (>0,. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 ABSTRACT Construction workers are one of the groups with high physical burdens and are susceptible to health In carrying out their work activities, most construction workers rely on energy drinks to increase stamina and endurance. In the long term, consuming energy drinks containing caffeine, high sugar, and various other additives can impact the kidneys. Serum creatinine is one of the critical indicators in assessing kidney function. In addition to energy drink consumption, other factors include long working periods and increasing age. Selebar District. Bengkulu City, is one of the areas with construction workers of various ages and working periods who work routinely in the field. However, until now, there have not been many specific scientific studies. This study aims to see the correlation between serum creatinine levels and energy drink consumption habits, working period, and age in construction workers. This study is an analytical survey of construction workers in Selebar District. Bengkulu City, using an accidental sampling technique with a sample of 34 respondents. Creatinine examination used the Jaffe Reaction The data was then analyzed univariately and correlationally. Respondents' mean A SD creatinine level was 0. 84 A 0. 56 mg / dL. The mean A SD energy drink consumption frequency was 5 A 1. times/week. The mean A SD age of respondents was 40 A 10 years, and the mean A SD length of service of respondents was 4. 18 A 0. 9 years. The results of the correlation analysis between serum creatinine and each variable showed varying coefficient values. The creatinine level of respondents had a fairly significant correlation with the habits of the respondent's work period ( <0. At the same time, the frequency of energy drink consumption and the age of respondents were classified as weak (> 0. Keywords: Age. Creatinine. Construction Workers. Energy Drinks. Working Period PENDAHULUAN Pekerja bangunan merupakan salah satu kelompok tenaga kerja yang memiliki beban fisik tinggi dan rentan terhadap gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan fungsi ginjal. Sebagian besar pekerja bangunan mengandalkan minuman berenergi sebagai penambah stamina dan daya tahan tubuh dalam menjalani aktivitas kerjanya. Konsumsi minuman ini yang mengandung kafein, gula tinggi, dan berbagai zat aditif lainnya dalam jangka panjang dapat memberikan dampak terhadap fungsi organ, termasuk ginjal. Meningkatnya konsumsi minuman kemasan di pasaran memiliki potensi untuk mengubah gaya hidup masyarakat, terutama kurangnya konsumsi air putih (WHO, 2020. Elbendary et , 2023. Ajibo et al. , 2. Minuman energi pada dasarnya didesain khusus untuk memberikan energi tambahan, diantaranya kafein. Kafein, sebagai salah satu bahan utama dalam minuman berenergi, dapat meningkatkan beban pada ginjal dan memengaruhi keseimbangan cairan tubuh, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kadar kreatinin serum (Gutiyrrez-Hellyn and Varillas-Delgado, 2. Mengonsumsi minuman energi yang mengandung kafein atau taurin meningkatkan kekuatan dan kinerja otot sehingga memicu reaksi katabolik . eaksi penghasil energ. pada otot. Selama katabolisme otot, kreatin fosfat dipecah dan kreatinin dilepaskan ke dalam darah. Konsentrasi kreatinin dalam darah akan meningkat ketika terus mengonsumsi minuman berenergi (Cappelletti et al. , 2015. Gutiyrrez10 Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 Hellyn and Varillas-Delgado, 2. Kreatinin serum merupakan salah satu indikator penting dalam menilai fungsi ginjal. Peningkatan kadar kreatinin serum bisa menjadi tanda awal terjadinya gangguan fungsi ginjal. Kreatinin adalah produk sampingan dari metabolisme otot yang dikeluarkan melalui ginjal, dan kadar kreatinin serum yang tinggi dapat mengindikasikan penurunan fungsi ginjal. Oleh karena itu, memonitor kadar kreatinin sangat penting dalam mendeteksi potensi masalah ginjal pada pekerja (Al-Bouwarthan et al. , 2020. Hart, 2022. Luangwilai. Robson and Siriwong, 2. Selain konsumsi minuman berenergi, faktor-faktor lain seperti masa kerja yang panjang serta pertambahan usia juga berpotensi memengaruhi kadar kreatinin dalam darah. Indonesia merupakan salah satu negara yang kasus gagal ginjalnya terus meningkat. Gagal ginjal adalah penyakit kronis yang semakin umum terjadi di seluruh dunia. Penyakit ginjal kronik merupakan kelainan sistem tubuh yang disebabkan oleh berbagai sebab, menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara cepat dan umumnya berujung pada gagal ginjal. Penyakit ginjal kronik (CKD) merupakan suatu sindrom klinis yang disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal secara permanen akibat kerusakan nefron. Studi tetang hal ini juga masih menarik minat para peneliti (Irawan. Farizal and Febrianto, 2019. Irawan. Kemenkes RI, 2020, 2022. Suarilah. Lin and Widyawati, 2021. Kemenkes RI 2022, 2. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Rikesda. Tahun 2018, prevalensi gagal ginjal kronik yang didiagnosis dokter pada penduduk umur Ou15 Tahun di Provinsi Bengkulu adalah 0,43%. Berdasarkan karakteristik buruh/sopir/pembantu ruta, prevalensi kreatinin serum pada penduduk umur Ou 15 tahun sebesar 7,3 % (Riskesdas, 2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat sekitar 1. pekerja buruh bangunan di Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia (Riskesdas Bengkulu, 2. Pekerja bangunan merupakan pekerjaan membutuhkan banyak energi untuk meningkatkan massa otot dalam tubuh. Bekerja sebagai pekerja bangunan memerlukan energi yang besar untuk mengangkat alat yang berat, sehingga diperlukan nutrisi tambahan untuk menyeimbangkan asupan gizi. Suplemen diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut (Yuli et al. , 2022. Wiadnya, wayan Getas and Fihiruddin, 2. Masa kerja dan usia juga berperan dalam kesehatan ginjal. Pekerja bangunan dengan masa kerja lebih lama telah mengalami kelelahan fisik lebih besar, yang seiring waktu dapat memengaruhi Begitu pula dengan usia, karena seiring bertambahnya usia, fungsi ginjal cenderung menurun secara alami. Oleh karena itu, mengamati interaksi antara umur, masa kerja, kebiasaan konsumsi minuman berenergi, dan kadar kreatinin serum sangat penting untuk memahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan ginjal pekerja bangunan (Zafari et al. , 2019. Irawan, 2020. Elbendary et , 2. Studi kejadian gangguan ginjal menggunakan biomarker kreatinin serum yang dihubungkan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 dengan konsumsi sejumlah minuman energi di sejumlah daerah dan negara lain sudah dilakukan dalam dekade terakhir, dan hasil yang ditemukanpun sangat bervariasi (Wu et al. , 2018. Gutiyrrez-Hellyn and Varillas-Delgado, 2021. Suarilah. Lin and Widyawati, 2021. Elbendary et al. , 2. Kecamatan Selebar di Kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas pembangunan yang cukup tinggi, dimana banyak pekerja bangunan dengan latar belakang usia dan masa kerja yang beragam bekerja secara rutin di lapangan. Namun, hingga saat ini belum banyak dilakukan kajian ilmiah yang secara spesifik meneliti hubungan antara gaya hidup konsumtif terhadap minuman berenergi, usia, dan masa kerja dengan kadar kreatinin serum pada kelompok ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah terdapat korelasi antara kebiasaan konsumsi minuman berenergi, masa kerja, dan umur dengan kadar kreatinin serum pada pekerja bangunan, sehingga dapat menjadi dasar bagi rekomendasi kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja yang lebih baik di sektor Penelitian mengenai korelasi antara kadar kreatinin serum dan kebiasaan konsumsi minuman berenergi, masa kerja, serta umur pada pekerja bangunan khususnya di Bengkulu masih terbatas. Oleh karena itu, penting untuk meneliti hubungan antara faktor-faktor untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi risiko terhadap kesehatan ginjal pada kelompok pekerja yang rentan ini. Pemahaman yang lebih baik mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan ginjal dapat sebagai intervensi pencegahan untuk menjaga kesehatan ginjal pekerja bangunan. Hal tersebut membutuhkan kajian yang lebih spesifik untuk mengungkap hubungan keduanya. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan survei analitik, dengan populasi pekerja bangunan yang rutin mengonsumsi minuman energi di Kecamatan Selebar. Kota Bengkulu. Pengambilan data dilakukan pada Januari-Juni 2024. Teknik pengambilan sampel pada peneltian ini adalah Accidental sampling sebanyak 34 responden. Kadar kreatinin serum dianalisis menggunakan metode Jaffe Reaction. Alat yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah Spektrofotometer (Rayto RT-1904C) dan reagen kreatinin (Reiged Diagnosti. Prosedur klinis diagnostik dalam penelitian ini telah melalui kaji etik oleh komisi kaji etik Poltekkes Kemenkes Bengkulu (No. KEPK. BKL/582/01/2. Sampel darah responden diambil sebanyak 3 mL melalui vena mediana cubiti dan diproses untuk preparasi serum. Pemeriksan kreatinin menggunakan reagen kreatinin menggunakan metode Jaffe Reaction. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan korelasi, yang diolah menggunakan software SPSS versi 25 dan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. HASIL Tabel 1 menunjukkan bahwa kadar rerataASD kreatinin responden sebesar 0,84A0,56 mg/dL. RerataASD frekuensi konsumsi minuman energi sebesar 5A1,35 kali/ minggu. Rerata A SD umur responden sebesar 40 A 10 tahun, dan rerata ASD Masa Kerja responden sebesar 4,18A0,9 tahun. Berikut ini adalah hasil analisis univariat berdasarkan variabel data responden. Tabel 1. Hasil analisis univariat variabel data responden . Variabel Kreatinin serum . g/dL) Frekuensi konsumsi minuman energi . ali/mingg. Umur (Tahu. Masa Kerja (Tahu. Rerata A SD 0,84 A 0,56 5A1,35 40 A 10 4,18 A 0,9 Median 0,77 Min-Max 0,11-2,5 Tabel 2 menunjukkan sebagian besar . ,9%) responden memiliki kadar kreatinin abnormal dengan kategori rendah dan tinggi. Sebesar 41% dengan kategori kadar kretinin normal. Hampir sebagian besar . ,5%) responden memiliki kebiasaan konsumsi minuman berenergi Ou 4 kali/minggu dan sebagian kecil . ,5%) responden mengonsumsi minuman berenergi < 4 kali/minggu. Selain itu, sebagian responden yang masa kerja < 5 tahun . %) dan sebagian responden dengan masa kerja Ou 5 tahun . %). Umur responden < 40 tahun sebesar 47,1%, sedangkan Ou40 tahun sebesar 52,9%. Tabel 2. Distribusi frekuensi kadar kreatinin serum. Masa Kerja, intesitas konsumsi minuman energi Variabel Status Kreatinin Normal Rendah Tinggi Frekuensi konsumsi minuman energi (Kali/ Mingg. Ou4 Masa Kerja (Tahu. Ou5 Umur (Tahu. < 40 Ou 40 Total Jumlan (Oran. Kreatinin RerataASD g/dL) Min-Max g/dL) Presentase (%) 0,9 A 0,17 0,31A0,16 1,7A0,38 0,63-1,15 0,11-0,59 1,42-2,5 0,93A0,59 0,57A0,40 0,11-2,5 0,13-1,09 0,66 A 0,38 0,93A0,6 0,11-1,42 0,13-2,5 0,67A0,42 0,97A0,66 0,84A0,56 0,11-1,42 0,13-2,5 0,11-2,5 Berikut ini adalah data distribusi frekuensi dan analisis korelasi setiap variabel berdasarkan status Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 kreatinin responden. Tabel 3. Distribusi frekuensi dan analisis korelasi setiap variabel berdasarkan status kreatinin responden Variabel Frekuesi konsumsi minuman energi . ali/mingg. Ou4 Masa Kerja (Tahu. Ou5 Umur (Tahu. < 40 Ou 40 Total Status Kreatinin (Oran. Normal Rendah Tinggi N (Oran. r-value 0,296 0,365* 0,311 = Signifikan <0,05 . -tabel=0,. Merujuk pada data Tabel 3 diatas, dapat diketahui distribusi status kreatinin per variabelnya. Responden dengan frekuensi konsumsi minuman energi <4 kali/ minggu terdapat sejumlah 3 responden kategori status kreatinin normal, dan sejumlah 5 responden dengan status kreatinin rendah. Responden dengan frekuansi konsumsi minuman energi Ou 4 kali/ minggu, terdapat sejumlah 11 responden dengan status kreatinin normal, 9 responden rendah, dan 6 responden tinggi. Berdasarkan masa kerja responden, terdapat masa kerja responden < 5 tahun terdapat 6 orang dengan status normal, 6 orang dengan status rendah, dan 5 orang dengan status tinggi. Sedangkan masa kerja Ou 5 tahun terdapat 8 responden dengan status kreatinin normal, 8 responden rendah, dan 1 responden tinggi. Berdasarkan umur responden, umur < 40 tahun terdapat 6 responden dengan status kreatinin normal, 7 responden rendah, dan 1 responden tinggi. Sedangkan umur Ou 40 tahun terdapat 8 responden dengan status kreatinin normal, 7 responden rendah, dan 5 responden tinggi. Hasil analisis korelasi antara kreatinin serum dan setiap variabel menunjukkan nilai koefiensi yang variatif. Nilai r-hitung variabel frekuensi konsumsi minuman energi sebesar 0,296. Sedangkan, masa kerja dan umur masing-masing 0,365 dan 0,311. Merujuk pada nilai r-tabel taraf signifikansi 5% . , maka hanya variabel masa kerja responden yang memiliki hubungan signifikan dengan kadar kreatinin responden (<0,. BAHASAN Pemeriksaan kreatinin dapat digunakan untuk mendeteksi disfungsi ginjal. Hal ini terjadi karena sebagian besar kreatinin dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan dikeluarkan melalui urine dengan kecepatan yang sama. Kreatinin dikeluarkan melalui urin melalui proses filtrasi Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 dalam glomerulus kemudian disaring di ginjal dan dikeluarkan melalui urine (Irawan. Farizal and Febrianto, 2019. Irawan, 2020. Betzler et al. , 2022. Kim et al. , 2023. Levey and Inker, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerataASD kreatinin serum responden 0,84 A 0,56 mg/dL, frekuensi konsumsi minuman energi: 5A1,35 kali/ minggu, masa kerja: 4,18 A 0,9 tahun, dan usia 40A10 tahun. Sebesar 58,9% responden . memiliki status kreatinin yang abnormal baik tinggi maupun rendah. Kadar kreatinin yang tinggi pada sejumlah pekerja menunjukkan adanya gangguan pada fungsi ginjal, baik itu akibat penyakit ginjal akut, kronis, atau gangguan lain yang memengaruhi kemampuan ginjal untuk menyaring limbah dengan efisien. Jika kadar kreatinin tinggi, penting untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kadar kreatinin yang rendah sering kali berhubungan dengan penurunan massa otot, malnutrisi, atau kondisi medis lain yang mengurangi produksi kreatinin, seperti kehamilan atau gangguan hati. Meskipun kadar kreatinin rendah biasanya bukan tanda masalah ginjal langsung, jika kadar kreatinin sangat rendah, penting untuk menilai faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi, terutama jika disertai dengan gejala klinis lainnya (Inker et al. , 2012. Levey and Coresh. Ji et al. , 2017. Irawan, 2. Mengonsumsi minuman berenergi dapat berdampak pada kadar kreatinin serum. Minuman berenergi biasanya terdiri dari bahan-bahan seperti kafein, stimulan herbal . eperti guarana atau efedri. , gula . eperti glukosa atau fruktos. , asam amino . eperti taurin atau karniti. , senyawa herbal . eperti ginseng atau ginkgo bilob. , asam sitrat, dan natrium bikarbonat. (Greene. Oman and Lefler. Eiamcharoenying et al. , 2020. Ajibo et al. , 2. Minuman berenergi yang menggabungkan kafein dan taurine dapat meningkatkan kekuatan dan kinerja otot, sehingga memicu reaksi katabolik otot . eaksi yang menghasilkan energ. Selama katabolisme otot, kreatin fosfat dipecah dan kreatinin dilepaskan ke dalam darah. Oleh karena itu, asupan minuman berenergi secara terusmenerus akan meningkatkan kreatinin darah meningkat (Gutiyrrez-Hellyn and Varillas-Delgado, 2021. Ajibo et al. , 2. Faktor yang memengaruhi kadar kreatinin antara lain melakuan berlebihan, mengonsumsi minuman berenergi yang berlebihan, pola makan, dan penurunan masa Selain itu, glomerulus nefritis, nekrosis tubuler akut, dan polycystic kidney disease yang disebabkan oleh gangguan sekresi kreatinin dapat menyebabkan penurunan kadar kreatinin serum. Gagal jantung, syok, dan dehidrasi juga dapat menyebabkan penurunan kreatinin. Pada kondisi ini, aliran darah ke ginjal berkurang, yang mengakibatkan penurunan kadar kreatinin yang disaring oleh (Gutiyrrez-Hellyn and Varillas-Delgado, 2021. Ajibo et al. , 2. Selain beberapa faktor tersebut, penyakit kronis seperti: diabetes, hipertensi, dan gangguan ginjal bisa memengaruhi kadar Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 kreatinin serum. Penggunaan obat-obatan tertentu, terutama yang memengaruhi fungsi ginjal, juga dapat mengubah kadar kreatinin serum (Baxter et al. , 2021. Kim et al. , 2023. Levey and Inker, 2. Konsumsi minuman berenergi dalam jumlah berlebihan atau dalam jangka panjang dapat memperburuk fungsi ginjal, terutama pada orang dengan riwayat masalah ginjal. Jika seseorang memiliki kondisi medis seperti penyakit ginjal, hipertensi, atau diabetes, konsumsi minuman energi bisa memperburuk kondisi tersebut dan meningkatkan kadar kreatinin. Bahkan pada individu yang sehat, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, dehidrasi, dan gangguan metabolisme, yang semuanya dapat meningkatkan kadar kreatinin dalam serum (Gutiyrrez-Hellyn and Varillas-Delgado, 2021. Khan et al. , 2022. Elbendary et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman energi dapat memengaruhi berbagai indikator kesehatan ginjal. Dalam beberapa studi, peningkatan tekanan darah dan dehidrasi yang disebabkan oleh kafein dalam minuman energi dapat berdampak pada ginjal dan meningkatkan kadar kreatinin serum pada orang yang sensitif terhadap efek tersebut (Khan et al. , 2022. Elbendary et al. , 2. Seiring bertambahnya usia, fungsi ginjal menurun hingga 50% akibatnya penurunan jumlah nefron dan kurangnya kemampuan regeneratif. Oleh karena itu, proses sekresi dan filtrasi kreatinin cenderung berkurang (Zafari et al. , 2019. Irawan, 2020. Levey and Inker, 2. Kreatinin meningkat ketika fungsi ginjal terganggu. Kadar kreatinin yang tinggi disebabkan karena massa otot, aktivitas otot, pola makan, kondisi kesehatan, penyakit ginjal, kelelahan berlebihan, gangguan fungsi ginjal disertai infeksi, mengonsumsi obat-obatan yang bersifat toksik bagi ginjal, dehidrasi dan hipertasi yang tidak terkontrol. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memengaruhi fungsi ginjal, yaitu ketidak mampuan ginjal dalam menyaring darah. Pengaruh terhadap fungsi ginjal dapat diketahui dengan pemeriksaan kreatinin di atas nilai normal (Antoniak et al. , 2018. National Kidney Fondation, 2022. Levey and Inker, 2023. Irawan et al. , 2. Masa kerja responden memiliki hubungan yang cukup signifikan dengan kadar kreatinin serum (<0,. Jam kerja yang Panjang, dan aktivitas fisik berlebihan juga dapat menyebabkan peningkatan kadar kreatinin darah. Otot merupakan zat yang menghasilkan kreatin, yang kemudian dipecah menjadi kreatinin. Peningkatan kadar kreatinin dalam darah dan urin dapat menunjukkan penurunan fungsi ginjal, karena ginjal menyaring sebagian besar. Masa kerja pekerja bangunan dapat memengaruhi kadar kreatinin serum melalui beberapa mekanisme, termasuk dehidrasi, stres fisik, paparan bahan kimia berbahaya, dan pola makan yang buruk. Semakin lama masa kerja seorang pekerja bangunan dalam kondisi yang tidak Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 sehat atau dengan paparan lingkungan yang merugikan, semakin tinggi kemungkinan mereka mengalami gangguan ginjal, yang tercermin dalam peningkatan kadar kreatinin serum (AlBouwarthan et al. , 2020. Cui. Schito and Cui, 2. SIMPULAN DAN SARAN Kadar kreatinin responden memiliki korelasi yang cukup signifikan dengan kebiasaan masa kerja responden (<0,. Sedangkan frekuensi konsumsi minuman energi dan usia responden tergolong lemah (>0,. Kajian ini masih perlu dilakukan pengembangan dengan parameter spesisfik lainnya seperti cystatin-C dan mikro-albumin. Selain itu, jumlah responden perlu ditambah dengan mengkontrol faktor-faktor lainnya yang turut memengaruhi kadar kreatinin. RUJUKAN