Peran Gender dan. (Rizky Anisa Listyamurt. PERAN GENDER DAN PERILAKU ASERTIF PADA SISWA SMK KARYA RINI YHI KOWANI GENDER ROLE AND ASSERTIVE BEHAVIOR OF KARYA RINI YHI KOWANI VOCATIONAL SCHOOL STUDENTS Oleh: Rizky Anisa Listyamurti. Program Studi Bimbingan dan Konseling. Universitas Negeri Yogyakarta anisa@student. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran gender dengan perilaku asertif, serta perbedaan perilaku asertif ditinjau dari peran gender. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi dan komparasi dengan subyek seluruh siswa kelas X dan XII SMK Karya Rini YHI Kowani yang berjumlah 135 siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan skala peran gender dan skala perilaku asertif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . terdapat hubungan yang positif antara peran gender maskulin dengan perilaku asertif siswa. terdapat hubungan yang negatif antara peran gender feminin dengan perilaku asertif. terdapat hubungan yang negatif antara peran gender androgini dengan perilaku asertif. ada perbedaan yang signifikan pada perilaku asertif ditinjau dari peran gender. Kata kunci: peran gender, maskulin, femininn, androgini, perilaku asertif. Abstract This research aims to determine the relationship between gender roles and assertive behavior, as well as differences in assertive behavior in terms of gender roles. The type of this research is a correlation and comparative study with the subjects of all students of class X and XII SMK Karya Rini YHI Kowani, totaling 135 The data collection method used was a scale of gender roles and a scale of assertive behavior. The results showed that: . there was a positive relationship between masculine gender roles and students' assertive behavior. there is a negative relationship between feminine gender roles and assertive behavior. there is a negative relationship between androgynous gender roles and assertive behavior. there is a significant difference in assertive behavior in terms of gender roles. Keywords: gender roles, masculine, feminine, androgynous, assertive behavior. PENDAHULUAN Salah satu sikap yang perlu dimiliki oleh remaja dalam interaksi sosialnya adalah sikap Perilaku asertif bagi remaja bermanfaat lingkungannya, menghindari konflik karena bersikap jujur dan terus terang, dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi secara efektif (Sriyanto, 2. Perilaku tidak asertif yang dimiliki oleh beberapa siswa SMK Karya Rini YHI Kowani disebabkan karena siswa merasa malu jika ingin bertanya kepada guru serta mengalami kesulitan untuk mengekspresikan perasaan kepada orang Pada proses belajar, siswa yang kurang asertif akan merasa tidak jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Misalnya siswa mengatakan sudah paham dengan materi yang telah dijelaskan oleh guru padahal dia merasa belum paham. Siswa juga tidak percaya diri ketika ingin mengungkapkan pikiran, perasaan, pendapat dan idenya kepada orang lain. Selain itu siswa menjadi takut untuk bertanya ketika mengalami kesulitan dalam memahami materi, akibatnya tidak terjadi interaksi yang aktif saat kegiatan belajar mengajar dan nilai yang diperoleh oleh siswa juga tidak maksimal. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku asertif adalah jenis kelamin. Adanya perbedaan jenis kelamin menimbulkan perbedaan pada peran yang dikonstruksikan oleh budaya dan masyarakat, antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan peran sesuai dengan harapan atau norma yang berlaku di lingkungan masyarakat atau yang biasa disebut 363 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 dengan peran gender. Bem . 4: . menjelaskan bahwa peran gender maskulin adalah sifat yang dipercaya dan bentuk oleh budaya sebagai ciri-ciri yang ideal bagi laki-laki. Peran gender maskulin memiliki ciri-ciri. dominan, cenderung memperdulikan logika, mandiri, kuat, mengetahui arah, disiplin, dan mampu berjuang dianggap sebagai trait maskulin. Selanjutnya Bem menjelaskan bahwa feminin adalah ciri-ciri atau trait yang dipercaya dan dibentuk oleh budaya sebagai ideal bagi Trait tersebut diantaranya adalah empati, penurut, lemah lembut, menyayangi atau mencintai, cenderung memperdulikan afeksi, dan Lebih lanjut Bem mengklasifikasikan peran gender menjadi empat, yaitu maskulin, feminin, androgini dan undifferentiated atau tak Masing-masing klasifikasi memiliki karakteristik tersendiri, yang mempengaruhi perilaku seorang individu. Stereotip gender dalam kehidupan seharihari masih kerap terjadi karena sebagian besar dari masyarakat menerima pelabelan berdasarkan gender sebagai sesuatu yang wajar dan dapat Stereotip ini telah dimulai dalam proses sosialisasi bahkan sejak seorang anak dilahirkan. Lembaga Pendidikan dalam hal ini sekolah memiliki fungsi sebagai agen perubahan yang penting karena mendidik generasi muda sejak dini diharapkan tidak bias gender dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan seharihari. Pembelajaran tentang gender pada remaja menjadi penting, karena akan menjadikan remaja, baik laki-laki maupun perempuan mengambil posisi dan tugas dalam masyarakat di kehidupan Sehubungan dengan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di SMK Karya Rini YHI Kowani untuk membuktikan stereotip yang berkembang di masyarakat dengan mengetahui peran gender yang dimiliki oleh siswa laki-laki maupun perempuan dan apakah terdapat hubungan antara peran gender dengan perilaku asertif serta perbedaan perilaku asertif bila ditinjau dari peran Peran gender yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu peran gender maskulin, feminin, dan androgini. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian korelasi dan Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan antara bulan Januari sampai Februari 2020 dengan tempat penelitian di SMK Karya Rini YHI Kowani, yang terletak di jalan Laksda Adisucipto No. Demangan Baru. Caturtunggal. Depok. Sleman. Target/Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XII SMK Karya Rini YHI Kowani pada jurusan tata busana dan akomodasi perhotelan, dengan total 135 siswa, yang dapat diuraikan pada tabel 1. Tabel 1. Subyek Penelitian Kelas X TB X PH I X PH 2 XII TB XII PH 1 XII PH 2 Jumlah TOTAL Jumlah Siswa (Jenis Kelami. Prosedur Dalam penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap pendahuluan atau refleksi awal dan juga tahap pelaksanaan, yang dapat diuraikan sebagai berikut: Tahap Pendahuluan Pada tahap ini, peneliti melakukan wawancara dan observasi dengan Guru BK, juga dilakukan wawancara dengan Guru Wali Kelas dan beberapa siswa untuk memperoleh informasi mengenai pemahaman terhadap peran gender dan perilaku asertif siswa. Peran Gender dan. (Rizky Anisa Listyamurt. 364 Tahap Pelaksanaan Tahap Pelaksanaan mengacu pada rencana yang sudah disusun sebelumnya. Pada tahap ini melibatkan guru BK dan siswa. Informasi mengenai peran gender dan perilaku asertif siswa didapatkan melalui pengisian skala peran gender dan perilaku asertif. Data. Intrumen, dan Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala peran gender dan skala perilaku asertif. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Skala Peran Gender Skala peran gender diadaptasi dari Bem Sex Role Inventory (BSRI) yang disusun oleh Sandra Bem . alam Santrock, 2013: Skala ini digunakan untuk melihat kecenderungan peran gender siswa lebih menonjol pada peran gender maskulin, feminin, atau androgini. BSRI memiliki 60 item pernyataan . item pernyataan maskulin, 20 item pernyataan feminin, dan 20 item bersifat netra. Kategorisasi peran gender yang dimiliki masing-masing siswa akan tampak pada skor yang diperoleh pada skala peran gender. Jika seorang siswa menunjukkan hasil yang tinggi pada itemitem maskulin maka siswa tersebut dapat dikategorikan dalam peran gender maskulin, jika siswa menunjukkan skor yang tinggi pada item-item feminin maka siswa tersebut dapat dikategorikan dalam peran gender feminin, sedangkan siswa yang menunjukkan skor yang sama-sama tinggi pada item-item maskulin dan feminin maka siswa tersebut dapat dikategorikan dalam peran gender Skala Perilaku Asertif Skala perilaku asertif dimaksudkan untuk mengetahui tingkat perilaku asertif siswa SMK Karya Rini YHI KOWANI. Skala ini diadaptasi dari Rathus Asseritiveness Schedule (RAS) yang dikembangkan oleh Rathus A. Spencer . Tinggi rendahnya perilaku asertif tampak pada skor yang diperoleh pada skala perilaku asertif. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi perilaku asertif, sebaliknya jika semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah perilaku asertif. Sistem penilaian dalam instrument ini menggunakan pengukuran dengan skala likert yaitu merupakan metode pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Pernyataan-pernyataan di golongkan ke dalam pernyataan yang bersifat favorable dan unfavorable. Tabel 2. Skor instrument. Alternatif Respon Sangat Sesuai (SS) Sesuai (S) Tidak Sesuai (TS) Sangat Tidak Sesuai (STS) Skor Responden Teknik Analisis Data Untuk mengetahui kategorisasi peran gender siswa dapat dilihat pada skor tertinggi pada masing-masing item peran gender maskulin, feminin dan androgini. Sedangkan untuk mengetahui tingkat perilaku asertif siswa perlu dilakukan kategorisasi sesuai dengan data yang telah diperoleh dengan cara sebagai berikut: Merujuk pada penjelasan Saifuddin Azwar . , langkah Ae langkah pengkategorisasian perilaku asertif dalam penelitian ini: Menentukan Skor tertinggi dan terendah Skor tertinggi = 4 X Jumlah Item . x 25 = . Skor terendah = 1 X Jumlah Item . x 25 = . Menghitung Mean Ideal (M) M = A (Skor tertinggi Skor terenda. (A . = 62,. Menghitung Standar Deviasi (SD) SD = 1/6 (Skor tertinggi Ae Skor terenda. /6 . Ae . = 12,. 365 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 Tabel 3. Rumusan Kategori Skor Skala Interval Kategori < ( M Ae 1SD ) Rendah ( M Ae 1SD ) O < (M Sedang 1SD) Ou ( M 1SD ) Tinggi Tabel 4. Kriteria Skor Perilaku asertif Interval Kategori < 50 Rendah 50 O O 75 Sedang > 75 Tinggi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian korelasi dan Data penelitian yang diperoleh menggunakan instrumen berupa skala peran gender dan skala perilaku asertif selanjutnya akan dianalisis menggunakan bantuan SPSS versi 00 for windows. Pada pengujian hipotesis menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment, sedangkan untuk pengujian hipotesis komparasi dilakukan analisis data menggunakan teknik analisis satu jalan atau One Way ANOVA kemudian dilanjutkan uji lanjutan Post-Hoc dengan metode Tukey. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SMK Karya Rini YHI Kowani yang berlokasi di Jalan Laksda Adisucipto 86. Caturtunggal. Depok. Sleman. Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai februari 2020. Pada penelitian ini diperoleh hasil kategori peran gender siswa dengan kriteria apabila skor tertinggi didapatkan siswa pada item-item peran gender maskulin maka siswa dikategorikan pada peran gender maskulin, apabila skor tertinggi didapatkan siswa pada item-item peran gender feminin maka siswa dikategorikan pada peran gender feminin, kemudian jika skor teringgi didapatkan siswa pada item-item peran gender androgini atau hasil skor peran gender maskulin dan peran gender feminin sama tingginya maka siswa dikategorikan pada peran gender androgini. Tabel 5. Kategori Peran Gender Jenis Peran Jumlah Kelamin Gender Siswa Maskulin Feminin Androgini Jumlah Persentase Tabel 5 menunjukkan bahwa siswa SMK Karya Rini YHI Kowani tahun ajaran 2019/2020 yang memiliki peran gender maskulin sebesar 45% yang terdiri dari 32 siswa laki-laki dan 29 siswa perempuan, peran gender feminin sebesar 35% yang terdiri dari 2 siswa laki-laki dan 45 siswa perempuan, serta peran gender androgini sebesar 20% yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Sehingga persentase peran gender tertinggi pada siswa SMK Karya Rini YHI Kowani adalah peran gender maskulin dengan persentase mencapai 45%. Sebaran kategorisasi peran gender maskulin pada siswa laki-laki dan perempuan tidak terpaut jauh, sedangkan pada kategori peran gender feminin dan androgini terdapat selisih yang cukup besar pada jumlah siswa laki-laki dan Salah satu gagasan yang dapat mendukung hasil penelitian tersebut adalah lakilaki feminin kerap kali mendapatkan stigma negatif ketimbang perempuan maskulin. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Pada budaya patriarki laki-laki memiliki peran sebagai kontrol utama di dalam masyarakat sehingga anggapan tersebut muncul dan laki-laki mengekspresikan peran gendernya. Laki-laki yang feminin dianggap lebih rendah karena hal tersebut merupakan sifat keperempuanan di mana dalam budaya patriarki kedudukan perempuan dianggap lebih rendah. Rokhmansyah . menyatakan bahwa pemberian label feminin pada laki-laki dapat menghilangkan penerimaan dan status sosial dalam kelompoknya. Selain itu, lakilaki feminin memiliki resiko lebih besar menjadi korban perundungan dan mengalami depresi dibanding laki-laki dan perempuan maskulin. Peran Gender dan. (Rizky Anisa Listyamurt. 366 (Roberts. Rosario. Slopen. Calzo, & Austin. Terlebih apabila laki-laki feminin memiliki orientasi homoseksual. Stigma negatif yang didapatkan akan berlipat ganda karena dianggap melanggar dua norma gender, yaitu seksualitas dan kepribadian . Lakilaki homoseksual yang feminin cenderung menjadi sasaran diskriminasi daripada laki-laki homoseksual yang maskulin. Terlepas dari orientasi seksualnya, laki-laki feminin cenderung menjadi korban kekerasan, lebih sering merasa kesepian, dan mengalami penderitaan yang lebih (Sandfort. Melendez & Diaz, 2. Beberapa teori tersebut cukup menjelaskan mengenai ketimpangan pada kategorisasi peran gender maskulin dan feminin pada siswa SMK Karya Rini YHI Kowani, bahwasannya peran gender maskulin dinilai lebih sehat untuk siswa laki-laki. Data perilaku asertif yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan kriteria kategorisasi yang telah ditentukan pada tabel 4. Berikut adalah data perilaku asertif pada siswa SMK Karya Rini YHI Kowani. Tabel 6. Kategori Perilaku Asertif. Tingkat Perilaku Jumlah Persentase Asertif Siswa Rendah Sedang Tinggi TOTAL Tabel 6 menunjukkan bahwa siswa SMK Karya Rini YHI Kowani yang memiliki perilaku asertif dengan kategori rendah sebanyak 27%, kategori sedang sebanyak 30%, kategori tinggi sebanyak 43%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMK Karya Rini YHI Kowani memiliki tingkat perilaku asertif tinggi dengan persentase mencapai 43%. Berdasarkan hasil perhitungan korelasi antara peran gender maskulin dengan perilaku asertif didapat hasil 0,517 dan signifikansi adalah 0,00, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara variabel peran gender maskulin dan variable perilaku asertif. Pada variable peran gender feminin dengan perilaku asertif didapatkan hasil -0,018 dan signifikansinya adalah 0,833. Hal ini berarti signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara variabel peran gender feminin dan variabel perilaku asertif. Pada variabel peran gender androgini dengan perilaku asertif didapat hasil 0,298 dan signifikansinya adalah 0,00, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara variabel peran gender andogini dengan variabel asertif. Analisis juga dilakukan pada perbedaan perilaku asertif siswa SMK Karya Rini YHI Kowani ditinjau dari peran gender maskulin, feminin dan androgini menggunakan analisis satu jalan atau One Way Anova. Pada analisis yang telah dilakukan diperoleh nilai F hitung sebesar 26,423 sedangkan nilai F tabel pada taraf signifikansi 0,05 dengan df1= 2 dan df2= 132 adalah 3,06. Melihat hasil tersebut, nilai F hitung . lebih besar dari F tabel . , sehingga ada perbedaan yang signifikan. Selanjutnya dilakukan uji lanjut Post-Hoc dengan metode Tukey dan didapatkan hasil bahwa perilaku asertif siswa yang memiliki peran gender maskulin memiliki perbedaan yang signifikan dengan siswa yang memiliki peran gender feminin, kemudian perilaku asertif pada siswa yang memiliki peran gender androgini juga memiliki perbedaan yang signifikan dengan peran gender feminin. Sedangkan perilaku asertif siswa yang memiliki peran gender maskulin dan peran gender androgini tidak ditemukan perbedaan yang Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang positif antara peran gender maskulin dengan perilaku asertif siswa SMK Karya Rini YHI Kowani. Hal ini berarti semakin tinggi skor peran gender maskulin pada siswa maka akan semakin tinggi pula tingkat perilaku Hasil penelitian selanjutnya pada peran gender feminin dengan perilaku asertif siswa SMK Karya Rini YHI Kowani menunjukkan hubungan yang negatif. Hal ini berarti semakin 367 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 tinggi skor peran gender feminin pada siswa maka akan semakin rendah tingkat perilaku Kemudian, pada peran gender androgini dengan perilaku asertif siswa SMK Karya Rini YHI Kowani menunjukkan hubungan yang Hal ini berarti semakin tinggi skor pada peran gender androgini maka semakin tinggi pula tigkat perilaku asertif. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa siswa laki-laki pada SMK Karya Rini YHI Kowani sebagian besar masuk pada kategori peran gender maskulin, yaitu sebanyak 32 siswa dari jumlah total 39 siswa laki-laki. Hal ini sesuai dengan pendapat Broverman . alam Haber dan Runyon, 1984: . yang menyatakan bahwa laki-laki yang memiliki peran gender maskulin akan memiliki sifat asertif yang lebih tinggi karena memang ia dituntut untuk asertif sebagai wujud sifat-sifat maskulin. Sementara pada perempuan yang menganut peran gender tradisional cenderung memiliki nilai tinggi pada dimensi sifat feminin dan memiliki nilai rendah pada dimensi sifat maskulin. Pendapat lain dikemukakan oleh Massong . 2: . yang menyatakan bahwa perbedaan gender merupakan faktor yang mempengaruhi sikap asertif. Lebih lanjut Massong menyatakan bahwa adanya tuntutan dan norma masyarakat menjadikan pria harus lebih mandiri, aktif, dorninan, rasional, percaya diri dan bersifat melindungi wanita, di sisi lain teori tersebut juga mendukung hasil penelitian ini di mana siswa perempuan sebagian besar masuk pada kategori feminin dan memiliki tingkat asertivitas yang cenderung rendah. Hasil sebanyak 45 siswa perempuan dari total 96 siswa perempuan SMK Karya Rini YHI Kowani masuk dalam kategori peran gender feminin. Lain halnya pada siswa yang masuk pada kategori androgini yang cenderung memiliki tingkat asertivitas yang Individu dengan peran gender androgini mempunyai nilai yang berimbang antara sifat positif dari kedua peran gender, yaitu maskulin dan feminin (Bern dalam Haber dan Runyon, 1984: . Lebih lanjut Bern menjelaskan bahwa Individu androgini baik laki-laki maupun perempuan dapat bersikap lebih fleksibel dan lebih mudah berdaptasi terhadap berbagai tuntutan situasi. Individu juga dapat menjadi lebih asertif ketika dibutuhkan dan juga mampu bersikap hangat dan ekspresif bila situasi Peran gender tidak lepas dari stereotip yang berkembang di masyarakat, laki-laki dicitrakan sebagai seseorang yang tangguh sedangkan perempuan dicitrakan sebagai pribadi yang lemah lembut. Namun seiring dengan perkembangan jaman, peran gender juga dapat Hal ini sesuai dengan pendapat Basow . alam Unesco, 2. yang menjelaskan bahwa peran gender bisa saja berbeda pada masyarakat satu dan masyarakat lainnya. Peran gender juga dapat berubah seiring perkembangan jaman, serta dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan karena hal tersebut ditentukan oleh lingkungan sosial dan budaya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Siswa SMK Karya Rini YHI Kowani terbagi dalam tiga kategori peran gender, yaitu maskulin, feminin dan androgini. Pada kategori peran gender maskulin memiliki persentase sebesar 45%, pada kategori peran gender feminin memiliki persentasesebesar 35%, serta pada peran gender androgini memiliki persentase sebesar Selanjutnya, siswa SMK Karya Rini YHI Kowani juga terbagi ke dalam tiga tingkatan asertivitas, yaitu siswa dengan perilaku asertif pada kategori rendah sebanyak 27%, siswa dengan perilaku asertif pada kategori sedang sebanyak 30% dan siswa dengan perilaku asertif pada kategori tinggi sebanyak 43%. Terdapat hubungan yang positif antara variable peran gender maskulin dan variable perilaku asertif, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi skor peran gender maskulin pada siswa maka akan semakin tinggi pula tingkat perilaku asertif. Selain itu, pada peran gender feminin terdapat hubungan yang negatif antara variabel peran gender feminine, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi skor peran gender feminin pada siswa maka akan semakin rendah tingkat perilaku asertif. Kemudian pada Peran Gender dan. (Rizky Anisa Listyamurt. 368 peran gender androgini terdapat hubungan yang positif antara variabel peran gender andogini dengan variabel asertif, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi skor pada peran gender androgini maka semakin tinggi pula tigkat perilaku asertif. Perilaku asertif siswa yang memiliki peran gender maskulin memiliki perbedaan yang signifikan dengan siswa yang memiliki peran gender feminin, kemudian perilaku asertif pada siswa yang memiliki peran gender androgini juga memiliki perbedaan yang signifikan dengan peran gender feminin. Sedangkan perilaku asertif siswa yang memiliki peran gender maskulin dan peran gender androgini tidak ditemukan perbedaan yang Saran Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan yang telah diuraikan sebelumnya, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai Bagi siswa yang memiliki tingkat asertivitas dalam kategori rendah untuk dapat mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri serta meningkatkan perilaku asertif dalam dirinya dengan cara berkonsultasi dengan guru bimbingan dan konseling. Bagi guru bimbingan dan konseling diharapkan untuk mampu mengoptimalkan perannya kembali dalam membimbing dan mengarahkan siswa untuk mengembangkan perilaku asertif. Bimbingan dan arahan tersebut dapat dilakukan melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling individual dan lain sebagainya. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih menggali kembali faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku asertif pada remaja, seperti: jenis kelamin, self esteem, kebudayaan, tingkat pendidikan, kepribadian dan situasi tertentu di lingkungan sekitar. DAFTAR PUSTAKA