S I P A R S TIKA Volume 05 Nomor 01, 2025 https://ojs-untikaluwuk. id/index. php/siparstika https://doi. org/10. 55114/siparstika. p-ISSN : 2809-0969 e-ISSN : 2809-0977 ANALISA KEBUTUHAN TRAFFIC LIGHT PADA SIMPANG TIGA TAK BERSINYAL DI KOTA LUWUK KABUPATEN BANGGAI PROVINSI SULAWESI TENGAH ANALYSIS OF THE NEED FOR TRAFFIC SIGNAL INSTALLATION AT AN UNSIGNALIZED T-INTERSECTION IN LUWUK CITY. BANGGAI REGENCY, CENTRAL SULAWESI Riduan R. Amin1. Sri Susilawati2*. Ispranoki Indaha1 Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Tompotika Luwuk email, ridwan31des65@gmail. com 1, sri. wati979@gmail. ispranokisipil19@gmail. 1,2,3 Abstrak Simpang jalan merupakan titik temu arus lalu lintas yang memiliki potensi konflik sehingga perlu ditangani untuk menjaga kelancaran dan keselamatan pengguna jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja arus lalu lintas pada simpang tiga tak bersinyal di Kota Luwuk Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah, serta menentukan penanganan yang sesuai terhadap permasalahan yang ada. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan survei volume lalu lintas, dan analisis dilakukan berdasarkan pedoman Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Lokasi penelitian mencakup simpang ruas Jalan Drs. Moh. Hatta Ae Jalan Tuna dan simpang ruas Jalan Tj. Branjangan Ae Jalan Ki Hajar Dewantoro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lokasi memiliki nilai Kapasitas (C) yang masih di bawah ketentuan MKJI 1997 yaitu 2700 smp/jam, dengan Derajat Kejenuhan (DS) < 0,85, dan nilai Tundaan berada pada tingkat pelayanan kategori B dan C sesuai MKJI 1997 dan PM No. 96 Tahun 2015. Dengan demikian, kinerja lalu lintas pada kedua simpang masih dalam kondisi baik dan belum memenuhi syarat untuk pemasangan traffic light. Namun, untuk mengantisipasi peningkatan volume lalu lintas ke depan, disarankan penanganan berupa rekayasa lalulintas guna menurunkan nilai derajat kejenuhan agar arus lalu lintas tetap lancar. Kata Kunci : Lalulintas. Simpang. Traffic Light. Abstract Road intersections are convergence points of traffic flow that carry a high potential for conflict and therefore must be managed to ensure smoothness and safety for road users. This study aims to evaluate the traffic flow performance at an unsignalized T-junction in Luwuk City. Banggai Regency. Central Sulawesi Province, and to determine the appropriate handling for existing issues. The research uses a quantitative descriptive method through traffic volume surveys, and the analysis is based on the guidelines of the Indonesian Highway Capacity Manual (MKJI) 1997. The study locations include the intersection of Drs. Moh. Hatta Street Ae Tuna Street and the intersection of Tj. Branjangan Street Ae Ki Hajar Dewantoro Street. The results show that both intersections have a capacity (C) value below the MKJI 1997 standard of 2700 pcu/hour, with a degree of saturation (DS) below 85, and delay values within service level categories B and C according to MKJI 1997 and Ministerial Regulation No. 96 of 2015. Therefore, the traffic performance at both intersections is still in good condition and does not yet meet the requirements for traffic light installation. However, to anticipate future increases in traffic volume, it is recommended to traffic engineering to reduce the degree of saturation and maintain smooth traffic Keywords:Traffic,Intersection,TrafficLight PENDAHULUAN Traffic light adalah lampu yang digunakan untuk mengatur kelancaran lalu lintas di suatu persimpangan jalan dengan cara memberi kesempatan pengguna jalan dari masingmasing arah untuk berjalan secara bergantian. Karena fungsinya yang begitu penting maka lampu lalu lintas harus dapat dikendalikan atau dikontrol semudah dan seefisien mungkin guna memperlancar arus lalu lintas di suatu persimpangan jalan. Seiring dengan perkembangan zaman yang juga disertai dengan perkembangan teknologi, jumlah kendaraan yang ada terus bertambah banyak sehingga lalu lintas di jalan juga semakin bertambah padat, akan tetapi hal tesebut tidak diikuti dengan perkembanagn infrastruktur yang ada. Perkembangan tersebut membawa dampak terhadap sistem lalu lintas yang ada yaitu dalam sistem pengaturan waktu penyalaan traffic light (Alfith, and Kartiria 2. Lampu pengatur lalu lintas atau kerap disebut Traffic light atau lampu merah, menjadi instrumen penting untuk mengurai kemacetan dan menertibkan lalu lintas pada persimpangan jalan. Menurut Undang Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), menerangkan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) merupakan isyarat lampu yang bisa dilengkapi dengan isyarat bunyi untuk mengendalikan arus lalu lintas yang terpasang di persimpangan jalan, tempat penyeberangan pejalan kaki dan arus lalu lintas lainnya. Pada pasal 93 ayat 1 menerapkan Alat Pemberi Isyarat Lalu lintas dilaksanakan untuk mengoptimalkan penggunaan jaringan Jalan dan gerakan Lalu Lintas dalam rangka menjamin Keamanan. Keselamatan. Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Di Kabupaten Banggai tepatnya di kota Luwuk selalu mengalami peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya, hal ini menyebabkan jumlah kendaraan pribadi atau kendaraan umum ikut meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk sehingga perlu dilakukan analisis kebutuhan alat Lalu Lintas atau Traffic light, guna meminimalisir terjadinya kemacetan dan kecelakaan Lalu Lintas pada lokasi penelitian tersebut. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan data konkrit, yaitu data penelitian berupa angka-angka yang dapat di ukur menggunakan statistic sebagai alat uji perhitungan, berkaitan dengan masalah yang diteliti untuk menghasilkan suatu kesimpulan (Sugiyono 2018 :. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di Kecamatan Luwuk Selatan dan Kecamatan Luwuk. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Teknik Pengumpulan Data Adapun jenis data yang digunakan merupakan bagian yang sangat terkait dalam penelitian ini. Adapun data Ae data dimaksud yaitu : Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari survey di lapangan dan data sekunder didapatkan di instansi Gambar 2. Dokumentasi lapangan Teknik Analisis Data Menentukan Jam Puncak Untuk menentukan jumlah rata-rata arus jam puncak dihitung dengan cara menjumlahkan hasil dari tiga hari penelitian yaitu. Jumlah arus kendaraan pada hari Kamis Sabtu Senin dan dibagi dengan sembilan total arus, maka dari hasil tersebut akan didapatkan hasil jumlah rata-rata arus kendaraan tertinggi. Analisis Simpang Tak Bersinyal Menurut MKJI 1997 Arus Lalu-lintas Arus jalan minor total QMI = Jalan minor LT RT = smp/jam Arus jalan utama total QMA = Pendekat Utara Pendekat Selatan = smp/jam Arus kendaraan tak bermotor QUM = Pendekat Barat Pendekat Utara Pendekat Selatan = kend/jam Arus kendaraan bermotor QMV = Pendekat Barat Pendekat Utara Pendekat Selatan = kend/jam Rasio antara arus kendaraan tak bermotor dengan kendaraan bermotor ycEycOycA PUM = ycEycAycO = kend/jam Menghitung arus jalan minor utama total untuk masing-masing gerakan (Belok kiri QLT, lurus QST dan Belok-kanan QRT) demikian juga QTOT secara . Arus belok kiri QLT = Pendekat Barat Pendekat Selatan . Arus Lurus QST = Pendekat Utara Pendekat Selatan . Arus belok kanan QRT = Pendekat Barat Pendekat Utara . Arus jalan minor utama total QTOT = Pendekat Barat Pendekat Utara Pendekat Selatan. Menghitung rasio arus jalan minor PMI yaitu jalan minor dibagi dengan arus ycEycAya PMI = ycEycNycCycN h. Menghitung Rasio arus belok kiri dan kanan total (PLT. PRT) ycEyaycN PLT = ycEycNycCycN ycEycOycA PRT = ycEycAycO . Lebar Pendekat dan Tipe Simpang Menentukan lebar pendekat dan tipe simpang . Lebar pendekat jalan minor Lebar pendekat jalan minor adalah W A = m. Lebar rata-rata pendekat minor adalah WAC m. Lebar pendekat jalan utama Lebar pendekat jalan utama adalah WB = m dan WC = m. Lebar rata- rata pendekat utama adalah WBC = m. Lebar pendekat rata-rata untuk jalan utama dan minor adalah W 1 = (Wutama Wmino. /2 = m. Tipe simpang untuk lengan simpang = 3, jumlah lajur pada pendekat jalan utama dan jalan minor masing-masing = 2, maka dari tabel 2. diperoleh IT = 322. Kapasitas Menentukan Kapasitas Kapasitas dasar (C. Variabel masukan adalah tipe IT = 322, dari Tabel 3. diperoleh kapasitas dasar Co = 2700 smp/jam Lebar pendekat rata-rata (F. Variabel masukan adalah lebar rata-rata semua pendekat W1 = m dan tipe simpang IT = 322. Batas nilai yang diberikan adalah grafik atau dapat digunakan rumus untuk klasifikasi IT yaitu : Fw = 0. 076 x W1 Faktor penyesuaian median jalan utama (FM) Didapat nilai median jalan utama adalah 1 karena jalan utama tidak ada median. Faktor penyesuaian ukuran kota Berdasarkan variabel jumlah penduduk Kota Luwuk tahun 2021-2024 yaitu A 88. jiwa di dapat nilai FCS = 0,82 dari tabel 10. Hambatan samping (FRSU) Berdasarkan pengamatan variabel kelas tipe lingkungan jalan RE. kelas hambatan samping (SF) adalah tinggi, akibat dari kendaraan bermotor dan rasio kendaraan tak bermotor (UM/MV) = Didapat nilai FRSU = , dihitung dengan menggunakan interpolasi linier pada tabel 11. Faktor penyesuaian belok kiri FLT = 0,84 1,61 x PLT Faktor penyesuaian belok kanan FRT = 1,09 Ae 0,922 x PRT Faktor penyesuaian rasio arus jalan minior (FMI) FMI = 1,19 x PMI2 Ae 1,19 x PMI 1,19 Kapasitas (C) C = Co x Fw x FM x FCS x FRSU x FLT x FRT x FMI Perilaku Lalu-Lintas Derajat Kejenuhan Arus lalulintas (Q) Arus lalulintas total QMV = Derajat kejenuhan (DS) ycEycAycO DS = ya Tundaan . Tundaan Lalu Lintas Simpang (DTI) DT = 2 8,2078-( 1- DS ) x 2 untuk DS < 0,6 DT = 1,0504 / ( 0,2742 - 0,2042 x DS) Ae . Ae DS) x 2 untuk DS > 0,6 . Tundaan Lalu Lintas Jalan Utama (DTMA) DT = 1,8 5,8234 x DS Ae . Ae DS) x 1,8 untuk DS < 0,6 DT = 1,05034 / . ,346 Ae 0,246 x DS) Ae . -DS) x 1,8 untuk DS > 0,6 . Tundaan Lalu Lintas Jalan Minor (DTMI) DTMI = ( QTOT x DTI - QMA x DTMA) / QMI Tundaan Geometrik Simpang (DG) Untuk DS < 1,0 : DG = . -DS) x (PT x 6 . -PT)x . DSx4 Untuk DS Ou 1,0 DG = 4 Tundaan Simpang (D) D = DG DTI HASIL DAN PEMBAHASAN Menentukan Jam Puncak Analisis Jam Puncak Tabel 1. Rekapitulasi Arus Maksimum Volume Arus Lalulintas Jam Puncak Lokasi 1 Lokasi 2 07:00-08:00 535,9 smp/jam 412,8 smp/jam 11:00-12:00 554,3 smp/jam 388,6 smp/jam 17:00-18:00 710,1 smp/jam 460,0 smp/jam (Sumber : Analisa dat. Tabel di atas menunjukan rekapitulasi rata-rata arus maksimum lalu lintas pada dua lokasi pengamatan selama tiga hari, yaitu hari Kamis. Sabtu, dan Senin. Data ditampilkan berdasarkan tiga periode waktu jam puncak, yaitu pagi . :00Ae08:. , siang . :00Ae12:. , dan sore . :00Ae18:. , dengan satuan smp/jam . atuan mobil penumpang per ja. Analisis Simpang Tak Bersinyal Menurut MKJI 1997 Pada analisis ini menggunakan rumus MKJI 1997 dan terdapat dua tabel yang harus diisi, yakni USIG-I dan USIG-II. Pada tabel USIG-I merupakan isian data volume yang diambil dari jam puncak pada masing-masing periode pengamatan, yakni pagi, siang, dan sore. Sedangkan untuk tabel USIG-II terdapat tiga tabel perhitungan. Untuk tabel yang pertama merupakan tabel lebar pendekat tipe simpang. Pada tabel ini akan diketahui lebar pendekat rata-rata. Kemudian untuk tabel kedua dari USIG-II adalah kapasitas. Dengan mendapatkan data faktor penyesuaian kapasitas (F), maka kapasitas dapat dihitung. Sedangkan untuk tabel ketiga adalah perilaku lalulintas. Pada tabel ini akan diperoleh nilai derajat kejenuhan, tundaan. Tabel USIG-I Pada tabel USIG-1 menyajikan perhitungan Arus Lalulintas Kota : Luwuk Provinsi : Sulawesi Tengah Hari : Senin, 21 Oktober 2024 Periode : 07:00-08:00 Pagi Nama Simpang : Jl. Drs Moh Hatta Ae Jl. Tuna Luwuk Selatan Tabel 2. Volume Lalu Lintas. Pendekat Tipe Kendaraan Barat Utara Selatan Sumber : Data Pengamatan Pada Tabel 2 di atas menunjukkan volume lalu lintas berdasarkan tipe kendaraan dan arah pendekatan pada hari Senin, periode jam 07:00Ae08:00 pagi. Data hasil survei ini mencakup tiga pendekatan yaitu Barat. Utara, dan Selatan, dengan arah pergerakan belok kiri (LT), lurus (ST), dan belok kanan (RT). Jenis kendaraan yang diamati meliputi kendaraan ringan (LV), kendaraan berat (HV), kendaraan bermotor (MC), dan kendaraan tak bermotor (UM). Volume kendaraan tertinggi berasal dari kendaraan bermotor (MC), khususnya dari pendekat Utara dengan arah lurus. Perhitungan Arus Lalulintas Contoh Perhitungan menggunakan jalan minor untuk kendaraan belok kiri (LT) . Arus Lalulintas LV Kend/jam = Kendaraan x Emp . mp=1,. = 6 x 1,0 = 6 smp/jam . Arus Lalulintas HV Kend/jam = Kendaraan x Emp . mp=1,. = 1 x 1,3 = 1,3 smp/jam . Arus Lalulintas MC Kend/jam = Kendaraan x Emp . mp=0,. = 109 x 0,5 = 54,5 smp/jam . Jumlah Kendaraan/Jam Kendaraan LV Kendaraan HV Kendaraan MC = 6 1 109 = 116 kend/jam . Jumlah Smp/Jam Arus Lalulintas LV Arus Lalulintas HV Arus Lalulintas MC = 6 1,3 54,5 = 61,8 Contoh perhitungan jalan Minor Arus Jalan Minor total QMI = Arus Lalulintas LT Arus Lalulintas RT = 61,8 132,4 = 194,2 smp/jam Contoh perhitungan jalan utama . Arus Jalan Utama total QMA = Arus Lalulintas Utama B Arus Lalulintas Utama D = 1. 002,9 646,1 = 1649,0 smp/jam Contoh Perhitungan Rasio Arus jalan Minor Rasio arus jalan minor ycEycAya PMI ycEycNycCycN = 0,11 smp/jam Contoh perhitungan Rasio belok jalan utama dan jalan minor Rasio belok Kiri ycEyaycN PLT ycEycNycCycN = 0,07 Rasio belok kanan ycEycIycN PRT ycEycNycCycN = 0,13 Contoh Perhitungan rasio antara arus tak bermotor dengan kendaraan bermotor ycEycOycA . PUM ycEycAycO = 0,02 kend/jam Tabel USIG-II Untuk tabel USIG-II menyajikan perhitungan Lebar pendekat dan tipe simpang, menentukan Kapasitas dan Perilaku Lalulintas. Lebar Pendekat dan Tipe Simpang Menentukan lebar pendekat dan tipe simpang . Lebar pendekat jalan minor Lebar pendekat jalan minor adalah W C = 2,50 m. Lebar rata-rata pendekat minor adalah WAC = 2,50 m. Jumlah lajur total kedua arah adalah 2. Lebar pendekat jalan utama Lebar pendekat jalan utama adalah W B = 4,25 m dan WD = 4,25 m. Lebar rata-rata pendekat utama adalah 4,25 m. Jumlah lajur total kedua arah adalah 2. Lebar pendekat rata-rata jalan utama dan minor adalah W1 = (Wminor Wutam. /2 = . ,50 4,. /2 = 3,38 m. Tipe simpang untuk lengan simpang = 3, jumlah lajur pada pendekat jalan utama dan minor masing-masing = 2. Maka dari tabel 2 diperoleh nilai IT = 322. Menentukan Kapasitas Kapasitas dasar (C. Variabel masukan adalah tipe IT = 322, dari Tabel 3 diperoleh kapasitas dasar Co = 2700 smp/jam. Faktor penyesuaian kapasitas Lebar pendekat rata-rata (FW) Variabel masukan adalah lebar rata-rata semua pendekat W1 = 3,38 m dan tipe simpang IT = 322. Batas nilai yang diberikan adalah grafik atau dapat digunakan rumus untuk klasifikasi IT yaitu : Untuk tipe simpang IT = 322 : = 0,73 0,076 x W1 = 0,73 0,076 x 3,38 = 0,99 Faktor penyesuaian median jalan utama (FM) Didapat nilai median jalan utama adalah 1,0 karna jalan utama tidak ada median, dilihat pada tabel 9. Berdasarkan variabel jumlah penduduk Kota Luwuk tahun 2021-2024 yaitu A 88. jiwa di dapat nilai FCS = 0,82 dari tabel 10. Hambatan samping (FRSU) Berdasarkan pengamatan variabel kelas tipe lingkungan Jalan RE. Pertigaan Drs Moh Hatta Ae Jalan Tuna adalah komersial , kelas hambatan samping (SF) adalah tinggi, akibat dari kendaraan bermotor dan rasio kendaraan tak bermotor (UM/MV) = 0,01 Didapat nilai FRSU = 0,93 dihitung dengan menggunakan interpolasi linier pada tabel 11. Faktor penyesuaian belok kiri Variabel masukan adalah rasio belok kiri PLT = 0,07 Batas nilai yang diberikan adalah pada gambar 8 Digunakan rumus : FLT = 0,84 1,61 x PLT = 0,84 1,61 x 0,07 = 0,95 Faktor penyesuaian belok kanan Variabel masukan adalah rasio arus belok kanan PRT = 0,13 Batas nilai yang diberikan untuk PRT adalah gambar 9. Digunakan rumus : FRT = 1,09 Ae 0,922 x PRT = 1,09 Ae 0,922 x 0,13 = 0,97 Faktor penyesuaian rasio arus jalan minor (FMI) Variabel masukan adalah rasio arus jalan minor PMI = 0,11 Batas nilai yang diberikan untuk FMI adalah gambar 10. Digunakan rumus : FMI = 1,19 x PMI2 Ae 1,19 x PMI 1,19 = 1,19 x 0,112 Ae 1,19 x 0,11 1,19 = 1,073 Kapasitas (C) Kapasitas, dihitung dengan menggunakan rumus berikut, dimana berbagai faktornya telah dihitung di atas: = Co x Fw x FM x FCS x FRSU x FLT x FRT x FMI = 2700 x 0,99 x 1 x 0,82 x 0,93 x 0,95 x 0,97 x 1,073 = 2016 smp/jam . Perilaku Lalulintas Derajat Kejenuhan (DS) Arus lalulintas (Q) Arus lalulintas total QMV = 1843 smp/jam Setelah diperoleh nilai kapasitasnya C = 2016 smp/jam, maka dihitung Derajat Kejenuhannya dengan rumus : ycEycAycO DS = ya = 0,91 Tundaan Lalulintas . Tundaan lalulintas simpang (DTI) Variabel masukan adalah derajat kejenuhan DS = 1,15. DT I ditentukan dari kurva empiris antara DT1 dan DS pada gambar 11. Karena nilai DS > 0,6 maka rumus yang digunakan sesuai kententuan MKJI 1997 adalah sebagai berikut : 1,0504 DTI = - . Ae DS) x 2 . ,2742 Ae 0,2042 x DS) DTI = 1,0504 . ,2742 Ae 0,2042 x 0,. - . Ae 0,. x 2 = 11,80 det/smp . Tundaan lalulintas utama DTMA Variabel masukan adalah derajat kejenuhan DS = 0,91. Dilihat pada gambar 12. DTMA ditentukan dengan rumus ketentuan MKJI 1997 antara DT MA dan DS : Untuk DS > 0,6 : 1,05034 DTMA = - . Ae DS) x 1,8 . ,346 Ae 0,246 x DS) DTMA = 1,05034 . ,346 Ae 0,246 x 0,. - . Ae 0,. x 1,8 = 8,44 det/smp . Tundaan lalulintas jalan minor DTMI Variabel masukan adalah arus lalulintas total Q MV = 1843 smp/jam, tundaan lalulintas simpang DTI = 11,71 , arus lalulintas jalan utama QMA = 1649 smp/jam tundaan lalulintas jalan utama DT MA = 8,44 , arus jalan minor QMI =194,2 smp/jam. DTMI = (QTOT x DTI - QMA x DTMA) QMI DTMI = 3 x 11,71 - 1649 x 8,. = 39,46 det/smp . Tundaan geometrik simpang (DG) Untuk DS > 1 : DG = 4. Untuk DS < 1 digunakan rumus sebagai berikut : DG = . -DS) x (PT x 6 . Ae PT) x . DS x 4 = . Ae 0,. ,20 x 6 . Ae 0,. 0,91 x 4 = 4 det/smp DG = Tundaan Geometrik Simpang PT = Rasio Belok Total DS = Derajat Kejenuhan . Tundaan simpang (D) Tundaan simpang dihitung sebagai berikut : D = DG DTI = 4 11,71 = 15,80 det/smp < 30 det/smp (Atura. MKJI 1997 Evaluasi Kinerja Simpang Tak Bersinyal Dari analisis data yang telah dilakukan, didapatkan hasil untuk perhitungan kinerja simpang tak bersinyal. Dimana kinerja simpang tak bersinyal meliputi Kapasitas (C). Derajat Kejenuhan (DS) dan Tundaan (D). Dalam evaluasi kinerja simpang tak bersinyal ini bertujuan untuk mengetahui apakah besarnya nilai Kapasitas (C). Derajat kejenuhan (DS) dan nilai Tundaan (D) memenuhi syarat yang telah ditentukan atau tidak pada kondisi eksisting. Untuk simpang tiga nilai Kapasitas dasar standart yang digunakan MKJI 1997 adalah 2700 smp/jam. Derajat Kejenuhan standart yang digunakan berdasarkan MKJI 1997 adalah 0,85. Sedangkan untuk nilai Tundaan tidak melebihi 30 detik berdasarkan MKJI 1997 dan ketentuan dari Peraturan Menteri Perhubungan PM 96 Evaluasi Kinerja Simpang Tak Bersinyal di Lokasi Penelitian Pertama Ruas Jalan Drs Moh Hatta Ae Tuna Tabel 3. Kapasitas,Arus Lalulintas,Derajat Kejenuhan,Tundaan dan Tingkat Pelayanan Kapasitas smp/jam Arus smp/jam Derajat Kejenuhan Tundaan det/kend Tingkat Pelayanan Pagi . Kamis Siang . Sore . Pagi . Sabtu Siang . Sore . Pagi . Senin Siang . Sore . 0,79 0,81 0,88 0,48 0,75 0,91 0,91 0,88 1,15 12,89 13,27 Total Rata-rata () 0,84 Hari Jam Puncak 14,87 8,90 12,13 15,80 15,80 14,87 30,98 15,50 (Sumber : Analisa Dat. Dari hasil analisa pada tabel diatas didapatkan nilai rata-rata Kapasitas (C) 2104 smp/jam, dengan total Arus Lalulintas 1775 smp/jam. Derajat Kejenuhan (DS) 0,84 dan Tundaan (D) 15,50 det/kend. Evaluasi Kinerja Simpang Tak Bersinyal di Lokasi Penelitian Kedua Ruas Jalan Tj Branjangan Ae Ki Hajar Dewantoro Tabel 4. Kapasitas,Arus Lalulintas,Derajat Kejenuhan,Tundaan dan Tingkat Pelayanan Hari Jam Puncak Pagi . Kamis Siang . Sore . Pagi . Sabtu Siang . Sore . Pagi . Senin Siang . Sore . Total Rata-rata () Kapasitas smp/jam Arus smp/jam Derajat Kejenuhan Tundaan det/kend Tingkat Pelayanan 0,72 0,73 0,99 0,68 0,71 0,73 0,86 1,08 0,94 0,83 11,70 11,83 18,56 11,14 11,62 11,78 14,37 23,73 16,65 14,60 (Sumber : Analisa Dat. Dari hasil analisa pada tabel diatas didapatkan nilai rata-rata Kapasitas (C) 1487 smp/jam, dengan total Arus Lalulintas 1212 smp/jam. Derajat Kejenuhan (DS) 0,83 dan Tundaan (D) 14,60 det/kend. KESIMPULAN Kinerja Arus Lalu Lintas pada Simpang Tiga Tak Bersinyal di lokasi Pertama Jalan Dr. Moh. Hatta Ae Jalan Tuna, berdasarkan hasil analisis, menunjukkan nilai Kapasitas (C) sebesar 2104 smp/jam. Volume Arus Lalu Lintas 1775 smp/jam. Derajat Kejenuhan (DS) 0,84, dan Tundaan rata-rata 15,50 detik/kendaraan. Yang mana nilai Kapasitas (C) masih berada di bawah batas maksimal MKJI 1997 yaitu 2700 smp/jam, dan Derajat Kejenuhan (DS) juga masih di bawah 0,85 sesuai ketentuan MKJI 1997, yang menandakan arus lalu lintas masih stabil dan belum jenuh. Sementara itu. Tundaan (D) rata-rata termasuk dalam Tingkat Pelayanan C, berdasarkan MKJI 1997 dan Permenhub No. 96 Tahun 2015, yang menggambarkan arus lalu lintas stabil dengan sedikit pembatasan kecepatan. Kinerja Arus Lalu Lintas pada Simpang Tiga Tak Bersinyal di lokasi Kedua Jalan Tj. Branjangan Ae Jalan Ki Hajar Dewantoro, berdasarkan hasil analisis, menunjukkan nilai Kapasitas (C) sebesar 1487 smp/jam. Volume Arus Lalu Lintas 1212 smp/jam. Derajat Kejenuhan (DS) 0,83, dan Tundaan rata-rata 14,60 detik/kendaraan. Yang mana nilai Kapasitas (C) masih berada di bawah batas maksimal MKJI 1997 yaitu 2700 smp/jam, dan Derajat Kejenuhan (DS) juga masih di bawah 0,85 sesuai ketentuan MKJI 1997, yang menandakan lalu lintas masih stabil dan belum jenuh. Sementara itu. Tundaan (D) ratarata termasuk dalam Tingkat Pelayanan B, berdasarkan MKJI 1997 dan Permenhub No. Tahun 2015, yang menggambarkan arus lalu lintas stabil dengan kebebasan yang cukup memilih kecepatan. Dengan demikian, kinerja arus lalu lintas pada kedua lokasi tersebut masih dalam kondisi Dari hasil Analisa kebutuhan Traffic Light pada simpang tiga tak bersinyal, didapatkan hasil untuk lokasi penelitian pertama dan kedua belum mencapai standart ketentuan pemasangan alat pemberi isyarat lalulintas (APPIL). Untuk penanganan yang ada dikedua simpang tersebut, perlu dilakukan pelebaran jalan untuk mengurangi nilai Derajat Kejenuhan (DS), karna dilihat dari hasil perhitungan untuk nilai Derajat Kejenuhan (DS) di lokasi pertama 0,84 dan lokasi kedua 0,83 sudah hampir mendekati batas ketentuan dari MKJI 1997 yaitu (DS) 0,85. Maka dari itu perlu dilakukan pelebaran jalan untuk mengurangi nilai derajat kejenuhannya agar memperlancar lagi arus lalulintas dengan DAFTAR PUSTAKA