Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 ANALISIS SEHATLAH RAGAKU BUKU SISWA KELAS IV SD BERBASIS KELAYAKAN BUKU BSNP Anggita Dwi Nugraheni1. Panca Dewi Purwati2. Nadia Firda Nur Zuriana3. Salsa Latiefun Nisa5. Maulidia Zahratul Khasanah5. Dwi Tantika6 1,2,3,4,5,6 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Email: anggitadnn@students. ABSTRAK: Buku siswa berperan penting dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar, sehingga menilai kelayakan isi dari buku agar sesuai dengan standar isi dan proses pembelajaran berjalan dengan optimal itu sangat Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan isi buku, menganalisis bahasa, menganalisis penyajian, dan kegrafikaan buku bab 8 Sehatlah Ragaku buku siswa Bahasa Indonesia kelas IV berdasarkan standar kelayakan buku dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis isi. Teknik analisis data menggunakan analisis secara induktif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil dari analisis ini, buku ajar dikategorikan layak dari segi isi, tetapi kurang tepat dari segi bahasa, pada segi penyajian tidak lengkap, dan pada segi kegrafikaan dibagian huruf dan ukuran buku sudah sesuai. Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa buku Bahasa Indonesia kelas IV bab 8 Sehatlah Ragaku dinyatakan layak dengan catatan, terdapat kekurangan pada aspek isi, bahasa, penyajian, maupun kegrafikaan yang perlu diperbaiki untuk mendukung proses pembelajaran berjalan KATA KUNCI: Analisis Sehatlah Ragaku. BSNP. Kelas IV. Kelayakan Buku. ABSTRACT: Student books play an important role in the learning process in Elementary Schools, so assessing the suitability of the contents of the book to comply with the content standards and the learning process runs optimally is very important. This study aims to analyze the suitability of the contents of the book, analyze the language, analyze the presentation, and graphics of the book chapter 8 Sehatlah Ragaku, a student book for Indonesian language for grade IV based on the book suitability standards from the National Education Standards Agency (BSNP). The method used in this study is a qualitative approach with a content analysis research type. The data analysis technique uses inductive analysis, namely data collection, data reduction, data presentation, and The results of this analysis, the textbook is categorized as feasible in terms of content, but less precise in terms of language, incomplete in terms of presentation, and in terms of graphics in the font and size of the book are appropriate. So the researcher concludes that the Indonesian language book for grade IV chapter 8 Sehatlah Ragaku is declared feasible with the note that there are shortcomings in the aspects of content, language, presentation, and graphics that need to be improved to support the learning process to run optimally. KEYWORDS: Analysis of "Sehatlah Ragaku". BSNP. Class IV. Book Eligibility. Diterima: 23-Mei-2025 Direvisi: 25-Mei-2025 Disetujui: 01-Juni-2025 Dipublikasi: 01-Agustus-2025 Pustaka : Kutipan menggunakan APA : Baker. Judul Artikel. frasa : Jurnal bahasa, sastra dan pengajarannya 16. , 1-10. igunakan untuk memudahkan penulis lain mengutip artikel in. DOI PENDAHULUAN Penelitian ini di latar belakangi oleh Buku siswa pada jenjang sekolah dasar yang seharusnya dapat menjadi acuan saat melakukan proses pembelajaran dimana kesesuaian dilihat dari standar isi, bahasa, penyajian dan kegrafikaan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh (BSNP). Namun, pada prakteknya masih banyak ditemukan kekeliruan dalam buku siswa khususnya buku siswa SD kelas IV Kurikulum Merdeka terbitan tahun 2021 bab 8 Sehatlah Ragaku hal tersebut ditunjukan seperti tidak sesuainya penggunaan tanda baca, penyajian tampilan yang masih sulit dipahami serta ilustrasi yang kurang sesuai dengan teks. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi proses pembelajaran pada siswa SD sehingga hasil yang didapatkan kurang maksimal. Oleh karena itu, analisis terhadap buku siswa menjadi hal penting untuk mengatahui apakah buku siswa SD bab 8 Sehatlah Ragaku tersebut sudah layak digunakan atau masih perlu adanya perbaikan demi mendukung implementasi kurikulum merdeka secara optimal pada jenjang SD. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 Penelitian tentang kelayakan buku menurut BSNP ini memang sudah banyak dilakukan seperti yang dilakukan oleh (Ernawati. , 2. yang meniliti buku teks tematik terpadu kelas IV SD Kurikulum 2013 yang ditemukanya kesalahan menurut BSNP pada buku teks tersebut. Kesalahan yang di temukan mencakup empat aspek dari BSNP kecuali pada bagian isi pada buku tersebut telah sesuai dengan kurikulum 2013 hanya saja harus meningkatkan relevansi. Namun, pada bagian bahasa terdapat kalimat atau beberapa istilah yang kurang bisa dipahami siswa, penyajian pada buku tersebut telah disusun dengan baik namun masih terdapat ilustrasi yang kurang mendukung atau tidak sesuai dengan teks, dan di bagian kegrafikaan teks dan warna sudah konsisten namun pada tata letak masih kurang ruang kosong sehingga setiap halaman terlihat penuh dan melelahkan untuk dibaca siswa sehingga siswa kurang tertarik untuk Penelitian selanjutnya dilakukan (Rohmaningsih et al. , 2. yang meneliti tentang kelayakan buku kelas V SD Kurikulum Merdeka pada materi listrik statis dan listrik. Pada penelitian ini juga banyak ditemukan kesalahan menurut BSNP yang kesalahanya hampir sama dengan penelitian-penelitian yang sudah pernah ada dan pada penelitian ini bertujuan untuk meng evaluasi Kurikulum Merdeka. Adanya keberlanjutan penilitian-peneltian ini menunjukan bahwa analisis kelayakan buku menurut BSNP sangatlah penting untuk dilakukan. Oleh karena itu penelitian kelayakan buku kelas IV SD bab 8 Sehatlah Ragaku sangat relevan dilakukan mengingat pentingnya keberlanjutan penelitian. Penelitian ini juga dapat menjadi celah dari penelitian yang sudah ada mengapa masih ada kesalahan dalam pembuatan buku khususnya pada aspek menurut BSNP, faktor apa saja yang dapat mempengaruhi adanya kesalahan pada penulisan buku teks pembelajaran khususnya untuk anak SD dan bagaimana solusinya. Berdasarkan permasalahan yang ada tentu penelitian ini menarik untuk dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada. Dengan demikian penilitian ini memiliki urgensi yaitu penelitian yang sudah ada masih jarang yang meneliti kelayakan buku menurut BSNP dengan mengaitkan sebab atas terjadinya kesalahan yang terjadi pada proses penulisan buku siswa pada jenjang SD. Dengan ditemukanya penyebab kesalahan penulisan diharapkan untuk penulis buku siswa selanjutnya lebih ber hati-hati agar kesalahan tidak ter ulang kembali dan buku sudah sesuai dengan standar kelayakan buku menurut BSNP. Adapun tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan isi buku, menganalisis bahasa, menganalisis penyajian, dan kegrafikaan buku bab 8 Sehatlah Ragaku buku siswa Bahasa Indonesia kelas IV berdasarkan standar kelayakan buku dari BSNP. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dengan desain penelitian studi pustaka dan pengumpulan data yang bertujuan untuk menganalisis kelayakan buku melalui observasi langsung menelaah buku siswa AuBahasa Indonesia SD Kelas IV pada bab Sehatlah RagakuAy berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Metode penelitian ini sesuai dengan pendapat menurut Danim . alam Fiantika. et al. , 2. terdapat lima langkah dalam penelitian kualitatif yaitu menentukan masalah yang menjadi titik fokus penelitian, melakukan pengumpulan data, menganalisis informasi yang diperoleh, menyimpulkan hasil penelitian, dan menyusun saran untuk pengambilan keputusan. Subjek dalam penelitian ini adalah buku siswa Bahasa Indonesia SD Kelas IV bab Sehatlah Ragaku dan objek dari penelitian ini adalah kelayakan dari buku siswa Bahasa Indonesia SD Kelas IV bab Sehatlah Ragaku sesuai BSNP. Sumber data primer yang ada dalam penelitian ini yaitu buku siswa Bahasa Indonesia SD Kelas IV bab Sehatlah Ragaku, sedangkan data sekunder yakni hasil dari analisis kelayakan isi buku berdasarkan BSNP, jurnal atau publikasi ilmiah. Data Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 ini didapat dari sumber asli, yakni responden atau informan yang berhubungan dengan variabel yang diteliti. Penelitian ini menggunakan instrumen teknik pengumpulan data berupa tabel hasil evaluasi kelayakan isi buku menurut BSNP dan observasi digunakan untuk mengamati secara langsung penggunaan buku siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Teknik analisis data ini sesuai dengan model Miles dan Huberman . alam Wicaksana. et al. , 2024, . bahwa reduksi data adalah proses menyaring dan merangkum data, hanya mengambil bagian yang penting agar lebih fokus. Setelah itu, data yang sudah diringkas disajikan dalam bentuk yang mudah dipahami, seperti tabel, bagan, atau penjelasan singkat. Terakhir, peneliti menarik kesimpulan awal dari data tersebut. Dalam penelitian ini kebahasaan yang digunakan adalah triangulasi data, sumber dan diskusi dengan teman sekelompok serta menggunakan teknik pembacaan ulang. Adapun yang dimaksud triangulasi pada hakikatnya adalah sebuah strategi yang melibatkan berbagai metode yang dilakukan oleh seorang peneliti saat ia mengumpulkan dan menganalisis data. Prinsip yang mendasari adalah bahwa fenomena yang sedang diteliti maupun yang telah diteliti dapat diinterpretasikan dan dimengerti dengan lebih baik, sehingga menghasilkan suatu kebenaran dengan level yang lebih tinggi ketika diteliti dari beragam perspektif (Nurfajriani. Ilhami, . Mahendra. Sirodj. , & Afgani. , 2024, . HASIL DAN PEMBAHASAN Kelayakan Isi Kelayakan isi merupakan proses menilai buku yang didasarkan oleh kesesuaian isi dengan capaian pembelajaran serta keaktualan materi yang disajikan. Kesesuaian isi menunjukkan sejauh mana materi dalam buku telah mencakup apa yang ditetapkan dalam capaian pembelajaran. Isi buku bab Sehatlah Ragaku ini dikategorikan sesuai (S). Materi dalam bab ini telah disesuaikan dengan capaian pembelajaran pada standar isi kurikulum. Materi yang disajikan mencakup semua materi yang tercantum dalam capaian pembelajaran khususnya fase B. Adapun tujuan pembelajaran pada bab Sehatlah Ragaku ini mencakup siswa diharapkan dapat. menyebutkan permasalahan yang dialami tokoh di dalam cerita. menilai kesesuaian antara ilustrasi dengan isi teks, . membedakan informasi fakta dan opini. menulis denngan struktur awal-tengahakhir menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar (Nukman. , & Setyowati, , 2021, . Tercapainya tujuan pembelajaran didukung melalui kegiatan seperti membaca pada halaman 182. 197, menulis pada halaman 186. 200, menyimak pada halaman 187, diskusi pada halaman 190. 196, meniru dan melakukan pada halaman 199 tercantum dalam buku ini sebagai penyesuaian dengan Keputusan Kepala BSKAP Nomor 032/H/KR 2024. Menurut keputusan tersebut, capaian pembelajaran Bahasa Indonesia fase B meliputi menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan, serta menulis. Melalui kegiatan tersebut diharapkan peserta didik mampu memahami, menganalisis, serta menerapkannya. Sehingga bab Sehatlah Ragaku ini dikategorikan sesuai. Selain kesesuaian isi, aspek keaktualan materi merupakan bagian penting dalam penilaian buku berdasarkan BSNP. Sejauh mana relevansi isi buku dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta keadaan sosial budaya terkini menjadi hal diperhatikan untuk penilaian ini. Keaktualan materi dalam bab Sehatlah Ragaku ini dikategorikan aktual (A). Materimateri yang disajikan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran serta peristiwa yang digunakan merupakan peristiwa terkini. Pemilihan contoh materi berkaitan erat dengan capaian pembelajaran (Puspita & Rohmatin, 2. Adanya peristiwa menjenguk orang sakit . alaman Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 , kondisi teman alergi . alaman 183-. , serta kejadian salah sepatu . merupakan peristiwa yang sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat. Dalam hal ini, bab Sehatlah Ragaku memiliki kegiatan kreavititas dengan penugasan berupa project based learning (PjBL) yaitu membuat bagan pengingat minum . alaman 192-. , membaca bersama . alaman 182-. , serta diskusi kelompok . Kegiatan tersebut merupakan bukti bahwa materi dalam bab Sehatlah Ragaku ini telah disesuaikan dengan Kurikulum. Melalui kegiatan tersebut siswa akan termotivasi untuk berpikir kritis, bergotong royong, mandiri serta kreatif. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada aspek kelayakan isi Sehatlah Ragaku ini dikategorikan layak. Kelayakan ini tercermin melalui pemilihan kegiatan pembelajaran, aktivitas yang dicantumkan, serta relevansi isi materi. Kelayakan Bahasa Kelayakan Bahasa merupakan aspek penilaian buku pelajaran menurut standar BSNP dengan fokus pada ketepatan penggunaan ejaan serta kelugasan Bahasa yang digunakan. Adapun aspek penilaian lainnya yang didasarkan pada teori linguistik meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, wacana, serta semantik. Pada aspek ketepatan penggunaan ejaan dan tanda baca dalam Sehatlah Ragaku termasuk kategori kurang tepat (KT). Ditemukan beberapa kesalahan penggunaan tanda baca seperti tanda titik dua (:) pada halaman 181. 204, tanda petik pada halaman 185, tanda titik (. pada halaman 187. 190, tanda elipsis (A) pada halaman 197. 204, serta kesalahan huruf kapital pada halaman 197. Berbantuan dengan EYD V bahwa tanda titik dua (:) dapat digunakan sesudah kata atau Sedangkan pada Sehatlah Ragaku setelah digunakan tanda titik dua (:) diikuti dengan Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian penggunaan tanda baca. Tanda petik digunakan untuk mengapit kalimat petikan langsung dari pembicaraan sesuai dengan EYD V. Namun dalam Sehatlah Ragaku tanda petik yang digunakan kurang tepat karena pada akhir kalimat hanya digunakan satu tanda petik (A. sedangkan menurut EYD V seharusnya digunakan dua tanda petik (A. Pada dasarnya tanda titik (. ) digunakan untuk mengakhiri kalimat penyataan. Namun apabila kalimat pertanyaan tersebut sebagai identitas tabel maka sesuai dengan EYD V bahwa tanda titik (. ) tidak perlu digunakan. Sehingga pada halaman 187 seharusnya tidak digunakan tanda titik (. ) pada identitas tabel serta pada akhir frasa di halaman 190 seharusnya tidak diperlukan tanda titik (. ) karena bukan sebuah kalimat. Tanda elipsis (A) ditandai dengan titik sebanyak tiga. Menurut EYD V penggunaan tanda ini dapat digunakan untuk menulis ujaran dialog yang tidak selesai, menandai jeda panjang dalam tuturan yang ditulis, serta apabila digunakan di akhir kalimat maka diikuti dengan tanda baca akhir kalimat. Dalam pada Sehatlah Ragaku ditemukan penggunaan tanda elipsis (A) yang kurang sesuai. Adanya tanda elipsis dalam cerita narasi sebagai tanda jeda panjang dalam tuturan. Namun, narasi tersebut dituliskan dengan titik sebanyak empat (A. padahal tanda tersebut terletak di tengah kalimat. Hal ini tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan EYD V. Tanda elipsis juga digunakan pada akhir kalimat untuk menulis ujaran dialog yang tidak selesai dalam narasi. Namun, tanda elipsis dituliskan berupa titik sebanyak tiga (A) padahal apabila di akhir kalimat seharusnya tanda ellipsis diikuti tanda baca akhir kalimat yaitu titik sehingga seharusnya dituliskan dengan tanda titik sebanyak empat (A. Sesuai dengan EYD V bahwa tanda ellipsis hanya berupa titik sebanyak tiga maka penggunaan tanda titik yang tidak diketahui jumlahnya pada halaman 203-204 tersebut sebaiknya diganti Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 dengan tanda garis panjang. Huruf kapital dapat digunakan sebagai huruf pertama pada awal kalimat. Sedangkan temuan berbanding terbalik dengan hal tersebut. Terdapat sebuah kata AuADUH!Ay dalam cerita narasi halaman 197 dituliskan dengan huruf kapital semua. Hal ini tidak sesuai dengan EYD Oleh karena itu, aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam Sehatlah Ragaku termasuk kategori kurang tepat (KT). Kesalahan ejaan, meskipun tidak terjadi pada seluruh isi namun dapat berdampak pada pemahaman siswa terhadap struktur Bahasa yang benar. Selain itu, kesalahan tersebut berdampak menurunnya nilai edukatif buku. Sementara dari aspek kelugasan. Sehatlah Ragaku memiliki kategori kurang lugas (KL). Secara umum. Bahasa yang digunakan cenderung komunikatif namun masih ditemukan kalimat yang ambigu dan kurang jelas maknanya. Contohnya terdapat kata AubisaAy dalam sebuah kalimat yang dimana makna dari kata tersebut dapat menimbulkan miskonsepsi siswa. Kata AubisaAy memiliki makna AudapatAy dan/atau AuracunAy sehingga apabila kata tersebut digunakan maka miskonsepsi mungkin terjadi. Bahasa yang kurang lugas berpotensi menyebabkan kesalahpahaman pada siswa, terutama pada jenjang sekolah dasar yang sangat membutuhkan penjelasan yang konkret dan sederhana. Sebab kelugasan berperan penting dalam mengembangkan keterampilan memahami teks pada siswa SD. Fonologi merupakan salah satu ilmu linguistik yang membahas sistem bunyi. Istilah fonologi berasal dari kata Bahasa Yunani yaitu phone berarti bunyi dan logos berarti ilmu. Fonologi sendiri merupakan kajian linguistic yang paling bawah atau paling dasar (Yasmemi, , 2. Sebab objek kajiannya ialah bunyi-bunyi Bahasa sebagai hasil akhir dari rangkaian proses segmentasi terhadap suatu ujaran. Objek kajian fonologi terbagi menjadi dua yaitu fonetik dan fonemik (Purwati, 2. Fonetik mengkaji cara bunyi Bahasa dibentuk oleh alat ucap, disampaikan, serta diterima oleh pendengar. Sementara fonemik mengkaji bunyi Bahasa sebagai pembeda makna (Ardiansyah. Narliyani. Rahmawati. , & Tasbihah. , 2. Dalam konteks pembelajaran disekolah dasar, pemahaman terhadap aspek fonolagi sanagt penting untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa dimana guru perlu merancang kegiatan belajar yang dapat mengintegrasikan aspek fonologi tersebut misalnya dengan permainan tebak kata,sambung kata,atau membuat lagu agar lebih mudah dimengerti siswa khususnya pada siswa SD. Kemudian secara fonetik dalam Sehatlah Ragaku tidak ditemukan kekeliruan, pemenggalan silabel yang digunakan telah sesuai contohnya pada kata AuswasuntingAy menjadi AuswaAesuntingAy. Dari segi fonemik juga tidak ditemukan kekeliruan. Alofon telah digunakan dengan tepat, apabila kata dasar berawalan huruf k/t/s/p maka mengalami perubahan karena mendapat imbuhan meN-. Morfologi merupakan ilmu Bahasa yang mempelajari struktur kata termasuk pembentukan dan perubahan kata menurut Ramlan (Budiman. , 2. Pada bagian morfologi peran guru juga sangat penting, khususnya dalam meningkatkan kemampuan membaca pada siswa dengan kreativitas dan memanfaatkan berbagai media yang ada dalam pembelajaran (Faizin. , & Mambrasar. , 2. Selain itu eksperimen dan ide guru juga dapat membantu menghidupkan suasana di kelas,hal tersebut akan membuat siswa terlihat senang dalam pembelajaran pembelajaran sehingga pembelajaran akan lebih optimalDari segi morfologi bentuk kata dasar, kata jadian, serta frasa yang digunakan telah sesuai dengan Meskipun masih terdapat kekeliruan dalam penggunaan huruf kapital namun secara keseluruhan, bentuk kata yang disajikan benar berdasarkan morfologinya. Ketepatan pada morfologi dapat membantu memudahkan siswa dalam memahami kata-kata baru sehingga Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 tercipta komunikasi yang lebih efektif, pembelajaran morfologi pada siswa SD juga dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis dan membaca siswa. Istilah sintaksis berasal dari Bahasa Yunani yaitu sun dan tattein dengan arti mengatur bersama-sama. Sintaksis merupakan bagian ilmu linguistik yang mempejalari struktur kalimat dengan mengkaji pembentukan frasa, klausa, dan kalimat serta hubungan antarunsurnya (Situmeang et al. , 2. Penilaian dari aspek ini dapat dilihat dari frasa, klausa, serta kalimat yang digunakan. Frasa yang digunakan berupa frasa nominal, frasa verbal, frasa adjectiva, serta frasa preposisi telah ditulis dengan struktur yang benar sehingga kalimat yang terbentuk mudah dipahami siswa. Dari klausa telah digunakan klausa bebas, klausa terikat, klausa nominal, klausa verbal, serta klausa keterangan yang penulisannya telah disesuaikan dengan stukturnya. Penggunaan struktur frasa dan klausa yang sesuai ini mendorong siswa untuk mudah memahami kalimat serta meningkatkan nilai edukatif buku. Sebaliknya dalam buku ini ditemukan beberapa kesalahan sintaksis seperti penggunaan konjungsi yang tidak tepat, pilihan kata yang tidak baku contonya habis itu, serta kalimat Dalam kalimat elips digunakan tanda elipsis (A) yang jumlahnya tidak sesuai. Ketidaksesuaian ini sering dianggap sepele namun kenyataannya dapat menyebabkan perbedaan cara membaca sehingga pemahaman yang dihasilkan berbeda. Kesalahan sintaksis dapat menggangu pemahaman struktur kalimat siswa. Kesalahan dalam penataan struktur subjek-predikat-objek dapat merusak kesatuan makna dan gramatikalitas kalimat dalam komunikasi (Tarmini. , & Sulistyawati. Secara etimologis, istilah wacana memiliki asal dari bahasa Sanskerta, yakni wac/wak/vak yang berarti berbicara atau mengungkapkan sesuatu. Menurut Mulyana . alam Setiawan. , 2. dalam konteks linguistik, istilah wacana dipakai sebagai padanan dari kata discourse dalam bahasa Inggris, yang berarti merujuk pada pergerakan bolak-balik atau berpindah tempat. Sedangkan menurut Silaswati, analisis wacana merupakan pendekatan yang mendalam untuk memahami struktur dan makna di balik bahasa yang digunakan dalam berbagai konteks . alam Rahman. , & Markhamah. , 2. Dalam lingkup pendidikan, analisis wacana juga memiliki peran terutama dalam mengevaluasi materi ajar, buku, hingga praktik komunikasi guru dan siswa. Jadi Wacana ini terdiri dari beberapa kalimat, dan setiap kalimat saling berhubungan satu sama lain. Hubungan ini terlihat dari pengulangan kata yang mana bukan hanya sekadar mengulang, melainkan digunakan untuk mengaitkan informasi dari kalimat pertama dengan kalimat-kalimat yang menyusul. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari (Yadafle. Putra. Yuliandri. , & Hafid. , 2. bahwa susunan perkataan atau gaya bahasa terjadi karena perasaan dalam hati pengarang yang dengan sengaja atau tidak menimbulkan suatu perasaan yang tertentu dalam hati pembacanya. Dengan cara ini, rangkaian kalimat itu menjadi satu kesatuan yang koheren dan harmonis. Berdasarkan analisis pada bab Sehatlah Ragaku terdapat kesalahan pada kata ganti yang kurang konsisten yaitu pada kata ganti Dia seharusnya tetap menggunakan kata ganti Dia dari awal sampai akhir teks. Selain itu, juga terdapat kesalahan pada halaman 199 yang mana tidak ada kesimpulan pada teks 2 dan berakhir menggantung yang seharusnya dibagian akhir menegaskan ulang terkait informasi utama dan manfaat dari metode RICE. Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang berarti tanda atau lambang. Bentuk verbal dari semantik adalah semaino yang berarti menandai atau melambangkan (NurPadillah. , 2. Dalam konteks kebahasaan, semantik mengkaji bagaimana makna kata, frasa, klausa, dan kalimat dibentuk dan difahami oleh penulis dan siswa. Kesalahan Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 semantik ini berhubungan dengan makna kata. Berdasarkan analisis di bab Sehatlah Ragaku terdapat beberapa kesalahan yang berkaitan dengan penggunaan makna kata yang kurang Salah satu kesalahan yang ditemukan adalah penggunaan kata yang mengalami redundasi, yakni pengulangan makna. Contohnya pada kalimat AuMinum air putih dalam jumlah yang cukup bisa membantu mengganti cairan tubuh yang hilang tersebutAy, terdapat pengulangan makna karena frasa Auyang hilang tersebutAy sudah terwakili oleh konteks sebelumnya, sehingga tidak perlu diulang. Redundasi seperti ini tidak hanya membuat kalimat menjadi tidak efektif, tetapi juga membingungkan siswa yang sedang tahap awal memahami struktur bahasa dan makna, sedangkan penyebab dari terjadinya kesalahan-kesalahan penulisan pada aspek kebahasaan disebabkan oleh kurangnya keterlibatan ahli bahasa dan substansi yang ahli dalam proses penulisan serta uji kelayakan buku secara mendalam sebelum buku diterbitkan. Berdasarkan analisis aspek kebahasaan terhadap bab Sehatlah Ragaku, dapat disimpulkan bahwa masih mengandung berbagai kesalahan kebahasaan, terutama pada aspek ejaan, kelugasan, sintaksis, wacana, dan semantik. Kesalahan ini berdampak pada pemahaman siswa, sehingga diperlukan perbaikan dengan melibatkan ahli bahasa untuk meningkatkan kualitas buku. Kelayakan Penyajian Kelayakan penyajian merupakan salah satu aspek penting dalam penilaian buku pelajaran menurut standar yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Aspek ini menekankan bagaimana isi atau materi buku disusun dan disajikan agar dapat dipahami dengan mudah oleh siswa, serta mampu mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif. Penyajian yang baik harus memperhatikan pendekatan pembelajaran aktif, urutan materi yang runtut, penggunaan ilustrasi yang mendukung, serta ketersediaan soal evaluasi untuk mengukur pemahaman peserta didik. Menurut standar BSNP, kelayakan penyajian ini didasarkan oleh aspek pembangkit motivasi belajar siswa dan ada tidaknya soal latihan pada setiap akhir bab. Pembangkit motivasi belajar menurut standar BSNP ini menilai sejauh mana penyajian materi mampu menarik perhatian dan minat belajar siswa serta mendorong keaktifan siswa dalam pembelajaran. Motivasi belajar sangat berperan penting dalam menentukan efektifitas pembelajaran karena siswa yang termotivasi cenderung akan lebih aktif, tekun, dan mampu memahami materi pembelajaran dengan lebih mendalam. Penyajian materi bisa menstimulus rasa ingin tahu, menumbuhkan rasa semangat untuk menyelesaikan tugas, serta menantang siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Pada aspek pembangkit motivasi belajar siswa di bab Sehatlah Ragaku dikategorikan menarik (M). Hal ini didukung oleh adanya berbagai elemen penyajian yang mampu merangsang minat belajar siswa, seperti ilustrasi pendukung pada setiap teks, penyampaian materi melalui cerita kontekstual, serta kegiatan proyek yang bersifat kreatif. Penggunaan ilustrasi dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dapat membantu menciptakan emosional dan kognitif antara materi pelajaran dan pengalaman nyata siswa. Cerita kontekstual dan visualisasi yang digunakan membantu siswa membangun hubungan antara pengetahuan dan pengalaman mereka, serta menciptakan pembelajaran yang efektif. Selain aspek pembangkit motivasi belajar siswa, keberadaan soal latihan pada setiap Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 akhir bab juga sangat penting. Pada akhir pembelajaran bisa dilakukan evaluasi. Proses evaluasi dilakukan melalui berbagai teknik, baik tes maupun non-tes (Sari. , & Musringudin, 2. Berdasarkan hasil analisis di bab Sehatlah Ragaku keberadaan soal latihan pada setiap akhir bab tergolong tidak lengkap (TL). Hal ini menunjukkan bahwa dalam buku tersebut tidak terdapat soal latihan secara konsisten di akhir setiap bab. Padahal, latihan soal merupakan elemen penting dalam buku ajar, karena berfungsi sebagai alat evaluasi diri bagi siswa sekaligus sarana umpan balik bagi guru dalam menilai pemahaman siswa terhadap Ketidakhadiran soal latihan ini menjadi kelemahan dalam penyajian karena dapat mengurangi kesempatan bagi siswa untuk melakukan refleksi, penguatan, dan evaluasi terhadap pemahaman materi yang telah dipelajari. Dengan demikian, penyajian bab Sehatlah Ragaku memiliki kekuatan dalam membangkitkan motivasi belajar siswa melalui pendekatan kontekstual. Namun, kelemahan pada aspek evaluasi perlu diperbaiki agar buku ini dapat secara utuh mendukung kecapaian tujuan pembelajaran. Keberhasilan penyajian buku ajar seharusnya tidak hanya menciptakan ketertarikan, tetapi juga menyediakan sarana refleksi dan penguatan konsep yang mendalam. Penyesuaian pada aspek evaluasi ini sangat penting agar kelayakan penyajian buku ini sesuai secara menyeluruh dengan standar yang ditetapkan oleh BSNP,sedangkan kesalahan penulisan pada aspek penyajian ini dikarenakan kurangnya ketelitian sehingga terjadi kesalahan pada editing dan tata letaknya. Oleh karena itu sangat di anjurkan seseorang yang ingin melakukan penulisan sebuah karya harus memiliki fokus yang tinggi atau kondisi tubuh yang vit guna mengurangi resiku kurangnya kefokusan dalam penulisan. Kelayakan Kegrafikaan Kelayakan kegrafikaan merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam penilaian buku pelajaran menurut standar yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kelayakan kegrafikaan ini berfokus pada sejauh mana tampilan visual buku mendukung keterbacaan, kenyamanan, dan daya tarik bagi siswa. Menurut standar BSNP, aspek kegrafikaan meliputi ukuran buku, jenis, dan format huruf, penggunaan ilustrasi, tata letak, dan estetika keseluruhan yang mendukung proses pembelajaran. Semua unsur tersebut harus saling mendukung agar buku tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan dan mudah difahami oleh siswa, terutama pada jenjang sekolah dasar. Berdasarkan hasil analisis pada bab Sehatlah Ragaku, aspek ukuran buku, jenis, dan format huruf yang digunakan dinilai tepat (T). Ukuran buku yang digunakan adalah standar buku pelajaran, yaitu sekitar 29,7 cm dengan jumlah halaman sebanyak 238 halaman. Ukuran ini dianggap ideal karena memberikan ruang yang cukup untuk menampilkan teks, ilustrsi, serta aktivitas siswa tanpa membuat halaman tampak terlalu padat dan melelahkan untuk Format huruf yang digunakan adalah Andika New Basic (SIL Internationa. dengan ukuran 10/14 pt. Jenis huruf ini dirancang khusus untuk meningkatkan keterbacaan, terutama pada tingkat pendidikan dasar, sehingga sangat cocok untuk digunakan dalam buku pelajaran. Karakter hurufnya yang sederhana, jelas, dan tidak memiliki ornamen atau lekukan yang berlebihan sehingga mudah dikenali oleh anak-anak. Kesesuaian ukuran dan jenis huruf ini menunjukkan bahwa aspek keterbacaan diperhatikan dengan baik. Selain itu, aspek penggunaan ilustrasi pada bab Sehatlah Ragaku dikategorikan kurang sesuai (KS). Ilustrasi yang digunakan dalam buku ini sesuai dengan konteks materi teks, serta menggunakan warna-warna yang cerah sehingga menarik perhatian siswa. Tapi terdapat Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Agustus 2025 ISSN: 2721-1533 ilustrasi yang kurang proporsional di halaman 195 yang mana ilustrasi terlalu kecil sehingga teks yang terdapat di ilustrasi tersebut menjadi sulit untuk dibaca. Ilustrasi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap visual, tetapi juga untuk mendukung pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Kelayakan kegrafikan buku pelajaran dapat dilihat dari . tata letak unsur grafika estetis, dinamis, dan menarik serta menggunakan ilustrasi yang memperjelas pemahaman materi buku, . tipografi yang digunakan mempunyai tingkat keterbatasan yang tinggi dan . ilustrasi dan tata letak mempermudah pemahaman (Marsela, . Kusriyah. Danil. Gadink. , & Mukhlis. , 2. Hal ini sejalan dengan prinsip BSNP bahwa ilustrasi harus bersifat edukatif, relevan, dan memperkuat materi yang Ilustrasi yang menarik dapat meningkatkan minat baca siswa, serta menjadikan proses pembelajaran lebih menyenangkan sehingga tingkat ke fokusan pada siswa dapat meningkat karena suasana hati yang mendukung. Warna yang cerah juga berkontribusi dalam membangun suasana belajar yang positif misal jika warna buku monoton hitam dan putih dapat mempengaruhi suasana hati siswa yang cenderung kurang positif atau bahkan aura Dalam aspek kegrafikaan buku menurut BSNP, tata letak mencakup pengaturan elemenelemen grafis secara proporsional agar mendukung keterbacaan dan kenyamanan bagi siswa. Berdasarkan analisis ditemukan beberapa kesalahan dalam aspek tata letak dan estetika pada bab 8 Sehatlah Ragaku. Salah satu kesalahannya terletak pada halaman 181 dan 190 yang mana penulisan sub bab dan isi paragraf tidak rata kanan kiri. Selain itu pada halaman 184 terdapat spasi yang terlalu panjang. Spasi yang terlalu panjang membuat halaman tampak tidak rapi. Pada halaman 188 juga terdapat kesalahan yang sama yaitu penulisan teks tidak rata kanan kiri sehingga teks terlihat kurang rapi. Kemudian pada halaman 189 terdapat kesalahan pada teks 2, yang mana bagian awal paragraf tidak menjorok kedalam sedangkan teks yang lainnya menjorok kedalam. Hal ini menunjukkan bahwa di bab Sehatlah Ragaku masih kurang konsisten. Aspek kegrafikaan buku meliputi ukuran buku, tata letak, tipografi, dan ilustrasi sampul serta isi (Putri. , et al. , 2. Dengan memperhatikan seluruh aspek, kelayakan kegrafikaan bukan hanya soal tampilan bagus tetapi juga menyangkut fungsi visual dalam menunjang efektivitas pembelajaran. Karena buku pelajaran yang baik tidak hanya menyampaikan materi secara verbal, tetapi juga memberikan dukungan visual yang kuat melalui desain grafis yang terstruktur. Penilaian kelayakan grafis bertujuan untuk memberikan desain yag menarik dengan tata letak dan penataan yang rapi untuk memudahkan kegiatan belajar para siswa. Kesesuaian grafis buku harus mencerminkan isi yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan optimal dan mencapai capaian pembelajaran yang telah di tentukan khususnya untuk siswa kelas IV SD dalam menggunakan buku siswa di bab 8 Sehatlah Ragaku tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan hasil telaah terhadap kelayakan isi bab Sehatlah Ragaku dalam buku Bahasa Indonesia kelas IV SD dinyatakan layak (L) karena telah memenuhi kesesuaian dengan capaian pembelajaran khususnya fase B. Materi yang disampaikan relevan dan aktual, serta mencerminkan kompetensi menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Dalam hal ini , bab Sehatlah Ragaku memiliki kegiatan kreativitas dengan penugasan berupa project based learning (PjBL). Kelayakan isi bab Sehatlah Ragaku ini tercermin melalui pemilihan kegiatan pembelajaran, aktivitas yang dicantumkan, serta relevansi isi materi. Dari aspek kelayakan bahasa, bab Sehatlah Ragaku tergolong kurang layak karena masih ditemukan beberapa kesalahan dalam penggunaan ejaan, tanda baca, dan struktur kalimat. Ketidaktepatan dalam penulisan tanda baca seperti titik dua, elipsis, tanda kutip, serta penggunaan huruf kapital yang tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dapat mengganggu pemahaman siswa. Selain itu penggunaan kata yang kurang lugas berpotensi menimbukan ambiguitas seperti kata bisa, menunjukkan perlunya perbaikan agar teks lebih sesuai dengan tingkat perkembangan siswa SD. Dalam aspek penyajian pada bab Sehatlah Ragaku tergolong cukup baik karena telah berhasil membangkitkan motivasi belajar siswa melalui ilustrasi yang menarik, konteks cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan penggunaan pendekatan pembelajaran aktif. Namun masih ditemukan kelemahan yaitu tidak konsistennya keberadaan soal latihan pada akhir setiap bab. Padahal, soal latihan itu penting sebagai evaluasi dan penguatan pemahaman siswa. Tanpa adanya soal latihan, peluang siswa untuk melakukan refleksi menjadi terbatas. Dari segi kelayakan kegrafikaan, bab Sehatlah Ragaku dinilai cukup layak dengan pemilihan jenis huruf dan ukuran buku yang sesuai untuk jenjang sekolah dasar. Ilustrasi yang digunakan cenderung menarik dan menggunakan warna-warna yang cerah, namun ditemukan beberapa kekurangan seperti ilustrasi yang terlalu kecil, penempatan teks yang tidak rata kanan kiri, spasi yang terlalu panjang, serta ketidakkonsistenan penjorokan pada paragraf awal. Kekurangan dalam tata letak ini mengurangi kerapian tampilan dan bisa mengganggu kenyamanan dalam membaca, sehingga aspek kelayakan kegrafikaan perlu diperbaiki agar lebih optimal dalam mendukung proses belajar siswa. Dengan demikian, buku ini dikategorikan layak digunakan namun masih membutuhkan revisi, sehingga jika dilakukan perbaikan seperti yang disarankan dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas buku. DAFTAR PUSTAKA