Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 KEPEMIMPINAN YESUS SEBAGAI ROLE MODEL BAGI KEPEMIMPINAN PENGURUS RUKUN SANTO MICHAEL DI PAROKI SANTO JOSEP PASSO KEUSKUPAN AMBOINA Willem Ngoranubun1 Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik Santo Yohanes Penginjil Ambon willi_ngoran@yahoo. Ruben Fasak2 Seminari Tinggi Santo Fransiskus Xaverius Ambon bennyfasak3@gmail. Abstrak Tulisan ini menaruh fokus pada pengaruh kepemimpinan Yesus dalam kehidupan para pengurus rukun di Paroki St. Josep Passo Keuskupan Amboina, khususnya di Rukun St. Michael. Berdasarkan pengamatan, para pengurus rukun belum sepenuhnya mengimplementasikan model kepemimpinan yang bersumber dari teladan Yesus sebagai Gembala yang Baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan terhadap sumber buku, jurnal, teks kitab suci, serta penelitian lapangan. Tujuan utama penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan dan memaparkan kepemimpinan Yesus sebagai teladan peran bagi pengurus rukun St. Michael dalam menjalankan tugas dan kewajiban mereka. Kesimpulannya, terdapat tiga model kepemimpinan Yesus yang relevan bagi pengurus rukun. Pertama. Yesus sebagai Pemimpin yang memperkenalkan domba-domba-Nya dan diikuti oleh Kedua. Yesus sebagai teladan, dalam mana hubungan antara gembala dan kawanan domba melampaui batas suku dan budaya, mencakup seluruh umat manusia. Ketiga. Yesus sebagai Gembala yang Baik, yang rela menyerahkan nyawanya demi menyelamatkan dombadomba-Nya. Kata kunci: Kepemimpinan. Yesus. Gembala. Baik. Teladan. Pengurus. Rukun. PENDAHULUAN Kehidupan manusia saat ini mengenal adanya kepemimpinan ataupun pemimpin. Kepemimpinan dan pemimpin adalah istilah yang memiliki hubungan erat dengan Kepemimpinan adalah cara atau pendekatan para pemimpin melaksanakan tugas panggilan masing-masing. Sedangkan, pemimpin adalah orang yang memimpin sebagai penuntun dan teladan bagi orang lain. Pemimpin sebagai intisari dari manajemen dan sentral seluruh aktivitas dari setiap institusi. Dalam kenyataannya, pemimpin cenderung ditempatkan menjadi faktor utama keberhasilan dan kesuksesan sebuah lembaga. Sebab itu, apabila suatu komunitas, gereja atau perkumpulan, berhasil dan sukses, maka yang mendapat pujian adalah para pemimpin. Sebaliknya jika mengalami kegagalan baik secara kuantitas maupun kualitas, maka para pemimpin menjadi faktor utama ketidakberhasilan itu. Dapatlah dikatakan bahwa di tangan pemimpin terletak kunci maju tidaknya atau berhasil gagalnya sebuah institusi. Dengan demikian, tidak heran jika para pemimpin yang berhasil atau sukses sering dijuluki sebagai Dosen pada Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik Santo Yohanes Penginjil Ambon Mahasiswa Calon Imam Pasca Sarjana (Mayo. pada Seminari Tinggi Santo Fransiskus Xaverius Ambon Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 penyelamat dan disanjung bagaikan dewa. Pemimpin seperti ini cenderung angkuh dengan menunjukkan cara kekuasaan dilayani ketimbang menjadi pelayan 3. Jauh sebelum adanya kepemimpinan pemerintah dunia seperti sekarang ini, sudah ada gaya kepemimpinan lebih awal yang jauh lebih sempurna. Gaya kepemimpinan itu ditampilkan oleh seseorang yang bukan berasal dari dunia ini. Kendati tidak berasal dari dunia. Ia tampil sebagai pemimpin bagi manusia yang dipilih-Nya. Dengan model kepemimpinan-Nya. Ia hadir dan tinggal serta merasakan dan mengalami langsung kehidupan Pemimpin itu ialah Yesus. Putera Allah yang diutus oleh Bapa. Model kepemimpinan yang dibawa oleh Yesus adalah menjadi gembala yang baik. Menjadi gembala yang baik berarti Yesus mau untuk menampilkan diri sebagai pemimpin yang baik bagi domba-dombanya. Ia harus tampil sebagai gembala yang berbau Menjadi gembala berbau domba berarti sungguh-sungguh mengenal setiap domba dan menuntun mereka untuk berjalan seirama dengan-Nya agar tidak ada yang binasa melainkan memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Tidak hanya itu, sebagai gembala yang baik Yesus menyatu dengan domba-dombanya, menjadi pintu bagi mereka, dan juga bahkan menggembalakan domba-domba lain yang bukan berasal dari kandangnya sendiri. Bahkan lebih dari pada itu. Yesus mengurbankan dirinya sebagai gembala yang baik bagi domba-dombanya. Gaya kepemimpinan inilah yang jarang ditemukan dan dimiliki pada pemimpin dalam Gereja, secara khusus pemimpin-pemimpin di tingkat umat rukun. Sebab model kepemimpinan yang ditampilkan pemimpin umat rukun saat ini masih terbatas pada hal lahiriah saja, hanya mengandalkan kekuatan untuk mempengaruhi dan memerintah yang Dalam wilayah paroki St. Josep Passo, para pemimpin rukun secara fisik telah menampilkan diri untuk menjadi pemimpin dan memimpin seluruh anggota rukun secara Namun dalam kenyataannya, ditemukan bahwa peran pengurus rukun belum mampu untuk merangkul dan menuntun setiap anggota untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan Gereja. Ada anggota rukun yang karena masalah perkawinan tidak tuntas, lantas keluarga tersebut tidak ikut dan terlibat secara aktif dalam kegiatan rukun dan gereja. Ada juga ditemukan bahwa ketika umat rukun yang bertugas sebagai petugas liturgi . oor, lektorpemazmu. hanya anak-anak dan kaum ibu yang terlibat sedangkan kaum bapak belum terlibat secara aktif. Inilah yang menjadi sorotan masalah sehingga perlu diberikan model kepemimpinan Yesus sebagai gembala yang baik dan penerapannya bagi para pengurus rukun dalam wilayah paroki Passo. Topik mengenai model kepemimpinan Yesus sudah pernah ditulis oleh beberapa peneliti sebelumnya dan telah dipublikasi. Beberapa diantaranya yakni. Yesus Sebagai Teladan Untuk Menjadi Gembala yang Baik Berdasarkan Perspektif Injil Yohanes 10:11-16. Tulisan ini digarap oleh Sekundus Septo Pigang Ton4. Dalam tulisannya ini ia menemukan bahwa Hal ini menjelaskan bahwa ada gaya kepemimpinan penggembalaan yang belum memahami kebutuhan umatnya. Umat sering kali mengalami krisis iman karena gembalanya memerintah dengan keangkuhan dan egoisme. Tema yang sama dibahas juga Yakob Tomatala. Kepemimpinan Yang Dinamis, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2. , hal. Sekundus Septo Pigang Ton. Yesus Sebagai Teladan Untuk Menjadi Gembala yang Baik Berdasarkan Perspektif Injil Yohanes 10:11-16. Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol. No. Desember 2023, hlm 192-291. Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 oleh Ibelala Gea dengan judul penelitian Kepemimpinan Yesus Teladan Pemimpin Dunia 5. Hasil penelitiannya menyimpulkan mengutamakan kemampuan lahiriah, seperti kompetensi/skill sumber daya manusia, strategi marketing komunikasi yakni planning, organizing, directing, coordinating dan Kepemimpinan duniawi bisa saja sukses secara lahiriah, tetapi damai sejahtera Allah cenderung tidak ditemukan di dalamnya. Dalam artikel ini diusulkan agar dunia mengadopsi dan meneladani kepemimpinan Yesus Kristus yang berdasar pada kasih agape, berkarakter hati hamba, bertindak sebagai gembala, menuruti kehendak Bapa di surga dan berkomitmen untuk hidup jujur dengan menjaga integritas diri. Selain dua peneliti yang dijelaskan di atas, ada juga penelitian oleh Jonar Situmorang dengan judul tulisannya Kajian Biblika tentang Yesus Sebagai Pintu dan Gembala menurut Yohanes 10:1-18. 6 Hasil penelitiannya menemukan bahwa maksud dari pengakuan Yesus sebagai pintu adalah pintu menuju keselamatan. Hanya satu jalan menuju surga yang kekal untuk memperoleh hidup kekal, yaitu melalui satu pintu di dalam di dalam nama Yesus Kristus. Tidak ada kompromi terhadap pengakuan Yesus ini. Masih dalam tema yang sama. Sabda Budiman dkk7 dalam penelitiannya terhadap gaya kepemimpinan Yesus menurut Injil Yohanes menampilkan bahwa Yesus merupakan Pribadi yang sempurna untuk dijadikan teladan, termasuk dalam teladan kepemimpinan. Alasan Yesus dijadikan sebagai teladan kepemimpinan karena Ia memiliki tiga model kepemimpinan di dalam Injil Yohanes yakni, model kepemimpinan Yesus sebagai Pemimpin domba-domba. Yesus sebagai Pemimpin yang melayani, dan Yesus memuridkan dan mengutus. Dari tiga model kepemimpinan Yesus dalam Injil Yohanes ini dapat ditarik implementasinya bagi model kepemimpinan gereja lokal secara khusus bagi pengurus rukun di wilayah paroki St. Josep Passo, yaitu mengutamakan integritas diri dan memimpin secara holistik. Berdasarkan ulasan di atas, maka yang menjadi permasalahan utama dalam karya tulis ini yakni bagaimana menampilkan Yesus sebagai role model bagi kepemimpinan para pemimpin rukun Santo Micahel di Paroki Santo Yoseph Passo. Masalah ini diambil oleh peneliti dengan alasan utamanya ialah para peneliti sebelumnya . udah dijabarkan di ata. belum menunjukkan atau menampilkan bagaimana kepemimpinan Yesus sebagai role model bagi para pengurus rukun sehingga ini menjadi satu titik kebaruan yang menjadi yang ingin Di sini peneliti akan menganalisis model kepemimpinan Yesus sebagai Gembala yang Baik dan kemudian menerapkannya bagi kepemimpinan pengurus rukun Santo Michael di lingkungan Paroki Santo Yoseph Passo. METODE PENELITIAN Dalam menyusun tulisan ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Di sini, penulis akan mengumpulkan dan menyajikan sumber-sumber yang melalui studi kepustakaan atas buku-buku, jurnal dan artikel yang sangat mendukung dan berkaitan dengan tema yang dibahas dalam karya tulis ini. Selain itu, penulisan karya tulis ini juga bersifat eksegesis yaitu menafsirkan teks kitab suci secara khusus (Yoh 10:1-. yang menjadi tema utama dalam Ibelala Gea. Kepemimpinan Yesus Teladan Pemimpin Dunia. Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah dan Musik Agama. Vol. No. 2, hlm 28-41 Jonar Situmorang. Kajian Biblika tentang Yesus Sebagai Pintu dan Gembala menurut Yohanes 10:1-18. VISIO DEI: Jurnal Teologi Kristen Vol. 1 No. 2 Des 2019, 259-276. Sabda Budiman. Yelicia. Krido Siswanto. Model Kepemimpinan Yesus Dalam Injil Yohanes Sebagai Teladan Bagi Kepemimpinan Kristen di Gereja Lokal. Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Volume 2. No. Juni 2021, hlm 28-42. Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 karya ini. Untuk menyempurnakan tulisan ini, penulis juga melakukan penelitian lapangan di rukun St. Michael Paroki St. Josep Passo Kuskupan Amboina. HASIL DAN PEMBAHASAN Kepemimpinan Kepemimpinan adalah proses di mana seseorang memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan dan mengarahkan organisasi dengan cara yang membuatnya lebih kohesif dan koheren. Pemimpin melakukan proses ini dengan menerapkan atribut kepemimpinannya, seperti keyakinan, nilai, etika, karakter, pengetahuan, dan keterampilan. Pemimpin yang efektif tidak hanya mampu menginspirasi namun juga mampu mengorkestrasi suatu organisasi dalam pencapaian visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan 8. Dasar dari kepemimpinan yang baik adalah karakter terhormat dan pelayanan tanpa pamrih kepada organisasi. Pemimpin yang dihormati berkonsentrasi pada apa adanya . eperti keyakinan dan karakte. , apa yang mereka ketahui . eperti pekerjaan, tugas, dan sifat manusi. , dan apa yang mereka lakukan . eperti menerapkan, memotivasi, dan memberikan araha. Dari segi manajemen, yang menjadi fungsi kepemimpinan sebuah organisasi adalah: Memberi motivasi, fungsi dari manajemen kepemimpinan yang baik adalah mampu memberikan motivasi besar bagi karyawannya. Seorang pemimpin harus bisa memberikan pengayoman sehingga pengikutnya merasa nyaman. Membangun hubungan baik, seorang manajer memiliki tugas untuk mengatur organisasi dengan baik, termasuk memastikan bahwa semua staf dan karyawan mampu bekerja secara selaras. Manajer juga harus mampu membuat pegawainya merasa nyaman saat bekerja. Menetapkan tujuan, organisasi ada karena adanya tujuan, guna mencapai tujuan dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menetapkan tujuan secara jelas dan terukur. Sebagai pemimpin sekaligus manajer, tentu harus menyampaikan tujuan organisasi kepada bawahan. Sifat-sifat Gaya Kepemimpinan Dalam buku Manajemen Kepemimpinan dalam Dunia Bisnis dan Digital. Nur Cahyadi dkk menyebutkan bahwa kepemimpinan terbagi menjadi dua yakni 10. Gaya dengan orientasi tugas . ask oriente. , manajer mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya. Gaya dengan orientasi karyawan . mployee-oriente. , manajer mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. Selain dua model gaya kepemimpinan di atas, gaya kepemimpinan dapat berbeda-beda tergantung dari sifat atau sifat pemimpinnya. Karakteristik ini mempengaruhi cara pemimpin berinteraksi dengan kelompok atau organisasi yang dipimpinnya. Berikut beberapa ciri umum gaya kepemimpinan11: Visioner serta memiliki ketegasan yaitu pemimpin yang mempunyai visi yang jelas serta dapat mengkomunikasikannya dengan jelas sanggup menginspirasi serta memotivasi anggota regu guna meraih tujuan bersama. Integritas ialah mutu kepemimpinan yang bernilai. Pemimpin yang jujur, etis, serta bisa dipercaya membangun keyakinan pada anggota regu serta organisasi. Kepemimpinan empatik menyertakan penjelasan serta Suhardi dkk. Manajemen Kepemimpinan Pendidikan Kontemporer, (Jakarta: PT Publica Indonesia Utama, 2. , hlm 2 Ibid, hlm 7 Nur Cahyadi dkk. Manajemen Kepemimpinan dalam Dunia Bisnis dan Digital (Batam: Yayasan Cendikia Mulia Mandiri, 2. hlm 60 Yeremia Niaga Atlantika. Eligia Monixa Salfarini dan Sabinus Beni. Manajemen Kepemimpinan, (Pulung Panorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2. hlm 5-6 Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 kepedulian terhadap perasaan, kebutuhan, serta perspektif anggota regu. Pemimpin yang berempati cenderung lebih baik dalam menuntaskan konflik serta memotivasi orang lain. Dikatakan bahwa salah satu tanda keberhasilan seorang pemimpin adalah ia dapat menjalankan fungsi kepemimpinannya secara efektif dan efisien. Prinsip efisiensi menurut Drucker . alam Rees, 2. adalah doing the right thing, yaitu mencapai tujuan yang telah Efisiensi adalah melakukan hal yang benar sebagai konsep input-output, yaitu kemampuan sebagai konsep input-output, yaitu kemampuan meminimalkan penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam perkembangannya terdapat beberapa sifat efektif dan efisien yang dimunculkan oleh seorang pemimpin, meliputi: Pemimpin tersebut akan lebih aktif, energik, dan dinamis dalam menyikapi kondisi yang sedang Pemimpin akan memiliki sikap kewaspadaan tinggi, berintegritas tinggi, percaya diri tinggi, etika organisasi yang baik, dan tidak menghindar dari tantangan persaingan yang sedang dihadapi. Pemimpin akan lebih bersifat sosialis terhadap tanggung jawab yang sedang Pemimpin akan melihat bahwa sebuah mobilitas yang dijalani adalah sebuah panggilan rutinitas. Pemimpin akan memiliki orientasi tugas yang jelas, sehingga memiliki target untuk menyelesai tugas dengan hasil sempurna. Pemimpin akan memiliki kecerdasan, sehingga baik dalam mempertimbangkan keputusan yang akan diambil secara mandiri. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Gaya Kepemimpinan Era perubahan gaya kepemimpinan sudah berjalan lama sehingga seorang pemimpin dihadapkan dengan situasi perubahan yang sangat cepat tanpa bisa diprediksi. Saat kondisi seperti ini seorang pemimpin akan membangun paradigma lama ke paradigma baru dengan berbagai orientasi target yang sedang dihadapi organisasi. Terdapat beberapa yang faktor yang menjadi pengaruh gaya kepemimpinan (Kielson, 1. , diantaranya: 12 Lingkungan organisasi seperti budaya, struktur organisasi dan nilai-nilai perusahaan berperan penting dalam menentukan gaya kepemimpinan yang efektif. Kepribadian seorang pemimpin, termasuk karakter, nilai-nilai, sikap dan wataknya, dapat mempengaruhi bagaimana gaya kepemimpinannya diterapkan. Tantangan yang dihadapi organisasi juga dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan yang digunakan. Misalnya, dalam situasi krisis, pemimpin mungkin perlu menerapkan gaya kepemimpinan yang lebih berwibawa dan percaya diri agar dapat menyelesaikan masalah dan percaya diri agar dapat menyelesaikan masalah dengan cepat. Faktor penting juga adalah kemampuan manajer dalam menerapkan berbagai metode Pemimpin dengan kemampuan komunikasi yang baik akan lebih efektif dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang menekankan kerja sama dan partisipasi. Teknologi dan sumber daya yang tersedia juga dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan. Teknologi canggih memungkinkan gaya kepemimpinan yang lebih terbuka dan berbasis data. Gaya kepemimpinan juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar organisasi, seperti budaya dan nilai- nilai masyarakat di mana organisasi tersebut beroperasi. Pemimpin mungkin perlu mempertimbangkan norma dan nilai lokal ketika menerapkan gaya kepemimpinannya. Analisis Data Hasil Penelitian Dalam penyelesaian karya tulis ini, penulis telah melakukan penelitian di salah satu rukun yang ada dalam wilayah gereja paroki St. Josep Passo. Keuskupan Amboina. Penulis melakukan penelitian secara luring dan daring di lingkungan rukun St. Michael. Pada penelitian awal dilaksanakan dengan bertemu beberapa pengurus wilayah rohani mengenai kepemimpinan dan kondisi umat rukun mereka. Kemudian karena dibatasi oleh waktu, maka dibuat pertanyaan-pertanyaan tentang model kepemimpinan dan dikirim secara daring melalui Yeremia Niaga Atlantika. Eligia Monixa Salfarini dan Sabinus Beni. Manajemen Kepemimpinan. hlm 8-10 Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 google form untuk diisi oleh para pengurus rukun. Berdasarkan data penelitian tentang model kepemimpinan di lingkungan umat rukun St. Michael, maka hasil yang ditemukan adalah sebagai berikut. Pertama, terdapat lima informan yang bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan kemudian digunakan dalam karya ini. Mereka itu adalah FHB/H . tahun bertuga. MWS/T . tahun bertugas/5 period. YGS . tahun bertuga. YOJ/H . tahun bertuga. 16, dan informan LD . ertugas 2 tahun lebi. 17 Kedua, para informan yang bertugas sebagai pengurus rukun tidak dipilih oleh pastor paroki atau memilih diri sendiri. Tetapi dipilih secara langsung oleh umat sendiri sesuai dengan standar mekanisme kerja (SOP) yang ditetapkan paroki dan kemudian dilantik oleh pastor paroki. Ketiga, pengurus rukun yang telah dilantik sungguh-sungguh menyadari akan tugas dan kewajiban pokok mereka sebagai pemimpin rukun. Selama menjabat sebagai pengurus rukun, ada persoalanpersoalan yang ditemukan: kurang aktif dalam latihan koor, ibadat rukun, berbeda pendapat dan salah paham serta sering disakiti dalam melayani umat. Meskipun ada persoalan tetapi para pengurus rukun tidak membiarkan saja. ada metode tersendiri yang digunakan pengurus untuk menghadapinya. Ada pendekatan secara pribadi . erbicara dari hati ke hat. , selalu mengingatkan kepada warga rukun di setiap akhir ibadat dan mengadakan rapat untuk menyelesaikan persoalan. Keempat, dalam menjalani tugas dan tanggung jawab, para pengurus rukun pernah belajar dan menerapkan model kepemimpinan dari Yesus sebagai gembala yang baik. Ada yang terkadang harus menggunakan kata-kata yang diucapkan Yesus, ada yang mengasihi dan mengampuni, membantu dan menolong orang yang meminta bantuan serta menjadikan Yesus sendiri sebagai contoh dan teladan dalam melayani. Kelima, terdapat hal-hal tertentu yang membuat para informan tetap bertahan pada tugas sebagai pemimpin rukun. Ada yang berpendapat bahwa ia bertahan karena Tuhan Yesus juga bertahan karena sudah menjadi kewajiban. Dan ada juga tetap bertahan karena sudah janji dan bersumpah untuk bekerja di ladang Tuhan sampai akhir jabatan. Keenam, para informan mengemukakan bahwa selama menjalani tugas sebagai pengurus rukun, mereka merasa senang dan bahagia. Meskipun sering berjumpa dengan tantangan seperti berselisih pendapat dan salah paham, tetapi para informan dapat mengatasi itu dengan campur tangan Tuhan. Mereka kuat dan bertahan karena melayani adalah bagian dari memikul. Meski mengalami tantangan tetapi Allah selalu menyertai mereka dalam nama Yesus dan Roh Kudus-Nya. Berdasarkan hasil analisis penelitian di atas, maka beberapa hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan. Pertama, para pengurus rukun St. Michael Paroki St. Josep Passo, diangkat-dipilih oleh wakil umat dan dilantik secara resmi oleh pastor paroki sesuai dengan mekanisme kerja (SOP) paroki. Kedua, dalam melaksanakan kepemimpinan di rukun, mereka telah memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing. Ketiga, dalam kenyataannya para pengurus rukun menjalankan tugas mereka masih berfokus pada tataran dan hal lahiriah saja sebagaimana yang ditunjukkan dari data wawancara. Mereka belum mampu untuk melangkah jauh sebagaimana model kepemimpinan yang ditampilkan Yesus sebagai gembala sejati dalam Yohanes 10:1-21. Keempat, karakteristik kepemimpinan gembala yang baik seperti: menjadi pintu, mengenal dan menuntun domba bahkan mengorbankan nyawa demi domba13 Informan mengisi dan mengirim link pada 26/05/24, 12. 10 WITA Informan mengisi dan mengirim link pada 26/05/24, 14. 24 WITA Informan mengisi dan mengirim link pada 26/05/24, 14. 44 WITA Informan mengisi dan mengirim link pada 26/05/24, 18. 55 WITA Informan mengisi dan mengirim link pada 26/05/24, 19. 21 WITA Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 domba belum ditampilkan oleh para pengurus rukun. Inilah perbedaan kepemimpinan mereka yang masih bersifat lahiriah dengan model kepemimpinan Yesus yang lebih yang jauh melampaui hingga menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan domba-domba. EKSEGESE KITAB SUCI ATAS YOHANES 10:1-21 TENTANG YESUS SEBAGAI GEMBALA BAIK Konteks Sebelum Sebelum masuk pasal 10, di pasal 9 berbicara tentang Yesus sebagai Terang dunia (Yoh. , sedangkan pasal 10 berbicara tentang Yesus sebagai Gembala. Namun pasal 9 sebenarnya mengandung dua peristiwa signifikan yang sama, pertama adalah peristiwa Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir dan yang kedua adalah reaksi orang-orang Farisi terhadap penyembuhan itu. Tema AuTerang duniaAy berkaitan dengan peristiwa pertama, sedangkan tema AuGembalaAy berkaitan dengan peristiwa kedua. Pasal 9 dan pasal 10 juga disatukan oleh komentar para pendengar yang merujuk pada peristiwa penyembuhan orang buta . sebagai respons dari perkataan Yesus tentang gembala. Konteks Yohanes 10:1-21 adalah pertentangan Yesus dengan orang-orang Farisi, berkaitan dengan penyembuhan seorang yang buta sejak lahirnya (Yoh. Tetapi Yohanes 10:1-21 tidak menafsirkan peristiwa penyembuhan orang buta sejak lahir itu, melainkan peristiwa yang menyusul penyembuhan itu, yakni penginterogasian orang buta yang telah disembuhkan itu dan pengusirannya dari rumah ibadat oleh orang-orang Farisi. Ini adalah respons Yesus atas sikap dan tindakan orang-orang Farisi terhadap orang buta yang telah disembuhkan-Nya18. Konteks Sesudah Setelah (Yoh 10:1-. ini kita dapat melihatnya dalam (Yoh, 10:25-. Pada ayat 25 Yesus menjawab mereka: AuAku telah mengatakan kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya. pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku, itu yang memberikan kesaksian tentang Aku. Ayat 26 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-dombaKu. Ayat 27 domba-dombaku mendengarkan suara-Ku dan aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku. Ayat 28 dan aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Kisah gembala yang baik merupakan salah satu ajaran yang disampaikan oleh Yesus di depan umum. Pengenalan domba terhadap gembala dan sebaliknya hanya bisa didasari oleh relasi yang mendalam antara keduanya. Supaya adanya kemampuan domba mengenali suara gembalanya dan kemampuan gembala memanggil domba-domba-Nya menurut namanya. Yang dikatakan Yesus adalah sebuah perumpamaan dan pendengarnya tidak memahami perumpamaan itu19. Kepemimpinan Yesus sebagai Gembala yang Baik Yesus berkata AuAkulah gembala yang baik gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanyaAy. Perkataan Yesus ini menampilkan bahwa Hanny Frederik. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Penggembalaan Berdasarkan Yohanes 10:1-21 dan Implementasinya dalam Kepemimpinan Gereja. Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen. Volume 1. Nomor 2 (Desember 2. , hlm 72-73 Kirniaman Gea. Pola Penggembalaan Menurut Yohanes 10:1-18 Implementasinya bagi Jemaat yang Multikultural. JURNAL MATETES STT Ebenhaezer. Tanjung Enim. Volume . No. Agustus 2020. Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 prinsip utama menjadi gembala bagi domba-domba adalah harus menjadi gembala yang baik. Dalam perjanjian lama (Mazmur . Tuhan digambarkan sebagai seorang gembala, sebutan yang lazim bagi dewa atau raja di dunia Timur Kuno. Sebutan ini mengungkapkan perhatian kepada umat, yakni Israel, dalam pimpinan selama keluaran. Pemazmur demikian yakin akan pimpinan ilahi sebagai gembala, tetap percaya juga ketika perjalanan melalui gunung-gunung yang berbahaya20. Dalam perjanjian baru Yesus menunjukkan dirinya sebagai gembala. mengonkretkan dirinya sebaga gembala yang baik dengan menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya. Kata Aumemberikan nyawanyaAy dalam bahasa asli (Yunan. IEE sEs EE . suchen autou tithesi. Kata AumemberikanAy (Yunani: EE tithesi. menyerahkan, lays down = berbaring. Kata Aulays downAy di sini bermakna berbaring sampai rebah, yang menunjukkan tidak berdaya lagi karena sudah mati. Hal ini terbukti dengan kata berikutnya: IEE . , yang berarti: nyawa atau jiwa (Inggris: sou. Karena itu. Yesus mengundang umat manusia untuk datang kepada-Nya dan belajar kepada-Nya (Mat. 11:2. Struktur Yohanes 10:1-21 dapat dibagi menjadi dua bagian besar yang masingmasing adalah perkataan langsung Yesus. Bagian pertama adalah ayat 1-5 yang berisi perumpamaan Yesus dan bagian kedua adalah ayat 7-18 yang berisi penafsiran Yesus atas perumpamaan-Nya itu. Sedangkan ayat 6 dan ayat 19-21 masing-masing adalah laporan tentang respons pendengar terhadap perumpamaan Yesus dan penafsiran Yesus. Setiap bagian ditandai dengan perkataan pembuka Yesus yang memakai formula: AuAku berkata kepadamu sesungguhnya. ,Ay suatu formula yang menunjukkan otoritas-Nya. Bagian kedua ayat 7-18 dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian kecil yang menjelaskan perumpamaan Yesus pada bagian pertama: pertama. Yesus adalah pintu . yat 7-. Yesus adalah Gembala yang baik . yat 8-. dan ketiga, sumber otoritas Yesus . yat 17-. Strukturnya dapat diuraikan sebagai berikut: Perumpamaan tentang Gembala . Sisipan: Respons Pendengar . Penafsiran Perumpamaan . :7-. Yesus adalah Pintu . :7-. Yesus adalah Gembala yang baik . :11-. Sumber Otoritas Yesus . :1. Sisipan: Respons Pendengar . :19-. Kisah gembala yang baik menurut injil Yohanes merupakan salah satu ajaran yang disampaikan oleh Yesus di depan umum. Derek Tidball mengemukakan empat unsur penting tentang gembala. Ada perbedaan antara gembala-gembala upahan palsu dan gembala yang sejati. Gembala palsu ditafsirkan sebagai pencuri yang suka mencari kepentingan diri sendiri dan bukan kepentingan dombanya. Sedangkan gembala sejati adalah Yesus sendiri. memperkenalkan diri sebagai gembala baik bagi domba-dombanya. Perumpamaan ini melukiskan hubungan yang erat antara kawanan domba dan gembala yang sejati. Yesus mengenal mereka secara pribadi . dan memimpin mereka dengan selamat . sementara mereka mengandalkan Dia sepenuh-Nya karena mengenal suara-Nya. Perumpamaan ini bersifat universalisme . Kawanan domba tidak hanya terbatas pada Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, terjemahan asli dari buku The Collegeville Bible Commentary, 1989. The Liturgical Press. Collegeville. Minnesota. Editor: Diane Bergant dan Robert J. Kanisius (Yogyakarta: Kanisius, 2. hlm, 434-435 Jonar Situmorang. Kajian Biblika tentang Yesus Sebagai Pintu dan Gembala menurut Yohanes 10:1-18, hlm Hanny Frederik. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Penggembalaan Berdasarkan Yohanes 10:1-21 dan Implementasinya dalam Kepemimpinan Gereja. Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen. Volume 1. Nomor 2 (Desember 2. , hlm 73-74 Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 orang Yahudi. Yesus meluaskan pelayanan-Nya melewati batas-batas kandang agar mereka yang berada di luar kandang dimasukan ke dalam kandang itu. Unsur baru dalam ajaran Yesus tentang Gembala yang Baik ialah bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk segala domba . Gembala yang baik tidak hanya siap menghadapi bahaya ketika membela dombanya . tetapi benar-benar mengorbankan nyawanya sendiri demi domba-domba Hanya dengan cara ini, domba-domba tersebut mengalami hidup yang berlimpah . Pengenalan domba terhadap gembala dan sebaliknya hanya bisa didasari oleh relasi yang mendalam antara keduanya. 23 Yesus Sebagai Pemimpin domba-domba . :1-. merupakan bagian yang menarik karena di dalam keempat kitab Injil, hanya kitab Injil Yohanes yang mengatakan bahwa Yesus sebagai gembala. Menjadi pertanyaan ialah manakah tugas Yesus sebagai Gembala yang Baik? Maria Bons-Strom dalam bukunya, ia menunjukkan tentang tugas dari seorang Gembala yang Baik. tugas seorang gembala sungguh berat 24. Dari pagi sampai malam berjalan bersama kawanan dombanya untuk mencari rumput dan sumur dan mengambil air pada siang hari. Tidak hanya itu saja! 1 Samuel 17-34-36, mengisakah tentang Daud melukiskan tentang apa yang dilakukan sebagai gembala. ia tidak takut singa atau beruang, tapi berjuang sampai ia berhasil menyelamatkan domba atau kambing yang mau dirampas dan dibunuh itu. Yesus juga menceritakan bahwa seorang gembala adalah seorang yang bekerja sampai lelah bahkan bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk dombanya . Antara gembala dan domba ada hubungan yang baik: domba mengenal gembalanya dan gembala mengasihi setiap dombanya. Berdasarkah analisa teks terhadap injil Yohanes 10:1-21, dapat diketahui bahwa Yohanes 10 memberikan analogi yang sangat jelas mengenai kepemimpinan Yesus sebagai Gembala. Dalam hal ini, jabatan Yesus sebagai Mesias tidak dapat dipisahkan dengan jabatan Yesus sebagai Gembala. Gembala yang memimpin kepada keselamatan dan Yesuslah jalan keselamatan itu sendiri. Yesus sebagai Gembala yang sejati atas setiap domba yang dituntunnya. Kepemimpinan Yesus sebagai Gembala berbeda dengan kepemimpinan pada umumnya. Yesus memberikan suatu teladan yang sempurna sebagai Pemimpin Gembala. Lebih dari pada itu, seorang gembala yang sejati harus siap untuk mempertaruhkan nyawa bagi domba-dombanya. APLIKATIF MODEL KEPEMIMPINAN YESUS SEBAGAI GEMBALA BAIK BAGI KEPEMIMPINAN PENGURUS RUKUN ST. MICHAEL DI PAROKI ST. JOSEP PASSO KEUSKUPAN AMBOINA Setelah melihat model kepemimpinan Yesus sebagai Gembala yang Baik, ada hal-hal baru ditampilkan Yesus untuk kepemimpinan yang perlu diteladani oleh para pengurus rukun. Beberapa model kepemimpinan Yesus yang perlu diterapkan oleh pengurus rukun St. Michael Paroki Passo adalah Mengenal domba-domba. Artinya, sebagai pengurus rukun, sangat perlu untuk mengenal dan memahami lebih dekat setiap anggota rukun dengan baik. Sebagaimana domba-domba mengenal suara Yesus dan Ia sendiri mengenal dombanya maka para pengurus rukun juga harus melaksanakan dengan cara yang sama. Para pengurus rukun Candra Gunawan Marisi and others. AoAnalisis Teologis Mengenai Tugas Dan Tanggungjawab Gembala Yang Baik Menurut Yohanes 10 : 1 Ae 18 Dan Penerapannya Bagi Gembala Masa KiniAo. Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen Real Didache, 4. , 42Ae50. Bons-Strom. Apakah Penggembalaan Itu? Petunjuk Praktis Pelayanan Pastoral. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. hlm 3 Jurnal Fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 harus sungguh-sungguh memahami kebutuhan apa yang diperlukan oleh anggota rukun. Pengurus rukun tidak boleh masa bodoh dan akan memperhatikan umat ketika terjadi perbedaan atau masalah di dalam rukun sendiri. Harus betul-betul mengenal dan menuntun seluruh anggota rukun agar bisa berjalan bersama-sama menggapai tujuan yang ingin dicapai yakni keselamatan dalam diri Gembala Sejati sendiri. Menjadi teladan artinya, pengurus rukun harus menampilkan diri sebagai pemimpin yang baik yang bisa diteladani oleh anggota rukun sendiri. menjadi teladan berarti tidak menyalahgunakan kekuasaan, harus rendah hati dan tidak sombong. Sebab jika demikian maka domba-domba yang digembalakan juga pasti tidak berjalan seiringan bahkan mencari tempat . yang lain. Dalam menunjukkan jati diri sebagai teladan, pengurus rukun juga tidak hanya memberikan fokus perhatian kepada domba-domba di kandang sendiri tapi juga domba yang berasal dari luar kandang. Jika ada domba yang sudah keluar dari kandang, maka pengurus rukun mempunyai tanggung jawab untuk memasukannya kembali ke kandang. Rela berkorban merupakan salah satu ciri keistimewaan dan keunggulan yang luar biasa yang dari model kepemimpinan Yesus. Para pengurus rukun yang telah dipilih umat dan dilantik oleh pastor paroki, harus mampu untuk melayani umat sampai pada tahap ini. Tidak boleh membiarkan umat yang dipimpin mengalami sengsara dan bahaya sendiri. Para pemimpin rukun harus menunjukkan sikap rela Menjadi pengurus rukun yang rela berkorban berarti tidak ragu-ragu mengambil resiko, mempertaruhkan hidupnya sendiri untuk menyelamatkan domba-dombanya dari bahaya apapun yang mengacam kawanan dombanya. Sebab dalam sikap berani mengambil resiko itu para pengurus rukun membuktikan cintanya yang luar biasa kepada kawanan dombanya sebagaimana telah dilakukan lebih awal oleh Yesus Sang Gembala Baik. KESIMPULAN Menjadi pemimpin adalah sebuah tugas mulia yang Tuhan percayakan kepada setiap orang beriman. Yesus adalah role mode kepemimpinan Gembala yang Baik bagi para pemimpin dunia secara khusus bagi para pengurus rukun. Yesus merupakan Pribadi yang sempurna untuk dijadikan teladan, termasuk dalam teladan kepemimpinan. Setelah menyelesaikan karya tulis ini, terdapat tiga model kepemimpinan Yesus yaitu, pertama Yesus sebagai Pemimpin domba-domba, ia mengenal domba-domba dan domba-domba mendengar Di sini Yesus memperlihatkan diri sebagai Gembala Yang Baik. Kedua. Yesus sebagai role mode. Ada hubungan yang erat antara kawanan domba dan gembala. Kawanan domba tidak hanya terbatas pada orang Yahudi melainkan di luar bangsa itu sendiri. Yesus meluaskan pelayanan-Nya melewati batas-batas kandang agar mereka yang berada di luar kandang dimasukan kedalaman kandang itu. Ketiga. Yesus sebagai tentang Gembala yang Baik ialah bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk segala domba. Ia tidak hanya siap menghadapi bahaya ketika membela dombanya tetapi benar-benar mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan domba-domba itu. DAFTAR PUSTAKA