Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. INTEGRASI WAHYU DAN AKAL UNTUK MEMBANGUN ARGUMEN YANG KOKOH BIDANG ILMU KALAM Tiara Renata1 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tiararenata412@gmail. Info Artikel Submit : 13 Juni 2025 Revisi : 15 Agustus 2025 Diterima : 10 September 2025 Publis : 22 Oktober 2025 Abstract Tulisan ini mengkaji bagaimana relasi antara akal dan wahyu memberikan kontribusi signifikan terhadap konstruksi argumen dalam khazanah ilmu kalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. , yakni dengan menghimpun sumber-sumber dari literatur primer maupun sekunder yang relevan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh. Hasil penelitian ini mengungkapkan tiga pokok penting: pertama, akal memperoleh tempat yang mulia dalam AlQurAoan, terlihat dari berbagai ayat yang mendorong manusia untuk berpikir. Kedua, dalam dimensi teologis, terdapat perbedaan penekanan antara akal dan wahyu, seperti tampak dalam aliran MuAotazilah yang lebih mengedepankan akal, sementara AsyAoariyah menempatkan wahyu di posisi utama dengan peran akal yang lebih terbatas. Ketiga, dalam pandangan para filsuf Muslim seperti Ibn Rusyd dan alKindi, akal dan wahyu tidak dipertentangkan, melainkan dipandang sebagai dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi dan harmonis. Keywords Akal. Wahyu. Ilmu Kalam. Integrasi. Pemikiran Islam Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Pendahuluan Ilmu Kalam sebagai cabang keilmuan Islam memiliki peran penting dalam mengonstruksi argumentasi keimanan secara rasional dan sistematis. Sejak awal perkembangannya, ilmu Kalam telah memosisikan diri sebagai disiplin yang mengkaji persoalan-persoalan teologis mendasar seperti keberadaan Tuhan, sifat-sifat-Nya, kehendak bebas manusia, dan keadilan Ilahi. Dalam proses pembentukannya, dua sumber epistemologi utama, yakni wahyu dan akal, menjadi pilar yang tidak terpisahkan. Wahyu berfungsi sebagai dasar normatif-teologis yang bersifat transenden, sementara akal berperan sebagai alat untuk memahami dan menjabarkan wahyu secara logis dan argumentatif dalam konteks historis tertentu. Relasi antara akal dan wahyu dalam Islam telah menjadi diskursus panjang yang diwariskan oleh berbagai mazhab teologis klasik. MuAotazilah, misalnya, menekankan supremasi akal dalam memahami nilai-nilai moral dan keadilan Tuhan. Mereka berpandangan bahwa akal memiliki kapasitas otonom dalam menilai baik dan buruk serta dalam memahami wahyu. Di sisi lain. AsyAoariyah menegaskan bahwa akal hanya dapat berfungsi dalam batasan tertentu, sementara wahyu adalah sumber kebenaran mutlak yang tidak bisa dijangkau secara utuh oleh rasio manusia. 3 Perbedaan ini menunjukkan bahwa dinamika antara akal dan wahyu bukan hanya menjadi wacana akademik semata, tetapi juga berimplikasi besar dalam pembentukan kerangka teologis umat Islam sepanjang sejarah. Lebih jauh lagi, para filsuf Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi. Ibn Sina, dan Ibn Rushd, mencoba merumuskan hubungan antara akal dan wahyu secara lebih filosofis. Ibn Rushd dalam karyanya Fasl al-Maqal bahkan menyatakan bahwa kebenaran filosofis dan kebenaran wahyu tidak akan pernah saling bertentangan, sebab keduanya berasal dari sumber yang sama Allah. 4 Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan filosofis, akal dan wahyu tidak hanya dapat berdampingan, tetapi juga saling melengkapi dalam menyingkap kebenaran. Pandangan ini menjadi sangat penting untuk dikaji kembali dalam konteks kontemporer, mengingat tantangan zaman modern menuntut pemahaman keagamaan yang tidak hanya taat pada teks, tetapi juga tanggap terhadap perkembangan rasionalitas dan sains. Dalam konteks inilah, penting untuk mengangkat kembali tema integrasi antara wahyu dan akal dalam membangun argumen teologis yang kokoh. Integrasi bukan sekadar kompromi antara dua sumber pengetahuan, melainkan sebuah upaya membangun koherensi epistemologis agar ilmu Kalam tidak kehilangan relevansinya. 2 Abid Nurhuda. AuConceptions Of Reason And Revelation In Discourses Mu Ao Tazilah . Asya Ao Riyah . And Maturidiyah ( Samarkhan And Bukhara )Ay 25, no. : 132Ae42. 3 Usman Ghani. AuFaith . Logic , and Modern Challenges : The Adaptive Journey of Ao Ilm Al-Kalam in Islamic ThoughtAy 24, no. : 16Ae29. 4 Hendrawan. AuUnderstanding the Concept of Intellect and Revelation from the Perspectives of Asy Ao Ariyah and Maturidiyah,Ay Islamic Studies in the World 1, no. : 2028, https://journal. id/index. php/islamicstudies/article/view/1009. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Selain itu, pemikiran yang mengabaikan salah satu dari keduanya berpotensi melahirkan pemahaman keagamaan yang ekstrem baik dalam bentuk liberalisme tekstual maupun rasionalisme kering yang memisahkan agama dari realitas sosial. Berlandaskan kerangka tersebut, tulisan ini akan mengeksplorasi bagaimana integrasi wahyu dan akal dapat menghasilkan argumen-argumen keimanan yang tidak hanya kokoh secara logika tetapi juga setia terhadap nilai-nilai wahyu. Pendekatan ini sangat relevan dalam menanggapi tantangan kontemporer yang menuntut adanya pendasaran teologis yang kuat sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu dan Oleh karena itu, penulis menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan untuk menganalisis narasi-narasi integrasi tersebut, baik dalam tradisi teologis klasik maupun dalam pemikiran filosofis Islam. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka . ibrary researc. , dengan menggali dan menganalisis berbagai sumber literatur yang berkaitan dengan integrasi wahyu dan akal dalam bidang ilmu Kalam. Pendekatan ini dipilih karena sifat kajiannya yang bersandar pada gagasan-gagasan filosofis dan teologis, yang sebagian besar terekam dalam teks-teks klasik dan modern. Literatur yang dijadikan bahan kajian mencakup karya-karya klasik seperti al-Iqtishad fi al-IAotiqad karya al-Ghazali. Fasl al-Maqal oleh Ibn Rushd, dan al-Risalah al-Qadiriyyah dari al-Kindi, serta literatur kontemporer berupa jurnal-jurnal ilmiah dan buku-buku akademik dari para pemikir Islam modern. Data primer dalam penelitian ini adalah gagasan-gagasan yang bersumber langsung dari para tokoh pemikir Islam klasik dan modern yang membahas relasi antara akal dan Sedangkan data sekunder berasal dari kajian-kajian ilmiah yang membahas pemikiran mereka, baik dari jurnal nasional maupun internasional. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif-analitis, yaitu dengan menjelaskan pemikiran para tokoh, menganalisis struktur argumen mereka, serta mencari titik temu dan perbedaan dalam pendekatan mereka terhadap akal dan wahyu. Langkah awal dalam analisis ini adalah mengklasifikasi pemikiran-pemikiran tersebut ke dalam kategori teologis . eperti MuAotazilah dan AsyAoariya. , filosofis . l-Kindi. Ibn Rush. , dan hermeneutis . isalnya, pemikir kontemporer seperti Nasr Hamid Abu Zay. Setelah itu, penulis melakukan interpretasi terhadap teks dengan memperhatikan konteks historis dan epistemologisnya. Proses ini penting untuk menghindari kesalahan dalam memahami maksud asli dari teks dan pemikiran yang dikaji. Validitas data dijaga dengan menggunakan triangulasi sumber, yaitu membandingkan berbagai literatur yang membahas tema yang sama dari sudut pandang berbeda. Selain itu, penulis juga mengkaji literatur dalam bahasa Arab dan Inggris untuk memperkaya Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 perspektif dan memperdalam pemahaman terhadap wacana yang ada. Hal ini penting untuk menjamin bahwa analisis yang dilakukan tidak bersifat sepihak atau bias terhadap aliran tertentu. Dengan menggunakan metode ini, penelitian diharapkan mampu menggambarkan secara menyeluruh bagaimana akal dan wahyu dapat disatukan dalam satu kerangka berpikir yang integratif. Lebih jauh, pendekatan ini memungkinkan penulis untuk menawarkan kontribusi baru dalam diskursus ilmu Kalam kontemporer yang relevan dengan tantangan zaman. Keseluruhan metode ini bertujuan untuk merumuskan kembali kerangka berpikir teologis yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga argumentatif, rasional, dan aplikatif. Pembahasan Relasi antara akal dan wahyu dalam tradisi Islam terbentang luas, mencerminkan spektrum intensitas rasionalitas di antara aliran-aliran teologis klasik hingga modern. Sebagai contoh. MuAotazilah memberikan poros berat pada akal sebagai instrumen utama dalam mengenali kebenaran, termasuk moralitas dan eksistensi Tuhan. Menurut penelitian Abid Nurhuda, intensitas penggunaan akal paling dominan terjadi dalam aliran MuAotazilah dibandingkan AsyAoariyah dan Maturidiyah. 5 Al-QurAoan memang menjadi sumber otoritatif, namun akal diperlakukan sebagai pintu pertama masuknya manusia ke wilayah religiositasAiyakni wahyu hanya melengkapi struktur rasional yang sudah terbangun. Ini menempatkan wahyu dan akal sebagai elemen yang saling bergantung: akal yang memulai, wahyu yang menverifikasi. Berbeda tetapi tidak bertentangan secara struktural. AsyAoariyah menegaskan supremasi wahyu dalam hal-hal berkaitan sifat Tuhan dan otoritas hukum. Meski demikian, mereka tidak menolak peran akal sama sekali. hanya saja akal dikonstruksi untuk mendukung, bukan memimpin, relasi epistemologis tersebut. AsyAoari mengklasifikasikan sifat ketuhanan ke dalam dua kategori: akliyah . iketahui aka. dan khabariyah . iberitahukan wahy. , sehingga akal memiliki ruang untuk membahas yang pertama, namun untuk yang kedua, ia diserahkan sepenuhnya kepada wahyu. Model ini menghadirkan keseimbangan yang menjauh dari ekstremisme, sekaligus menjaga otoritas wahyu sebagai final. 5 Nurhuda. AuConceptions Of Reason And Revelation In Discourses Mu Ao Tazilah . Asya Ao Riyah . And Maturidiyah ( Samarkhan And Bukhara ). Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Perbedaan paradigma inilah yang membentuk panggung bagi filsafat Islam, khususnya bagi Ibn Rushd, yang melontarkan gagasan bahwa Autruth cannot contradict Ay Dalam Fasl al-Maqal. Rushd menyatakan bahwa konflik antara rasio dan wahyu muncul hanya karena metode interpretasi yang keliru, dan jika digunakan akal demonstratif dan hermeneutik wahyu dengan tepat, maka kedua sumber akan berada dalam harmoni. 6 Peneliti kontemporer menegaskan bahwa bagi Rushd, rasionalitas tidak hanya sah di dalam ranah teologi, tetapi juga perlu mengintervensi wahyu dengan cara menafsirkan secara allegoris bila terjadi kontradiksi tekstual. Selain itu. Ibn Rushd menawarkan argumen rasional kontemporer melalui dalil alAc ynayah dan alAc ikhtiraAo, di mana observasi terhadap alam dan keberaturan kosmis dijadikan bukti empiris keberadaan TuhanAiyang selaras dengan ayat-ayat AlAc QurAoan seperti surat alAc FurqAn . dan surat alAc AAorAf . Dengan memadukan dalil empiris dan wahyu sebagai dua sumber argumentatif, ia mengembangkan pendekatan ilmiah-teologis yang bersifat ganda dan fungsional. Pendekatan ini memberi dasar epistemologis yang kuat dan dapat dipakai sebagai referensi dalam Kalam modern, khususnya dalam memahami relasi metodologis antara nalar dan wahyu. Adopsi aliran rasional-metafisik ini tidak berhenti pada filsafat klasik. wacana modern, para akademisi memanfaatkan warisan ini untuk membangun hermeneutika kontekstual dan ontologis Kalam. Misalnya, sekelompok pemikir muAotazili moderen menggunakan metode interpretasi teks dan rasionalitas komprehensif untuk menjawab persoalan etika dan keadilan sosial. Sementara pelaku AsyAoariyah kontemporer, seperti alAc Farabi dan al-Razi, mempertahankan integrasi yang moderat, memadukan akal dan wahyu dalam menyusun argumen teologis terkait sifat Tuhan dan kebebasan manusia. Dengan demikian, integrasi wahyu dan akal tidak sekadar merupakan alternasi antara supremasi nalar atau otoritas teks, melainkan sebuah sistem koheren yang membina interaksi simbiotik. Kalam yang ingin bertahan dalam konteks global perlu 6 P M Jainism Spread and King Kharvela. AuReligion & Philosophy,Ay 2012, 1Ae32. 7 Nurhuda. AuConceptions Of Reason And Revelation In Discourses Mu Ao Tazilah . Asya Ao Riyah . And Maturidiyah ( Samarkhan And Bukhara ). Ay 8 Hendrawan. AuUnderstanding the Concept of Intellect and Revelation from the Perspectives of Asy Ao Ariyah and Maturidiyah. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 meminjam semangat Ibn RushdAiyakni rasio menunjukkan jalan argumentatif, sementara wahyu menegaskan dan membatasi agar jalannya tetap dalam kerangka Pendekatan seperti ini tidak hanya memperkuat dasar argumentatif Kalam, tetapi juga membuka ruang dialog dengan ilmu pengetahuan modern dan pluralitas pemikiran kontemporer. Signifikansi Akal Menurut AlAc QurAoan Akal merupakan elemen penting dalam Al-QurAoan, yang secara eksplisit disebutkan dalam berbagai bentuk perintah untuk berpikir, merenung, dan menggunakan nalar. Ayat-ayat seperti AuAfala taAoqiln?Ay . idakkah kalian berpikir?) atau AuAfala tatafakkarn?Ay . idakkah kalian merenung?) menunjukkan bahwa Allah SWT tidak hanya menganugerahkan akal kepada manusia, tetapi juga mengharuskan penggunaannya sebagai sarana menuju kebenaran dan keimanan. 9 Dalam konteks ini, akal tidak diposisikan sebagai lawan wahyu, melainkan sebagai instrumen pertama dalam memahami dan merespons petunjuk Tuhan. Pendekatan ini juga ditegaskan oleh para mufassir modern seperti Fazlur Rahman, yang menyatakan bahwa penekanan QurAoani terhadap akal membuktikan bahwa Islam adalah agama yang menuntut kesadaran intelektual dan moral. menyebutkan bahwa tanpa penggunaan akal, wahyu tidak akan bermakna apa-apa, karena manusia tidak mampu membedakan kebenaran dari kesalahan tanpa nalar sebagai alat verifikasi internal. 10 Konsep tadabbur atau perenungan mendalam atas wahyu menjadi cara utama agar teks suci tidak dibaca secara dangkal dan tekstualistik. Selain itu, pendekatan pemikir seperti IsmaAoil Raji al-Faruqi menyelaraskan akal dengan prinsip tauhid. Menurutnya, tauhid bukan hanya ajaran teologis, melainkan juga metodologi berpikir yang integratif. Akal digunakan untuk menyatukan berbagai cabang pengetahuan di bawah satu kesatuan teistik, sehingga seluruh ilmu tidak terlepas dari 9 MA Dr. Nasaiy Aziz. Membumikan Al-Quran Melalui Penafsiran Bahasa Dan Sastra Bint As-SyatiAo, 2020. 10 Fazlur Rahman. Islam & Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, 1982. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 panduan nilai ilahiyah. 11 Ini sekaligus menjadi cikal-bakal pengembangan epistemologi Islam yang rasional, terbuka, dan bertanggung jawab secara moral. Pandangan ini sejalan dengan pendekatan hermeneutik, di mana teks wahyu tidak hanya dibaca berdasarkan teks literal tetapi juga dipahami dalam konteks sosial, historis, dan linguistik yang melibatkan akal. 12 Hermeneutika kontemporer Islam menekankan bahwa teks wahyu bersifat dinamis dan mengundang interpretasi berkelanjutan berdasarkan perubahan zaman dan tantangan peradaban. Oleh karena itu, akal memainkan peran aktif dalam menjembatani teks dan konteks. Dengan demikian, tidak dapat disangkal bahwa perintah Al-QurAoan untuk menggunakan akal bukan hanya bersifat formalitas retoris, tetapi merupakan bagian integral dari struktur kognitif dan spiritual dalam Islam. Wahyu mendorong manusia untuk berfikir sebagai cara mendekati kebenaran ilahiyah, bukan sekadar menerima secara dogmatis. Maka, relasi antara wahyu dan akal bersifat partisipatif dan bukan Kesimpulannya. Al-QurAoan membuka ruang yang luas bagi rasionalitas, menjadikannya sebagai pintu masuk utama untuk memahami kehendak Tuhan. Wahyu tidak mengisolasi manusia dari penggunaan nalar, tetapi justru memicunya untuk digunakan secara aktif dalam proses penalaran moral, sosial, dan spiritual. Perbedaan Nuansa MuAotazilah dan AsyAoariyah MuAotazilah dikenal sebagai aliran yang sangat mengedepankan peran akal dalam memahami Tuhan, wahyu, dan prinsip moralitas. Dalam pandangan mereka, akal manusia cukup kuat untuk menentukan baik dan buruk bahkan sebelum wahyu turun. Oleh karena itu, dalam etika MuAotazilah, keadilan Tuhan hanya dapat dipahami jika manusia mengerti prinsip keadilan itu dengan akalnya sendiri. Ini berarti bahwa wahyu bersifat melengkapi, bukan mendikte mutlak. 11 M. Ahsan. Shahed. , and A. Ahmad. AuIslamic Civilization : Its Significance in Al- Faruqi Ao s,Ay Global Journal of Management and Business Research Administration and Management 13, no. : 1Ae11. 12 William Montgomery Watt. AuThe Formative Period of Islamic Thought,Ay OneWorld Classics in Religious Studies, 1998. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Sementara itu. AsyAoariyah menolak superioritas akal di atas wahyu. Bagi mereka, akal memiliki batas, dan wahyu hadir sebagai otoritas utama yang tidak dapat diganggu Namun demikian. AsyAoariyah tidak sepenuhnya menolak akal. Mereka mengakui bahwa akal diperlukan untuk memahami dasar-dasar keimanan, tetapi dalam hal-hal yang lebih spesifik dan ghaib . eperti sifat-sifat Tuhan atau takdi. , akal harus tunduk pada wahyu. Fakhr al-Razi, seorang teolog AsyAoariyah yang cenderung rasionalis, mencoba mensintesiskan kedua pendekatan tersebut. Ia menggabungkan metode rasional MuAotazilah dengan sikap tawaduk terhadap wahyu yang diwariskan oleh AsyAoariyah. Dalam banyak tulisannya, al-Razi menempatkan argumentasi logis dan linguistik untuk mendukung interpretasi teologis, yang menunjukkan bahwa bahkan dalam AsyAoariyah, ada ruang luas bagi akal. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa konflik antara dua paradigma ini kerap muncul dalam sejarah pemikiran Islam. Salah satu contohnya adalah dalam perdebatan tentang sifat-sifat Tuhan. MuAotazilah menolak sifat-sifat Tuhan yang dianggap berkonsekuensi pada syirik, sementara AsyAoariyah mempertahankan adanya sifat yang berbeda dari zat-Nya. Perbedaan ini mencerminkan metode epistemologis yang berbeda: yang satu deduktif-rasional, yang lain teksual-tradisional. Ibn Taymiyyah berupaya menjembatani perbedaan tersebut dengan menyatakan bahwa konflik antara akal dan wahyu adalah akibat dari kesalahan dalam memahami salah satunya. Jika keduanya dipahami secara benar, maka tidak mungkin terjadi Ini menjadi prinsip penting dalam memahami integrasi epistemologis: konflik tidak inheren, tetapi muncul dari kekeliruan metodologis. Kesimpulannya, perbedaan antara MuAotazilah dan AsyAoariyah tidak perlu dilihat sebagai pertentangan mutlak. Keduanya memiliki titik temu dalam hal memberikan ruang bagi akal, meski dalam proporsi yang berbeda. Sintesis semacam ini penting untuk membangun metodologi Kalam yang kokoh di era modern, di mana nalar dan wahyu perlu beriringan menghadapi tantangan baru. Pandangan Filsuf Islam: Ibn Rushd dan al-Kindi Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Filsuf-filsuf Islam klasik seperti Ibn Rushd dan al-Kindi memainkan peran penting dalam menjembatani ketegangan antara wahyu dan akal. Ibn Rushd, khususnya, menyatakan bahwa kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran, sehingga antara wahyu dan akal seharusnya tidak terjadi konflik. Dalam Fasl al-Maqal, ia menegaskan bahwa bila wahyu tampak bertentangan dengan akal, maka interpretasi terhadap wahyu harus ditinjau ulang dengan metode takwil. 13 Baginya, wahyu dan filsafat . kal demonstrati. berasal dari sumber yang samaAiyakni TuhanAidan keduanya bertujuan untuk mengantarkan manusia pada kebenaran. Ibn Rushd juga menekankan pentingnya pendekatan demonstratif dalam Metode ini menuntut penalaran yang rasional, sistematis, dan koheren. menilai bahwa metode Kalam tradisional, seperti yang digunakan oleh AsyAoariyah atau MuAotazilah, terlalu retoris dan tidak memberikan argumentasi yang kuat secara logis. Maka, filsafat digunakan untuk memperkuat fondasi rasional dari keyakinan yang didasarkan pada wahyu. Ini menjadikan Ibn Rushd tokoh sentral dalam upaya menyatukan keilmuan rasional dengan keagamaan. Sebaliknya, al-Kindi menyatakan bahwa wahyu adalah bentuk pengetahuan tertinggi karena berasal langsung dari Tuhan, tetapi akal manusia tetap memainkan peran utama dalam memahami dan menjelaskan isi wahyu. Dalam karyanya Falsafat alUla, al-Kindi menunjukkan bahwa filosofi dan teologi dapat saling menunjang. Baginya, wahyu mengandung kebenaran ilahiah yang tidak dapat berubah, tetapi untuk memahami kandungannya diperlukan instrumen akal yang murni dan terlatih. Al-Kindi juga mengembangkan teori bahwa pengetahuan wahyu harus dikontekstualisasikan melalui pemahaman filosofis. Ini memungkinkan teks wahyu dipahami secara lebih luas dan relevan terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, ilmu pengetahuan modern maupun ilmu agama tidak akan bertentangan selama berada dalam kerangka tauhid yang menyatukan segala hal ke dalam keesaan Tuhan. Konsep ini memberikan dasar epistemologis untuk integrasi antara rasionalitas filosofis dan nilai-nilai wahyu. 13 Averroes. AuOn the Harmony of Religion and Philosophy,Ay The Trustees of the AuE. Gibb Memorial,Ay 1961, 44Ae49. 14 Nurcholish Madjid. AuIslam Doktrin Dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis Tentang Keimanan. Kemanusiaan. Dan Kemodernan,Ay 1998, 575. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Perpaduan antara wahyu dan akal yang dilakukan oleh Ibn Rushd dan al-Kindi kemudian memengaruhi para pemikir besar setelah mereka, seperti al-Farabi dan Ibn Sina, yang juga mengedepankan pendekatan sintetik. Pemikiran para filsuf ini menjadi landasan bagi munculnya pemikiran rasional dalam dunia Islam, yang kemudian dihidupkan kembali dalam gerakan pemikiran Islam kontemporer. Bahkan tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Nasr Hamid Abu Zayd masih merujuk pada warisan pemikiran mereka dalam membahas relasi nalar dan wahyu. Dari sini terlihat bahwa tradisi filsafat Islam tidak memosisikan akal sebagai pesaing wahyu, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan teks ilahiah dengan pemahaman manusia. Melalui pendekatan filsafat, wahyu dapat dimaknai ulang secara dinamis dan tidak kaku. Hal ini sangat penting dalam konteks pembangunan argumen Kalam yang tidak hanya dogmatis tetapi juga kokoh secara rasional. Kontribusi Integrasi Akal dan Wahyu terhadap Pengembangan Ilmu Kalam Modern Dalam konteks kontemporer, integrasi wahyu dan akal menjadi sangat krusial dalam menghadapi tantangan zaman seperti pluralitas pemikiran, relativisme moral, dan kemajuan sains. Teologi yang hanya berlandaskan wahyu tanpa rasionalitas akan rentan menjadi eksklusif dan rigid. Sebaliknya, rasionalisme yang melepaskan diri dari wahyu akan kehilangan nilai-nilai spiritual dan moral yang esensial. Oleh karena itu, ilmu Kalam modern dituntut untuk membangun argumen yang bersumber dari keduanya. Pemikiran seperti ini dapat ditemukan dalam karya-karya pemikir kontemporer seperti Fazlur Rahman. Muhammad Abduh, dan Nurcholish Madjid. Mereka menekankan bahwa wahyu dan akal merupakan dua sisi dari satu proses pencarian Rahman, misalnya, mengembangkan pendekatan double movement hermeneutics yang melibatkan refleksi rasional terhadap konteks historis turunnya ayat serta aplikasinya di masa kini. Pendekatan ini mencerminkan integrasi metodologis antara teks dan nalar. Nurcholish Madjid juga menegaskan pentingnya ijtihad rasional sebagai bagian dari proses dinamis pemahaman agama. Menurutnya, umat Islam tidak boleh hanya terikat pada tafsir masa lalu, melainkan harus membuka diri terhadap pembacaan ulang Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 wahyu dengan akal sebagai alatnya. Ia bahkan menyatakan bahwa stagnasi peradaban Islam salah satunya disebabkan oleh keterasingan umat terhadap akal dan filsafat. Maka, integrasi antara wahyu dan akal menjadi motor bagi kebangkitan pemikiran Islam. Pendekatan ini juga diperkuat oleh pemikiran M. Amin Abdullah dalam kerangka Auintegrasi-interkoneksi. Ay Menurutnya, keilmuan Islam harus melampaui dikotomi antara ilmu agama dan ilmu rasional. Ilmu Kalam sebagai disiplin teologis harus terbuka terhadap ilmu sosial, filsafat, dan sains agar dapat membangun argumen yang relevan dengan perkembangan zaman. Ini adalah upaya menjadikan Kalam sebagai ilmu yang dialogis dan transformatif. Dalam pengembangan ilmu Kalam kontemporer, integrasi akal dan wahyu juga membantu menyusun argumen-argumen yang dapat menjawab persoalan kemanusiaan modern, seperti keadilan sosial. HAM, dan ekologi. Sebagai contoh, tafsir ayat-ayat tentang manusia sebagai khalifah di bumi tidak cukup jika hanya dipahami secara tekstual, tetapi harus ditopang dengan penalaran moral, politik, dan ekologis yang berbasis akal. Inilah bentuk konkret sinergi antara wahyu dan akal dalam praksis teologi masa kini. Kesimpulannya, penguatan epistemologi Kalam di era modern tidak dapat dilakukan hanya dengan mempertahankan tradisi lama secara pasif. Diperlukan pendekatan integratif antara wahyu dan akal, yang tidak hanya menjaga otoritas wahyu tetapi juga menghidupkan semangat rasionalitas dalam membangun argumen-argumen yang kokoh dan kontekstual. Dengan ini. Kalam menjadi lebih aplikatif dalam menjawab tantangan kontemporer. Kesimpulan Dari seluruh kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa integrasi antara wahyu dan akal merupakan fondasi penting dalam membangun argumen teologis yang kokoh dalam ilmu Kalam. Wahyu sebagai sumber utama kebenaran teologis tidak pernah menafikan peran akal. bahkan dalam banyak ayat al-QurAoan, manusia diperintahkan untuk menggunakan akalnya sebagai alat refleksi dan pemahaman terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Oleh karena itu, dalam perspektif epistemologi Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Islam, akal berfungsi sebagai jembatan antara manusia dan wahyu, bukan sebagai lawan yang menafikkan kedudukan wahyu. Perbedaan pendekatan yang ditunjukkan oleh aliran MuAotazilah dan AsyAoariyah menggambarkan bagaimana tradisi intelektual Islam memiliki fleksibilitas dalam menempatkan rasio. MuAotazilah meletakkan akal pada posisi dominan dalam memahami ajaran agama, sedangkan AsyAoariyah menekankan supremasi wahyu dengan akal sebagai Keduanya memberikan warisan metodologis yang penting untuk dikaji secara kritis, karena masing-masing menyumbang pada kekayaan metode berfikir dalam teologi Islam. Lebih jauh lagi, pandangan para filsuf Muslim seperti Ibn Rushd dan al-Kindi menawarkan alternatif penting dalam melihat relasi wahyu dan akal sebagai dua sumber kebenaran yang saling mendukung. Filsafat, dalam pandangan mereka, bukanlah ancaman bagi agama, melainkan alat untuk memperdalam pemahaman terhadap wahyu. Pendekatan ini relevan untuk diaplikasikan dalam konteks kekinian, di mana banyak umat Islam dihadapkan pada dilema antara keimanan tradisional dan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Integrasi ini juga semakin mendesak dalam era kontemporer, di mana tantangan terhadap agama datang tidak hanya dari luar . eperti sekularisme dan ateism. , tetapi juga dari dalam, yakni pemahaman agama yang rigid dan ahistoris. Integrasi wahyu dan akal memungkinkan terciptanya paradigma teologis yang terbuka, dialogis, dan solutif terhadap persoalan zaman. Dengan demikian, ilmu Kalam bukan hanya menjadi wacana akademik klasik, tetapi juga instrumen vital dalam membentuk pemikiran Islam modern yang inklusif dan berbasis hujjah . yang kuat. Akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa pemikiran Islam akan tetap relevan dan progresif selama mampu menjalin sintesis antara wahyu yang bersifat transenden dan akal yang bersifat imanen. Integrasi ini bukan bentuk kompromi ideologis, tetapi justru cerminan dari kekayaan intelektual Islam yang menghargai sumber-sumber pengetahuan secara seimbang. Oleh karena itu, pendekatan integratif ini perlu terus dikembangkan dan diperkuat dalam kajian ilmu Kalam masa kini maupun masa depan. DAFTAR PUSTAKA