AGROTECH, x. , xx-xx https://doi. org/10. 37631/agrotech. ISSN 2548-3757 (Prin. dan ISSN 2620-7508 (Onlin. Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Journal homepage: https://ejournal. id/index. php/agrotech Aktivitas Antibakteri dan Karakteristik Edible Film dengan Penambahan Serbuk Daun Jati (Tectona grandis L. Ika Fatya Diva Auliya, 1Masrukan, 1Ambar Rukmini, dan 1Dyah Titin Laswati Universitas Widya Mataram. Yogyakarta *e-mail korespondensi: mrukan@gmail. Article Info Abstract Keywords: Antibacterial. Teak Leaves. Edible Film. Physicochemical Characteristics, (WVTR) Edible film is a thin layer used to coat food or placed between food components, and it is consumable. This research aimed to assess the effect of adding teak leaf powder on the physical, chemical, and antibacterial properties of the edible film. The experiment was designed using a Completely Randomized Design (CRD), with teak leaf powder (J) as the independent variable. Four treatments were applied: J0 . J1 . J2 . , and J3 . of teak leaf powder. Each formulation was tested for moisture content, thickness, tensile strength, elongation, water vapor transmission rate (WVTR), and antibacterial activity against environmental bacteria and Escherichia coli. The data obtained were analyzed using ANOVA followed by TukeyAos post hoc test at a significance level of = 0. Physically, the addition of teak leaf powder increased the thickness of the edible film but decreased its tensile strength, elongation, and WVTR. The chemical parameter, moisture content, remained relatively stable across all treatments. In terms of antibacterial properties, the inhibition zone against environmental bacteria increased significantly. For Escherichia coli, no inhibition zone was observed in treatment J0, while treatments J1 to J3 demonstrated comparable antibacterial effectiveness. Info Artikel Abstrak Kata Kunci Antibakteri. Daun Jati. Edible film. Karakteristik fisikkimia. WVTR Edible film merupakan lapisan tipis yang digunakan untuk melapisi makanan . , atau diletakkan di antara makanan dan dapat dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan serbuk daun jati (Tectona grandis L. ) terhadap karakteristik fisik-kimia dan aktivitas antibakteri dari edible Penelitian ini dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variabel bebas penambahan serbuk daun jati (J). Terdapat 4 perlakuan dalam penelitian ini yaitu J0 . gr J). J1 . ,25 gr J). J2 . ,50 gr J), dan J3 . ,75 gr J). Perlakuan yang dibuat dilakukan beberapa pengujian yaitu uji kadar air, uji ketebalan, uji tensile strength, uji elongasi, uji Water Vapour Transmision Rate (WVTR), dan uji sifat antibakteri terhadap bakteri lingkungan dan bakteri Escherichia coli. Data yang didapatkan kemudian dilakukan analisis statistik ANOVA dan uji lanjut Tukey dengan taraf 0,05. Secara fisik, penambahan serbuk daun jati meningkatkan ketebalan edible film, namun menurunkan nilai tensile strength, elongasi dan WVTR. Parameter kimia berupa kadar air cenderung stabil di semua perlakuan, sedangkan dari aspek antibakteri, zona hambat terhadap bakteri lingkungan meningkat secara drastis. Terhadap Escherichia coli, perlakuan J0 menunjukkan tidak terbentuknya zona hambat, sedangkan perlakuan J1 hingga J3 menunjukkan efektivitas yang setara. Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati PENDAHULUAN Perkembangan produk pangan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat karena adanya dorongan inovasi teknologi dan meningkatnya permintaan konsumen akan produk yang berkualitas tinggi serta aman. Seiring dengan perkembangan ini, tantangan yang dihadapi oleh industri pangan juga semakin kompleks, salah satunya adalah masalah keamanan pangan. Keamanan pangan menjadi isu yang sangat penting karena dapat berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Menurut data WHO pada tahun 2015 (World Health Organization, 2. , sekitar 600 juta orang mengalami penyakit akibat makanan yang terkontaminasi setiap tahunnya, dengan Escherichia coli sebagai salah satu patogen utama yang menjadi indikator kontaminasi fekal dan sanitasi yang buruk. Oleh karena itu, upaya untuk memastikan produk pangan yang aman dikonsumsi menjadi prioritas utama dalam industri ini. Salah satu cara untuk menjaga keamanan pangan adalah dengan membungkus atau melapisi produk pangan yang berfungsi sebagai kemasan primer. Berbagai jenis kemasan telah digunakan dalam industri pangan untuk menyesuaikan sifat bahan yang dikemas. Inovasi terbaru dalam kemasan pangan berupa penggunaan edible film, yaitu lapisan tipis yang digunakan untuk melapisi makanan . , atau diletakkan di antara komponen yang berfungsi sebagai penahan terhadap transfer massa seperti air, oksigen, dan lemak, atau berfungsi sebagai pembawa bahan tambahan pangan (Krochta & De Mulder-Johnston. Edible film ini lebih dipahami sebagai pelapis makanan daripada kemasan pada umumnya yang dirancang untuk menggantikan bahan seperti plastik. Selain untuk melapisi makanan atau mengemas, lapisan ini juga aman ketika dikonsumsi. Terdapat beberapa jenis bahan yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan edible film. Santoso . menyebutkan terdapat 3 jenis bahan utama untuk pembuatan kemasan tersebut, yaitu hidrokoloid, lipida, dan komposit. Penelitian tentang edible film terus berkembang dalam beberapa aspek. Selain variasi penggunaan berbagai jenis bahan utama dengan fokus pada peningkatan karakteristik fisik dan fungsionalnya, bahan alami lain juga ditambahkan guna menambah nilai dari edible film seperti antibakteri. Daun jati merupakan daun dari tanaman jati (Tectona grandis L. ) yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS, di wilayah Yogyakarta terdapat 129. 068 unit Usaha Tanaman Perkebunan (UTP) yang mengusahakan komoditas tanaman jati (Badan Pusat Statistik, 2. Dengan komoditas jati yang melimpah, masyarakat Indonesia sering menggunakan bagian daun tanaman tersebut sebagai kemasan tradisional bahan pangan dan beberapa makanan. Penggunaan daun jati sebagai pembungkus tersebut tidak jauh dari sifat antibakteri yang dimilikinya. Aktivitas antibakteri diberikan oleh senyawa bioaktif dalam Prodi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati daun jati. Badruttaman . menyebutkan bahwa flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan triterpenoid berperan dalam aktivitas antibakteri daun jati. Penelitian terdahulu telah mengeksplorasi aktivitas antibakteri daun jati dalam bentuk edible film. Studi-studi ini umumnya memfokuskan penambahan ekstrak daun jati. Penelitian oleh Ramadhani . menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun jati efektif dalam meningkatkan sifat antibakteri pada edible film. Dalam konteks yang lebih luas, penelitian mengenai penggunaan serbuk daun jati ataupun serbuk simplisia lain dalam pembuatan edible film masih terbatas. Selain itu penggunaan serbuk tidak menghilangkan sifat antimikroba dari suatu serbuk simplisia tanaman seperti pada penelitian Dalimunthe et , . yang menambahkan serbuk kulit salak pada edible film dan menunjukkan zona hambat maksimum sebesar 20,8 mm. Penggunaan serbuk juga dapat meminimalkan kerusakan senyawa bioaktif karena proses pemanasan hanya dilakukan pada saat pengeringan bahan. Dengan demikian, penggunaan serbuk daun jati dalam edible film diharapkan efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Dalam penelitian ini, pengujian antibakteri dilakukan terhadap dua jenis bakteri, yaitu Escherichia coli sebagai bakteri indikator kontaminasi fekal dan sanitasi lingkungan, serta bakteri lingkungan yang belum teridentifikasi secara spesifik namun merepresentasikan mikroorganisme alami yang berpotensi menyebabkan kontaminasi produk pangan. Penggunaan kedua jenis bakteri ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas antibakteri dari serbuk daun jati dalam edible film terhadap kontaminasi mikrobiologis yang umum terjadi di lingkungan produksi pangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi serbuk daun jati sebagai bahan tambahan dalam pembuatan edible film, dengan harapan dapat menghasilkan film yang memiliki aktivitas antibakteri yang signifikan dan karakteristik fisik dan kimia yang baik. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS Edible film merupakan edible packaging yang berbentuk lembaran tipis . yang digunakan sebagai pembungkus atau pengemas produk pangan (Santoso, 2. Berikut merupakan parameter mutu edible film oleh Japanese Industrial Standard (JIS) 1975. Tabel 1. Parameter Mutu Edible Film Berdasarkan Japanese Industrial Standar (JIS)1975 No. Karakteristik Edible film Standar (Grad. JIS 1975 Ketebalan . Max 0,25 Persen pemanjangan (%) Min 70 . Kuat tekan (Newto. Min 100 . Kelarutan (%) Prodi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati Laju transmisi gas O2 . L/m2 . Max 5 . Laju transmisis uap air . /m2. Max 5 . Sumber: Japanese Standards Association . dalam Santoso . Pada penelitian ini, formulasi pembuatan edible film mengacu pada hasil terbaik penelitian Baruna . Dari penelitian tersebut dilakukan modifikasi dengan penambahan serbuk daun jati sebagai penambah sifat antibakteri pada edible film. Aktivitas antibakteri ini disebabkan oleh kehadiran senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan triterpenoid yang terkandung dalam daun jati, seperti yang disebutkan oleh Badruttaman . Penelitian telah membuktikan keefektifan daun jati sebagai antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri seperti yang Staphylococcus aureus. Bacillus subtilis, dan Streptococcus mutans (Anwar et al. , 2. Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (Dewi, 2. METODE PENELITIAN Bahan yang akan digunakan pada penelitian ini meliputi bahan baku pembuatan edible film dan bahan analisis. Bahan yang digunakan diantaranya daun jati muda diambil di Jl. Ngrukem. Area Sawah. Pendowoharjo. Sewon. Kab. Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta dengan ciri-ciri daun berwarna hijau muda, belum kaku, ukuran 20 Ae 25 cm dan merupakan pucuk daun ke-2 atau ke-3. Pati tapioka merk Rose Brand, gliserol, karagenan, minyak sawit merk Fitri, aquades, alkohol 70%, nutrien agar. Escherichia coli broth yang didapatkan dari toko bahan pangan dan bahan kimia di Yogyakarta. bakteri Escherichia coli dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Sains dan Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram. serta larutan garam jenuh 75% dan silika gel dari Laboratorium Rekayasa Proses Universitas Gadjah Mada. Alat yang akan digunakan pada penelitian antara lain cabinet dryer, oven, gelas beaker, gelas ukur, cawan timbang, pipet tetes, timbangan analitik, spatula, hot plate dan magnetic stirer, loyang, termometer, plat kaca, jarum, botol timbang, desikator, penjepit, cawan petri, inkubator, autoklaf, pinset, ose, mikropipet, pembakar bunsen, penggaris, mikrometer. Universal Testing Machine (UTM). Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 variabel bebas yaitu Serbuk daun jati . 0,25. 0,50. dan 0,75 g. dengan 3 kali pengulangan. Prodi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati Prosedur pembuatan serbuk merujuk pada pembuatan ekstraksi daun jati oleh Ramadhani . dengan modifikasi yaitu proses pembuatan hanya sampai pembuatan serbuk daun jati. Pertama-tama daun jati dilakukan sortasi dengan mencuci daun hingga bersih kemudian dikecilkan ukurannya A 5x5 cm. Daun jati ditata dengan rapi pada loyang cabinet dryer, lalu dipanaskan dalam cabinet dryer. Pemanasan dilakukan dengan suhu 45 Ae 55 AC selama 22 jam. Daun jati yang sudah kering kemudian dilakukan penghalusan dan diayak dengan ayakan 80 mesh dan diuji kadar airnya . etode gravimetri Ningrum et. Pembuatan edible film mengacu pada perlakuan terbaik dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baruna . dengan modifikasi yaitu penambahan Serbuk daun jati. Proses pembuatan diawali dengan pembuatan larutan karagenan 1% dengan aquades kemudian ditambahkan tapioka 3,6% . dan serbuk daun jati sesuai dengan perlakuan. Setelah itu dihomogenkan menggunakan magnetic stirrer dan dipanaskan diatas hot plate pada suhu 80AC selama 20 menit. Pada menit ke-10, ketika suhu mencapai 60AC ditambahkan gliserol 0,32 % . , selanjutnya ditambahkan minyak sawit 0,5% . Selama penambahan bahan tersebut, pemanasan tetap berlanjut hingga 20 menit pada suhu 80AC sampai membentuk Selanjutnya larutan dituang pada plat kaca 20y20 cm yang sudah diberi alas aluminium foil, didinginkan selama 10 menitkemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 55 AC selama 22 jam. Cetakan kaca dikeluarkan dari oven dan didinginkan sekaligus rehidrasi edible film 1 jam. Lapisan film yang terbentuk dikelupas . dari aluminium foil secara hati-hati dengan bantuan jarum dan dimasukkan ke dalam wadah kedap udara untuk melindungi film dari kerusakan dan kelembapan. Film yang diperoleh diuji karakteristiknya meliputi uji kadar air . etode gravimetri Ningrum et. , 2. , ketebalan (Ningrum et. , kuat tarik (ASTM International, 2. , persen pemanjangan . (ASTM International, 2. , dan laju transmisi uap air (WVTR) . etode gravimetri modifikasi ASTM International, 2. , serta uji aktivitas antibakteri . etode cakram modifikasi Muin al, 2. Data yang didapatkan kemudian dilakukan analisis statistik dengan uji ANOVA dan kemudian dilanjutkan dengan Uji Tuckey dengan taraf 0,05 menggunakan perangkat MiniTab. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, daun jati yang sudah menjadi serbuk kemudian diuji kadar airnya. Hasil pengujian menunjukkan nilai kadar air sebesar 9,89 A 0,62%. Angka ini mengindikasikan bahwa proses pengeringan telah berhasil menurunkan kadar air hingga di bawah ambang batas pertumbuhan mikroorganisme. Kadar air di bawah 12% secara efektif mencegah pertumbuhan mikroorganisme, memastikan keamanan dan memperpanjang umur produk (Paine & Paine, 1. , menjaga kestabilan senyawa bioaktif seperti fenol, flavonoid (Lavelli dan Kerr, 2. yang terkandung dalam daun jati. Selain itu, kadar air yang optimal Prodi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati juga mempermudah proses ekstraksi karena mengurangi risiko pelarutan senyawa polar yang tidak diinginkan (Lavelli dan Kerr, 2. Edible film yang dihasilkan kemudian dilakukan pengujian Film yang diperoleh diuji karakteristiknya meliputi uji kadar air, ketebalan, kuat tarik, persen pemanjangan . , dan laju transmisi uap air (WVTR) serta pengujian aktivitas antibakteri. Tabel 2. Karakteristik Fisik dan Kimia Edible Film Kadar Air Ketebalan Tensile Elongasi (%) WVTR (%) Strength . r/cm2. (Mp. 15,54A0,03a 0,12 A 0,01c 16,56 A 5,41a 2,42 A 0,48a 0,0252 A 0,0046a 15,34A0,04a 0,15 A 0,02b 10,91A3,40ab 2,24 A 0,27a 0,0207 A 0,0023ab 15,19A1,41a 0,19A0,01ab 6,66 A 0,95b 1,18 A 0,06b 0,0166 A 0,0027b 15,61A0,90a 0,20 A 0,02a 4,18 A 2,11b 0,85 A 0,35b 0,0130 A 0,0031b Keterangan: * Rata-rata. A Standar Deviasi Perlakuan Kadar Air Penambahan serbuk daun jati tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar air setiap perlakuan yaitu berkisar antara 15,19 Ae 15,61%. Meskipun hasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa penambahan serbuk daun jati pada perlakuan tidak berpengaruh signifikan, akan tetapi terdapat penurunan kadar air dari perlakuan J0. J1 kemudian J2. Menurut Amaliya dan Putri . , semakin besar polimer yang menyusun matriks film, maka akan meningkatkan jumlah padatan sehingga jumlah air dalam edible film semakin Serbuk daun jati mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan tanin yang bersifat polar dan higroskopis. Semakin banyak serbuk daun jati yang ditambahkan, maka semakin banyak ekstraksi senyawa aktif yang dihasilkan. Penambahan ekstrak daun jati dapat memengaruhi kadar air karena ekstrak daun jati bersifat polar sehingga dapat mengikat air menggunakan daya tarik antar gugus polar (Ramadhani et. , 2. Berbanding terbalik dengan perlakuan sebelumnya, perlakuan J3 mengalami kenaikan kadar air. Hal ini dapat terjadi kemungkinan karena serbuk daun jati yang berlebih dapat menciptakan distribusi yang tidak merata dalam matriks film sehingga menghasilkan sifat yang tidak seragam. Konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pembentukan agregat yang dapat memerangkap kelembapan pada pori-pori yang terbentuk. Kehadiran pori-pori dapat memfasilitasi Prodi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati kelembapan, yang berdampak negatif pada sifat penghalang terhadap uap air (Tapia-Blycido et al. , 2. Ketebalan Perhitungan statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar Seiring bertambahnya serbuk daun jati yang ditambahkan, ketebalan film semakin bertambah sejalan dengan penambahan padatan total. Kandungan padatan total yang bertambah menghasilkan film yang lebih tebal pasca pengeringan. Hasil yang serupa juga ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Duan et al. , 2016 yang menambahkan serbuk teh pada edible film kedua penelitian. Ketebalan edible film yang dihasilkan semakin tebal seiring dengan penambahan serbuk teh. Kuat Tarik atau Tensile Strength Penambahan serbuk daun jati berpengaruh signifikan terhadap kuat tarik atau tensile strength edible film. J0 menunjukkan tensile, sedangkan seiring penambahan serbuk duan jati membuat penurunan nilai kuat tarik edible film. Penurunan tersebut kemungkinan diakibatkan adanya gangguan pada matriks film, distribusi partikel yang tidak homogen, dan berkurangnya fleksibilitas. Sejalan dengan hal tersebut. Sewda dan Maiti . menyatakan bahwa filler dapat mengganggu sifat mekanik matriks, terutama ketika tidak terintegrasi dengan baik. Partikel serbuk daun jati yang tidak terdistribusi merata menciptakan titik lemah yang menurunkan kemampuan film untuk menahan gaya tarik (Masturi et al. , 2. Elongasi Penambahan serbuk daun jati memberikan pengaruh signifikan terhadap nilai Nilai elongasi mengalami penurunan sejalan dengan banyaknya serbuk daun jati yang ditambahkan. Penurunan nilai elongasi dikarenakan serbuk daun jati sebagai filler pada edible film mengganggu matriks yang terbentuk. Penambahan filler sering menyebabkan penurunan perpanjangan saat putus, seperti yang terlihat dalam berbagai penelitian komposit (Sewda & Maiti, 2. Serbuk daun jati membentuk ikatan hidrogen dengan matriks polimer, membatasi pergerakan rantai polimer dan akhirnya mengakibatkan peningkatan kekakuan dan kerapuhan film (Sewda dan Maiti, 2. Selain itu, keberadaan serbuk daun jati dapat membatasi efektifitas gliserol yang bertindak sebagai plasticize, sehingga fleksibilitas berkurang (Prashanth et al. , 2. Distribusi serbuk daun jati yang tidak Prodi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati homogen dapat menyebabkan aglomerasi, menciptakan titik lemah dalam struktur film yang semakin mengurangi perpanjangan edible film. Laju Transmisi Uap Air atau Water Vapour Transmition Rate (WVTR) Penambahan serbuk daun jati berpengaruh signifikan terhadap WVTR. Terdapat penurunan nilai WVTR seiring dengan penambahan serbuk daun jati. Penambahan serbuk daun jati mengisi celah di antara matriks polimer edible film, sehingga menciptakan jalur yang lebih berliku untuk difusi uap air. Jalur yang lebih sempit ini secara efektif menghambat pergerakan uap air menembus film (Sapru & Labuza, 1. Daun jati mengandung senyawa fenolik dan komponen hidrofobik lainnya yang dapat menurunkan afinitas film terhadap air (Duan et al. , 2. Senyawa seperti -sitosterol (Kurniawan et al. dan tectonoelin A/B (Lacret et al. , 2. memiliki struktur cincin benzena yang bersifat hidrofobik. Struktur cincin benzena ini menyediakan barrier untuk molekul air, sehingga film yang mengandung senyawa fenolik memiliki fungsi yang diperkaya sebagai antioksidan dan barier kelembapan (Wang et al. , 2. Aktivitas Antibakteri Tabel 3 Zona Hambat Edible Film Terhadap Bakteri lingkungan dan Bakteri Escherichia Perlakuan Zona Hambat . Bakteri Lingkungan Escherichia coli 1,33 A 1,53c 0,00 A 0,00b 14,00 A 1,00b 14,00 A 1,00a 15,33 A 0,58ab 14,33 A 0,58a 16,67 A 0,58a 14,33 A 0,58a Keterangan: * Rata-rata. A Standar Deviasi Penambahan serbuk daun jati pada edible film dapat menambahkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri lingkungan dan bakteri Escherechia coli. Kehadiran senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin dalam daun jati berkontribusi pada aktivitas antibakteri ini dengan merusak membran sel dan mengganggu proses metabolisme. Usin . menyatakan bahwa senyawa-senyawa flavonoid dan tanin dalam daun jati mengganggu membran sel bakteri dan menghambat sintesis protein. Karagenan dan tapioka sebagai matriks film berperan sebagai carrier yang memungkinkan pelepasan bertahap senyawa aktif dari daun jati ke lingkungan sekitar, sehingga memperpanjang efek antibakteri edible film (Ramadhani et , 2. Prodi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian, 7. , 2025 Ika Fatya Diva Auliya. Masrukan. Ambar Rukmini, dan Dyah Titin Laswati KESIMPULAN DAN SARAN Penambahan serbuk daun jati secara signifikan meningkatkan aktivitas antibakteri edible film terhadap Bakteri Lingkungan dan Bakteri Escherichia coli. Terhadap Escherichia coli, meskipun peningkatan konsentrasi (J1AeJ. tidak menunjukkan perbedaan signifikan, efektivitas antibakteri tetap konsisten. Serbuk daun jati berpengaruh signifikan terhadap karakteristik fisik edible film: ketebalan meningkat, tensile strength dan elongasi menurun serta WVTR menurun. Namun, kadar air tidak berubah signifikan. Perlu dilakukan penelitian lanjut untuk menentukan konsentrasi optimal serbuk daun jati pada edible film terhadap bakteri Escherichia coli. Pengembangan formulasi juga perlu dilakukan jika ukuran serbuk daun jati yang digunakan tetap sama, misalnya peningkatan konsentrasi plasticizer, penambahan bahan emulsifier, atau penambahan bahan yang dapat berfungsi sebagai DAFTAR PUSTAKA