SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 E-ISSN 2988-0823 | P-ISSN 2988-0858 Website: https://ejurnal-unisap. id/index. php/sibernetik/index Email: ejurnal. sibernetik@gmail. PERAN PENUGASAN JUMAT IBADAH TERHADAP PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA Heykhel Ahmad Novaldi Ilham1. Isnadiah Nur Aini2. Lilis Setiyowati3. Asmaroni4. Ulfah Susilawati5 Universitas Islam Negeri Salatiga1,2,3,4,5 Email Korespondensi: 3ahmadnovaldi@gmail. comuO Info Artikel Histori Artikel: Masuk: 15 November 2025 Diterima: 31 Desember 2025 Diterbitkan: 31 Desember 2025 Kata Kunci: Penugasan Jumat Ibadah. Kepercayaan Diri Siswa. Self Confidence. Tanggung jawab. Keagamaan ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis peran Penugasan Jumat Ibadah sebagai kegiatan keagamaan terstruktur berbasis penugasan peran publik dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa di MTs Negeri Salatiga. Penugasan Jumat Ibadah melibatkan siswa secara bergilir sebagai pelaku utama kegiatan, seperti menjadi MC, memimpin pembacaan Yasin, tahlil, doa, dan menyampaikan kultum, sehingga memberi pengalaman langsung tampil di depan umum dalam konteks religius. Penelitian ini dilandasi asumsi bahwa pemberian tanggung jawab dan pengalaman keberhasilan . astery experienc. dapat memperkuat self-confidence siswa. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian guru pembimbing dan siswa kelas VIIAeIX yang terlibat aktif dalam program tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum bertugas, sebagian besar siswa mengalami kecemasan, rasa takut, dan kurang percaya diri. Namun, setelah mengikuti penugasan secara berkelanjutan, siswa menunjukkan peningkatan kepercayaan diri yang nyata, terutama pada dimensi afektif . asa lega, bangga, dan termotivas. , perilaku . elancaran berbicara, stabilitas suara, dan keberanian tampi. , serta kognitif . eyakinan terhadap kemampuan dir. Penugasan Jumat Ibadah terbukti berperan sebagai wahana pembelajaran berbasis pengalaman religius yang efektif dalam memperkuat self-efficacy siswa, meskipun masih memerlukan penguatan pada aspek latihan singkat dan pendampingan sistematis. This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Pendidikan nasional pada hakikatnya tidak hanya diarahkan pada penguasaan aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik secara utuh. Arah tersebut ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menempatkan pengembangan iman, takwa, akhlak mulia, kecerdasan, dan tanggung jawab sebagai tujuan utama pendidikan. Salah satu aspek kepribadian yang memiliki peran strategis dalam menunjang keberhasilan akademik dan sosial siswa adalah kepercayaan diri. Kepercayaan diri menjadi prasyarat penting bagi siswa untuk mampu berbicara di depan umum, berinteraksi secara sehat, mengambil keputusan, serta tampil aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah cenderung mengalami kecemasan, keraguan, pasif dalam kelas, serta enggan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, sehingga berpotensi menghambat pengembangan potensi dirinya secara optimal. Dalam perspektif psikologi pendidikan, kepercayaan diri berkaitan erat dengan konsep selfefficacy yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Konsep ini menjelaskan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuannya dibentuk melalui empat sumber utama, yaitu pengalaman langsung . astery CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 experienc. , pengalaman tidak langsung . icarious experienc. , persuasi sosial, serta kondisi fisiologis dan emosional. Semakin sering individu memperoleh pengalaman keberhasilan dalam suatu aktivitas, maka semakin kuat pula tingkat kepercayaan dirinya (Albert Bandura, 1. Dalam pendidikan Islam, kepercayaan diri juga memiliki dimensi spiritual. Al-Ghazali, menegaskan bahwa ibadah tidak hanya berfungsi sebagai ritual formal, tetapi juga sebagai sarana pembinaan mental, penguatan akhlak, serta pembentukan keberanian moral. Dengan demikian, praktik keagamaan yang melibatkan keterlibatan aktif peserta didik memiliki potensi besar untuk membentuk keteguhan sikap, tanggung jawab, dan keberanian dalam kehidupan sosial. (Al-Ghazali, 2. Sejalan dengan konsep tersebut, madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan penguatan karakter religius dan kepercayaan diri melalui kegiatan Salah satu bentuk konkret implementasi pendidikan karakter religius di madrasah adalah Program Penugasan JumAoat Ibadah, yaitu kegiatan ibadah rutin mingguan yang melibatkan siswa secara langsung sebagai pelaku utama, seperti bertugas menjadi MC, memimpin tahlil dan doa, membaca Yasin, serta menyampaikan kultum. Melalui mekanisme penugasan ini, siswa tidak hanya dilatih memahami aspek ritual keagamaan, tetapi juga dituntut untuk berani tampil di depan umum, mengelola rasa gugup, berkomunikasi secara efektif, serta memikul tanggung jawab sosial di hadapan temantemannya. Penelitian mengenai pembiasaan religius di sekolah menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan mampu meningkatkan efikasi diri dan karakter siswa (Nurdini, 2023. Aswidar, 2. Beberapa kajian lebih lanjut menyoroti hubungan religiusitas dengan self-esteem serta penyesuaian psikologis (Arshad & Uzair, 2017. Astrica, 2. Dalam ranah public speaking, intervensi pelatihan terstruktur terbukti efektif menaikkan self-efficacy berbicara remaja (Agustin, 2022. Siboro, 2022. Maulidha, 2. Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut belum mengkaji penugasan ibadah berbasis peran publik (MC, kultum, do. sebagai pengalaman mastery yang diarahkan khusus untuk menguatkan kepercayaan diri, terutama pada konteks madrasah negeri. Oleh karena itu, riset spesifik yang menelaah mekanisme penugasan ibadah terhadap self-confidence masih diperlukan. Berdasarkan hasil observasi awal di MTs Negeri Salatiga menunjukkan bahwa pada awal pelaksanaan program, masih terdapat sejumlah siswa yang mengalami keraguan, kecemasan, dan kurang percaya diri ketika harus berbicara atau memimpin kegiatan di hadapan teman sejawat. Gejala tersebut tampak dari sikap gugup, suara yang tidak stabil, serta kecenderungan menghindari tugas tampil di depan umum. Namun, setelah siswa mengikuti Program Penugasan JumAoat Ibadah secara berkelanjutan, mulai terlihat perubahan positif berupa meningkatnya keberanian, kesiapan mental, serta kelancaran dalam berbicara di depan publik. Fenomena ini secara teoritis selaras dengan teori mastery experience dalam self-efficacy, bahwa pengalaman keberhasilan yang diperoleh secara berulang akan membentuk kepercayaan diri yang semakin kuat. Secara empiris, berbagai penelitian nasional lima tahun terakhir menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan berkontribusi nyata terhadap pembentukan karakter dan kepercayaan diri siswa. Nurdini membuktikan bahwa pembiasaan religius berpengaruh signifikan terhadap efikasi diri siswa (Nurdini, 2. , sementara Aswidar menegaskan bahwa kegiatan keagamaan terstruktur mampu membentuk disiplin dan tanggung jawab peserta didik (Aswidar, 2. Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Saefullah menemukan bahwa integrasi nilai religius dalam pembelajaran meningkatkan keberanian siswa dalam berinteraksi sosial (Saefullah, 2. Prasongko menunjukkan bahwa program keagamaan sekolah berdampak positif terhadap perkembangan kepribadian siswa (Prasongko, 2. , sedangkan Fiaji membuktikan bahwa pembiasaan aktivitas ibadah berpengaruh terhadap keberanian siswa dalam mengekspresikan pendapat (Fiaji, 2. Dari aspek pengukuran karakter. Saputra menyatakan bahwa religiusitas merupakan variabel penting dalam pembentukan kepercayaan diri siswa (Saputra, 2. Haryanto menemukan bahwa self-efficacy berpengaruh langsung terhadap keberhasilan pembelajaran agama (Haryanto, 2. , yang diperkuat oleh temuan Astrica tentang peran lingkungan religius terhadap stabilitas emosional siswa (Astrica, 2. Selanjutnya. Ibni Mubarok. CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 membuktikan bahwa pendidikan karakter religius dapat diintegrasikan secara efektif melalui pembelajaran lintas mata pelajaran (Ibni Mubarok, 2. , dan Saragih, menegaskan hubungan positif antara kepercayaan diri dan perilaku moral siswa (Saragih, 2. Meskipun penelitian-penelitian tersebut telah membuktikan bahwa kegiatan keagamaan berdampak positif terhadap karakter dan kepercayaan diri siswa, sebagian besar kajian masih menempatkan kegiatan keagamaan dalam kerangka yang bersifat umum, seperti pembiasaan religius, pembelajaran Pendidikan Agama Islam, atau penguatan nilai moral secara luas. Penelitian-penelitian tersebut belum secara spesifik menelaah mekanisme penugasan ibadah yang menempatkan siswa sebagai pelaku utama dalam peran publik. Selain itu, penelitian sebelumnya masih menempatkan kepercayaan diri sebagai bagian dari konstruk karakter secara umum dan belum mengukurnya melalui dimensi kognitif, afektif, dan perilaku dalam konteks kegiatan ibadah berbasis performa. Oleh karena itu, terdapat celah penelitian yang signifikan terkait belum adanya kajian empiris yang secara fokus menghubungkan Penugasan Jumat Ibadah dengan peningkatan kepercayaan diri siswa secara terstruktur dan terukur, khususnya pada konteks madrasah negeri. Berdasarkan celah yang ditemukan, belum ada kajian yang menganalisis penugasan JumAoat ibadah berbasis performa peran publik sebagai bentuk experiential mastery. Penelitian ini terletak pada pengkajian Penugasan Jumat Ibadah sebagai model penguatan kepercayaan diri siswa berbasis peran publik dalam kegiatan ibadah, yang dianalisis melalui tiga dimensi utama, yaitu kognitif, afektif, dan Penelitian ini secara spesifik memposisikan penugasan ibadah sebagai instrumen pembelajaran pengalaman langsung . astery experienc. yang berorientasi pada pelatihan keberanian tampil, tanggung jawab sosial, serta penguatan self-efficacy siswa. Selain itu, kebaruan penelitian ini juga terletak pada konteks institusional madrasah negeri, yang hingga saat ini masih relatif minim dikaji dalam kaitannya dengan program ibadah berbasis penugasan peran publik. Salah satu masalah yang dapat diidentifikasi dari uraian di atas adalah sebagai berikut: . masih ada siswa yang menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang rendah saat berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan di depan umum, . tidak ada penelitian ilmiah yang mengevaluasi sejauh mana Penugasan Jumat Ibadah berdampak pada peningkatan kepercayaan diri, dan ada kebutuhan akan pendekatan pembelajaran berbasis religius yang menggabungkan penguatan kepercayaan diri. Berangkat dari permasalahan yang muncul di lingkungan madrasah, penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam bagaimana pelaksanaan program Penugasan Jumat Ibadah di MTs Negeri Salatiga serta dampaknya terhadap kepercayaan diri siswa. Rumusan masalah mencakup tiga hal utama, yaitu bagaimana program tersebut dilaksanakan, bagaimana tingkat kepercayaan diri siswa sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan, serta bagaimana peran program ini dalam meningkatkan rasa percaya diri mereka. Tujuan penelitian pun disusun selaras dengan rumusan masalah, yakni mendeskripsikan pelaksanaan program, menganalisis perubahan tingkat kepercayaan diri siswa, dan mengidentifikasi kontribusi Penugasan Jumat Ibadah terhadap peningkatan kepercayaan diri. Untuk memberikan arah penelitian yang lebih jelas, fokus penelitian dibatasi pada analisis peran Penugasan Jumat Ibadah dalam membentuk kepercayaan diri siswa. Penelitian ini memerhatikan bagaimana kegiatan tersebut dapat menjadi ruang latihan bagi siswa untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dan keberanian dalam konteks ibadah maupun kegiatan sosial. Dengan demikian, penelitian tidak hanya melihat proses pelaksanaan program, tetapi juga bagaimana pengalaman religius yang terstruktur dapat memengaruhi perkembangan psikologis siswa, terutama dalam hal keyakinan terhadap kemampuan diri. Penelitian ini kemudian meninjau peran program melalui tiga aspek utama, yaitu kognitif, afektif, dan perilaku. Pada aspek kognitif, penelitian menyoal pemahaman siswa mengenai tanggung jawab dan tata cara pelaksanaan ibadah. Pada aspek afektif, penelitian melihat perkembangan sikap seperti rasa tanggung jawab, keberanian, motivasi, serta kebanggaan diri. Sementara itu, aspek perilaku menekankan kemampuan siswa dalam berbicara di depan umum, memimpin kegiatan, serta berinteraksi CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 sosial dengan percaya diri. Ketiga aspek ini digunakan untuk menilai sejauh mana Penugasan Jumat Ibadah berkontribusi terhadap peningkatan kepercayaan diri siswa secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis terhadap penguatan gagasan pendidikan karakter berbasis religius dan kontribusi praktis bagi sekolah dan guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kepercayaan diri siswa. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi referensi bagi madrasah lain dalam mengembangkan kegiatan serupa yang sejalan dengan tujuan pembelajaran abad ke-21. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini menggunakan pendekatan dengan tipe deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk menggambarkan fenomena secara mendalam terkait dengan perubahan kepercayaan diri pada siswa setelah menjadi petugas dalam Jumat Ibadah. Pendekatan ini dipilih karena penelitian kualitatif sangat membantu peneliti dalam memahami makna, pengalaman subjektif, serta interpretasi siswa dan guru terhadap kegiatan Jumat Ibadah di sekolah (Creswell, 2. Penelitian mengenai pembiasaan religius di sekolah menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan mampu meningkatkan efikasi diri dan karakter siswa (Nurdini, 2023. Aswidar, 2. Beberapa kajian lebih lanjut menyoroti hubungan religiusitas dengan self-esteem serta penyesuaian psikologis (Arshad & Uzair, 2017. Astrica, 2. Dalam ranah public speaking, intervensi pelatihan terstruktur terbukti efektif menaikkan self-efficacy berbicara remaja (Agustin, 2022. Siboro, 2022. Maulidha, 2. Meskipun demikian, penelitianpenelitian tersebut belum mengkaji penugasan ibadah berbasis peran publik (MC, kultum, do. sebagai pengalaman mastery yang diarahkan khusus untuk menguatkan kepercayaan diri, terutama pada konteks madrasah negeri. Oleh karena itu, riset spesifik yang menelaah mekanisme penugasan ibadah terhadap self-confidence masih diperlukan. Menurut Bogdan & Biklen . , penelitian kualitatif bertujuan mampu memahami proses dan makna dari setiap tindakan manusia, sehingga sesuai digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana siswa mengalami perubahan emosi, keyakinan, dan kepercayaan diri selama bertugas. Proses penelitian ini terdiri dari 4 tahap: . Pra-lapangan Ae penyusunan instrumen wawancara . Pelaksanaan Ae melakukan wawancara terhadap siswa dan guru pembimbing. Pasca-kegiatan Ae pengumpulan inforasi secara detail dan dokumentasi. Analisis data Ae mengkategorikan informasi yang diperoleh berdasarkan topik pembahasan serta pengolahan informasi menjadi pokok bahasan. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri Salatiga, yang memiliki program Jumat Ibadah secara Sekolah ini juga memiliki guru pembimbing khusus dan beberapa siswa yang bertindak sebagai petugas acara secara bergiliran. Penelitian ini berlangsung selama satu semester ketika Jumat Ibadah Subjek penelitian adalah guru pembimbing Jumat Ibadah, yang bertanggung jawab untuk mengatur kegiatan Jumat Ibadah dan memenuhi kebutuhan siswa, serta beberapa siswa yang berpartisipasi secara bergilir dengan perwakilan dari setiap kelas. Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan yang dapat dinilai mampu mengetahui dan mengalami langsung fenomena penelitian (Patton. Kriteria informan meliputi . siswa yang sudah menjalankan tugas ibadah minimal dua kali selama bersekolah di MTs N Salatiga, . guru pembimbing yang aktif mengatur dan menjadi penanggung jawab kegiatan Jumat Ibadah, . Siswa yang bersedia untuk dilakukan wawancara dan dapat menyampaikan pengalaman dengan jujur dan terbuka secara nyata. Teknik ini dipilih karena sesuai untuk penelitian kualitatif yang membutuhkan kedalaman data, bukan jumlah yang besar (Miles. Huberman & Saldaya, 2. Peneliti berperan sebagai instrumen utama sebagaimana dijelaskan Lincoln & Guba . bahwa peneliti kualitatif harus hadir selama pelaksanaan Jumat Ibadah untuk menginterpretasi data secara menyeluruh. Kehadiran peneliti meliputi . mengikuti kegiatan Jumat Ibadah, . berinteraksi dengan guru pembimbing, . mewawancarai siswa setelah penugasan. Peneliti menjaga etika CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 penelitian dengan meminta izin kepada guru pembimbing, menjaga kerahasiaan informasi, dan memastikan kenyamanan pada informan selama proses wawancara. Teknik pengumpulan data menggunakan tiga pendekatan, yaitu: Wawancara Mendalam Wawancara ini dilakukan terhadap guru pembimbing dan siswa petugas. Format wawancara bersifat semi-terstruktur untuk memberi kebebasan sambil tetap memfokuskan pada topik penelitian (Kvale, 1. Pertanyaan yang diajukan meliputi: . perasaan siswa sebelum bertugas, . ketakutan atau kecemasan yang muncul, . pengalaman selama bertugas, . perubahan kepercayaan diri setelah selesai dalam bertugas. Observasi partisipatif Peneliti mengamati langsung pada proses . persiapan siswa sebagai petugas, . pelaksanaan acara, . respon siswa dan guru, . situasi emosional yang dirasakan. Pendekatan partisipatif mengikuti panduan Spradley . yang memungkinkan peneliti terlibat tanpa mengganggu berjalannya kegiatan Jumat Ibadah. Dokumentasi Pada dokumentasi meliputi beberapa hal sebagai berikut . foto kegiatan, . catatan guru pembimbing dan siswa. Dokumentasi digunakan suoaya mampu memperkuat data hasil wawancara dan observasi. Pada penelitian ini, instrumen utama adalah peneliti sendiri yang didukung oleh instrumen pendukung berupa . pedoman wawancara, . catatan lapangan, . recorder untuk wawancara. Pedoman wawancara disusun berdasarkan indikator perubahan kepercayaan diri seperti konsep diri, ekspresi emosi, kesiapan tampil, dan persepsi diri setelah menjalankan tugas (Bandura, 1. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman . yang terdiri dari . reduksi data, yaitu bertujuan untuk menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan data wawancara dan observasi, . penyajian data yaitu penyusunan data dalam bentuk narasi, kutipan langsung dari informan, serta temuan tematik, . penarikan kesimpulan yaitu menafsirkan pola, hubungan, dan perubahan kepercayaan diri siswa berdasarkan bukti lapangan. Untuk teknik keabsahan data diperkuat dengan melalui . triangulasi sumber yaitu membandingkan data dari guru, siswa, dan dokumentasi (Patton, 2. , . triangulasi teknik yaitu mencocokkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, . mengonfirmasi hasil wawancara kepada narasumbber supaya sesuai dengan apa yang dijelaskan (Lincoln & Guba, 1. , . audit trail yaitu menyimpan seluruh catatan proses penelitian sebagai bukti keterlacakan. Penelitian ini hanya dilakukan di satu sekolah sehingga tidak dapat digeneralisasikan ke tingkat yang lebih luas. Selain itu, subjeknya terbatas dan hasilnya bergantung pada apa yang disampaikan oleh narasumber, sehingga penjelasan tidak selalu memberikan hasil yang terbaik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian ini disajikan berdasarkan analisis data Miles & Huberman yang menghasilkan empat tema utama: . Pelaksanaan Jumat Ibadah, . Kondisi kepercayaan diri siswa sebelum bertugas, . Perubahan kepercayaan diri setelah bertugas, dan . Faktor pendukung dan penghambat. Keempat tema ini sekaligus menjawab seluruh rumusan masalah penelitian. Pelaksanaan Jumat Ibadah di MTs Negeri Salatiga Berdasarkan hasil observasi partisipatif, kegiatan Jumat Ibadah dilaksanakan setiap hari Jumat dengan struktur kegiatan yang relatif tetap, mulai dari pembukaan, pembacaan Yasin, tahlil, doa bersama, kultum, hingga penutup. Penugasan siswa dilakukan secara bergilir, dengan bimbingan langsung oleh guru pembimbing. Guru menjelaskan bahwa sistem rotasi ini bertujuan memberikan pengalaman yang sama bagi setiap siswa. Hal tersebut ditegaskan oleh guru pembimbing (Bambang Riyant. yang menyatakan. AuSemua anak memang harus merasakan jadi petugas. Tidak boleh hanya CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 yang berani sajaAy. Observasi lapangan juga menunjukkan bahwa pelaksanaan dilakukan secara terjadwal dengan durasi yang terbatas, dan hanya berlangsung 20Ae30 menit pada saat kegiatan dimulai. Pelaksanaan kegiatan berjalan tertib dan kondusif, meskipun beberapa siswa tampak masih mengandalkan arahan guru selama kegiatan berlangsung, terutama pada minggu-minggu awal. Namun secara umum, struktur kegiatan yang ajeg dan dukungan guru membuat proses berjalan lancar. Temuan ini mengindikasikan bahwa Jumat Ibadah bukan hanya kegiatan rutin keagamaan, tetapi juga merupakan wadah pembinaan keterampilan sosial dan keberanian siswa melalui pengalaman tampil di depan umum. Tingkat Kepercayaan Diri Siswa Sebelum Bertugas Tema kedua menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami kecemasan sebelum menjalankan tugas. Data hasil wawancara menunjukkan adanya rasa takut dinilai, khawatir salah membaca, dan rasa malu menjadi pusat perhatian. Seorang siswa mengungkapkan. AuRasanya agak tegang, tapi juga seneng karena bisa berperan aktif dalam kegiatan sekolahAy (Nova Adyuta Zakk. Ungkapan serupa disampaikan siswa lain. AuAgak takut sedikit, tapi tetep dilakukan karena sebagai petugasAy (Afirsan Fabian Syari. Perasaan tersebut juga tampak selama observasi, di mana siswa yang mendapat tugas tampak sering melihat catatan, dan mengulang teks secara berulang. Temuan ini menunjukkan bahwa tahap prakegiatan merupakan fase paling menegangkan bagi siswa, terutama bagi mereka yang belum terbiasa tampil di depan umum. Kondisi ini selaras dengan teori bahwa kecemasan performatif umum dialami remaja yang belum memiliki pengalaman berbicara di depan kelompok besar. Perubahan Kepercayaan Diri Siswa Setelah Bertugas Tema ketiga menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Sebagian besar siswa melaporkan peningkatan kepercayaan diri setelah menyelesaikan tugas sebagai petugas Jumat Ibadah. Seorang siswa menyatakan. AuRasanya jauh lebih lega dan lebih percaya diri setelahnyaAy (Nova Adyuta Zakk. Siswa lain mengungkapkan. AuAwalnya takut banget, tapi pas selesai merasa lega dan bangga sama diri sendiriAy (Afirsan Fabian Syari. Observasi juga mendukung pernyataan tersebut. Pada pertemuan berikutnya, siswa yang sudah pernah bertugas terlihat lebih tenang, lebih berani mengajukan diri berlatih, dan tidak lagi menunjukkan kecemasan berlebihan. Bahkan terdapat siswa yang semula pemalu, namun setelah bertugas menjadi lebih aktif pada kegiatan kelas. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman langsung menjadi petugas memberikan dampak positif yang bersifat mastery experience, yaitu pengalaman keberhasilan yang dapat mendorong pertumbuhan kepercayaan diri. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pembentukan Kepercayaan Diri Penelitian ini menemukan adanya faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perubahan kepercayaan diri siswa. Faktor pendukung utama berasal dari bimbingan guru, dukungan teman sebaya, dan pengalaman tampil yang berulang. Guru pembimbing berperan penting sebagai scaffolder yang membantu siswa mempersiapkan materi dan memberi dorongan mental. Seorang guru mengatakan. AuKalau anaknya gugup, kami damping. Yang penting mereka mau mencoba duluAy (Bambang Riyant. Dukungan teman sebaya juga tampak signifikan. Ketika siswa lain memberikan tepuk tangan atau respons positif, petugas merasa lebih diterima. Sebaliknya, faktor penghambat berasal dari keterbatasan waktu latihan, perasaan malu, dan ketakutan membuat kesalahan. Beberapa siswa mengaku tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri, sehingga merasa kurang yakin sebelum tampil. Namun demikian, hambatan tersebut tidak menghalangi terbentuknya peningkatan kepercayaan diri secara bertahap. Berikut ini rotasi penugasan program JumAoat Ibadah CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 Tabel 1. Rotasi penugasan program JumAoat Ibadah Kelas Peran Petugas Bentuk Bimbingan Pendampingan intensif guru Kultum Rehersi 10 menit sebelum kegiatan Doa & Tahlil Bimbingan dalam pelafalan Pembahasan Hasil bahwa Jumat Ibadah memberikan peningkatan kepercayaan diri melalui pengalaman tampil menguatkan landasan teori experiential learning Kolb pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen ulang membentuk siklus pembelajaran yang mematangkan keterampilan sosial dan emosional peserta (Kolb, 1. Dimensi Indikator Kondisi Sebelum Afektifitas Perasaan saat tampil Gugup dan merasa takut Perilaku Suara & gestur tubuh Kognitif Persepsi kemampuan Intonasi tidak stabil dan masih membutuhkan Merasa tidak yakin pada dirinya sendiri Kondisi Sesudah Merasa lega, bangga pada diri, dan termotivasi Bicara lebih lancar dan interaksi kontak mata lebih meningkat Merasa lebih percaya diri Temuan empiris tentang peningkatan self-efficacy melalui praktik tampil di depan publik juga selaras dengan temuan studi mengenai self-efficacy berbicara di depan umum yang menunjukkan peningkatan setelah latihan/ pelatihan terstruktur (Agustin, 2022. Siboro, 2. Peran guru sebagai pembimbing yang memberi umpan balik, contoh, dan pendampingan konsisten sesuai dengan konsep scaffolding dalam Zona Perkembangan Proksimal Vygotsky: dukungan yang disesuaikan memungkinkan siswa melewati titik ketidakmampuan menuju kemandirian performatif. Temuan lapangan bahwa dukungan guru mengurangi kecemasan dan mempercepat adaptasi siswa sejalan dengan penelitian lokal yang menekankan pentingnya peran pendamping dalam program pembinaan karakter dan kegiatan keagamaan sekolah (Hidayat, 2. Keterbatasan waktu latihan yang tercatat dalam temuan merupakan masalah praktis yang sering muncul pada kegiatan rutin sekolah. literatur tentang kegiatan ekstrakurikuler dan pendidikan karakter menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran berbasis pengalaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan waktu latihan, struktur program, dan dukungan institusional (Rahayu, 2023. Kartikasari. Hasil penelitian ini mendukung temuan Nurdini . bahwa program religius meningkatkan self-efficacy, tetapi riset ini mengungkap jalur yang lebih spesifik, yakni melalui pengalaman mastery ketika siswa menjalankan peran publik di depan teman sejawat. Selain itu, temuan afektif berupa rasa bangga dan lega setelah bertugas selaras dengan hasil penelitian pada public speaking remaja oleh Siboro . dan Agustin . Perbedaannya, penelitian ini menempatkan penugasan ibadah sebagai proses pembelajaran pengalaman religius, bukan sebagai intervensi pelatihan umum. Selain itu, penelitian eksperimental terapan pada public speaking . metode vicarious experience atau modul AuSpeak Up NowA. menunjukkan bahwa intervensi yang memanfaatkan pengalaman pengamatan dan latihan terstruktur dapat menaikkan self-efficacy secara signifikan pada remaja (Maulidha, 2. Temuan ini relevan untuk menyarankan pengayaan praktik Jumat Ibadah dengan teknik-teknik pelatihan singkat yang telah terbukti efektif. Secara teoretis, penelitian ini menyumbang pada dialog akademik dengan menunjukkan jalur mekanistik perubahan: . kecemasan awal . eksposur pengalaman . dan scaffolding guru . pengalaman keberhasilan . CopyrightA 2025 | SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 3. Nomor 2. Desember 2025 . peningkatan self-efficacy . perubahan perilaku . ebih aktif, beran. Jalan ini tidak hanya mereplikasi teori klasik Bandura dan Kolb, tetapi juga memberi bukti kontekstual di setting sekolah Islam di Indonesia, sehingga memberikan dasar rekomendasi praktis: penambahan modul latihan singkat, peningkatan peer-support, dan monitoring berkala untuk siswa yang butuh waktu adaptasi lebih (Bandura, 1. Akhirnya, perbandingan dengan literatur Indonesia terbaru menunjukkan konsistensi: studi-studi lokal menyatakan bahwa kegiatan religius dan ekstrakurikuler yang berstruktur mendukung perkembangan karakter dan aspek sosial-emosional siswa, namun efektivitasnya meningkat bila program disertai intervensi pelatihan dan dukungan guru yang konsisten (Rahayu, 2023. Kartikasari. Hidayat, 2. Hal ini mempertegas bahwa rekomendasi implementatif dari penelitian ini yaitu memperpanjang atau memformalkan sesi latihan singkat dan melatih guru pada teknik scaffolding untuk publik speaking memiliki dasar empiris dan dapat diuji dalam studi lanjutan. PENUTUP Dari hasil kajian pendahuluan dan hasil pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa, dalam pelaksanaan program Penugasan Jumat Ibadah di MTs Negeri Salatiga bertujuan untuk mengetahui serangkaian pelaksanaan program Penugasan Jumat Ibadah di MTs Negeri Salatiga. Pelaksanaan Program Penugasan Jumat Ibadah di MTs Negeri Salatiga secara bergilir memberikan dampak positif bagi kepercayaan diri siswa melalui pengalaman mastery. Perubahan paling menonjol terjadi pada dimensi afektif . asa lega dan kebanggaa. , serta dimensi perilaku . uara lebih stabil, gestur lebih percaya diri, dan keterlibatan lebih aktif di kelas setelah bertuga. Program ini berperan sebagai ruang latihan keberanian berbasis keagamaan yang efektif, meskipun masih membutuhkan penguatan pada sesi rehearsal singkat dan peningkatan kualitas media visual kegiatan. Kelemahan dalam penelitian ini, yaitu data hasil wawancara yang telah dilakukan hanya mendapatkan sumber informasi dari beberapa siswa, tidak meliputi seluruh siswa MTs Negeri Salatiga. Jadi, hasil pembahasan kurang merinci. Saran untuk penelitian ini yaitu, jika penelitian ini dilanjutkan, maka tidak hanya mencari sumber informasi tidak hanya dari satu sekolah saja, mungkin bisa beberapa sekolah dan narasumber lebih banyak, agar sumber informasi yang diperoleh lebih merinci dan valid. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar program Penugasan Jumat Ibadah diperkuat melalui penambahan sesi latihan singkat sebelum siswa bertugas, mengembangkan mekanisme pendampingan yang lebih sistematis dalam Program Penugasan Jumat Ibadah, serta penyediaan evaluasi berkala terkait perkembangan kepercayaan diri siswa. Penelitian selanjutnya dapat melibatkan lebih banyak sekolah dan variasi peran tugas untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas program. Selain itu, penelitian berikutnya diharapkan dapat melibatkan jumlah informan yang lebih beragam dan konteks madrasah yang berbeda untuk memperluas pemahaman mengenai peran kegiatan keagamaan terhadap penguatan kepercayaan diri siswa. DAFTAR PUSTAKA