Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal TINGKAT PENCAPAIAN KOMPETENSI MAHASISWA PROGRAM PROFESI DOKTER DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PATTIMURA JOHAN BRUIYF BENSION1. SAMUEL MARUANAYA2. LAURA BIANCA SYLVIA HUWAE3. STAZIA NOIJA4 Fakultas Kedokteran. Universitas Pattimura1,2,3. Fakultas Kedokteran. Universitas Bosowa4 Email: hutagalung. jb@gmail. com1, samuel. maruanaya@lecturer. laurahuwae@yahoo. com3, stazianoija94@gmail. Coresspondence Author: hutagalung. jb@gmail. Abstract: Clinical education constitutes a crucial phase in the development of professional competence among medical students. Evaluating the level of competency achievement during the clerkship phase is essential to ensure that the implementation of clinical education aligns with the Standa Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). This study aimed to assess the level of medical competency achievement among clerkship students at the Faculty of Medicine. Universitas Pattimura (FK UNPATTI). A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted involving 171 clerkship students who had completed clinical rotations in the Departments of Obstetrics and Gynecology. Psychiatry. Ophthalmology. OtorhinolaryngologyAeHead and Neck, and Neurology in September 2024. Data were collected using a structured questionnaire based on the SKDI 2012 disease list and competency levels, employing a 1Ae5 frequency scale. Data analysis was performed using Microsoft Excel. The results showed that most respondents were from the 2018 batch . 2%). The majority achieved competencies at level 3 . iagnosing, performing initial management, and referrin. and level 4 . iagnosing and managing independentl. The most frequently encountered cases included normal pregnancy . 5%), tension headache, insomnia, and acute otitis media, whereas the least encountered cases were neurogenic bladder and complete spinal In conclusion, the overall competency achievement among FK UNPATTI clerkship students is satisfactory. These findings indicate that the clinical learning environment effectively supports the acquisition and consolidation of professional competencies among medical students. Keywords: medical competency, clinical education. SKDI, clerkship students Abstrak: Pendidikan klinik merupakan tahapan krusial dalam pembentukan kompetensi profesional mahasiswa kedokteran. Evaluasi tingkat pencapaian kompetensi mahasiswa program profesi dokter penting dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara pelaksanaan pendidikan dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pencapaian kompetensi dokter mahasiswa program profesi dokter Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura (FK UNPATTI). Melalui pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain potong lintang, penelitian ini dilakukan pada 171 mahasiswa program profesi dokter FK UNPATTI yang telah menyelesaikan rotasi klinik di Departemen ObstetriGinekologi. Psikiatri. Mata. THT-KL, dan Saraf pada September 2024. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis daftar penyakit dan tingkat kompetensi sesuai Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) tahun 2012 dengan skala frekuensi 1Ae5. Data penelitian diolah menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berasal dari angkatan 2018 . ,2%). Sebagian besar mahasiswa telah mencapai kompetensi pada level 3 . endiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan meruju. dan level 4 . endiagnosis dan menatalaksana secara mandir. Kasus dengan paparan tertinggi P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal meliputi kehamilan normal . ,5%), tension headache, insomnia, dan otitis media akut, sedangkan paparan terendah ditemukan pada neurogenic bladder dan complete spinal Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat pencapaian kompetensi dokter mahasiswa program profesi dokter FK UNPATTI tergolong baik. Hasil ini menunjukkan efektivitas wahana pendidikan klinik dalam mendukung pembentukan kompetensi profesional mahasiswa. Kata kunci: kompetensi dokter, pendidikan klinik. SKDI, mahasiswa profesi dokter Pendahuluan Pendidikan kedokteran merupakan proses berkelanjutan yang bertujuan menghasilkan dokter yang kompeten secara ilmiah, profesional, dan beretika. Setelah menjalani fase preklinik, mahasiswa profesi dokter diperhadapkan pada tahapan pendidikan klinik yang menjadi inti dari pembentukan kompetensi karena mahasiswa difasilitasi untuk berinteraksi secara langsung dengan pasien, menerapkan pengetahuan teoritis, serta mengembangkan keterampilan klinik dan sikap profesional (Dornan et al. , 2. Secara global, upaya penjaminan mutu berbasis standar nasional sejalan dengan rekomendasi World Federation for Medical Education (WFME) yang menekankan pentingnya asesmen kompetensi berkelanjutan untuk memastikan kesetaraan kualitas dokter di tingkat global (WFME, 2. Identifikasi dan evaluasi terhadap tingkat pencapaian kompetensi mahasiswa kedokteran berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) memiliki urgensi yang tinggi dalam menjamin mutu lulusan dan akuntabilitas pendidikan kedokteran. Standar Kompetensi Dokter Indonesia berfungsi sebagai tolok ukur nasional yang mengintegrasikan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional yang wajib dikuasai sebelum memasuki praktik kedokteran mandiri. Penilaian terhadap ketercapaian kompetensi ini tidak hanya berperan sebagai mekanisme kontrol kualitas internal institusi, tetapi juga sebagai dasar perbaikan kurikulum dan penyusunan strategi pembelajaran klinik yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu kedokteran (Findyartini et al. Rahman et al. , 2. Selain itu, evaluasi berbasis SKDI tersebut memungkinkan identifikasi dini terhadap kesenjangan kompetensi antarrotasi klinik maupun antarangkatan mahasiswa, sehingga institusi dapat merancang intervensi pendidikan yang lebih tepat sasaran. Dalam pelaksanaan pendidikan klinik tersebut. Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura (FK UNPATTI) telah berupaya meningkatkan mutu pendidikan klinik melalui rotasi mahasiswa di berbagai rumah sakit jejaring selain pada Rumah Sakit Pendidikan Utama (RSUD Haulussy Ambo. Namun, evaluasi sistematik mengenai tingkat pencapaian kompetensi mahasiswa belum rutin dilakukan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pencapaian kompetensi klinik sangat dipengaruhi oleh variasi paparan kasus, intensitas bimbingan, dan kualitas umpan balik yang diberikan selama proses belajar (De Jong et al. Rees et al. , 2. Selain itu, studi kualitatif oleh Noija et al . menemukan bahwa pencapaian kompetensi mahasiswa kedokteran dapat dipertahankan melalui pembelajaran virtual dan simulasi walaupun diperhadapkan dengan keterbatasan paparan pasien pada era pandemi COVID-19. Pemantauan terhadap pencapaian kompentensi mahasiswa profesi dokter diperlukan untuk menjamin kesesuaian dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) serta sebagai dasar perbaikan berkelanjutan terhadap mutu pendidikan (Findyartini et al. , 2020. Rahman et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat pencapaian kompetensi mahasiswa program profesi dokter FK UNPATTI berdasarkan SKDI. Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan desain deskriptif potong lintang yang dilaksanakan pada bulan September 2024. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa program profesi dokter FK Unpatti yang aktif pada semester genap tahun akademik 2023/2024. Dengan metode total sampling, diperoleh 171 responden yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu telah menyelesaikan minimal bagian/stase yang akan diteliti antara lain SMF ilmu kesehatan jiwa. SMF ilmu penyakit kandungan. SMF ilmu penyakit saraf. SMF ilmu kesehatan mata. SMF ilmu dan SMF ilmu kesehatan THT-KL pada periode Agustus-September 2024, serta bersedia menjadi subjek Instrumen penelitian berupa kuisioner berdasarkan daftar penyakit dan level kompetensi SKDI 2012, menggunakan skala frekuensi 1Ae5 . = tidak pernah, 5 = selal. untuk menunjukkan seberapa sering mahasiswa mendapat kasus penyakit tersebut. Data dikumpulkan secara daring melalui Google Form. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel, disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Persetujuan etik diperoleh dari Komisi Etik FK UNPATTI, dan seluruh responden memberikan persetujuan partisipasi secara sukarela. Hasil dan Pembahasan Sebanyak 171 mahasiswa profesi dokter berpartisipasi, dengan distribusi terbesar dari angkatan 2018 . ,2%) dan 2019 . ,0%) sedangkan partisipan paling sedikit berasal dari angkatan 2011 sebanyak 1 orang . ,6%) dan angkatan 2012 tidak ada yang berpartisipasi dalam penelitian ini seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan angkatan Angkatan Frekuensi . Persentase (%) Total Dengan mengacu pada SKDI tahun 2012, bahwa tingkat kemampuan yang harus dicapai pada akhir masa Pendidikan terdiri atas Tingkat kemampuan 1 . engenali dan menjelaska. Tingkat kemampuan 2 . endiagnosis dan meruju. Tingkat kemampuan 3 . endiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan meruju. serta Tingkat kemampuan 4 . endiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tunta. Pada penelitian ini dengan berfokus pada Tingkat kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh setiap lulusan dokter umum yaitu level 3 dan 4 dilengkapi dengan daftar penyakit SKDI 2012 yang menjadi acuan bagi institusi pendidikan dokter dalam menyelenggarakan aktivitas pendidikan termasuk dalam menentukan P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal wahana pendidikan sehingga kompetensi setiap penyakit tersebut dapat dicapai pada akhir Pada kategori Penyakit Saraf seperti yang diuraikan pada Tabel 2, didapatkan bahwa distribusi jawaban mahasiswa pada level kompetensi 3 dan 4 bervariasi. Pada level kompetensi 4A cenderung didominasi oleh jawaban selalu, diikuti oleh jawaban sering dan kadang. Sedangkan pada level kompetensi 3 cenderung didominasi oleh jawaban tidak pernah, diikuti oleh jawaban jarang dan kadang. Tabel 2. Distribusi jawaban responden pencapaian kompetensi pada penyakit Saraf Pilihan jawaban Penyakit Kompetensi Tidak Jarang Sering Selalu Total Kadang . Kejang Meningitis Ensefalitis Malaria Tetanus Tetanus HIV AIDS AIDS dengan Poliomielitis Rabies Spondilitis Ensefalopati Koma Tension Migren Neuralgia Cluster TIA Infark Hematom Perdarahan Ensefalopati Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal Bells' palsy Menieres's BPPV Demensia Parkinson Kejang Epilepsi Status Complete Neurogenic Acute Radicular HNP Reffered pain Nyeri CTS TTS Neuropati Peroneal GBS Miastenia Amnesia Pada kategori Penyakit Psikiatri seperti yang diuraikan pada Tabel 3, didapatkan bahwa distribusi jawaban mahasiswa pada level kompetensi 3 dan 4 juga bervariasi. Pada level kompetensi 4A hanya terdiri atas gangguan somatoform . idominasi jawaban tidak pernah . ) dan insomnia . idominasi jawaban selalu . Sedangkan pada level kompetensi 3 cenderung didominasi oleh jawaban tidak pernah, kecuali pada penyakit tertentu seperti skizofrenia, gangguan cemas, gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, gangguan psikotik, gangguan waham dan gangguan panik didominasi oleh jawaban selalu. P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal Tabel 3. Distribusi jawaban responden pencapaian kompetensi pada penyakit Psikiatri Pilihan jawaban Kompeten Penyakit Tidak Jarang Kadang Sering Selal TOTAL Delirium yang tidak diinduksi oleh alkohol atau zat Intoksikasi akut zat psikoaktif Adiksi/ketergan tungan narkoba Delirium yang diinduksi oleh alkohol atau zat Skizofrenia Gangguan Gangguan Gangguan Gangguan bipolar, episode Gangguan bipolar, episode Baby blues Gangguan Gangguan Gangguan cemas depresi PTSD Gangguan Trikotilomania Retardasi Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Transient tics Gangguan keinginan dan gairah seksual Gangguan . jakulasi din. Sexual pain Insomnia Hipersomnia Ensiklopedia of Journal Pada kategori Penyakit Mata seperti yang diuraikan pada Tabel 4, didapatkan bahwa distribusi jawaban mahasiswa pada level kompetensi 3 dan 4 juga bervariasi. Pada level kompetensi 4A dan 3A cenderung didominasi oleh jawaban selalu, sedangkan pada level 3B didominasi oleh jawaban kadang. Tabel 4. Distribusi jawaban responden pencapaian kompetensi pada penyakit Mata Pilihan jawaban Tidak Penyakit Kompetensi TOTAL Jarang Kadang . Sering Selalu . Benda asing di Konjunctivitis Pterigium Perdarahan Mata kering Blefaritis Hordeolum Chalazion Laserasi kelopak mata Trikiasis Dakrioadenitis Dakriosistitis Skleritis Episkleritis Keratitis Xerophtalmia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Hifema Hipopion Iridosisklitis. Hipermetropia Miopia ringan Astigmatisma Presbiopia Anisometropia pada dewasa Buta senja Glaukoma akut Glaukoma Ensiklopedia of Journal Pada kategori Penyakit THT seperti yang diuraikan pada Tabel 5, didapatkan bahwa distribusi jawaban mahasiswa pada level kompetensi 4 cenderung didominasi oleh jawaban selalu, sedangkan pencapaian level kompetensi 3 bervariasi, ada beberapa penyakit yang cenderung didominasi jawaban tidak pernah, namun ada juga yang didominasi jawaban selalu Tabel 5. Distribusi jawaban responden pencapaian kompetensi pada penyakit THT Pilihan jawaban Tidak Penyakit Kompetensi Jarang Sering Selalu TOTAL Kadang . Inflamasi pada Herpes zoster pada telinga Fistula preaurikular Otitis eksterna Otitis media Otitis media Otitis media Mastoiditis Miringitis Perforasi Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal Otosklerosis Presbiakusis Serumen prop Mabuk Trauma akustik Trauma Furunkel pada Rhinitis akut Rhinitis Rhinitis Rhinitis kronik Rhinitis Sinusitis Sinusitis Benda asing Epistaksis Tortikolis Abses Bezold Pada kategori Penyakit Reproduksi seperti yang diuraikan pada Tabel 6, didapatkan bahwa distribusi jawaban mahasiswa pada level kompetensi 3 dan 4 cukup bervariasi, ada yang didominasi jawaban selalu, tapi sebaliknya ada juga yang didominasi jawaban tidak Dari distribusi jawaban yang ada dan yang paling menonjol ada sebanyak 141 . ,5%) memilih jawaban selalu pada kasus kehamilan normal Tabel 6. Distribusi jawaban responden pencapaian kompetensi pada penyakit Reproduksi Pilihan jawaban Tidak Penyakit Kompetensi Jarang Kadang Sering Selalu TOTAL Infeksi saluran kemih bagian Vulvitis Kondiloma Vaginitis P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Vaginosis Servisitis Salpingitis Abses tuboovarium Penyakit radang Kehamilan normal Infeksi intrauterin: Infeksi pada TORCH, hepatitis B, malaria Aborsi Aborsi spontan Aborsi spontan Hiperemesis Preeklampsia Eklampsia Janin tumbuh Anemia defisiensi besi pada Persalinan preterm Bayi post matur KPD Distosia Partus lama Prolaps tali pusat Hipoksia janin Ruptur serviks Ruptur perineum tingkat 1-2 Ruptur perineum tingkat 3-4 Retensi plasenta Inversio uterus Ensiklopedia of Journal Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Perdarahan post Endometritis Subinvulosio Kista dan abses kelenjar bartolini Abses folikel rambut atau kelenjar sebasea Corpus alienum Kista Gartner Kista Nabotian Polip serviks Prolaps uterus, sistokel, rektokel Torsi dan ruptur Mastitis Cracked nipple Inverted nipple Infertilitas Ensiklopedia of Journal Berdasarkan data hasil penelitian ini, terlihat bahwa menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah mencapai kompetensi level 3 dan 4 sesuai SKDI tahun 2012. Paparan kasus tertinggi ditemukan pada kehamilan normal . ,5%), tension headache, insomnia, otitis media akut, dan serumen prop. Paparan terendah ditemukan pada kasus langka seperti neurogenic bladder, tetanus neonatorum, dan complete spinal transaction. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pengalaman klinik yang memadai pada kasus umum yang sering dijumpai di pelayanan primer, namun paparan terhadap kasus kompleks masih terbatas. Hasil penelitian ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa penyelenggaraan pendidikan klinik di FK UNPATTI telah berjalan efektif, terlihat dari mayoritas mahasiswa mencapai kompetensi pada level 3 dan 4 sesuai SKDI. Hal ini menandakan kemampuan mahasiswa dalam melakukan diagnosis, penatalaksanaan awal, serta penanganan mandiri kasus umum di layanan kesehatan primer. Temuan ini sejalan dengan studi oleh Findyartini et . yang melaporkan bahwa paparan kasus klinik yang beragam dan kualitas supervisi yang baik berperan penting dalam pencapaian kompetensi klinik. Menurut Dornan et al. , proses experience-based learning dapat memperkuat transfer pengetahuan teoritis menjadi kemampuan praktis melalui interaksi langsung dengan pasien. Paparan kasus tinggi terkait penyakit umum seperti kehamilan normal dan gangguan neurologis ringan seperti tension headache menunjukkan relevansi antara kurikulum dan realitas praktik kedokteran umum di Indonesia. Namun, paparan yang rendah terhadap kasus langka seperti neurogenic bladder dan complete spinal transaction menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran alternatif misal case-based simulation dan virtual patient learning P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025 http://jurnal. Ensiklopedia of Journal untuk menjembatani kesenjangan pengalaman klinik seperti yang ditegaskan oleh Rees et al. Penelitian Alfarabi et al. di FKUI juga menemukan ketidakseimbangan distribusi paparan kasus antarstase, sehingga perlunya pemetaan kurikulum berbasis SKDI agar setiap mahasiswa memiliki peluang belajar yang setara. Selain itu, kualitas umpan balik dan supervisi terbukti menjadi faktor penentu utama keberhasilan pembelajaran klinik (Khalil et al. , 2. Dalam studi sistematik oleh De Jong et al. , paparan pasien dengan variasi diagnosis yang optimal meningkatkan keterampilan clinical reasoning dan empati mahasiswa. Hal serupa dilaporkan oleh Kim et al. yang menyoroti bahwa rotasi klinik yang terlalu sempit membatasi pengembangan kompetensi multidisipliner. Walaupun dalam penelitian ini tidak secara eksplisit mengidentifikasi aspek umpan balik yang terjadi pada pelaksanaan Pendidikan klinik di FK UNPATTI, namun ketercapaian kompetensi mahasiswa profesi dokter yang menunjukkan dominasi pada level 3 dan 4 dapat merefleksikan efektivitas proses pembelajaran klinik yang disertai dengan praktik umpan balik yang konstruktif antara pembimbing dan mahasiswa. Temuan penelitian ini memperkuat pandangan bahwa lingkungan belajar klinik yang mendukung, supervisi reflektif, dan evaluasi berkelanjutan berperan krusial dalam membentuk dokter yang kompeten dan adaptif. Penutup Berdasarkan hasi penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa program profesi dokter FK UNPATTI telah mencapai kompetensi klinik pada level 3 dan 4 sesuai SKDI 2012. Pencapaian ini menunjukkan efektivitas wahana pendidikan klinik dalam mendukung pembentukan kompetensi profesional dan kesiapan praktik mandiri mahasiswa saat berpraktik sebagai dokter. Lebih lanjut, diperlukan evaluasi berkala terhadap ketercapaian kompetensi mahasiswa serta integrasi pembelajaran berbasis simulasi untuk menutup kesenjangan pada kasus langka. Pelatihan pembimbing klinik dalam memberikan umpan balik formatif juga perlu diperkuat untuk menjaga konsistensi mutu pendidikan klinik. Dafar Pustaka