p-ISSN: 2089-2551 e-ISSN: 2615-143X https://journal. Volume 15. Nomor 4. November 2025 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN KUALITAS HIDUP LANSIA YANG MENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMALATEA Chitra Dewi1*. Ramlah1. St. Rahmawati2. Muhammad Syahrir3. Muti Sahida1. Andi Tilka Muftiah Ridjal4 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Puskesmas Moncongloe Kabupaten Maros Institut Teknologi dan Kesehatan Tri Tunas Nasional Universitas Negeri Makassar Alamat Korespondensi: epidemiologi165@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Hipertensi menjadi penyakit yang banyak diderita oleh kelompok lansia dan dapat menurunkan kualitas hidup melalui berbagai komplikasi pada organ vital. Sekitar 1,4 miliar orang dewasa di dunia mengalami hipertensi, dan dua pertiganya berasal dari negara berpenghasilan menengah ke bawah, termasuk Indonesia. Dukungan keluarga berperan penting dalam membantu lansia mengelola hipertensi serta mempertahankan kualitas hidup yang optimal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pada lansia yang menderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study. Populasi terdiri dari 200 lansia yang secara aktif menghadiri posbindu di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Sampel dipilih dengan metode accidental sampling, melibatkan 50 lansia. Data dikumpulkan melalui penggunaan kuesioner WHOQOL-BREF yang diuji menggunakan analisis chi-square. Hasil: Dukungan keluarga, khususnya dalam domain dukungan emosional dan dukungan informasional, menunjukkan nilai p=0,005. Sementara itu, dalam domain dukungan instrumental dan penghargaan, nilai p yang tercatat adalah 0,002 di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Kesimpulan: Di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto, terdapat hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pada lansia penderita hipertensi. Saran, pendidikan keluarga harus ditingkatkan agar merea dapat secara aktif mendukung dan mendampingi orang tua, terutama dalam hal perawatan kesehatan mereka. Kata kunci: Dukungan Keluarga. Hipertensi. Kualitas Hidup. Lansia PENDAHULUAN Kemajuan pembangunan nasional di berbagai bidang seperti ekonomi, lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam sektor kesehatan, telah memberikan kesejahteraan masyarakat. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan adalah meningkatnya angka harapan hidup penduduk, yang berimplikasi pada meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia . Sekitar 1,4 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun pada tahun 2024 di seluruh dunia telah memiliki tekanan darah Ou 140/90 mmHg atau sedang dalam pengobatan hipertensi (WHO, 2. Angka ini menunjukkan bahwa hipertensi memengaruhi kurang lebih 1 dari 3 setiap orang dewasa secara global (OPS, 2. Selain itu, sebagian besar penderita . ekitar dua-pertig. berada di negara berpenghasilan menengah hingga rendah, dan banyak yang Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 tidak menyadari kondisi hipertensi mereka (WHO, 2. Indonesia peningkatan jumlah lansia yang terjadi secara konsisten setiap tahun. Diperkirakan pada tahun 2025 jumlah penduduk lansia mencapai lebih dari 33 juta jiwa, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,75% per tahun (BPS. Fenomena ini membawa implikasi terhadap meningkatnya berbagai masalah kesehatan yang sering dialami oleh kelompok lanjut usia, terutama penyakit tidak menular (PTM). Kejadian PTM yang paling banyak terjadi pada lansia adalah hipertensi (BPS. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik Ou140 mmHg dan diastolik Ou90 mmHg (Kemenkes, 2. Data penelitian menunjukkan bahwa prevalensi cukup tinggi. Sebuah studi (Oktamianti et al. , 2. menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi 33,3% pada seluruh orang dewasa Ou 18 tahun di Indonesia . engan rincian 30,4% pada laki-laki dan 36,0% pada Perempua. Dan hasil survei Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah adalah 34,1% (Ikhlasia et al. , 2. Pada kelompok lanjut usia, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah yang menyebabkan penyempitan atau sumbatan, dan jika tidak ditangani dengan baik, dapat berkembang menjadi gangguan pada organ vital seperti jantung, mata, dan otak. Gangguan fungsi fisik akibat hipertensi berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup lansia, yang menurut WHO diartikan sebagai konteks budaya, nilai, tujuan, serta harapan Kualitas hidup lansia merupakan bagian dari kesejahteraan yang meliputi dimensi fisik, sosial dan lingkungan. Dalam konteks tersebut, keluarga memiliki peran penting sebagai sumber dukungan emosional, membantu lansia dalam mempertahankan kesejahteraan serta kualitas hidupnya. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pada lansia penderita hipertensi. Studi yang dilakukan oleh (Anggreyanti et al. , 2. mengungkapkan adanya hubungan positif antara tingkat dukungan keluarga berperan positif dalam kondisi lansia hipertensi, sedangkan penelitian (Iswatun et al. , 2. menunjukkan bahwa adanya peningkatan dukungan keluarga lebih berperan terhadap peningkatan kualitas lansia dengan hipertensi. Dukungan komponen penting dalam membantu orang atau seseorang mengurus masalah. Dukungan keluarga dapat memperluas keberanian dan meningkatkan pemenuhan atau kepuasan pribadi lansia. Sampai saat ini, keluarga masih menjadi tempat favorit bagi lansia (Ningrum et , 2. Bantuan yang diberikan berupa bantuan instrumental, informasional, penghargaan. Dukungan keluarga juga dapat memperluas inspirasi dan minat lansia untuk mengikuti perilaku hidup yang solid dalam (Triono Hikmawati, 2. Hasil penelitian menurut (Sefrina, 2. yang meneliti kepuasan pribadi lansia mengatakan bahwa kondisi fisik, mental, sosial, dan alam mempengaruhi kepuasan pribadi lansia. Individu yang lebih tua dengan hipertensi dapat mempengaruhi kepuasan pribadi mereka. Gejala yang ditimbulkan oleh hipertensi seperti. dapat menggagalkan latihan orang tua tentunya. Kondisi mental, sosial, dan alam juga dapat mempengaruhi kepuasan pribadi penderita hipertensi pada lansia. Baiknya kondisi jasmani/mental, sosial, dan ekologis maka semakin baik kepuasan pribadi penderita hipertensi pada lansia. Berdasarkan data dari Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto menunjukkan bahwa jumlah lansia yang tercatat pada tahun Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 2020 sebanyak 500 orang dan sekitar 200 orang diantaranya yang mengalami hipertensi. Oleh sebab itu, penelitian diperlukan guna mengeksplorasi hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pada lansia yang menderita hipertensi METODE Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto, dengan menggunakan desain penelitian crosectional, yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara empat aspek dukungan keluarga dan kualitas hidup penderita Pengambilan data dilaksanakan dalam rentang waktu 31 Mei hingga 30 Juni Populasi terdiri dari 200 lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalatea yang secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan posbindu. Sampel, sebanyak 50 orang, dipilih menggunakan metode accidental Sumber data yakni data primer dengan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF dan data sekunder diperoleh melalui rekam medis di Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. HASIL Karakteristik Responden Dari Tabel 1, dapat dilihat bahwa dalam kategori usia, mayoritas responden berada pada rentang usia 60-74 tahun, yakni 46 orang . %). Responden yang berjenis kelamin perempuan mencapai 33 orang . %), sedangkan yang memiliki status pernikahan menikah sebanyak 36 orang . %). Lebih dari setengah responden, yaitu 22 orang . %), tidak memiliki riwayat pekerjaan. Sebanyak 45 orang . %) dari responden tidak mengikuti pengobatan hipertensi secara teratur. Sementara itu, 23 orang . %) lebih memilih tinggal bersama suaminya. Analisis Univariat Tabel 2 mencerminkan bahwa dalam empat aspek dukungan keluarga, lansia yang informasional dengan baik sebanyak 46 orang . %), sementara dukungan instrumental dan penghargaan yang baik diterima oleh 47 orang . %). Dari segi kualitas hidup, sebanyak 48 orang . %) di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto yang memiliki tingkat kualitas hidup yang baik. Analisis Bivariat Tabel 3, dari 50 orang responden, 46 orang lansia yang menderita hipertensi mendapatkan dukungan emosional dari keluarga mereka dan memiliki kualitas hidup yang baik. Sebaliknya 4 orang yang menjawab tidak menerima dukungan emosional dari keluarga mereka, dengan masing-masing 2 orang . %) memiliki kualitas hidup yang baik dan 2 orang mengalami kualitas hidup yang Ada korelasi signifikan antara dukungan emosional keluarga dan kualitas hidup pada orang tua yang menderita hiperensi, menurut hasil uji chi-square, dengan nilai p=0,005 <=0,05. Tabel 4, dari 50 responden, terdapat 46 orang lansia hipertensi menerima dukungan keluarga yang baik dan mengalami kualitas hidup yang positif, sementara 4 orang lansia yang menerima dukungan keluarga yang buruk, dimana 2 orang . %) memiliki kualitas hidup yang baik dan 2 orang . %) mengalami kualitas hidup yang buruk. Ada hubungan antara dukungan informasional keluarga dan kualitas hidup penderita hipertensi pada lansia, berdasarkan uji chi-square, dengan nilai p=0,005 <=0,05. Tabel 5, dari 50 orang responden, 47 dari penderita hipertensi memiliki kualitas hidup yang baik dan menerima bantuan keluarga. sisi lain, tiga orang dari mereka yang menerima bantuan keluarga yang tidak memakai, dimana Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 1 orang . ,3%) memiliki kualitas hidup yang baik dan 2 orang . ,7%) mengalami kualitas hidup yang buruk. Hasil uji chi-square p=0,002 <=0,05, dukungan instrumental keluarga dan kualitas hidup pada lansia penderita hipertensi. Tabel 6 memperlihatkan bahwa dari 50 responden, 47 lansia penderita hipertensi yang menerima dukungan penghargaan dari keluarga juga menunjukkan tingkat kualitas hidup yang Sementara itu, terdapat 3 lansia yang mendapatkan dukungan penghargaan keluarga yang kurang memadai, di mana 1 orang . ,3%) memiliki kualitas hidup yang baik dan 2 orang . ,7%) mengalami kualitas hidup yang kurang baik. Berdasarkan uji chi-square, p=0,002 =0,05, mengindikasikan adanya korelasi antara dukungan penghargaan keluarga dan kualitas hidup pada lansia penderita hipertensi. PEMBAHASAN Pernikahan, pertalian darah, dan adopsi merupakan ikatan yang mempersatukan anggota keluarga. Keluarga dapat tinggal bersama dalam satu rumah tangga, atau bahkan jika terpisah secara fisik, tetap berinteraksi dan memiliki peran penting dalam menciptakan serta menjaga keberlanjutan kebudayaan. Keluarga berperan sebagai lingkungan rehabilitasi dan menjadi penopang kepemilikan emosional, sambil meningkatkan moral melalui dukungan emosional (Friedman, 1. Penyakit hipertensi yang terjadi pada lansia, yang dapat meningkatkan risiko atau probabilitas morbiditas lain seperti stroke, gagal jantung, dan penyakit kardiovaskuler Hal ini tentunya akan membuat lansia akan kesulitan dalam beraktivitas, kesulitan dalam bergerak, berjalan, dan juga merawat diri Hal ini tentunya berdampak pada kemampuan lansia untuk menjalani masa tua mereka dan mempengaruhi kualitas hidup mereka (Poluan et al. , 2. Keluarga memberikan dukungan dalam empat dimensi yang meliputi dukungan emosional, informasional, instrumental dan Penelitian mengenai faktor dukungan keluarga dengan kualitas hidup diketahui bahwa dukungan dari keempat aspek tersebut masih memiliki hubungan dengan kualitas hidup pada lansia yang mengalami Menurut (Cahyadi, 2. , dukungan emosional adalah hadirnya keluarga dengan perhatian, mendengarkan dan mengalirkan kasih saying. Di sisi lain, intervensi keluarga dan edukasi self-care juga berpengaruh dalam Upaya meningkatkan kualitas hidup pada lansia penderita hipertensi (Hu et al. , 2. Pandangan serupa juga disampaikan oleh (Nuraeni et al. , 2022. Susianti et al. , 2. dalam studinya dimana mereka mencatat bahwa di Puskesmas Balaraja, 51,1% dari responden menunjukkan adanya dukungan keluarga yang positif, sementara 56,8% dari responden menunjukkan kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup pada aspek kesehatan fisik dinilai baik sebesar 54,1%, sementara kualitas hidup pada aspek psikologis mencapai 68,9%. Aspek sosial menunjukkan kualitas hidup yang baik sebesar 60,7%, sedangkan pada aspek lingkungan dan kesejahteraan, kualitas hidup baik masing-masing sebesar 54,1% dan 63,9%. Kualitas hidup pada aspek spiritual mencapai 75,4%, dan secara keseluruhan, sebanyak 54,1% responden memberikan penilaian baik terhadap kualitas hidup mereka. Rekomendasi dari penelitian ini menyarankan agar masyarakat dengan anggota keluarga lanjut usia lebih memperhatikan gaya hidup sehat untuk mencegah komplikasi hipertensi (Azmi et al. Nurcandra et al. , 2. Lansia yang memiliki keluarga dengan dukungan emosional yang buruk, dapat berpengaruh terhadap kualitas hidupnya. Hal ini terjadi karena beberapa anggota keluarga Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 pemahaman bahwa para lansia membutuhkan perhatian dan kasih sayang diusia mereka yang Misalnya, ketika para lansia ingin memeriksakan dirinya ke tempat pelayanan kesehatan, sebaiknya ada perwakilan anggota keluarga yang menemani mereka. Keluarga sebagai pengawas minum obat atau sekedar menjadi teman bercerita untuk mendengarkan keluh kesah agar lansia tidak merasa sunyi, sepi, dan sendirian. Adanya dukungan dari keluarga memberikan dampak positif pada peningkatan kualitas hidup lansia. Kuantitas dukungan yang tinggi dapat memengaruhi baik kualitas hidup maupun kondisi sosial yang dialami oleh lansia tersebut (Chollou et al. Sangian et al. , 2. Selain dukungan emosional, lansia juga membutuhkan informasi-informasi yang dapat mendukung pengobatan dan perbaikan kualitas hidup mereka selama menderita hipertensi. Informasi mengenai penyakit, saran untuk menghadapi penyakit tersebut, mereduksi stres, dan juga nasehat yang dibutuhkan untuk membuat mereka menjadi lebih baik dalam menjalani hari-harinya (Friedman et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara dukungan informasional dan kualitas hidup orang tua dengan hipertensi, dengan nilai p=0. 005 yang lebih rendah dari . Temuan ini sejalan dengan penelitian Rahman et al. , . yang juga menemukan nilai p=0,000, yang menunjukkan hubungan positif antara dukungan informasional dan kualitas hidup orang tua. Dukungan informasional yang efektif dari keluarga memberikan peluang risiko 6,7 kali lebih tinggi untuk menjaga kesehatan, sehingga lansia memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima dukungan informasional (Herlinah et , 2. Selanjutnya, kehidupannya lansia membutuhkan bantuan material, bantuan dalam mengerjakan tugas rumah sehari-hari, termasuk kebutuhan keuangan untuk membiayai pengobatan hipertensi, menyediakan makan dan minum khusus untuk penderita hipertensi, dan tempat istirahat yang layak. Dukungan ini merupakan dukungan instrumental dimana semua anggota keluarga diharapkan memberikan bantuan tersebut untuk memenuhi semua kebutuhan hidup lansia. Nilai p=0,002, yang lebih kecil dari . , ditemukan dari analisis menggunakan uji chi-square. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas hidup lansia penderita hipertensi dan dukungan instrumental keluarga. Ini sejalan dengan hasil studi (Rahman et , 2. dan (Nuraisyah et al. , 2. , terdapat kaitan antara kehadiran kualitas hidup dan dukungan keluarga pada lansia. Keluarga yang memberikan dukungan instrumental kepada lansia membuat mereka lebih terjaga kesehatannya, serta mendapatkan kualitas hidup baik dibanding dengan penderita yang tidak mendapatkan dukungan instrumental (Sefrina, 2. Penghargaan keluarga adalah komponen berikutnya dari dukungan keluarga. Selain berfungsi sebagai sumber dan penegas identitas keluarga, keluarga berfungsi sebagai mediator dan panduan dalam menyelesaikan masalah. Ini dapat mencakup dukungan emosional seperti ekspresi kasih saying, perhatian, dan simpati. Setelah analilis dilakukan menggunakan uji chi-square, ditemukan nilai p=0,002, yang lebih kecil dari . , yang menunjukkan adanya hubungan antara dukungan penghargaan keluarga dan kualitas hidup pada orang tua yang menderita hipertensi. Temuan ini sejalan dengan teori yang diusulkan oleh (Friedman et , 2. yang menunjukkan bahwa dukungan atau penghargaan dari keluarga merupakan bagian integral dari fungsi keluarga yang efektif, dan dapat meningkatkan status psikososial keluarga yang sedang menghadapi Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 Dengan adanya dukungan ini, penderita atau lansia dapat diakui dalam keahlian dan kemampuannya. Dorongan semangat, pemberian pujian, pengambilan keputusan yang melibatkan lansia, memberikan respon yang baik mengenai penghargaan yang dapat diterima untuk lansia yang nantinya mampu mempengaruhi kualitas hidup mereka. Dengan adanya dukungan, maka mampu meningkatkan kesehatan lansia penderita hipertensi. Kemudian secara perlahan dapat mengubah kebiasaan gaya hidup menjadi lebih sehat (Ndore et al. , 2. Keluarga menjadi tempat satu-satunya bagi lansia dalam pemberian kenyamanan, pelayanan, dan dukungan. Support system yang paling bermakna dalam mengubah life style lansia adalah anggota keluarganya. Dimana semua hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas lansia dan juga kualitas hidupnya, merasa hidup mereka menjadi lebih bermakna dimasa tua (Izzati et al. , 2024. Yaslina et al. KESIMPULAN Studi ini menemukan bahwa kualitas hidup orang tua yang menderita hipertensi di Puskesmas Tamalatea. Kabupaten Jeneponto, berkorelasi dengan keempat dimensi dukungan keluarga. Oleh karena itu, tenaga kesehatan harus memperkuat program edukasi keluarga agar mereka dapat membantu dan mendampingi orang tua lebih aktif, terutama dalam hal menjaga dan mengelola kesehatan mereka sendiri. DAFTAR PUSTAKA