Jurnal Serina Sosial Humaniora AU AU Vol. No. Juni 2024 hlm: 1-8AU AU ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. WORK-LIFE BALANCE SEBAGAI PREDIKTOR BURNOUT PADA SALES DI PT X Michelle Gabriel Hudian Putri1. Zamralita2, & Meylisa Permata Sari3 Program Studi Sarjana Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: michelle. 705200038@stu. Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: zamralita@fpsi. Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: meylisa. sari@fpsi. ABSTRACT This study aims to determine work-life balance as a predictor of burnout in sales at PT X. Further analysis on each dimension of work-life balance showed that three dimensions of WLB predicted BO, while the PLEW dimension did not significantly predict BO. Work-life balance is defined as an individual's effort to achieve a healthy balance between work duties and aspects of personal life. Burnout is identified as a multidimensional condition, with fatigue considered as its main feature. The research method was a quantitative non-experimental approach. The study participants consisted of 263 sales employees in a property company in Indonesia, who were selected using a non-probability sampling technique, namely Convenience sampling. The research instrument included the use of Work/Nonwork Interference and Enhancement, which was developed by Fisher et al. and has been adapted into Indonesian by Gunawan et al. to measure work-life balance. Meanwhile, burnout was measured using the second version of the Burnout Assessment Tool (BAT), which was developed by Schaufeli et al. and translated by Christina et al. , with assistance from the supervisor. The results showed a negative and significant influence between work-life balance and burnout . s = 0. 991, p < 0. It can be concluded that work-life balance can predict the emergence of burnout behavior in employees, the higher the work-life balance, the lower the burnout behavior, and vice versa. Discussion and suggestions will be discussed further in the article. Keywords: burnout, work-life balance, employees, sales ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji work-life balance sebagai prediktor terhadap burnout pada sales di PT X. Analisis lebih lanjut pada setiap dimensi work-life balance menunjukkan bahwa tiga dimensi WLB memprediksi BO, sedangkan dimensi PLEW tidak memprediksi BO secara signifikan. Work-life balance diartikan sebagai usaha individu dalam mencapai keseimbangan yang sehat antara tugas pekerjaan dan aspek-aspek kehidupan pribadi. Burnout diidentifikasi sebagai suatu kondisi multidimensi, dengan kelelahan dianggap sebagai ciri utamanya. Metode penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif non-eksperimental. Partisipan penelitian terdiri dari 263 karyawan penjualan di sebuah perusahaan properti di Indonesia, yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling, yaitu Convenience sampling. Instrumen penelitian mencakup penggunaan Work/Nonwork Interference and Enhancement, yang dikembangkan oleh Fisher et al. dan telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Gunawan et al. untuk mengukur work-life balance. Sedangkan burnout diukur menggunakan Burnout Assessment Tool (BAT) versi kedua, yang dikembangkan oleh Schaufeli et al. dan diterjemahkan oleh Christina et al. , dengan bantuan dari dosen pembimbing. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh negatif dan signifikan antara work-life balance dan burnout . s = 0,991, p < 0,. Dapat disimpulkan bahwa work-life balance dapat memprediksi munculnya perilaku burnout pada karyawan, semakin tinggi work-life balance maka akan semakin rendah perilaku burnout, dan sebaliknya. Diskusi dan saran akan dibahas lebih lanjut dalam Kata Kunci: burnout, work-life balance, karyawan, sales AU PENDAHULUAN Dalam dunia bisnis yang kompetitif, perusahaan seperti PT X menghadapi tantangan serius akibat pandemi COVID-19. Upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan bertabrakan dengan keharusan menerapkan kebijakan physical distancing, mendorong penggunaan pola kerja Hybrid Working. Hybrid Working, yang menggabungkan bekerja dari kantor (WFO) dan bekerja dari jarak jauh (WFH), menjadi solusi yang relevan di tengah pandemi Ini juga memungkinkan https://doi. org/10. 24912/jssh. Work-Life Balance sebagai Prediktor Burnout AU pada Sales di PT X Michelle et al. karyawan yang sebelumnya terpaksa indekos di Jakarta untuk bersatu kembali dengan keluarga mereka di luar area Jabodetabek (Puspita & Zamralita, 2. Meski demikian, penerapannya dihadapkan pada tantangan, terutama dalam menangani perbedaan preferensi dan adaptasi karyawan terhadap lingkungan kerja baru. Sales di PT X, yang umumnya dikenal dengan kegembiraan dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, menghadapi situasi baru ini. Salesman, individu yang berperan dalam menjual produk atau layanan, merasakan dampak dari perubahan dinamika kerja, termasuk adopsi pola Hybrid Working. Salah satu sales. Handoko, menekankan pentingnya work-life balance dalam memaksimalkan efektivitas kerja. Work-life balance, atau keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi, menjadi kunci untuk menjaga etos kerja yang baik. Menurut F. Astuti . omunikasi pribadi, 20 Agustus 2. , seorang salesman menghadapi tekanan yang konstan karena perlu mencapai target penjualan setiap bulan. Dampak dari tekanan ini adalah perasaan tidak tenang dan ketidaknyamanan yang terus menerus, dengan target selalu menjadi beban pikiran utama. Hal ini seringkali mengakibatkan gejala seperti mudah marah. Studi yang dilakukan oleh Ratnasari . menyatakan bahwa pekerjaan salesman termasuk dalam kategori yang rentan terhadap kondisi burnout. Faktor-faktor seperti tenggat waktu yang ketat, target yang tinggi, dan interaksi dengan pelanggan yang memiliki kepribadian beragam dapat menjadi pemicu terjadinya burnout pada salesman. Kondisi ini dapat memberikan gambaran tentang tingkat tekanan dan tantangan yang dihadapi oleh para sales dalam menjalankan tugas Berbagai faktor mempengaruhi work-life balance (WLB), seperti kebijakan perusahaan, budaya organisasi, dan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pola kerja. Sangat penting untuk mempelajari keseimbangan kerja-hidup (WLB) karena memiliki banyak manfaat bagi karyawan dan organisasi. Beberapa efek positif WLB termasuk peningkatan kreativitas karyawan, kemampuan untuk mengatasi konflik dan peningkatan kinerja karyawan sehingga organisasi dapat mendapatkan manfaat dari peningkatan kinerja karyawan (Santoso et , 2. WLB sendiri mengacu pada upaya seseorang untuk mencapai keseimbangan yang sehat antara tanggung jawab pekerjaan mereka dan aspek-aspek kehidupan pribadi mereka. Faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada tingkat kepuasan dan kesejahteraan karyawan dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Sebaliknya, kelelahan adalah hasil dari ketidakseimbangan antara kemampuan seseorang untuk memenuhi tuntutan pekerjaan mereka dan kapasitas mereka untuk melakukannya. Tekanan kerja yang berlebihan seringkali menyebabkan kondisi ini, yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental seseorang. Sangat penting bagi setiap orang untuk mengambil istirahat setelah bekerja selama berjam-jam. Ini seharusnya memberi mereka kesempatan untuk bersantai, melepaskan diri dari tugas pekerjaan, dan melakukan hal-hal yang mereka sukai (Danudoro et al. , 2. Selain itu terdapat artikel yang menggambarkan burnout yaitu, tekanan psikologis yang signifikan seringkali menyebabkan ketidakpuasan, absensi, dan pergantian staf di kalangan guru, sekaligus memicu perilaku merugikan dengan ciri-ciri psikologis seperti kecemasan dan depresi, dampak fisiologis, gaya hidup yang tidak sehat, serta masalah tidur (Friedman-Krauss et al. , 2014. Lian et al. , 2014. Roeser et al. , 2013. Torsheim & Wold, 2001 dalam Nadyastuti et al. , 2. Burnout mencakup banyak hal selain kelelahan fisik. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sangat penting untuk mencegah kelelahan. Definisi dan penjelasan singkat ini menunjukkan betapa sulitnya WLB berhubungan dengan lelah dan betapa pentingnya untuk mencapai keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora AU AU Vol. No. Juni 2024 hlm: 1-8AU AU ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. Namun, hasil penelitian Kelly et al. dan Junaidin et al. menunjukkan bahwa work-life balance memiliki pengaruh negatif terhadap burnout, khususnya dalam konteks pekerjaan medis. Ketidakmampuan mencapai work-life balance dapat meningkatkan risiko burnout, yang mencakup kelelahan fisik dan mental akibat tuntutan emosional di lingkungan Oleh karena itu, perhatian terhadap work-life balance menjadi krusial, terutama dalam mengantisipasi potensi dampak negatif pada kesejahteraan karyawan sales di PT X. Meski penelitian sebelumnya telah mengungkapkan pengaruh antara work-life balance dan burnout, masih terdapat kebutuhan untuk menggali lebih lanjut dalam konteks sales di PT X. Studi sebelumnya, terutama yang berfokus pada bidang medis, memberikan temuan yang cenderung umum. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba untuk mengisi celah pengetahuan dengan mengeksplorasi hubungan tersebut dalam konteks pekerjaan sales, di mana tuntutan pekerjaan cenderung berbeda. Dengan demikian, penelitian ini memiliki urgensi untuk memberikan wawasan lebih mendalam tentang dampak work-life balance terhadap burnout pada sales di PT X. Berdasarkan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah yang diajukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: . apakah work-life balance dapat memprediksi burnout pada sales di PT X?. dimensi work-life balance mana yang dapat memprediksi burnout pada sales di PT X? AU METODE PENELITIAN Di dalam penelitian ini, sebanyak 263 karyawan PT X berpartisipasi dalam penelitian ini. Kriteria partisipan adalah . karyawan dengan status pekerja permanen. penempatan di divisi penjualan. berusia antara 18 hingga 58 tahun. pendidikan terakhir minimal SMA/SMK/SMU/SLTA. masa kerja minimal satu tahun. Proses pengambilan data dilakukan secara daring dengan menyebarkan tautan Google melalui Google Form kepada partisipan penelitian melalui user setiap unit beserta bantuan whatsapp group khusus untuk departemen sales. Hal ini dilakukan untuk memastikan keaslian identitas responden dan memfasilitasi pengumpulan data secara efisien. Tabel demografi yang menyajikan informasi terkait usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan akan disusun untuk memberikan gambaran lebih rinci tentang karakteristik partisipan pada tabel 1. https://doi. org/10. 24912/jssh. Work-Life Balance sebagai Prediktor Burnout AU pada Sales di PT X Michelle et al. Tabel 1 Aspek Demografis Data Partisipan Karakteristik Demografis Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia 18 Ae 20 21 Ae 40 41 Ae 58 Pendidikan Terakhir SMA/SMK/SLTU Status Pernikahan Sudah Menikah Belum menikah Bercerai Hidup Bercerai Mati Status Memiliki Anak Tidak No. (%) Responden N=263 Persentase (%) Penelitian ini mengadopsi desain penelitian kuantitatif dengan bentuk non-eksperimental, yaitu cross-sectional predictive correlational design. Desain ini digunakan untuk menguji apakah work-life balance dapat memprediksi burnout. Work-life balance diukur menggunakan alat ukur Work/Nonwork Interference and Enhancement yang dikembangkan oleh Fisher et al. yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Gunawan et al. Alat ukur ini terdiri dari 17 butir, yang mengukur empat dimensi dari WLB, yaitu: . Work Interference with Personal Life (WIPL). Personal Life Interference with Work (PLIW). Personal Life Enhancement of Work (PLEW). Work Enhancement of Personal Life (WEPL). Partisipan merespon menggunakan 5-point Likert scale. Skor partisipan dihitung per dimensi. Semakin tinggi skor partisipan di dimensi WIPL berarti kehidupan pribadi seseorang akan terpengaruh oleh pekerjaannya, di dimensi PLIW berarti mengalami konflik antar kehidupan pribadi dan pekerjaan, di dimensi PLEW berarti pekerjaan mereka dapat meningkatkan kehidupan pribadinya, dan di dimensi WEPL berarti sejauh mana kehidupan mereka dapat meningkatkan kualitas pekerjaannya. Setiap dimensi dari alat ukur ini memiliki reliabilitas internal yang baik (CronbachAos alpha = 0. 91 Ae 0. Burnout diukur menggunakan Burnout Assessment Tool (BAT) versi kedua, yang dikembangkan oleh Schaufeli et al. dan diterjemahkan oleh Christina et al. dengan penyesuaian Alat ukur ini terdiri dari 23 butir, yang mengukur empat dimensi dari BO, yaitu: . mental distance. cognitive impairment. emotional impairment. Partisipan merespon menggunakan 5-point Likert scale. Skor partisipan dihitung per dimensi. Semakin tinggi skor partisipan di dimensi exhaustion berarti semakin lelah, di dimensi mental distance berarti akan menarik diri untuk menghindari adanya interaksi, di dimensi cognitive impairment berarti semakin sulit untuk berkonsentrasi, dan di dimensi emotional impairment berarti semakin susah untuk mengontrol emosi. Setiap dimensi dari alat ukur ini memiliki reliabilitas internal yang baik (CronbachAos alpha = 0. 93 Ae 0. https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora AU AU Vol. No. Juni 2024 hlm: 1-8AU AU ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis deskriptif variabel dalam penelitian ini dapat dilihat di Tabel 2. Uji multiple linear regression dilakukan untuk menguji apakah WLB memprediksi BO pada karyawan sales di PT Uji asumsi normalitas residual, linearitas, dan homoskedastisitas menunjukkan bahwa data memenuhi asumsi. Tabel 2 Analisis Deskriptif Variabel Variabel Skala Exhaustion WIPL PLIW WEPL PLEW CronbachAos Alpha WIPL PLIW WEPL PLEW Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pada work-life balance dapat memprediksi pada burnout pada karyawan sales PT X, analisis regresi berganda digunakan untuk menguji apakah work-life balance secara signifikan memprediksi burnout. Hasil regresi menunjukkan kedua prediktor menjelaskan 99. 1% dari varians WIPL (R2=. F=7520. 46, p < . Ditemukan bahwa WIPL secara signifikan memprediksi BO ( = -2. 22, p < . , begitu juga dengan PLIW ( = -1. 74, p < . WEPL ( = -. 40, p < . Tetapi ditemukan bahwa dimensi PLEW tidak signifikan memprediksi burnout. Hasil regresi menunjukkan bahwa PLEW ( = -. 02, p > . Selanjutnya, untuk menunjukkan dampak dimensi work-life balance terhadap dimensi exhaustion pada burnout. Hasil analisis menunjukkan adanya dampak dimensi work-life balance terhadap tingkat burnout pada karyawan sales PT X, analisis regresi berganda digunakan untuk menguji apakah work-life balance secara signifikan memprediksi dimensi exhaustion. Hasil regresi menunjukkan kedua prediktor menjelaskan 98. 4% dari varians burnout (R2=. F=3999. 48, p < . Ditemukan bahwa WIPL secara signifikan memprediksi BO ( = -. 83, p < . , begitu juga dengan PLIW ( = -. 54, p < . Tetapi ditemukan bahwa dimensi WEPL dan PLEW tidak signifikan memprediksi exhaustion. Hasil regresi menunjukkan bahwa WEPL ( = 12, p <. dan PLEW ( = -. 02, p > . Berikutnya, untuk menunjukkan dampak dimensi work-life balance terhadap dimensi mental distance pada burnout. Hasil analisis menunjukkan adanya dampak dimensi work-life balance terhadap tingkat burnout pada karyawan sales PT X, analisis regresi berganda digunakan untuk menguji apakah work-life balance secara signifikan memprediksi dimensi mental distance. Hasil regresi menunjukkan kedua prediktor menjelaskan 96. 4% dari varians burnout (R2=. F=1730. 52, p < . Ditemukan bahwa WIPL secara signifikan memprediksi BO ( = -. 40, p < . , begitu juga dengan PLIW ( = -. 39, p < . 01 dan. WEPL ( = -. 23, p < . Tetapi ditemukan bahwa dimensi PLEW tidak signifikan memprediksi mental distance. Hasil regresi menunjukkan bahwa PLEW ( = . 01, p > . Selanjutnya, untuk menunjukkan dampak dimensi work-life balance terhadap dimensi cognitive impairment pada burnout. Hasil analisis menunjukkan adanya dampak dimensi work-life balance https://doi. org/10. 24912/jssh. Work-Life Balance sebagai Prediktor Burnout AU pada Sales di PT X Michelle et al. terhadap tingkat burnout pada karyawan sales PT X, analisis regresi berganda digunakan untuk menguji apakah work-life balance secara signifikan memprediksi dimensi cognitive impairment. Hasil regresi menunjukkan kedua prediktor menjelaskan 96. 4% dari varians burnout (R2=. F=1705. 46, p < . Ditemukan bahwa WIPL secara signifikan memprediksi BO ( = -. 58, p < . , begitu juga dengan PLIW ( = -. 32, p < . Tetapi ditemukan bahwa dimensi WEPL dan PLEW tidak signifikan memprediksi cognitive impairment. Hasil regresi menunjukkan bahwa WEPL ( = -. 02, p > . dan PLEW ( = . 02, p > . Terakhir, untuk menunjukkan dampak dimensi work-life balance terhadap dimensi emotional impairment pada burnout. Hasil analisis menunjukkan adanya dampak dimensi work-life balance terhadap tingkat burnout pada karyawan sales PT X, analisis regresi berganda digunakan untuk menguji apakah work-life balance secara signifikan memprediksi dimensi emotional impairment. Hasil regresi menunjukkan kedua prediktor menjelaskan 95. 7% dari varians burnout (R2=. F=1439. 59, p < . Ditemukan bahwa WIPL secara signifikan memprediksi BO ( = -. 39, p < . , begitu juga dengan PLIW ( = -. 47, p < . Tetapi ditemukan bahwa dimensi WEPL dan PLEW tidak signifikan memprediksi emotional impairment. Hasil regresi menunjukkan bahwa WEPL ( = -. 016, p > . dan PLEW ( = -. 04, p > . KESIMPULAN DAN SARAN Hasilnya menunjukkan pengaruh signifikan negatif work-life balance terhadap burnout. Semakin tinggi skor work-life balance semakin rendah burnout yang akan dialami. Sebaliknya, semakin rendah work-life balance yang dirasakan oleh seseorang, semakin tinggi burnout yang akan Selain itu, peneliti menyelidiki dimensi work-life balance mana yang dapat memprediksi burnout. Harapannya, hasil riset ini diinginkan dapat berkontribusi pada kemajuan pengetahuan, khususnya dalam ranah psikologi industri dan organisasi. Selain itu, peneliti berharap temuan dari penelitian ini bisa menjadi acuan untuk penelitian atau studi selanjutnya. Fokus dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana work-life balance memprediksi tingkat burnout pada karyawan yang berperan dalam departemen sales. Mengingat bahwa proses perizinan memakan waktu yang cukup lama, saran yang muncul untuk penelitian berikutnya adalah mempertimbangkan waktu pengumpulan data. Peneliti menyarankan kepada para karyawan sales PT X untuk tetap menyeimbangkan work-life balance dan mencegah burnout, karyawan sales di PT X disarankan untuk melakukan beberapa langkah proaktif seperti, merencanakan dengan baik tugas-tugas harian, menerapkan self-care, memanfaatkan fasilitas dan program kesejahteraan yang disediakan oleh perusahaan, serta menggunakan teknologi dengan bijak dengan menetapkan batasan waktu untuk istirahat dari perangkat komunikasi . dapat membantu mencegah pekerjaan yang berlebihan di luar jam kerja. Dengan mengadopsi saran-saran ini, karyawan sales dapat memperkuat work-life balance mereka, mengurangi risiko burnout, dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Ucapan terima Kasih (Acknowledgemen. Peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada PT X yang telah memberikan izin untuk pengambilan data, tanpa dukungan mereka, penelitian ini tidak mungkin terwujud. Kepercayaan dan kerjasama PT X sangat berarti bagi kelancaran penelitian. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan pandangan berharga. Semua kontribusi ini telah memperindah makalah ini secara signifikan. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif dalam bidang ilmu pengetahuan. Terima kasih sekali lagi atas dukungan dan kolaborasinya. REFERENSI