Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 GAMBARAN IMPLEMENTASI KLASIFIKASI DAN KODIFIKASI PENYAKIT DALAM MANAJEMEN DATA PASIEN DI PUSKESMAS Muhlisin1. Ari Yulianto2. Meri Rosita3. Alvin Valency4 Program Studi D4 Manajemen Informasi Kesehatan. Universitas AoAisyiyah Palembang1,2,3,4 mukhsin@gmail. ariyulianto1971@gmail. merirosita1978@gmail. alvinvalency213@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Implementasi klasifikasi dan kodifikasi penyakit merupakan komponen penting dalam pengelolaan data pasien di fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Puskesmas. Sistem ini membantu pencatatan, pelaporan, serta pengambilan keputusan medis dan administratif. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala, seperti kurangnya tenaga terlatih, pemahaman terbatas terhadap ICD-10, dan pencatatan diagnosis yang belum optimal, sehingga memengaruhi kualitas data dan efektivitas Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran implementasi klasifikasi dan kodifikasi penyakit di Puskesmas, dengan fokus pada penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan analisis data sekunder. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang diberikan kepada tenaga rekam medis, dokter, dan perawat, serta studi dokumentasi terhadap data rekam medis pasien selama periode Mei-Desember 2024. Hasil: menunjukkan bahwa Puskesmas telah menerapkan sistem klasifikasi berdasarkan ICD-10 dan menggunakan aplikasi Healthical untuk manajemen data pasien. Namun, ditemukan bahwa pengkodean penyakit tidak sepenuhnya dilakukan oleh tenaga rekam medis, melainkan oleh tenaga kesehatan lain seperti perawat atau dokter, yang berpotensi mengurangi akurasi Saran: Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kompetensi tenaga rekam medis, pelatihan rutin, dan audit data untuk memastikan kualitas pengkodean sesuai standar Kata Kunci: Klasifikasi penyakit, kodefikasi. ICD-10, rekam medis. Puskesmas. Background: The implementation of disease classification and codification is an important component in patient data management in health care facilities, including Community Health Centers. This system helps in recording, reporting, and making medical and administrative decisions. However, its implementation still faces obstacles, such as lack of trained personnel, limited understanding of ICD10, and suboptimal diagnosis recording, which affects data quality and service effectiveness. Objective: This study aims to analyze the description of the implementation of disease classification and codification in the Talangjambe Community Health Center, with a focus on Acute Respiratory Infection (ARI) and Hypertension. Method: This study uses a quantitative approach with a survey method and secondary data analysis. Data were collected through structured questionnaires given to medical record personnel, doctors, and nurses, as well as a documentation study of patient medical record data during the period May-December 2024. Results: showed that the Talangjambe Community Health Center has implemented a classification system based on ICD-10 and uses the Healthical application for patient data management. However, it was found that disease coding was not entirely carried out by medical record personnel, but by other health workers such as nurses or doctors, which has the potential to reduce data accuracy. Suggestion: This study recommends improving the competence of medical record personnel, routine training, and data audits to ensure coding quality according to standards Keywords: Disease classification, codification. ICD-10, medical records. Talangjambe Health Center. | 291 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 PENDAHULUAN Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan hipertensi merupakan dua masalah menurut Organisasi Kesehatan akibat penyakit tidak menular dan infeksi (WHO, 2. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Dunia Nomor 19 Tahun 2024 tentang puskesmas (WHO). ISPA, termasuk pneumonia dan pusat kesehatan masyarakat atau yang di sebut puskesmas yang menyelenggarakan morbiditas dan mortalitas, terutama pada upaya kesehatan masyarakat dan upaya anak di bawah 5 tahun dan kelompok rentan kesehatan perseorangan tingkat pertama, di negara berkembang (WHO, 2. Sementara itu, hipertensi atau tekanan darah promotif dan preventif, untuk mencapai tinggi adalah faktor risiko utama penyakit derajat kesehatan masyarakat yang tinggi. Puskesmas mendorong seluruh pemangku sekitar 10,8 juta kematian per tahun secara kepentingan untuk berkomitmen dalam global (WHO, 2. upaya mencegah dan mengurangi resiko Data WHO menunjukkan bahwa ISPA kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, bertanggung jawab atas 15% kematian anak kelompok, dan masyarakat. Oleh karena itu, balita di wilayah dengan sumber daya terbatas, sering kali diperburuk oleh polusi mengembangkan potensi tenaga kesehatan udara, gizi buruk, dan akses terbatas ke pelayanan kesehatan (WHO, 2. Di sisi lain, hipertensi memengaruhi 1,28 miliar Adapun. Puskesmas orang dewasa di dunia, dengan dua pertiga kasus terjadi di negara berpenghasilan memberikan pelayanan kesehatan kepada rendah-menengah (WHO, 2. Faktor masyarakat dan persorangan puskesmas risiko seperti diet tinggi garam, obesitas, juga harus memperhatikan kesehatan dan dan gaya hidup sedentari memperburuk keselamatan kerja bagi tenaga kesehatan. beban penyakit ini (WHO, 2. Dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan hipertensi merupakan dua kondisi intervensi terkait ISPA dan hipertensi dengan prevalensi tinggi dan dampak besar, namun pencatatan faktor risiko di tingkat target Sustainable Development Goals (SDG. dalam menurunkan angka kematian Puskesmas Misalnya, belum semua faktor risiko seperti | 292 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 paparan polusi udara, status gizi anak, dan universal, yang mendukung berbagai fungsi cakupan imunisasi untuk ISPA, serta perawatan kesehatan termasuk pemilihan konsumsi garam tinggi, obesitas, aktivitas pengobatan, pelaporan mortalitas, dan fisik rendah, stres, dan merokok untuk klaim asuransi kesehatan(Alharbi et al. hipertensi, dicatat secara rutin. (Fadila & Siyam, 2. Dalam konteks Puskesmas, penerapan Studi Riskesdas 2018 mengungkap sistem klasifikasi dan kodifikasi penyakit bahwa faktor modifikabel seperti obesitas dan pola aktivitas sangat berpengaruh pengelolaan data pasien. Fenomena di Lapangan menunjukkan bahwa di pusat Indonesia (Nugroho, 2. Evaluasi layanan kesehatan primer (Puskesma. Indonesia mengungkap masalah signifikan POSBINDU (Pos Pelayanan Terpad. di terkait akurasi kode penyakit. Penelitian Indonesia menunjukkan bahwa skrining menunjukkan bahwa pengkodean sering faktor risiko hipertensi masih belum Kurang dari 25% pengunjung seperti perawat atau dokter daripada staf diwawancarai terkait faktor risiko, kurang rekam medis yang terlatih (Setiyawan, dari 80% yang menjalani pengukuran 2. (Peraturan Menteri Kesehatan No. antropometri, dan kurang dari 15% yang Tahun 2. pengkodean rekam medis seharusnya dilakukan oleh tenaga yang (Widyaningsih et al. , 2. Permasalahan memiliki latar belakang pendidikan rekam serupa juga ditemukan di daerah lain, medis atau telah mendapatkan pelatihan dengan rendahnya capaian target skrining khusus di bidang ini. hipertensi, diabetes, dan usia produktif (Suhbah et al. , 2. Klasifikasi Pelayanan kesehatan yang berbasis bukti dan data membutuhkan sistem Internasional informasi kesehatan yang andal, terutama (ICD) merupakan sistem standar untuk dalam menghadapi kasus penyakit seperti mengklasifikasikan dan mengkode penyakit ISPA dan kondisi kesehatan, yang memudahkan prevalensi tinggi. Puskesmas sebagai garda terdepan harus mampu mengoptimalkan perawatan kesehatan, dan evaluasi program. sistem pengelolaan data pasien, termasuk ICD, yang saat ini berada dalam revisi ke- klasifikasi dan kodifikasi penyakit, agar Penyakit (ICD-. , | 293 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 mampu merespons dinamika penyakit Puskesmas, khususnya untuk kasus ISPA secara tepat dan efisien. Berdasarkan uraian tersebut, maka hambatan yang terjadi di lapangan guna tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi perbaikan sistem mengkaji secara menyeluruh bagaimana pencatatan dan pelaporan kesehatan yang implementasi klasifikasi dan kodifikasi lebih efektif dan akurat. penyakit dalam pengelolaan data pasien di METODE PENELITIAN Penelitian pencatatan data kesehatan. Hasil analisis pendekatan kuantitatif deskriptif untuk diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi untuk perbaikan sistem informasi kesehatan penggunaan kode ICD-10, serta akurasi Puskesmas. di Puskesmas. Penekanan pada aspek Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan menghasilkan temuan yang terukur dan karakteristik data numerik yang tersedia dapat diverifikasi, sekaligus memberikan dalam sistem rekam medis elektronik, terutama yang berkaitan dengan frekuensi peningkatan pelayanan kesehatan. penyakit dan pola kunjungan pasien. Penelitian berfokus pada analisis HASIL PENELITIAN data sekunder yang mencakup kode ICD- Berdasarkan hasil penelitian di 10, statistik kunjungan, dan karakteristik Puskesmas, diketahui bahwa Puskesmas ini telah menerapkan klasifikasi dan kodifikasi dikumpulkan melalui tinjauan dokumen dan penyakit menggunakan sistem ICD-10 observasi terhadap proses input data oleh (International Classification of Diseases petugas rekam medis. Analisis dilakukan Revisi ke-. yang ditetapkan oleh WHO dengan menghitung distribusi frekuensi dan dan menjadi standar nasional di Indonesia. memvisualisasikan data dalam bentuk tabel Sistem klasifikasi ini menjadi acuan dalam pencatatan dan pelaporan data diagnosis Data pemahaman pola yang muncul. pasien, serta digunakan dalam proses klaim Melalui pendekatan ini, penelitian pembiayaan melalui BPJS Kesehatan. Dua bertujuan memberikan gambaran objektif penyakit terbanyak yang tercatat selama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan kode ICD- | 294 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 10 J06. 9 dan Hipertensi Esensial (Prime. penyakit secara elektronik, baik untuk dengan kode ICD-10 dalam rentang I10 Ae kepentingan internal maupun eksternal I15 seperti pelaporan ke Dinas Kesehatan dan Implementasi kodifikasi ini telah diintegrasikan dengan aplikasi Healthical, sistem klaim BPJS melalui E-Klaim P-Care. Gambaran Umum Data Pasien yaitu sistem rekam medis elektronik yang Penelitian ini menganalisis 100 data digunakan untuk mencatat seluruh data pelayanan pasien secara digital. Aplikasi ini Puskesmas. Karakteristik data pasien dapat memudahkan proses entri data, penelusuran dilihat pada tabel berikut: riwayat medis pasien, serta pelaporan Tabel 1. Data Pasien Berdasarkan Kelompok Umur Kelompok Umur (%) Balita . Ae5 t. Anak-anak . Ae12 t. Dewasa . Ae59 t. Lansia (Ou60 t. Total Berdasarkan table 1, data menunjukkan sebesar 7%. Variasi ini mencerminkan bahwa seluruh kelompok umur terlayani di rentang kebutuhan layanan kesehatan yang Puskesmas, dengan proporsi terbanyak luas, mulai dari imunisasi dan penanganan berada pada usia dewasa . Ae59 tahu. ISPA pada balita, hingga deteksi dini sebesar 55%. Diikuti oleh balita . Ae5 tahu. hipertensi dan penyakit kronis pada usia sebanyak 24%, anak-anak usia 6Ae12 tahun dewasa dan lanjut usia sebanyak 14%, dan lansia (Ou60 tahu. Tabel 2. Distribusi Penyakit Berdasarkan ICD 10 Berikut adalah distribusi 5 penyakit terbanyak dari hasil pengkodean ICD-10 Diagnosis Kode ICD-10 Infeksi Saluran Pernapasan Akut J06. Hipertensi Esensial (Prime. I10 Gastritis K29. Diabetes Melitus Tipe 2 E11 Myalgia M79. | 295 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Lain-lain Tabel 2 menunjukkan bahwa ISPA . %) Tiga diagnosis lainnyaAigastritis, diabetes dan hipertensi esensial . %) merupakan berkontribusi di bawah 15 myalgiaAimasing-masing terbanyak, mencakup 48% dari total kasus. Tabel 3 Tingkat Ketepatan Dan Implementasi Pengkodean Aspek Temuan Ketepatan Pengkodean ICD-10 85% Tepat Penggunaan kode AuUnspecifiedAy 12% menggunakan kode Unspecified 76% oleh non rekam medis. 24% oleh Pelaku Pengkodean rekam medis berkompeten Status SOP Tidak ada SOP aktif Dari analisis terhadap 100 data, terlihat ketepatan dan implementasi pengkodean ICD-10 di Puskesmas produktif memiliki risiko lebih tinggi PEMBAHASAN terhadap masalah kesehatan karena gaya Umur Pasien hidup dan tuntutan pekerjaan mereka. Berdasarkan hasil analisis terhadap 100 Perilaku sedentary dan aktivitas fisik data rekam medis pasien rawat jalan di rendah lazim di kalangan pekerja kantoran. Puskesmas, ditemukan bahwa kelompok yang berpotensi menimbulkan masalah usia produktif . Ae59 tahu. mendominasi jumlah kunjungan pasien, yakni sebesar terutama dikaitkan dengan orang dewasa Disusul oleh kelompok balita . Ae5 yang lebih tua, semakin memengaruhi tahu. sebanyak 24%, anak-anak . Ae12 kelompok usia produktif karena gaya hidup tahu. sebesar 14%, dan lansia (Ou60 tahu. sebesar 7%. Temuan ini menunjukkan kesehatan(Kasumayanti et al. , 2. Hipertensi, bahwa mayoritas pasien yang mengakses Temuan ini sejalan dengan hasil layanan kesehatan primer adalah individu Penelitian (Halim& Sutriyawan, 2. dalam usia kerja aktif. yang menyatakan Faktor-faktor seperti Menurut Penelitian riwayat keluarga, tingkat stres, dan pilihan gaya hidup berkorelasi signifikan dengan | 296 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 kejadian hipertensi pada kelompok usia ini sebesar 21%. Gastritis (K29. sebanyak (Erma Kasumayanti & Maharani, 2. Diabetes Melitus Tipe 2 (E. sebesar Kebiasaan tidak sehat seperti merokok, 9%, dan Myalgia (M79. sebesar 6%. asupan garam berlebihan, dan konsumsi Sementara alkohol juga dikaitkan dengan risiko tergolong ke dalam kategori "lain-lain", hipertensi yang lebih tinggi. yaitu kumpulan dari berbagai diagnosis Berdasarkan dengan angka prevalensi yang lebih kecil. Fakta ini menunjukkan bahwa penyakit dengan beban tinggi di puskesmas bukan sebelumnya, dapat diasumsikan bahwa hanya penyakit menular seperti ISPA, tetapi tingginya angka kunjungan dari kelompok juga Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti usia produktif di Puskesmas menunjukkan hipertensi dan diabetes yang membutuhkan bahwa kelompok ini memiliki kesadaran perawatan jangka panjang. Penelitian deteksi dini dan pengobatan penyakit. faktor lingkungan dan perilaku secara tengah tekanan kehidupan sosial dan signifikan memengaruhi terjadinya Infeksi ekonomi, mereka menjadi lebih waspada Saluran terhadap gangguan kesehatan yang dapat berbagai tempat. Kondisi perumahan yang mengganggu produktivitas kerja. Namun buruk, termasuk ventilasi yang tidak Pernapasan Akut (ISPA) mengindikasikan adanya beban penyakit pencahayaan yang tidak tepat, dikaitkan tidak menular yang mulai meningkat di usia dengan insiden ISPA yang lebih tinggi. (Wati et al. , 2. gangguan muskuloskeletal. Studi terkini menyoroti prevalensi Penyakit Berdasarkan ICD-10 hipertensi dan infeksi saluran pernapasan Dari hasil pengklasifikasian data rekam sebagai masalah medis berdasarkan sistem International Indonesia. Di Semarang, kasus hipertensi Classification of Diseases edisi ke-10 (ICD- meningkat dari 13. 249 pada tahun 2021 . , diketahui bahwa lima besar penyakit 822 pada tahun 2022 di Puskesmas Puskesmas Infeksi kesehatan utama di Kedungmundu(Casmuti Saluran Fibriana, 2. Temuan ini serupa dengan Pernapasan Akut (ISPA) dengan kode J06. hasil penelitian di Puskesmas wilayah sebesar 27%. Hipertensi Esensial (I. Bandung oleh (Astuti et al. , 2. yang | 297 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 24% oleh tenaga rekam medis profesional. 13,7%, dengan hubungan yang signifikan Hal antara usia. BMI, dan aktivitas fisik pengkodean masih belum sesuai dengan Tingginya jumlah kasus ISPA dapat diasumsikan sebagai cerminan dari kondisi regulasi dan berisiko tinggi terhadap ketidaktepatan data medis. Dalam teori manajemen informasi mungkin memiliki kualitas udara buruk kesehatan, proses klasifikasi dan kodifikasi atau perumahan padat. Hal ini juga diagnosis memegang peranan vital dalam menunjukkan bahwa edukasi masyarakat menjamin integritas data klinis, keuangan, mengenai pencegahan penyakit pernapasan, dan pelaporan. Penelitian tentang akurasi penggunaan masker, dan peningkatan imun dan penerapan kode diagnostik di rumah tubuh masih perlu ditingkatkan. Dominasi sakit Indonesia mengungkap tantangan hipertensi dan diabetes melitus menandakan yang signifikan. Studi di beberapa rumah bahwa puskesmas semakin dihadapkan sakit menemukan tingkat akurasi yang pada tantangan PTM yang memerlukan rendah, dengan satu studi melaporkan pendekatan promotif dan preventif jangka hanya 44,56% diagnosis rawat inap obstetri Fakta ini menekankan pentingnya dan ginekologi yang dikode dengan benar (Nuryati, 2. Studi lain di klinik pengobatan, tetapi juga dalam perubahan perilaku masyarakat. diagnosis rawat jalan dikode secara tidak Tingkat Ketepatan dan Implementasi (Hernawan et al. , 2. Pengkodean 86,67% Penelitian oleh Lestari et al. di Dari 100 data rekam medis pasien yang dianalisis, ditemukan bahwa 85% menyimpulkan bahwa puskesmas yang diagnosis telah dikodekan dengan benar tidak memiliki SOP pengkodean tertulis menggunakan standar ICD-10, sementara dan tidak didampingi oleh tenaga rekam 12% masih menggunakan kode tidak spesifik . seperti J06. 9 tanpa keterangan yang lebih rinci, dan 3% tidak Sementara itu, penelitian oleh Wirawan dan dikodekan secara tepat atau dibiarkan Sutanto pelatihan berkelanjutan terhadap seluruh Selain . 20Ae30%. ICD-10 Puskesmas dilakukan oleh tenaga non- rekam medis sebanyak 76%, dan hanya meningkatkan akurasi pengkodean hingga | 298 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 95%, khususnya jika diiringi dengan audit mempermudah pengolahan informasi untuk bulanan dan penerapan sistem Health Information System (HIS) yang efektif. Dari hasil tersebut dapat diasumsikan Namun, masih terdapat tantangan bahwa rendahnya ketepatan pengkodean yang perlu diatasi, khususnya dalam pengkodean penyakit oleh tenaga non- kesalahan teknis, tetapi lebih kepada sistem rekam medis. Beberapa tenaga medis yang kerja yang belum didukung oleh regulasi tidak memiliki latar belakang rekam medis internal yang kuat dan keterbatasan SDM seringkali kesulitan dalam memahami penggunaan kode ICD-10 dengan benar, semata-mata Fakta pengkodean dilakukan oleh tenaga non- rekam medis menunjukkan adanya beban Hal ini menjadi hambatan bagi tugas yang tidak proporsional serta potensi akurasi data yang diperoleh, dan berpotensi kesalahan dalam klasifikasi yang sangat Padahal, dalam sistem pelayanan keputusan medis yang diambil. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian lebih terhadap kualitas pelatihan dan pemahaman tenaga non-rekam klasifikasi penyakit ini. KESIMPULAN SARAN Berdasarkan Secara umum, implementasi sistem klasifikasi dan kodifikasi penyakit di lapangan, disarankan agar pihak puskesmas Puskesmas sudah berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kompetensi tenaga cukup efektif dalam mendukung kegiatan pelayanan kesehatan. Puskesmas telah sertifikasi yang lebih intensif mengenai ICD-10. kodifikasiICD-10 untuk mengidentifikasi Penguatan kompetensi ini bertujuan untuk berbagai penyakit yang ada di wilayah memastikan bahwa pengkodean diagnosis Proses pengkodean yang dilakukan dilakukan secara akurat, konsisten, dan oleh tenaga medis di Puskesmas dapat sesuai dengan standar yang berlaku. Selain itu, puskesmas juga perlu melakukan audit rutin terhadap data rekam medis yang telah | 299 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 dikodekan, guna menjaga kualitas dan diagnosis menggunakan ICD-10. Simulasi integritas data serta mendeteksi potensi dan praktik lapangan yang menyerupai kondisi nyata di fasilitas kesehatan perlu pelaporan maupun proses klaim. pengalaman konkret dalam menangani Di sisi lain, institusi pendidikan yang kodifikasi penyakit, sekaligus memahami menyelenggarakan program studi rekam pentingnya ketelitian dan akurasi dalam medis juga memiliki peran penting dalam proses tersebut. Dengan demikian, sinergi memperkuat kualitas lulusan. Kurikulum antara dunia pendidikan dan pelayanan pembelajaran sebaiknya mengakomodasi kesehatan dapat tercipta untuk mendukung mutu dokumentasi medis yang lebih baik di langsung berhubungan dengan pengkodean masa depan. DAFTAR PUSTAKA