Vol 8. No 2. Maret 2026. org/10. 38189/jtbh. ISSN 2654-5691 . 2656-4904 . Available at: e-journal. id/index. php/jbh Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap Transformasi Misi Kristen Ngoguino Guntersah1 lukasngoguino@gmail. Suhadi2 dnlsuhadi@gmail. Abstract The Dialogical Study between Anthropology and Christian Faith is a study with an interdisciplinary approach that integrates the science of anthropology with Christian theology to understand human existence, culture, and relations. This study departs from the anthropological view that humans are seen merely as objects resulting from biological evolution and socio-cultural construction. On the other hand, in the Bible, humans are not only understood socio-culturally but are also critically reflected upon in the light of biblical narratives and their relationship with the Creator from the beginning to the end of human physical existence in the universe. This study allows for a very dynamic dialog between empirical findings in anthropology and Christian theological interpretations in understanding human reality and the culture within it. This study also highlights contemporary issues such as globalization, social justice, and ecology, and questions where the position of Christian faith lies in responding to these matters. In this study, a qualitative research method with an inductive approach will be used, within a phenomenologicalhermeneutic study design. Thus, the dialogical study of Anthropology and Christian Faith not only serves as a tool for cultural analysis but also as a medium to encourage reflective and transformative engagement, aimed at appreciating the complexity of human culture while responding to the call of faith in proclaiming salvation and a deep understanding of human identity, suffering, and the purpose of human creation. Keywords: anthropology. Christian faith. mission transformation Abstrak Kajian Dialogis antara Antropologi dan Iman Kristen merupakan suatu studi dengan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan ilmu antropologi dengan teologi Kristen untuk dapat memahami keberadaan, kebudayaan, dan relasi manusia. Kajian ini berangkat dari pandangan Antropologi bahwa manusia dilihat hanya sebagai objek hasil produk evolusi biologis dan konstruksi sosio-budaya. Di sisi lain dalam Alkitab Manusia tidak hanya dipahami secara sosio-budaya, tetapi juga direfleksikan secara kritis dalam terang narasi alkitabiah dan relasinya dengan Pencipta sejak permulaan hingga akhir dari eksistensi fisik manusia dalam alam semesta. Kajian ini memungkinkan adanya dialog yang sangat dinamis antara temuan empiris antropologi dan interpretasi teologis Kristen dalam memahami realitas manusia dan budaya di dalamnya. Kajian ini juga menyoroti isu-isu kontemporer seperti globalisasi, keadilan sosial dan ekologi, dan mempertanyakan di manakah posisi Sekolah Tinggi Missiologia Yogyakarta Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 iman Kristen dalam merespons hal ini. Dalam kajian ini akan digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan induktif, dalam desain studi fenomenologi-hermeneutika. Dengan demikian kajian dialogis Antropologi dan Iman Kristen tidak hanya sekedar menjadi alat analisis budaya, tetapi juga sebagai wahana untuk mendorong keterlibatan yang reflektif dan transformatif, yang bertujuan untuk menghargai kompleksitas budaya manusia seiring dengan merespons panggilan iman dalam mewartakan keselamatan dan pemahaman mendalam tentang identitas, penderitaan, dan tujuan penciptaan manusia. Kata-kata kunci: antropologi. iman Kristen. transformasi misi PENDAHULUAN Manusia, dalam seluruh kompleksitasnya, telah lama menjadi objek kajian yang tak habis-habisnya. Ilmu antropologi, dengan metodologi etnografisnya, telah berjasa besar dalam mendokumentasikan dan menganalisis keragaman ekspresi budaya, sistem makna, dan struktur sosial yang dibangun oleh manusia di seluruh penjuru dunia. Namun, pendekatan antropologi yang dominan sering kali berakar pada paradigma naturalistik, relativistik, dan sekuler secara sengaja atau tidak sengaja cenderung mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan utama tentang hakikat, tujuan, dan nasib akhir manusia. 3,4 Bahkan pertentangan sengit antar teologi modern yang pro terhadap sains dan teologi konservatif yang solid pada pendiriannya sekitar setengah abad terakhir telah membuat masyarakat Kristen di dunia Barat yang sangat marak dengan perkembangan teknologi untuk memilih meninggalkan gereja5, karena dirasa iman dianggap tidak relevan dengan ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya Antropologi. Apakah Antropologi dengan teori evolusinya dapat selaras dengan Alkitab? Apakah Antropologi bertentangan dengan Alkitab? Apakah dalam iman Kristen kita sebaiknya menghindari Antropologi? Pertanyaan-pertanyaan ini justru menjadi jantung dari refleksi teologis Kekristenan. Di sinilah muncul ruang bagi sebuah dialog yang integratif dan produktif. Apa yang terjadi ketika lensa analitis antropologi yang kaya empiris dipertemukan dengan kerangka penafsiran teologis Kristen yang bersumber dari wahyu Allah? Bagaimana pemahaman tentang manusia sebagai homo faber . akhluk Louis Leahy. SJ. Ilmu Tentang Manusia: Sebuah Antropologi Filosofis (Yogyakarta: Kanisius. Hal 15-17 William G. Foote. AuNeither a Beast Nor a God: A Philosophical Anthropology of Humanistic Management,Ay Humanistic Management Journal 9, no. 3 (December 2. : 327Ae71, https://doi. org/10. 1007/s41463-024-00175-x. AuGermanyAos Empty Churches Repurposed as Congregations Shrink,Ay Dw. Com, accessed May 30, 2026, https://w. com/en/germanys-empty-churches-repurposed-as-congregations-shrink/a-75227388. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . pencipta buday. 6,7 dan homo religiosus . akhluk beragam. 8,9 diperkaya oleh doktrin tentang Imago Dei . itra Alla. ? Kajian antropologis dalam perspektif iman Kristen lahir dari ketegangan sekaligus sinergi ini. Pendekatan interdisipliner ini tidak bermaksud untuk mereduksi antropologi menjadi alat pembenar doktrin, atau sebaliknya, menafsirkan teologi semata-mata melalui temuan budaya. Sebaliknya, penelitian ini berupaya membangun sebuah percakapan yang setara dan saling mengoreksi. Perjumpaan ini penting bukan hanya untuk ranah akademis, tetapi juga untuk menjawab tantangan konkret. Dalam dunia yang dilanda fragmentasi, ketidakadilan, krisis ekologi, dan penurunan moralitas Kekristenan di Barat, diperlukan sebuah pemahaman antropologi yang tidak hanya deskriptif . enggambarkan bagaimana manusia hidu. tetapi juga preskriptif dan transformatif . enawarkan visi tentang bagaimana seharusnya manusia hidup bersama dalam damai dan Perspektif iman Kristen, dengan narasi besar tentang penciptaan, kejatuhan, dan penebusan, menawarkan sumber daya konseptual yang kaya untuk merespons tantangan Dameirianto & Mangoli, pernah melakukan kajian Antropologi dalam perspektif iman Kristen namun penelitian ini berfokus pada keyakinan iman akan adanya kebangkitan 10 Robbins. Bialecki dan Hayne, dalam jurnal AuThe Anthropology of ChristianityAy. Religion Compass11 membuat sebuah penelitian yang memberikan peta jalan komprehensif tentang bagaimana sebuah disiplin antropologi bertemu dengan iman Kristen. Lieven Boeve, dalam jurnal AuInterruption: From Theology to AnthropologyAiAnd Back Again?Ay 2026,12 menyatakan bahwa Antropologi sering kali gagal memahami AuimanAy karena hanya melihatnya sebagai praktik sosial, namun di sisi lain Boeve juga menyatakan bahwa pertemuan interdisipliner keduanya mampu memberikan interupsi sehat bagi Antropologi. Dalam penelitian ini akan dilakukan kajian dialogis antara Antropologi dan iman Kristen Adellia Rosita Aulia. Masduki Asbari, and Gunawan Santoso. Hakikat Manusia Sebagai Homo Faber, 02, no. Don Ihde and Lambros Malafouris. AuHomo Faber Revisited: Postphenomenology and Material Engagement Theory,Ay Philosophy and Technology 32, no. 2 (June 2. : 195Ae214, https://doi. org/10. 1007/s13347-018-0321-7. Mircea Eliade. The Sacred and The Profane: The Nature of Religion . (New York: Brace & World, 1. Hal 11-20 Jason W. Alvis. AuFaith and Forgetfulness: Homo Religiosus. Jean-Louis Chrytien, and Heidegger,Ay Religions 10, no. 4 (April 2. , https://doi. org/10. 3390/rel10040264. Yohanes Damacinus Kartika Dameirianto and Yefta Yan Mangoli. Kajian Antropologi Dalam Perspektif Iman Kristen Dengan Keyakinan Adanya Kebangkitan Tubuh, n. https://doi. org/10. 52879/didasko. Jon Bialecki. Naomi Haynes, and Joel Robbins. The Anthropology of Christianity, n. Lieven Boeve. AuInterruption: From Theology to AnthropologyAiAnd Back Again?,Ay Religions 17, 4 (April 2. : 463, https://doi. org/10. 3390/rel17040463. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 serta melihat implikasinya terhadap transformasi misi Kristen, yang belum pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Oleh karena itu, karya tulis ini bertujuan untuk menguraikan landasan, metodologi, dan implikasi dari kajian ini terhadap misi Kristen. Melalui pembahasan ini diharapkan dapat ditunjukkan bahwa dialog antara antropologi dan teologi bukan hanya mungkin, bahkan besar kemungkinan dapat meraih pemahaman yang lebih utuh dan penuh tentang manusia dan dunianya, serta membuka sebuah jendela bagi bagaimana mandat utama iman Kristen tidak bertentangan dengan Antropologi. METODE Penelitian ini merupakan studi literatur kualitatif dengan pendekatan induktif,13 dalam desain studi fenomenologi-hermeneutik,14 yang dipadukan dengan refleksi teologis kritis dalam studi terhadap Alkitab, buku-buku, jurnal, penelitian tentang manusia dan sejarah misi yang mendukung studi ini. Pendekatan ini dipilih untuk memahami secara mendalam pengalaman, makna, dan praktik budaya manusia . , sekaligus menafsirkannya dalam kerangka narasi besar iman Kristen . Min Cheol Kim, dalam penelitiannya menerapkan metode ini berdasarkan studi fenomenologi-hermeneutik dari Paul Ricoeur, metode ini memungkinkan bagi dunia teologi untuk dapat menghasilkan sebuah gaya komunikasi baru yang dapat berfungsi menjadi jembatan kepada dunia saat ini di mana budaya yang sangat sekuler dan saintifik materialistik mendominasi. Dengan penelitian ini telah mampu diaplikasikan kepada budaya masyarakat modern, maka hal ini juga dapat diaplikasikan pada budaya-budaya lainnya, di mana mandat pewartaan kepada bangsa-bangsa yang membawa pertemuan kepada berbagai macam budaya merupakan tantangan terbesar dalam misi Kristen. Edward Barroga et al. AuConducting and Writing Quantitative and Qualitative Research,Ay Journal of Korean Medical Science 38, no. , https://doi. org/10. 3346/jkms. Min Cheol Kim. AuDoing Theology in Metaphoric Language: RicoeurAos Theological Hermeneutics,Ay Religions 17, no. 5 (May 2. : 584, https://doi. org/10. 3390/rel17050584. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . Kombinasi ini juga sangat memungkinkan penelitian tidak berhenti pada deskripsi, tetapi melangkah ke tahap dialog integratif transformatif yang mengaitkan data empiris dengan kerangka teologis yang konstruktif. Pertama, akan dibahas dasar pijakan empiris dan teologis yang menjadi fondasi dialog, yaitu aspek-aspek dalam studi antropoligis dan konsep Imago Dei dalam perspektif iman Kristen. Kedua, dilakukan kajian Dialogis antar kedua disiplin ilmu untuk menghasilkan suatu jembatan yang konstruktif. Ketiga, akan disajikan aplikasi dan implikasi pendekatan ini terhadap sejarah misi yang telah ada. Keempat, memaparkan pendapat para ahli yang mendukung kajian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Manusia dalam Antropologi & Perspektif Iman Kristen Definisi dan Ruang Lingkup Antropologi Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia. Prof. Dr. Koentjaraningrat, seorang ahli dalam ilmu Antropologi, menyatakan bahwa Antropologi merupakan ilmu praktis dalam mempelajari data-data tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang berbeda-beda. 15 Bahkan dalam sejarahnya negara-negara Barat mengembangkan ilmu ini dengan maksud dan tujuan untuk mempelajari bangsa-bangsa beserta kebudayaan yang ada di dalamnya, terutama bangsa-bangsa jajahan yang menjadi daerah koloni mereka. 16 Dengan mempelajari masyarakat dan budaya yang dijajah mereka mampu mengambil sebuah keputusan strategis yang tidak merugikan mereka, melakukan analisis, membuat keputusan dengan tepat, sehingga kegagalan dapat mereka minimalisasi dan probabilitas keberhasilan dapat mereka tingkatkan. Dengan demikian Antropologi Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Edisi Revisi (Jakarta: Rineka Cipta, 2. Hal 8 Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Hal 5-9 CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 merupakan sebuah ilmu yang bertujuan mempelajari manusia dari segala sisi dari dan digunakan oleh segala aspek keilmuan, termasuk ilmu militer. Koentjaraningrat lebih lanjut membagi ilmu Antropologi ke dalam lima aspek,17 yaitu Paleo-antropologi yang mempelajari asal usul manusia dan teori evolusi manusia. Antropologi fisik yang mempelajari ciri-ciri fisik seperti warna mata, warna rambut, bentuk rambut dan sebagainya. Etnolinguistik yang mempelajari kata-kata, tata bahasa dari berbagi suku bangsa yang ada. Prehistori yang mempelajari sejarah dan perkembangan suku bangsa. Etnologi yang mempelajari asas-asas dalam suku bangsa. Siapa Manusia Menurut Antropologi? Jika mengacu pada Paleo-antropologi dalam mempelajari asal-usul manusia, ilmu Antropologi masih belum mencapai titik temu yang konkret,18 ambiguitas model masih menghalangi perdebatan tentang asal-usul manusia kontemporer. serta setiap data genetik terbaru sering kali justru menambah kompleksitas daripada memberikan hasil yang lebih Hal ini terjadi dikarenakan dalam menjelaskan asal usul manusia Antropologi tidak berdasar analisis sejarah namun berdasarkan penelitian empiris penemuan-penemuan fosil yang ada di berbagai tempat. Diperkirakan manusia modern telah ada sejak sekitar 4 juta tahun yang lalu. 19 Dalam menyimpulkan asal usul manusia Ilmu Antropologi lebih meyakini/bersandar pada teori evolusi, hal ini dikarenakan karena Antropologi memosisikan diri sebagai rumpun ilmu pengetahuan filsafat. Selain itu temuan-temuan kerangka/fosil manusia purba menunjukkan ada perbedaan struktur pada kerangka manusia modern dengan manusia lampau. Carolus Linnaeus (Carl von Linn. , seorang ahli botani dan taksonomi asal Swedia pada abad ke-18 mengklasifikasikan Manusia ke dalam Kingdom Animalia . , hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh teori evolusi bahwa manusia berasal dari evolusi primata / simpanse. Namun nenek moyang manusia yang paling mendekati manusia modern . volusi tahap akhi. muncul sekitar empat juta tahun yang lalu. Dalam hal ini pun para Antropolog juga belum mencapai titik temu karena memakai teori yang disebut AuMissing LinkAy, yaitu sebuah makhluk penghubung antara evolusi dari simpanse menuju manusia modern. Koentjaraningrat dalam buku-bukunya tentang Antropologi juga tidak membahas secara Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Hal 11-17 Mark Collard and Mana Dembo. AuModern Human Origins,Ay in A Companion to Paleoanthropology, 1st ed. , ed. David R. Begun (Wiley, 2. , 557Ae81, https://doi. org/10. 1002/9781118332344. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Hal 56-80 CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . spesifik tentang asal-usul manusia dan lebih condong pembahasan kepada perubahan dalam masyarakat, budaya dan suku bangsa. Dalam mendiskusikan Antropologi dengan Iman Kristen, jika tidak berhati akan membawa masuk ke dalam polarisasi antara teologi modern versus teologi konservatif. Karena teolog-teolog Modern seperti Paul Tillich. Bonhoeffer. Bultman. Von Rad umumnya juga tidak terlalu mempercayai apa yang ada di kitab Kejadian dan dianggap sebagai mitos belaka, besar kemungkinan mereka lebih condong kepada teori evolusi yang mendapat dukungan-dukungan studi empiris dari arkeologi, biologi, penanggalan argon / uranium dan Teologi memang berjalan dari konsep filsafat dan teologi sendiri secara umum merupakan rumpun ilmu filsafat yang mempelajari tentang makhluk ilahi, sesuatu yang ilahi dan sebetulnya tidak hanya dibatasi pada satu konsep dalam Kekristenan saja, sehingga sahsah saja jika seorang teolog memiliki pandangan demikian. Namun sebagai seorang teolog Kristen sudah sejatinya dalam membangun perspektif pandangannya harus dengan batasan dan pedoman Kristen. Siapa Manusia Menurut Iman Kristen? Jika ditinjau dari Iman Kristen manusia adalah Imago Dei, makhluk yang diciptakan menurut Gambar Allah. 20 Artinya manusia memiliki kepribadian, karakter, sifat-sifat dan ciri-ciri yang sama dengan Penciptanya. Sebagai contoh ciri khas manusia yang sama dengan Allah yaitu. Allah merupakan makhluk yang tiada bandingannya (Yes. , ciri-ciri ini melekat dalam manusia di mana manusia merupakan makhluk yang berbeda dari makhluk ciptaan lainnya. Alkitab sendiri menegaskan manusia diciptakan secara berbeda dalam waktu yang berbeda dari ciptaan lainnya (Kej. 1:26-. artinya di dalam dunia ini tidak ada makhluk ciptaan yang sama seperti manusia. Manusia berjalan tegak, memiliki budaya, memakai pakaian, memiliki kecerdasan yang lain daripada makhluk hidup yang lain. Di sisi lain manusia juga diciptakan untuk berkuasa . , lagi-lagi memiliki ciri khas dan kemiripan dengan Allah. Dengan demikian maka dalam pandangan Iman Kristen manusia bukanlah evolusi dari primata. Primata merupakan makhluk binatang yang diciptakan dan manusia merupakan makhluk yang diciptakan secara istimewa. Dalam konteks asal-usul manusia Antropologi dan Iman Kristen memiliki sebuah pandangan yang Antropologi berhenti pada teori konsep evolusi secara biologis, namun Iman Kristen menjelaskan manusia hingga pada hakikat, tujuan hingga nasib akhir manusia. James Montgomery Boice. Dasar-Dasar Iman Kristen (Surabaya: Momentum, 2. Hal 162- CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 Dalam iman Kristen manusia pada hakikatnya diciptakan sebagai makhluk yang kudus, masuk dalam persekutuan dengan Allah (Ef. 1 :4-. , namun kemudian jatuh dalam dosa pelanggaran terhadap perintah Allah dan masuk dalam kematian, namun Allah kemudian memulai rencana penyelamatan, dengan mengutus Putra-Nya yang tunggal menjadi penebusan atas hukuman dosa dan memulihkan manusia seperti Gambar Allah semula (Kej. Implikasi lanjutan dari rencana keselamatan yang dianugerahkan Allah ini adalah manusia akan dapat masuk dalam kehidupan kekal bersama dengan Allah (Yoh. Secara garis besar demikianlah dasar Iman Kristen, di sini peneliti tidak terlalu memperluas pokok-pokok iman Kristen karena sudah lebih banyak diulas dalam artikel atau jurnal lain terkait hal ini. Namun peneliti menggaris bawahi siapakah Manusia menurut Iman Kristen? Yaitu makhluk yang diciptakan lain daripada ciptaan yang lain, yang kudus dan tidak bercacat, untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah, namun kemudian jatuh dalam dosa pelanggaran terhadap perintah Allah serta masuk dalam kematian. Allah kemudian memulai rencana penyelamatan dengan mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menjadi penebusan atas hukuman dosa manusia, memulihkan manusia seperti Gambar Allah semula, juga untuk masuk kembali dalam hubungan persekutuan dengan Allah baik di bumi maupun di sorga. Kedatangan Kristus dan Perbaikan Moral Manusia Secara garis besar manusia merupakan Gambar Allah yang kemudian rusak akibat dosa, lalu dipulihkan. Agen pemulihan ini tak lain adalah Kristus yang telah mati di atas kayu salib untuk menanggung dosa umat manusia. Ketika Kristus datang, karya keselamatannya tidak hanya berhenti pada kepastian jaminan keselamatan akan kematian jasmani . , tetapi juga kepada pemulihan Gambar Allah yang telah rusak. 21 Pada saat proses pemulihan Gambar Allah ini Kristus juga secara aktif mengajar manusia, menanamkan nilai-nilai baru, memperbaiki nilai-nilai moral, memberikan mandat baru kepada manusia, salah satunya ada di Yohanes 13:34 AuAku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihiAy. Sekalipun sebenarnya perintah ini bukanlah perintah baru karena perintah yang sama sebenarnya sudah ada di Perjanjian Lama dalam Imamat 19:18 dan juga perintah kelima sampai dengan kesepuluh dalam sepuluh perintah Allah yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Namun Kristus dengan jelas Milliard J. Ericson. Teologi Kristen Volume 3 (Baker Book House, 1983. Gandum Mas. Hal 202-211 CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . memberikan sebuah perintah untuk mengasihi sesama manusia dalam Perjanjian Baru untuk mempertegas apa yang sejatinya dikehendaki oleh Allah. Hukum Taurat dan Hukum Kasih Kristus sendiri mengatakan dalam pengajarannya bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, sebuah hukum yang telah ada sejak 1. 500 tahun dipelihara oleh umat Israel. Sebaliknya Kristus menegaskan bahwa Ia hadir untuk menggenapi hukum Taurat. Rasul Paulus sendiri juga menegaskan dalam suratnya bahwa posisi hukum Taurat adalah untuk membuat dosa semakin nyata / semakin membuat kontras dosa-dosa manusia (Rm. 3:20. Pertanyaannya adalah jika hukum Taurat masih ada berarti apakah dosa masih ada? Jawabannya adalah dosa masih ada dan penebusan Kristus juga masih ada. Kedatangan Kristus tidak lantas membuat seorang terlepas dari hukuman, sebaliknya hukuman yang seharusnya ditujukan kepada manusia Ia tanggung di atas kayu salib, jika hukum Taurat dibatalkan maka sia-sialah pengorbanan Kristus karena tidak ada dosa yang ditanggung karena tidak ada penghukuman. Namun karena penghukuman masih terus ada itulah mengapa kuasa penebusan berkuasa membebaskan manusia dari hukuman. Pertanyaan berikutnya jika demikian apakah manusia masih tetap harus hidup menaati hukum Taurat? Jawabnya adalah manusia masih tetap harus menjaga hidup dengan menaati perintah-perintah yang ada dalam Alkitab, hanya saja tidak di bawah prinsip-prinsip legalitas hukum Taurat karena takut dihukum seperti umat Perjanjian Lama, sebab penghukuman telah ditanggung oleh Kristus. Sebaliknya manusia dapat menaati perintah Allah dengan landasan ucapan syukur dan kasihnya kepada Allah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi manusia . Yoh. Dalam sebuah kesempatan seorang murid pernah bertanya kepada Kristus AuGuru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?Ay Jawab Yesus kepadanya: AuKasihilah Tuhan. Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Ay (Mat. 22:36-. Dalam akhir pembicaraannya dengan muridnya Yesus mempertegas bahwa Aupada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabiAy. Secara sederhana Kristus mempertegas bahwa aturan moral yang sejatinya ditetapkan oleh Allah sejak semula adalah bagaimana manusia menjaga relasinya secara vertikal . epada Alla. dan secara horizontal . epada sesama manusi. Dan dalam Perjanjian Baru konsep menaati hukum ini tidaklah dilandasi prinsip legalitas di bawah CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 bayang-bayang Hukum Taurat, namun atas landasan kasih karena manusia telah dikasihi oleh Allah. 22 Sehingga kehidupan Kristen sejatinya adalah masuk kepada persekutuan bersama Allah, bagaimana manusia hidup untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya, hal ini kerap disebut sebagai The Great Commandement. Dialog Antropologi dan Perspektif Iman Kristen Dialog Bukanlah Perdebatan Dialog adalah sebuah hubungan atau komunikasi antar setidaknya dua pihak yang saling menghormati perbedaan masing-masing, namun berusaha mencari makna positif daripada keberadaan keduanya. Dialog juga bukanlah sebuah perdebatan di mana dalam sebuah perdebatan sering kali mempertajam perbedaan dan menjadi panggung saling adu konsep antar kedua gagasan, serta sering kali berusaha saling mengeliminasi ide yang berbeda daripada ide yang diyakini lawan. Menurut David Bohm seorang pakar Fisika & Komunikasi. Dialog merupakan sebuah Aualiran maknaAy. Bohm memandang dialog dari akar katanya, dia . dan logos . sehingga menurut Bohm Dialog adalah aliran makna, yang mengalir melalui dan di antara ide, serta memungkinkan munculnya pemahaman baru yang tidak dimiliki individu secara terpisah. 24 Martin Buber seorang Filsuf, berpendapat bahwa dialog adalah perjumpaan otentik di mana seseorang mengakui keberadaan orang lain sebagai subjek yang setara, dialog sejati juga membutuhkan keterbukaan, kejujuran, dan komitmen timbal balik tanpa motif tersembunyi. 25 William Isaacs seorang Pakar Manajemen & Komunikasi menyatakan dialog adalah disiplin dalam Auberpikir bersamaAy . hinking togethe. untuk membongkar fragmentasi pikiran dan menciptakan kecerdasan kolektif. 26 Dengan demikian dialog merupakan sebuah proses saling menghormati antar dua atau lebih ide yang mengakibatkan terjadinya aliran makna dari masing-masing gagasan sehingga terjadi suatu diskursus yang integratif dan konstruktif, serta berpotensi untuk memunculkan sebuah makna baru yang bersifat transformatif. Hakikat dan Tujuan Keduanya Telah dipahami dalam pembahasan sebelumnya bahwa konsep yang berbeda antara Antropologi dan Iman Kristen dalam menjelaskan asal usul manusia. Antropologi lebih Roma 6:14 AuSebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Ay David Steineker. The Greatest Commandement (WestBowPress, 2. David Bohm. Donald Factor, and Peter Garrett. DIALOGUE - A PROPOSAL, n. Martin Buber. I and Thou (Scribner Book Company, 2. William Isaacs. Dialogue: The Art Of Thinking Together (Crown Currency, 1. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . berpijak pada penelitian empiris dari rumpun ilmu lainnya yang lebih mengarah kepada teori Sedangkan Iman Kristen berpijak pada Alkitab bahwa manusia adalah Imago Dei, sebuah makhluk yang diciptakan secara berbeda dari ciptaan lainnya, dikasihi oleh Allah dan memiliki makna, hakikat serta tujuan dalam penciptaannya. Sehingga dalam kajian dialogis tentang aspek asal-usul manusia Antropologi dan Iman Kristen kemungkinan besar tidak akan mencapai titik temu serta berpotensi menjadi perdebatan yang serius. Namun jika dilihat dari hakikat dan tujuannya Antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari masyarakat berserta suku, bangsa dan budaya yang ada di dalamnya. Pada sejarahnya sendiri Antropologi merupakan ilmu yang sangat berguna dalam mempelajari masyarakat oleh bangsa-bangsa Barat dalam berusaha mengenal bangsa-bangsa lain di dunia ketiga dan kedua,27 pada perkembangan berikutnya di Indonesia ilmu Antropologi ada sebagai jembatan antar suku, bangsa dan budaya yang ada di Indonesia. Melalui Antropologi manusia dapat saling mengenal satu dengan yang lain, bagaimana budaya dalam suku Batak. Dayak. Toraja. Minang dan sebagainya. 28 Selain itu ilmu Antropologi di Indonesia juga memiliki tujuan untuk menganalisis dan melakukan pemecahan masalah-masalah kemasyarakatan dari banyaknya suku, bangsa dan budaya yang ada di Indonesia untuk menciptakan masyarakat yang harmonis, saling menolong, saling menghormati dan saling Sebaliknya dalam Iman Kristen manusia memiliki hakikat dan tujuan dalam penciptaannya sebagai Gambar Allah, dengan dipulihkannya Gambar Allah ini melalui penebusan Kristus maka manusia kembali pada tujuan semulanya sesuai yang terangkum dalam The Great Commandement (Perintah Agun. yaitu bagaimana relasi manusia dalam mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya. Selain daripada itu manusia yang percaya dalam Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Hal 1-8 Ibid CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 menjalani kehidupan Kristennya diberikan sebuah tugas yang harus dikerjakan sampai kepada akhir zaman yaitu The Great Commission (Amanat Agun. , yaitu bagaimana seorang yang percaya yang telah ditebus haruslah turut terlibat dalam misi ini untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah supaya jangan ia seorang diri saja yang selamat dan dipulihkan, namun juga semua bangsa-bangsa di dunia. Sehingga terjadi pendamaian antara seluruh bangsabangsa di dunia dengan Allah, masuk dalam kehidupan persekutuan yang penuh kasih baik secara vertikal maupun horizontal. The Great Commandement The Great Commission Wahyu 21:1-5 Hasil akhir dari kehidupan Kristen dalam The Great Commandement The Great Commission akan membawa pada kehidupan akhir dalam langit yang baru dan bumi yang baru bersama Kristus. Inilah tujuan daripada kehidupan dalam Iman Kristen. Pertemuan Antar Keduanya Dalam segala prinsip dan tujuan daripada kehidupan Kristen ada mandat utama yang tidak dapat diabaikan yaitu The Great Commandement (Perintah Agun. dan The Great Commission (Amanat Agun. Baik dalam Perintah Agung maupun Amanat Agung ada perintah yang membawa manusia berjumpa dengan manusia lainnya, bertemu bangsa lainnya Au. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Ay(Mat. Au. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Ay(Mat. Perjumpaan kepada individu lain, suku bangsa yang lain ini merupakan sebuah tantangan Misi Lintas Budaya yang tidak terhindarkan dan harus diemban setiap orang percaya. Dalam hal inilah ilmu antropologi dapat menjadi jawaban konkret atas kebutuhan dalam lapangan di ladang misi. Sehingga terjadi suatu dialog interdisipliner secara mutual antara Antropologi dan Iman Kristen. John F. Walvoord. The Revelation of Jesus Christ (Moody Publishers, 1. Hal 302-321 CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . Dalam sejarah perkabaran Injil. Antropologi telah banyak membantu para misionaris dalam ladang misinya, salah satu contoh nyata adalah keberhasilan Ludwig Ingwer Nommensen dalam menjangkau suku Batak, sebelum Nommensen ada 2 misionaris yang juga datang ke tanah batak yaitu Lyman dan Munson yang datang hanya berbekal 2 kata dalam bahasa Batak yang mereka ketahui yaitu AuHorasAy dan AuDamaiAy,30 selain itu mereka juga tidak terlalu peka dengan demografi politik masyarakat yang saat itu sedang dalam kondisi sensitif akibat perang Padri, akibatnya mereka mati terbunuh. Nommensen yang datang setelah mereka telah memiliki lebih banyak data tentang masyarakat Batak, selain itu Nommensen juga sangat gigih mempelajari bahasa Batak. Nommensen memiliki prinsip bahwa ia harus fasih berbahasa Batak hingga pada akhirnya dirinya mampu berkomunikasi dengan lancar dengan masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari. 31 Akibat pengetahuan pemahaman Antropologis-nya ini Nommensen membuka peluang keberhasilan yang lebih besar dalam mengerjakan misinya dan seperti yang telah diketahui kerja keras Nommensen pada akhirnya membuahkan hasil, ia memenangkan masyarakat Batak dengan implikasinya lahirlah Gereja HKBP di mana saat ini memiliki jemaat sekitar 6,5 juta jiwa,32 salah satu denominasi Gereja Kristen dengan jumlah umat terbanyak di Indonesia. Joel Fernandes Gultom et al. AuSEJARAH MUNSON DAN LYMAN,Ay Al-Furqan : Jurnal Agama. Sosial, dan Budaya 3 . Hutauruk. Nommensen: Utusan Kristus Di Tanah Batak (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal 20-35 AuJelang Tahun 2025. HKBP Fokus di Tiga Sektor Ini Selama 4 Tahun ke Depan,Ay Kompas. accessed April 25, 2026, https://w. tv/nasional/562119/jelang-tahun-2025-hkbp-fokus-di-tigasektor-ini-selama-4-tahun-ke-depan. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 Dukungan dari Para Ahli Pandangan Paul G. Hiebert33 Antropolog dan teolog misi Paul G. Hiebert menekankan pentingnya pemahaman budaya untuk perkabaran Injil yang holistik dan kontekstual. Manfaat mempelajari budaya menurut Hiebert: Membantu memberikan kesadaran para pelaku misi untuk menghindari western-culture centric yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia di mana Kekristenan dengan kental stigma budaya Barat. Selain itu juga membantu menghindari culturalimperialism . ilangnya budaya lokal hilang tergerus oleh budaya yang dibawa misionari. Memungkinkan kontekstualisasi yang tepat di mana Injil dapat diungkapkan dalam bentuk budaya lokal tanpa kehilangan makna aslinya. Memahami worldview lokal untuk komunikasi yang efektif, termasuk mengenali Autitik temuAy dan Autitik benturanAy antara Injil dan budaya. Membangun gereja yang indigenos . andiri, mampu bertumbuh dalam konteks budayanya sendir. Pandangan Van Rhenen34 Gailyn Van Rheenen, seorang profesor, penulis, dan praktisi misi menekankan bahwa antropologi adalah alat vital untuk misi yang efektif, alkitabiah, dan etis. Tanpa ketidaksensitifan budaya, dan bahkan merusak pekerjaan misi itu sendiri. Antropologi bukan hanya Auilmu tambahanAy untuk misi, melainkan mata yang memungkinkan misionaris melihat realitas sebagaimana dilihat oleh masyarakat lokal. Ini adalah disiplin yang alkitabiah karena inkarnasi Kristus sendiri adalah model utama kontekstualisasi lintas budaya (Yoh. 1:14 Ai AuFirman menjadi manusiaA. Dalam kerangka AuBiblical FoundationsAy. Van Rheenen menegaskan bahwa misi yang benar harus mengikuti pola inkarnasi : Masuk ke dalam dunia dan budaya lain dengan kerendahan hati, memahami, dan kemudian mengubah dari dalam, sama seperti Kristus masuk ke dalam dunia manusia. Pandangan Harvey C. Cox35 Harvey Cox seorang Profesor Teologi di Harvard Divinity School yang berfokus pada bidang etika sosial dan teologi budaya, mengambil konsep antropologis tentang Auhomo faberAy . anusia pembua. yang aktif membentuk dunianya, bukan pasif tunduk pada takdir Paul G. Hiebert. Anthropological Reflections on Missiological Issues (Baker Academic, 1. Gailyn Van Rheenen. Missions: Biblical Foundations and Contemporary Strategies (Zondervan Academic, 2. Harvey Cox. The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective (Princeton University Press, 2. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . atau kekuatan gaib. Agama tradisional dianggap tidak relevan bagi manusia urban. Misi Kristen harus melepaskan bahasa religius yang terasa asing, dan menggunakan bahasa yang sekuler lebih umum seperti AukebebasanAy. AukeadilanAy. AusolidaritasAy. Gereja harus menjadi AunabiAy bagi kota, mengkritik ketidakadilan tetapi juga merayakan pencapaian manusia dalam sains, seni, dan teknologi. Sekalipun pandangan Cox penuh kontroversial dan mempengaruhi gerakan sekularisme Kristen, namun buah pemikirannya membuka wawasan bagi dunia misi untuk memikirkan jembatan komunikasi yang lebih efektif dan kontekstual bagi manusia di era Modern. Jonar T. Situmorang36 Seorang teolog dan penulis buku Kristen memiliki pandangan yang kurang lebih sama dengan yang peneliti utarakan, di mana manusia sebagai ciptaan Allah yang unik, sebagai gambar dan rupa Allah, harus dapat menjadi berkat, yang memancarkan sinar kasih serta menjadi saksi bagi sesama manusia. Herbert Kane37 Kane seorang misiolog, penulis, dan profesor misiologi Injili yang sangat berpengaruh pada abad ke-20, juga dikenal sebagai salah satu Aubapak pendiriAy misiologi akademis modern di kalangan evangelikal, khususnya dalam merumuskan pendekatan yang sistematis dan interdisipliner terhadap studi Missi. Dalam tulisannya Kane menyebutkan misiologi merupakan sebuah ilmu terdiri dari berbagai ilmu lain yang menjadi fondasi. Dari berbagai macam ilmu tersebut ada 4 ilmu yang menjadi pilar utama ilmu misiologi, yaitu : Ilmu Alkitab (Biblical Theolog. Ilmu Sosial (Sosiolog. Ilmu Budaya (Cultural Antropolog. dan Ilmu Strategi. Cultural Antropology termasuk salah satu pilar utama dalam misiologi, hal ini karena dalam misi terutama misi lintas budaya seorang misionaris akan diperhadapkan pada budaya yang terkadang benar-benar asing dan lain dari budaya asalnya. Sehingga mutlak diperlukan pemahaman budaya dalam melakukan misi tersebut. KESIMPULAN Kajian antropologis dalam perspektif iman Kristen merupakan sebuah pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan ilmu antropologi dengan teologi Kristen untuk dapat memahami keberadaan, kebudayaan, dan relasi manusia. Dialog antar kedua disiplin ilmu ini memiliki sebuah relasi yang unik. Di satu sisi dapat menjadi sebuah perbedaan pandangan Jonar T. Situmorang. ANTROPOLOGI Dalam Pandangan Iman Kristen (Penerbit Andi, 2. Herbert Kane. Understanding Christian Missions (Baker Book House, 1. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 yang sangat kontras bahkan berpotensi menjadi sebuah perdebatan yang cukup serius jika dilihat dari aspek asal-usul manusia. Namun uniknya di sisi lain kajian antara kedua disiplin ilmu ini dapat menghasilkan sebuah hubungan saling melengkapi dan menghasilkan sinergi yang begitu luar biasa sehingga dapat menghasilkan suatu makna baru yang transformatif, konstruktif bagi kehidupan manusia, serta menghasilkan lingkungan yang lebih baik, baik secara ekologis, sosiologis maupun fenomenologis. Pada hakikat dan tujuan kehidupan iman Kristen dalam merespons The Great Commandement dan The Great Commissions, kajian antropologis juga memberi dampak yang positif dalam transformasi misi Kristen. Bahkan sejarah membuktikan betapa efektif dan bermanfaatnya antropologi dalam dunia misi Kristen, terlihat dari transformasi misi Nommensen yang berbeda dengan metode misi yang dikerjakan dua misionaris sebelumnya. Di sisi lain berbagai teolog dan misiolog juga memiliki pandangan yang sewarna terkait hal ini, para tokoh bersepakat bahwa dengan mempelajari antropologi dalam konteks misi akan membawa pengaruh signifikan dalam hal penolakan terhadap pendekatan misi yang arogan yang mengabaikan budaya lokal. penekanan pada kontekstualisasi yang setia kepada Injil sekaligus relevan dengan budaya. misi holistik yang melibatkan transformasi sosial-spiritual ke dalam masyarakat. ilmu sosial . ntropologi/sosiolog. sebagai alat untuk misi yang efektif dan etis, di tengah budaya yang majemuk. membentuk suatu komunitas gereja yang indigenos . andiri, mampu bertumbuh dalam konteks budayanya sendir. Kontribusi Penelitian Dengan tulisan ini peneliti berharap dapat membuka wawasan gereja, terutama bagi pimpinan gereja maupun lembaga misi untuk mengharga ilmu tentang budaya manusia yaitu Dengan demikian maka harapannya setiap usaha misi gereja maupun lembaga misi dapat lebih efektif dan membuahkan hasil yang maksimal Rekomendasi Penelitian Lanjutan Penelitian ini masih dalam tahap studi pustaka, diharapkan dalam penelitian lanjutan dapat dilakukan penelitian langsung di lapangan dalam bentuk observasi, wawancara maupun olah data statistik dengan menilai pengaruh ilmu antropologi dalam budaya setempat terhadap keberhasilan misi yang dikerjakan. Ucapan Terima Kasih Ucapan syukur peneliti sampaikan kepada Bapa. Putra dan Roh Kudus atas hikmat dan kekuatan-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Peneliti juga mengucapkan CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ngoguino Guntersah. Suhadi: Antropologi dan Perspektif Iman Kristen: Sebuah Kajian Dialogis dan Implikasinya terhadap . banyak terima kasih kepada istri peneliti (Elik. dan anak-anak peneliti (Jessica dan Jeric. atas pengorbanan waktu mereka yang terhilang di mana seharusnya peneliti dapat ada bersama mereka di saat peneliti fokus mengerjakan penelitian ini. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada semua kolega di Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup, terkhusus Pdt. Dr. Daniel Suhadi, yang banyak memberikan ide, pemikiran dan saran dalam penyusunan penelitian ini. REFERENSI