222 Eka Ramiati, et. P-ISSN : 2502-8383 E-ISSN : 2808-3954 Vol. 10 No. 2, 2025 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ STRATEGIES FOR PREVENTING AND HANDLING BULLYING IN PRIMARY SCHOOLS Eka Ramiati 1. Indana Zulfa 2. Mufidah Yusroh 3 Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi Email: ekaramiati@iaiibrahimy. id1, indanazulfa2472@gmail. com2, reeviedh@gmail. 1,2,3 Article Info Corresponding Author: Eka Ramiati ekaramiati@iaiibrahimy. Keywords: Strategy. Bullying. Elementary School Kata kunci: Strategi. Bullying, sekolah Naskah. Diterima : 30 /08 /2025 Direvisi : 08 /09/ 2025 Disetujui : 21/09/ 2025 Abstract (Garamond . Primary education encompasses not only academic achievement but also the cultivation of students' character. A significant challenge in this context is the rising incidence of bullying within school settings. This study aims to examine the role of teachers in addressing bullying among second-grade students at MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh. This research employs a qualitative method. The findings reveal that teachers assume roles as educators, mentors, and advisors by implementing moral development strategies. In responding to both physical and verbal bullying, teachers adopt persuasive, empathetic, and humanistic Nevertheless, the effectiveness of these efforts is hindered by the absence of clear school policies and limited parental involvement. The study affirms the pivotal role of teachers as key agents in fostering an anti-bullying culture within primary education Abstrak (Garamond 13 Isu Pendidikan dasar tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetai juga pembentukan karakter siswa. Salah satu tantangan utama ialah maraknya kasus bullying di lingkup sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Strategi guru dalam menangani bullying yang terjadi pada siswa kelas 2 di MI Salafiyah AsySyafiAoiyah Temuguruh. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatf dengn jenis penelitian studi kasus. Hasil menunjukkan bahwa guru menjalankan perannya sebagai pendidik, pembimbing, dan penasihat melalui strategi penanaman moral. Guru menggunakan pendekatan persuasif , empatik, dan humanis dalam merespons kasus bullying baik fisik maupun verbal. Namun masih terhambat oleh minimnya kebijakan sekolah dan keterlibatan orang tua. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran guru sebaga agen pembentuk budaya anti perundungan di lingkup sekolah. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. PENDAHULUAN Bullying menjadi fenomena serius khususnya di kalangan pendidikan, mengingat dampaknya terhadap perkembangan akademik dan karakter anak. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) melaporkan jumlah kasus kekerasan terhadap anak dari dua bulan awal tahun 2024 telah mencapai 1. 993 kasus. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) juga mencatat sebanyak lebih dari 3. 000 laporan kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2023. Sementara itu, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat, terdapat 2. 355 kasus pelanggaran perlindungan anak yang dilaporkan dari Januari hingga Agustus 2023, dengan 861 kasus diantaranya terjadi di lingkungan satuan pendidikan (Fahham, 2. Terdapat dua faktor penyebab bullying, yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri anak seperti sifat agresif, serta faktor eksternal yang berasal dari luar diri anak atau lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu terjadinya bullying pada anak sekolah dasar meliputi berbagai aspek. Salah satunya adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis atau tidak lengkap, seperti kehilangan salah satu orang tua akibat perceraian atau kematian. Selain itu, ketidaksempurnaan dalam proses sosialisasi di lingkungan keluarga, komunikasi yang tidak efektif antara orang tua dan anak, kurangnya perhatian serta kasih sayang dari orang tua, dan pola asuh yang tidak adil turut berkontribusi pada terjadinya bullying. Faktor lain adalah pengaruh teman sebaya yang cenderung selektif dalam memilih teman berdasarkan kriteria seperti penampilan, kekayaan, atau kecerdasan. Peran strategis dalam pencegahan dan penangan bullying yang pernah diteliti oleh (NURDIANTI, 2. menemukan bahwa guru memiliki peran strategis dalam pencegahan dan penanganan bullying. Strategi pencegahan dilakukan melalui sosialisasi, pengaturan tempat duduk, sistem rotasi, kesepakatan kelas, serta pengawasan perilaku siswa. Sementara itu, penanganan dilakukan dengan cara konfirmasi kasus, pemberian teguran dan nasihat, serta pendekatan ke orang Begitu pula temuan oleh (Almizri, 2. menekankan peran guru BK dalam menangani bullying dengan pendekatan konseling individual dan kelompok. Guru BK tidak hanya menegur pelaku, tetapi juga memberikan terapi perilaku dan pelatihan empati melalui kegiatan kelas yang Penelitian ini menunjukkan bahwa pendampingan psikologis yang terstruktur berdampak signifikan terhadap penurunan kasus bullying. MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh tidak luput dari fenomena ini, khususnya di kelas 2, dibuktikan dengan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada bulan oktober 2024 terhadap guru kelas 2 MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh mengungkapkan bahwa berbagai Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. bentuk dar perilaku yang mengindikasi bullying kerap terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari tindakan secara fisk, verbal, dan sosial. Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa bulyying telah menjadi pola perilaku yang cukup mengakar khususnya dalam lingkup pendidikan dan perlunya ada intervensi aktif dari pihak sekolah. Fenomena kasus bullying juga terjadi di Pesanggaran. Banyuwangi mencatat bahwa ditemukannya korban bullying yang meninggal gantung diri oleh Diduga, ia mengalami depresi karena menjadi korban bullying dari teman-temannya yang sering mengejeknya karena ia tidak memiliki ayah (Wahyudiyanta, 2. Bullying juga dapat berdampak pada prestasi akademik siswa. Anak-anak yang menjadi korban bullying lebih cenderung merasa terasing di sekolah, kurang termotivasi untuk belajar, dan lebih cenderung absen secara teratur (Armitage, 2. Di sekolah, guru berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendidik siswa untuk saling menghormati. Namun, upaya ini harus didukung oleh kebijakan sekolah yang jelas, seperti aturan anti-bullying dan mekanisme pelaporan. Menurut Ismail . , guru dapat berperan sebagai pembimbing dalam mengatasi perilaku bullying siswa dengan memberikan bimbingan secara klasikal maupun individu, serta menyampaikan pemahaman dan pengarahan kepada siswa mengenai bullying. Senada dengan penelitian Rigby . , sekitar 67% kasus bullying berkurang setelah guru mengambil tindakan, menunjukkan bahwa keterlibatan aktif guru dalam menangani bullying di sekolah cukup efektif untuk menekan perilaku buruk tersebut. Meski peran guru dalam menangani kasus bullying telah banyak dibahas oleh peneliti sebelumnya, namun masih terdapat kesenjangan antara peran ideal dengan praktik di lapangan. Kasus-kasus bullying yang terus terjadi di tingkat sekolah dasar, seperti MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh mencerminkan bahwa intervensi guru terhadap pelaku bullying belum sepenuhnya Penelitian sebelumnya juga cenderung bersifat umum dan belum mengupas secara mendalam strategi konkret yang dilakukan guru dalam menghadapi kasus bullying fisik dan verbal di dalam kelas. Oleh karena itu, penting untuk melakukan kajian secara lebih spesifik mengenai peran guru di lingkungan sekolah, agar diperoleh gambaran yang lebih kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kondisi nyata yang terjadi di lapangan. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab kesenjangan tersebut serta memberikan kontribusi nyata dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan bullying. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang berfokus pada eksplorasi mendalam terhadap fenomena sosial di lingkungan kelas 2 MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh, khususnya dalam konteks peran guru dalam mencegah dan mengatasi bullying. Menurut Sugiyono . , pendekatan kualitatif dilakukan untuk memahami situasi sosial yang kompleks, penuh makna, dan melihat hubungan interaktif antara berbagai elemen dalam situasi tersebut. Pendekatan ini sangat cocok digunakan ketika masalah yang diteliti tidak dapat dipisahkan dari konteks sosialnya. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus adalah metode penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami dan menganalisis secara mendalam suatu fenomena tertentu dalam lingkup yang terbatas. Creswell . Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi fenomena secara kontekstual dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini, fenomena yang diteliti adalah bullying yang terjadi di kelas 2 MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh, serta bagaimana guru berperan dalam mengatasi dan mencegah perilaku tersebut. Subjek penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan subjek berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. (Sugiyono, 2. menjelaskan bahwa purposive sampling dilakukan dengan memilih subjek yang dianggap paling memahami dan memiliki keterlibatan langsung dengan fenomena yang diteliti, sehingga data yang diperoleh lebih mendalam dan relevan dengan fokus penelitian. Subjek penelitian adalah individu yang terlibat langsung pada kasus bullying sebagai pelaku atau korban. Prosedur pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Teknik analisi data, peneliti menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Triangulasi sumber juga digunakan dalam penelitian ini untuk membandingkan informasi yang diperoleh dari beberapa pihak atau subjek penelitian yang berbeda. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Setiap penelitian membutuhkan penyajian data sebagai bukti bahwa peneliti benar-benar telah melaksanakan penelitian secara langsung, menyaksikan, merasakan, dan mengkaji situasi objek yang Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan beberapa informan, observasi langsung di lapangan, serta pengumpulan dokumen-dokumen pendukung yang relevan. Teknik ini sesuai dengan metode yang telah ditentukan oleh peneliti, yaitu wawancara, observasi, dan Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. Setelah seluruh data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Hasil dari observasi diperkuat dengan hasil wawancara dari berbagai informan, serta dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang mendukung penelitian. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat disusun dan dijabarkan untuk menggambarkan peran guru dalam mencegah dan menangani kasus bullying di kelas 2 MI Salafiyah Asy-Syafi'iyah Temuguruh. Peran Guru dalam Mencegah dan Mengatasi Bullying di MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh Hasil penelitian tentang peran guru dalam mencegah dan megatasi kasus blullying pada anak, diperoleh hasil bahwa guru kelas 2 dalam mengatasi kasus tersebut, sudah menerapkan perannya sebagai guru. Peran yang dilakukan oleh guru MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah rupanya selaras dengan tujuan kajian teori menurut Mustafa . , yang mencakup 3 aspek guru diantaranya. sebagai pendidik, pembimbing, serta penasihat di MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah. Peran Guru sebagai Pendidik Sebagai pendidik, guru memegang peran fundamental dalam menanamkan nilai-nlai moral, membentuk karakter siswa, serta menciptakan iklim pembelajaran yang positif. Sejalan dengan pandangan Mustafa . yang menegaskan bahwa tugas utama guru ialah sebagai pendidik yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai etis seperti perilaku empati, saling menghargai, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan sehari-hari siswa. Guru MI Salafiyah As-SyafiAoiyah telah membuktikan perannya diwujudkan melalui pemberian nasehat harian, pembiasaan siswa untuk saling memaafkan, memberikan contoh perhatian pada siswa yang sedih, penggunaan bahasa yang sopan, dan pelarangan penggunaan panggilan atau sebutan yang tidak pantas antar teman. Praktik ini secara langsung merefleksikan konsep guru sebagai sosok yang digugu lan ditiru, yaitu dipercaya dan diteladani. Guru tidak hanya menjadi media penyampai ilmu, tetapi juga teladan bagi siswa dalam berperilaku dan berinteraksi secara positif. Penanaman nilai-nilai ini merupakan fondasi esensial untuk mengatasi bullying, sebab perilaku bullying seringkali berakar pada kurangnya empati dan penghargaan terhadap sesama. Oleh karena itu, peran gurur sebagai pendidik menjad pilar utama dalam menciptakan budaya sekolah yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Peran guru ini juga sesuai dengan pandangan Ki Hajar Dewantara dalam semboyan AuIng ngarsa sung tuladaAy yang menempatkan guru sebagai teladan. Guru tidak hanya membimbing secara teori, tetapi memperlihatkan langsung sikap dan tindakan yang baik, agar bisa diikuti oleh siswa (Ananda. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. Sulaeka . juga menjelaskan bahwa penanaman nilai karakter oleh guru melalui kegiatan pembiasaan menjadi salah satu langkah penting dalam mengatasi perilaku bullying. Guru kelas 2 MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah senantiasa memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dampak negatif bullying, baik bagi korban maupun pelaku. Ketika insiden bullying terjadi, guru segera mengajak siswa yang terlibat ke kantor untuk mendengarkan perspektif masing-masing pihak, sebelum memberikan penjelasan yang komprehensif tentang konsekuensi serius dari perilaku bullying. Dengan menjelaskan dampak bullying, guru membantu siswa membangun kesadaran akan tanggung jawab atas tindakan mereka dan implikasinya terhadap kesejahteraan orang lain. Pendekatan ini senada dengan Adiyono . , yang menyatakan bahwa guru perlu mengajak pelaku bullying memahami perasaan korban agar bisa menumbuhkan empati. Peneliti melakukan wawancara terhadap guru kelas 2 MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah, hasil menyatakan bahwa anak-anak seringkali meniru perilaku yang mereka lihat dari rumah atau Oleh karena itu, guru merasa perlu menanamkan nilai-nilai moral secara berulang dan konsisten agar siswa mampu mengenali mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak. Hal ini juga dijelaskan oleh Ismail . , bahwa pendidikan karakter tidak cukup disampaikan sekali, tapi harus diberikan secara berkelanjutan melalui bimbingan langsung dan pembiasaan. Dari wawancara siswa juga terlihat bahwa mereka sering diingatkan guru untuk tidak mengejek, menghargai perbedaan, dan memperlakukan semua teman dengan baik tanpa membeda-bedakan. Demikian dari hasil penelitian menunjukkan bahwa guru kelas 2 MI salafiyah asy-syafiAoiyah sudah menjalankan peran sebagai pendidik sesuai dengan teori yang dijelaskan di bab sebelumnya. Penanaman nilai moral yang dilakukan guru berdampak pada kesadaran siswa dalam menjaga sikap, meskipun belum semuanya mampu menerapkannya secara konsisten. Peran guru sebagai pendidik ini sangat penting karena menjadi dasar dalam membangun karakter siswa dan mencegah terjadinya perilaku bullying di sekolah. Peran Guru sebagai Pembimbing Peneliti menemukan bahwa, penerapan bimbingan secara aktif telah dijalankan oleh guru, terutama dalam menghadapi kasus bullying di lingkungan kelas. Guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga memposisikan diri sebagai pendamping yang memberikan dukungan emosional, membimbing siswa dalam menghadapi persoalan sosial, serta menanamkan keterampilan dalam menjalin hubungan yang sehat dengan teman sebaya. Pendekatan guru yang dilakukan dengan pendekatan persuasif dan empatik ini sejalan dengan pandangan Mustafa . , yang menjelaskan bahwa peran guru sebagai pembimbing tidak hanya bersifat Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. akademik, tetapi juga menyangkut pembinaan emosional, moral, dan sosial siswa. Guru menjadi pemandu perjalanan siswa dalam memahami mana yang benar dan mana yang salah, serta membangun empati melalui dialog dan refleksi. Guru sering melakukan pendekatan pribadi terhadap siswa yang terlibat dalam konflik baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Ketika terjadi insiden bullying, guru membawa siswa ke ruang kantor atau ruang guru untuk melakukan dialog dua arah secara tenang dan privat. Dalam situasi ini, guru terlebih dahulu memastikan bahwa siswa korban merasa aman dan didengar, kemudian membantu pelaku merefleksikan tindakannya. Guru menanyakan perasaan masingmasing pihak, membantu mereka memahami dampak perbuatannya, serta mendorong proses pemulihan hubungan secara damai. Ini sesuai dengan pendapat Lubis . , bahwa guru sebagai pembimbing perlu membangun hubungan positif dengan siswa agar mereka merasa aman dan terbuka untuk menceritakan masalahnya. Bimbingan juga diberikan dalam bentuk pembiasaan Misalnya, melalui penugasan kelompok yang dibentuk secara acak, siswa diajarkan bekerjasama dengan siapa pun, tanpa memilih teman. Dalam interaksi kelompok, guru terus memantau dan membimbing agar siswa bisa menyelesaikan perbedaan dengan komunikasi yang baik, serta mampu menunjukkan empati terhadap teman yang berbeda latar belakang. Selain itu, guru juga melatih keterampilan sosial dasar, seperti cara meminta maaf, mengungkapkan ketidaknyamanan dengan sopan, serta menolak ajakan negatif dengan cara yang tepat. Hal ini mendukung temuan Simangunsong . , yang menjelaskan bahwa bimbingan sosial dari guru dapat mencegah bullying sejak dini, karena siswa diajarkan cara bersosialisasi yang sehat. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar korban bullying merasa lebih lega dan percaya diri setelah dibimbing oleh guru, sedangkan pelaku merasa lebih mengerti bahwa tindakannya tidak dapat dibenarkan, meskipun dalam beberapa kasus diperlukan pembinaan berkelanjutan untuk mengubah pola pikir mereka secara menyeluruh. Namun demikian, temuan juga menunjukkan bahwa tidak semua siswa merespons intervensi guru dengan cara yang sama. Sebagian pelaku bullying mengaku merasa Aubiasa sajaAy setelah proses pembimbingan, menandakan bahwa pendekatan yang digunakan belum sepenuhnya menyentuh kesadaran emosional mereka. Hal ini menegaskan pentingnya kesinambungan dalam proses pembimbingan, termasuk perlunya strategi jangka panjang yang mencakup refleksi emosional, pelibatan siswa dalam aktivitas sosial, dan evaluasi berkala terhadap perilaku sosial mereka. Peran Guru sebagai Penasihat Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. Peneliti mendapati bahwa guru kelas 2 MI Salafiyah Asy- SyafiAoiyah Temuguruh menjalankan peran sebagai penasehat secara aktif, terutama dalam merespons kasus-kasus bullying yang terjadi di kelas. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi atau pengarah perilaku, melainkan juga sebagai figur dewasa yang dipercaya oleh siswa untuk mencurahkan perasaan dan menyampaikan permasalahan pribadi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, guru menciptakan suasana aman dan nyaman bagi siswa untuk bercerita, terutama bagi mereka yang mengalami atau menyaksikan bullying. Guru biasanya mengajak siswa berbicara secara pribadi, terutama di kantor atau ruang guru, untuk mendengarkan keluhan, memberikan arahan, serta menyampaikan nasehat yang disesuaikan dengan situasi yang dihadapi siswa. Dalam banyak kasus, guru menunjukkan sikap sebagai pendengar yang empatik dan tidak menghakimi, sehingga siswa merasa dihargai dan tidak takut untuk membuka Peran ini sejalan dengan pandangan Mustafa . yang menyebutkan bahwa guru sebagai penasehat harus mampu memberikan arahan, dukungan moral, serta solusi kepada siswa yang sedang mengalami persoalan, meskipun guru bukan konselor profesional. Pendekatan guru ini juga diperkuat oleh teori dari Nurussama . yang menjelaskan bahwa nasehat dari guru kepada siswa yang terlibat bullying bisa mendorong mereka untuk saling memaafkan dan tidak menyimpan Dalam praktiknya, guru memberikan nasehat berbeda antara korban dan pelaku bullying. Bagi korban, nasehat yang diberikan bertujuan m embangun kembali rasa percaya diri, menguatkan nilai diri, serta memberikan saran praktis seperti mengelola emosi . isalnya dengan menarik napas, tidak membalas, dan segera melapo. Guru juga menegaskan bahwa korban tidak sendirian, dan bahwa meminta bantuan bukanlah Sementara itu, bagi pelaku, guru berupaya menumbuhkan empati dan kesadaran moral, dengan menjelaskan bagaimana perasaan korban yang diperlakukan secara tidak adil. Guru juga mendorong pelaku untuk melihat akibat dari perbuatannya, serta menyampaikan bahwa kekuatan sejati bukanlah menakuti atau mendominasi, melainkan bersikap baik dan mampu mengayomi Nasehat disampaikan secara personal, tanpa tekanan, namun dengan kejelasan moral dan tanggung jawab sosial. Siswa mengaku bahwa mereka merasa diperhatikan saat dinasehati oleh guru. Korban merasa terbantu karena guru selalu mengingatkan bahwa mereka tidak sendiri dan masih punya banyak Pelaku juga mulai menyadari kesalahannya, terutama saat guru menjelaskan bahwa mengejek Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. adalah dosa dan bisa membuat orang lain sakit hati. Temuan ini juga didukung oleh Puspitasari . , yang menyatakan bahwa nasehat guru yang diberikan secara individu maupun umum mampu mengubah cara berpikir siswa dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru di MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah telah menjalankan perannya sebagai penasehat dengan sangat baik. Nasehat yang disampaikan tidak hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi juga mengarah pada pembentukan kesadaran moral Guru menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk mencari solusi dan memahami akibat dari tindakan mereka, sehingga peran ini sangat penting dalam upaya mengatasi bullying di kelas. Faktor Pendukung Dan Penghambat Yang Dihadapi Oleh Guru Dalam Mencegah Dan Mengatasi Bullying Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa faktor yang menjadi penghambat serta pendukung peran guru dalam mengatasi bullying. Melalui hasil penelitian ditemukan fakta bahwa bullying dan karakteristik siswa memiliki keterkaitan dalam terjadinya kasus bullying di MI Salafiyah Asy- SyafiAoiyah. Melalui hal tersebut, guru MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah memiliki faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam memerankan peran guru dalam mengatasi bullying di MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah sebagai berikut: Faktor Pendukung dalam Penanganan Bullying Meski dihadapkan pada tantangan, guru juga memperoleh dukungan dari berbagai kondisi yang memperkuat efektivitas mereka dalam mengatasi bullying. Dukungan ini berasal dari hubungan sosial yang erat, strategi pedagogis yang tepat, serta suasana kelas yang religius dan . Kedekatan Emosional antara Guru dan Siswa Guru di MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh memiliki hubungan yang dekat dan hangat dengan siswa. Guru menyapa siswa secara personal, memperhatikan perubahan emosi mereka, dan memberikan perhatian khusus terutama saat ada tanda-tanda siswa mengalami gangguan emosional. Guru juga menjadi tempat curhat yang dipercaya oleh sebagian besar siswa, sehingga kasus bullying lebih mudah terdeteksi dan ditangani sejak awal. Temuan ini selaras dengan teori Yamada . , yang menekankan bahwa hubungan interpersonal yang positif antara guru dan siswa merupakan pondasi utama dalam mencegah dan menangani Ketika siswa merasa aman secara emosional dan diterima oleh guru, mereka cenderung terbuka dan lebih mudah diarahkan. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. Hal ini juga diperkuat oleh Mustafa . , yang menyatakan bahwa peran guru sebagai pembimbing dan penasehat ditentukan oleh sejauh mana guru mampu memahami kondisi psikologis siswa secara individual. Guru yang memiliki empati dan kepekaan sosial dapat memberikan nasehat dan bimbingan moral yang tepat sasaran. Lebih lanjut. Lubis . , menegaskan bahwa hubungan guru dan siswa yang hangat meningkatkan efektivitas pencegahan bullying, karena siswa tidak merasa takut atau canggung untuk melaporkan masalah yang dihadapi. Hubungan ini menjadi jembatan yang mempercepat intervensi guru dalam menangani konflik sosial di kelas. Kolaborasi dalam Kegiatan Sosial dan Strategi Pembelajaran Inklusif Faktor pendukung lainnya adalah penerapan strategi pembelajaran inklusif dan pengelolaan sosial kelas yang adil dan merata. Guru secara aktif membentuk kelompok belajar secara acak, mendorong kolaborasi antar siswa, dan membiasakan siswa untuk tidak memilihmilih teman. Strategi ini menciptakan interaksi sosial yang lebih terbuka, menekan pembentukan kelompok eksklusif, dan mengurangi kemungkinan terjadinya praktik bullying terhadap siswa yang dianggap berbeda. Strategi ini merupakan bentuk konkret dari peran guru sebagai pengelola pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh Mustafa . , yang menekankan bahwa guru harus mampu mengelola dinamika sosial kelas agar tidak terjadi eksklusi sosial. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang menyatukan seluruh siswa dalam nilai kebersamaan, kerjasama, dan saling menghargai. Teori Simangunsong . juga memperkuat hal ini dengan menyatakan bahwa kegiatan kolaboratif seperti kerja kelompok, diskusi kelompok heterogen, dan tugas tim dapat memperkuat keterampilan sosial siswa, membangun empati, dan mendorong interaksi positif yang menekan perilaku diskriminatif. Dari pengamatan langsung, pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa dalam kelompok campuran juga turut membantu pelaku bullying belajar memahami sudut pandang orang lain. Sedangkan bagi korban, strategi ini memberikan pengalaman diterima secara sosial dan mendorong rasa percaya diri Faktor Penghambat dalam Penanganan Bullying Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru kelas 2 di MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh menghadapi sejumlah hambatan signifikan dalam upaya mengatasi bullying. Hambatan ini tidak hanya bersumber dari perilaku siswa pelaku dan korban, tetapi juga dari dinamika sosial dalam kelas serta keterbatasan komunikasi dan pemahaman siswa terhadap perilaku bullying. Pembahasan faktor Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. penghambat dalam penelitian ini merujuk pada teori Alfadhila . yang mengidentifikasi empat faktor penghambat utama dalam penanganan bullying di sekolah, yaitu: Kurangnya pemahaman siswa terhadap bullying, . Tidak adanya kebijakan atau program anti-bullying, . Terbatasnya kapasitas guru dalam menangani bullying, dan . Pengaruh lingkungan sekolah yang tidak mendukung. Namun, berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan di kelas 2 MI Salafiyah AsySyafiAoiyah Temuguruh, ditemukan bahwa tidak seluruh faktor dalam teori tersebut terjadi di lokasi Penelitian ini hanya menemukan empat faktor penghambat nyata, yaitu: Kurangnya pemahaman siswa terhadap bullying. Pengaruh negatif dari lingkungan rumah. Ketidakterbukaan siswa korban bullying. Tidak adanya kebijakan atau program anti-bullying yang terstruktur di . Siswa belum mampu membedakan bullying dan candaan Banyak siswa belum memahami bahwa tindakan seperti mengejek teman, memberi julukan kasar, atau meremehkan perasaan teman termasuk bentuk bullying. Siswa pelaku menganggap bahwa mereka hanya bercanda, padahal bagi korban hal tersebut menyakitkan. Bahkan, beberapa pelaku justru menertawakan korban yang menangis karena mengira itu reaksi berlebihan. Temuan ini sejalan dengan teori Alfadhila . yang menyebutkan bahwa rendahnya pemahaman siswa tentang bentuk dan dampak bullying menjadi penghambat utama bagi guru dalam melakukan Pemahaman yang minim ini membuat siswa tidak merasa bersalah dan cenderung mengulang perilaku yang sama. Teori ini juga diperkuat oleh Simangunsong . yang menyatakan bahwa guru perlu mengedukasi siswa tentang bentuk-bentuk bullying secara eksplisit, termasuk membedakan antara bercanda dan menghina. Dalam konteks ini, guru dituntut untuk tidak hanya menegur, tetapi juga membimbing secara moral dan emosional. Pengaruh Lingkungan Rumah Salah satu faktor penghambat peran guru dalam mengatasi bullying di kelas 2 MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh adalah pengaruh negatif dari lingkungan keluarga, yang terbawa oleh siswa ke dalam kehidupan sekolah. Guru mengungkapkan bahwa sebagian perilaku negatif siswa, seperti berbicara kasar, mengejek dengan menyebut nama orang tua, hingga menyelesaikan masalah dengan bentakan atau dorongan fisik, dibawa dari rumah ke sekolah. Perilaku tersebut bukan hasil dari interaksi di lingkungan sekolah, melainkan hasil peniruan dari apa yang sering siswa lihat dan Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. dengar di rumah. Dalam wawancara, guru menyatakan bahwa pola ini seringkali diulang meskipun telah ditegur, karena anak menirunya dari lingkungan terdekat. Pernyataan ini menunjukkan bahwa proses imitasi perilaku dari rumah memiliki pengaruh besar terhadap pola interaksi sosial siswa di sekolah. Dalam konteks ini, anak usia sekolah dasar berperan sebagai peniru aktif . ctive imitato. yang secara alamiah menyerap perilaku dari figur terdekat, terutama orang tua dan anggota keluarga lainnya. Jika lingkungan rumah terbiasa menggunakan kata-kata kasar, menyelesaikan masalah dengan bentakan, atau menunjukkan agresivitas dalam komunikasi, maka anak cenderung membawa pola perilaku tersebut ke lingkungan sekolah. Kecenderungan ini sejalan dengan karakteristik siswa kelas rendah menurut Zakiyah . , yang menjelaskan bahwa anak pada usia 7Ae8 tahun memiliki sifat meniru perilaku orang lain sebagai bagian dari perkembangan sosialnya. Dalam aktivitas bermain atau interaksi sosial, mereka tidak hanya meniru secara fisik . , tetapi juga menirukan ekspresi verbal, nada bicara, dan pola penyelesaian konflik yang mereka lihat. Zakiyah juga menekankan bahwa siswa kelas rendah mudah terdorong oleh dorongan spontan dan seringkali belum mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya secara menyeluruh. Dalam kerangka peran guru. Mustafa . menegaskan bahwa guru sebagai pembimbing dituntut untuk mengenali latar belakang sosial siswa agar mampu memberikan pendekatan yang Meskipun guru tidak dapat mengontrol kondisi keluarga siswa secara langsung, guru tetap bertanggung jawab membantu siswa membangun nilai-nilai sosial yang sehat melalui pembiasaan dan keteladanan di sekolah. Korban Tidak Selalu Berani Bercerita korban bullying cenderung tidak melapor kepada guru karena takut dibalas, merasa malu, atau khawatir dianggap lemah oleh teman sebayanya. Guru kelas 2 A menyatakan bahwa siswa yang pendiam biasanya menjadi sasaran, namun mereka enggan bercerita kecuali didekati secara Sikap tertutup ini menyulitkan guru dalam mendeteksi kasus bullying yang tersembunyi. Temuan ini selaras dengan teori Lestari . yang menyatakan bahwa ketertutupan korban menjadi hambatan serius dalam pendeteksian kasus bullying. Korban seringkali memendam masalah karena tidak merasa aman atau tidak percaya bahwa guru bisa melindunginya. Hal ini menunjukkan pentingnya peran guru sebagai penasehat yang memiliki empati dan kepekaan sosial. Mustafa . menyatakan bahwa guru tidak hanya memberikan nasehat, tetapi juga harus membangun kepercayaan melalui pendekatan personal, agar siswa merasa aman secara Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. Ketika guru berhasil menjalin hubungan yang akrab dan tidak menghakimi, siswa akan lebih terbuka dalam mengungkapkan masalahnya. Dalam perspektif pendidikan nasional, pendekatan ini juga selaras dengan nilai ing madya mangun karsa dari Ki Hajar Dewantara, dimana guru hadir Audi tengahAy siswa, menciptakan rasa aman, dan membangun kekuatan dari dalam diri siswa agar mereka berani berbicara dan menyelesaikan konflik secara sehat. Tidak Adanya Kebijakan atau Program Anti-Bullyiing yang Terstruktur Sekolah belum memiliki peratuan resmi atau program khusus terkait pelaku bullying. Penanganan masih bersifat spontan dan tergantung pada inisiatif pribadi guru. Tidak ada SOP atau sanksi yang jelas untuk pelaku, tidak ada sistem pelaporan, maupun agenda pendidikan karakter khusus yang difokuskan pada pencegahan bullying. Temuan ini sesuai dengan teori Alfadhila . yang menyatakan bahwa tidak adanya kebijakan atau program anti-bullying merupakan hambatan struktural yang membuat upaya guru menjadi terbatas. Guru cenderung ragu memberi sanksi tegas atau melibatkan orang tua karena tidak ada dukungan sistemik dari sekolah. Namun, menurut Nurmaya . , meskipun tidak ada kebijakan tertulis, peran aktif guru dalam membina karakter siswa tetap dapat efektif jika dilakukan secara konsisten. Akan tetapi, ketiadaan program formal menyebabkan tanggung jawab menjadi tidak terbagi dan tidak ada pemantauan atau evaluasi berkala yang dapat memperkuat intervensi guru SIMPULAN Dalam upaya mencegah dan mengatasi bullying di Kelas 2 MI Salafiyah Asy-SyafiAoiyah Temuguruh, guru memainkan peran yang sangat penting dan beragam. Sebagai pendidik, guru tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral seperti empati, toleransi, dan keadilan melalui kegiatan harian dan interaksi sosial siswa. Pendekatan ini memperkuat pemahaman siswa akan pentingnya menghargai perbedaan dan menghindari perilaku menyimpang seperti bullying. Sebagai pembimbing, guru memberikan dukungan emosional dan ruang aman bagi siswa untuk berbicara dan mengatasi masalah yang mereka hadapi. Guru juga berperan sebagai penengah yang mendorong penyelesaian konflik secara damai dan membangun, melalui pendekatan dialog dan rekonsiliasi yang lebih mendidik daripada menghukum. Sementara itu, dalam perannya sebagai penasihat, guru memberikan arahan moral baik kepada korban maupun pelaku. Guru membangun kesadaran pada diri pelaku agar mampu memahami dampak negatif perbuatannya, sekaligus mendorong korban untuk berani berbicara dan Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. bangkit dari tekanan. Semua ini dilakukan dengan pendekatan yang humanis dan tanpa menghakimi, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, inklusif, dan suportif bagi semua siswa. Faktor pendukung dan penghambat peran guru dalam mencegah dan mengatasi kasus Faktor pendukung, yaitu kedekatan emosional guru dengan siswa, pendekatan pembimbingan yang sabar dan tidak menghakimi, lingkungan kelas yang tertib. Faktor-faktor ini secara sinergis menciptakan ekosistem kelas yang aman, harmonis, dan kondusif untuk menangani perilaku bullying. Faktor penghambat, seperti siswa yang belum mampu membedakan candaan dan penghinaan, rendahnya kesadaran sosial pada pelaku bullying,korban yang tidak selalu berani bercerita, dan tidak adanya peraturan yang secara khusus membahas bullying. Hambatan ini menunjukkan pentingnya pembinaan karakter secara berkelanjutan. DAFTAR RUJUKAN Adiyono. Irvan, & Rusanti. Peran guru dalam mengatasi perilaku bullying. Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 6. , 649Ae658. Alfadhila. , & Bakri . , & A. Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menangani Bullying di SDN 84 Pammentengan Kabupaten Maros. Islamic Journal: Pendidikan Agama Islam, 2. , 265Ae277. Almizri. Peran Guru Bimbingan dan Konseling Dalam Penurunan Perilaku Bullying Dengan Pendekatan Psikoedukasi. Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam, 1. , 114Ae Ananda. Profesi Keguruan (Perspektif Sains dan Isla. Rajawali Pers. Armitage. Bullying in children: impact on. BMJ Paediatrics Open, 1Ae8. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Fourth Edition. California: Sage Publications. Inc. Terjemahan oleh A. Fawaid & R. Pancasari. Research Design: Pendekatan Kualitatif. Kuantitatif dan Campuran. Cetakan Keem. Pustaka Belajar. Fahham. Kekerasan Pada Anak di Satuan Pendidikan. Pusat Analisis Keparlemenan Badan Keahlian Setjen DPR RI, (Onlin. Ismail. Pentingnya Peran Guru Kelas dalam Mengatasi Perilaku Bullying Siswa di Sekolah. Prosiding Seminar Nasional PGSD UST, 1. , 283Ae289. Lestari. Peran guru agama islam dalam mengatasi bullying di SMP Negeri satu atap 2 salatiga lingga. Jurnal Komunikasi Dan Pendidikan Islam, 14. , 229Ae244. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Eka Ramiati, et. Lubis. , & Dafit. Peran guru dalam mewujudkan lingkungan sekolah zero bullying terhadap kesehatan mental siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Indonesia, 10. , 620Ae Mustafa. Buku Ajar Profesi Keguruan untuk Mahasiswa Pendidikan dan Keguruan. Pustaka