Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 IDENTIFIKASI Soil Transmitted Helminths (STH) PADA KOTORAN KUKU ANAK-ANAK DI DUSUN KARAMA SELATAN DESA BIRING KASSI KAB. TAKALAR Identification of Soil-Transmitted Helminths (STH) in ChildrenAos Nail Dirt in Karama Selatan Hamlet. Biring Kassi Village. Takalar Regency Nur Anisa1. Rahmat Saleh2. Nismawati3 Program Studi D-i Analis Kesehatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Indonesia Timur. Makassar. Indonesia Email: nurannisa191005@gmail. com1, rahmatsaleh2017@gmail. nismanatsir@gmail. ABSTRAK Soil Transmitted Helminths (STH) merupakan kelompok cacing usus yang ditularkan melalui tanah dan dapat menginfeksi manusia melalui media kuku yang kotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan STH pada kotoran kuku anakanak di Dusun Karama Selatan. Desa Biring Kassi. Kabupaten Takalar. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan observasi laboratorium. Penelitian dilaksanakan pada JuniAeJuli 2025 di Laboratorium Biokimia D-i Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur. Populasi penelitian adalah seluruh anak berusia 5Ae12 tahun di lokasi penelitian, dengan jumlah sampel 30 anak yang dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Variabel yang diteliti adalah keberadaan telur atau cacing STH pada kotoran kuku yang diperiksa menggunakan metode flotasi dengan larutan NaCl Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden adalah laki-laki . %) dengan kelompok usia terbanyak 8Ae10 tahun . %). Sebagian besar anak memiliki perilaku higienitas yang kurang baik, seperti kuku panjang . %), kuku kotor . ,7%), dan sering bermain tanah tanpa alas kaki . ,3%). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan 5 sampel . ,7%) positif STH, terdiri dari 1 sampel positif Hookworm, 1 sampel positif Ascaris lumbricoides dewasa, dan 3 sampel positif telur Ascaris lumbricoides, sedangkan 25 sampel . ,3%) negatif. Kesimpulan penelitian ini adalah meskipun prevalensi positif STH rendah, kuku panjang dan kotor terbukti menjadi media penting dalam penularan sehingga diperlukan intervensi berupa edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta peningkatan sanitasi lingkungan. Kata kunci: STH. Anak. Kotoran kuku. Metode flotasi Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 ABSTRACT Soil Transmitted Helminths (STH) are a group of intestinal worms that are transmitted through soil and can infect humans through contaminated nails. This study aims to determine the presence of STH in children's nail feces in Dusun Karama Selatan. Biring Kassi Village. Takalar Regency. The type of research is descriptive with a laboratory observation approach. The research was conducted in JuneAeJuly 2025 at the Biochemistry Laboratory D-i Health Analyst University of Eastern Indonesia. The research population consists of all children aged 5Ae12 years in the research location, with a sample size of 30 children selected through purposive sampling according to inclusion criteria. The variables studied are the presence of STH eggs or worms in the examined nail dirt using the flotation method with saturated NaCl solution. The results indicate that the majority of respondents are male . %) with the most common age group being 8Ae10 years . %). Most children exhibit poor hygiene behaviors, such as long nails . %), dirty nails . 7%), and frequently playing on the ground without footwear . 3%). Laboratory examinations showed that 5 samples . 7%) tested positive for STH, consisting of 1 positive sample for Hookworm, 1 positive sample for adult Ascaris lumbricoides, and 3 positive samples for Ascaris lumbricoides eggs, while 25 samples . 3%) were negative. The conclusion of this study is that although the prevalence of STH is low, long and dirty nails prove to be an important medium for transmission, thus interventions in the form of education about Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) and improved environmental sanitation are necessary. Keywords: STH. Children. Nail dirt. Flotation method PENDAHULUAN Kecacingan merupakan penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Disease/NTD) yang menyerang berbagai kelompok usia, terutama anak prasekolah dan sekolah dasar (Septiani, 2. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cacing Soil Transmitted Helminths (STH), yaitu cacing parasit usus yang ditularkan melalui tanah terkontaminasi, seperti Ascaris lumbricoides. Trichuris trichiura, serta Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Infeksi STH paling banyak ditemukan di SubSahara Afrika. Amerika. Cina, dan Asia Timur (Giovanni & Song, 2. Menurut World Health Organization . , lebih dari 1,5 milliar orang di dunia terinfeksi STH, dengan sekitar 270 juta anak usia sekolah yang berisiko tinggi karena kebiasaan bermain di tanah dan kebersihan pribadi yang kurang optimal. Infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, anemia, malnutrisi, serta menurunkan konsentrasi dan prestasi belajar anak (Who, 2. Di Asia Tenggara, sekitar 500 juta Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 orang terinfeksi STH, dan Indonesia termasuk 11 negara endemis dengan prevalensi Indonesia menempati peringkat kedua di kawasan ini dalam kebutuhan pengobatan Kecacingan pada anak-anak, dengan prevalensi sekitar 15% (Astuti et al. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, jumlah penderita Kecacingan mengalami fluktuasi dengan angka tertinggi pada tahun 2015 sebanyak 288 kasus, kemudian menurun dan stabil di kisaran 7. 500 kasus hingga tahun Penularan STH sangat dipengaruhi oleh perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, kebersihan kuku, dan penggunaan alas kaki. Telur cacing mudah menempel pada kuku dan tangan, lalu masuk ke tubuh saat makan atau menggigit kuku. Sanitasi yang buruk dan rendahnya kesadaran PHBS mempengaruhi risiko penularan (Nur et al. , 2. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan untuk mendeteksi infeksi STH, kajian yang secara khusus meneliti kuku sebagai media penularan masih sangat terbatas. Kuku anak-anak yang sering bersentuhan dengan tanah berpotensi menjadi sumber penularan, terutama karena kebiasaan menyentuh mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu (Idayani & Putri, 2. Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Asrori menunjukkan bahwa terdapat keberadaan telur cacing STH pada kuku anak usia 6-12 tahun sebesar 2,9% yang positif terinfeksi. Spesies cacing yang ditemukan adalah Strongyloides (Asrori et al. , 2. Selain itu. Pratiwi dan Sofiana . menunjukkan bahwa infeksi STH berkontribusi terhadap anemia pada anak, dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dibandingkan yang tidak terinfeksi. Jenis telur STH yang teridentifikasi termasuk Ascaris lumbricoides dan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenal. Kedua penelitian ini menegaskan bahwa infeksi cacing meningkatkan risiko anemia pada anak (Review et al. , 2. Melihat permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan STH pada kotoran kuku anak-anak di Dusun Karama Selatan. Desa Biring Kassi. Kabupaten Takalar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai risiko penularan STH di daerah pesisir, sekaligus menjadi dasar dalam penyusunan program edukasi kesehatan dan perbaikan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjadinya infeksi kecacingan pada anak-anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti tentang Identifikasi Soil Transmitted Helminths (STH) Pada Kotoran Kuku Anak-Anak Di Dusun Karama Selatan Desa Biring Kassi Kab. Takalar tahun 2025. Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 METODE PENELITIAN Tujuan khusus dalam penelitian adalah untuk mengetahui ada tidaknya Soil Transmitted Helminths (STH) pada kotoran kuku anak-anak di Dusun Karama Selatan Desa Biring Kassi Kab. Takalar. Hasil penelitian diharapkan bermanfaat . Untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam bidang helmintologi serta mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama proses perkuliahan ke dalam bentuk penelitian nyata. Sebagai referensi ilmiah bagi peneliti-peneliti selanjutnya, khususnya mahasiswa prodi D-i Analis Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia Timur, dalam mengembangkan penelitian serupa di bidang helmintologi. Sebagai acuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga personal hygiene, terutama kebersihan kuku, guna mencegah infeksi cacingan pada anak-anak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan Observasi Laboratorium. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 5-12 tahun yang tinggal di Dusun Karama Selatan Desa Biring Kassi. Kabu. Takalar dengan jumlah total 50 orang. Sampel penelitian terdiri dari 30 anak yang dipilih dari populasi Penentuan sampel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, sehingga sampel yang diambil benar-benar mewakili karakteristik populasi yang menjadi fokus penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik pemilihan sampel secara sengaja berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Teknik ini dipilih agar sampel benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mengidentifikasi keberadaan STH pada kotoran kuku anak-anak di lingkungan berisiko. Instrumen penelitian meliputi observasi, wawancara, dan pemeriksaan laboratorium di Dusun Karama Selatan. Desa Biring Kassi. Kabupaten Takalar. Data dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara mengenai kebiasaan kebersihan anak, serta pemeriksaan sampel kotoran kuku di laboratorium untuk mendeteksi Soil Transmitted Helminths (STH). Hasil pemeriksaan dianalisis secara deskriptif dengan menghitung jumlah sampel positif dan negatif, kemudian disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase serta dijelaskan secara naratif untuk memudahkan HASIL Jumlah sampel yang didapat dalam penelitian ini berjumlah 30 pasien yang disajikan dalam bentuk tabel dan dinarasikan. Setiap tabel akan dijelaskan berdasarkan usia, wawancara, data hasil pemeriksaan, dan distribusi jenis pemeriksaan STH. Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 Tabel 4. 1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Usia Kelompok Usia Jumlah Anak Persentase Kategori . (%) Anak-anak Anak-anak Anak-anak Anak-anak Anak-anak Anak-anak Anak-anak Anak-anak Total Sumber: Data Primer 2025 Berdasarkan Tabel 4. 1 menunjukkan bahwa dari 30 responden memiliki rentan usia 5-12 tahun. Usia terbanyak adalah 9 tahun yaitu sebanyak 6 responden . %), dan terendah adalah 6 tahun sebanyak 1 responden . ,3%). Tabel 4. 2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Anak Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Sumber: Data Primer 2025 Berdasarkan Tabel 4. 2, dari 30 responden terdapat jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 responden . %) dan perempuan sebanyak 6 responden . %). Tabel 4. 3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Hasil Observasi Wawancara Tidak Aspek Perilaku Kuku Bersih Kuku Panjang Mencuci Tangan Sebelum Makan 19 63,3 Memotong Kuku Rutin Bermain Tanah Tanpa Alas Kaki 22 73,3 Menggigit Kuku Total Sumber: Data Primer 2025 Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 Berdasarkan Tabel 4. 3, menunjukkan bahwa pada pernyataan aspek perilaku responden dengan pilihan jawaban ya dan tidak diperoleh jawaban responden yang paling banyak menjawab ya yaitu pada pernyataan kuku panjang sebanyak 30 responden . %) dan pertanyaan paling sedikit dijawab dengan jawaban ya yaitu pada pernyataan kuku bersih 1 responden . ,3%). Sedangkan pernyataan paling banyak dijawab dengan jawaban tidak yaitu kuku bersih sebanyak 29 responden . ,7%) dan pernyataan paling sedikit dijawab dengan jawaban tidak yaitu kuku panjang sebanyak 0 responden . %) yang berarti semua responden memiliki kuku Tabel 4. 4 Hasil Pemeriksaan Identifikasi STH Pada Kotoran Kuku Anak-Anak Hasil Pemeriksaan Positif Negatif Jumlah Sumber: Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 4. 4 menunjukkan bahwa dari 30 responden terdapat 5 responden positif STH . ,7%), sementara itu, sebanyak 25 responden . menunjukkan hasil negatif terhadap keberadaan STH. Tabel 4. 5 Distribusi jenis Soil Transmitted Helminths (STH) Pada kotoran kuku Anak-anak Kode sampel Hasil Pemeriksaan Cacing Hookrorm Cacing Ascaris lumbricoides Telur Ascaris lumbricoides Telur Ascaris lumbricoides A18 Telur Ascaris lumbricoides A26 Total 16,7 100 Sumber: Data Primer 2025 Tabel 4. 5 menunjukkan bahwa dari 30 sampel kotoran kuku anak-anak yang diperiksa terdapat 16,7% terdeteksi positif STH. Diantara kasus positif Ascaris lumbricoides merupakan temuan terbanyak 4 sampel . ,3%) dan Hookworm 1 sampel . ,3%). Temuan ini menunjukkan kontaminasi STH pada kuku Anak-anak di Dusun Karama Selatan Desa biring Kassi Kab. Takalar didominasi oleh Ascaris Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 PEMBAHASAN Berdasarkan Tabel 4. 1, distribusi responden menunjukkan bahwa mayoritas adalah laki-laki sebanyak 24 anak . %), sedangkan perempuan berjumlah 6 anak . %). Dominasi anak laki-laki pada penelitian ini sejalan dengan karakteristik perilaku mereka yang cenderung lebih sering melakukan aktivitas di luar rumah, bermain di tanah, serta kurang memperhatikan kebersihan diri dibandingkan anak perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian Getaneh et al. yang menyebutkan bahwa anak lakilaki memiliki risiko lebih tinggi terpapar STH akibat intensitas bermain di luar ruangan yang lebih besar (Getaneh et al. , 2. Namun, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa jumlah responden laki-laki yang dominan tidak berbanding lurus dengan angka positif infeksi STH. Hanya sebagian kecil responden yang positif, sementara mayoritas negatif meskipun memiliki kebiasaan yang sama. Artinya, jenis kelamin bukanlah faktor penentu tunggal keberadaan telur atau cacing pada kuku. Faktor lingkungan, perilaku higienitas, dan sanitasi justru lebih berperan. Temuan ini menguatkan laporan Kusumawardani et al. yang menyatakan bahwa risiko STH lebih ditentukan oleh kondisi kebersihan pribadi dan lingkungan, bukan semata-mata oleh jenis kelamin anak (Kusumawardani et al. , 2. Berdasarkan Tabel 4. 2, distribusi usia responden menunjukkan bahwa kelompok usia terbanyak adalah 8Ae10 tahun yaitu sebanyak 15 anak . %), diikuti 5Ae7 tahun sebanyak 9 anak . %), dan 11Ae12 tahun sebanyak 6 anak . %). Usia sekolah dasar merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap infeksi STH karena anak pada usia ini cenderung aktif bermain di tanah, sering tidak menggunakan alas kaki, serta belum memiliki kesadaran penuh dalam menjaga kebersihan diri. Hal ini sesuai dengan penelitian Aemiro et al. yang melaporkan bahwa prevalensi STH paling tinggi ditemukan pada anak usia 7Ae10 tahun karena perilaku higienitas yang masih rendah. Selain itu. WHO . juga menegaskan bahwa anak usia sekolah dasar merupakan kelompok prioritas dalam program pencegahan kecacingan karena tingkat aktivitas dan paparan mereka lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain. Berdasarkan Tabel 4. 3, karakteristik perilaku higienitas anak menunjukkan sebagian besar responden memiliki kebiasaan yang buruk. Sebanyak 96,7% memiliki kuku kotor, 100% memiliki kuku panjang, 73,3% sering bermain tanah tanpa alas kaki, 60% tidak rutin memotong kuku, dan 23,3% memiliki kebiasaan menggigit kuku. Secara teori, perilaku tersebut seharusnya meningkatkan risiko kontaminasi telur atau Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 cacing pada kuku anak. Menurut Tadege et al. , kuku panjang dan kotor merupakan media potensial bagi telur STH untuk menempel dan masuk ke tubuh anak melalui kebiasaan makan tanpa mencuci tangan. Selain itu, kebiasaan bermain tanah tanpa alas kaki dan menggigit kuku memperbesar kemungkinan tertelannya telur cacing secara tidak sadar (Tadege et al. , 2. Berdasarkan tabel 4. 4 menunjukkan bahwa dari 30 responden terdapat 5 responden positif STH . ,7%), sementara itu, sebanyak 25 responden . menunjukkan hasil negatif terhadap keberadaan STH. Temuan ini sejalan dengan hasil distribusi responden pada Tabel 4. 1, di mana laki-laki memang lebih dominan dalam jumlah, namun yang lebih penting adalah perilaku anak laki-laki yang cenderung lebih sering beraktivitas di luar rumah, bermain tanah, dan jarang menjaga kebersihan diri dibandingkan anak perempuan. Laporan Nike Fortuna Sihura et al. juga menyebutkan bahwa anak dengan kebiasaan higienitas buruk lebih berisiko ditemukan positif telur cacing (Nike Fortuna Sihura et al. , 2. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab semua kasus positif hanya ditemukan pada laki-laki. Tabel 4. 5 menunjukkan bahwa dari 30 sampel kotoran kuku anak-anak yang diperiksa terdapat 16,7% terdeteksi positif STH. Diantara kasus positif Ascaris lumbricoides merupakan temuan terbanyak 4 sampel . ,3%) dan Hookworm 1 sampel . ,3%). Temuan ini menunjukkan kontaminasi STH pada kuku Anak-anak di Dusun Karama Selatan Desa biring Kassi Kab. Takalar didominasi oleh Ascaris lumbricoides. Temuan penelitian ini juga sejalan dengan hasil studi yang dilakukan oleh Fitri. yang menemukan dari 51 sampel siswa yang diperiksa ditemukan 3 siswa . %) positif terinfeksi Ascaris lumbricoides pada kuku anak-anak sekolah dasar (Fitri, 2. Sama halnya, penelitian Winita & Mulyati. melaporkan adanya kontaminasi telur Ascaris lumbricoides pada siswa SDN Pagi Paseban. Jakarta Pusat, dengan angka infeksi sebelum edukasi sebesar 11,5%. Kedua penelitian tersebut menegaskan bahwa kuku panjang dan kotor merupakan media potensial yang berperan dalam penularan STH pada anak-anak (Winita & Mulyati, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terhadap 30 sampel kotoran kuku anak-anak di Dusun Karama Selatan Desa Biring Kassi Kab. Takalar, ditemukan 5 sampel positif . ,7%) yang terdiri atas 1 sampel positif cacing Hookworm, 1 sampel positif cacing Ascaris lumbricoides, serta 3 sampel positif telur Ascaris lumbricoides. Sementara itu, 25 sampel lainnya . ,3%) menunjukkan hasil negatif terhadap keberadaan Soil Transmitted Helminths (STH). Hasil ini menegaskan bahwa kuku panjang dan kotor Indonesia Timur Journal Of Public Health ISSN-2985-8097 Universitas Indonesia Timur Vol 7. No. Desember 2025 12-21 berperan penting sebagai media penularan STH pada anak-anak, meskipun angka prevalensinya relatif rendah. SARAN Diharapkan masyarakat dapat secara konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk kebiasaan rutin mencuci tangan sebelum makan serta memotong kuku secara teratur, guna mencegah infeksi cacing. Disarankan kepada institusi pendidikan dan kesehatan untuk melaksanakan penyuluhan secara berkala dan sistematis mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan dalam rangka menurunkan risiko infeksi parasit. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan agar proses pengambilan sampel dilakukan dengan prosedur yang steril, menggunakan wadah penyimpanan yang higienis, serta memastikan penanganan laboratorium mengikuti standar keamanan, sehingga hasil penelitian lebih akurat dan minim risiko kontaminasi. DAFTAR PUSTAKA