Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 Case Report Pada Multigravida Trimester i Dengan Anemia Ringan Di Puskesmas Jaddih Kabupaten Bangkalan Case Report On A Multigravid During The Third Trimester With Mild Anemia At The Jaddih Public Health Center. Bangkalan District Nabila akmalia1*. Sri Wayanti2. Suryaningsih3 . EsyuananikA Mahasiswa Prodi kebidanan. Poltekkes Kemenkes Surabaya 2,3,4 Dosen Prodi Kebidanan. Poltekes Kemenkes Surabaya *Corresponding : nabilaakmalia03@gmail. ABSTRAK Kehamilan multigravida merujuk pada keadaan di mana seorang wanita telah mengalami lebih dari satu kali kehamilan, yang dapat menyebabkan peningkatan risiko anemia akibat hemodilusi, di mana volume plasma bertambah lebih besar dibandingkan dengan jumlah sel darah merah. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan pengkajian data subjektif, objektif, analisa, penatalaksanaan dan evaluasi pada ibu hamil multigravida G3P2A0 usia kehamilan 29-30 minggu dengan anemia ringan. Metode ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan 3 kali melalui wawancara yang terstruktur, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Kunjungan pertama terdapat keluhan pusing saat bangun tidur dan tidak rutin mengkonsumsi tablet Fe dan MMS, hasil laboratorium menunjukkan kadar Hb 10,2 g/dl . nemia ringa. Asuhan yang diberikan edukasi anemia, pola makan bergizi, menjaga kebersihan vagina, dan edukasi tanda bahaya kehamilan. Kunjungan kedua, keluhan pusing sudah teratasi, terdapat keluhan nyeri pinggang dan sering berkemih. Asuhan yang diberikan menjelaskan penyebab dan cara mengatasi keluhan tersebut. Pada kunjungan ketiga sudah tidak ada keluhan, hasil laboratorium menunjukkan peningkatan kadar Hb menjadi 12,8 g/dl. Ibu diharapkan dapat menjaga pola makan dan melanjutkan konsumsi MMS untuk mencegah anemia berulang. Setelah dilakukan tiga kali kunjungan anemia pada ibu sudah teratasi, kepatuhan konsumsi tablet Fe meningkat, serta pentingnya pemantauan rutin untuk menjaga kondisi kesehatan. Kata kunci: Multigravida, anemia dalam kehamilan, hemodilusi ABSTRACT Multigravida pregnancy refers to a condition in which a woman has experienced more than one pregnancy, which can cause an increased risk of anemia due to hemodilution, where the plasma volume increases more than the number of red blood cells. The purpose of this study describes the assessment of subjective and objective data, analysis, management and evaluation of multigravida G3P2A0 pregnant women with gestational age 29-30 weeks with mild anemia. This method uses a descriptive design with a case study Data collection was carried out 3 times through structured interviews, physical and laboratory The first visit resulted in a complaint of dizziness upon waking and irregular consumption of Fe tablets and MMS. Laboratory results showed an Hb level of 10. 2 g/dl . ild anemi. The care provided included education on anemia, a nutritious diet, maintaining vaginal hygiene, and education on pregnancy danger signs. Article History: Received: August 9 ,2025. Revised: September 11, 2025. Accepted: October 16, 2025 Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 The second visit revealed that the dizziness had resolved, but there were complaints of lower back pain and frequent urination. The care provided explained the causes and how to address these complaints. At the third visit, there were no complaints, and laboratory results showed an increase in Hb levels to 12. 8 g/dl. The mother was expected to maintain her diet and continue taking MMS to prevent recurrence of anemia. After three visits, the mother's anemia had resolved, compliance with Fe tablet consumption had increased, and regular monitoring was essential for maintaining health. Keywords: Multigravida, anemia in pregnancy, hemodilution PENDAHULUAN Kehamilan multigravida merujuk pada keadaan di mana seorang wanita telah mengalami kehamilan lebih dari satu kali, sehingga ia memiliki pengetahuan mengenai proses kehamilan dan Selama masa kehamilan, terjadi hemodilusi, yang berarti volume plasma meningkat lebih signifikan dibandingkan jumlah eritrosit, menyebabkan penurunan kadar hemoglobin. Situasi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya anemia, khususnya jika asupan nutrisi tidak memadai, konsumsi zat besi dilakukan secara tidak teratur, atau jika pengetahuan tentang gizi rendah. Anemia pada wanita hamil dapat dikenali dengan kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, atau kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Aini, 2. WHO merekam tingkat prevalensi anemia di kalangan perempuan hamil secara global pada tahun 2023 mencapai 37%. SKI 2023 mencatat angka di Indonesia sebesar 27,7%. Di Jawa Timur, tingkat prevalensinya mencapai 10,5% . 225 ibu hami. , sedangkan di Kabupaten Bangkalan angkanya sebesar 9%, dan di Puskesmas Jaddih pada tahun 2024 tercatat 5,2% . dari 461 ibu hami. uskesmas jaddih, 2. Anemia pada wanita hamil biasanya disebabkan oleh rendahnya konsumsi zat besi, terutama dari sumber protein hewani. Selama masa kehamilan, kebutuhan akan zat besi meningkat karena terjadi hemodilusi, yaitu kenaikan volume plasma sebesar 30Ae40% yang tidak sejalan dengan pertambahan sel darah merah . Ae30%) dan hemoglobin . %). Keadaan ini menyebabkan penurunan kadar hemoglobin dan memicu timbulnya anemia. Hemodilusi mulai berlangsung pada minggu kehamilan ke-10 dan mencapai puncaknya pada minggu ke-32 hingga ke-36 (Rohmatika et al. , 2. Keadaan gizi dan pengetahuan ibu hamil berkontribusi pada terjadinya anemia. Kekurangan pengetahuan, yang sering kali diakibatkan oleh jarangnya kunjungan antenatal care serta minimnya informasi dari tenaga medis, membuat para ibu kesulitan memahami cara yang tepat dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Faktor-faktor lain yang mengonsumsi tablet, usia yang masih muda, faktor sosial ekonomi, serta rendahnya asupan protein dan buah (Amanupunnyo et al. , 2. Anemia pada ibu hamil berisiko bagi ibu dan janin, pada ibu anemia meningkatkan kerentanan infeksi, menurunkan imunitas, memicu perdarahan antepartum, ketuban pecah dini, gangguan kontraksi, persalinan lama, kesulitan menghadapi kehilangan darah, hingga risiko gagal jantung. Saat nifas, dapat menyebabkan perdarahan, infeksi puerperium, penyembuhan luka lambat, depresi, kesulitan menyusui, dan infeksi payudara. Pada janin, anemia mempengaruhi pertumbuhan plasenta, sintesis protein, dan aliran plasma ibu, serta meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas perinatal (Wahyuni & Nurkholifah, 2. Pemerintah Indonesia mencegah anemia pada ibu hamil melalui program sejak remaja putri usia 12Ae20 tahun dengan pemberian tablet tambah darah (TTD) 1 tablet saat menstruasi dan 1 kali seminggu selama 4 bulan. Remaja putri berisiko anemia karena kehilangan darah saat haid, sedangkan kebutuhan zat besi tertinggi terdapat pada perempuan usia subur . Ae18 mg/har. Program TTD disalurkan melalui sekolah untuk mencegah anemia dan stunting di masa depan. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi 90 tablet Fe selama kehamilan (FeSOCE 320 mg setara 60 mg zat besi Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 asam folat 400 mc. , dosis 1 tablet/hari untuk pencegahan dan 2 tablet/hari jika sudah anemia. Program juga meliputi penyuluhan, kelas ibu hamil. ANC terpadu dua kali, serta pemeriksaan Hb pada trimester I dan i (Mayasari et al. , 2. Bidan memegang peranan yang signifikan dalam mencegah terjadinya anemia pada perempuan hamil melalui penyuluhan mengenai gizi, sumber-sumber zat besi, makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi, serta cara yang tepat dalam mengonsumsi suplemen. Penyuluhan bagi ibu hamil sangat penting, seperti mengingatkan untuk mengonsumsi 90 tablet tambahan darah sepanjang masa kehamilan, menjelaskan cara yang benar dalam mengonsumsi tablet Fe dan MMS, serta mengarahkan mereka untuk mengonsumsi makanan tinggi zat besi. Sangat dianjurkan pula untuk melakukan kunjungan secara teratur ke layanan kesehatan antenatal dan memeriksa kadar hemoglobin pada trimester pertama dan ketiga demi mencegah potensi komplikasi bagi ibu dan janin (Susanti et al. Masalah lain terkait anemia selama kehamilan yang dihadapi ibu adalah ketidakrutinan dalam mengonsumsi tablet zat besi. Berdasarkan paparan latar belakang tersebut, peneliti memutuskan untuk mengangkat judul penelitian laporan kasus mengenai multigravida trimester i dengan anemia ringan di puskesmas Jaddih Kabupaten Bangkalan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan desain deskriptif melalui metode Case Report. Subjek yang diteliti adalah seorang ibu multigravida G3P2A0 yang sedang hamil 29-30 minggu dan mengalami anemia ringan di Puskesmas Jaddih Bangkalan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari hingga Mei Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, tes laboratorium, dan observasi terhadap dokumen asuhan Asuhan kebidanan dilakukan selama tiga kunjungan, yang mencakup pengkajian, edukasi mengenai gizi, pemberian suplemen Fe dan MMS, penilaian kepatuhan, dan pemeriksaan kembali kadar hemoglobin. Penelitian ini juga telah mematuhi etika dengan memperoleh Persetujuan Tertulis dari para partisipan yang terlibat. HASIL DAN PEMBAHASAN Kunjungan pertama ibu mengeluh pusing saat bangun, dan kurang rutin mengkonsumsi tablet Fe dan MMS. Pemeriksaan konjungtiva pucat. TFU 25 cm. Hb 10,2 g/dl terdiagnosa anemia Asuhan menganjurkan mengkonsumsi makanan tinggi zat besi . ayuran hijau, kacang, hat. , hindari kopi dan teh berlebihan, berikan tablet MMS 1x1 pagi, tablet kalk 1x1 dua jam kemudian, dan tablet Fe satu kali untuk membantu mengurangi rasa mual. Anemia yang dialami oleh ibu hamil disebabkan oleh rendahnya kadar hemoglobin yang mengurangi kemampuan darah dalam mengangkut Kepatuhan mengonsumsi tablet Fe juga memengaruhi timbulnya keluhan pusing. Anemia adalah kondisi di mana terdapat penurunan jumlah sel darah merah . dalam aliran darah atau mendistribusikan oksigen ke semua bagian tubuh (Sulung et al. , 2. Secara keseluruhan, tanda-tanda yang terlihat pada sindrom anemia meliputi rasa pusing, cepat lelah, lemas, hilangnya nafsu makan, serta kesulitan bernapas. Saat melakukan pemeriksaan pada konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, dan area di bawah kuku, biasanya akan terlihat warna yang pucat. Khususnya bagi wanita hamil, terdapat beberapa gejala yang mudah dikenali, antara lain cepat merasa lelah, pusing, munculnya penglihatan kabur, berkurangnya nafsu makan, kesulitan dalam fokus, perasaan napas yang pendek, serta mual dan muntah yang berlebihan (Yanti et al. , 2. Kunjungan kedua keluhan pusing sudah teratasi, terdapat keluhan lain yakni nyeri pinggang dan sering berkemih. Asuhan yang diberikan pada kunjungan yang kedua adalah, melanjutkan untuk mengkonsumsi tablet MMS dan tablet Fe secara Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 teratur, untuk menangani masalah anemia dan dilanjutkan dengan konsumsi vitamin C untuk memperbaiki penyerapan zat besi pada kondisi Asuhan terkait nyeri pinggang yakni menganjurkan ibu kompres hangat pada pinggang, hindari berdiri lama, dan tidur miring kiri dengan bantal penyangga perut serta pinggang. Asuhan sering berkemih yakni ibu dianjurkan minum 8 gelas/hari, hindari minum berlebihan sebelum tidur, dan ganti celana dalam bila lembab. Pada trimester i, pembesaran rahim dan berat janin menekan tulang belakang, memicu hiperlordosis dan ketegangan otot pinggang. Menurut (Arummega et al. , 2. rasa sakit di area pinggang bawah cenderung dialami lebih banyak oleh wanita yang sedang hamil, terutama saat mereka berada di trimester II dan i, serta menjadi keluhan yang umum dirasakan. Perubahan postur tubuh pada wanita hamil akan berlangsung secara bertahap karena ukuran janin yang semakin besar di dalam perut, yang berfungsi untuk mengimbangi penambahan berat badan pada ibu. Hal ini mengakibatkan tarikan pada bahu ke belakang dan kelengkungan pada tulang yang lebih signifikan, sementara sendi tulang belakang terasa lebih lentur, yang dapat menyebabkan nyeri punggung pada beberapa wanita hamil. Sering berkemih pada ibu hamil disebabkan oleh peningkatan hormon HCG dan tekanan rahim membesar pada kandung kemih. Menurut (Nukuhaly & Kasmiati, 2. sering buang air pada ibu hamil akibat peningkatan laju filtrasi glomerulus akibat pengaruh hormon progesterone pada ibu hamil, keluhan ini juga di akibatkan pembesaran uterus yang menekan kandung kemih yang kapasitas kandung kemih berkurang yang menyebebkan frekunsi berkemih ikut meningkat dan kelemahan otot panggul megakibatkan sering buang air kecil. Kunjungan ketiga keluhan nyeri pinggang dan sering berkemih masih dirasakan oleh ibu. Hasil pemeriksaan kadar Hb 12,8 g/dl. Asuhan yang diberikan tetap melanjutkan konsumsi tablet MMS 1x1 tablet, kalk 1x1 tablet, dan konsumsi Fe di mengkonsumsi makanan yang mengandung zat Pada pemeriksaan yang ketiga, level hemoglobin wanita naik dari 10,2 g/dl menjadi 12,8 g/dl. Peningkatan ini terjadi karena ibu rutin mengonsumsi tablet Fe dan MMS setiap hari, disertai pemenuhan nutrisi dengan sering mengonsumsi sayuran. Hal ini menunjukkan kepatuhan ibu dalam menjalani anjuran asupan zat besi dan gizi seimbang. Menurut (Tampubolon et , 2. menjelaskan bahwa konsumsi suplemen besi dan terpenuhinya nutrisi mikro yang sesuai dapat secara substansial meningkatkan level hemoglobin pada wanita yang sedang hamil. Peningkatan level hemoglobin sekitar 1Ae2 g/dl dalam waktu 3Ae4 minggu setelah pengobatan menunjukkan adanya respons yang baik terhadap Direkomendasikan untuk mengonsumsi zat besi sebanyak 30Ae60 mg per hari, dan akan lebih efisien jika dikombinasikan dengan makanan yang kaya akan zat besi seperti sayuran hijau serta makanan yang tinggi vitamin C untuk mendukung proses penyerapan. KESIMPULAN DAN SARAN Intervensi yang dilakukan menunjukkan hasil yang positif, yang terlihat dari peningkatan kepatuhan ibu dalam mengonsumsi tablet zat besi serta MMS. Ini mengakibatkan kenaikan kadar Hb menjadi 12,8 g/dL. Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas dari suplementasi, perbaikan pola makan, kegiatan edukatif, serta pemantauan yang dilakukan secara konsisten. Untuk menghindari terulangnya anemia, ibu disarankan untuk menjaga pola makan yang sehat dan secara rutin mengonsumsi MMS sesuai dengan pedoman kesehatan yang ada. Dukungan serta edukasi yang terus menerus selama masa kehamilan diharapkan dapat menjaga kesehatan ibu dan janin hingga proses persalinan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepala UPT Puskesmas Jaddih yang telah memberikan kesempatan untuk menyusun Laporan Tugas Akhir. DAFTAR PUSTAKA