PENELITIAN ASLI SELF ACCEPTANCE PADA PENYANDANG DISABILITAS FISIK DEWASA AWAL AKIBAT KECELAKAAN KECELAKAAN SERIUS Nayra Fitrianita Efna1. Fransisca Iriani R. Dewi1 Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan Tanggal Dikirim: 11 Juli 2025 proses penerimaan diri pada individu dewasa awal Tanggal Diterima: 29 September 2025 yang mengalami disabilitas fisik akibat kecelakaan Tanggal Dipublish: 01 Desember 2025 serius dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi selama proses tersebut. Masa dewasa awal merupakan tahap perkembangan yang krusial yang ditandai dengan kebutuhan untuk Kata kunci: Penerimaan diri. membangun komitmen, hubungan intim, dan Disabilitas fisik. Dewasa awal. Namun. Kecelakaan serius. Penelitian perubahan fisik yang disebabkan oleh kecelakaan serius, yang mengakibatkan disabilitas fisik. Partisipan penelitian adalah lima laki-laki dewasa awal . erusia 20-35 tahu. dengan disabilitas fisik Penulis Korespondensi: akibat kecelakaan serius. Penelitian kualitatif ini Nayra Fitrianita menggunakan wawancara mendalam untuk 705210288@stu. pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan melalui lima tahap penerimaan diri: respons emosional awal terhadap kondisi baru, keingintahuan tentang kondisi baru, toleransi terhadap kondisi diri yang baru, membiarkan ketidaknyamanan hadir dalam proses penerimaan diri, dan akhirnya mencapai penerimaan diri. Partisipan menghadapi tiga jenis tantangan: psikologis . urang percaya diri, kesulitan menerima kondisi, traum. , sosial . iskriminasi, persepsi negati. , dan ekonomi . ekanan untuk mempertahankan pendapata. Penelitian ini memberikan wawasan bagi individu dengan disabilitas untuk lebih memahami proses penerimaan diri yang komprehensif dan mendorong masyarakat untuk membangun empati dan rasa hormat terhadap individu dengan Jurnal Psychomutiara e-ISSN: 2615-5281 Vol. 8 No. 2 Desember, 2025 (Hal 66-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/Psikologi DOI: https://doi. org/10. 51544/psikologi. How To Cite: Efna. Nayra Fitrianita, and Fransisca Iriani R. Dewi. AuSelf Acceptance Pada Penyandang Disabilitas Fisik Dewasa Awal Akibat Kecelakaan Kecelakaan Serius. Ay Jurnal Psychomutiara 8 . : 66Ae70. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/psikologi. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Psikologi Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Masa dewasa awal merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang berada pada rentang usia 20-35 tahun (Mulzaman et al. , 2. Menurut Erikson . alam Papalia & Feldman, 2. , individu yang berada pada tahap dewasa awal akan menjalin hubungan atau komitmen dengan individu lain untuk mendapatkan intimasi, hal ini terkait dengan intimacy vs isolation dalam teori psikososial. Menurut Santrock . , individu yang memasuki usia dewasa awal akan menghadapi pola hidup baru yang memerlukan tanggung jawab baru, hubungan sosial, serta kemandirian yang berkaitan dengan kondisi fisik karena dapat mempengaruhi kemampuan mereka. Berdasarkan data Kantor Kepolisian Republik Indonesia, terjadi peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas dari tahun 2020 sampai 2022 yakni dari 100. 028 kasus 258 kasus yang memakan korban baik secara materi, luka ringan, luka berat, bahkan kematian (Statistik, 2. Kecelakaan dapat menyebabkan individu mengalami kelainan fisik atau tuna daksa, yaitu suatu kondisi individu yang mengalami kelainan pada otot, tulang, maupun sendinya yang mengakibatkan fungsi anggota tubuhnya tidak bekerja dengan baik (Utami et al. , 2. Menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia dengan data dari Biro Pusat Statistik (Kemensos, 2. , terdapat 22,5 juta penyandang disabilitas di Indonesia. Penyandang disabilitas cenderung tidak terlibat dan kesulitan berbaur dalam masyarakat karena persepsi masyarakat yang menganggap penyandang disabilitas tidak memiliki kemampuan dan hambatan dalam kegiatan sehari-hari (Larasati & Savira, 2. Keterbatasan penyandang disabilitas dalam menjalani hidup secara mandiri menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat, yang mempengaruhi kemampuan penerimaan diri atau self acceptance (Zaelani et al. , 2. Self acceptance atau penerimaan diri merupakan perilaku positif atau pandangan yang menyeluruh terhadap diri sendiri, baik secara kepribadian maupun pengalaman hidup di masa lalu (Little, 2. Menurut Ryff & Singer . , self acceptance merupakan salah satu dimensi kesejahteraan psikologis individu. Proses untuk penerimaan diri pada penyandang disabilitas menjadi tidak mudah, namun apabila telah memiliki penerimaan diri yang baik, maka penyandang disabilitas dapat beradaptasi dengan lingkungannya, memahami dirinya sendiri, dan menemukan potensi serta memecahkan permasalahannya (Ajzen, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin meneliti lebih jauh mengenai self acceptance penyandang disabilitas usia dewasa awal yang mengalami kecelakaan serius, dengan mengangkat pengalaman nyata dari para penyandang disabilitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerimaan diri penyandang disabilitas pada usia dewasa awal akibat kecelakaan serius dan tantangan yang dihadapi dalam proses penerimaan diri. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memahami fenomena self acceptance secara mendalam. Metode kualitatif dipilih karena mampu mengidentifikasi subjek secara lebih mendalam dan memahami pengalaman serta perasaan subjek dalam kehidupan sehari-hari (Sugiyono, 2. Partisipan penelitian ini adalah 5 orang pria penyandang disabilitas fisik dengan karakteristik: . Penyandang disabilitas fisik akibat kecelakaan serius dalam rentang waktu 1-4 tahun, . Berusia 20-40 tahun . sia dewasa awa. , . Berdomisili di Jabodetabek. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai karakteristik yang telah ditentukan (Creswell, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. yang dilaksanakan pada 21 Oktober 2024 dan 27 Oktober 2024 di Jakarta dan Bekasi. Wawancara direkam dengan izin partisipan dan menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun berdasarkan tahapan self acceptance. Analisis data menggunakan teknik analisis Miles & Huberman . yang meliputi: . Pengumpulan data, . Reduksi data dengan merangkum informasi penting dan mencari pola dan tema, . Penyajian data yang tersusun rapi, dan . Penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil Gambaran Partisipan Kelima partisipan dalam penelitian ini adalah pria berusia 24Ae40 tahun yang mengalami kecelakaan lalu lintas (FSN. VS. RP. ID) dan kecelakaan kerja (UCI) antara tahun 2021Ae2023. Berdasarkan latar belakang pekerjaan, partisipan memiliki profesi sebagai atlet menembak (FSN. VS. RP), pengemudi ojek online (UCI), dan wirausaha (ID. RP. UCI). Jumlah profesi yang tercatat melebihi jumlah partisipan karena beberapa individu memiliki lebih dari satu pekerjaan, seperti partisipan UCI bekerja sebagai pengemudi ojek online sekaligus wirausaha. Proses Self Acceptance Penyandang Disabilitas Fisik Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan melewati 5 tahapan dalam proses self acceptance: Respon Emosional Awal terhadap Kondisi Baru Empat dari lima partisipan menunjukkan respon emosional negatif seperti sedih, depresi, frustasi, dan minder. Partisipan FSN mengalami kesedihan mendalam yang bertambah karena kehilangan ibu tujuh bulan setelah kecelakaan. Partisipan VS mengalami depresi dan takut keluar rumah. Partisipan RP merasa frustasi dan tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. Partisipan UCI mengalami frustasi dan depresi karena harus melepas cita-cita menjadi pemain bola. Berbeda dengan yang lain, partisipan ID langsung menunjukkan sikap pasrah dan ikhlas tanpa respon emosional negatif. Rasa Ingin Tahu terhadap Kondisi Baru Seluruh partisipan menunjukkan eksplorasi diri dengan berbagai cara. Tiga partisipan (FSN. VS. RP) bergabung menjadi atlet penembak disabilitas. Partisipan ID mengikuti kegiatan keterampilan dan berdiskusi dengan orang lain. Partisipan UCI berusaha mengatasi trauma mengendarai motor untuk kembali Toleransi terhadap Kondisi Diri yang Baru Partisipan mulai mentoleransi keterbatasan fisik dan rasa tidak nyaman. Partisipan FSN menjalani kehidupan seperti biasa dan menghiraukan pandangan Partisipan VS menjalani fase sulit awal namun bertahan. Partisipan ID tidak merasa terganggu secara fisik maupun batin. Partisipan RP dan UCI belajar toleransi terhadap diskriminasi yang diterima. Membiarkan Ketidaknyamanan Hadir Partisipan mulai menerima rasa tidak nyaman tanpa penolakan keras. Partisipan FSN menggunakan strategi pengalihan seperti bermain game dan berkumpul dengan teman. Partisipan VS menerima keterbatasan sebagai takdir. Partisipan ID menunjukkan sikap tidak menyalahkan keadaan. Penerimaan Diri (Self Acceptanc. Setiap partisipan memiliki rentang waktu berbeda dalam mencapai penerimaan Partisipan FSN dan ID mencapai penerimaan diri dalam 2 bulan, partisipan UCI dalam 5 bulan, partisipan RP dalam 1 tahun, dan partisipan VS dalam 2 Faktor pendukung meliputi rasa ikhlas, pendekatan spiritual, dukungan sosial, dan fokus pada pengembangan potensi. Tantangan dalam Mencapai Self Acceptance Penelitian mengidentifikasi tiga jenis tantangan: Tantangan Psikologis Meliputi kehilangan kepercayaan diri (FSN. ID), kesulitan menerima kondisi diri (VS), rasa sedih dan frustasi (RP), serta trauma mengendarai motor (UCI). Partisipan menghadapi tantangan ini dengan cara meningkatkan kepercayaan diri, menjaga hubungan sosial, dan mengubah pola pikir. Tantangan Sosial Berupa diskriminasi, celaan verbal, dan pandangan negatif masyarakat. Partisipan menghadapinya dengan menghiraukan celaan (FSN. UCI), membuktikan kemampuan melalui prestasi (RP), dan tetap aktif berbaur dengan masyarakat (ID). Tantangan Ekonomi Partisipan UCI mengalami tekanan untuk memiliki penghasilan sebagai lakilaki, yang memotivasinya mengatasi trauma mengendarai motor untuk menjadi pengemudi ojek online. Pembahasan Temuan penelitian ini mendukung teori tahapan self acceptance Germer . dan sejalan dengan penelitian Zaelani et al. yang menemukan bahwa penyandang disabilitas melewati tahapan dari penolakan hingga penerimaan diri. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya dukungan sosial dalam proses penerimaan diri, sebagaimana ditemukan (Putra & Novitasari, 2. Karakteristik individu dewasa awal yang lebih mampu berpikir logis dan menyesuaikan diri dengan realita (Santrock, 2. tampak membantu partisipan dalam proses adaptasi. Sikap toleransi yang tinggi dan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik pada usia dewasa awal (Perry, 1970 dalam Santrock . berkontribusi pada keberhasilan partisipan mencapai self acceptance. Kesimpulan Proses self acceptance pada penyandang disabilitas fisik dewasa awal akibat kecelakaan serius berlangsung melalui lima tahapan yang mendukung teori Germer: respon emosional awal, rasa ingin tahu, toleransi, membiarkan ketidaknyamanan hadir, dan penerimaan diri. Setiap individu memiliki rentang waktu berbeda . bulan hingga 2 tahu. dalam mencapai penerimaan diri. Tantangan yang dihadapi meliputi aspek psikologis . ehilangan kepercayaan diri, traum. , sosial . iskriminasi, pandangan negati. , dan ekonomi . ekanan memiliki Faktor pendukung penerimaan diri meliputi rasa ikhlas, pendekatan spiritual, dukungan sosial, dan fokus pada pengembangan potensi. Penelitian ini memberikan wawasan bagi penyandang disabilitas bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya dan kehidupan dapat dijalani secara produktif dan bermakna. Masyarakat diharapkan dapat meningkatkan dukungan dan empati untuk membantu proses penerimaan diri penyandang disabilitas. Referensi