Determinasi dan penerapan Rock Mass Rating untuk penilaian stabilitas lereng andesit di Seloharjo. Bantul. Arie Noor Rakhman O1 Universitas AKPRIND Indonesia Yogyakarta Jl. Kalisahak No. Kompleks Balapan. Yogyakarta 55222 arie_rakhman@akprind. Abstrak Ketidakstabilan lereng merupakan masalah penting bagi lingkungan sekitarnya, sehingga penyelidikan yang cermat dan teliti terhadap stabilitas lereng menjadi sangat penting. Lokasi penelitian berada di Seloharjo. Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak gempa tahun 2006 dengan kekuatan 5,9 pada Skala Richter, serangkaian gempa dengan kekuatan yang lebih rendah terus terjadi. Getaran gempa di wilayah tersebut memiliki potensi untuk memicu ketidakstabilan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik stabilitas lereng batuan dengan menerapkan metode Rock Mass Rating (RMR). Objek penelitian merupakan lereng batuan yang disusun lava andesit Nglanggran. Penelitian menggunakan parameter dalam RMR versi 1979 yang disertai dengan analisis kinematika berikut data kondisi orientasi kekar dan lereng batuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan lereng cenderung stabil. Namun demikian teridentiAkasi bahwa longsoran jenis baji paling berpotensi terjadi dengan arah longsoran ke arah barat daya. N292AE - N322AE. Kehadiran zona sesar sebagai pemicu gempa di sekitar Kali Opak menimbulkan perlunya meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap lereng yang memiliki nilai RMR terendah, mencapai 50, serta menunjukkan kualitas massa batuan yang rendah. Kualitas tersebut dapat diidentiAkasi melalui penilaian Rock Quality Designation (RQD) dengan nilai 43,37% di area penelitian. Kata Kunci ketidakstabilan, lereng. RMR, kinematika. RQD Digital Object IdentiAer 10. 36802/jnanaloka. v3-no2-21-29 Pendahuluan Ketidakstabilan lereng di jalur penghubung Parangtritis dan Imogiri terutama disebabkan oleh getaran gempa, terutama di sekitar Kali Opak yang diduga dipicu oleh aktivitas neo-tektonik melalui pergerakan Sesar Opak . Ae. Sejak gempa besar berkekuatan 5,9 Skala Richter pada tahun 2006, masih terjadi beberapa gempa dengan kekuatan lebih kecil hingga saat ini . , . Ae. meningkatkan potensi longsor pada lereng batuan yang tampaknya stabil saat ini. Stabilitas lereng batuan di Seloharjo memiliki peran penting dalam mendukung kawasan wisata Parangtritis, yang di bagian utara terdapat obyek wisata gua bersejarah seperti Goa Surocolo atau Goa Sunan Mas, peninggalan Mataram Hindu abad ke-10 dan Mataram Islam abad ke-17, serta Goa Jepang yang menjadi bagian sejarah masa penjajahan Jepang pada tahun 1940 an . Meskipun sebelumnya telah dilakukan analisis stabilitas lereng di Seloharjo. Parangtritis, dan sekitarnya dengan menggunakan sistem klasiAkasi massa batuan seperti Rock Mass Corresponding author. A Arie Noor Rakhman. licensed under Creative Commons License CC-BY Jurnal Open Access Yayasan Lentera Dua Indonesia Determinasi dan penerapan Rock Mass Rating untuk penilaian stabilitas lereng andesit Rating (RMR) . Slope Mass Rating . Rock Quality Designation (RQD) . , penilaian RMR versi 1979 yang dilengkapi dengan analisis kinematika bersama parameter lainnya seperti orientasi bidang diskontinuitas dan orientasi lereng belum pernah dilakukan untuk penilaian stabilitas lereng yang lebih akurat. Menurut Bieniawski, metode RMR masih memerlukan penyempurnaan, khususnya dalam parameter yang berkaitan dengan orientasi bidang diskontinuitas dan orientasi lereng. Meskipun perhatian terhadap hal tersebut telah dimasukkan sebagai parameter ke-6 dalam RMR versi 1989 untuk penilaian stabilitas lereng batuan. Bieniawski merekomendasikan penggunaan RMR versi 1979 yang telah dimodiAkasi oleh Romana . , . Dalam penelitian ini. RMR versi 1979 dideterminasi bersama dengan analisis kinematika guna mendapatkan hasil penilaian stabilitas lereng batuan yang lebih akurat. Pendekatan ini sejalan dengan saran Bieniawski untuk lebih memperhatikan pengaruh orientasi bidang kekar dan lereng batuan, sebagaimana diimplementasikan dalam sistem Slope Mass Rating (SMR) sebagai modiAkasi dari RMR . , . Metode RMR versi 1979 dapat dipahami dari referensi RMR yang dikemukakan Bieniawski tahun 1989 atau dapat juga dilihat dari SMR yang dikembangkan oleh Romana . Ae. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentiAkasi faktor-faktor yang memengaruhi stabilitas lereng batuan, dengan fokus pada aplikasi metode Rock Mass Rating (RMR). Tujuannya adalah untuk menganalisis berbagai parameter yang digunakan dalam metode RMR guna mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi stabilitas lereng. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting dalam pemahaman dan penanganan potensi risiko keruntuhan lereng batuan di daerah yang diteliti. Metodologi Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif. Data yang diperoleh berupa angka hasil uji dan pembobotan, yang kemudian diinterpretasikan dalam bentuk deskripsi. Desain data menggabungkan data empiris yang dihasilkan dari pengamatan lapangan dan pengujian di laboratorium. Data lapangan mencakup parameter seperti intensitas kekar, jarak antar kekar, kondisi kekar . emenerusan kekasaran/pelapukan permukaan dinding diskontinuitas/lebar bukaan diskontinuitas/material isian bukaan diskontinuita. , dan kondisi keairan . ir tanah/aliran ali. Sementara itu, data kekuatan batuan diperoleh dari hasil uji kuat tekan di laboratorium. Penilaian data ini digunakan sebagai parameter dalam sistem klasiAkasi massa batuan, mengacu pada RMR versi dasar yang dikembangkan oleh Bieniawski pada tahun 1979 . Dalam penelitian ini, penerapan RMR versi tersebut diperkuat dengan analisis kinematika lereng batuan, mengikuti teori yang diperkenalkan oleh Wyllie & Mah pada tahun 2004 . Nilai sudut gesek dalam () dari RMR memainkan peran sentral dalam proses identiAkasi potensi keruntuhan pada batuan atau struktur geometris tertentu . Nilai sudut gesek dalam () dalam analisis kinematika ditekankan, seiring dengan parameter lainnya seperti orientasi bidang diskontinuitas dan orientasi lereng yang diproyeksikan melalui pendekatan analisis stereograAs . , . Hasil dan pembahasan Lokasi penelitian berada di daerah Seloharjo. Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara astronomis. Daerah ini berada pada posisi 7A59Ao00Ay - 8AAo00. 00Ay lintang selatan (LS) dan 110A19Ao00Ay - 110A20Ao00Ay bujur timur (BT) . Lokasi ini dapat dicapai melalui Arie Noor Rakhman. jalan Yogyakarta - Parangtritis, sejauh 22 km ke arah selatan dari Kota Yogyakarta. Tujuh lokasi lereng batuan yang diteliti dengan kode lokasi dan posisi koordinat lokasi: IM-1 . A59Ao19,38 LS dan 110A19Ao18,84" BT). IM-2 . A59Ao20,23 LS dan 110A19Ao19,32Ay BT). IM-3 . A59Ao20,88Ay LS dan 110A19Ao19,09Ay BT). IM-4 . A59Ao19,23Ay LS dan 110A19Ao20,58Ay BT). IM-5 . A59Ao20,28Ay LS dan 110A19Ao22,03Ay BT). IM-6 . A59Ao25,08Ay LS dan 110A19Ao16,83Ay BT), serta LM-7 . A59Ao24,04Ay LS dan 110A19Ao18,08Ay BT). Batuan penyusun lereng merupakan batuan beku, berupa lava andesit. Dalam peta geologi regional Lembar Yogyakarta, batuan beku di daerah tersebut merupakan bagian dari Formasi Nglanggran . Menurut sistem penamaan satuan batuan yang diusulkan oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) . , satuan batuan tersebut mempunyai nama satuan batuan lava andesit Nglanggran. Peta sebaran batuan tersebut disajikan pada gambar 1, dimana lokasi penelitian ditunjukkan pada kotak merah. Gambar peta tersebut merupakan modiAkasi dari peta geologi regional Lembar Yogyakarta . Gambar 1 Peta geologi daerah penelitian . Secara umum, lereng batuan terdiri dari massa batuan andesit menunjukkan karakteristik kekar sebagai berikut: keberadaan dua set kekar. jarak antar kekar berkisar antara 4 hingga 18 cm. permukaan bidang kekar berkisar dari halus hingga sedikit kasar. celah kekar dominan memiliki lebar kurang dari 1 mm dan bersifat lapuk. Pada massa batuan . ereng IM-. dengan celah kekar berukuran 1 5 mm, terdapat dinding rekahan yang bergelombang dengan permukaan yang licin, diisi oleh material lempung lunak, dan sedikit air ditemukan di dalam celah. Sementara itu, massa batuan . ada lereng IM-3. IM-4, dan IM-. memiliki celah kekar kurang dari 1 mm dan bersifat lapuk, umumnya menunjukkan dinding rekahan yang bergelombang halus, dengan permukaan yang terkondisi lembab oleh material lempung dan pasir, serta sedikit air di dalam celah kekar. Adapun massa batuan . ada lereng IM-2. IM-6, dan IM-. memiliki celah kekar kurang dari 1 mm dan sedikit lapuk, umumnya menampilkan permukaan bidang kekar yang kasar dan sedikit lapuk, ditutupi oleh material yang tidak lunak dan berpasir, dengan kondisi keairan di celah kekar yang cenderung kering. Massa batuan ini memiliki nilai RQD yang bervariasi antara 43,37 hingga 87,81%. Dengan menggunakan pendekatan data empiris yang diperoleh dari lapangan, kondisi lereng diuraikan melalui model Rock Mass Rating . , . , sehingga melibatkan penilaian lima pa- Determinasi dan penerapan Rock Mass Rating untuk penilaian stabilitas lereng andesit rameter (R1. R2. R3. R4 dan R. dalam RMR dasar tahun 1979 sebagaimana dijelaskan oleh Bieniawski . Nilai dan hasil penilaian dari parameter sifat mekanika dan Asik batuan pada RMR . erikut bobot nilainy. dapat dilihatkan dalam Tabel 1 berikut. Tabel 1 Determinasi RMR dari tujuh lereng batuan. Parameter IM-1 18,71 55,78 6-13 IM-2 56,89 84,42 6-16 IM-3 36,28 43,37 4-13 IM-4 29,43 52,49 6-13 IM-5 31,39 55,78 7-14 IM-6 35,32 59,18 7-12 IM-7 61,69 87,81 9-18 Permukaan bidang kekar halus, kekar menerus, renggang 1-5 mm, lapuk . Permukaan bidang kekar sedikit kasar, renggang kurang dari 1 mm, sedikit lapuk . Permukaan bidang kekar sedikit kasar, renggang kurang dari 1 mm, lapuk . Permukaan bidang kekar sedikit kasar, renggang kurang dari 1 mm, lapuk . Permukaan bidang kekar sedikit kasar, renggang kurang dari 1 mm, lapuk . Permukaan bidang kekar sedikit kasar, renggang kurang dari 1 mm, sedikit lapuk . Permukaan bidang kekar sedikit kasar, renggang kurang dari 1 mm, sedikit lapuk . Nilai Kelas RMR Deskripsi Lembab 43 i(Sedan. Lembab 67 II (Bai. Lembab 50 i(Sedan. Lembab 55 i(Sedan. Kering . i(Sedan. Kering . II (Bai. Kering . II (Bai. Pada tabel tersebut, notasi R1 merujuk pada kekuatan batuan yang diukur dalam satuan MPa. R2 mencerminkan nilai RQD sebagai persentase sifat kemasifan batuan. R3 merupakan jarak antar kekar yang diukur dalam satuan sentimeter. R4 mengindikasikan kondisi diskontinuitas batuan, khususnya kekar. R5 menunjukkan kondisi keairan, mencakup air tanah dan permukaan. Kelas RMR dan deskripsinya diperoleh melalui penjumlahan nilai-nilai parameter tersebut. Setiap kelas RMR memiliki batas estimasi untuk nilai sudut gesek dalam (), dimana nilai terendah dianggap sebagai indikator potensi stabilitas lereng . , . Persentase potensi longsoran dapat dihasilkan melalui analisis kinematika yang mempertimbangkan posisi diskontinuitas dan kemiringan lereng batuan . Posisi kemiringan diskontinuitas dan lereng batuan beserta nilai sudut gesek dalamnya digunakan untuk menganalisis stabilitas lereng. Selain data kemiringan, informasi mengenai orientasi diskontinuitas dan lereng juga diperlukan untuk mendukung interpretasi hasil analisis tersebut. Pemilihan jenis longsoran dilakukan berdasarkan probabilitas terbesar terjadinya longsoran, yang ditentukan berdasarkan persentase longsoran tertinggi . Data mengenai diskontinuitas dan lereng yang digunakan dalam analisis kinematika dapat dilihatkan dalam Gambar 2 dan Tabel 2. Dalam tabel 2 tersebut, simbol f mengindikasikan besar sudut kemiringan lereng dalam satuan derajat. i mewakili sudut dari kemiringan garis perpotongan dua bidang diskontinuitas, juga dalam satuan derajat. sementara simbol mencerminkan nilai sudut gesek dalam batuan . inyatakan dalam deraja. Arie Noor Rakhman. Gambar 2 GraAs proyeksi stereograAs dari orientasi diskontinuitas dan lereng batuan. Tabel 2 Data diskontinuitas dan lereng dalam analisis kinematika Lereng (A) i (A) Kelas RMR (A) IM-1 IM-2 IM-3 IM-4 IM-5 IM-6 IM-7 i i i i 3,19 18,18 4,41 2,44 13,16 14,44 23,28 45,31 23,08 44,92 46,76 43,79 23,93 33,56 9,09 1,35 3,95 14,44 12,07 9,34 4,43 3,38 6,46 5,21 5,05 Arah (NAE) Arah lereng (NAE) Berdasarkan penentuan arah umum orientasi diskontinuitas dan lereng batuan serta hasil analisis kinematika, dapat disimpulkan bahwa lereng batuan memiliki potensi keruntuhan lereng dalam bentuk longsoran bidang . yang dinotasikan sebagai P, longsoran baji . yang dinotasikan sebagai W, longsoran guling lembaran (Cexural topplin. yang dinotasikan sebagai FT, dan longsoran guling langsung . irect topplin. yang dinotasikan sebagai DT . , . Berdasarkan ringkasan analisis potensi keruntuhan lereng, dapat diidentiAkasi bahwa potensi longsor baji memiliki tingkat kecenderungan yang paling tinggi, yakni berkisar an- Determinasi dan penerapan Rock Mass Rating untuk penilaian stabilitas lereng andesit tara 23,08 hingga 46,76%, yang melebihi tingkat potensi longsor bidang . ,28%). Cexural toppling . ,44%), dan direct toppling . ,34%). Adanya kecenderungan instabilitas lereng terutama terlihat pada lereng IM-3 dan IM-4 . ihat Tabel . , di mana hasil pengamatan menunjukkan bahwa nilai kemiringan lereng . lebih tinggi daripada kemiringan diskontinuitas blok batuan longsor . lunge, garis perpotongan 2 diskontinuita. Selain itu, nilai i melebihi nilai sudut gesek dalam (), atau dapat dirangkum sebagai f > i > . , . Keruntuhan lereng batuan yang terjadi merupakan hasil analisis kinematika berdasarkan data kemiringan dan orientasi dari lereng serta batuan. Data mengenai orientasi kekar dan kemiringan lereng dijadikan sebagai dasar untuk analisis kinematika, dengan tujuan untuk menginterpretasi pergerakan blok batuan. Hal ini memberikan wawasan tambahan terhadap kondisi stabilitas dan potensi risiko keruntuhan. Informasi yang disajikan dalam analisis ini mengindikasikan arah dan kemiringan lereng, yang secara keseluruhan mendukung stabilitas lereng batuan dan menunjukkan kecenderungan pembentukan longsoran baji. Longsoran baji, sebagai bentuk keruntuhan tertentu, terjadi ketika dua atau lebih bidang diskontinuitas saling berpotongan, membentuk blok longsoran yang berbentuk tetrahedron. Blok tersebut dapat tergelincir keluar apabila sudut kemiringan garis persimpangan melebihi sudut gesek dalam sepanjang diskontinuitas tersebut . , . Keadaan ini diperkuat oleh arah kemiringan longsoran dan lereng yang searah. N292oE dan N300oE . ereng IM-. dan N322oE dan N318oE . ereng IM-. ihat Tabel . Dengan demikian, lereng IM-3 dan IM-4 menunjukkan kecenderungan dalam kondisi tidak stabil dan memiliki potensi risiko keruntuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lereng batuan lainnya. Dengan mempertimbangkan nilai sudut gesek dalam terendah dari kelas RMR, tampak bahwa potensi longsoran baji pada lereng IM-4 yaitu 46,76%, lebih signiAkan dibandingkan dengan lereng IM-3, 44,92%. Potensi longsoran ini dapat diatributkan pada kemiringan lereng yang lebih curam pada lereng IM-4 sebesar 78o dibandingkan dengan lereng IM-3 dengan kemiringan sebesar 76o. Meskipun demikian, nilai RMR yang lebih tinggi pada lereng IM-4, yaitu 55, sejalan dengan nilai RQD yang lebih tinggi, sebesar 52,49%, menunjukkan bahwa ketidakstabilan lereng IM-3 dengan nilai RMR 50 perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Dalam konteks ini, pengaruh signiAkan dari nilai RQD pada lereng IM-3 sebesar 43,37%, yang lebih rendah daripada lereng IM-4 menjadi faktor yang perlu diperhitungkan . , . Dalam skenario longsoran baji, blok batuan berbentuk segitiga yang terperangkap di antara diskontinuitas yang bersilangan, dan apabila gaya yang bekerja pada blok tersebut melampaui kekuatan gesekan internal, blok tersebut mungkin mengalami pergerakan keluar . , . Berdasarkan nilai RQD, dapat disimpulkan bahwa massa batuan pada lereng IM-3 dapat dikategorikan sebagai massa batuan dengan kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan massa batuan pada lereng IM-4. Untuk melihat lebih lanjut morfologi perbukitan dan kondisi lereng batuan dapat dirujuk pada Gambar 3 yang disajikan pada ilustrasi Kesimpulan dan saran Berdasarkan analisis yang telah dibahas, sejumlah kesimpulan dapat diperoleh. Pertama, melalui penilaian RMR, dapat disimpulkan bahwa ketujuh lereng batuan di daerah penelitian memiliki stabilitas yang berkisar antara baik hingga menengah. Kedua, perlu diperhatikan bahwa RMR versi 1979 tidak memasukkan parameter orientasi kekar dan lereng dalam penilaiannya, oleh karena itu, interpretasi stabilitas lereng dapat dilakukan melalui analisis Arie Noor Rakhman. Gambar 3 Morfologi perbukitan . enghadap ke selata. dan lereng batuan di IM-1. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng batuan memiliki kecenderungan potensi longsoran baji berkisar antara 23,08 hingga 46,76%, dengan arah longsoran ke barat daya. N292AE - N322AE. Oleh karena itu, dianjurkan untuk lebih memperhatikan potensi resiko keruntuhan pada lereng batuan IM-3 dan IM-4. Ketiga, meskipun saat ini semua lereng berada dalam kondisi stabil, perlu kewaspadaan bahwa lereng dengan nilai parameter RQD terendah . ,37%), seperti yang teridentiAkasi pada lereng IM-3, memerlukan perhatian lebih lanjut. Nilai parameter ini mencerminkan intensitas kekar yang tinggi pada lereng tersebut, yang mengindikasikan bahwa massa batuan di lereng tersebut memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan lereng lainnya. Oleh karena itu, lereng ini memerlukan perhatian khusus untuk penanganan dan pemantauan lebih lanjut. Pustaka