Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 RITUAL AGAMA ISLAM DI INDONESIA DALAM BINGKAI BUDAYA 1 Fatikhul Amin Abdullah2 Universitas Indonesia f4tih85@yahoo. ABSTRAK Studi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya tumpang tindihnya berbagai ritual agama dengan budaya yang berakibat munculnya tindakan saling menyalahkan, membidAoahkan, bahkan saling mengkafirkan antara muslim satu dengan muslim lainnya. hal ini lebih karena perbedaan pandangan dan keinginan dalam melaksanakan berbagai ritual keagamaan Islam yang ada di Indonesia. Di sisi lain berupaya melestarikan budaya dengan melakukan islamisasi budaya disisi lain ingin melakukan Islam secara utuh. Focus kajian pada studi ini bertujuan untuk mencari benang merah antara ritual keagamaan dan pelestarian budaya agar terjadi akomodasi antara keduanya tanpa saling bertentangan sehingga mewujudkan kehidupan beragama yang toleran dengan kebudayaan atau tradisi sekitar. Adapun hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pelaksanaan Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di luar Indonesia. Islam di Indonesia kaya akan ritual-ritual keagamaan yang bersifat budaya/tradisi sebagai perkawinan antara ajaran agama dengan budaya setempat. Tumpang tindih antara agama dan budaya akan selalu terjadi sebagai proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang. Kekayaan variasi budaya akan memungkinkan adanya penyatuan berbagai kelompok atas dasar persamaan, baik agama maupun budaya sebagai fithrah rasional manusia dalam mewujudkan kedamaian sebagai bentuk akomodasi antar keduanya secara alami dan bukan karena terpaksa. Dengan demikian, agama merupakan pedoman yang dijadikan kerangka interpretasi tindakan manusia Melalui ritual inilah AoduniaAo sebagaimana dibanyangkan . s imagine. dan AoduniaAo sebagai yang dialami . s live. dipadukan melalui perbuatan-perbuatan dalam bentuk Adapun beberapa contoh ritual keagamaan yang berbau budaya antara lain slametan, upacara daur hidup . ingkeban, tedak siten, kematia. , upacara tahunan . urohan, muludan, nishfu syaAoba. Kata kunci: Agama. Budaya. Ritual. Tradisi. Akomodasi. Makalah ini disampaikan dalam National Conference And Call For Paper AuASDANU Sebagai Jembatan Aswaja Kita SemuaAy pada hari Kamis 12 Juli 2018 di Universitas KH. Wahab Hasbullah Tambak Beras. Jombang. Penulis merupakan Mahasiswa Program Doktor (S. Ilmu Sejarah. FIB. Universitas Indonesia. Menjadi dosen di Prodi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sidoarjo dan mengajar di MaAohad Aly Al Fithrah Surabaya Tahassus Tasawuf dan Thariqat. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 Agama dan Budaya Agama Islam yang berasal dari wahyu bersifat normatif dan cenderung permanen, sedangkan budaya merupakan hasil cipta karya manusia sehingga cenderung berubah dan berkembang sesuai perkembangan zaman. Walaupun begitu perbedaan ini tidak menghalangi adanya pelaksanaan kehidupan beragama dalam bentuk budaya. 3 Pelaksanaan Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di luar Indonesia. Islam di Indonesia kaya akan ritual-ritual keagamaan yang bersifat budaya/tradisi sebagai perkawinan antara ajaran agama dengan budaya setempat. Hal ini senada dengan pendapat Geertz agama merupakan bagian dari system kebudayaan. Menurut Geertz agama sebagai pola untuk melakukan tindakan . attern for behavio. , dan menjadi sesuatu yang hidup dalam diri manusia yang mewujud dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, agama merupakan pedoman yang dijadikan kerangka interpretasi tindakan manusia. 4 Sebelum Islam datang ke Indonesia telah lebih dulu agama Hindu. Budha, selain itu juga telah banyak berkembang agama lokal sebagai kepercayaan Asli Indonesia dengan segala ritual dan tradisi keagamaan. Geertz melihat sistem simbol keagamaan dapat dielaborasikan melalui berbagai cara. Salah satu cara yang umum dipakai kebanyakan agama adalah melalui ritual. Melalui ritual inilah AoduniaAo sebagaimana dibanyangkan . s imagine. dan AoduniaAo sebagai yang dialami . s live. dipadukan melalui perbuatan-perbuatan dalam bentuk simbol5 Agama orang jawa bukanlah pemujaan leluhur. Namun, lebih berintikan pada prinsip utama yang dinamakan sangkan paraning dumadi . ari mana manusia berasal, apa dan siapa dia pada masa kini, dan ke mana arah tujuan hidup yang dijalani dan ditujuny. Sebelum masuknya ajaran Hindu Budha ke Jawa, telah terdapat kepercayaan yang mengakar kuat dalam masyarakatnya. Pada umumnya kepercayaan itu dipahami sebagai animisme dan Animisme-dinamisme inilah yang sebenarnya sering dianggap sebagai akar dan spiritualitas masyarakat di Jawa dengan ajaran kapitayan yang tidak menyembah benda sebagai kekuatan mutlak, namun lebih pada penyembahan Sang Hyang, kekuatan tertinggi. Yang biasa disebut Sang Hyang Widhi/Widya. umber cahaya/ sumber pengetahua. atau Achintya . ang tidak dapat dipikirka. atau sang Hyang Tunggal . ang maha es. Oleh sebab itu, sampai sekarang orang jawa menyebut sholat dengan istilah Sembah Hyang yang kemudian mejadi sembahyang. Tumpang tindih antara agama dan budaya akan selalu terjadi sebagai proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang. Kekayaan variasi budaya akan memungkinkan adanya penyatuan berbagai kelompok atas dasar persamaan, baik agama maupun budaya sebagai fithrah rasional manusia dalam mewujudkan kedamaian sebagai bentuk akomodasi antar keduanya secara alami dan bukan karena terpaksa. Seperti bentuk Masjid Demak sebagai contoh kongkret dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu yang mana atap berlapis pada masjid berasal dari konsep AomeruAo dari masa pra-Islam (Hindu-Budh. yang berjumlah Sembilan dan dipotong oleh para wali menjadi tiga saja sebagai lambang keberagamaan seorang muslim. Iman. Islam. Ihsan7. Bentuk Masjid Kudus dengan bentuk dan ornamen Hindhu, lakon pewayangan yang telah disesuaikan dengan ajaran Islam dan budaya lokal seperti lakon puno kawan . emar, bagong, petruk, dan garen. dan lakon jimat kalimo sodo dll. inilah yang diistilahkan pribumisasi Islam. Abdurrahman Wahid. Pemikiran Awal: Pribumisasi Islam dalam Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman. (Jakarta: LP MaAoarif NU. Hlm. Sutiyono. Benturan Budaya Islam: Puritan dan Sinkretis. (Jakarta: Kompas. Hlm. Clifford Geertz. The Interpretation of Culture (New York: Basic Book. Hlm. Sayfa Aulia Achidsti. Kiai dan Pembangunan Institusi Sosial. (Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Hlm. Abdurrahman Wahid. Op Cit. Hlm. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 Pribumisasi bukanlah upaya menghindari timbulnya perlawanan dari kekuatankekuatan budaya setempat, akan tetapi justru agar budaya ini tidak hilang yang intinya adalah kebutuhan bukan untuk menghindari polarisasi antara agama dan budaya. Sebagai titik tolak dari upaya rekonsiliasi ini adalah agar wahyu dipahami dengan mempertimbangkan faktor kontekstual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilan. Dalam proses ini pembauran Islam dengan budaya tidak boleh terjadi, sebab berbaur berarti hilangnya sifat asli. Pribumisasi Islam adalah bagian dari sejarah Islam, baik di negeri asal maupun di negeri lain, termasuk Indonesia9 yang jika di hadapkan dengan budaya lokal Indonesia disebut Islamisasi budaya lokal10. kebenaran fiqh bersifat relatif, berbeda dengan kebenaran Al QurAoan dan Sunnah yang kebenarannya mutlak, karena itu fiqh bisa dikritik dan direvisi demi kemaslahatan umat agar bisa diterima semua pihak11 sesuai dengan prinsip AOI O EIAE AI A AuDimanapun terdapat mashlahah maka disitulah hukum Allah adaAy. Hal ini sejalan dengan prinsip AO EI O I IA AuHukum fiqih selalu berubah sejalan dengan perubahan zama. Ay12 Pada kasus ini perlu diluruskan bahwa Islam bukanlah budaya karena Islam bersifat ilahiyah sementara budaya adalah insaniyah. Akan tetapi, berhubung Islam juga dipraktikkan oleh manusia, maka pada satu dimensi ia bersifat insaniyah dan karenanya tidak mengancam eksistensi kebudayaan. 13 Perubahan sosial adalah perkembangan yang tak terelakkan. Namun, hal itu hanya pada tataran bagaimana kebutuhan akan perubahan itu dapat dipenuhi tanpa merusak ikatan-ikatan sosial yang telah ada, melainkan memanfaatkan ikatan-ikatan itu sebagai mekanisme perubahan sosial yang diinginkan. 14 Sebagai contoh selama 13 tahun di Makkah Nabi Muhammad saw beribadah di Masjid Haram yang saat itu masih terdapat 360 berhala dan dibiarkan saja orang pagan beribadah bersama di tempat suci itu. Baru setelah Fathu Makkah . enaklukan kota Makkah tepat 10 Romadhan 8 Hijriya. karena sudah tidak ada lagi yang menyembah berhala maka berhala tersebut baru disingkirkan. Proses Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia Islam yang di bawah oleh Walisongo adalah Islam tasawuf, yang lebih mengutamakan substansi daripada bentuk fisik. Oleh karena itu, perubahan yang diadakan dalam penyebaran agama Islam ini tidak memaksakan perubahan yang drastis, namun perlahan-lahan dan justru cenderung mempertahankan bentuk. Pandangan tasawuf tidak mementingkan bentuk fisik, perubahan-perubahan yang diupayakan oleh Walisongo dalam masyarakat jawa adalah perubahan pemikiran dan keyakinan, bukan pada perubahan adat dan tradisi yang memang tidak diharuskan dalam Islam16. Bukti jika Islam masuk ke Indonesia melalui progam tasawuf adalah banyaknya lembaga thoriqoh yang paling banyak. Di Maroko Ibid. Hlm. Ibid. Hlm. Said Aqil Siroj. Urgensi Kajian Islam Nusantara. Dalam Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman. (Jakarta: LP MaAoarif NU. Hlm. Ibid. Hlm. Ibid. Hlm. Ibid. Hlm. Sayfa Aulia Achidsti. Op. Cit Hlm. Said Aqil Siroj. Op Cit. Hlm. Sayfa Aulia Achidsti. Op Cit. Hlm. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 hanya ada Tijaniyah dan Syadzilitzh, di Mesir hanya ada 14. Sudan dan Irak hanya ada beberapa berbeda dengan Indonesia yang diakui muktabaroh saja ada 45 dan masih banyak yang ghoiru muktabar . idak diaku. bahkan masa tarekat dijadikan untuk lembaga dalam melawan kolonial. Walisongo bukanlah Sembilan orang yang datang ke Nusantara sebagai sebuah kelompok dalam satu masa . Walisongo adalah semacam sebuah dewan ulama, yang pada perkembangannya lebih mirip sebagai sebuah gelar yang menurun dari angkatan pertamanya kepada penerusnya untuk menggantikannya menyebarkan Islam pada saat sudah habis masanya atau sepeninggal AuangkatanAy sebelumnya. 17 Hal ini dibuktikan dalam nisan Maulana Malik Ibrahim berangka tahun wafat 1419 M. Sunan Ampel wafat 1485. Sunan Giri wafat 1506. Sunan Drajat wafat 1520. Sunan Bonang wafat 1525, sunan Gunung Jati baru muncul tahun 1527 dan wafat 1570. Secara istilah walisongo berasal dari kata Wali dan sanga. Waliyullah memiliki makna kekasih Allah/ sahabat/ wakil Allah. Atau orang yang sangat cinta dan dicintai Allah yang mempunyai pengetahuan agama sangat dalam serta sanggup mengorbankan jiwa untuk kepentingan Islam19. Adapun kata Songo terdapat pendapat berasal dari kata sana . atau Asana . yakni tempat duduk patung dewa. Sehingga penyebutan wali tersebut disesuaikan dengan tempat di mana di berkedudukan seperti Sunan Ampel (Ampyal/bambu kunin. Sunan Giri. Sunan Kudus. Sunan Muria. Sunan Gresik dll. Atau sanga dalam jawa kuno berarti Sembilan. Sembilan dalam konteks ini bukan jumlah Sembilan melainkan angka Sembilan merupakan angka tertinggi yang juga memiliki keabadian . asil perkalian dengan angka berapapun berapapun angkanya setelah dijumlah tetap pada angka Dan angka Sembilan merupakan angka paling besar gasal yang dalam konsep Hindhu selalu menggunakan istilah gasal seperti Trimurti. Panca ri Majapahit. Sapta Papati. Atau sanga yang pada zaman pra Islam merupakan organisasi para ulama . hiksu-bhiksun. Budhis disebut Sangha. Kemungkinan para wali dianggap penerus mereka yang juga berkumpul dalam satu wadah/ikatan agama. Sehingga dalam babad Tanah Jawi ada sebutan Pandhita Ampel. Pandhita Giri. 21 Artinya walisongo merupakan perkumpulan para wali atau kumpulan para Bhiksu Budha22. Adapun sebutan untuk sunan dalam bahasa jawa kuno berasal dari kata suhun artinya yang dijunjung, mendapat awalah su akhiran an . u-suhun-a. menjadi sunan atau artinya dijunjung atau junjungan. 23 dalam mengembangkan ajaran Islam tidak ceramah di atas penggung seperti sekarang tetapi melalui kumpulan-kumpulan kelompok terbatas kemudian bertambah banyak yang bertempat di rumah-rumah, madrasah, dan pondok, yang sebelumnya sudah ada Mandala-mandala dalam pendidikan Hindu di Jawa . bad V-XVI) dari mandala menjadi pesantren tempat para santri dan mahasiswa dalam pengajaran agama. Antara santri dan kyai berkumpul hidup bersama dalam satu komplek pesantren. Santri dari kata Sastri yaitu siswa yang mempelajari kitab castra/kitab agama secara khusus. Sedangkan Pesantren dari sastri mendapat imbuhan pe-sastri-an jadilah pesastrian yang oleh lidah Jawa menjadi pesantren atau tempat santri/sastri yang mempelajari kitab agama secara khusus. 24 Istilah lain seperti pangeran, yang berasal dari kata ngenger berarti bergantung yang menjadat imbuhan Ibid. Hlm. Aminuddin Kasdi. Kepurbakalaan Sunan Giri. (Unesa University Press. Surabaya: 2. Hlm. Ibid Hlm. Ibid Hlm. Ibid Hlm. Ibid Hlm. Ibid Hlm. Ibid Hlm. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 pa-ngenger-an menjadi pangengeran yang kemudian menjadi pangeran bermakna tempat bergantung (Asshoma. Dalam berdakwah walisongo menggunakan media tradisi lokal yang telah ada sebelum Islam yang kemudian tradisi tersebut di-Islamkan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Hal ini sesuai dengan qoidah ushul fiqh AEIA EO ECOI EAE O EO AEA AuMelestarikan budaya/ sesuatu yang lama yang masih relevan dan mengambil sesuatu terobosan baru/langkah inovatif . ang lebih bai. Ay Seperti Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sonan Bonan. menggunakan media kesenian music Bonang yang juga dikenal sebagai penggubah Ausuluk Wijil dan nyanyian Tombo AtiAy. Sunan kalijogo dengan pewayangan cerita Jimat Kalimasada sebagai senjata pamungkat Yudistira yang sebenarnya penjabaran dari Aukalimat syahadatAy, dan lakon pandawa Janoko (Aslinya Arjun. yang selalu dikawal punokawan Semar. Nolo Gareng. Petruk, dan Bagong . ang tidak ada dalam versi asli Mahabarat. yang berasal dari kata Auidza jiAonaka (Janok. , fasammir . enjadi sema. , nala khairon . enjadi nolo garen. , fatrukil . enjadi petru. , bagha . enjadi Bagon. , yang terjemahan bebas Auapabila kami dating kepadamu maka bergegaslah menuju kebaikan dan tinggalkanlah keburukanAy 26. Sunan Giri sebagai penemu wayang gedog dengan kisah panji. Sunan kudus sebagai penemu wayang golek. Yang menampilkan cerita menak. Islam menempatkan adat atau tradisi pada tempat yang semestinya yaitu dengan memberikan apresiasi yang tinggi sesuai qoidah ushul fiqh antara lain : A E IEIAdan AAE AO E u I INO IN EA AuAdat kebiasaan adalah hukum yang berlakuAy dan Auyang ashal di dalam adat itu adalah boleh kecuali apa yang diharamkan oleh syaraAy. Juga dalam hadits Nabi SAW AAI O EIEIOI I ANO I I OI O O ANO I OA AuMaka apa saja yang dilihat oleh orang-orang Islam sebagai sesuatu yang baik maka hal itu di sisi Allah juga baik, maka apa saja yang dilihat oleh orang-orang Islam sebagai sesuatu yang buruk maka hal itu di sisi Allah juga burukAy (HR Immam Ahmad Bin Hamba. Hukum asal dalam masalah adat adalah dimaafkan . Maka, tidak boleh dilarang kecuali yang diharamkan Allah. Imam Syathibi juga menjelaskan dalam kajian yang panjang dalam Al-IAotisham (II/73-. yang pada bagian akhirnya disebutkan. AuSesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan adat jika dilihat dari sisi adatnya, maka tidak ada bidAoah di dalamnya. Tetapi jika adat dijadikan sebagai ibadah atau diletakkan pada tempat ibadah maka ia menjadi bidAoahAy. Dengan demikian maka Autidak setiap yang belum ada pada masa Nabi Shallallahu Aoalaihi wa sallam dan juga belum ada pada masa Khulafa Rasyidin dinamakan bidAoah. Sebab setiap ilmu yang baru dan bermanfaat bagi manusia wajib dipelajari oleh sebagian kaum muslimin agar menjadi kekuatan mereka dan dapat meningkatkan eksistensi umat Islam. Sesungguhnya bidAoah adalah sesuatu yang baru dibuat oleh manusia dalam bentuk-bentuk ibadah saja. Sedangkan yang bukan dalam masalah ibadah dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syariAoat maka bukan bidAoah sama sekaliAy Ibid Hlm. Arifin Junaidi. Islam Nusantara adalah Kita. Dalam Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman. (Jakarta: LP MaAoarif NU. Hlm. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 Bentuk-bentuk Ritual Islam yang dibingkai Budaya Indonesia Selametan atau Kewilujengan Upacara selamatan ditujukan untuk meminta keselamatan bagi seseorang atau salah satu anggota keluarga. Upacara selametan ini mulai ada pada zaman Sunan Bonang yang asalnya merupakan upacara Panca Makara yang dijalankan oleh Hindu Tantrayana para orang kerajaan . ara bangsawa. dengan syarat terdapat Ma-Lima (Lima M), dengan cara duduk melingkar dengan selang seling laki-laki dan perempuan dalam posisi telanjang di mana terdapat Madya . inuman kera. Mamsa . Matsya . , untuk dinikmati, setelah menikmati makanan yang ada mereka melakukan Maithuna . Setelah tanpa nafsu mereka melakukan Mudra/ semadi . ikap tap. Oleh Sunan Bonang, upacara Panca Makara ini diubah substansinya namun tetap pada bentuknya. Yaitu terdapat perkumpulan orang yang duduk melingkar hanya laki-laki, terdapat makanan seadanya sebagai tanda syukur kepada Allah, hal inilah yang biasanya disebut dengan kenduri/kenduren, slametan, syukuran dan mengganti ritual persetubuhan, pertapaan, dan ekstase dengan berdoa pada Allah berupa Tahlilan atau Istighotsah dll. Tahlilan berasal dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan artinya membaca kalimah La illa ha Di masyarakat Jawa sendiri terdapat pemahaman bahwa tahlilan adalah pertemuan yang didalamnya dibacakan kalimat thayyibah. Biasanya dilaksanakan di masjid, mushola, atau rumah. Sedangkan Istighotsah adalah pertmintaan tolong dengan membaca beberapa kalimat thayyibah. Ritual ini pada awalnya di daerah Kediri karena di Kediri sebagai pusat ajaran Hindu Bhirawa Tantra yang kebetulan Sunan Bonang berdakwah pertama kali di Kediri . 5-1525 M). AuMa LimaAy sebagai istilah yang digunakan dalam penyebutan syarat-syarat Panca Makara pun diubah maknanya sebagai lima larangan AumaAy yaitu Madat . inuman kera. Madon . ermain perempua. Maling . Main . , dan Maksiat . erbuatan Upacara Daur Hidup Daur hidup adalah upacara yang terkait dengan upacara-upacara sepanjang lingkaran hidup manusia. A Van Gannep yang pendapatnya dikutip oleh Koentjaraningrat mengemukakan bahwa rangkaian upacara sepanjang lingkaran hidup merupakan bentuk tertua dari semua aktivitas keagamaan dan kebudayaan manusia. Tradisi Jawa mengklasifikasi siklus hidup manusia dalam bentuk tembang Macapat yang terdiri dari Miji (Lahi. Sinom . asa muda masa pertumbuhan dan mencari ilmu sebanyakbanyakny. Asmorodono (Cinta kasi. Dandanggulo . asa dimana mampu membedakan mana gula, mana manis. Karena semua gula pasti manis tapi tidak semua manis itu gul. Durma . asa berbuat baik atau Derm. Pangkur . enyingkirkan hawa nafsu dan angkara murk. Gambuh (Pernikaha. Megatruh (Kematia. Kinanthi. enanti tujuan hidu. Oleh sebab itu, dalam tradisi Jawa selalu akan membuat ritual dalam setiap kali seseorang akan memasuki fase baru agar dalam kehidupannya lancar tanpa halangan mulai dari kandungan sampai meninggal. Macam-macam upacara daur hidup adalah: Tingkeban/Mitoni : Upacara ini dilakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim . Upacara ini biasa disebut Garba Wedana . Wedana : sedang mengandun. Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan/sesaji Telonan. Mitoni. Tingkeban. Intisari dari sesajinya. Sejarah tradisi ini berawal pada masa Prabu Jayabaya, waktu itu ada sepasang suami istri bernama Niken Satingkeb dan Sadiya, mereka melahirkan anak sembilan kali Sayfa Aulia Achidsti. Op Cit. Hlm. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 namun tidak satupun yang hidup. Akhirnya pasangan ini memberanikan diri untuk menghadap Kanjeng Sinuwun Jayabaya (Raja kerajaan Kadiri . 5-1157 M) yang terkenal sakti dan bija. Jayabaya akhirnya menasehati kepada pasangan itu agar melakukan ritual. Namun sebagai syarat pokok, mereka harus rajin manembah secara khusyuAo kepada Gusti Allah, selalu berbuat yang baik dan suka menolong serta welas asih kepada sesama. Selain itu, mereka harus mensucikan diri dengan cara mandi suci dengan air yang berasal dari tujuh sumber. Setiap hari rabu dan sabtu, pukul 17. 00, diminta mandi menggunakan tempurung kelapa . , setelah mandi berganti pakaian yang bersih dengan menggembol kelapa gading yang dihiasi Kamajaya dan Kamaratih/Wisnu dan Dewi Sri yang diikat dengan daun tebu tulak lalu dibrojolkan kebawah, setelah kelapa gading tadi dibrojolkan, lalu diputuskan menggunakan sebilah keris oleh suaminya. Setelah itu Niken Satingkeb dapat hamil dan anaknya hidup. Kemudian berpasrah diri lahir batin dengan dibarengi permohonan kepada Gusti Allah, apa yang menjadi kehendak mereka, terutama untuk kesehatan dan kesejahteraan si bayi. Supaya mendapatkan berkah dari gusti Allah, sebaiknya diadakan sesaji untuk penguat doa dan penolak balaAo. plontang, kembang setaman, dan kelapa muda Setelah melakukan ritual yag dianjurkan oleh Raja Jayabaya, rupanya Gusti kang Mubahing Dumadi yaitu Gusti Allah mengabulkan permintaan mereka. Ternyata Ki Sedya dan Niken Satingkeb mendapatkan momongan yang sehat dan berumur panjang. Untuk mengingat nama Niken Satingkeb, upacara mitoni ini juga disebut tingkeban. Dengan harapan mendapatkan kemudahan dan tidak ada halangan apapun pada saat hamil, melahirkan, hingga anak menjadi dewasa. Akhirnya sejak saat itu apabila ada orang hamil apalagi hamil pertama dilakukan tingkeban atau mitoni. Tradisi ini merupakan langkah permohonan dalam bentuk selamatan. Dalam Islam Acara tingkepan adalah sebuah tradisi apabila hanya melestarikan belaka dengan tidak menyakini bahwa hal itu termasuk sesuatu yag disyariatkan dan dalam pelaksanaan acara tersebut tidak dilakukan sesuatu yang tercela atau bahkan syirik maka hal itu diperbolehkan. AuSesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan adat jika dilihat dari sisi adatnya, maka tidak ada bidAoah di dalamnya. Setiap ilmu yang baru dan bermanfaat bagi manusia wajib dipelajari oleh sebagian kaum muslimin agar menjadi kekuatan mereka dan dapat meningkatkan eksistensi umat Islam. Adapaun pelaksanaan tingkepan dengan hanya mengeluarkkan sedekah kepada para undangan yang didalamnya dibacakan sholawat nabi SAW dan ayat- ayat al QurAoan dengan maksud untuk memohon kepada Allah agar ibu yang mengandung dan anak yang masih dalam kandungan Ibu maka hal itu tidaklah tercela sama sekali karena banyak ayat al QurAoan maupun hadits baik yang tersurat maupun yang tersirat memerintahkan untuk berdoa kepada Allah SWT. Seperti firman Allah AaN aO EaO aEaCa aEI a cII I A n aO aa n aO a a aE aI I aN a O a aN aEOa aEIa uaEa O aN n AaEa I aa A A O aN a aIEa a I UA AAEa EIa aEOI aI aIIa E A aA aE aOIA a Aa aA OA Aa aI a n aN AaEa I e a CaEa A a A aO a a aN aI Eaa I a aOaIaA AuDialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah Dia merasa ringan (Beberapa wakt. kemudian tatkala Dia merasa berat, keduanya . uami-ister. bermohon kepada Allah. Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi Kami anak yang saleh, tentulah Kami termasuk orang-orang yang bersyukur". ( QS. Al AAorof: . Tidak hanya itu dalam upacara ini juga biasanya shohibul hajah membuat rujak yang isinya 7 buah kedondong, mangga mangkal, timun muda, nanas, bengkuang, delima, jeruk bali atau kadang diganti papaya atau jambu kluthuk. Selain itu juga membuat Procot . ama makanan Jaw. agar kalau lahir bisa procat procot (Jaw. / lancar. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 Tedhak Siten/Turun Tanah : Slametan pada saat bayi berumur 35x7 hari atau 245 Hari, atau upacara menyentuh tanah. Upacara Tedhak siten . urun tana. karena ada kepercayaan masyarakat jawa jika tanah itu memiliki makna ghaib dan di jaga Bathara kala. Untuk menghindari sesuatu yang tidak baik maka diadakan upacara mengenalkan putra putrinya kepada Bhatara Kala yang menjaga tanah. Adapun prosesinya adalah bani menapaki jadah 7 warna (Putih: Watak Dasar. Biru: Jati Diri. Hijau: Lambang Kehidupan. Jingga: Matahari. Merah: Semangat. Kuning: Harapan tercapai cita2. Hitam: Keagunga. sebagai gambaran kehidupan yang akan dilalui si anak. Anak menaiki tangga dari tebu, menapaki pasir, anak dimasukkan kurungan, sebar beras kunir, terakhir anak dimandikan dengan bunga setaman. Ritual yang dilakukan oleh orang Islam di Indonesia jika dilihat dari kaca mata agama dianggap sebagai upaya doAoa bil isyaroh yang hal ini telah ada sejak zaman khalifah Umar bin Khattab. Menurut Imam al Hafidz al-Darimi dalam kitabnya al-Sunan bab Ma Akromahullah TaAoala Nabiyyuhu Shallallahu Aoalaihi wa sallam baAoda Mautihi. Saat itu penduduk Madinah mengalami paceklik hebat. Kemudian mereka mengadu kepada Aisyah. AuLihatlah kuburan Nabi saw dan buatlah lubang dari tempat itu menghadap ke atas hingga tidak ada penghalang antara kuburan dan langit,Ay perintah Aisyah. Abu Al JauzaAo berkata. Aulalu mereka melaksanakan perintah Aisyah. Kemudian hujan turun kepada kami hingga rumput tumbuh dan unta gemuk. 28 ini menunjukkan boleh melakukan doa bil Isyarah yang sering dilakukan oleh orang jawa dalam setiap upacaranya seperti upacara pernikahan, upacara tingkeban, tedak siten, dll. Sedekah nelung dina : upacara slametan yang diadakan pada hari ketiga sesudah saat meninggalnya seseorang. Menurut kepercayaan Jawa pada hari ketiga roh orang yang mati masih berada di rumah dan mencari jalan keluar untuk meninggalkan rumah Sedekah mitung dina : upacara slametan yang diadakan pada hari ketujuh setelah meninggalnya seseorang. Menurut kepercayaan jawa pada hari ketujuh roh orang yang meninggal akan keluar dari dari rumah lewat pekarangan dan akan berhenti sejenak di halaman rumah, maka untuk mempermudah perjalanan diadakan mutung dino yang biasanya di adakan di halaman rumah. Sedekah matang puluh dina : upacara slametan yang diadakan pada hari keempatpuluh setelah meninggalnya seseorang. Pada hari keempat puluh roh akan menuju alam kubur maka untuk menghormati dan agar perjalanan roh dipermudah dibuat ritual matang puluh Sedekah nyatus : upacara slametan yang diadakan pada hari keseratus setelah meninggalnya seseorang. Pada hari keseratus orang yang mati akan menyempurnakan semua hal yang bersifat badan wadhag . an akan sering pulang keruma. Sedekah mendhak sepisan dan mendhak pindo : upacara slametan yang diadakan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggalnya seseorang. Ritual ini bertujuan untuk meling-meling/intropeksi dan ingat bagi ahli waris juga akan meninggal dan pada tahun kedua masa kesempurnaan kehancuran jasad yang hanya tinggal tulang. Sedekah nyewu atau nguwis-nguwisi : upacara slametan yang diadakan pada hari keseribu setelah meninggalnya seseorang atau upacara slametan yang terakhir kali. Pada hari keseribu roh orang mati akan meninggalkan keluarga selamanya menghadap tuhan oleh sebab itu biasanya acara nyewu diselenggarakan lebih besar. Adapun untuk ritual bagi orang yang telah meninggal pada hari ke-3,7, 40, 100, mendhak (Hau. , 1000 hari walaupun sebelumnya merupakan kepercayaan adat Sayyid Muhammad AoAlawi Al-Maliki. Mafahim Yajibu an Tushahhaha. (As-Shofwa. Malan. Hlm. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 Hindu/Budha dan Jawa asli namun selama pelaksanaan ritul tersebut tidak bertentangan dengan syariat maka boleh. Terbukti setelah Islam ritual tersebut berupa majlis dzikir, kirim doa untuk si mayit dan pemberian makan bari tamu undangan yang hal itu di syariatkan dalam agama. Adapun menentukan hari-hari tertentu seperti yang telah ada bukanlah hal yang dilarang. Dalam kitab Hujjh al-QothAoiyyah fi shihhati al-MuAotaqidat wa al-AoAmaliyat al-Nahdliyah karya Muhyiddin AoAbdu al Shomad halaman 133-136 dijelaskan bahwa sedekah untuk orang mati sangat bermanfaat bagi si mayit. Dalam kitab tersebut imam as-Suyuti menjelaskan sesungguhnya orang yang mati itu disiksa dalam kuburnya selama tujuh hari, maka orang mati tersebut sangat suka jika dikirim makanan pda hari-hari tersebut. Imam suyuti juga berkata sesungguhnya kesunnahan member makanan selama tujuh hari tersebut telah sampai pada saya dan tetap lestari sampai sekarang di Makkah dan Madinah. Kenyataannya sesungguhnya sunnah tersebut tidak ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang. Hal ini menjadi dalil penetapan dan kebenaran kebiasaan orang Indonesia dalam memperingati hari-hari tersbut dengan tahlil. Dan juga menjamu tamu yang membaca tahlil dan doa dengan makanan seperti perumpamaan hadiah shodaqoh yang pahalanya untuk si mayit. Upacara Tahunan Suronan : Peringatan tahun baru Hijriyah. Surohan pertama kali dirayakan pada masa Sultan Agung sekitar . yang mana kalender jawa sebelumnya menggunakan tahun saka (Hind. kemudian dirubah oleh sultan agung menjadi penanggalan jawa yang disesuaikan dengan tahun Hijriyah sehingga 1 suro menyesuaikan 1 Muharram untuk memperingati itu diadakan acara surohan agar selalu ingat/ eling dan waspada . awas dir. Bagi orang Jawa Suro merupakan malam sakral/suci untuk renungan,tafakkur, dan intropeksi dengan lelalaku/mengendalikan hawa nafsu dengan bertapa. bisu mubeng beten. dengan tirakatan/selametan. Dengan datangnya Islam ke Indonesia acara surohan selain dilakukan pada tanggal 1 suro juga dilaksanakan tanggal 10 suro. Karena kata suro dianggap berasal dari kata asyuro yang artinya sepuluh. Karena pada tanggal 10 Asyuro tersebut dalam ajaran Islam telah terjadi banyak peristiwa sejarah. Sebagian umat Islam merayakan Asyuro untuk menunjukkan prihatin atas terbunuhnya sayyidina Husein di Karbala tapi selain itu banyak kenikmatan yang diterima umat Islam pada hari itu. Maka peringatan Asyuro lebih sebagai wujud rasa syukur atas diterimanya taubat nabi adam dan Hawa. Musa mendapat wahyu di gunung Sinai. Yusuf terbebas dari tuduhan asusila oleh Zulaikha. Idrsi diangkat ke langit. Nuh bebas dari banjir. Ibrahim selamat dari api Namrud. YaAoqub sembuh dari buta. Ayub sembuh dari kusta. Yunus keluar dari perut ikan. Musa membelah lautan dan tentara Firaun tenggelam, serta Sulaiman menjadi raja. Muludan : Upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini oleh orang jawa khususnya solo dan Yogyakarta dinamakan Sekaten sampai sekarang. Sejarah sekaten berasal dari kerajaan Demak masa Raden Patah . 01518 M) yang saat itu sangat sulit mengumpulkan orang Islam untuk diajak menjalankan agama apalagi memperingati hari kelahiran nabi Muhammad. Karena orang Jawa suka keramaian maka raden patah membuat pasar rakyat dalam rangka memperingatihari kelahiran nabi Muhammad dengan berbagai hibungan tradisional, makanan, berbagai hasil tanaman, buah-buahan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw pada bulan Rabiul awal atau bulan Mulud (Jaw. Oleh sebab itu banyak juga yang mengatakan acara Muludan yang berasal dari kata Maulid . Dalam acara tersebut bersama-sama Muhyiddin AoAbdu al Shomad. Hujjh al-QothAoiyyah fi shihhati al-MuAotaqidat wa al-AoAmaliyat al-Nahdliyah. (Kalista. Surabaya. Hlm. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 diajak mengucap kalimat Syahadat karena nama sekaten sendiri berasal dari Syahadatain hal ini sebagai bentuk internalisasi agama Islam yang dilakukan oleh walisongo. Sampai saat ini acara Muludan selalu menggunakan buah-buahan karena sebelum nabi lahir buahbuah yang ada di dunia rasanya tak semanis rasanya sekarang htetapi setelah nabi lahir buah-buah itu jadi manis seperti sekarang. Bahkan dalam berbagai riwayah buah yang masih mentahpun ketika nabi lahir saat itu pula langsung masak dan manis. Oleh sebab itu secara filosofis Romo KH Ahmad Asrori Al Ishaqi memaknai buah-buah yang dipakai dalam acara Muludan tersebut. Blimbing . arapan berkah dari berbagai penjuru, rukun Islam, sholat fardh. Manggis . ampu bermuat jujur, pada Manggis jumlah kelopak yang ada di luar mencerminkan jumlah buah yang ada di dala. Jeruk Bali. engandung dua sifat yakni kekuatan dan kelembutan dalam melindungi yang ada di dalam serta aroma jeruk sangat disukai Rasululla. Pisang . ernilai manfaat atas semua bagiannya dan sifat lemah lembut serta kerendahan hat. Melon. Apel. Nanas (Alternati. sebagai pribadi yang adem/ dingin. Nishfu SyaAoban (Ruwaha. /SyaAobanan Istilah ruwahan berasal dari kata AuRuwahAy yang memiliki akar kata Arwah . oh para leluhu. Acara ini biasanya diawali dari Nishfu SyaAoban pada malam ke-15 bulan SyaAoban dengan rangkaian acara berupa sholat berjamaah, baca yasin 3x dan doa Nishfu SyaAoban yang diakhiri dengan makan-makan bersama (Ambenga. Biasanya makanannya berisi ketan . ebagai symbol mengeratkan tali silaturrahi. , kolak manis . gar persaudaraan lebih dewasa dan mani. , juga Apem . ymbol jika ada salah agar saling Ritus ini digunakan sebagai penyucian diri sebelum masuk bulan suci Ramadhan oleh karena itu dilanjutkan bersilaturrahim dan saling memaafkan. Biasanya siangnya dilanjutkan dengan Nyadran . iarah kubu. untuk mengingatkan manusia pada asal usul . angkan paraning dumad. Nyadran sendiri berasal dari kata Srada yakni tradisi Hindu yang ada sejak ratu Tribuana Tungga Dewi . aja ketiga Majapahit 1328-1351 M) untuk mendoakan ibunya Gayatri. Sepeninggal Tribuana Tungga Dewi tradisi ini dilanjutkan prabu Hayam Wuruk dan terus sampai Walisongo diadopsi menjadi nyadran yang sebelumnya sesajinya untuk para dewa diganti disedekahkan kepada kaum miskin. Dalam nyadran berbagai macam bunga ditaburkan oleh sebab itu nyadran juga kadang disebut Nyekar. Nyekar adalah mengunjungi, membersihkan makan keluarga yang telah meninggal dengan menabur bunga sambil berdoa bersama hal ini biasa dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Ritual ini asalnya kebudayaan Hindu Budha dengan bakar kemenyan, dupa, memberi sesaji di makam sambil berdoa tanpa menggunakan apa-apa. Adapun nama nyekar berasal dari kata Sekar artinya bunga. Hal ini sesuai dengan apa yang ada dalam Kutub as Tsittah dari Ibnu Abbas ra. Menceritakan setelah rasul mengetahui ada orang dalam kubur itu disiksa beliau langsung mengambil pelepah basah dan meletakkan diatas kubur sambil berkata semoga mereka diringankan siksanya selama belum kering. Adapun dalil tentang ziarah telah jelas diriwayatkan Buridah AC EI INOEI I O C AI AON AIN E A AuSungguh aku telah pernah melarang kalian berziarah kubur maka sekarang berziarahlah karena sesungguhnya ziarah kubur itu mampu mengingatkan akhiratAy Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 DAFTAR PUSTAKA