TEMA Tera Ilmu Akuntansi Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 DAPATKAH LABA KOMPREHENSIF DIGUNAKAN UNTUK MEMPREDIKSI FINANCIAL DISTRESS? TEMA 25, 1 SUBMIT Maret 2024 REVISI April 2024 DITERIMA Mei 2024 Marhaendra Kusuma Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi. Universitas Islam Kadiri. Indonesia Abstract: So far, research in predicting bankruptcy only involves net income, not much of it involves comprehensive income, even though Financial Accounting Standards (SAK) in Indonesia and IFRS change the presentation of the profit and loss report by adding comprehensive income. Especially in the financial sector with high ownership of financial assets and liabilities and the application of fair value The results of research on 41 financial sector companies listed on the IDX during 2019 - 2022 show that comprehensive profit can be used to predict bankruptcy, this is because all the variables that make up the Altman Z-Score formulation, such as working capital, profit before interest and tax, operational income, retained earnings and share market value are interrelated with comprehensive income. The originality of this research is testing the ability of comprehensive income to predict bankruptcy, including dis-aggregating financial statements into the components of net income, other comprehensive income, and Keywords: Fair Value Accounting. Comprehensive Income. Financial Distress INDEKS Google Scholar KORESPONDING AUTHOR Marhaendra Kusuma Fakultas Ekonomi. Universitas Islam Kadiri. Indonesia Abstrak: Riset selama ini dalam memprediksi kebangkrutan hanya melibatkan laba bersih, belum banyak yang melibatkan laba komprehensif, padahal Standar Akuntansi Keuangan (SAK) di Indonesia dan IFRS, merubah tampilan penyajian laporan laba rugi dengan penambahan informasi laba komprehensif. Terutama pada sektor keuangan dengan kepemilikan aset keuangan dan liabilitas yang tinggi dan penerapan fair value accounting yang berdampak pada nilai laba komprehensif yang Hasil penelitian di 41 perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di BEI selama 2019 Ae 2022 menunjukkan bahwa laba komprehensif dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan, hal ini dikarenakan semua variabel pembentuk formulasi Altman Z-Score, seperti modal kerja, laba sebelum bunga dan pajak, pendapatan operasional, saldo laba dan nilai pasar saham saling terkait dengan laba komprehensif. Penggunaan laba komprehensif dirasa lebih menyeluruh mengukur pendapatan dari unsur yang telah nyata terealisasi dan unsur yang berpotensi akan terealisasi dimasa mendatang. Originalitas penelitian ini adalah pengujian atas kemampuan laba komprehensif dalam memprediksi kebangkrutan, termasuk mendisagregasi laporan keuangan dalam komponen laba bersih, penghasilan komprehensif lainnya dan reklasifikasi. Kata Kunci: Fair Value Accounting. Laba Komprehensif. Financial Distress EMAIL marhaenis@uniska-kediri. Cite: Kusuna. Dapatkah Laba Komprehensif Digunakan untuk Memprediksi Financial Distress?. Tema (Jurnal Tera Ilmu Akuntans. Volume 25 No. 1, 47Ae61. DOI: https://doi. org/ 10. 21776/tema. Marhaendra Kusuma TEMA Tera Ilmu Akuntansi PENDAHULUAN Topik tentang prediksi kebangkrutan perusahaan atau prediksi tingkat kesulitan keuangan perusahaan . inancial distres. masih menjadi area penelitian yang menarik untuk dikaji, karena sebagai media evaluasi kinerja dan pencegahan agar hal tersebut tidak terjadi atau setidaknya meminimalisir potensi terjadinya di masa yang akan datang (Aydin dkk. , 2. Hasil evaluasi juga menjadi informasi bagi calon investor dan kreditur dalam mengambil keputusan investasi dan kredit, karena kebangkrutan tidak hanya merugikan penyedia dana, tetapi juga dampak sosial yaitu karyawan kehilangan pekerjaan (Radovanovic & Haas, 2. , untuk itu perlu diprediksi sebagai masukan berinvestasi. Disamping itu juga sebagai indikator ekonomi suatu negara, semakin banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan . kor Altman Z yang renda. , maka kondisi ekonomi negara tersebut sedang mengalami permasalahan (Aydin dkk. , 2. Adanya ketidakpastian yang tinggi dimasa depan, potensi terjadinya sesuatu yang tidak terduga termasuk resiko kerugian yang berdampak signifikan terhadap ekonomi dan investasi, dan resiko kerugian, maka perlu untuk menghadapi hal tersebut melalui prediksi kebangkrutan . erjadi atau tidak terjad. , terutama pada sektor keuangan (Wu dkk. , 2. Kesulitan keuangan mendorong perusahaan melakukan tindakan manajemen laba untuk mengelabuhi stakeholder. Terdapat hubungan yang kuat antara tindakan manajemen laba dengan kesulitan keuangan. Aljughaiman dkk. dalam studinya pada perusahaan yang terdaftar di Shanghai Shenzhen Stock Exchange China membuktikan hal tersebut. Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan, cenderung melakukan praktik manajemen laba dengan bersembunyi dibalik pandemic Covid-19. Transformasi penyajian laporan laba rugi yang semula hanya berisi laba bersih saja menjadi laporan laba komprehensif dapat menutup celah industri perbankan di China untuk melakukan praktik manajemen laba, yang biasanya dilakukan melalui pemilihan waktu dan jumlah Marhaendra Kusuma Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 realisasi aset keuangan kategori tersedia untuk dijual, walaupun manajemen perbankan menggunakan cara lain untuk melakukan manajemen laba melalui beban penyisihan kerugian kredit (Cao, 2. Cao juga menemukan bukti bahwa perpindahan lokasi penyajian OCI dari ekuitas neraca ke laporan laba rugi juga meningkatkan kemampuan memprediksi pendapatan dari realisasi aset Studi Zainuldin & Lui . pada Bank Syariah di tujuh negara berkembang dengan mayoritas penduduk beragama Islam yaitu Bahrain. Kuwait. Qatar. Arab Saudi. UEA. Malaysia dan Indonesia menemukan bukti bahwa tindakan manajemen laba tetap terjadi di bank syariah, dan ini bertentangan dengan prinsip Islam yang melandasi mereka Tindakan manajemen laba dilakukan melalui penyisihan kerugian pinjaman abnormal . bnormal loan loss provision. dan melaporkan laba positif kecil . mall positive earning. Evaluasi kinerja keuangan melalui skoring tingkat kesulitan keuangan pada bank dan lembaga keuangan Islam penting dilakukan karena lembaga syariah berpotensi besar untuk memberikan return investasi masa depan yang menguntungkan yang dikarenakan tersedianya pasar yang luas dimana Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia (Puspitasari dkk. , 2. , dan juga didorong kemudahan akses data dari dibentuknya indeks saham syariah di pasar modal Indonesia. Bank dan Lembaga keuangan Islam mengalami perkembangan yang pesat dengan karakteristiknya yang anti bunga, penggunaan system bagi hasil dan sangat berperan dalam perekonomian suatu negara dalam posisinya sebagai Lembaga intermediasi yang menyediakakan dana untuk sector usaha dan menfasilitasi investasi bagi masyarakat penyedia dana (Jan dkk. , 2. Perusahaan sektor keuangan memiliki aset keuangan dan liabilitas keuangan yang besar, karena memang bergerak disektor keuangan. Dalam penyajiannya di laporan keuangan, aset keuangan dan liabilitas keuangan disajikan pada nilai wajar, sehingga muncul Others Comprehensive Income (OCI) atau TEMA Tera Ilmu Akuntansi pendapatan unrealized dari penyesuaian nilai tercatatnya. Penyajian pada nilai wajar lebih representatif dalam menilai aset dan liabilitas, daripada nilai tercatat atau nilai historis, karena lebih mencerminkan nilai pada kondisi yang sesuai dengan tanggal penyajian laporan keuangan. OCI disajikan bersama laba bersih dalam laporan laba rugi, dan penjumlahan keduanya disebut sebagai laba komprehensif. Karena pasar keuangan menciptakan mekanisme harga saham yang berfluaktif, maka berdampak pada nilai wajar aset keuangan dan liabilitas keuangan. Akibatnya, persistensi OCI . an laba komprehensi. tidak sestabil laba bersih. Walaupun OCI merupakan unrealized earnings, namun beberapa item OCI yang masuk pada kelompok yang akan direklasifikasi ke laba bersih, berpotensi akan menjadi laba bersih dan mempengaruhi arus kas di periode berikutnya ketika aset atau utang tersebut direalisasi. Namun sayangnya, laba komprehensif dan OCI . ang mengakomodir penerapan fair value accountin. belum banyak dilibatkan dalam mengevaluasi kinerja keuangan, khususnya mengukur tingkat kesehatan keuangan menggunakan Altman Z-Score (Altman, 1. Penelitian ini mencoba mengawali studi yang mengaitkan laba komprehensif dengan Altman Z-Score. Riset selama ini hanya mengaitkan prediksi kebangkrutan dengan laba bersih atau profitabilitas (Chatterjee dkk. , 2. , masih belum banyak yang mengaitkan laba komprehensif dengan prediksi kebangkrutan, padahal laba komprehensif tidak hanya menyajikan hasil kinerja operasional berupa laba bersih semata, tetapi juga menyajikan pendapatan unrealized dari kenaikan . nilai wajar aset dan utang yang berpotensi akan direalisasi di periode yang akan datang, dimana realisasi penjualan aset dan pelunasan utang ini akan mempengaruhi laba bersih dan arus kas masa yang akan datang. Disamping itu melibatkan laba komprehensif dalam memprediksi kebangkrutan, sejalan dengan perubahan penyajian laporan laba rugi sejak Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Indonesia konvergen dengan standar akuntansi internasional (IFRS). Laba komprensif adalah penjumlahan laba bersih . endapatan dan Marhaendra Kusuma Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 beban nyata terealisas. dengan penghasilan komprehensif lainnya atau OCI . euntungan dan kerugian belum terealisas. Penyajian laba komprehensif sudah lama sejak tahun 2012, namun belum banyak studi yang fokus mengaitkan laba komprehensif dengan model-model prediksi kebangkrutan. Penelitian ini bermaksud mengawali studi tersebut, guna mengisi kekosongan literatur dan bahan pertimbangan stakeholder dalam pengambilan keputusan terkait skor prediksi kebangkrutan. Penerapan akuntansi nilai wajar dalam penyajian laporan keuangan memunculkan pengakuan unrealized earnings . enghasilan komprehensif lainnya atau Others Comprehensive Income (OCI). OCI tidak terkait dengan kas dan sensitif terhadap lingkungan eksternal, namun disajikan di laporan laba rugi sebagai laba komprehensif dan dikelompokkan berdasarkan potensi akan direalisasi segera atau tidak melalui penyajian Reklasifikasi OCI. Penyajian OCI dalam laba komprehensif menjadi hal penting pada perusahaan sektor keuangan, karena memiliki aset keuangan dan liabilitas keuangan yang signifikan. Dimana aset dan liabilitas ini dinilai dan dilaporkan pada nilai wajar. Chatterjee dkk. meneliti faktorfaktor yang mempengaruhi financial distress dengan model Altman pada perusahaan go public di Australia periode tahun 2004 Ae 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi skor Z Altman adalah remunerasi CEO, kas, laba bersih, total ekuitas, ukuran perusahaan, tingkat leverage, rasio lancar, periode dan jenis industri. Namun sayangnya, studi Chatterjee dkk. ini hanya melibatkan laba bersih yang diukur dengan rasio ROA, studi ini belum melibatkan laba komprehensif dan OCI. Azis dkk. meneliti pengaruh OCI terhadap financial distress dengan model Altman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OCI berpengaruh negatif signifikan terhadap Skor Z Altman. Ini artinya semakin besar nilai OCI yang tersaji maka semakin rendah skor Z Altman, semakin besar potensi untuk bangkrut atau mengalami kesulitan keuangan. Namun sayangnya, studi Azis dkk. ini hanya menguji pengaruh OCI secara agregat, tanpa mendisagregasi ke kelompok yang akan dire49 TEMA Tera Ilmu Akuntansi klasifikasi dan tidak akan direklasifikasi, serta tidak melibatkan laba komprehensif. Studi ini juga menjadikan OCI sebagai proksi tindakan manajemen laba, dengan argumen semakin besar OCI semakin besar manajemen laba dari pendapatan lain-lain. Studi Kusuma . dan Kusuma dkk. menyatakan tindakan manajemen laba melalui OCI dapat dilakukan melalui pemilihan waktu dan jumlah realisasi OCI yang selanjutnya akan mempengaruhi laba bersih. Posisi penelitian ini adalah mengembangkan penelitian Chatterjee dkk. dan Azis dkk. dengan letak pengembangan yang membangun state of the art penelitian tentang prediksi kebangkrutan sebagai novelty penelitian ini adalah pengujian pengaruh laba komprehensif terhadap financial distress, baik laba komprehensif secara agregat, mendisagregasi laba komprehensif ke komponen laba bersih dan penghasilan komprehensif lainnya (OCI), maupun mendisagregasi OCI ke komponen item kelompok yang akan direklasifikasi ke laba bersih dan kelompok yang tidak akan direklasifikasi ke laba bersih. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan Audapatkah laba komprehensif digunakan untuk memprediksi kebangkrutan?Ay. Laba komprehensif dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan apabila laba komprehensif berpengaruh signifikan terhadap skor prediksi kebangkrutan yang diukur dengan model Altman. Semakin besar skor Altman, semakin baik kinerja perusahaan . idak bangkru. Semakin tinggi laba komprehensif semakin kecil resiko kebangkrutan dimasa mendatang. Konstribusi praktik hasil penelitian ini berupa informasi bagi calon investor dalam menilai tingkat kesehatan bank dan lembaga keuangan sebelum memutuskan terkait investasi melalui pengukuran Z-Score dengan melibatkan laba komprehensif sebagai alternatif pengukuran yang selama ini konvensional hanya berbasis laba bersih dan arus kas Keunggulan penggunaan laba komprehensif dalam memprediksi kebangkrutan adalah melibatkan seluruh komponen pengakuan pendapatan secara menyeluruh, baik laba bersih itu sendiri sebagai pendapatan nyata terealisasi dan OCI sebagai pendapatan Marhaendra Kusuma Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 yang belum terealisasi dan berpotensi menjadi pendapatan terealisasi di masa yang akan Disamping juga penggunaan laba komprehensif mencerminkan penggunaan pengukuran kinerja yang memperhatikan dampak eksternal seperti makro ekonomi dan iklim pasar modal yang tercermin dalam penyesuaian nilai wajar aset dan utang dalam pengakuan OCI. Dua keunggulan laba komprehensif ini diharapkan semakin menyeluruh dan akurat dalam mengukur kinerja keuangan masa depan, khususnya resiko kesulitan keuangan yang mempengaruhi return investasi. Konstribusi teoritik hasil penelitian ini sebagai bukti empiris bahwa laba komprehensif sebagai produk dari penerapan akuntansi nilai wajar dan pengakuan pendapatan all inclusive income semenjak SAK Indonesia konvergen IFRS, dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat kesehatan keuangan perbankan dan lembaga keuangan Islam lainnya, khususnya dalam memprediksi kebangkrutan melalui skoring Z dari Altman. TINJAUAN PUSTAKA Laba Komprehensif Laba komprehensif adalah perubahan ekuitas selain dari setoran modal pemilik (SFAC No. Laba komprehensif merupakan penjumlahan laba nyata terealisasi hasil aktivitas operasional dengan laba yang belum terealisasi hasil dari penyesuaian nilai wajar aset dan utang. Kemunculan laba komprehensif sebagai bentuk penerapan akuntansi nilai wajar dan pengakuan pendapatan surplus kotor yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang konvergen dengan International Financial Reporting Standard (IFRS). Laba komprehensif terdiri dari laba . bersih dari selisih pendapatan . dengan beban . tunai dan akrual yang telah nyata terealisasi, ditambah penghasilan komprehensif lainnya atau Others Comprehensive Income (OCI). OCI terdiri dari lima komponen, yaitu keuntungan . dari penyesuaian nilai wajar aset keuangan, bagian efektif lindung nilai arus kas, penjabaran laporan keuangan dari mata uang asing, revaluasi aset dan selisih aktuaria liabilitas pasca kerja. Nilai OCI dipe50 TEMA Tera Ilmu Akuntansi ngaruhi oleh faktor eksternal berupa fundamental makro ekonomi seperti bunga, inflasi dan kurs, serta faktor internal seperti kepemilikan aset dan perputaran aset (Kusuma & Saputra, 2. OCI selanjutnya disajikan dalam dua kelompok, yaitu keuntungan . unrealized yang akan direklasifikasi ke laba bersih dan keuntungan . unrealized yang tidak akan direklasifikasi ke laba bersih. Pemisahan kelompok ini untuk menginformasikan ke pengguna potensi OCI berubah nyata menjadi pendapatan . terealisasi di periode berikutnya yang mempengaruhi nilai laba bersih dan arus kas dari aktivitas penjualan aset atau pelunasan utang. Kebijakan reklasifikasi OCI ini dapat mempersempit peluang melakukan penghindaran pajak (Kusuma & Rahayu, 2. , melakukan perataan laba (Kusuma, 2023. , dan manajemen laba (Kusuma dkk. , 2. melalui pemilihan waktu dan jumlah realisasi aset dan utang untuk mendapatkan laba sesuai yang Laba komprehensif dan OCI terbukti memiliki nilai relevansi bagi pengguna, walaupun sifat yang melekat di dalamnya membuatnya menjadi tidak sekuat informasi laba Studi Kusuma . membuktikan bahwa laba komprehensif direaksi oleh pasar, yang ditunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap return saham. Demikian juga kajian Kusuma . membuktikan bahwa laba komprehensif berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, meningkatkan kualitas informasi laba (Robik dkk. , 2. , meningkatkan transparansi dan mengurangi asimetri informasi (Kusuma & Athori, 2. Beberapa studi membuktikan bahwa laba komprehensif memiliki nilai prediktif, diantaranya hasil penelitian (Rahayu & Kusuma, 2. dengan data dari ASEAN, membuktikan bahwa laba komprehensif mampu memprediksi laba operasi masa depan, laba komprehensif mampu memprediksi arus kas masa depan (Kusuma, 2020. , dan laba komprehensif mampu memprediksi dividen (Kusuma & Agustin, 2. Adanya penyajian laba komprehensif yang menyebabkan tampilan laporan laba rugi menjadi lebih panjang dengan banyaknya pos penyajian dan sifatnya yang sensitif terhadap lingkungan eksternal, studi Chen dan Marhaendra Kusuma Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 Gavious . menunjukkan bahwa laba komprehensif berpengaruh positif terhadap biaya audit eksternal. Hal ini disebabkan karena auditor eksternal memerlukan tambahan prosedur audit untuk menguji kawajaran laba komprehensif dengan karakteristik yang Financial Distress Financial distress adalah kondisi perusahaan dalam posisi mengalami kesulitan keuangan. Altman . mengembangkan suatu formulasi pengukur kesulitan keuangan perusahaan, yang selanjutnya dikenal dengan Altman Z-Score. Jika Z-skor < 1,23, maka perusahaan tersebut dikategorikan bangkrut. Jika Z-skor antara 1,23 Ae 2,90, diklasifikasikan sebagai grey area atau waspada berpotensi bangkrut, dan jika Z-skor > 2,90, maka perusahaan dikategorikan sehat atau tidak bangkrut. Indeks potensi kebangkrutan perusahaan Altman Z-Score (Altman, 1. dihitung dengan rumus berikut: ycsycIycaycuycyce = . ,2 O ycAycuyccycayco yayceycycyca ycNycuycycayco yaycyceyc ycIycaycoyccycu yaycaycayca ,4 O ycNycuycycayco yaycyceyc yaycaycayca ycyceycayceycoycyco ycaycycuyciyca yccycaycu ycyycaycycayco ,3 O ycNycuycycayco yaycyceyc ycAycnycoycaycn ycEycaycycayc yaycoycycnycycayc ycAycnycoycaycn yaAycycoyc yaycnycaycaycnycoycnycycayc ycEyceycuycycycaycoycaycu ,99 O ycNycuycycayco yaycyceyc ,6 O Mynchen . dalam studinya di perbankan Brazil menemukan bukti bahwa financial distress berpengaruh signifikan terhadap struktur modal dengan arah pengaruh tergantung konteks stuasi makro ekonomi. Pada masa normal, financial distress berpengaruh positif terhadap struktur modal, namun pada kondisi resesi ekonomi pada pasar negara berkembang seperti di Brazil, pengaruh financial distress terhadap sturktur modal adalah negatif. Wu dkk. mengembangkan model prediksi kebangkrutan Altman ZScore dengan Multilayer Perceptron Neural Networks. Dengan menggunakan data dari perusahaan di China, hasil empiris menunjukkan bahwa tingkat ketepatan dalam mem51 TEMA Tera Ilmu Akuntansi prediksi kebangkrutan adalah model hybrid neural network, disusul model pure neural network dan terakhir model Z-Score Altman. Valaskova dkk. melakukan studi pada kelompok negara Visegrad yang terdiri dari Slovakia. Republik Czech. Polandia, dan Hungaria pada periode Pandemi Covid-19 yaitu tahun 2020 dan 2021 dimana pada masa ini terjadi ketidakpastian yang tinggi, kondisi makro ekonomi yang menurun dan keuangan perusahaan yang belum stabil. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa faktor yang dominan dalam menentukan akurasi prediksi kebangkrutan adalah total utang yang dimiliki perusahaan. Rusydianaa dkk. meneliti kinerja keuangan BPR dan BPR Syariah di Indonesia selama periode 2016-2020 dan menyimpulkan bahwa BPR konvensional lebih stabil kinerja keuangannya daripada BPR Syariah. Kerangka Pikir Penelitian Teori agensi Jensen dan Meckling . menyatakan bahwa terdapat asimetri informasi antara pemilik perusahaan dengan manajemen . dan antara pemilik dengan jumlah saham mayoritas dengan minoritas . yang berpotensi mempengaruhi kualitas penyajian laporan keuangan. Laba komprehensif dengan sifatnya yang representatif terhadap penilaian aset dan utang, serta penyajian yang transparan terkait laba terealisasi dan belum terealiasi, diharapkan dapat meminimalisir asimetri informasi dan biaya agensi (Kusuma dan Athori, 2. , termasuk mempersempit celah melakukan manajemen Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 laba (Zhao dkk. , 2. , perataan laba (Kusuma, 2023. dan penghindaran pajak (Kusuma dan Rahayu, 2. Teori kandungan informasi laba (Ball dan Brown, 1. menyatakan bahwa publikasi laba akuntansi ke publik mempengaruhi perilaku investor yang dicerminkan dari perubahan harga saham sebagai reaksi pasar atas informasi laba akuntansi, dalam hal ini laba bersih . et incom. Hal ini dikarenakan laba bersih mencerminkan kinerja operasional sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja manajemen dalam aktivitas pengelolaan perusahaan. Laba bersih juga menunjukkan kemampuan masa depan perusahaan dalam memenuhi ekspektasi return investasi para investor. Hal ini tentunya juga berlaku pada laba komprehensif yang merupakan bentuk perkembangan informasi laba yang seiring penerapan fair value accounting yang mendasari perumusan standar akuntansi keuangan. Laba komprehensif juga memiliki kandungan informasi yang dibuktikan dari pengaruh positif signifikan terhadap Cummualtive Abnormal Return (CAR) sebagai proksi nilai pasar (Kusuma, 2023. Bmane . dan Kusuma . menggunakan rasio ROA berbasis laba komprehensif. Kusuma dkk. dan Marchini dan DAoEste . menggunakan ROE berbasis laba komprehensif, dan Murdiyanto & Kusuma . menggunakan rasio NPM berbasis laba komprehensif, dan ketiga penelitian tersebut membuktikan bahwa rasio profitabilitas berbasis laba komprehensif memiliki relevansi nilai dan mampu memprediksi kinerja masa Laba Komprehensif Financial Distress Variabel Kontrol Gambar 1. Kerangka Konseptual Marhaendra Kusuma TEMA Tera Ilmu Akuntansi Laba komprehensif menjadi informasi penting bagi pengguna, terutama pada industri jasa keuangan dengan kepemilikan publik signifikan, dimana kepemilikan aset keuangan dan liabilitas keuangan sangat tinggi dan karena penyajiannya dinilai pada nilai wajar dengan perubahan nilai wajar yang frekuensinya yang tinggi, maka kemunculan OCI dan laba komprehensif menjadi informasi penting dalam penyajian laporan keuangan khususnya laporan laba rugi. namun sayangnya, penggunaan laba komprehensif untuk mengukur tingkat kesulitan keuangan dengan Altman Z-Score masih belum banyak Penelitian ini mencoba untuk mengawalinya. Pengembangan Hipotesis Laba komprehensif dengan karakteristik volatilitas OCI yang tinggi, ternyata dapat digunakan untuk memprediksi biaya modal Wallis . Perusahaan dengan biaya modal yang tinggi berarti perusahaan tersebut sedang menghadapi kesulitan keuangan dan berpotensi mengalami kebangkrutan (Edwards dkk. , 2. Biaya modal adalah pendanaan yang bersumber dari internal . enerbitan saham dan saldo lab. dan eksternal . untuk membiayai investasi aset. Perusahaan yang merekayasa laporan keuangan tidak menyajikannya dengan jujur apa adanya dan wajar sesuai standar keuangan, terindikasi kondisi keuangan perusahaan sedang tidak baik, sehingga perlu melakukan creative accounting untuk menyakinkan stakeholder dengan menutupi kesulitan keuangan. Studi empiris telah membuktikan bahwa laba komprehensif dapat digunakan untuk melakukan perataan laba, manajemen laba dan penghindaran pajak (Kusuma dan Rahayu. Hal ini disebabkan karena terdapatnya celah kecurangan yang belum diatur dalam standar akuntansi perihal kepastian jumlah dan waktu realisasi unrealized earnings yang berdampak pada nilai laba masa depan yang dapat disesuaikan dengan kepentingan, termasuk menutupi kesulitan keuangan. Laba komprehensif terdiri dari dua komponen penyusun, yaitu laba bersih sebagai pendapatan dan beban nyata terealisasi, dan OCI sebagai keuntungan dan kerugian Marhaendra Kusuma Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 belum terealisasi. Perusahaan di Indonesia selama periode 2015-2020 memiliki jumlah rupiah laba bersih lebih besar daripada jumlah rupiah OCI dalam struktur laba komprehensif, artinya kinerja dari aktivitas operasional lebih besar daripada nilai penyesuaian nilai wajar aset dan utang (Kusuma dkk. , 2. Laba bersih didalamnya berisi informasi penjualan . tau nama lain yang setara misal pendapatan operasional atau pendapatan jas. , laba sebelum beban bunga dan pajak penghasilan (EBIT), hingga akhirnya menghasilkan nilai akhir laba . Terdapat korelasi positif antara nilai penjualan dan EBIT dengan laba bersih, demikian juga laba bersih dengan laba komprehensif. Dua komponen laba komprehensif, yaitu laba bersih dan OCI keduanya juga akan ditutup ke akun saldo Semakin tinggi penjualan, semakin mampu perusahaan untuk menghasilkan laba bersih dan semakin tinggi aliran kas masuk dari penjualan tunai dan pelunasan piutang dari penjualan kredit. Semakin tinggi laba dan aliran kas, semakin besar kemampuan perusahaan untuk meningkatkan modal kerja, memperbanyak aset . ang selanjutnya disesuaikan ke nilai wajar dan menjadi OCI). Semakin tinggi penjualan, arus kas operasi, modal kerja semakin dipersepsikan positif kinerja operasional dan prediksi return investasi masa depan perusahaan oleh pasar, sehingga semakin naik harga saham perusahaan . eori kandungan laba Ball dan Brown, 1. Penjualan. EBIT, modal kerja, saldo laba dan harga pasar saham perusahaan merupakan variabel dalam formulasi Z-Score. Dengan demikian, hipotesis pertama yang akan diuji dalam penelitian ini adalah : H1: Laba komprehensif berpengaruh positif terhadap Altman Z-Score. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa annual report perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019 Ae 2022 dengan jumlah populasi sebanyak 104 perusahaan. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling dengan kriteria pada tabel 1. Variabel penelitian terdiri dari variabel dependen, independen dan kontrol. Variabel dependen pe53 TEMA Tera Ilmu Akuntansi nelitian ini adalah tingkat kesehatan perusahaan yang diproksikan dengan Z-Score (Altman, 1. Variabel dependen penelitian ini adalah laba komprehensif agregat, dan disagregasinya yang terdiri dari laba bersih. OCI agregat. OCI yang akan direklasifikasi dan Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 OCI yang tidak akan direklasifikasi. Variabel kontrol penelitian ini adalah ukuran perusahaan, tingkat leverage, kepemilikan kas, jenis industri dan periode tahun. Pengukuran masing-masing variabel dijelaskan dalam tabel 2 . Tabel 1. Kriteria Pemilihan Sampel Keterangan Perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di BEI periode 2019 - 2022 Dikurangi: 1. Tidak menyajikan laporan keuangan dalam satuan Rupiah Tidak lengkap menyajikan komponen laba komprehensif . an OCI) Sampel Data Observasi . dikali 4 tahu. Perusahaan . n = 164 Tabel 2. Pengukuran Variabel Variabel Variabel Dependen ycs ycIycaycuycyceycn,yc 1 Definisi dan Pengukuran Indeks potensi kebangkrutan perusahaan i periode t 1 dengan Altman ZScore (Altman, 1. Variabel Independen yayaycn,yc Laba komprehensif yaitu laba bersih ditambah OCI perusahaan i periode t yang diskalakan dalam total aset. ycAyaycn,yc Laba bersih yaitu selisih pendapatan . teralisasi dan beban . terealisasi perusahaan i periode t yang diskalakan dalam total aset. ycCyayaycn,yc Penghasilan komprehensif lainnya (OCI) yaitu pendapatan . belum teralisasi dan beban . belum terealisasi dari penyesuaian nilai tercatat aset dan utang ke nilai wajar pada tanggal penyajian laporan keuangan perusahaan i periode t yang diskalakan dalam total aset. ycCyayaycOycIycn,yc Item OCI yang akan direklasifikasi ke laba bersih yaitu item OCI yang pada periode t 1 aset dan utang akan direalisasi sehingga timbul keuntungan . nyata terealisasi yang tersaji pada laba bersih periode t 1 dan diskalakan dalam total aset. Item OCI yang tidak akan direklasifikasi ke laba bersih yaitu item OCI yang ycCyayaycAycIycn,yc pada periode t 1 aset dan utang tidak akan direalisasi sehingga tidak timbul keuntungan . nyata terealisasi yang tersaji pada laba bersih periode t 1 sehingga tetap tersaji sebagai OCI dan diskalakan dalam total aset. yayaycAycn,yc Laba komprehensif tanpa melibatkan item OCI yang tidak akan direklasifikasi ke laba bersih, yaitu hanya terdiri dari laba bersih ditambah OCI yang akan Variabel Kontrol ycIyaycsyaycn,yc Ukuran perusahaan yaitu besar kecilnya perusahaan yang diukur dengan logaritma natural total aset perusahaan i periode t. yayaycIyaycn,yc Kas yaitu kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan i periode t dan diskalakan dalam total aset. yayaycOycn,yc Tingkat leverage yaitu rasio yang menunjukkan seberapa besar aset didanai oleh utang perusahaan i periode t. yaycAya Jenis industri diukur dengan variabel dummy, 1 untuk perbankan, 0 selain ycUyayaycI Periode tahun penelitian. Marhaendra Kusuma TEMA Tera Ilmu Akuntansi Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis regresi linier berganda dan dikembangkan model berikut: ycs ycIycaycuycyceycn,yc 1 = yu0 yu1 yayaycn,yc yu2 ycIyaycsyaycn,yc yu3 yayaycIyaycn,yc yu4 yayaycOycn,yc yu5 yaycAya yu6 ycUyayaycI yuA H1 diterima jika koefisien 1CI signifikan pada level 10%. CI periode berjalan dapat digunakan untuk memprediksi indeks potensi kebangkrutan (Z-Scor. CI periode berjalan berpengaruh positif terhadap Z-Score, atau semakin besar laba komprehensif, semakin besar Z-Score . emakin rendah potensi Selanjutnya laba komprehensif pada model 1 di disagregasi ke komponen laba bersih . et income atau NI) dan penghasilan komprehensif lainnya (OCI) sebagai berikut: ycs ycIycaycuycyceycn,yc 1 = yu0 yu1 ycAyaycn,yc yu2 ycCyayaycn,yc yu3 ycIyaycsyaycn,yc yu4 yayaycIyaycn,yc yu5 yayaycOycn,yc yu6 yaycAya yu7 ycUyayaycI yuA Selanjutnya OCI pada model 2 di disagregasi ke komponen OCI yang akan direklasifikasi ke laba bersih (OCI will be reclassified atau OCI WR) dan komponen OCI yang tidak akan direklasifikasi ke laba bersih (OCI Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 will not be reclassified atau OCI NR) sebagai ycs ycIycaycuycyceycn,yc 1 = yu0 yu1 ycAyaycn,yc yu2 ycCyayaycOycIycn,yc yu3 ycCyayaycAycIycn,yc yu4 ycIyaycsyaycn,yc yu5 yayaycIyaycn,yc yu6 yayaycOycn,yc yu7 yaycAya yu8 ycUyayaycI yuA ycs ycIycaycuycyceycn,yc 1 = yu0 yu1 yayaycAycn,yc yu2 ycIyaycsyaycn,yc yu3 yayaycIyaycn,yc yu4 yayaycOycn,yc yu5 yaycAya yu6 ycUyayaycI yuA ANALISIS DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Data Tabel 3 dibawah ini menyajikan hasil statistik deskriptif. Mean laba komprehensif bertanda positif sebesar 0,029128 menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan sektor keuangan selama periode penelitian mengalami laba, pendapatan nyata terealisasi dan keuntungan belum terealisasi lebih besar daripada beban nyata terealisasi dan kerugian belum terealisasi. Mean OCI juga bertanda positif sebesar 0,001961 untuk OCI agrgeat. 0,003010 untuk OCI yang akan direklasifikasi ke laba bersih, dan 0,001634 untuk OCI yang tidak akan direklasifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada tanggal penyajian laporan keuangan 31 Desember, nilai wajar aset dan utang lebih besar daripada nilai tercatat atau nilai perolehannya. Tabel 3. Hasil Statistik Deskriptif Minimum Maximum Mean Std. Dev ,0002 ,4071 ,029128 ,0498360 ,0007 ,4071 ,030392 ,0506996 CIN ,0002 ,4071 ,029816 ,0504547 OCIAgr. ,0000 ,0283 ,001961 ,0043102 OCI WR ,0000 ,0299 ,003010 ,0044679 OCI NR ,0000 ,0308 ,001634 ,0038117 SIZE 15,4547 30,4406 1,9973 3,7832 CASH ,0012 ,8571 ,041533 ,0880731 LEV ,0025 ,9153 ,655745 ,2544083 INDS ,00 1,00 ,2378 ,42704 YEAR 1,00 4,00 2,5000 1,12146 ,8325 11,7793 1,941737 1,6784571 Z - Score Sumber: Data Penelitian . Marhaendra Kusuma TEMA Tera Ilmu Akuntansi Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 Tabel 4. Hasil Analisis Korelasi OCI Agregat CIN OCI OCI SIZE CASH OCI ,993** CIN ,994** ,998** OCI Agr ,008 ,101 ,071 OCI WR -,013 -,004 ,000 ,511** ,051 ,321** -,046 OCI NR ,056 LEV INDS YEAR ZScore ,092 SIZE -,063 -,084 -,089 ,009 ,258** ,085 CASH ,028 ,029 ,072 ,024 ,114 ,072 LEV -,437** -,433** -,440** -,114 -,046 -,195* -,084 -,436** INDS -,051 -,049 -,052 ,080 ,001 -,019 ,064 -,029 ,208** YEAR -,052 -,038 -,042 ,224** ,097 -,116 -,023 -,077 ,078 -,019 Z - Score ,670** ,007 ,233** ,182* -,749** -,141 -,061 ,026 ,664** ,673** ,105 -,082 **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. , *. Correlation is significant at the 0. 05 level . -taile. Sumber: Data Penelitian . Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Constant 5,429 *** 12,570 *** 5,297 *** 5,272 *** 5,276 *** 13,045 *** 12,921 13,078 *** OCI OCI WR OCI NR CIN -0,047 -0,047 (-2,. (-2,. -2,015 -1,962 CASH (-2,. (-2,. -4,231 -4,165 LEV (-11,. *** (-11,. *** 0,040 0,048 INDS -0,022 -0,008 YEAR (-0,. (-0,. F-Statistics 65,244*** 59,369*** Adjusted R 0,709 0,715 ***, **, * koefisien regresi signifikan pada level 1%, 5%, 10%. Sumber: Data Penelitian . SIZE Marhaendra Kusuma Ae4,709 (Ae1,. 18,208 . -0,046 (-2,. ** -1,963 (-2,. ** -4,146 (-11,. *** 0,050 . -0,005 (-0,. 51,741*** 0,713 13,145 *** -0,044 (-2,. -1,952 (-2,. -4,146 (-11,. *** 0,039 -0,018 (-0,. 69,499*** 0,716 TEMA Tera Ilmu Akuntansi Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 Tabel 6. Hasil Uji Beda Rata-Rata Kelompok yang di Uji Beda Mean Alat Uji Sig. -taile. Kesimpulan Z-Score NI 1,9417 Z-Score CI 1,9337 Independent t Test 0,966 Tidak terdapat Z-Score NI Sebelum Covid-19 1,8348 Z-Score NI Saat Covid-20 2,0487 Paired t Test 0,416 Tidak terdapat Z-Score CI Sebelum Covid-19 1,8299 Z-Score CI Saat Covid-20 2,0376 Paired t Test 0,432 Tidak terdapat Sumber: Data Penelitian . Tabel 4 menyajikan hasil analisis korelasi. Z-Score berkorelasi positif signifikan dengan laba bersih . ,670**) dan dengan laba komprehensif . ,664**). Ini artinya semakin tinggi capaian kinerja operasional yang tercermin dalam nilai laba bersih, maka tingkat kesehatan keuangan semakin baik dan potensi untuk mengalami kesulitan keuangan juga rendah. Semakin tinggi kenaikan ekuitas dari laba bersih dipadu dengan keuntungan penyesuaian nilai wajar yang tercermin dalam laba komprehensif, maka semakin tinggi Z-Score yang merepresentasikan kesehatan keuangan. Z-Score berkorelasi negatif signifikan dengan leverage . ,749**). Ini artinya perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi, memiliki tekanan yang lebih besar dalam pemenuhan kewajibannya atas pembayaran bunga periodik dan pokok utang jatuh tempo, daripada kondisi ketika aset didominasi dari pendanaan ekuitas. Pengujian Hipotesis Tabel 5 menunjukkan hasil analisis regresi linier berganda. Laba komprehensif berpengaruh positif signifikan terhadap Z-Score dengan koefisien 12,570 nilai t 7,736 dan signifikan pada level Dengan demikian maka H1 diterima, semakin besar laba komprehensif, semakin baik kondisi kesehatan keuangan, dan semakin rendah potensi kebangkrutan atau mengalami financial distress. Namun ketika laba komprehensif di disagregasi ke laba bersih dan OCI, hanya komponen laba bersih yang signifikan mempengaruhi Z-Score, sedangkan OCI tidak terbukti berpengaruh terhadap ZScore. Demikian juga ketika OCI didisagregasi ke kelompok yang akan direklasifikasi ke laba bersih (OCI WR) dan kelompok yang tidak akan direklasifikasi (OCI NR), keduanya tidak terbukti mempengaruhi Z-Score. Namun ketika hanya melibatkan OCI WR yang dipadukan dengan laba bersih, kami notasikan dengan simbol CIN, menunjukkan hasil CIN berpengaruh positif signifikan terhadap Marhaendra Kusuma Z-Score dengan koefisien 13,145 nilai t 8,204 signifikan pada level 1%. Peneliti mencoba memodifikasi formulasi Altman Z-Score dengan mengganti laba bersih sebelum bunga dan pajak dengan laba komprehensif. Lalu kami lakukan uji beda rata-rata dengan Independent t test antara Z-Score konvensional versi Altman . dengan Z-Score modifikasi ini, untuk membuktikan apakah terdapat perbedaan Z-Score konvensional versi Altman dengan ZScore modifikasi. Berikut formulasi Z-Score modifikasi yang kami lakukan: ycAycuyccycayco yayceycycyca ycNycuycycayco yaycyceyc ycIycaycoyccycu yaycaycayca ,4 O ycNycuycycayco yaycyceyc yaycaycayca yaycuycoycyycyceEayceycuycycnyce . ,3 O ycNycuycycayco yaycyceyc ycsycIycaycuycyce yaya = . ,2 O ycAycnycoycaycn ycEycaycycayc yaycoycycnycycayc ycAycnycoycaycn yaAycycoyc yaycnycaycaycnycoycnycycayc ycEyceycuycycycaycoycaycu ,99 O ycNycuycycayco yaycyceyc Tabel 6 menunjukkan hasil uji beda ratarata Z-Score versi Altman, selanjutnya kami sebut Z-Score NI, dengan Z-Score modifikasi . engganti EBIT dengan laba komprehensi. , selanjutnya kami sebut Z-Score CI. Hasil pengujian independent t test menunjukkan bahwa keduanya tidak terdapat perbedaan signifikan yang ditunjukkan dari nilai Sig. -taile. 0,966 jauh diatas level signifikan 5%. Hal ini berarti laba komprehensif dapat dimasukkan dalam formulasi Z-Score, dapat digunakan untuk memprediksi financial distress, karena memberikan hasil yang sama dengan ZScore yang diperkenalkan Altman. Tabel 6 juga menyajikan hasil uji beda rata-rata Z-Score pada kondisi sebelum dan saat pandemi Covid-19. Ha57 TEMA Tera Ilmu Akuntansi sil pengujian dengan paired t test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan Z-Score pada dua kondisi ini, baik pada Z-Score versi Altman maupun modifikasi dengan laba komprehensif. Hal ini berarti pandemi Covid-19 tidak berdampak terhadap kinerja dan kesehatan perusahaan sektor keuangan. Pembahasan Laba komprehensif berpengaruh positif signifikan terhadap Z-Score. Hal ini berarti laba komprehensif mampu memprediksi kinerja masa depan, laba komprehensif periode sebelumnya dapat digunakan untuk memprediksi kinerja keuangan masa depan yang diproksikan dengan Altman ZScore yang mencerminkan prediksi kebangkrutan. Hal ini disebabkan karena komponen laba komprehensif didalamnya saling terkait dengan komponen formulasi Altman Z-Score, seperti laba sebelum bunga dan pajak serta penjualan. Demikian juga untuk OCI, pada periode selanjutnya terkait dengan laba bersih, dan besaran nilainya juga terkait dengan modal kerja, khususnya untuk aset keuangan. Komponen laba komprehensif terdiri dari laba nyata terealisasi dan laba yang belum terealisasi dan berpotensi akan terealisasi di periode yang akan datang (OCI), sehingga semakin tinggi laba bersih dan OCI, maka semakin tinggi laba komprehensif yang akhirnya berdampak pada meningkatnya modal kerja, laba sebelum bunga dan pajak, penjualan, yang berujung pada meningkatnya Z-Score. Laba komprehensif yang didalamnya terdapat item OCI yang akan direklasifikasi ke laba bersih menunjukkan potensi penambahan laba bersih dan arus kas di masa yang akan datang melalui keuntungan penjualan aset dan atau pelunasan utang. Ini juga didukung pengujian atas pengaruh laba komprehensif yang hanya melibatkan komponen laba bersih dan OCI yang akan direklasifikasi. OCI yang tinggi, yang merupakan bagian dari laba komprehensif, menunjukkan tingginya aset yang dimiliki perusahaan termasuk juga modal kerja dan tingginya kenaikan unrealized earnings dari penyesuaian nilai wajar aset tersebut. Tingginya aset, temasuk modal kerja, berdampak pada tingginya Z-Score, melalui kemampuan manajemen mengelola pemanfaatan aset tersebut dalam upaya mendongkrak profitabilitas. Jumlah proporsi OCI dalam membentuk laba komprehensif jauh dibawah laba bersih, sehingga karakteristik OCI dengan segala kelemahannya tertutup oleh laba bersih. Akhirnya, sifat-sifat yang melekat pada laba bersih terbawa ke laba komprehensif. Dengan demikian dapat dikatakan laba komprehensif juga Marhaendra Kusuma Volume 25 Nomor 1 Tahun 2024 menunjukkan kinerja yang lebih luas, yaitu kinerja operasional dipadukan dengan kinerja dari kenaikan nilai wajar aset, terlebih pada perusahaan sektor keuangan dengan kepemilikan aset produktif berupa aset keuangan kategori tersedia untuk dijual, yang berpotensi menjadi laba bersih dimasa depan dalam jangka waktu dekat. Karakteristik OCI yang sensitif terhadap makro ekonomi dengan volatilitas yang tinggi, tidak mempengaruhi kemampuan laba komprehensif dalam mempengaruhi Z-Score, karena OCI akan tetap ditutup ke saldo laba, dan saldo laba merupakan bagian dari formulasi ZScore. Demikian juga item OCI kelompok yang tidak akan direklasifikasi ke laba bersih, walaupun di periode terdekat tidak akan direalisasi dan tidak mempengaruhi laba bersih dan arus kas, namun karena item ini akan direklasifikasi ke saldo laba, maka tetap akan berdampak pada Z-Score. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh laba komprehensif terhadap Altman Z-Score. Altman Z-Score digunakan sebagai proksi atas tingkat kesehatan perusahaan. Z-Score yang rendah mencerminkan perusahaan dalam kondisi mengalami kesulitan keuangan. Laba komprehensif memaknai laba secara menyeluruh, yaitu laba dari aktivitas operasional dan laba dari kenaikan nilai wajar aset bersih, yang akan dan tidak akan berpotensi terealisasi di masa depan. Pengujian pengaruh laba komprehensif terhadap Altman Z-Score mencerminkan keterkaitan penerapan fair value accounting dengan pengukuran kinerja keuangan, terutama pada industri keuangan dengan kepemilikan signifikan atas aset keuangan dan liabilitas keuangan yang tinggi, dimana penyesuaian nilai wajar menjadi informasi yang dominan dalam penyajian laporan keuangan. Hasil penelitian pada 41 perusahaan sektor keuangan di BEI periode 2019 - 2022 menunjukkan bahwa laba komprehensif periode t berpengaruh positif signifikan terhadap Z-Score t 1, artinya laba komprehensif periode sebelumnya dapat digunakan untuk memprediksi kinerja keuangan masa depan yang diproksikan dengan Altman ZScore yang mencerminkan posisi keuangan perusahaan dalam kondisi sehat atau mengalami kesulitan. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini, rekomendasi kepada investor adalah dapat menggunakan informasi laba komprehensif, tidak hanya laba bersih, dalam memprediksi kinerja keuangan khu58 TEMA Tera Ilmu Akuntansi susnya penerapan Altman Z-Score. Kelebihan penggunaan laba komprehensif adalah lebih lengkap tidak hanya informasi kinerja operasional, tetapi juga potensi keuntungan dari realisasi penjualan aset yang pada periode penyajian masih diakui sebagai OCI, disamping juga lebih memperhatikan dampak makro ekonomi dalam penyajian laporan laba rugi. IMPLIKASI Makna teoritis dari hasil penelitian ini adalah laba komprehensif dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan, yang dibuktikan dari . Laba komprehensif berpengaruh positif signifikan terhadap Z-Score, dan . tidak terdapat perbedaan signifikan Z-Score versi Altman . dengan Z-Score versi modifikasi . engganti EBIT pada versi Altman dengan laba komprehensi. Laba komprehensif yang rendah menunjukkan perusahaan dalam kondisi mengalami kesulitan keuangan. Sebaliknya, semakin tinggi laba komprehensif, semakin tinggi nilai Altman Z-Score, maka semakin sehat kondisi keuangan perusahaan. Laba komprehensif lebih luas memaknai laba, laba dari profitabilitas . et incom. dikombinasikan dengan laba dari dampak eksternal lingkungan bisnis dimana perusahaan beroperasi. KETERBATASAN PENELITIAN Keterbatasan penelitian ini hanya menggunakan satu proksi financial distress, peneliti selanjutnya disarankan menggunakan model prediksi kebangkrutan yang lain seperti model Grove, model Springate, model Zmijewski atau menerapkan model baru dalam prediksi kebangkrutan yang ditemukan oleh peneliti dari China (Wu dkk. , 2. yaitu Multilayer Perceptron Neural Networks untuk mengetahui daya banding dan kedudukan laba komprehensif didalamnya. Penelitian ini hanya menguji pada perusahaan sektor keuangan, peneliti selanjutnya dapat menerapkan model penelitian ini pada sektor perusahaan lain yang lebih luas. REFERENCES