Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. September 2025 HUBUNGAN METODE PEMBELAJARAN GURU DENGAN MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SKI Widya Sapitri1. Finka Khaerunisa2. Salsa Billa3. Ramadhan Sofyan4. Ahmad Abdul Syukur5. Muhamad Hidayat6. Abdurahman7 1,2,3,4,5,6,7 Pendidikan Agama Islam. Universitas Islam Depok. Indonesia Telp: 601345x. Fax: 6033x E-mail: widyasapitri01@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received: 2025-08-15 Revised : 2025-08-28 Accepted: 2025-09-01 KEYWORD Learning Interests. Learning Methods. History of Islamic Culture (SKI) KATA KUNCI Minat Belajar. Metode Pembelajaran. Sejarah Kebudayaan Islam ( SKI) ABSTRACT This study wants to examine students' learning interests in the subject of Islamic Cultural History (SKI) at MA Darul Hikmah Pamulang and the factors that influence it. The background of this research is the low enthusiasm of students in SKI learning which is characterized by a passive attitude, lack of participation, and the assumption that SKI is only limited to memorization. The purpose of this study is to describe the condition of students' learning interest and analyze the causes of this low interest, especially from the aspect of teacher learning methods. The research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation, and is analyzed using the Miles & Huberman model . eduction, presentation, and drawing conclusion. The validity of the data was tested through triangulation. The results of the study show that monotonous learning methods, with the dominance of lectures without variation, are the main factors in low student interest in learning. These findings affirm the importance of learning innovations in SKI that are more creative, interactive, and contextual so that SKI is not only seen as a memorization subject, but also as a means of internalizing moral values and strengthening Islamic identity. ABSTRAK Penelitian ini ingin meneliti minat belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MI Darul Hikmah Pamulang serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya antusiasme siswa dalam pembelajaran SKI yang ditandai dengan sikap pasif, kurangnya partisipasi, dan anggapan bahwa SKI hanya sebatas hafalan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kondisi minat belajar siswa serta menganalisis penyebab rendahnya minat tersebut, khususnya dari aspek metode pembelajaran guru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan model Miles & Huberman . eduksi, penyajian, dan penarikan kesimpula. Keabsahan data diuji melalui Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang monoton, dengan dominasi ceramah tanpa variasi, menjadi faktor utama rendahnya minat belajar siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya inovasi pembelajaran SKI yang lebih kreatif, interaktif, dan kontekstual agar SKI tidak hanya dipandang sebagai mata pelajaran hafalan, melainkan juga sebagai sarana internalisasi nilai moral dan penguatan identitas keislaman. 2 | JPI. Vol. No. September 2025 Pendahuluan Pendidikan agama Islam di sekolah bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses internalisasi nilai-nilai spiritual, moral, dan budaya yang menjadi pondasi kepribadian siswa (Hanan & Rahmat, 2. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peran strategis adalah Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Melalui pembelajaran SKI, siswa diharapkan mengenal sejarah peradaban Islam, mengambil teladan dari para tokoh, serta menumbuhkan sikap cinta terhadap warisan intelektual dan spiritual umat Islam. Namun, idealisme tersebut kerap kali belum tercapai karena rendahnya minat belajar siswa dalam mengikuti pelajaran SKI (Aisyah et al. , 2. Minat belajar merupakan salah satu faktor psikologis yang menentukan keberhasilan siswa dalam proses pendidikan. Siswa yang memiliki minat belajar tinggi akan lebih aktif, antusias, dan gigih dalam menghadapi kesulitan. Sebaliknya, rendahnya minat belajar menjadikan siswa pasif, cepat bosan, dan sulit mencapai hasil yang optimal (Nurhasanah & Sobandi, 2. Sardiman . menegaskan bahwa minat belajar berhubungan erat dengan motivasi. ketika minat rendah, motivasi pun ikut menurun, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara maksimal. Fenomena rendahnya minat belajar ini salah satunya dipengaruhi oleh metode pembelajaran guru. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dalam mata pelajaran SKI, guru cenderung menggunakan metode ceramah sebagai strategi utama. Metode ini memang efisien dalam menyampaikan informasi yang padat, tetapi ketika digunakan secara berulang tanpa variasi, akan menimbulkan kejenuhan. Pembelajaran kemudian menjadi searah, guru aktif berbicara sementara siswa hanya menjadi pendengar. Kondisi ini diperparah dengan karakteristik generasi muda saat ini yang lebih terbiasa dengan pembelajaran interaktif, kolaboratif, dan berbasis teknologi (Rikawati & Sitinjak, 2. Berbagai menegaskan pentingnya variasi metode dalam membangkitkan minat belajar siswa. Budiasningrum . menekankan bahwa pemilihan metode yang tepat dan sesuai gaya belajar terbukti dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman, menyenangkan, serta mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Situmeang . melalui penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan metode yang bervariasi, mulai dari ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan, hingga penghargaan dan hukuman, berkontribusi positif terhadap tumbuhnya partisipasi dan ketertarikan siswa dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan itu. Rimahdani dkk . menambahkan bahwa variasi metode akan lebih efektif apabila didukung dengan pemanfaatan media pembelajaran yang sesuai, karena kombinasi metode dan media mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih hidup, menarik, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Fakta-fakta ini semakin memperkuat dugaan bahwa rendahnya minat belajar siswa dalam pelajaran SKI di MI Darul Hikmah Pamulang tidak hanya dipengaruhi faktor internal siswa, melainkan juga erat kaitannya dengan metode guru yang Dengan kata lain, inovasi pembelajaran berbasis variasi metode dan media menjadi kebutuhan mendesak agar SKI dapat dipahami bukan sekadar hafalan sejarah, melainkan sebagai sarana penanaman nilai dan keteladanan (Hasanah U. Preliminary research yang kami lakukan di MI Darul Hikmah Pamulang melibatkan peneliti utama bersama enam mahasiswa PPL menemukan gejala nyata terkait rendahnya minat belajar siswa pada mata pelajaran SKI. Observasi lapangan menunjukkan siswa tampak pasif, kurang memberikan respon ketika guru menjelaskan, jarang bertanya, dan bahkan beberapa terlihat tidak fokus mengikuti pembelajaran. Dari hasil wawancara awal, sebagian siswa mengaku bahwa SKI terasa membosankan karena penyampaian materi bersifat repetitif dan jarang melibatkan aktivitas interaktif. Guru pun membenarkan kondisi ini dengan alasan keterbatasan waktu, padatnya kurikulum, serta belum adanya kebiasaan untuk menggunakan metode pembelajaran alternatif. Temuan tersebut mengindikasikan adanya kesenjangan antara tujuan ideal pembelajaran SKI dengan praktik yang terjadi di lapangan. Seharusnya, pembelajaran SKI mampu menghidupkan nilai-nilai dari sejarah Islam sehingga menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap agamanya. Namun, kenyataan di MI Darul Hikmah Pamulang menunjukkan bahwa potensi tersebut belum tergali karena metode pembelajaran yang terbatas. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk mendeskripsikan kondisi minat belajar siswa pada mata pelajaran SKI sekaligus menganalisisnya dalam perspektif metode pembelajaran yang digunakan guru. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan dilaksanakan secara kolaboratif antara dosen pembimbing dengan enam mahasiswa PPL. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan gambaran faktual mengenai minat belajar siswa, menjadi bahan refleksi bagi guru untuk memperkaya variasi metode pembelajaran. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 3 serta menjadi masukan bagi pihak sekolah dalam pembelajaran keagamaan di masa mendatang. Tinjauan Literatur Minat belajar dipahami sebagai kecenderungan afektif-kognitif yang mengarahkan perhatian, ketekunan, dan kedalaman keterlibatan siswa terhadap objek belajar tertentu (Hidi & Renninger. Model empat fase perkembangan minat menegaskan bahwa minat dapat dipicu . , dipelihara secara situasional, lalu berkembang menjadi minat individual yang stabilAidan seluruh lintasan ini amat sensitif terhadap desain pembelajaran dan interaksi guru (Hidi & Renninger. Renninger & Hidi, 2. Dalam konteks SKI, ini berarti strategi pedagogis yang mampu memantik rasa ingin tahu historis . isal studi kasus, kisah tokoh, artefak visua. berpeluang mengubah Kerangka engagement menjelaskan mekanisme . artisipasi/tuga. , . etertarikan/kenyamana. , dan kognitif . trategi berpikir mendala. yang saling terkait dan dapat dimodulasi oleh praktik guru (Fredricks. Blumenfeld, & Paris, 2. Literatur menunjukkan engagement itu plastis dan responsif terhadap fitur kelasAivariasi metode, kualitas interaksi, dan relevansi materiAi sehingga SKI yang dibawakan secara naratifdialogis, kolaboratif, dan kontekstual lazimnya meningkatkan ketiga dimensi tersebut (Fredricks et , 2. Dari sisi motivasi, teori expectancyAevalue menekankan bahwa pilihan dan ketekunan akademik ditentukan oleh ekspektasi keberhasilan dan nilai tugas . ntrinsik, utilitas, biay. (Wigfield & Eccles. Metode guru yang memperjelas tujuan, mengaitkan SKI dengan isu kontemporer . publik, kewargaa. , serta memberi pengalaman keberhasilan bertahap akan menaikkan ekspektasi dan nilai yang dirasakan siswa. Sejalan itu. SelfDetermination Theory (SDT) menyatakan dukungan terhadap kebutuhan dasar otonomi, kompetensi, dan keterhubungan menaikkan motivasi intrinsik dan keterlibatan yang berkelanjutan. gaya mengajar yang mengembangkan, dan relasi hangat terbukti memfasilitasi minat belajar (Ryan & Deci, 2000. Ryan & Deci, 2. Literatur terapan pada SKI di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang konsisten: variasi metode . iskusi terstruktur, peta konsep, edutainment, quantum learning, dan media digita. berkorelasi positif dengan minat dan hasil Studi kualitatif di MAN/MTs melaporkan bahwa dominasi ceramah menjadi kendala, sementara peta konsep dan diskusi meningkatkan keaktifan serta antusiasme (Kusnanto, 2023. QuranicEdu, 2. Pengembangan media SKI berbasis storyboard/multimedia dan kuis interaktif juga dilaporkan meningkatkan hasil sekaligus minat belajar (Khairul Anwar & Daulai, 2023. Darise et al. Penelitian terbaru menekankan variasi gaya mengajar, media, pola interaksi, dan kegiatan sebagai determinan antusiasme siswa SKI (Rahmawati, 2. Laporan etnografis-praktis lainnya menunjukkan bahwa siswa Autidak anti-SKIAy, tetapi membutuhkan metode yang menjaga perhatian dan relevansi personal (Ilham Aditya, 2. Di sisi hubungan/pola utama, sintesis menunjukkan: metode yang memicu atensi (ARCS: Attentio. , menegaskan relevansi (Relevanc. , memberi pengalaman keberhasilan (Confidenc. , dan (Satisfactio. menaikkan minat (Keller, 2. strategi kooperatif, peta konsep, dan narasi historis memfasilitasi transisi dari minat situasional ke minat individual (Hidi & Renninger, 2. dukungan otonomi dan kompetensi dari guru menjadi prasyarat engagement mendalam pada materi historis yang menuntut penalaran dan empati (Ryan & Deci, 2000. Fredricks et al. , 2. Kekuatan literatur SKI Indonesia ialah kedekatan konteks . adrasah, kurikulum KMA 183/2. dan deskripsi kaya tentang praktik kelas, sehingga (Kementerian Agama RI, 2. Banyak studi menilai langsung persepsi/minat siswa setelah intervensi metode atau media (Khairul Anwar & Daulai, 2023. Rahmawati, 2. Kelemahannya: dominasi desain kualitatif deskriptif, ukuran sampel terbatas, absennya kelompok kontrol, dan ukuran minat yang belum tervalidasi lintas studi. Pengukuran sering mencampur minat, sikap, dan kepuasan belajar tanpa instrumen psikometrik yang tegas . ihat telaah kritis Fredricks et al. , 2. Dari sini tampak kesenjangan penelitian: . sedikit studi eksperimental/kuasi-eksperimental pada SKI yang menilai efek kausal metode guru terhadap minat dengan kontrol yang memadai. minim studi longitudinal yang melacak transisi minat (HidiAeRenninge. sepanjang semester/tahun. kurang integrasi model motivasi (SDT, expectancyAevalue. ARCS) sebagai dasar desain intervensi dan konstruksi instrumen. terbatasnya validasi instrumen minat spesifik-SKI yang reliabel. Ada pula bukti yang beragam: beberapa laporan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 4 | JPI. Vol. No. September 2025 menyebut ceramah masih efektif bila dipadu kisah dan tanya jawab, namun kebanyakan temuan menurunkan atensi pada topik faktual-naratif SKI (QuranicEdu, 2023. Kusnanto, 2. Sebagai latar yang kuat bagi penelitian ini, posisi konseptual yang disarankan adalah: . mendefinisikan minat belajar SKI sesuai model empat fase (Hidi & Renninger, 2. mendesain intervensi metode guru yang eksplisit berbasis ARCS SDT ukungan otonomi/kompetensi/relasi. perhatian-relevansikepercayaan-kepuasa. mengukur outcome pada tiga dimensi engagement (Fredricks et al. , 2. serta indikator minat . ituasionalAeindividua. menguji jalur expectancyAevalue Ie engagement Ie menyesuaikan konten dengan KMA 183/2019 untuk menjaga keselarasan kurikulum. Dengan kerangka ini, studi Anda berpotensi mengisi celah . ksperimental/mixed-method. , instrumentasi . alidasi skala minat SKI), dan integrasi teori-praktik yang selama ini kurang tampak di literatur nasional Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena tujuan utama penelitian adalah menggambarkan kondisi minat belajar siswa pada mata pelajaran SKI serta menganalisisnya berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan guru (Syahrizal & Jailani, 2. Pendekatan ini dipandang tepat sebab penelitian kualitatif lebih menekankan pemahaman makna, konteks, dan fenomena yang terjadi di lapangan daripada sekadar angka statistik. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai realitas pembelajaran SKI di sekolah (Assyakurrohim et al. , 2. Penelitian dilaksanakan di MA Darul Hikmah Pamulang, yaitu sekolah tempat mahasiswa melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Subjek penelitian terdiri atas guru mata pelajaran SKI serta siswa yang mengikuti pembelajaran Fokus penelitian diarahkan pada dua aspek, yaitu bagaimana kondisi minat belajar siswa dan bagaimana metode pembelajaran guru yang berperan dalam membentuk minat tersebut. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini bersifat Penelitian dilakukan secara kolaboratif antara dosen pembimbing PPL dengan enam mahasiswa PPL. Tim peneliti berperan langsung dalam pengumpulan data melalui observasi kelas, wawancara dengan guru dan siswa, serta pengumpulan dokumen pendukung seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan catatan hasil belajar siswa. Kolaborasi ini memberikan keuntungan berupa beragam perspektif, sehingga temuan yang diperoleh lebih kaya dan objektif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mencatat secara sistematis perilaku guru dan respon siswa selama proses pembelajaran SKI. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru SKI serta beberapa siswa yang dipilih secara purposif untuk memperoleh gambaran pengalaman dan persepsi Dokumentasi diperoleh dari berbagai arsip sekolah yang berkaitan dengan pembelajaran SKI. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif dari Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilah dan menyederhanakan data mentah sesuai fokus penelitian. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk narasi mempermudah pemahaman. Dari proses tersebut kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat sementara dan akan dikonfirmasi kembali dengan data tambahan. Untuk menjamin keabsahan temuan, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Informasi dari observasi, wawancara, dan dokumentasi dibandingkan dan dikonfirmasi silang. Selain itu, diskusi antar anggota tim peneliti juga dilakukan sebagai bentuk peer debriefing, guna meminimalisasi bias dan memastikan temuan lebih Dengan metodologi ini, penelitian komprehensif tentang minat belajar siswa pada mata pelajaran SKI, sekaligus memperlihatkan sejauh mana metode pembelajaran guru memengaruhi semangat siswa dalam mengikuti pelajaran. Hasil KONDISI MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SKI Hasil pengamatan tim peneliti menunjukkan bahwa tingkat minat belajar siswa dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MI Darul Hikmah Pamulang masih berada pada kategori Gambaran ini terlihat jelas dari perilaku siswa di kelas: sebagian besar hadir secara fisik, tetapi tidak terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Mereka mendengarkan penjelasan guru tanpa menunjukkan respons yang berarti, jarang mengajukan pertanyaan, dan minim kontribusi Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 5 dalam diskusi. Bahkan, beberapa siswa tampak melakukan aktivitas di luar pembelajaran, seperti berbincang dengan teman sebangku atau memainkan Wawancara mempertegas temuan ini. Mereka menganggap SKI identik dengan hafalan panjang tentang kronologi peristiwa, nama tokoh, dan tahun-tahun penting. Bagi mereka, pelajaran ini kurang menarik karena hanya menuntut daya ingat, bukan pemahaman makna atau relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Sebagian siswa bahkan menyebut SKI sebagai pelajaran AutambahanAy yang tidak lebih penting dibandingkan mata pelajaran eksakta. Pandangan semacam ini membuat minat mereka semakin menurun, meski dalam kurikulum. SKI memiliki posisi strategis untuk membangun kepribadian, identitas, dan kesadaran sejarah Islam. Fenomena ini menguatkan pandangan Ani Dwi Yanti dan Durinta Puspasari . bahwa minat belajar ditandai oleh adanya perhatian, keterlibatan aktif, dan rasa senang terhadap pelajaran. Ketiga indikator ini hampir tidak tampak pada siswa dalam pembelajaran SKI. Akibatnya, proses belajar tidak hanya gagal menumbuhkan rasa ingin tahu, tetapi juga menghambat pencapaian aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang seharusnya menjadi tujuan akhir pembelajaran. Dengan demikian, rendahnya minat belajar siswa dalam SKI tidak hanya menjadi persoalan teknis pembelajaran, tetapi juga persoalan strategis yang berkaitan dengan fungsi pendidikan Islam dalam membentuk karakter. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka SKI akan kehilangan perannya sebagai mata pelajaran yang menanamkan nilai moral, keteladanan tokoh, dan kesadaran sejarah Islam. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mendalam untuk menggali faktor-faktor penyebab rendahnya minat belajar siswa, khususnya dari aspek metode pembelajaran guru, sehingga dapat ditemukan solusi inovatif dalam mengembangkan model pembelajaran SKI yang lebih kreatif, interaktif, dan kontekstual. METODE PEMBELAJARAN GURU SKI Temuan di lapangan menunjukkan bahwa guru SKI masih sangat bergantung pada metode ceramah. Hampir semua pertemuan berlangsung dengan pola guru menjelaskan materi secara verbal, kemudian memberi instruksi untuk mencatat atau merangkum. Kegiatan interaktif, seperti diskusi atau tanya jawab, hanya muncul sesekali dan bersifat formalitas. Guru menyatakan bahwa alasan utama menggunakan ceramah adalah efisiensi. Dengan kurikulum yang padat, guru merasa perlu menyampaikan materi sebanyak mungkin dalam waktu terbatas. Ceramah dianggap sebagai cara paling cepat untuk memenuhi tuntutan tersebut. Akan tetapi, konsekuensinya, suasana kelas menjadi monoton dan membosankan. Dari hasil observasi, terlihat bahwa dalam kelas berjumlah lebih dari 30 siswa, hanya segelintir yang benar-benar aktif, sementara sisanya pasif atau mengalihkan perhatian pada hal lain. Kondisi ini menunjukkan masih kuatnya orientasi teacher-centered learning, di mana guru menjadi pusat kegiatan belajar dan siswa berperan sebagai pendengar pasif. Padahal, paradigma pendidikan modern menekankan student-centered learning, yakni pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi gagasan, bekerja sama, dan menemukan makna materi secara mandiri. (MarfuAoah, 2. Metode ceramah memang efektif untuk menyampaikan informasi yang banyak dalam waktu singkat, tetapi jika digunakan terus-menerus akan menimbulkan kejenuhan. Daya konsentrasi siswa menurun drastis setelah 15Ae20 menit pertama, sehingga penyampaian materi berikutnya kurang terserap optimal (Tafonao et. , 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hidayat . yang menegaskan bahwa metode ceramah masih menjadi pilihan utama guru agama di banyak sekolah karena keterbatasan waktu dan beban Namun, dampaknya adalah rendahnya interaksi dan keterlibatan siswa. Oleh karena itu. Hidayat menyarankan penggunaan kombinasi strategi, seperti diskusi kelompok, permainan peran . ole pla. , atau simulasi sejarah, agar pembelajaran lebih hidup (Dafid Fajar Hidayat, 2. KETERKAITAN METODE DENGAN RENDAHNYA MINAT BELAJAR Dari hasil penelitian, tampak jelas adanya hubungan erat antara metode pembelajaran monoton dengan rendahnya minat belajar siswa. Observasi memperlihatkan bahwa ketika guru hanya berceramah, suasana kelas cenderung pasif, siswa mudah bosan, dan keterlibatan mereka menurun. Namun, pada momen tertentu ketika guru memvariasikan strategi, misalnya melalui tanya jawab singkat atau meminta siswa membacakan materi, antusiasme siswa terlihat sedikit meningkat, meskipun belum signifikan. Wawancara dengan siswa juga menguatkan hal Mereka menyatakan bahwa SKI menjadi lebih menarik apabila guru menggunakan variasi metode, seperti menayangkan video dokumenter, mengajak Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 6 | JPI. Vol. No. September 2025 siswa bekerja dalam kelompok, atau menyajikan kisah tokoh Islam dengan gaya bercerita. Namun, variasi tersebut hanya sesekali dilakukan sehingga tidak cukup untuk membangun motivasi belajar secara konsisten. Menurut Sardiman . , minat belajar hanya dapat dipelihara jika siswa diberi pengalaman yang bervariasi dan bermakna. Sementara itu, teori motivasi humanistik menekankan bahwa siswa membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri, berpartisipasi, dan merasa dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, motivasi belajar melemah, yang pada gilirannya menurunkan minat. Dengan kata lain, pembelajaran satu arah yang monoton jelas bertentangan dengan prinsip dasar peningkatan minat belajar. Hasil penelitian ini selaras dengan temuan Saputra dkk . bahwa penerapan model cooperative learning mampu meningkatkan motivasi siswa karena menciptakan rasa kebersamaan dan tanggung jawab (Saputra et al. Nugraha dan Lestari . juga membuktikan bahwa diskusi kelompok dan pembelajaran berbasis masalah dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa (Trisna Nugraha & Puji Ayu Lestari, 2. Dengan membandingkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran yang terbatas dan berulang merupakan salah satu penyebab utama rendahnya minat belajar SKI di MI Darul Hikmah Pamulang. Lebih jauh, teori konstruktivisme Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman belajar yang bermakna (Vygotsky, 1. Dalam konteks ini, dominasi guru yang tinggi dalam proses pembelajaran justru menghambat terbentuknya interaksi yang produktif. Ketika siswa hanya diposisikan sebagai pendengar pasif, mereka kehilangan kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuan secara aktif. Dengan demikian, pembelajaran SKI akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan berdialog, berdiskusi, dan mengaitkan materi dengan pengalaman nyata. Inilah yang menjadikan variasi metode bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan esensial dalam pembelajaran sejarah Islam. Selain itu, penggunaan teknologi pendidikan perlu dipertimbangkan sebagai alternatif strategi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa integrasi media audiovisual, aplikasi pembelajaran digital, maupun platform interaktif dapat meningkatkan motivasi sekaligus memperkuat minat siswa (Munir. Warsita, 2. Misalnya, film dokumenter tentang peradaban Islam atau timeline digital mengenai masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih Dengan demikian, pemanfaatan teknologi bukan hanya sekadar variasi, melainkan bagian integral dari strategi pedagogis di era digital. Pembahasan ini menegaskan bahwa perbaikan metode pembelajaran SKI tidak dapat dilepaskan dari perubahan paradigma guru. Guru yang masih memandang SKI sebatas kewajiban kurikulum cenderung bertahan pada metode ceramah. Sebaliknya, guru yang memahami SKI sebagai media pembentukan karakter akan berusaha mencari strategi yang lebih kreatif dan bermakna. Dukungan kelembagaan juga penting, berupa pelatihan inovasi pembelajaran, penyediaan media yang relevan, serta bereksperimen dengan model-model baru (Tobing & Hasanah, 2. Dengan kombinasi upaya guru dan dukungan sekolah, pembelajaran SKI dapat direvitalisasi agar kembali menarik, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan siswa. Dikusi Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya jarak yang cukup lebar antara apa yang diharapkan dari pembelajaran SKI dengan realitas yang terjadi di Idealnya. SKI diposisikan sebagai ruang belajar untuk menanamkan nilai-nilai moral, memperkuat kesadaran sejarah Islam, serta menumbuhkan kebanggaan identitas keislaman pada diri siswa. Namun, yang tampak di lapangan justru SKI sering diperlakukan sebatas mata pelajaran hafalan, di mana siswa diminta mengingat fakta, nama tokoh, dan tahun-tahun tertentu tanpa pendalaman makna. Situasi ini menjadikan pelajaran terasa kaku, mekanis, dan kurang menyentuh sisi afektif siswa. Jika melalui perspektif konstruktivisme, pembelajaran seharusnya memberi peluang bagi siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksi, pengalaman, dan (Mawardi, 2. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang menghadirkan stimulus, bukan sebagai satu-satunya sumber Akan tetapi, praktik yang teramati di MA Darul Hikmah Pamulang menunjukkan dominasi guru yang sangat tinggi dalam kelas. Guru menjadi pusat pembelajaran, sementara siswa hanya menjadi pendengar pasif. Keadaan ini berimplikasi pada hilangnya makna pembelajaran SKI, karena siswa tidak diajak untuk mengkonstruksi pengetahuan secara aktif. Kondisi ini memiliki konsekuensi serius terhadap kualitas pembelajaran. Apabila SKI hanya Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 7 dipahami sebagai mata pelajaran hafalan, maka siswa akan kesulitan merasakan relevansinya dengan kehidupan nyata. Padahal, sejarah Islam sarat dengan pelajaran berharga mengenai kepemimpinan, keadilan sosial, strategi dakwah, dan nilai-nilai moral yang justru sangat dekat dengan problematika generasi muda. Ketika guru tidak mengaitkan materi dengan konteks kontemporer, siswa akan memandang SKI tidak lebih dari kumpulan cerita masa lalu yang tidak berguna dalam kehidupan Oleh sebab itu, temuan ini menegaskan pentingnya inovasi dalam metode pembelajaran. Guru tidak cukup hanya mengandalkan ceramah, tetapi harus berani menggunakan strategi yang lebih bervariasi (Tuti Syafrianti & Khoirul Latifah, 2. Misalnya, melalui diskusi kelompok siswa dapat belajar bekerja sama sekaligus melatih daya dengan role play atau permainan peran, siswa bisa merasakan kembali situasi sejarah dan mengambil nilai teladan dari tokoh-tokoh Islam. sementara dengan metode kisah . tory tellin. , guru bisa menyampaikan peristiwa sejarah dengan cara yang lebih menarik dan menyentuh emosi. Selain itu, penggunaan media audiovisual seperti film dokumenter sejarah atau infografis interaktif juga mampu menghadirkan suasana belajar yang lebih Lebih jauh lagi, pembelajaran SKI akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan isu-isu kekinian yang dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya, ketika membahas kebijakan Umar bin Khattab tentang keadilan, guru dapat mengaitkannya dengan persoalan sosial seperti distribusi bantuan masyarakat atau prinsip keadilan di era modern. Dengan cara ini, siswa tidak hanya menghafal fakta sejarah, tetapi juga mampu memahami nilai aplikatifnya untuk kehidupan masa kini. Dari sisi kelembagaan, sekolah juga memiliki peran penting. Guru membutuhkan dukungan berupa pelatihan inovasi pembelajaran, penyediaan media yang relevan, serta kebijakan yang memberi ruang bagi penerapan metode yang lebih kreatif. Tanpa dukungan sistemik, guru akan sulit keluar dari rutinitas mengajar yang seragam (Tobing & Hasanah. Dengan adanya dukungan institusi, guru dapat lebih percaya diri dalam mengeksplorasi metode pembelajaran baru yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain perspektif konstruktivisme, analisis terhadap rendahnya minat belajar SKI juga dapat dipahami melalui pendekatan pendidikan kritis yang dikembangkan oleh Paulo Freire. Menurut Freire . , sistem pendidikan yang hanya menekankan hafalan menciptakan apa yang disebut banking education, di mana siswa sekadar menjadi wadah kosong yang diisi oleh guru. Praktik ini menjadikan siswa pasif dan kehilangan daya kritis. Kondisi tersebut sejalan dengan temuan penelitian ini, di mana dominasi guru menghambat partisipasi aktif SKI semestinya tidak hanya menyampaikan pengetahuan sejarah, tetapi juga mendorong siswa untuk merefleksikan nilai moral dan sosial dalam konteks kekinian. Dari sisi psikologi pendidikan, teori motivasi humanistik Maslow juga relevan untuk menjelaskan fenomena ini. Menurut Maslow . , motivasi belajar akan tumbuh apabila kebutuhan psikologis siswa, seperti penghargaan diri dan aktualisasi diri, dapat terpenuhi. Jika pembelajaran SKI hanya berorientasi pada hafalan, maka kebutuhan tersebut tidak tersentuh. Sebaliknya, apabila guru membuka ruang bagi siswa untuk berkreasi, berdiskusi, atau bahkan mempresentasikan hasil proyek sejarah, mereka akan merasa dihargai dan termotivasi. Dengan demikian, pembelajaran yang variatif berfungsi ganda: tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif, tetapi juga menguatkan aspek afektif siswa. Integrasi teknologi juga tidak dapat diabaikan dalam pembelajaran SKI di era digital. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa penggunaan media interaktif mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa (Munir, 2020. Warsita, 2. Misalnya, guru dapat memanfaatkan platform learning management system untuk memberikan kuis berbasis game, atau menggunakan media sosial untuk membuat konten edukatif terkait sejarah Islam. Dengan cara ini. SKI menjadi lebih dekat dengan keseharian siswa yang akrab dengan teknologi, sehingga minat belajar dapat ditumbuhkan secara lebih natural. Lebih dari itu, pendekatan interdisipliner juga perlu mendapat perhatian. Sejarah Islam tidak seharusnya diajarkan secara terisolasi, melainkan dikaitkan dengan bidang ilmu lain. Misalnya, kebijakan ekonomi pada masa Rasulullah dapat dijadikan titik temu dengan pelajaran ekonomi modern, atau strategi diplomasi Nabi Muhammad dapat dikaitkan dengan ilmu hubungan internasional. Menurut Tilaar . , pendekatan lintas disiplin mampu membangun pemahaman yang lebih komprehensif dan menumbuhkan relevansi pembelajaran dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu. SKI sebaiknya diposisikan sebagai mata pelajaran yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai historis, tetapi juga membentuk wawasan interdisipliner siswa. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 8 | JPI. Vol. No. September 2025 Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengungkap kondisi rendahnya minat belajar siswa pada SKI, tetapi juga menunjukkan akar penyebab sekaligus peluang perbaikan. Guru dituntut untuk mengubah pola mengajar yang monoton, sementara sekolah diharapkan mampu menyediakan sarana, kesempatan, dan atmosfer akademik yang kondusif bagi lahirnya pembelajaran SKI yang lebih menarik, kontekstual, dan bermakna. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat belajar siswa pada mata pelajaran SKI di MA Darul Hikmah Pamulang masih berada pada kategori Indikatornya terlihat dari kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, sikap pasif ketika guru menyampaikan materi, serta persepsi negatif mereka yang menganggap SKI sebagai pelajaran hafalan yang kering dan Rendahnya minat ini tidak berdiri sendiri, tetapi erat kaitannya dengan metode pembelajaran yang digunakan guru. Dominasi metode ceramah tanpa variasi membuat suasana belajar cenderung monoton, sehingga siswa tidak memiliki kesempatan luas untuk terlibat aktif maupun menemukan makna mendalam dari materi yang dipelajari. Kesenjangan antara tujuan ideal pembelajaran SKI dengan praktik di kelas pun semakin nyata. SKI sejatinya diharapkan menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, mengambil teladan dari tokoh-tokoh Islam, serta memperkuat identitas keislaman siswa. Namun, dalam praktiknya, pelajaran ini lebih sering dipersepsi sebagai beban Situasi ini menunjukkan bahwa rendahnya minat belajar siswa tidak semata-mata disebabkan faktor internal, melainkan sangat dipengaruhi oleh pola pengajaran yang kurang inovatif. Berdasarkan temuan tersebut, guru diharapkan mampu memperkaya variasi metode pembelajaran, baik melalui diskusi kelompok, permainan peran, maupun penggunaan media audiovisual agar suasana belajar lebih hidup dan mendorong keterlibatan Siswa juga perlu didorong untuk lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan mencari referensi tambahan, sehingga pembelajaran tidak hanya berhenti pada hafalan. Di sisi lain, sekolah memiliki peran penting dalam mendukung guru, misalnya dengan memberikan pelatihan inovasi mengajar, menyediakan sarana pembelajaran yang memadai, serta menciptakan iklim akademik yang kondusif bagi lahirnya pembelajaran yang kreatif. Penelitian ini masih terbatas pada deskripsi kondisi lapangan sehingga hasilnya lebih bersifat potret Untuk penelitian berikutnya, penting dilakukan kajian eksperimental guna menguji efektivitas metode pembelajaran tertentu dalam meningkatkan minat belajar siswa SKI. Dengan demikian, penelitian lanjutan tidak hanya memaparkan persoalan, tetapi juga menawarkan solusi konkret yang teruji secara empiris. Persembahan Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan penelitian ini, baik secara profesional maupun Secara khusus, penghargaan diberikan kepada pihak sekolah dan para guru yang telah bersedia memberikan data serta informasi berharga, sehingga penelitian berjudul AuAnalisis Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran SKI dalam Perspektif Metode Pembelajaran GuruAy dapat diselesaikan dengan baik. Terima kasih juga kepada lembaga pendidikan dan institusi akademik yang telah memberikan dukungan moral, bimbingan ilmiah, serta fasilitas penelitian yang sangat berarti dalam mewujudkan makalah ini. Referensi