10 PENGARUH FINANCIAL DISTRESS TERHADAP AUDIT DELAY DIMODERASI OLEH UKURAN PERUSAHAAN (Studi Empiris pada Perusahaan LQ45 yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2. Nindy Puspitasari Nindy. pupsitasari@me. STIE Pontianak ABSTRACT This research to examine and alayze the influence of Financial Distress on Audit Delay and to determine whether the firms size in the moderating influence of the Financial Distress to Audit Delay in LQ 45 index on the Indonesia Stock Exchange during the period 2014-2017, sample are taken as much as 44. This type of research uses a quantitative approach. The population in this study are industrial and basic chemical manufacturing companies, various industrial sectors and industrial goods sectors and consumption that has been registered in LQ45. The sampling method used in this study was purposive sampling. Statistical testing is using SPSS 25 software Moderating Regression Analysis. Financial Distress has a positive significance effect on audit delay. Company size does not moderate the effect of financial distress on audit delay. Keywords : Financial Distress. Audit Delay. Company Size PENDAHULUAN Berkembangnya pasar Modal berdampak pada perdaganga saham yang ada di BEI (Bursa Efek Indonesi. sehingga perusahaan wajib melaporan laporan keuangannya yang disiapkan oleh manajeman kepada pihak Ae pihak yang berkepentingan salah satunya adalah Badan Pengawasan pasar Modal dan Lembaga Keuanga. Menurut Sunaningsih . Laporan Keuangan merupakan awal informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan dalam entitas. Laporan Keuangan yang dapat digunakan Ketika laporan keuangan tersebut dapat dipublikasikan ke masyarakat paling lambat 90 hari sesuai dengan Keputusan Ketua Badan Pengawasan Modal dan Lembaga Keuangan Nomor : Kep-346/BL/2011 Keterlambatan dalam pelaporan keuangan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 29/POJK. 04/2016 mewajibkan setiap perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada OJK paling lambat bulan ke empat setelah tahun buku berakhir. Apabila terdapat perusahaan yang melakukan keterlambatan dalam pelaporan akan dikenakan sanksi administratif seperti: denda, peringatan, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha, pembatalan persetujuan dan pembatalan pendaftaran. Dalam pemberian sanksi yang dibuat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 membuat perusahn menjadi disiplin dalam melakukan pelaporan keuangan dari waktu ke waktu. Masih banyak perusahaan yang melakukan keuanganya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa Efek Indonesia melaporkan terdapat 17 perusahan yang tercatat belum menyampaikan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2016. Selian itu belum menyampaikan denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan berdasrakan ketentuan II. 3 Peraturan BEI Nomor I-H tentang Sanksi, bursa telah memberikan tertulis i dan denda sebesar Rp 150 Juta kepada perusaahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangan perauditan 31 Desember 2016. elain itu, mengacu ketentuan II. 4 Peraturan Nomor I-H tentang sanksi, bursa mensuspensi apabila mulai hari kalender ke-91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan, perusahaan tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan Perusahaan tercatat juga telah menyampaikan laporan keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sebagaimana dimaksud dalam ketentuan II. 2 dan II. Ketepatan mempublikasi laporan keuangan juga tergantung pada pekerjaan auditornya. Giwang . menyatakan dengan adanya tanggungjawab auditor yang besar mendorong auditor untuk bekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). Standar Audditing yang berterima umum atas laporan keuangan memiliki keterbatasan melekat, salah satunya auditor bekerja dalam suatu Batasan ekonomi pemenuhan standar umum ketiga menyebutkan bahwa pelaksanaan yang dilakukan audit dan penyusunan dalam pelporan keuangan wajib menggunakan kepandaian dalam menyusunan dengan cermat dan seksama (IAPI,2. Atas dasar standar yang dibuat oleh IAPI dapat terjadinya keterlambatan dalam pelaporan keuangan yang dilakukan auditor, lamanya waktu penyelesaian pelaporan diistilahkan Audit Delay. Audit Delay adalah istilah dari keterlambatan akan pelaporan keuangan. Menurut Subekti dan Widiyati dalam Esynasali . Audit Delay adalah perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan menindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan oleh auditor. Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi audit delay yang telah diteliti sebelumnya. Palim dan Pratiwi . meneliti tentang pengaruh tekanan perusahaan . inancial distres. dan opini audit terhadap audit delay dimoderasi oleh ukuran Faktor yang akan diuji Kembali adalah tekanan keuangan (Financial Distres. Financial Distress merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mengalami ilikuid akan tetapi masih dalam keadaan Menurut Hanafi . 7 :. Financial Distress dapat digambarkan dari dua titik ekstrem yaitu kesulitan likuiditas jangka pendek, tetapi bisa berkembang menjadi parah. Indikator kesulitan keuangan dapat dilihat berdasarkan Analisa aliran kas. Analisa strategi dan laporan keuangan Beberapa penelitian menyatakan bahwa Financial Distress berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay sesuai dengan pernyataan Saemangani . Rachmawati . dan Surasa, dkk . pernyataan ini berbeda dengan penelitian Dewi & Wiratmaja . bahwa Financial Distress berpengaruh signifikan terhadap audit delay karena semakin tinggi suatu perusahaan mengalami financial distress mencerminkan adanya berita kurang baik dalam laporan keuangan akan tetapi dengan akan berita kurang baik ini dapat mendorong manajeman untuk dapat melaporkan laporan keuangan dengan cepat. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hasil yang tidak konsisten terhadap factor yang berpengaruh terhadap audit delay. Sehingga diduga terdapat variable moderasi pengaruh factor Ae factor yang terdapat dalam audit delay. Menurut Sembiring JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 . Ukuran perushaan diduga menjadi factor yang mempengaruhi audit delay karena besar kecilnya ukuran perusahaan sangat mempengaruhi keputusan manajeman dalam menjalankan kegiatan menentukan seberapa mudah mendapatkan dana dari pasar modal. Menurut Dewi & Wiratmaja . ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan yang dinyatakan didalam total aktiva, nilai pasar saham dan lain lainnya. Beberapa penelitian mengatakan bahwa Ukuran Perusahaan tidak memoderasi Financial Distress terhadap Audit Delay Palim & Pratiwi . karna besar kecilnya suatu ukuran perusahaan dengan tingkat Financial Distress yang tinggi akan mencerminkan suatu resiko Financial Distress sehingga perusahaan akan menekan serendah-rendahnya hutang sehingga menunda laporan keuangnnya. Penelitian ini berbeda dengan penelitian Pravita, dkk . menyatakan bahwa ukuran perusahaan memoderasi pengaruh tekanan pada audit delay dimana pengaruh tersebut memperlemah Financial Distress pada Audit Delay. Berdasarkan ketidak konsistenan hasil dari beberapa penelitian sebelumnya peniliti ingin menguji Kembali dengan menggunakan judul Pengaruh Financial Distress terhadap Audit Delay dimoderasi oleh Ukuran Perusahaan (Studi Empiris pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini Apakah terdapat Pengaruh Financial Distress terhadap Audit Delay (Studi Empiris pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2. ? Apakah terdapat Pengaruh Financial Distress terhadap Audit Delay dimoderasi oleh Ukuran Perusahaan (Studi Empiris pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2. ? TINJAUAN TEORETIS 1 Landasan Teori dan Kajian Empiris 1 Teori Sinyal (Signaling Theor. Seorang manajeman akan memberikan pentujuk bagaimana manajaman dapat melihat kemajuan perusahan. Teori Sinyal berisi tentang informasi tentang apa yang sudah dikerjakan oleh manajeman untuk merealisasikan keinginan Hasil yang diharapkan oleh perusahaan adalah hal yang paling penting karena terdapat pengaruh untuk keputusan investasi para investor dan pelaku bisnis karena informasi tersebut terdiri dari laporan keuangan, catatan atau gambaran, baik caatan keadaan masa depan perusahaan dan going concern suatu perusahaan. Menurut Arifin . Signalling theory menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorangan untuk memberikan informasi laporan keuangan kepada pihak ekternal. Dengan dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan dating dari pihak luar . nvestor dan kredito. Apabila terdapat kekurangan yang diberikan suatu perusahaan kepada investor menyebabkan pihak lain . nvestor( dapat memberikan penilain yang rendah untuk perusahaan. Terdapat Terdapat cara perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi asimetri dengan memberikan sinyal kepada pihak luar . (Arifin, 2. Menurut Jogiyanto . Signalling Theory menekankan kepada pentingnya suatu informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak diluar Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya. Informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan investasi. Jansen dan Meckling . dalam Dewi 2017 bahwa hubungan agensi muncul ketika . agent untuk pengambilan wewenang bagi suatu perusahaan, maka pada saat pengembalian wewenang maka keagenan muncul. Permasalahan kepentingan antara principal dan agent dapat terjadi karena adanya sebab, semisal asimetri informasi. Principal membutuhkan auditor untuk meverifikasi informasi yang diberikan oleh manajeman. Manajeman memberikan legitimasi atas kinerja yang mereka lakukan dalam bentuk laporan keuangan. 2 Teori Agensi Opini going concern berkaitan erat dengan teori agensi. Menurut Jensen dan Meckling . teori ini menggambarkan hubungan antara dua individu yang saling mempunyai kepentingan yang berbeda yang dimana menggambarkan adanya sebuah hubungan kontrak yang terjadi antara agen . dengan pemilik . Pada teori ini, pihak manajemen atau agen bertanggung jawab terhadap kelangsungan usaha perusahaan yang dipimpinnya, sedangkan pemilik perusahaan atau JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 principal adalah pihak yang memberi wewenang kepada agen . untuk melakukan kegiatan operasional perusahaan. Konflik antara agen dan principal dapat menyebabkan timbulnya konflik keagenan. Agen yang merupakan seorang manajer akan mengambil keputusan untuk melakukan berbagai strategi untuk mempertahankan kelangsungan usaha . oing concer. Principal atau pemilik perusahaan telah memberi wewenang kepada agen untuk bertanggung jawab apa yang telah diamanahkan prinsipal terhadap agen . 3 Laporan Keuangan Laporan keuangan sangatlah penting untuk keberlangsungan suatu perusahaan terutama perusahaan sudah go public. Menurut sunaningsih . Laporan keuangan merupakan awal suatu informasi tentang posisi keuangan dan kinerja keuangan dalam perusahaan. Informasi dalam laporan keuangan memiliki nilai dan manfaat aabila disampaikan tepat pada waktunya, sebaiknya tidak akan menjadi relevan dan akurat apabila informasi tersebut disampaikan tidak tepat pada waktunya. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia . dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No. dikemukaan bahwa laporan keuangan merupakan suatu bagian dari proses pelaporan keuangan dan laporan keuangan adalah suatu penyajian struktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. samping itu termasuk juga skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan 4 Audit Delay Audit Delay dapat terjadi Ketika laporan keuangan harus terlebih dahulu untuk diaudit oleh seorang akuntan yang independen. Selain itu Audit Delay ialah interval waktu penyelesaian audit yang diukur dengan dari tanggal tutup buku laporan keuangan . Desembe. sampai tanggal pelaporan. Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan . pada paragraph 43 bahwa : Apabila terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam suatu pelaporan keuangan maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Manajeman mungkin perlu menyeimbangkan manfaat relative antara pelaporan tepat waktu dan Untuk menyediakan informasi tepat waktu, sering kali pelaporan dalam pelaporan transaksi atau peristiwa lainya diketahui, sehingga Sebaiknya, jika pelaporan ditunda sampai seluruh aspek dapat diketahui, informasi yang dihasilkan mungkin sangat handal pengambilan keputusan. Untuk mencapai keseimbangan antara relevansi dan keandalan, kebutuhan pengambil keputusan menentukanAy Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keterlambatan audit adalah lamanya waktu penyelesaian dalam proses audit yang dapat diukur menggunakan secara kuantitatif dalam jumlah hari, antara tanggal tutup buku . Desembe. hingga tanggal diterbitkannya laporan auditor independen. 5 Financial Distress Financial Distress kondisi dimana suaru perusahaan mengalami kondisi dimana illikuid tetapi perusahaan masih dalam keadaan solven dan memiliki hubungan erat dengan kebangkurtan perushaan Berikut beberapa definisi Financial Distress. Pengertian kesulitan keuangan menurut Nagar . sebagai barikut: AuFinancial distress represents a state where firms are facing financial difficulties with respect to poor cash flows and profitability and is a condition where a company cannot meet, or has difficulty paying off, its financial obligations to its creditors, typically due to high fixed costs, illiquid assets or revenues sensitive to economic downturnsAy Menurut Hanafi . financial distress dapat digambarkan dari dua titik ekstrem yaitu kesulitan likuiditas jangka pendek sampai insolvabel. Kesulitan keuangan jangka pendek biasanya bersifat jangka pendek, tetapi bisa berkembang menjadi parah. Indikator kesulitan keuangan dapat dilihat dari analisis aliran kas, analisis strategi perusahaan, dan laporan keuangan perusahaan. Rasio ini mencerminkan penururnan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi Financial Distress JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 dimulai dengan ketidakmampuan memenuhi kewajiban-kewajibannya, terutama kewajiban yang bersifat jangka pendek termasuk kewajiban likuiditas, dan juga termasuk kewajiban dalam kategori solvabilitas. Solvabilitas berguna untuk mengetahui perusahaan membayar hutang jangka panjang maupun jangka pendek. Terdapat beberapa faktor perusahaan mengalami hutang yang tinggi cendrung akan memperlambat penyampaian laporan keuangan untuk menekan Debt to Equity Ratio (DER) serendah- rendahnya dari pada perusahaan yang memiliki hutang yang lebih sedikit atau tidak memiliki hutang. Untuk perusahaan yang memiliki hutang yang besar perusahaan harus memiliki aset yang besar agar mempengaruhi keputusan Dengan demikian Financial Distress yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER) bisa mempengaruhi lamanya waktu penyelesai audit dengan rumus : Ukuran Perusahaan Menurut Brigham dan Houston . Ukuruan Perusahaan adalah : Ukuran perusahaan sendiri merupakan nilai rata-rata dari total penjualan bersih selama satu tahun sampai beberapa periode tertentu sesuai yang ingin dihitung . tahun atau 10 tahun terakhi. Menurut Setiawan . dalam Miradhi & Juliansa . Ukuran perushaan kuran Perusahaan diartikan sebagai suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan dengan berbagai cara antara lain dinyatakan dalam total aktiva, nilai pasar saham, dan lain-lain. Ukuran perusahaan mencerminkan seberapa besar kekayaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan serta mencerminkan ukuran dari perusahaan tersebut. Ukuran pengelompokan perusahaan kedalam beberapa kelompok, ukuran perusahaan dibagi ada perusahaan besar, perushaan sedang dan perushaan kecil. Ukuran perusahaan dapat mencerminkan besar kecilnya perushaan yang didasari pada total asset Rasio ini digunnakan untuk aktivitas operasional perusahaan. Selain itu dapat menggabarkan secara keseluruhan perushaan. Peningkatan asset yang diikuti oleh peningkatan hasil operasi yang akan semakin menambah kepercayaan dari pihak luar terhadap perusahan, dimungkinkan pihak kreditor akan tertarik menanamkan dana atau modalnya kepada Ukuran perusahaan dakan penelitian ini diukur dengan rumus : 2 Kerangka Pemikiran Kerangka Konseptual merupakan hubungan dari variable yang nantinya menjelaskan secara rinci masalah yang akan diuji. Didalam penelitian ini terdapat Variable Independent (X) yaitu Financial Distress. Variable Dependent (Y) Audit Delay dan Variabel Moderasi (Z) berupa Ukuran Perushaan. Sehingga didapatlah Hipotesis : H1 : Financial Distress berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay H2 : Financial Distress berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay Dimoderasi oleh Ukuran Perushaan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dimana menggambarkan suatu objek disertai data statistik memlaui sampel penelitian dan pengumpulan data ini digunakan instrument penelitian. Analisa data untuk menguji hipotesis yang ditetapkan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang sumbernya berasal dari annual report dalam laporan keuangan LQ 45. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sector industry dan dasar kimia neka industri dan sektor industri barang dan konsumsi yang telah terdaftar dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. Metode menggunakan judgment sampling yang merupakan salah satu betuk purposive sampling data yang digunakan terdapat 44 Perusahaan yang masuk kedalam LQ 45 selama 3 Tahun. Analisa kuantitasi dalam penelitian ini menggunakan alat Analisa program SPPS (Statistical Package For Social Scienc. for windows 25 untuk menguji hipotesis yang telah dikemukakan Uji Asumsi Klasik Menurut Ghozali . Uji Asumsi Klasik dilakukan untuk memastikan bahwa sampel yang JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 autokorelasi dalam model regresi. Uji Normalitas menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test dasar pengambilan keputusan didsarkan pada tarif signifikan dengan probabilitas > 0,05 hipotesis diterima , probabilitas < 0,05 hipotesis ditolak. Uji Heterokedastisitas apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians residu dari satu pengamat kemengamat lain dasar pengambilan keputusan uji Heteroskedasitas melihat nilai signifikan lebih besar dari 0. 05 kesimpulanya tidak terjadi heteroskedasititas. Uji Multikolinieritas apakah dalam regresi ditemukan adanya adanya korelasi antara variable bebas dalam penelitian menggunakan variance inflation factor (VIF) apabila tolerance value > 0,10 dan VIF < 10 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas dari multikolinearitas. Sebaliknya, jika tolerance value < 0,10 dan VIF > 10 maka terjadi multikolinearitas yang tinggi diantara variabel bebas. Uji Autokorelasi apakah dalam suatu regresi linier terdapat korelasi antara penganggu diperiode t dengan kesalahan pada periode t-1 . Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi, maka dilakukan pengujian Durbin-Watson (DW). Analisa Linier Berganda Adapaun model dasar dari regresi linier sederhana penelitian ini : Y = b1X1 e Keterangan : = Audit Delay = Koefisien regresi variable bebas = Financial Distress = Eror term Untuk menguji pengaruh interaksi dari variabel moderasi, menggunakan uji interkasi atau yang sering disebut dengan Moderated Regression Analysis (MRA). Menurut Ghozali . merupakan aplikasi khusus regresi berganta linier dimana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi. Adapun Moderated Regression Analysis dalam persamaan berikut : Y = b1X1 b2X1*Z e Keterangan : = Audit Delay = Koefisien regresi variable bebas = Financial Distress X2*Z =Intreaksi Financial Distres Ukuran Perusahaan = Eror term Uji Parsial (Uji . Menurut Ghozali . Uji t menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelasan atau independent dalam menerangkan varias variabel. Dasar pengambilan keputusan adalah jika nilai signifikansi < 0. 05 maka dikatakan signifikan, sedangkan jika nilai signifikansi > 0. 05 maka tidak Koefisien determinasi (R. Menurut Ghozali . Koefisien determinasi (R ) pada intinya untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah 0 < R < 1 dimana nilai R yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandar Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Berdasarkan hasil dari uji normalitas, dapat dilihat nilai Asymp. Sig. -taile. 696 > 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang diuji berdistrusi normal dalam model regresi. JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 Hasil Uji Heterokedastisitas Berdasarkan hasil uji heterokedastisitas dapat diketahui bahwa: Titik Ae titik data penyebaran diatas dan dibawah sekitar angka nol Titik Ae titik tidak mengumpul hanya diatas atau dibawah saja Penyebaran titik Ae titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali Penyebaran titik Ae titik tidak berpola. Maka hasil dari uji heterokedastisitas ini menunjukkan bahwa data pada penelitian ini bebas atau tidak terjadi heterokedastisitas Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb Model Adjusted Std. Error of DurbinSquare R Square the Estimate Watson Predictors: (Constan. Ukuran Perusahaan . Financial Distress Dependent Variable: Audit Delay Berdasarkan hasil uji autokorelasi diketahui nilai durbin Watson nya adalah 0. 714 dimana nilai tersebut lebih dari 0. 05 maka dapat dikatakan model dalam penelitian ini bebas atau tidak terdapat Selain itu nilai dU < d < 4-dL yaitu 6632 < 1. 714 < 2. 6521 maka penelitian ini bebas atau tidak terdapat autokorelasi. persen pada ukuran perusahaan dan variabel Uji Regresi Linier Sederhana Coefficientsa Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Model Beta Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Sig. 1(Constan. 1(Constan. Financial Distress Ukuran Perusahaa Finance Distress* Uk. Perusa Financial Distress Dependent Variable: Audit Delay Dependent Variable: Audit Delay Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error (Constan. Financial Distress Model Y = b1X1 b2X1*Z e Y = 0. 445 Ae 0. 007 Ae 0. Maka persamaan analisis regresi moderasi (MRA) diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: Nilai koefesien regresi . ilai prediksi variabel bebas terhadap variabel respon/terika. yaitu finansial distress sebesar 0. maka setiap perubahan satu persen pada finansial distress dan variabel yang lain tidak ada perubahan maka akan mempengaruhi atau mengakibatkan perubahan pada audit delay sebesar 0. dengan arah yang sama. Nilai koefesien regresi ukuran perusahaan maka setiap perubahan satu Beta Sig. Dependent Variable: Audit Delay Hasil pengujian hipotesis secara parsial financial distress terhadap audit delay yaitu berdasarkan nilai signifikansi financial distress sebesar 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dengan nilai t-statistik 7. 646 maka hipotesis H1 diterima yang artinya financial distress berpengaruh positif signifikan terhadap audit delay. Hasil Uji Parsial Regresi Moderasi (MRA) JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 Sig. Hasil Uji Parsial (Uji . Hasil Uji Parsial Regresi Linier Sederhana Hasil Uji Regresi Modera (MRA) Adapun model yang digunakan pada analisis regresi moderasi (MRA) pada penelitian ini adalah sebagai berikut: yang lain tidak ada perubahan maka akan mempengaruhi atau mengakibatkan perubahan pada audit delay sebesar 0. 007% dengan arah yang berlawanan. Nilai koefesien regresi financial distress*ukuran perusahaan sebesar -0. maka setiap perubahan satu persen pada financial distress*ukuran perusahaan dan variabel yang lain tidak ada perubahan maka akan mempengaruhi atau mengakibatkan perubahan pada audit delay sebesar 0. 005% dengan arah yang berlawanan. Adapun model yang digunakan pada analisis regresi moderasi (MRA) pada penelitian ini adalah sebagai Y = b1X1 e Y = 0. 308X1 e Persamaan regresi linier sederhana diatas dapat dijelaskan bahwa nilai koefesien beta . ilai prediksi variabel bebas terhadap variabel respon/terika. yaitu finansial distress sebesar 0. maka setiap perubahan satu persen pada finansial distress dan variabel yang lain tidak ada perubahan maka akan mempengaruhi atau mengakibatkan perubahan pada audit delay sebesar 0,308% Beta Hasil Uji R2 Regresi Linier Sederhana Model Summary Std. Error Adjusted R of the DurbinModel R Square Square Estimate Watson Model Summaryb Adjusted Std. Error200 of DurbinModel R Square R Square the Estimate Watson Predictors: (Constan. Financial Distress 604a Variable: 365 Audit. Dependent Delay Predictors: (Constan. Finance Distress*Uk. Perusahaan. Ukuran Perusahaan . Financial Distress Dependent Variable: Audit Delay Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Sig. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahawa: Financial Distress berpengaruh positif signifikan terhadap Audit Delay Empiris pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di BEI Tahun Didukung Wiratmaja . bahwa Financial Distress berpengaruh signifikan terhadap audit delay karena semakin tinggi suatu perusahaan mengalami financial distress mencerminkan adanya berita kurang baik dalam laporan keuangan akan tetapi dengan akan berita kurang baik ini dapat mendorong manajeman untuk dapat melaporkan laporan keuangan dengan Financial Distress tidak berpengaruh atau tidak signifikan negatif terhadap Audit Delay dimoderasi oleh Ukuran Perusahaan, hasil ini didukung oleh penelitian Dewi & Wiratmaja . ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan yang dinyatakan didalam total aktiva, nilai pasar saham dan lain lainnya. Beberapa penelitian mengatakan bahwa Ukuran Perusahaan tidak memoderasi Financial Distress terhadap Audit Delay. (Constan. Financial Distress Ukuran Perusahaan Finance Distress*Uk. Perusahaan Beta Hasil Uji R2 Regresi Moderasi Diperoleh nilai Rsquare adalah sebesar 0. atau 0,365% yang berarti bahwa finansial distress (X. , ukuran perusahaan (Z) dan finansial distress*ukuran (X*Z) menjelaskan pengaruhnya terhadap audit delay (Y) hanya sebesar 36% sedangkan sisanya sebesar 64% dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian. Coefficientsa Model Diperoleh nilai Rsquare adalah sebesar 0. atau 31% yang berarti bahwa finansial distress (X. dalam menjelaskan pengaruhnya terhadap audit delay (Y) hanya sebesar 31% sedangkan sisanya sebesar 69% dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian. Dependent Variable: Audit Delay Berdasarkan hasil uji parsial MRA dapat diketahui Pengujian hipotesis secara parsial financial distress terhadap audit delay yaitu berdasarkan nilai signifikansi financial distress sebesar 0,001 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dengan nilai t-statistik 3. 512 maka hipotesis H1 diterima yang artinya financial distress berpengaruh positif signifikan terhadap audit Pengujian hipotesis secara parsial ukuran perusahaan terhadap audit delay yaitu sebesar 402 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,05 dengan nilai t-statistik -840 maka ukuran perusahaan memiliki berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap audit delay. Pengujian hipotesis secara parsial financial distress*ukuran perusahaan terhadap audit delay yaitu sebesar 0. 092 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,05 dengan nilai t-statistik -1. maka financial distress*ukuran perusahaan memiliki berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap audit delay. Hasil Uji Koefesien Determinasi (R. JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 1 ,Mei 2022 DAFTAR PUSTAKA