Noorma, dkk/ Pendampingan Pemasaran Digital pada Budidaya Jamur Tiram di Komunitas. PEMTEKDIKMAS (Pengabdian Ekonomi Multidisiplin Teknologi Pendidikan Untuk Masyaraka. ISSN: x-x Vol. 6CNo. PENDAMPINGAN PEMASARAN DIGITAL PADA BUDIDAYA JAMUR TIRAM DI KOMUNITAS MASYARAKAT DESA PANANCANGAN Noorma Yunia. Budiman. Deden Hidayat. Yayah Rukayah. Maskur. 1-3,. STAI La Tansa Mashiro, . Universitas Syekh Nawawi Tanara Article Info Abstract Oyster mushroom cultivation (Pleurotus ostreatu. has significant Teachers, active learning, economic potential, given its high nutritional value and growing printed learning resources, and market demand. However, many farmers face challenges, such as environment-based learning a lack of knowledge and skills in effective cultivation techniques, often relying on inefficient traditional methods. This PKM shows that proper education and training can improve farmers' skills, thereby increasing crop yields. The application of digital technology, such as in marketing and e-commerce platforms, can help farmers manage cultivation more efficiently and expand market access. Meanwhile, digital marketing systems facilitate online transactions, increasing farmers' income. Additionally, social media can be used to build communities and raise awareness about local products. Therefore, it is important to develop programs that integrate digital technology into oyster mushroom cultivation to improve efficiency, harvest yields, and farmers' competitiveness. With the right support, oyster mushroom cultivation can become a sustainable and profitable income source for communities. Keywords: Corresponding Author: Noormayunia@gmail. Budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatu. memiliki potensi ekonomi yang signifikan, mengingat nilai gizi yang tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, banyak petani menghadapi tantangan, seperti kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik budidaya yang efektif, seringkali mengandalkan metode tradisional yang tidak efisien. PKM ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan yang tepat dapat meningkatkan keterampilan petani, sehingga meningkatkan hasil Penerapan teknologi digital, seperti dalam pemasaran dan platform e-commerce, dapat membantu petani mengelola budidaya secara lebih efisien dan memperluas akses pasar. Sistem pemasaran digital memfasilitasi transaksi online, meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, media sosial dapat digunakan untuk membangun komunitas dan meningkatkan kesadaran tentang produk lokal. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan program yang mengintegrasikan teknologi digital ke dalam budidaya jamur tiram untuk meningkatkan efisiensi, hasil panen, dan daya saing petani. Dengan dukungan yang tepat, budidaya jamur tiram dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi komunitas. salah satu lembaga pendidikan agama Islam yang berlokasi di Kampung Jurnal Pengabdian Ekonomi Multidisiplin Teknologi Pendidikan Untuk Masyarakat Vol. 6 No. 1, . budidaya jamur tiram untuk meningkatkan efisiensi, hasil panen, dan daya saing petani. Dengan dukungan yang tepat, budidaya jamur tiram dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi komunitas. A2025 PEMTEKDIKMAS. All rights reserved. PENDAHULUAN Budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatu. merupakan salah satu sektor pertanian yang memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Jamur tiram tidak hanya dikenal karena nilai gizinya yang tinggi, tetapi juga karena permintaan pasar yang terus meningkat, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jamur di Indonesia mengalami peningkatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa sektor ini semakin menarik bagi petani dan pengusaha (BPS, 2. Meskipun memiliki potensi yang besar, banyak petani yang masih menghadapi kendala dalam mengelola budidaya jamur tiram. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik budidaya yang Banyak petani yang bergantung pada metode tradisional yang kurang efisien, sehingga mengakibatkan hasil panen yang tidak optimal. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman tentang teknik budidaya dan manajemen pasca-panen dapat mengurangi produktivitas dan kualitas jamur (Sari & Setiawan, 2. Selain itu, akses terhadap informasi dan teknologi yang relevan juga menjadi hambatan yang signifikan. Banyak petani yang tidak memiliki akses ke sumber daya pendidikan yang memadai, seperti pelatihan atau workshop tentang budidaya jamur tiram. Hal ini berimplikasi pada rendahnya adopsi praktik pertanian yang modern dan inovatif. Menurut penelitian oleh Iskandar et al. , pendidikan dan pelatihan yang tepat dapat meningkatkan keterampilan petani, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil panen. Penerapan teknologi digital dapat menjadi solusi untuk mengatasi kendala-kendala ini. Teknologi digital, seperti aplikasi mobile, sensor IoT, dan platform e-learning, dapat membantu petani dalam mengelola budidaya mereka dengan lebih efisien. Misalnya, aplikasi mobile yang dirancang khusus untuk budidaya jamur tiram dapat memberikan informasi real-time tentang kondisi lingkungan dan menjadwalkan aktivitas pemeliharaan (Prabowo & Rahman, 2. Dengan akses yang lebih baik terhadap informasi dan teknik yang tepat, petani dapat meningkatkan hasil panen mereka secara signifikan. Selain itu, teknologi digital juga dapat memperluas akses pasar bagi petani. Dengan platform e-commerce, petani dapat menjual produk mereka secara langsung kepada konsumen, menghindari perantara yang sering kali mengambil keuntungan besar. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memberikan konsumen akses langsung ke produk segar dan berkualitas (Yulianto, 2. Namun, untuk mengimplementasikan teknologi digital secara efektif, diperlukan pelatihan dan dukungan yang memadai bagi Program pengabdian kepada masyarakat yang fokus pada pendidikan dan penerapan teknologi dapat membantu mengatasi hambatan tersebut. Menurut Hidayat dan Handayani . , pelatihan yang intensif dan berkelanjutan dapat meningkatkan Noorma, dkk/ Pendampingan Pemasaran Digital pada Budidaya Jamur Tiram di Komunitas. kepercayaan diri petani dalam menggunakan teknologi baru dan memperbaiki praktik budidaya mereka. Dengan demikian, penting untuk mengembangkan program yang mengintegrasikan teknologi digital dalam budidaya jamur tiram. Pendekatan ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi dan hasil panen, tetapi juga memberdayakan petani untuk beradaptasi dengan perubahan di pasar dan teknologi. Dengan dukungan yang tepat, budidaya jamur tiram dapat menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi masyarakat. Jenis jamur yang kebanyakan sering dibudidayakan oleh masyarakat secara luas adalah jamur tiram. Jamur tiram merupakan jenis jamur yang dapat dikonsumsi. Aneka olahan makanan yang dibuat dengan jamur tiram juga cukup banyak dan semuanya memiliki cita rasa yang nikmat (Kurniawan & Muldayanti, 2. Pengembangan budidaya jamur akan terus memberikan sumbangan bagi pembangunan nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya budidaya jamur di Indonesia antara lain adalah potensi sumber daya alamnya yang besar dan beragam, besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan budidaya jamur menjadi basis pertumbuhan di pedesaan (Khusnul, 2. Dari kondisi awal Mitra, diperlukan bantuan pembuatan produk, penerapan teknologi untuk peningkatan mutu, produktivitas serta pengembangan usaha guna peningkatan daya saing usahanya, serta perijinan produk yang akan dipasarkan (Wariati et al. , 2. Manajemen Pemasaran hasil Budidaya Digital untuk manajemen pemasaran budidaya jamur tiram berfungsi sebagai alat bantu bagi petani dalam mencatat, memantau, dan menganalisis berbagai aspek penting dalam proses budidaya. Fungsi utama dari aplikasi ini adalah memungkinkan petani untuk mendokumentasikan semua aktivitas budidaya, mulai dari waktu penanaman bibit, jadwal pemeliharaan seperti penyiraman dan pemupukan, hingga waktu panen. Dengan adanya catatan yang terstruktur, petani dapat lebih mudah mengidentifikasi pola-pola yang mempengaruhi pertumbuhan jamur dan mengambil keputusan yang lebih tepat. Fitur-fitur yang umumnya terdapat dalam aplikasi ini meliputi pengingat jadwal, analisis pertumbuhan, dan pelacakan hasil panen. Pengingat jadwal membantu petani untuk tidak melewatkan aktivitas penting seperti penyiraman atau pemberian nutrisi, yang sangat krusial untuk pertumbuhan jamur tiram. Analisis pertumbuhan memungkinkan petani untuk memantau perkembangan jamur dari waktu ke waktu, mengidentifikasi masalah sejak dini, dan mengambil tindakan korektif. Sistem Pemasaran Digital Sistem pemasaran digital mencakup platform e-commerce yang memungkinkan petani untuk memasarkan produk jamur tiram secara langsung kepada konsumen. Fungsi utama dari sistem ini adalah memfasilitasi transaksi jual beli secara online, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan pendapatan petani. Platform e-commerce dapat menyediakan fitur-fitur seperti katalog produk, keranjang belanja, sistem pembayaran Jurnal Pengabdian Ekonomi Multidisiplin Teknologi Pendidikan Untuk Masyarakat Vol. 6 No. 1, . online, dan sistem pengiriman. Manfaat utama dari sistem pemasaran digital adalah memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pendapatan petani. Dengan memasarkan produk secara online, petani dapat menjangkau konsumen di berbagai wilayah geografis, baik domestik maupun internasional. Selain itu, sistem pemasaran digital juga dapat membantu petani untuk membangun merek . mereka sendiri, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan mendapatkan umpan balik langsung dari konsumen. Implementasi sistem pemasaran digital dalam budidaya jamur tiram dapat meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha petani. Dengan akses pasar yang lebih luas dan efisien, petani dapat meningkatkan volume penjualan, mengurangi biaya pemasaran, dan meningkatkan keuntungan. Selain itu, sistem pemasaran digital juga dapat memfasilitasi diversifikasi produk dan layanan, seperti penjualan produk olahan jamur tiram atau paket wisata edukasi budidaya jamur. Penggunaan Media Sosial untuk Promosi Pemanfaatan platform media sosial seperti Facebook. Instagram, dan TikTok untuk berbagi pengetahuan tentang budidaya dan manfaat jamur tiram. Fungsi utama dari media sosial adalah membangun komunitas petani dan konsumen serta meningkatkan kesadaran tentang produk lokal. Media sosial dapat digunakan untuk berbagi konten edukatif, seperti tips dan trik budidaya, resep masakan jamur tiram, dan informasi tentang manfaat kesehatan jamur tiram. Manfaat utama dari penggunaan media sosial adalah membangun komunitas dan meningkatkan kesadaran tentang produk lokal. Dengan berinteraksi secara aktif di media sosial, petani dapat membangun hubungan dengan konsumen, mendapatkan umpan balik, dan meningkatkan loyalitas pelanggan. Selain itu, media sosial juga dapat digunakan untuk mempromosikan produk dan layanan petani, meningkatkan penjualan, dan memperluas jangkauan pasar. Implementasi strategi media sosial yang efektif dapat meningkatkan citra dan daya saing produk jamur tiram. METODE PELAKSANAAN Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah sosialisasi tentang budidaya jamur tiram melalui ceramah dan diskusi dengan bekerjasama dengan pengusaha jamur Pada kegiatan ini juga akan dilakukan demonstrasi dan praktek bagi pelaku budi daya jamur tiram dalam pembuatan media tumbuh dan berkembang jamur tiram dengan memanfaatkan limbah organic dan pemasaran melalui teknologi digital. Alur pelaksanaan kegiatan program pengabdian yang dilakukan bersama mitra yaitu sebagaimana disajikan pada gambar sebagai berikut: Dengan mengikuti alur ini, diharapkan program PKM budidaya jamur tiram dapat berjalan Noorma, dkk/ Pendampingan Pemasaran Digital pada Budidaya Jamur Tiram di Komunitas. efektif dan mendapatkan hasil yang memuaskan melalui pemasaran digital. Inovasi dan kreativitas dalam pemasaran adalah kunci untuk mencapai keberhasilan. Langkah-langkah ini merupakan awal dari pelaksanaan PKM yang akan dilakukan dengan melihat beberapa indicator yang ada dalam permasalahan yang dihadapai oleh para pelaku usaha jamur tiram, dengan adanya hal tersebut maka pada pelaksanaannya dapat dilakukan melalui beberapa komponen berikut ini : No. Tabel 2. Kondisi Awal Tempat Produksi Aspek Bisnis Kondisi Mitra PKM Produksi Jamur Tiram Hasil panen jamur cukup lumayan banyak dalam setiap kali panennya namun secara keseluruhan risiko jamur ini sangat tinggi jika tidak langsung dijual karena ada paktor pembusukan yang cukup cepat Inovasi Produk Para pelaku usaha jamur ini hanya menjual dalam bentuk aslinya saja tidak dalam bentuk turnan jamur yang lainnya padahal ini dapat menjadi daya tarik Pemahaman Pemasaran Masih belum maksimalnya pemahaman terkait dengan bagaimana cara melakukan pemasaran yang lebih baik di era digital ini sehingga pelaku usaha perlu adannya pelatihan dan diskusi terkait dengan pemasaran Pemanfaatan Digital Kurang pahamnya pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi sebagai penggunaan sarana pemasaran yang paling efektif dan jangkauan lebih luas Arahan kedepannya sebagai bahan lanjutan dari pengabdian kepada masyarakat ini akan dilakukan lebih mendalam dan sistematis melalui beberapa tahapan yang diantaranya adalah melalui : Pelatihan dan Workshop: Mengadakan sesi pelatihan untuk memperkenalkan teknologi digital kepada petani. Pelatihan dan workshop merupakan komponen krusial dalam memperkenalkan teknologi digital kepada petani, khususnya dalam konteks budidaya jamur tiram. Sesi ini bertujuan untuk membekali petani dengan pengetahuan dasar dan keterampilan praktis yang diperlukan untuk mengoperasikan aplikasi mobile dan platform e-learning secara efektif. Desain pelatihan harus berpusat pada prinsip pembelajaran orang dewasa . , yang menekankan relevansi, pengalaman, dan partisipasi aktif. Keberhasilan pelatihan dan workshop juga bergantung pada fasilitator yang kompeten dan berpengalaman. Fasilitator harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang teknologi digital dan praktik budidaya jamur tiram, serta kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan petani. Kemudian selain pelatiahan juga harus diadakan Demo Lapangan: Menunjukkan cara penggunaan sensor dan aplikasi mobile di lokasi budidaya. Dimana konsep ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para petani Demo lapangan merupakan langkah penting dalam proses pelatihan petani, karena memberikan kesempatan untuk belajar melalui Jurnal Pengabdian Ekonomi Multidisiplin Teknologi Pendidikan Untuk Masyarakat Vol. 6 No. 1, . pengalaman langsung. Dalam sesi ini, petani akan diperkenalkan pada penggunaan aplikasi atau flatform digital di lokasi budidaya jamur tiram. Petani akan diajarkan cara membuat iklan dan menjual serta bagaimana cara menginterpretasikan informasi tersebut untuk mengoptimalkan pertumbuhan jamur tiram . Selain itu, instruktur juga akan menunjukkan cara menggunakan aplikasi mobile untuk mencatat aktivitas budidaya, termasuk pengingat jadwal pemeliharaan dan pelacakan hasil panen. Kemudian hal yan gpaling penting agar ini berkelanjutan maka harus adanya Pendampingan: Memberikan dukungan berkelanjutan selama periode budidaya jamur tiram. Pendampingan merupakan aspek krusial dalam program budidaya jamur tiram yang bertujuan untuk memberikan dukungan berkelanjutan kepada petani selama periode pertumbuhan. Selama sesi pendampingan, tim dapat membantu petani dalam memecahkan masalah yang mungkin Dengan memberikan solusi yang tepat dan cepat, pendampingan ini dapat mencegah kerugian yang lebih besar dan memastikan bahwa budidaya berjalan sesuai Selain itu, tim juga dapat memberikan umpan balik berdasarkan data yang dihasilkan dari data penjualan,. Selain dukungan teknis, pendampingan juga mencakup aspek manajerial, seperti membantu petani dalam merencanakan strategi pemasaran dan manajemen keuangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pemasaran budidaya jamur tiram di Desa Panancangan melalui pemanfaatan teknologi digital. Dalam pembahasan ini, hasil dari pelaksanaan program dapat dijelaskan dalam beberapa aspek utama: Penerapan Teknologi Digital: Tim pengabdian memperkenalkan berbagai alat dan platform digital, termasuk aplikasi mobile dan sistem e-commerce, yang memungkinkan petani untuk memasarkan produk jamur secara langsung kepada Dengan adanya aplikasi mobile, petani dapat mencatat aktivitas budidaya, memantau pertumbuhan, dan mengelola informasi terkait hasil panen. Pelatihan dan Edukasi: Pelatihan diberikan kepada petani mengenai cara menggunakan teknologi digital secara efektif. Hal ini mencakup pemahaman tentang cara mengoperasikan aplikasi, mengelola media sosial untuk promosi, dan memanfaatkan platform e-commerce untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Edukasi ini bertujuan untuk memberdayakan petani agar mampu beradaptasi dengan perubahan Peningkatan Akses Pasar: Melalui teknologi digital, petani di Desa Panancangan dapat memperluas jangkauan pasar mereka. Sebelumnya, banyak petani yang bergantung pada penjualan lokal dengan jangkauan terbatas. Kini, dengan pemasaran online, mereka dapat menjual produk ke konsumen di luar daerah, bahkan ke pasar internasional, sehingga meningkatkan pendapatan. Respon Masyarakat: Hasil dari pengabdian ini menunjukkan respon positif dari Petani merasa lebih percaya diri dalam memasarkan produk mereka dan melaporkan peningkatan penjualan setelah memanfaatkan teknologi digital. Komunitas juga menunjukkan minat yang tinggi untuk belajar lebih lanjut tentang budidaya jamur dan pemasaran digital. Noorma, dkk/ Pendampingan Pemasaran Digital pada Budidaya Jamur Tiram di Komunitas. Dampak Ekonomi: Inovasi pemasaran ini telah memberikan dampak ekonomis yang signifikan bagi petani. Peningkatan pendapatan dari hasil penjualan jamur tiram memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi masyarakat desa. Hal ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian. Program pengabdian kepada masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam budidaya jamur tiram serta pemasaran menggunakan teknologi Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efektivitas pemasaran tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Panancangan. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya penerapan teknologi dalam pertanian untuk menghadapi tantangan pasar yang semakin kompetitif. Survei Sebelum dan Sesudah: Mengukur peningkatan pengetahuan dan hasil panen. Berikut adalah hasil survei sebelum dan sesudah pelatihan budidaya jamur tiram: Grafik di atas menunjukkan progres perkembangan pengetahuan dan keterampilan petani sebelum dan setelah pelatihan terkait budidaya jamur tiram. Terdapat empat aspek yang diukur: pengetahuan tentang teknik budidaya, penggunaan aplikasi mobile, pemahaman tentang pemeliharaan, dan hasil panen per bulan. Pengetahuan tentang Teknik Budidaya: Sebelum pelatihan, hanya 45% petani yang memiliki pengetahuan dasar tentang teknik budidaya. Setelah pelatihan, angka ini meningkat signifikan menjadi 80%, menunjukkan efektivitas pelatihan dalam meningkatkan pemahaman petani. Penggunaan digital : Sebelum pelatihan, 30% petani sudah mulai menggunakan pemasaran digital dalam pemasaran hasil budidaya. Setelah pelatihan, angka ini melonjak menjadi 85%, menandakan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan penjualan jamur tiram di kalangan petani atau pelaku usaha. Pemahaman tentang Pemeliharaan: Pemahaman tentang pemeliharaan jamur tiram sebelum pelatihan mencapai 25%. Setelah pelatihan, ini Jurnal Pengabdian Ekonomi Multidisiplin Teknologi Pendidikan Untuk Masyarakat Vol. 6 No. 1, . meningkat drastis menjadi 70%, menunjukkan bahwa pelatihan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai praktik pemeliharaan yang baik. Hasil Panen per Bulan: Sebelum pelatihan, hasil panen per bulan sangat rendah, dengan tidak ada peningkatan yang signifikan. Namun, setelah pelatihan, hasil panen meningkat menjadi 250 kg per bulan, menunjukkan dampak positif dari pelatihan pada produktivitas petani. Secara keseluruhan, grafik ini menggambarkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan petani setelah mengikuti pelatihan, yang berdampak positif pada hasil panen mereka. Pelatihan ini terbukti efektif dalam memberdayakan petani dengan pengetahuan dan alat yang diperlukan untuk meningkatkan praktik budidaya mereka. Grafik di atas menunjukkan perkembangan pengetahuan dan keterampilan petani sebelum dan sesudah pelatihan, serta persentase peningkatan yang dicapai. Terdapat tiga seri data yang dianalisis, yaitu: Pengetahuan tentang Teknik Budidaya: Sebelum Pelatihan: 35%. Setelah Pelatihan: 80%. Peningkatan: 45%. Data menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan tentang teknik budidaya. Sebelum pelatihan, hanya 35% petani yang memiliki pemahaman yang memadai, tetapi setelah pelatihan, angka ini meningkat menjadi 80%, menghasilkan peningkatan sebesar 45%. Penggunaan aplikasi digital dalam pemasaran : Sebelum Pelatihan: 25%. Setelah Pelatihan: 85%. Peningkatan: Dalam aspek penggunaan aplikasi mobile, terdapat peningkatan yang sangat besar. Sebelum pelatihan, hanya 25% petani yang menggunakan aplikasi mobile. Namun, setelah pelatihan, persentase ini meloncat menjadi 85%, menunjukkan peningkatan sebesar 60%. Ini menunjukkan bahwa pelatihan sangat efektif dalam mendorong adopsi teknologi di kalangan petani. Pemahaman tentang Pemeliharaan: Sebelum Pelatihan: 45%. Setelah Pelatihan: 70%. Peningkatan: 25%. Untuk pemahaman tentang pemeliharaan, sebelum pelatihan, 45% petani sudah memiliki pengetahuan yang cukup. Setelah pelatihan, angka ini meningkat menjadi 70%, dengan peningkatan sebesar 25%. Meskipun ini adalah peningkatan yang lebih kecil dibandingkan dua aspek sebelumnya, tetap menunjukkan kemajuan yang positif. Hasil Panen per Bulan: Sebelum Pelatihan: 120 kg. Setelah Pelatihan: 250 kg. Peningkatan: 130 kg. Terkait hasil panen, sebelum pelatihan, petani Noorma, dkk/ Pendampingan Pemasaran Digital pada Budidaya Jamur Tiram di Komunitas. menghasilkan rata-rata 120 kg per bulan. Setelah pelatihan, hasil panen meningkat drastis menjadi 250 kg per bulan, menunjukkan peningkatan sebesar 130 kg. Ini menandakan bahwa pelatihan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas. Grafik ini secara keseluruhan menunjukkan keberhasilan pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani di berbagai aspek budidaya jamur tiram. Peningkatan yang signifikan pada penggunaan aplikasi mobile dan hasil panen menunjukkan bahwa pelatihan tersebut efektif dalam memberdayakan petani untuk mengadopsi praktik pertanian yang lebih modern dan produktif. Gambar ini menunjukkan sekelompok petani yang sedang melakukan aktivitas pembuatan media tanam untuk budidaya jamur tiram. Dalam suasana yang tampak sederhana, petani mengenakan pakaian kerja dan topi pelindung, fokus pada tugas mereka. Mereka menggunakan bahan-bahan seperti serbuk gergaji dan bahan organik lainnya yang dicampur untuk menciptakan media yang ideal bagi pertumbuhan jamur. Proses ini sangat penting karena kualitas media tanam berpengaruh langsung terhadap keberhasilan Lingkungan kerja yang terlihat bersih dan terorganisir menunjukkan komitmen petani untuk menghasilkan jamur berkualitas. Kemudian Gambar kedua menampilkan jamur tiram yang telah siap untuk dipanen. Jamur-jamur ini tumbuh dengan baik, menunjukkan bentuk yang sehat dan warna yang cerah. Jurnal Pengabdian Ekonomi Multidisiplin Teknologi Pendidikan Untuk Masyarakat Vol. 6 No. 1, . Penempatan jamur dalam kemasan yang rapi di rak mengisyaratkan bahwa mereka telah melalui proses budidaya yang baik. Kualitas jamur yang terlihat segar dan menarik menunjukkan hasil kerja keras petani dalam perawatan dan pemeliharaan selama masa Gambar ini mencerminkan potensi hasil panen yang menguntungkan dan keberhasilan dari praktik budidaya yang dilakukan. Jadi Kedua gambar ini bersama-sama menggambarkan proses penting dalam budidaya jamur tiram, dari pembuatan media tanam hingga hasil panen. Proses yang terorganisir dan hasil yang berkualitas menekankan pentingnya teknik budidaya yang baik dan pengetahuan yang tepat dalam mencapai keberhasilan dalam sektor pertanian ini. KESIMPULAN Program pengabdian kepada masyarakat di Desa Panancangan berhasil meningkatkan efektivitas pemasaran budidaya jamur tiram melalui penerapan teknologi digital. Pelatihan yang diberikan kepada petani terbukti efektif, dengan peningkatan signifikan dalam pengetahuan tentang teknik budidaya, penggunaan aplikasi digital, dan pemahaman tentang pemeliharaan. Hasil survei menunjukkan peningkatan hasil panen dari 120 kg menjadi 250 kg per bulan, serta adopsi teknologi digital yang meningkat dari 25% menjadi 85%. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Secara keseluruhan, inovasi pemasaran melalui teknologi digital menunjukkan potensi besar untuk memberdayakan petani dan memperkuat sektor pertanian di daerah DAFTAR PUSTAKA