Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 2. Juli 2025 PEREMPUAN DALAM TEOLOGI KRISTEN: PERSPEKTIF TEOLOGI FEMINIS Martha Maria Wospakrik STFT GKI I. S Kijne Jayapura marthawospakrik13@gmail. ABSTRAK Isu ketidakadilan dan kekerasan terhadap perempuan masih nyata dalam kehidupan sosial maupun religius, termasuk dalam tradisi Kristen. Banyak teks Alkitab yang ditafsirkan secara patriarkis telah memperkuat subordinasi perempuan dan membatasi peran mereka dalam jemaat serta masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali posisi dan peran perempuan dalam teologi Kristen melalui lensa teologi feminis. Pendekatan ini menawarkan pembacaan kritis terhadap teks-teks Alkitab dan tradisi gereja dengan menggali pengalaman perempuan, menegaskan bahwa perempuan adalah ciptaan Allah yang utuh, bermartabat, dan memiliki panggilan pelayanan yang setara dengan laki-laki. Penelitian ini dilakukan melalui studi pustaka dengan menganalisis teks-teks Alkitab serta literatur teologi feminis kontemporer. Temuan menunjukkan bahwa terdapat fondasi teologis yang kuat untuk membangun keadilan gender dalam gereja, memperkuat peran perempuan dalam kehidupan iman, pelayanan, dan kepemimpinan. Dengan demikian, teologi feminis menjadi sarana pembebasan yang membuka ruang partisipasi, transformasi, dan pengakuan setara bagi perempuan dalam tradisi Kristen. Kata Kunci: Perempuan. Teologi Kristen. Teologi Feminis. Kesetaraan Gender. Keadilan Gender. Patriarki ABSTRACT Issues of injustice and violence against women remain evident in social and religious life, including within the Christian tradition. Many biblical texts, interpreted patriarchally, have reinforced women's subordination and limited their roles in congregations and society. This article aims to reexamine the position and role of women in Christian theology through a feminist theological lens. This approach offers a critical reading of biblical texts and church tradition, exploring women's experiences, affirming that women are God's creations with integrity, dignity, and a calling to service equal to that of men. This research was conducted through a literature review analyzing biblical texts and contemporary feminist theological The findings indicate that there is a strong theological foundation for building gender justice in the church, strengthening women's roles in faith, ministry, and leadership. Thus, feminist theology serves as a means of liberation that opens up space for participation, transformation, and equal recognition for women within the Christian tradition. Keywords: Women. Christian Theology. Feminist Theology. Gender Equality. Gender Justice. Patriarchy PENDAHULUAN Persoalan ketidakadilan dan kekerasan yang dihadapi perempuan merupakan masalah kemanusiaan yang mendapat perhatian penting baik pemerintah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun gereja. Berbagai tindakan kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi terhadap perempuan sampai saat ini menunjukan bahwa perempuan masih dipandang sebagai makhluk yang tidak memiliki otoritas atas dirinya. Pandangan laki-laki sebagai yang superior telah melahirkan praktik perbudakan dan praktek kekerasan terhadap kaum perempuan yang dianggap lemah. Karena itu perempuan diperbudak dengan berbagai tindakan kekerasan yang berakibat pada ketidakberdayaan perempuan melindungi dirinya. Ironisnya, tindakan-tindakan diskriminasi dan kekerasan itu dianggap sebagai tindakan yang ditolerir bahkan dianggap Tindakan pelecehan dan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan seringkali diremehkan dengan berbagai dalih seperti faktor Pendidikan. ekonomi keluarga. perbedaan usia. keterlibatan pihak ketiga. kurangnya saling percaya antara laki-laki dan perempuan. serta prasangka buruk terhadap perempuan. (Socrates, 2. Perempuan dianggap AuOtherAy karena konstruksi gender sebagai yang diberikan masyarakat, anggapan ini adalah sebuah bentuk subordinasi yang melekat dalam struktur sosial dan dianggap sebagai kodrat. Leila Ahmed dalam bukunya Women and Gender in Islam sebagaimana dikutip Mufidah Cholil, mendeskripsikan pernyataan Aristoteles bahwa AuTeorinya mengkonsepsikan perempuan tidak hanya sebagai subordinat karena keharusan sosial, tetapi secara lahiria dan biologis ia inferior, baik dalam kapasitas fisik maupun mental (Natar. Niwa, 2012, hlm. Perempuan adalah manusia yang diciptakan kemudian setelah laki-laki, karenanya ia berada dibawah kekuasaan laki-laki. Sebagai manusia kelas dua, laki-laki berhak melakukan apa saja menurut keinginannya dan perempuan harus menuruti atau tunduk terhadap apa yang diperintahkan laki-laki kepadanya. Ketundukan perempuan terhadap laki-laki merupakan hukum yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh paham budaya patriarki tetapi juga berdasar pada teks-teks tertentu dalam kitab suci (Alkita. Kekuatan kedua hukum ini kemudian menjadi suatu tata nilai untuk membatasi peran dan otoritas yang dimiliki perempuan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dalam bingkai yang demikian, perempuan selalu berada di wilayah pinggiran dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja. Berbagai ketidakadilan dan kekerasan yang dialaminya dianggap sebagai hal yang wajar, karena itu sampai saat ini perempuan masih tetap berada dalam bingkai kekerasan yang dilakukan dalam berbagai bentuk . ecara terang-terangan maupun tersembunyi di sebagian besar institusi maupun lapisan masyaraka. Menyikapi kenyataan ini, maka konsep kita mengenai siapa perempuan harus diperbarui, baik dalam budaya maupun agama, terutama dalam menafsir kitab suci (Alkita. untuk membenarkan tindakan ketidakadilan dan kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu. Menurut Elisabeth Schyssler Fiorenza . , struktur patriarki dalam penafsiran teks kitab suci perlu dikaji ulang melalui pendekatan hermeneutik feminis karena kaum perempuan tidaklah marginal di dalam awal mula sebaliknya, teks-teks Alkitab dan sumber sejarahlah yang menyebabkan marginalisasi kaum Itulah sebabnya teks-teks kitab suci harus diinterogasi bukan tentang apa yang dikatakan tentang perempuan, melainkan juga bagaimana mereka membangun apa yang mereka katakan atau tidak katakan (Schussler. Elizabeth, 1. Dengan demikian, teks-teks tertentu dalam kitab suci/ Alkitab tidak semestinya dijadikan sebagai fondasi teologi untuk melakukan berbagai tindakan ketidakadilan terhadap perempuan dan membungkamkan suara mereka untuk menyuarakan keadilan terhadap diri mereka sebagai manusia yang diciptakan sama dengan laki-laki. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Fokus kajian diarahkan pada penelaahan dan reinterpretasi teks-teks Alkitab serta literatur teologi Kristen melalui perspektif teologi feminis, dengan tujuan mengkritisi konstruksi patriarki terhadap perempuan dalam tradisi Kristen. Data diperoleh melalui teknik dokumentasi, yakni pengumpulan informasi dari beragam sumber tertulis seperti kitab suci, buku-buku teologi feminis, artikel ilmiah, dan jurnal akademik. Dalam analisisnya, penulis menerapkan hermeneutika feminis sebuah pendekatan tafsir kritis terhadap teks-teks keagamaan berdasarkan pengalaman perempuan. Tujuannya adalah membongkar bias gender yang terkandung di dalamnya serta mengangkat suara perempuan dalam wacana iman Kristen. Metode ini juga membuka ruang untuk mengkaji relasi kuasa dalam teks maupun tradisi gereja, sekaligus menawarkan kerangka teologis bagi terciptanya pembebasan dan kesetaraan gender. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, penelitian ini berupaya menyingkap bagaimana konstruksi teologi tradisional berkontribusi pada penguatan struktur patriarki, serta bagaimana teologi feminis dapat menawarkan pemahaman baru yang lebih adil gender dan bersifat transformatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran perempuan dalam Perjanjian lama Alkitab memberi kesaksian bahwa sebagaimana laki-laki, perempuan juga-adalah ciptaan Allah. Itulah sebabnya perempuan dan laki-laki disebut sebagai AuImago DeiAy. ambar Alla. Sebagai gambar Allah, perempuan dan laki-laki mendapat mandat yang sama yaitu AuBeranakcuculah dan bertambah penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumiAy (Kejadian 1:. Mandat yang diberikan ini menunjukan bahwa Allah tidak membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Allah memberi tanggungjawab kepada mereka sebagai mandataris-Nya di dunia dan memahkotai mereka dengan kemuliaan dan kehormatan (Mazmur 8:. Disini tidak ada penguasa dan yang dikuasai, tetapi keduanya adalah setara dan memiliki kualitas yang sama di hadapan Allah. Sehingga, relasi yang setara antara perempuan dan laki-laki memungkinkan mereka beranak cucu dan menguasai bumi. Disini jelas bahwa perempuan dan laki-laki menjadi gambar Allah ketika mereka satu . , mereka berdua itulah yang disebut manusia. Jadi bukan perempuan saja atau laki-laki saja, tetapi Perbedaan jenis kelamin diantara mereka berdua adalah untuk melanjutkan karya ciptaan Allah . eranak cuc. , tidak mengandung konotasi negatif sebagaimana dikatakan: seorang bapa gereja. Thomas Aquinas bahwa Auhanya laki-laki yang sepenuhnya dijadikan menurut gambar Allah, perempuan pada dirinya tidak. Perempuan hanya mencerminkan Allah sejauh ia Bersama lakilaki. (Barth. Calire, 2. Relasi yang setara itu juga terdapat di dalam kata penolong (Eze. baginya yang sepadan dengan dia . (Kejadian 2:. Ayat ini sering ditafsirkan sebagai perempuan adalah penolong atau pembantu laki-laki, padahal tidak demikian. Kata adam yang berarti manusia dalam pengertian kemanusiaan laki-laki dan perempuan mengandung pengertian bahwa baik perempuan maupun lakilaki mereka berdua adalah penolong satu sama lain. Mereka berdua saling membutuhkan bukan hanya dalam kaitan dengan prokreasi . elanjutan generas. , tetapi dalam rangka mewujudkan gambar Allah itu dalam keberadaan dan relasi mereka. Ini berarti bahwa ketika mereka hidup dalam keharmonisan, mereka menjadi gambar Allah di dunia. Di dalam perbedaan itu mereka berdua saling melengkapi dan membutuhkan dalam menjalankan karya keselamatan Allah bagi dunia ini. Kita dapat melihat beberapa contoh dari keharmonisan dan penolong itu dari beberapa tokoh dalam Alkitab: Yusuf dan Maria. Musa dan Miryam. Yakub dan Rahel. Makna dari kata penolong ini sering ditafsirkan keliru dan dikenakan hanya kepada perempuan Karena itu demi mewujudkan makna dari kata ini, maka posisi perempuan direduksi dari setara atau sejajar kepada bawahan. Perempuan menjadi kaum yang inferior dan menerima perlakuan yang diskriminatif dari kaumnya . aki-lak. Ia kehilangan hak-haknya sebagai penolong yang sepadan dan menjadi terasing dalam relasinya dengan laki-laki. Kehilangan kesepadanan itu terjadi ketika laki-laki itu tidak berani mempertanggungjawabkan kesalahan yang mereka lakukan secara bersama-sama. Demi mempertahankan kelakuannya, laki-laki itu menjawab Auperempuan yang kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka ku makanAy (Kejadian 2:. berubah menjadi tuduhan tanpa alasan yang kemudian melahirkan ketidaksetaraan dan berakibat pada terganggunya relasi antara perempuan dan laki-laki sehingga mereka terasing antara yang satu dengan yang lain. Dalam kisah Keluaran bangsa Israel dari tanah Mesir, perempuan juga memiliki peran yang penting dimana Allah melibatkan mereka menyelamatkan Musa pada masa bayi ketika Firaun memerintahkan para bidan Mesir untuk membunuh semua anak laki-laki yang baru lahir. Bidan perempuan itu adalah Sifra dan Pua. Perintah Firaun untuk membunuh anak-anak laki-laki Ibrani yang baru lahir tidak dilakukan oleh mereka berdua karena takut kepada Allah Israel. Keberanian ini menjadi tanda dari keterlibatan Allah melibatkan kedua bidan Mesir dalam karya penyelamatan Allah bagi umat Israel yang diawali dengan tindakan menyelamatkan musa sebagai seorang banyi Israel yang merupakan target dari rencana Firaun membunuh setiap bayi laki-laki Ibrani. (Hogan,1995,dikutip dalam Wospakrik, 2013, hlm. Ay Selain dua bidan Mesir, terdapat juga tokoh-tokoh perempuan seperti Debora, seorang hakim dan nabi yang memiliki peran penting memimpin bangsa Israel pada masa-masa sulit, dan juga Esther sebagai perempuan Israel, yang memainkan peran penting dalam menyelamatkan bangsanya dari Peran-peran mereka sama pentingnya dengan kaum laki-laki pada masa itu meskipun dilihat sebagai tindakan biasa. Namun hal ini membuktikan bahwa Allah juga melibatkan perempuan untuk menyelamatkan Bangsa Israel dari berbagai hal yang mereka hadapi. (Grecetinovitria et al. Peran dari perempuan-perempuan dalam konteks Perjanjian Lama adalah peran yang spektakuler karena di tengah dominasi budaya patriarki saat itu, perempuan-perempuan tersebut telah membuktikan bahwa mereka juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dengan laki-laki. Di sini tampak jelas bahwa kaum perempuan pada masa Perjanjian Lama juga bertanggung jawab atas penegakkan nama dan kepentingan mempertahankan bangsanya. Peran mereka ini memperlihatkan bahwa mereka tidak berdiam diri terhadap suatu peristiwa yang menimpa bangsa mereka, tetapi dalam keberadaan mereka dan kesadaran akan potensi yang mereka miliki, mereka juga bertanggung jawab melindungi bangsanya. Peran perempuan dalam Perjanjian Baru Di dalam Perjanjian Baru disebutkan perempuan-perempuan yang memiliki peran penting dalam keselamatan manusia yaitu Maria dan sebagai saksi dari kebangkitan Kristus yaitu: Maria Magdalen. Maria ibu Yakobus serta Salome (Markus 16:. Perempuan-perempuan ini tidak saja menjadi saksi kebangkitan Kristus, tetapi mereka adalah perempuan-perempuan pemberani yang menentang struktur patriarki menerobos tembok domestik menuju publik. Walau demikian, keberadaan perempuanperempuan itu sebenarnya tidak diperhitungkan di dalam masyarakat mereka (Yahud. yang cenderung memandang perempuan sebagai inferior. Bahkan dalam perjalanan pekabaran injil yang dilakukan Yesus, murid laki-laki lebih ditonjolkan daripada perempuan-perempuan yang juga setia bersamaNya. Pereduksian keterlibatan perempuan bersama Yesus dalam misi-Nya memperlihatkan pengaruh budaya patriarki yang sangat kuat dimana penerusan tradisi dalam gereja kuno hanya dilakukan oleh bapabapa gereja sehingga nama dan cerita perempuan dilupakan. (Schafer. Ruth, 2. Padahal jika diteliti lebih mendalam teks-teks Perjanjian Baru, banyak perempuan-perempuan yang berperan penting bukan hanya bersama Yesus dalam misi-Nya, tetapi juga dalam perjalanan pekabaran Injil yang dilakukan oleh Rasul Paulus. (Setiawan et al. , 2. AuMenemukan bahwa di dalam kitab-kitab Injil Sinoptik, khususnya dalam pelayanan Yesus, terdapat banyak keterangan yang memperlihatkan maksud dari memanusiakan sikap pria terhadap wanita. Ay Tuhan Yesus dan para penulis kitab-kitab Injil mengakui kesamaan wanita dan Oleh karena itu, kisah kelahiran Yesus dipusatkan pada seorang anak dara, yakni Maria, yang ditempatkan pada kedudukan paling terhormat karena dipakai Allah sebagai alat-Nya. Melalui rahim Maria. Yesus lahir ke dunia. Oleh sebab itu, kitab Injil Lukas menyebut Maria sebagai perempuan yang diberkati (Lukas: 1:. Injil juga mencatat partisipasi dan dukungan perempuan-perempuan lain seperti Marta dan Maria, saudari Lazarus, yang menyambut Yesus di rumah mereka (Luk 10:38-42. Yoh 12:1-. Perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun dan disembuhkan oleh Yesus (Mat 9:20-22. Mrk 5:25-34. Luk 8:43-. menunjukkan kasih-Nya terhadap yang tertindas dan sakit. Yohana. Susanna, dan Maria ibu Yakobus adalah beberapa perempuan yang mengikut Yesus dan mendukung pelayanan-Nya (Luk 8:3, 24:. (Mahardika Amade, 2. Peran-peran mereka beraneka ragam seperti: Sebagai Diakones. Dalam surat Paulus kepada Jemaat di Roma (Roma . Febe disebut sebagai teman sekerja dari Rasul Paulus yang melayani di Jemaat Kengkrea. Febe disebut sebagai diakonos karena ia merupakan salah satu dari teman-teman Rasul Paulus yang membantunya dalam perjalanan Pekabaran Injil. Dalam suratnya kepada Timotius. Paulus menyebutkan Lois dan Eunike, nenek dan ibu Timotius, yang memberikan fondasi iman kepadanya . Tim 1:. Ada pula referensi terhadap perempuan yang bertanggung jawab dalam pekerjaan Gereja, seperti diakonia . elayanan diakoni. yang dijalankan oleh perempuan seperti yang dijelaskan dalam 1 Tim 3:11. (Rinukti, 2019,hlm. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Paulus menyebutkan Euodia dan Syntyche . ua perempuan yang bekerja bersamanya dalam pelayanan Inji. dan meminta mereka untuk berdamai dan bekerja sama (Filipi 4:2-. Dari kejadian ini, dapat dilihat bagaimana Paulus tidak ragu mengakui kontribusi dan kesetaraan perempuan dalam kerajaan Allah(Mahardika Putra Prajna Amade, 2024,hlm. Sementara itu, peran tokoh-tokoh perempuan dalam Kisah Para Rasul juga tampak jelas. Mereka termasuk di antara orang-orang yang menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis 1:14. 2:1-. , serta turut ambil bagian dalam pengalaman dan panggilan untuk menyebarkan kabar baik Injil. Kisah Para Rasul juga mencatat peran pelayanan perempuan dalam Gereja awal. Sosok tersebut adalah Lydia, seorang pedagang kain ungu, yang merupakan salah satu yang pertama kali menerima ajaran Paulus di Filipi dan menjadi tuan rumah bagi Gereja setempat (Kis 16:14-. Ia adalah pendiri komunitas Kristen di Filipi dan menjadi patron bagi komunitas tersebut (Rm 16:3-. Berikutnya ialah Priskila, yang merupakan contoh perempuan yang memiliki pemahaman teologis yang Bersama suaminya. Akwila, ia memberikan bimbingan kepada Apolos dan menolongnya memperdalam pemahaman tentang ajaran Kristus (Kis 18:. Selanjutnya, dalam Kis 21:8-9 juga disebutkan empat puteri Filipus sebagai nabi yang bernubuat. Namun, kisah mengenai kiprah mereka tidak dijelaskan lebih lanjut secara rinci(Mahardika Putra Prajna Amade, 2024,hlm. Ay Sebagai Rasul. Dalam surat Paulus kepada Jemaat di Roma (Roma 16:. , ditemukan nama Yunias disebut sebagai salah satu dari orang-orang terpandang yang disebut Rasul. Kedua peran yang diperlihatkan di atas, membuktikan bahwa pada dasarnya perempuan juga memiliki peran yang sangat penting dalam gereja mula-mula. Namun demikian, pengaruh patriarki telah mereduksi peran mereka sehingga yang lebih ditonjolkan adalah kaum laki-laki. Keberadaan mereka hanyalah sebagai isteri sehingga tatanan keluarga patriarki tetap berlaku yaitu: istri harus tunduk pada suami (Kolose 3: . Kata Au tunduk Ay dipakai oleh kaum laki-laki untuk menguatkan praktek patriarki dalam relasi perempuan dan laki-laki sehingga perempuan mengalami ketidakadilan. AuTundukAy juga mengandung pengertian bahwa perempuan/istri adalah budak laki-laki sehingga laki-laki berhak melakukan apa saja menurut keinginannya, padahal kata tersebut masih dilanjutkan pada ayat 19 yaitu Auhai suami-suami kasihilah istrimu dan jangan berlaku kasar terhadap diaAy. Ada relasi yang harmonis jika keduanya memahami relasi mereka sebagai relasi yang komplementer/ saling melengkapi. Sikap ini bukan sesuatu yang harus dilakukan istri karena ia terpaksa melakukan itu atau karena itu adalah peran yang dikenakan kepadanya oleh masyarakat, melainkan karena dengan demikian ia bisa melayani Tuhan. Ini tidak berarti bahwa suami adalah Tuhan sehingga ia memiliki otoritas atas istrinya dan menjadi superior. (F. Tandi, 2007, hlm. Persoalan lain yang juga terkait dengan pemberlakuan perempuan dalam gereja nyata juga dalam penafsiran yang salah terhadap teks 1 Timotius 2:11 Ae 12:Ayseharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh, mereka tidak boleh mengajarAy. Ayat ini sering dipakai dalam gereja untuk membatasi keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan dan pelayanan gereja dan dipandang sebagai petunjuk yang universal dan permanent yang mengikat gereja secara universal. (F. Tandi, 2007,hlm. Akan tetapi jika dikaji teks ini dengan tepat. Rasul Paulus sedang membahas situasi khusus yakni menentang guru-guru palsu yang membahayakan gereja pada saat itu yakni guru-guru palsu yang dengan terang-terangan merasuki gereja dengan ajaran-ajaran sesat dan mempengaruhi perempuan Ae perempuan dalam gereja saat itu untuk bertindak tidak senonoh dalam gereja. Kenyataan ini tidak serta merta membatasi peran perempuan dalam gereja saat itu. Beberapa contoh dari surat Paulus memperlihatkan dengan jelas keterlibatan perempuan dalam pelayanan gereja dan pengajaran untuk membangun tubuh Kristus seperti Priskila dan suaminya Akwila yang menjadi rekan sekerja Rasul paulus yang setia. Di dalam rumah mereka jemaat berkumpul dan kepada mereka semua jemaat non-yahudi mengucap syukur (Roma 16 : 3 Ae 4. bdk 1 kor 16: 19. 2 Tim 4 . (F. Tandi, 2007,hlm. dan beberapa perempuan lainnya sebagaimana yang telah disebutkan dalam peran mereka di atas . ebagai diakonos dan Rasu. Kenyataan ini memberikan kepada kita bahwa Rasul Paulus tidak pernah menyatakan bahwa karunia kepemimpinan seperti mengajar, berkhotbah, bernubuat, dan administrasi dibatasi hanya untuk laki-laki. Sebaliknya Rasul Paulus menekankan bahwa Roh Kudus memberikan karunia kepada setiap orang sesuai dengan yang Ia tentukan . Kor 12:7,. dan bahwa penerima karunia itu memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya untuk kepentingan bersama. Jadi jika seorang perempuan menerima karunia itu untuk melayani dalam jemaat tetapi tidak dilakukannya dengan benar untuk membangun jemaat itu, maka ia tidak setia dengan tanggung jawab yang telah diberikan Allah kepadanya. (F. Tandi, 2007,hlm. Teologi feminis dan kritik terhadap patriarki dalam Alkitab Posisi dan peran perempuan yang ambivalen sebagaimana diperlihatkan di atas, maka teks-teks tertentu dalam Alkitab yang tampaknya memberi makna diskriminatif terhadap perempuan perlu dikaji lebih baik melalui pemahaman yang baik dan benar tentang latar belakang konteks dari teks kitab suci yang ditafsir. Dalam banyak hal gereja telah dipengaruhi oleh pemahaman teologi yang keliru melalui teks-teks Alkitab tertentu dan menjadikannya sebagai hukum universal untuk menindas dan membuat mereka terpinggirkan dari peran-peran tertentu seperti: pemimpin dalam gereja. Atas dalil teks kitab suci, perempuan dipandang sebagai makhluk yang kotor sehingga tidak punya akses menjadi pendeta dalam jemaat (Margaretha, 2009,hlm. Auini masih berlaku di beberapa denominasi gereja yang menjadikan teks-teks tertentu dalam Alkitab untuk menolak perempuan sebagai pengkhotbah atau pemimpin jemaat. Ay Menuju kearah pembebasan perempuan, maka teolog-teolog perempuan memprakarsai cara baru membaca Alkitab yang disebut: Membaca Alkitab Dengan Mata Baru/MADMB dari perspektif MAdMB adalah suatu cara pendekatan hermeneutik Alkitab yang diperkenalkan oleh Elisabeth Schussler Fiorenza. Ia menyuarakan dengan nyaring perspektif feminis sebagai suatu hermeneutik dalam penafsiran Alkitab. Menurut Fiorenza, penilaian kritis dari hermeneutik feminis hendaknya mengungkapkan kriteria dan prinsip bagi penilaian suatu nats, kitab-kitab, ajaran, atau penafsiran dari Alkitab. Kriteria atau prinsip seperti itu harus lahir dari suatu penelitian yang sistematis akan pengalaman penindasan dan pembebasan perempuan. (Schussler. Elizabeth, 1. Karena itu prinsip dasar hermeneutik feminis adalah penghayatan terhadap keberadaan perempuan sebagai manusia yang sama dan sederajat dengan laki-laki. Keyakinan ini dapat dirumuskan sebagai prinsip dasar bagi hermeneutik feminis. Prinsip dasar itu harus dipahami dalam kaitan yang erat dengan : pertama, prinsip kesederajatan . yakni memandang perempuan dan laki-laki sama- sama manusia sepenuhnya. Kedua. Prinsip mutualis yakni prinsip yang didasarkan atas pandangan bahwa manusia adalah subyek yang mewujudkan diri, mandiri dan juga saling berhubungan. (Schussler. Elizabeth, 1. Prinsip-prinsip ini menurutnya berfungsi melandasi suatu komitmen terhadap kesejahteraan, menentang semua bias tentang ketidaksederajatan . jenis kelamin, dan mengatasi rintangan-rintangan structural kearah mutualitas manusia. (Schussler. Elizabeth, 1995,hlm. AuCara atau Pendekatan tersebut . ermeneutik femini. merupakan metodologi yang menolong para pembaca agar tidak memandang Alkitab sebagai sesuatu yang asing bagi mereka tetapi memandangnya sebagai kesaksian tentang karya Allah yang ditujukan bagi laki-laki maupun perempuan termasuk mereka yang mengalami marginalisasi. Ay Melalui MAdMB. Alkitab dibaca dari sudut pengalaman perempuan yang tertindas, yang di dalamnya menemukan kekuatan untuk menentang ketidakadilan serta menemukan makna kehidupan dan spiritualitas yang menopang keberlangsungan hidup. Barth. Calire, 2003, hlm. Pada titik ini perempuan dapat membangun teologi yang titik berangkatnya bukan dari teori tentang Allah, tetapi teologi yang titik berangkatnya dari ratapan perempuan sebagaimana di rintihan Yesus dalam eksekusi penyaliban di GolgotaAy Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan dakuAy (Markus 15:34. Matius 27:. (Mutiara. P, 2009,hlm. ,AyRatapan Yesus sebagai titik berangkat teologi perempuan mengajak laki-laki untuk mendengarkan saudarinya yang mengisahkan penderitaan mereka sehingga laki-laki dapat menjadi saksi kehidupan bagi penderitaan perempuan. Identitas sebagai saksi kehidupan perempuan tumbuh saat laki-laki memasukan diri mereka ke dalam geografi penderitaan perempuan dan melihat keragaman kejahatan yang menggagahi kemanusiaan perempuan. (Mutiara. P, 2009,hlm. Ay Marghareta menggambarkan bahwa kaum perempuan menemukan Yesus sebagai wajah seorang sahabat yang selalu memihak kepada mereka, khususnya yang dimarjinalkan (Yohanes 8:1 dst. tentang perempuan yang berzina. Yesus digambarkan sebagai pribadi yang sangat peduli terhadap Perempuan, sehingga Ia membahas isu-isu teologis dengan mereka (Yohanes 4:1 dst tentang Perempuan Samaria. Lukas 10:38 dst. , tentang Maria dan Mart. Selain itu. Yesus juga dilukiskan sebagai seorang pribadi yang terbuka terhadap perempuan, bahkan menerima kritik mereka dan membiarkan diri-Nya dibarui oleh kritik itu (Markus 7:. Di mata Yesus, kaum perempuan bukanlah objek, sebagaimana mereka diperlakukan dalam budaya Yahudi, melainkan subjek. Sebagai seorang rabi Yahudi. Yesus sangat memahami praktik doa syukur kaum laki-laki Yahudi yang mengucap terima kasih kepada Allah karena tidak diciptakan sebagai budak, bukan Yahudi, atau perempuan. Namun. Yesus justru mengabaikan sikap tradisional tersebut dan memperlakukan perempuan dengan penuh belarasa serta pengampunan. (Taranau, 2. Pandangan Marghareta juga didukung oleh Marianne yang menegaskan bahwa perempuan sejatinya adalah pribadi yang bebas dan bukan sekadar objek. Hal ini ia tunjukkan melalui sosok Maria, seorang perawan yang mengandung Yesus sebelum dijamah oleh tunangannya. Yusuf (Luk. Keperawanan Maria ketika mengandung Yesus menegaskan bahwa ia adalah pribadi yang merdeka dan tidak menjadi objek dari manusia lain. (Taranau, 2014,hlm. Maria juga Adalah pribadi yang bebas bertindak dan mengambil keputusan. Dalam konteks dimana perempuan tidak dihargai, danggap bukan siapa-siapa dan tidak memiliki kekuatan di dalam segala aspek kehidupan. Maria mampu menampilkan diri sebagai pribadi bebas yang terlepas dari belenggu patriarki dan normanorma lazim yang berlaku di masyarakat. Ketika Maria menerima kehendak Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus dalam kondisi perawan, yaitu sebelum ia resmi menjadi istri Yusuf, itu adalah keberanian untuk bertindak dan mengambil keputusan secara bebas. Saat menerima tanggungjawab untuk mengandung tangung jawab dengan segala konsekuensinya. Maria tidak bertanya kepada ayahnya atau kepada Yusuf, yang pada saat itu telah menjadi suaminya, walaupun pada saat itu mereka masih berada pada tahap pertama perkawinan tradisi Yahudi. Maria menunjukkan kondisi beriman yang melayani dan menaati kehendak Allah dalam kebebasan dan keberanian. Mari adalah pribadi yang bebas dan tegas. Ketegasan Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan adalah keberanian untuk menyatakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Maria secara tegas menyetarakan dirinya dengan para hamba Tuhan yang didominasi laki-laki(Taranau, 2014,hlm. Implikasi praktis dalam gereja Perjuangan perempuan untuk menemukan pembebasan bagi dirinya dalam gereja dan masyarakat merupakan jalan panjang yang masih menjadi agenda penting sampai saat ini. Perjuangan ini bukan sekedar untuk menyetarakan perempuan dan laki-laki tetapi yang lebih utama adalah perubahan paradigma terhadap perempuan sebagai mahkluk yang sepadan dengan laki-laki. Menuju kearah perubahan paradigma tersebut, maka keterlibatan semua elemen masyarakat, gereja dan pemerintah sangat penting. Beberapa strategi yang saya berikan melalui paper ini adalah: Pembinaan terhadap perempuan dalam gereja mesti mendapat tempat yang sama pentingnya dengan program-program jemaat lainnya. Pembinaan tersebut tidak sekedar program-program yang hanya terkait dengan peran domestik, tetapi juga peningkatan wawasan dalam menyikapi realita sosial masyarakat yang turut mempengaruhi peran-perannya. Meningkatkan potensi perempuan dan kemampuan akademiknya agar ia mampu menyumbangkan pikiran-pikiran yang konstruktif bagi pengembangan jemaat dimana ia Bentuk kelompok-kelompok diskusi dan sharing bersama laki-laki untuk menumbuhkan pemahaman bersama bagi pemberdayaan perempuan dan masalah-masalah yang KESIMPULAN Artikel ini menegaskan bahwa posisi dan peran perempuan dalam teologi Kristen selama ini sering direduksi oleh tafsir patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat dan terbatas dalam pelayanan gereja. Melalui pendekatan hermeneutika feminis, terutama metode Membaca Alkitab dengan Mata Baru (MADMB), teks-teks Alkitab dapat ditafsirkan ulang dengan perspektif yang mengakui kesetaraan, martabat, dan peran aktif perempuan dalam kehidupan iman dan pelayanan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat dasar teologis yang kuat untuk mengembangkan kesetaraan gender dalam tradisi Kristen, serta membuka ruang pembebasan perempuan dari struktur patriarki yang selama ini Implikasi praktis dari penelitian ini menuntut perubahan paradigma dan peningkatan peran perempuan dalam gereja dan masyarakat melalui pendidikan, pemberdayaan, dan dialog antar gender. Dengan demikian, teologi feminis menjadi alat penting dalam memperjuangkan keadilan gender dan menegaskan bahwa perempuan adalah mitra sejajar laki-laki dalam karya keselamatan dan pelayanan gereja. DAFTAR PUSTAKA Barth. Calire. Hati Allah bgaikan hati seorang ibu. BPK GUNUNG MULIA. Tandi. Ekualitas gender menurut Rasul Paulus dalam keluarga dan gereja. Randa Family Press. Grecetinovitria Merliana Butar- butar. Desy Mariana Siringoringo, & Melias Sembiring. Peran Kepemimpinan Perempuan Dalam Perjanjian Lama. Jurnal Mahasiswa Kreatif, 2. , 01Ae12. https://doi. org/10. 59581/jmk-widyakarya. Mahardika Putra Prajna Amade. Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja: Membongkar Mitos Meninjau Realitas. Jurnal Filsafat Dan Teologi, 5. , 181Ae204. https://doi. org/10. 47131/jtb. Margaretha. Perempuan. Kekerasan dan Perdamaian. Yakohama PGI. Mutiara. Lahir dari Rahim. Kanisius. Natar. Niwa. Ketika Perempuan Berteologi: Berteologi Feminis Kontekstual. Taman Pustaka