ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa Melalui Model Inkuiri Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di Kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Desa Kuap Eva Yuliana1. Muhaiminah Jalal2 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi e-mail: evhaey14@gmail. com1, muhaiminahj@uinjambi. Abstrak Penelitian ini di latar belakangi karena kurangnya keaktifan belajar siswa dibuktikan dengan dari 16 siswa dikelas tersebut 7 siswa masih tergolong dalam kategori kurang , 5 siswa berada dalam kategori cukup, dan 4 siswa masuk dalam kategori baik Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Melalui Model Inkuiri Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Dan Sosial (Ipa. Di Kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Desa Kuap. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan yang ada di kelas. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas i yang berjumlah 16 siswa. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan lembar observasi. Lembar wawancara. Lembar Angket, dan Metode yang digunakan untuk analisis data adalah metode analisis kualitatif dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajar inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Dan Sosial dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari data yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru pada siklus I diperoleh dengan nilai persentase 80%, kemudian pada siklus II aktivitas guru meningkat menjadi 95% dengan kualifikasi sangat baik. Sedangkan hasil observasi keaktifan siswa pada siklus I diperoleh hasil dengan persentase 62,18% dengan kualifikasi cukup, kemudian pada siklus II meningkat menjadi 80% dengan kualifikasi baik. Kemudian hasil angket siswa pada siklus I diperoleh dengan persentase 66,25% dengan kualifikasi cukup, sedangkan hasil angket siswa pada siklus II diperoleh dengan persentase 81,38% dengan kualifikasi baik. Berdasarkan data tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa dan keakktifan siswa dihitung dari hasil angket siswa dengan penerapan model pembelajaran inkuiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dikelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Desa Kuap Kata Kunci: Keaktifan Belajar. Inkuiri. Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial Abstract This research is motivated by the lack of student learning activity, as evidenced by the fact that out of 16 students in the class, 7 students are still classified as lacking, 5 students are in the sufficient category, and 4 students are in the good category. This research aims to improve student learning activity through the inquiry model in natural and social science learning (Ipa. in grade i of State Elementary School 41/1 Kuap Village. This research is a classroom action research (PTK) intended to address problems in the classroom. The research subjects used were 16 grade i The research was conducted in two cycles. Data collection techniques in the research used observation sheets, interview sheets, questionnaire sheets, and documentation. The methods used for data analysis were qualitative and quantitative analysis methods. The results of the study indicate that the implementation of learning using the inquiry learning model in the subject of Natural and Social Sciences can improve student learning activity. This can be seen from the data that has been collected showing that student learning activity has increased. Based on the results of observations of teacher activity in cycle I, it was obtained with a percentage value of 69%, then in cycle II, teacher activity increased to 78% with good qualifications. While the results of Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 observations of student activity in cycle I obtained results with a percentage of 56. 09% with sufficient qualifications, then in cycle II it increased to 77. 18% with good qualifications. Then the results of the student questionnaire in cycle I obtained with a percentage of 66. 25% with sufficient qualifications, while the results of the student questionnaire in cycle II obtained with a percentage 38% with good qualifications. Based on these data, it shows an increase in teacher activity, student activity and student activity calculated from the results of the student questionnaire with the application of the inquiry learning model. Thus, it can be concluded that the application of the inquiry learning model can increase student learning activity in class i of State Elementary School 41/1 Kuap Village. Keywords: Active Learning. Inquiry. Natural and Social Sciences. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia, ini berarti bahwa setiap manusia Indonesia berhak mendapatkannya dan diharapkan untuk selalu berkembang didalamnya. Pendidikan tidak akan ada habisnya. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Proses pendidikan ini berlangsung seumur hidup. Sehingga peranan keluarga itu sangat penting bagi anak terutama orang tua. Orang tua mendidik anaknya dengan penuh kasih Kasih sayang yang diberikan orang tua tidak ada habisnya dan terhitung nilainya. Orang tua mengajarkan kepada kita hal-hal yang baik misalnya, bagaimana kita bersikap sopan-santun terhadap orang lain, menghormati sesama, dan berbagi dengan mereka yang kekurangan. Untuk pencapaian tujuan Pendidikan tentunya adanya kerjasama antara guru dan peserta didik. Pendidikan tidak terlepas dari proses pembelajaran yang biasanya dilalukan di sekolah. Pembelajaran merupakan aktivitas yang dilakukan dengan adanyan kegitan belajar dan pengajar (Ummah, 2. Tercapainya Pendidikan tentunya melalui adanya sebuah partisipasi antar pihak yang terkait guna memajukan kualitas Pendidikan yang mana selain partisipasi pemerintah saat menyediakan, karena Pendidikan sangat berperan penting untuk keberhasilan peserta didik. Pemilihan metode pembelajaran menjadi sangat penting dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Apalagi di masa sekarang, kegiatan proses belajar mengajar dibatasi demi kenyamanan dan kesehatan bersama. Kendala yang dialami saat pembelajaran tatap muka terbatas ini yang baru saja diberlakukan, membuat siswa harus menyesuaikana diri dengan keadaan sekarang, pembelajaran tatap muka. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran juga sangat diperlukan agar tercapainya tujuan pembelajaran. Keaktifan siswa secara harfiah, keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti sibuk, giat (Kamus Besar Bahasa Indonnesi. Aktif mendapat awalan ke- dan akhir-an, sehingga menjadi keakifan yang mempunyai arti kegiatan atau kesibukan. Keaktifan siswa ialah, suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Siswa secara aktif untuk menemukan ide dari meteri pembelajaran, memecahkan masalah atau mengaplikasikan apa yang diberikan guru dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dimaksudkan untuk mendorong potensi yang dimiliki dalam diri siswa, sehingga dapat mencapai hasil belajar. Semua siswa memiliki dorongan untuk berbuat sesuatu, memiliki kemampuan, dan aspirasinya sendiri. Belajar yang dilakukan pastinya melibatkan orang lain. Semua cara belajar memiliki unsur keaktifan, disetiap proses belajar siswa tentunya diperlukan sikap aktif dalam menanggapi pembelajaran Keaktifan siswa dalam belajar tersebut dapat mucul dalam berbagai bentuk, minsalnya mendengar seorang guru yang sedang menyampaikan, mendiskusikan sesuatu dengan guru atau teman sekelas dan sebagainya (Septiawati et al. , 2. Jadi keaktifan belajar adalah kegiatan atau kesibukan siswa dalam kegiatan belajar mengajar disekolah maupun diluar sekolah yang nantinya dapat memperoleh keberhasilan belajar. Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Dengan adanya keaktifan siswa didalam proses pembelajaran, tentu membuat pembelajaran jadi lebih hidup dan menyenangkan. Serta tujuan dan hasil belajarpun dapat Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 tercapai dengan baik. Itulah pentingnya peran keaktifaan siswa dalam pembelajaran. Pendidikan di era modern menuntut adanya pembelajaran yang lebih aktif, inovatif, dan berpusat pada siswa. Usaha yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan yaitu pendidik harus bisa berinovasi sehingga dapat menandakan pendidik tersebut kreatif serta mampu mengembangkan diri menjadi lebih baik. Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar adalah rendahnya keaktifan belajar siswa. Hal ini terlihat dari kurangnya partisipasi siswa dalam diskusi, minimnya keberanian untuk bertanya, serta keterbatasan eksplorasi siswa terhadap materi yang diajarkan. Metode pembelajaran yang masih didominasi oleh ceramah dan pemberian tugas cenderung membuat siswa pasif dalam menerima informasi, tanpa adanya keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran (Hasriadi, 2. Model Inkuiri merupakan aktivitas sistematis dalam pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk berpikir dengan cara analitik, kritis, dan kreatif sehingga mampu mendapatkan solusi dari permasalahan yang diberikan, secara mandiri oleh siswa tersebut. Pembelajaran berbasis inkuiri ini adalah pendekatan yang menitik beratkan pada keaktifan siswa dalam melakukan kegiatan proses pembelajaran. Peran guru dalam model pembelajaran inquiry ini hanya sebagai fasilitator, sedangkan siswa sebagai subjek belajar atau memiliki peran utama untuk mengajukan pertanyaan atau mengeksplorasi gagasan mereka dari berbagai sudut pandang peserta didik mengenai materi pelajaran. Inquiry adalah suatu model pembelajaran yang dikembangkan agar siswa menemukan dan menggunakan berbagai sumber informasi dan ide-ide untuk meningkatkan pemahaman tentang masalah-masalah, topik, atau isu tertentu. Melalui pembelajaran Inquiry, siswa dapat terlibat aktif seperti mengajukan pertanyaan dan penyelidikan sehingga siswa dapat membangun pengetahuan yang bermakna. Penyelidikan adalah suatu sikap, cara dan pedoman yang digunakan siswa untuk menggali, menjelaskan, dan mengenal konsep-konsep IPA (Gunardi. Pembelajaran IPAS memberi kesempatan untuk mempelajari diri mereka sendiri dan lingkungan mereka, serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari hari, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesulitan di masa depan. IPA/sains memiliki peluang yang sangat besar untuk menanamkan nilai nilai budi pekerti pada peserta didik. Ini disebabkan oleh fakta bahwa kurikulum IPAS dirancang secara sistematis dengan tujuan agar pembelajaran menjadi interaktif, menginspirasi, menarik, dan menantang. Selain itu kurikulum ini juga memberikan ruang yang cukup kreativitas, kemandirian, dan perkembangan mental anak (Ramadhan et al. , 2. Penerapan materi IPAS diharapkan dapat membekali siswa untuk dapat menyelesaikan permasalahan pada kehidupan seharihari baik yang berkaitan dengan gejala alam di sekitar maupun yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Mengingat hal tersebut, 23 maka materi IPAS merupakan salah satu materi yang dikembangkan khususnya pada kurikulum merdeka. Pada kurikulum merdeka, materi IPAS mengarahkan siswa salah satunya untuk dapat mengerjakan suatu proyek yang bertujuan untuk dapat menyelesaikan permasalahan di bidang IPA dan Sosial. Proyek tersebut diterapkan sebagai salah satu bukti pencapaian ketuntasan belajar (Nadhifah et , 2. Berdasarkan observasi awal tentang proses pembelajaran di kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Desa Kuap, diperoleh bahwa, tingkat keaktifan belajar siswa kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Kuap dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) sangat rendah ,rendahnya tingkat keaktifan siswa ini dapat dilihat dari indikator tingkat keaktifan siswa yang meliputi keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan, keaktifan siswa dalam mengerjakan soal didepan kelas, keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat, dan keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan masih belum terlihat pada saat proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi awal penelitian dimana terdapat sebanyak 7 siswa tergolong dalam kategori kurang, 5 siswa berada dalam kategori cukup, dan 4 siswa masuk dalam kategori baik. Hal ini terlihat dari pembelajaran berlangsung yang mana pada saat pembelajaran guru masih belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sehingga pada proses pembelajaran masih siswa yang belum berani mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran Selain itu, hanya sedikit siswa yang bersedia mengerjakan soal di depan kelas. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 sementara sebagian besar lainnya cenderung pasif dan menunggu jawaban dari guru atau teman Ketika diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat, siswa tampak ragu-ragu dan kurang percaya diri dalam menyampaikan ide mereka. Begitu pula saat guru mengajukan pertanyaan, hanya beberapa siswa yang aktif menjawab, sedangkan yang lain lebih memilih diam atau menunggu jawaban dari teman lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa diperlukan strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya, mengerjakan soal, menyampaikan pendapat, dan menjawab pertanyaan selama pembelajaran Kurangnya keaktifan memahami pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial menyebabkan siswa kesulitan menyelesaikan masalah dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. Masalah yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri 41/1 Kuap, khususnya kelas i, belum cukup memahami apa yang dipelajari pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. Siswa sebenarnya mampu membangun teori sendiri berdasarkan kemampuan pengetahuannya, namun keberanian untuk mengemukakan pendapatnya itu sangatlah kurang. Adanya permasalahan tersebut, maka peneliti akan melaksanakan sebuah penelitian dengan menggunakan sebuah model inkuiri sebagai solusi untuk meningkatkan keaktifan belajar Tujuan dari penggunaan model pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir kritis secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan mengembangkan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Penggunaan model inkuiri bisa meningkatkan keaktifan belajar siswa karena siswa akan merasa tertarik dengan berbagai sintak yang ada disetiap pembelajaran yang digunakan dan siswa lebih bersemangat untuk mengemukakan pendapat, bertanya tentang materi yang belum di pahami Model ini menekankan pada eksplorasi, investigasi, serta pemecahan masalah yang memungkinkan siswa untuk lebih aktif dalam menggali informasi dan memahami konsep secara mendalam. Berbeda dengan metode konvensional, model inkuiri memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengalami langsung proses ilmiah, baik melalui eksperimen, observasi, maupun diskusi kelompok yang terarah (Hariandi & Cahyani, 2. Berdasarkan uraian di atas membuat peneliti terdorong untuk mengadakan sesuatu penelitian dengan judul " Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa Melalui Model Inkuiri Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Dan Sosial (Ipa. Di Kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Desa Kuap ". METODE Jenis penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bentuk penelitian dalam bidang pendidikan yang mana hal ini terjadi karena kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri, di kelas sendiri dengan melibatkan siswa sendiri, melalui sebuah tindakan yang direncanakan, dilaksanakan, evaluasi, dan Model yang digunakan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu menggunakan model Tindakan yang di kembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang mana memiliki 4 tahapan yaitu perencanaan . , pelaksanaan/tindakan . , pengamatan . , refleksi . (Sunny et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Observasi Aktivitas Guru Berdasarkan hasil observasi guru yang telah dilakukan pada siklus I menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran belum berjalan dengan maksimal. Dimana guru belum maksimal membimbing siswa dalam proses pembelajaran dan menyelesaikan LKPD yang telah diberikan sehingga pada siklus I memperoleh nilai aktivitas guru dengan persentase 80%. Pada tindakan siklus II peneliti melakukan perbaikan dari kekurangan yang ada pada siklus I sehingga aktivitas guru pada siklus II diperoleh nilai yang meningkat dari siklus sebelumnya yaitu persentase 95%. Hasil peningkatan aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran berbasis proyek pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar diagram berikut: Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I Siklus II Gambar 4. 2 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Guru Pelaksanaan Observasi Keaktifan Siswa Berdasarkan hasil observasi keaktifan siswa pada siklus I, menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek dalam pembelajaran masih di kategorikan cukup. Hal ini menunjukkan harus adanya perbaikan pada siklus II, dengan demikian peneliti kembali mengamati keaktifan siswa pada siklus II agar memperoleh hasil lebih baik dari siklus sebelumnya. Dari hasil observasi keaktifan siswa pada siklus I di peroleh hasil dengan persentase 62,18%. Pada pelaksanaan siklus II peneliti melakukan perbaikan yang ada pada siklus I sehingga pada siklus II sudah terlihat keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran, di tunjukkan dengan perolehan hasil persentase 80%. Adapun hasil peningkatan hasil observasi keaktifan siswa akan di jelaskan pada gambar di bawah ini : Hasil Observasi Keaktifan Siswa Siklus I Siklus II Gambar 4. 3 Diagram Hasil Observasi Keaktifan Siswa Persentase angket siswa Berdasarkan hasil pengisian lembar pernyataan angket siswa pada siklus I menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dan sosial masih dikategorikan cukup. Hal ini menunjukkan harus adanya perbaikan juga pada siklus II agar memperoleh hasil lebih baik dari siklus sebelumnya. Dari hasil pengisian angket siswa pada siklus Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 I diperoleh hasil dengan persentase 66,25%. Pelaksanaan pada siklus II peneliti melakukan perbaikan dari siklus I sehingga hasil pada siklus II diperoleh dengan persentase 81,375%. Hasil peningkatan pengisian lembar pernyataan angket siswa dalam penerapan model pembelajaran inkuiri pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar diagram berikut ini: Hasil Pengisian Angket Siswa Siklus I Siklus II Gambar 4. 4 Diagram Hasil Angket Siswa Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan penerapan model inkuiri dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Kuap pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial melalui proses kegiatan pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Peningkatan ini dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu aktivitas guru. Aktivitas siswa dan persentase angket siswa dalam menjawab lembar pertanyaan. Adapun rincian peningkatan penelitian yang dimaksud akan dipaparkan pada tabel dibawah ini: Tabel 4. 14 Peningkatan hasil penelitian siklus I dan siklus II Apsek yang di teliti Siklus I Siklus II Peningkatan Observasi aktivitas guru Observasi aktivitas siswa 62,18% 17,82% Persentase angket siswa 66,25 81,375% 15,125% Pembahasan Penelitian yang dilaksanakan ini adalah penelitian tindakan kelas yang menggunakan model Kemmis Mc Taggart. Dimana penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa Kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Kuap pada saat pelajaran yang menggunakan model pembelajaran inkuiri. Keaktifan belajar siswa ialah, suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Siswa secara aktif untuk menemukan ide dari meteri pembelajaran, memecahkan masalah atau mengaplikasikan apa yang diberikan guru dalam proses pembelajaran. kegiatan atau kesibukan siswa dalam kegiatan belajar mengajar disekolah maupun diluar sekolah yang nantinya dapat memperoleh keberhasilan belajar. Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Dengan adanya keaktifan siswa didalam proses pembelajaran, tentu membuat pembelajaran jadi lebih hidup dan menyenangkan (Septiawati et al. , 2. Penerapan modul pembelajaran inkuir pada penelitian ini dilaksanakan pada pelajaran IPAS pada materi Ada hewan apa saja disekitarmu, (Pengelompokkan Hewan Dan Tumbuha. , dan juga materi Apakah Semua Hewan Itu Sama. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. penelitian ini terdiri dari dua siklus yang mana pada setiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan, satu pertemuan melakukan pelaksanaan tindakan dan pada pertemuan kedua melaksanakan penilaian terkait dengan keaktifan belajar siswa pada saat pembelajaran agar ketika belajar siswa terlibat aktif, perhatian serta merasa senang dan tertarik pada saat proses pembelajaran berlangsung. Penelitian yang dilakukan oleh (Muhammad Ikhsan 2. menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keaktifan belajar siswa yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran imkuiri ini lebih baik dibandingkan dengan proses pembelajaran yang tidak menggunakan model pembelajaran inkuiri. Hal ini terlihat ketika peneliti melakukan observasi awal di kelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Kuap. Kabupaten Batanghari pada pelajaran IPAS disini guru masih belum menggunakan medel yang bervariasi masih mengandalkan metode ceramah dan siswa hanya diarahkan untuk mendengarkan, membaca, dan mengingat materi dari buku ajar Sehingga rendahnya keaktifan siswa dalam pembelajaran dimana kondisi awal terdapat 7 siswa tergolong dalam kategori kurang , 5 siswa berada dalam kategori cukup dan 4 siswa masuk dalam kategori baik. Adapun yang peneliti lakukan dalam menerapkan model pembelajaran inkuiri diperolehlah hasil yang telah terjadinya peningkatan keaktifan belajar siswa diperoleh dari tindakan siklus I dan II yang mana pada siklus pada siklus I dikegiatan aktivitas siswa diperoleh persentase ketuntasan 66,25% dengan kualifikasi AucukupAy dengan 2 siswa yang memperoleh skor di atas kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, dan masih ada 14 siswa yang memperoleh skor dibawah kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Dari hasil tersebut perlu adanya perbaikan untuk siklus selanjutnya. Pada siklus II peneliti berupaya untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang ada pada siklus I. Sehingga pada siklus II diperoleh persentase 80% kualifikasi AubaikAy dengan 3 siswa yang memperoleh skor pas pada kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran dan ada 11 siswa yang diatas kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran dan ada 2 siswa yang masih dibawah kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Sedangkan angket siswa di siklus I di peroleh persentase 66,25% dengan 4 siswa memperoleh skor diatas kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, dan masih ada 12 siswa yang memperoleh skor dibawah kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, sedangkan pada siklus II diperoleh persentase 81,375% dengan 14 siswa memperoleh skor diatas kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran dan masih ada 2 siswa yang masih berada dibawah skor kriteria ketercapian tujuan pembelajaran, 2 orang siswa ini setelah dianalisis lebih lanjut melalui observasi dan wawancara dengan guru kelas, kedua siswa tersebut menunjukkan kecenderungan memerlukan waktu dan pendekatan pembelajaran yang lebih Keduanya memiliki gaya belajar yang berbeda dan menghadapi tantangan dalam memahami materi abstrak yang disampaikan secara umum dikelas. Berdasarkan dengan catatan akademik dan asesmen sebelumnya, diketahui bahwa kedua siswa tersebut memiliki kemampuan kognitif yang berada dibawah rata-rata teman sekelasnya. Hal ini bukan berarti mereka tidak mampu belajar, melainkan membutuhkan strategi pembelajaran yang lebih individual, konkret, dan bertahap agar dapat memahami materi dengan baik. Demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri mampu meningkatkan keaktifan belajar siswa dikelas i Sekolah Dasar Negeri 41/1 Kuap. Kabupaten Batanghari dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. SIMPULAN Penelitian yang di laksanakan ini adalah penelitian tindakan kelas yang menggunakan model Kemmis Mc Taggert. Dimana penelitian ini di laksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa Kelas i 41/1 Kuap pada saat pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran inkuiri. Penerapan model pembelajaran inkuiri pada penelitian ini di laksanakan pada mata pelajaran IPAS di kelas i SDN 41/1 Kuap. Penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas i yang berjumlah 16 orang siswa. Dalam penelitian ini di laksanakan dalam empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini di lakukan dalam dua siklus dimana setiap siklus di laksakan dalam dua pertemuan. Dimana pertemuan pertama dan pertemuan kedua sama-sama melihat tindakan aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29795-29802 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 inkuiri , dan melihat aktivitas siswa, baik dalam bentuk pertanyaan secara langsung ataupun pertanyaan secara tertulis yang di berikan oleh guru. Berdasarkan dari penelitian tindakan kelas yang sudah di laksanakan pada pembelajaran IPAS kelas i dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri menunjukkan hasil adanya peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran. Hal demikian dapat dilihat dari hasil observasi dan tes yang diberikan pada siklus I dan siklus II. selanjutnya setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I Observasi keaktifan siswa diperoleh dengan persentase 62,18%. Sedangkan pada siklus II setelah dilakukan perbaikan memperoleh hasil dengan persentase Dari data tersebut terlihat hasil peningkatan pada observasi aktivitas siswa yaitu 17,82%. Untuk observasi aktivitas guru pada siklus I dalam penerapan model pembelajaran inkuiri diperoleh hasil dengan persentase 80%. Sedangkan pada siklus II setelah dilakukan perbaikan meningkat menjadi 95%. Dari data tersebut dapat dilihat hasil observasi guru pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebanyak 15%. Selanjutnya untuk angket siswa pada siklus I dalam penerapan model pembelajaran inkuiri diperoleh hasil dengan persentase 66,25% sedangkan pada siklus II setelah dilakukan perbaikan meningkat menjadi 81,375% dan mengalami peningkatan sebesar dengan persentase 15,125% dari hasil tindakan siklus I dan siklus II. DAFTAR PUSTAKA