Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Metode Mnemonik dan Orton-Gillingham untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Disabilitas Intelektual Isabella Vannessa Pranata Kandoko1. Herdina Indrijati2 Magister Psikologi Profesi. Universitas Airlangga Email korespondensi: Isabellavannessa1@gmail. Received: 27 Februari 2026 Revised: 11Maret 2026 KEYWORDS Membaca permulaan Murid SD Disabilitas Intelektual Mnemonics Orton-Gillingham Accepted: 27 Maret 2026 ABSTRACT Membaca permulaan merupakan fondasi awal dalam proses membaca yang diberikan pada anak kelas rendah sebelum melanjutkan pada tahapan membaca berikutnya, namun kemampuan ini kerap masih menjadi tantangan bagi anak dengan disabilitas intelektual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan metode mnemonik dan OrtonGillingham dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak dengan disabilitas intelektual ringan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kasus tunggal. Subjek dalam penelitian ini merupakan siswa kelas 4 SD berusia 10 tahun dengan kondisi disabilitas intelektual ringan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan asesmen berupa tes inteligensi dan informal membaca untuk memastikan bahwa subjek mengalami kesulitan membaca permulaan yang disertai dengan kondisi disabilitas intelektual. Intervensi terhadap subjek dilakukan selama 7 sesi dan dilanjutkan dengan sesi psikoedukasi terhadap guru dan orangtua subjek. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan membandingkan nilai sebelum dan sesudah dilakukan proses intervensi. Pada kondisi sebelum intervensi rata-rata skor kemampuan membaca subjek adalah 34,3 dari skor maksimum 100 kemudian pada kondisi setelah intervensi nilai rata-rata subjek menjadi 96,8 yang menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan pada subjek. Berdasarkan pada temuan tersebut, maka diperoleh kesimpulan bahwa Metode Mnemonik dan Orton-Gillingham dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak disabilitas intelektual ringan. Pendahuluan Kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar yang sangat penting untuk dimiliki anak tidak hanya untuk tujuan pendidikan namun juga untuk tujuan bermasyarakat, dengan membaca individu akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas, mampu mengkomunikasikan gagasan dan ekpresi diri (Suparlan, 2. Kemampuan membaca merupakan proses kognitif yang kompleks yang melibatkan berbagai keterampilan seperti kemampuan menerjemahkan huruf menjadi bunyi, kelancaran membaca, penguasaan kosa kata serta pemahaman bacaan, membaca merupakan proses aktif antara pembaca dan teks untuk memahami, menyimpulkan, dan menghubungkan isi bacaan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki (Jennings et al. , 2. Pada tahap awal belajar membaca, anak harus dapat menguasai terlebih dahulu kemampuan membaca permulaan yang meliputi mengeja dan memiliki pemahaman mengenai bahwa huruf mewakili bunyi dan bunyi-bunyi tersebut apabila digabung dapat membentuk suatu kata. Ketika anak sudah dapat menguasai tahapan tersebut maka anak dapat melanjutkan pada tahapan pemahaman membaca yang mencakup kemampuan untuk mengenali kata, membaca dengan lancar dan menggunakan pengetahuan sebelumnya dalam memahami isi bacaan (Hallahan et al. , 2. Namun, tak jarang terdapat anak yang Isabella Vannessa Pranata Kandoko. Herdina Indrijati Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 mengalami permasalahan dalam kemampuan membaca yang mana hal ini berkaitan dengan kemampuan membaca yang membutuhkan keterampilan yang sangat kompleks yang melibatkan berbagai macam fungsi kognitif yaitu konsentrasi, asosiasi terhadap informasi yang diperoleh maupun kemampuan dalam membaca permulaan (Jankowska et al. , 2. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan anak dalam belajar, tingkat kecerdasan seringkali dikaitkan dengan perbedaan dalam kecepatan serta cara anak dalam memahami pembelajaran. Pembelajaran membaca melibatkan berbagai proses kognitif seperti pemahaman verbal, pemrosesan informasi serta memori, sehingga variasi tingkat intelegensi anak akan mempengaruhi perbedaan dalam kemampuan membaca pada setiap anak (Jennings et al. , 2. Faktor kunci lainnya yang mempengaruhi proses belajar membaca Menurut Lamb & Arnold . alam Sukma et al. , 2. adalah motivasi, tindakan membaca tidak hanya melibatkan aspek kognitif namun sangat dipengaruhi oleh dorongan dari dalam diri anak, yang mana keberhasilan dalam aspek kognitif sangat bergantung pada aspek afektif seperti kemauan anak untuk mengambil risiko dan tetap bertahan dalam proses belajar. Anak dengan motivasi belajar yang tinggi cenderung akan menunjukkan antusiasme dalam membaca, memiliki sifat gigih ketika menghadapi kesulitan dan tekun dalam menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan bacaan. Sebaliknya, anak dengan motivasi rendah seringkali mudah menyerah dan tidak tertarik untuk menyelesaikan atau memahami bacaan secara mendalam. Kondisi ini juga dapat semakin memburuk apabila anak merasa gugup, malu ketika tidak mampu membaca teks dengan lancar serta munculnya rasa cemas saat mengikuti pelajaran membaca yang pada akhirnya dapat menyebabkan anak kesulitan untuk fokus dalam proses belajar (Mustikasari, 2. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yogantari et al. , . menunjukkan bahwa anak dengan kondisi disabilitas intelektual memiliki tujuan pembelajaran membaca yang berbeda dari siswa pada umumnya, karena adanya defisit dalam kemampuan kognitif, khususnya dalam memori jangka pendek dan kecepatan memproses informasi. Kesulitan ini menyebabkan anak mengalami hambatan dalam menguasai keterampilan membaca dasar secara mekanik, meskipun usia mereka setara dengan siswa kelas empat hingga enam sekolah dasar. AAMR (American Association on Mental Retardatio. menyatakan disabilitas intelektual adalah disabilitas yang menunjukkan adanya keterbatasan yang signifikan baik dalam fungsi intelektual maupun dalam perilaku adaptif yang terdiri dari keterampilan adaptif konseptual, sosial dan praktis, keterbatasan ini muncul sebelum usia 18 Berdasarkan pada DSM-5 menurut American Psychiatric Association . Fungsi adaptif mencakup tiga domain utama yaitu konseptual, sosial dan praktis. Domain konseptual mencakup kemampuan individu dalam akademik seperti kemampuan dalam memori, bahasa, membaca, menulis, penalaran matematika maupun pemecahan Domain sosial mencakup kesadaran terhadap pikiran, perasaan, dan pengalaman orang lain serta kemampuan individu dalam berteman dan menunjukkan respon pada suatu situasi sosial. Domain praktis mencakup pembelajaran dan pengelolaan diri dalam berbagai situasi kehidupan seperti perawatan diri, pengendalian perilaku, pengelolaan uang serta pengorganisasian tugas di sekolah dan pekerjaan. Bagi anak dengan kondisi disabilitas intelektual ringan, membaca bukan hanya sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi keterampilan dasar yang penting untuk mendukung kemandirian dan interaksi sosial namun dalam praktiknya anak cenderung mengalami kesulitan dalam tahapan membaca permulaan yaitu dalam pengenalan dan membaca simbol huruf dan mengalami kesulitan menyatukan huruf-huruf tersebut menjadi suku kata, kata maupun kalimat dengan benar sehingga dibutuhkan latihan secara terusmenerus untuk dapat memiliki keterampilan membaca yang lebih baik (Abdurrahman. Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Prater . menyatakan bahwa permasalahan yang seringkali dialami oleh anak dengan kondisi disablitas intelektual dalam kemampuan membaca diantaranya yaitu . word recognition mengacu pada ketidakmampuan anak untuk secara cepat dan akurat dalam mengingat dan mengenali kata. visual discrimination mengacu pada kesulitan anak untuk membedakan huruf yang mirip, seperti huruf b dan d. blending mengacu pada kesulitan menggabungkan bunyi-bunyi terpisah menjadi kata yang utuh dan juga tidak memahami atau menghasilkan sajak dengan baik. short term memory mengacu pada kesulitan dalam mempertahankan dan memahami informasi dari bacaan dalam waktu singkat, sehingga anak mengalami kesulitan dalam mengonstruksi makna dari teks yang dibaca secara keseluruhan. long-term memory mengacu pada kesulitan dalam menyimpan informasi dalam jangka panjang, seperti saat anak mengalami kesulitan dalam mempelajari huruf, mengingat bunyi huruf, atau mengingat informasi yang sebelumnya telah diajarkan. Penelitian ini mengangkat kondisi yang dialami oleh subjek penelitian yaitu seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang saat ini merupakan siswa kelas 4 SD. Wali kelas menyatakan bahwa subjek mengalami kesulitan dalam membaca yang menyebabkan ia tidak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Subjek masih mengalami kesulitan pada beberapa huruf konsonan, khususnya huruf yang memiliki bentuk serupa seperti b, d, p, dan q, serta pada huruf-huruf akhir alfabet seperti v hingga z. Subjek juga cenderung mudah lupa dalam mengenali huruf, sehingga ketika membaca suku kata, sering terjadi kesalahan pelafalan, seperti huruf AuaAy dibaca menjadi AueAy. Pada pembacaan suku kata pola K-V, subjek masih sering keliru, misalnya membaca AuseAy menjadi AusaAy. Pada bacaan suku kata pola KVKV. Subjek kerap melakukan penghilangan atau penambahan huruf, seperti membaca kata AukakiAy menjadi AukiAy. Kesalahan tersebut berdampak pada ketidakmampuan subjek dalam membaca kalimat sederhana dengan pola KV-KV secara utuh. Dalam situasi kelas, dikarenakan subjek seringkali mengalami kegagalan dalam membaca subjek cenderung menunjukkan perilaku menghindar di kelas, seperti menunduk, berpura-pura ke toilet agar tidak ditunjuk oleh guru, atau membaca dengan suara sangat pelan agar tidak terdengar oleh guru maupun teman-temannya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh orangtua subjek dengan mendaftarkan subjek pada les membaca namun belum terdapat hasil yang signifikan dikarenakan metode pembelajaran yang bersifat seragam dan berfokus pada latihan membaca buku teks yang sama bagi semua peserta, membuat subjek merasa bosan, tertinggal, dan kehilangan motivasi untuk belajar membaca. Berdasarkan pada tahapan membaca menurut Chall . bahwa subjek seharusnya berada pada tahapan membaca tiga berada pada rentang usia 9-14 tahun dengan tujuan membaca menjadi berubah dari yang sebelumnya untuk meningkatkan decoding menjadi membaca untuk memperoleh sebuah informasi baru, menambah pengetahuan atau untuk memahami suatu makna namun berdasarkan pada kondisi subjek didapatkan bahwa subjek masih berada pada tahapan membaca satu yaitu membaca permulaan pada rentang usia 6-7 Hal ini berkaitan dengan kondisi disabilitas intelektual yang dimiliki subjek yang mana adanya defisit dalam kemampuan kognitif membuat subjek memiliki tujuan pembelajaran membaca yang berbeda dari siswa pada umumnya yaitu hambatan dalam menguasai keterampilan membaca dasar secara mekanik, meskipun usia mereka setara dengan siswa kelas empat hingga enam sekolah dasar untuk keterampilan pemahaman. Terdapat berbagai metode pendekatan yang dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan membaca permulaan pada anak dengan disabilitas intelektual ringan, diantaranya adalah metode mnemonik dan orton-gillingham. Mnemonik adalah metode yang digunakan untuk membantu individu mengingat informasi dengan lebih mudah yaitu dengan menghubungkan informasi baru yang sulit diingat dengan hal-hal yang sudah dikenal atau lebih mudah diingat. Dengan menciptakan asosiasi yang kuat dan bermakna, mnemonik Isabella Vannessa Pranata Kandoko Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 memudahkan proses penyimpanan informasi di dalam memori jangka panjang, serta mempercepat untuk pemanggilan kembali informasi tersebut saat dibutuhkan (Sari et al. Teknik mnemonik pada umumnya digunakan oleh guru atau praktisi profesional untuk meningkatkan kemampuan menghafal huruf atau kosa kata asing dengan cara mengasosiasikan pikiran yang dapat memahami suatu kata-kata, ide, gambaran, khayalan dalam meningkatkan kapasitas ingatan seseorang dengan mengingat sesuatu yang baru dengan cara yang mudah (Firdaus & Hafidah, 2. Berdasarkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ningrum . metode mnemonik terbukti efektif dalam meningkatkan pengenalan huruf yaitu dengan mengasosiasikan bentuk huruf dengan gambar yang menyerupai bentuk huruf tersebut, menggunakan kata yang memiliki huruf awal yang sama dengan bunyi huruf yang dimaksud atau menghubungkan huruf dengan benda-benda yang menyerupai bentuk huruf tersebut, misalnya huruf i dengan lilin. Orton-gillingham merupakan pendekatan multisensori yang bersifat sistematis dan berurutan yang melibatkan jalur pembelajaran visual, auditori, kinestetik dan taktil, pada metode visual, anak dilatih untuk mengindentifikasi huruf, kata maupun kalimat dengan bantuan visual untuk memperkuat ingatan dan pemahaman anak terhadap bentuk serta makna huruf atau kata tersebut. Pada metode auditori, anak dilatih untuk menghubungkan suara auditori yang didengar dan menunjukkan huruf atau kata yang ada dalam kalimat, sedangkan pada metode taktil, anak dilatih untuk menggunakan tangan untuk menyentuh bentuk fisik dari huruf . untuk membantu anak lebih memahami dan mengingat bentuk huruf. Pendekatan ini membutuhkan penguasaan dan pembelajaran lebih lanjut pada komponen sebelumnya, sebelum anak melanjutkan pada komponen baru (Ritchey & Goeke. Karakteristik utama dari pendekatan Orton-gillingham adalah pendekatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman dan daya ingat siswa melalui pengalaman belajar yang holistik, instruksi yang diberikan merupakan instruksi secara langsung dan eksplisit dengan proses pembelajaran yang disusun secara sistematis dan bersifat akumulatif, artinya setiap keterampilan yang diajarkan harus dikuasai terlebih dahulu sebelum siswa melanjutkan ke keterampilan berikutnya dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan individual siswa, sehingga metode ini sangat cocok diterapkan bagi anak-anak dengan kesulitan belajar (Sayeski et al. , 2. Pendekatan orton-gillingham dirancang untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya menerima informasi namun benar-benar memahami isi materi yang diberikan, alasan mengapa materi itu penting, dan bagaimana cara mempelajarinya. Pendekatan ini menekankan pada pembelajaran terstruktur dan berurutan artinya menyajikan informasi secara logis dari materi sederhana ke kompleks, aspek diagnostiknya melibatkan pemantauan terus-menerus terhadap respons siswa untuk mengidentifikasi masalah dan kemajuan mereka (Peavler & Rooney, 2. Berdasarkan pada uraian permasalahan dan penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, rumusan masalah pada penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas metode mnemonik dan orton-gillingham dalam meningkat kemampuan membaca permulaan pada anak dengan disabilitas intelektual ringan. Fokus utama penelitian ini terletak pada upaya dalam mengembangkan keterampilan membaca permulaan dan melalui penerapan metode Mnemonik, subjek dibantu untuk mengingat huruf dengan cara yang lebih bermakna melalui asosiasi gambar atau kata kunci tertentu. Sementara itu, metode orton-Gillingham memberikan pendekatan multisensori, terstuktur dan sistematis yang memungkinkan subjek belajar dengan melibatkan indera penglihatan, pendengaran, gerakan, dan sentuhan. Kombinasi kedua metode ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif menjawab kebutuhan akan strategi pembelajaran membaca yang lebih adaptif dan efektif bagi anak dengan kondisi disabilitas intelektual ringan. Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 METODE PENELITIAN Gambaran subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang saat ini merupakan siswa di kelas 4 SD dan mengalami permasalahan dalam membaca permulaan yang disertai dengan kondisi disabilitas intelektual ringan berdasarkan pada asesmen yang telah dilakukan dengan menggunakan tes inteligensi WISC dan tes informal membaca yang disusun berdasarkan pada aspek asesmen membaca yang dikemukakan oleh (Janah & Aprilia, 2. yang sebelumnya pernah diberikan kepada siswa yang terindikasi mengalami kesulitan membaca permulaan. Aspek-aspek tersebut meliputi: . membaca huruf vokal. membaca huruf konsonan. membaca suku kata KV. membaca suku kata KV-KV. membaca kalimat dengan pola suku kata KV-KV. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan eksperimen dengan metode single-case experimental design. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang menggunakan satu kasus sebagai objek utama penelitian dengan melihat efek sebelum dan sesudah diberikan intervensi (Creswell & Creswell, 2. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari orangtua dan pihak sekolah melalui informed consent. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa keseluruhan proses penelitian telah disetujui oleh berbagai pihak dan sesuai dengan prinsip etika penelitian. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan membandingkan perubahan perilaku melalui observasi dan tes informal membaca serta melakukan wawancara terhadap significant others untuk memperoleh gambaran perubahan kondisi subjek sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Metode intervensi yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yogantari et al. , . namun terdapat beberapa modifikasi dalam penerapannya yang telah disesuaikan dengan karakteristik subjek serta memperluas tahapan intervensi hingga pada kemampuan membaca kalimat sederhana yaitu yaitu metode Mnemonik diberikan pada subjek untuk membantu subjek dalam mengingat huruf dengan cara lebih mudah untuk diingat terutama pada huruf konsonan dengan bentuk yang sama seperti b, d, g, j, m, n, p, q serta huruf konsonan yang belum dikuasai yaitu v-z. Kemudian. Ametode orton-gillingham diberikan kepada subjek untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan secara berurutan dimulai dari yang sederhana ke kompleks yaitu dimulai dengan menguatkan pemahaman dan pengenalan bunyi huruf vokal maupun konsonan, menyatukan huruf untuk membentuk suku kata KV, dan membaca kata KV-KV dan berakhir dengan membaca kalimat sederhana berpola KV-KV. Intervensi dengan metode mnemonik dan orton-gillingham dilakukan selama tujuh sesi dengan masing-masing sesi berlangsung selama 60 hingga 90 menit. Media yang digunakan adalah meliputi kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata bergambar, papan magnet huruf, lembar kerja dan alat tulis untuk mendukung kegiatan intervensi. HASIL PENELITIAN Intervensi yang dilakukan terhadap subjek dengan kondisi disabilitas intelektual ringan dengan menggunakan metode mnemonik dan orton-gillingham terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. Hal ini dapat dilihat melalui setiap sesinya dapat tercapai sesuai dengan target perilaku yang diinginkan. Isabella Vannessa Pranata Kandoko Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Tabel 1. Target dan Capaian Perilaku pada Setiap Sesi Intervensi Sesi Sesi 1 Sesi 2 Target Perilaku Subjek mampu membaca huruf sebelumnya . uruf konsonan dengan bentuk yang sama seperti b, d, g, j, m, n, p, q serta huruf konsonan yang belum dikuasai yaitu v-z. Subjek mampu menggabungkan huruf konsonan dengan huruf vokal menjadi suku kata. Proses Intervensi Subjek mampu membaca huruf konsonan yang sebelumnya belum ia kuasai dengan tepat tanpa diberikan bantuan dan dalam satu kali percobaan. Subjek penggabungan huruf konsonan dan vokal dengan tepat sesuai dengan huruf konsonan yang ditargetkan yaitu b, d, f, g, h, j k, l, m dan n. Subjek penggabungan huruf konsonan dan vokal dengan tepat sesuai dengan huruf konsonan yang ditargetkan yaitu p, q, r, s, t, v, w, x, y dan z. Subjek mampu membaca kata dengan pola KV-KV secara acak tanpa diberikan bantuan. Sesi 3 Subjek mampu menggabungkan huruf konsonan dengan huruf vokal menjadi suku kata. Sesi 4 Subjek mampu membaca kata dengan pola KV-KV. Sesi 5 Subjek mampu membaca kata dengan pola KV-KV. Subjek mampu membaca kata dengan pola KV-KV secara acak tanpa diberikan bantuan. Sesi 6 RZ mampu membaca kalimat dengan pola KV-KV. RZ mampu membaca kalimat sederhana dengan pola KV-KV secara tepat sesuai dengan yang ditargetkan yaitu sebanyak 3 Sesi 7 RZ mampu membaca kalimat dengan pola KV-KV. RZ mampu membaca kalimat sederhana dengan pola KV-KV secara tepat sesuai dengan yang ditargetkan yaitu sebanyak 5 kalimat dan mampu menjawab diberikan dengan tepat. Evaluasi juga dilakukan dengan menggunakan tes informal membaca yang diberikan pada subjek sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi. Butir tes yang digunakan adalah butir yang sama untuk memastikan ada atau tidak adanya keterbandingan hasil sebelum dan sesudah intervensi. Adapun, evaluasi hasil tersebut dapat dilihat melalui perbandingan yang disajikan dalam grafik dibawah ini. Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 Evaluasi Hasil Sebelum Sesudah Gambar 1. Perbandingan Skor Kemampuan Membaca Sebelum dan Sesudah Intervensi Berdasarkan pada grafik diatas, terdapat peningkatan yang ditunjukkan pada berbagai aspek diantaranya yaitu pada aspek (A) membaca huruf vokal sudah dapat terpenuhi sejak awal. aspek (B) membaca huruf konsonan terdapat peningkatan dari skor 8 atau 33% menjadi skor 21 atau 100%. aspek (C) membaca suku kata KV terdapat peningkatan skor skor 6 atau 35% menjadi skor 17 atau 100%. aspek (D) membaca suku kata KV-KV terdapat peningkatan dari skor 3 atau 16% menjadi 18 atau 94% dan pada aspek terakhir (E) membaca kalimat sederhana (KV-KV) terdapat peningkatan dari skor 0 atau 0 % menjadi 7 atau 100%. Evaluasi juga dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap significant others subjek yaitu ibu dan guru kelas subjek. Hasil wawancara menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan membaca pada subjek setelah intervensi. Ibu subjek menyampaikan bahwa "guru les mengatakan pada ibu bahwa saat ini subjek sudah mulai menunjukkan usaha untuk membaca dan tidak mudah menyerah seperti sebelumnya". Hal serupa juga disampaikan oleh guru kelas bahwa "saat ini ketika diminta untuk membaca, subjek sudah tidak lagi sering keliru dalam menyebutkan huruf seperti sebelumnya dan saat diminta membaca subjek tidak mudah menyerah". Temuan dari wawancara tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan subjek serta adanya peningkatan usaha dan ketekunan subjek dalam kegiatan membaca. Peningkatkan kemampuan membaca permulaan pada subjek setelah diberikan intervensi menggunakan metode mnemonik dan orton-gillingham menunjukkan bahwa kombinasi dari kedua metode tersebut efektif dalam membantu subjek mengenali huruf, membaca suku kata dan kalimat sederhana dengan pola KV-KV. Pertama, penggunaan metode mnemonik dalam penelitian ini telah berperan dalam membantu subjek untuk mengingat huruf khususnya pada huruf dengan bentuk yang sama maupun huruf yang sebelumnya belum dikenali oleh subjek. Metode mnemonik telah membantu subjek dalam membentuk asosiasi antara bentuk huruf dengan informasi tertentu misalnya huruf "b" memiliki perut di bagian depan dan "d" memiliki perut di bagian belakang. Asosiasi tersebut telah membantu subjek dalam membedakan huruf yang sebelumnya masih sering tertukar, hal ini sejalan dengan pernyataan Bakken . yang menyatakan bahwa penggunaan metode mnemoik dapat membantu subjek dengan kondisi disabilitas intelektual untuk Isabella Vannessa Pranata Kandoko Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 mengingat informasi secara lebih mudah dan efektif terutama dalam mengurangi kebingungan pada aitem yang memiliki kemiripan. Peningkatan kemampuan membaca permulaan juga dapat dilihat dengan penggunaan metode orton-gillingham. Metode ini menjadi efektif dikarenakan pemilihan intervensi dilakukan dengan pertimbangan kondisi subjek yang sebelumnya pernah mengikuti les membaca namun dikarenakan tidak disesuaikan dengan kebutuhan subjek namun dibuat menyeluruh pada seluruh siswa maka membuat subjek menjadi mudah bosan, menyerah dan kehilangan motivasi untuk belajar membaca. Namun, sejalan dengan prinsip dari OrtonGillingham yang dikemukakan oleh Sayeski et al. , . di mana pendekatan ini merupakan yang bersifat multisensori dan terstruktur di mana setiap keterampilan yang diajarkan harus dikuasai terlebih dahulu sebelum lanjut ke keterampilan berikutnya dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan individual siswa. Temuan penelitian ini pun sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Yogantari et al. , 2. yang menunjukkan bahwa metode mnemonik dan ortongillingham efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada individu dengan kondisi disabilitas intelektual namun terdapat temuan menarik pada penelitian ini yang mendukung keberhasilan intervensi yaitu dengan adanya upaya yang dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan motivasi subjek, yaitu dengan pemberian penguatan positif secara konsisten setiap kali subjek telah menunjukkan usaha dan berhasil, baik melalui pujian maupun acungan jempol. Kemudian dengan berusaha menciptakan suasana dan hubungan yang suportif serta empatik. Ketika subjek tampak mengalami kesulitan atau melakukan kesalahan dalam penyebutan, peneliti berupaya menghindari penggunaan katakata negatif agar subjek merasa aman dan tidak takut untuk mencoba kembali atau membuat Setiap keberhasilan subjek secara eksplisit dinyatakan oleh peneliti untuk menunjukkan bahwa kemajuan yang dilakukan dihargai dan untuk menjaga motivasi subjek agar tetap berani menghadapi tahapan selanjutnya yang lebih menantang. Tindakan membaca anak tidak hanya melibatkan aspek kognitif namun sangat dipengaruhi oleh dorongan dari dalam diri anak, yang mana keberhasilan dalam aspek kognitif sangat bergantung pada aspek afektif seperti kemauan anak untuk mengambil risiko dan tetap bertahan dalam proses belajar (Wei et al. , 2. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode mnemonik dan orton-gillingham dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak dengan disabilitas intelektual ringan. Strategi mnemonik terbukti memperkuat daya ingat anak terhadap huruf dan kata melalui asosiasi visual maupun verbal, sedangkan pendekatan orton-gillingham membantu anak belajar secara aktif dengan melibatkan berbagai indera, sehingga proses belajar membaca menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak. Dengan demikian, pihak sekolah, guru, maupun orang tua direkomendasikan untuk mengimplementasikan kedua metode ini baik dalam lingkungan sekolah maupun rumah. Selain itu, penelitian lanjutan dapat menggunakan metode ini pada subjek yang lebih beragam dan rentang usia yang lebih luas guna memperkuat temuan dan memperdalam pemahaman tentang efektivitas kombinasi kedua metode ini dalam berbagai konteks Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan selama proses penelitian ini berlangsung. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada guru, peserta didik maupun orangtua di Sekolah X tempat penelitian Journal of Lifespan Development Vol. No. Maret 2026, pp. E-ISSN 3047-3802 dilakukan, yang telah memberikan kesempatan serta kerja sama yang baik selama proses pengumpulan data. Pernyataan Penggunaan Teknologi AI Generatif dan Teknologi Berbantuan AI dalam Proses Penyusunan Naskah Dalam proses penyusunan naskah ini, penulis menyatakan bahwa naskah ini disusun sepenuhnya secara mandiri oleh penulis tanpa menggunakan teknologi AI generatif maupun teknologi berbantuan AI. Daftar Pustaka