CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 Memaknai Nasionalisme di Tengah Tantangan Kebhinekaan: Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Tri Girl Laurensia Simbolon1Wulan Ayu Trisna2 Rahma Dhani Fitria Sinaga3 Diandra Joy Hutapea4Ahmad Aridho5 Eka Mei Riska SitepuA Fazli Rachman7 Pendidkan Pancasila dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Medan1234567 Email: trigirlsimbolon237@gmail. com1 wulanayutrisna@gmail. sinagafitria3@gmail. com3 diandracheline@gmail. 3213311028@mhs. id5 meiriska. 26eka@gmail. rachman@unimed. Abstrak Tantangan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mengelola kebhinekaan adalah menemukan model terbaik untuk mengkonstruksi identitas nasional dengan implikasi psikis yang menyenangkan. Bagimanapun, identitas nasional tetap diperlukan oleh suatu komunitas politik, seperti bangsa Indonesia. Tidak sekedar untuk membangun kebanggaan berbangsa, tetapi lebih penting dari itu adalah membangun rasa kasih sayang, solidaritas, dan tanggung jawab bersama terhadap kepentingan nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kajian pustaka yang dimana Penelitian kajian pustaka ini merupakan hasil analisa berbagai informasi konseptual serta data-data kualitatif maupun kuantitatif dari berbagai artikel ilmiah yang terpublikasi sebelumnya. Untuk membentuk bangsa Indonesia secara keseluruhan, pendidikan kewarganegaraan adalah tujuan utama Undang-Undang Dasar 1945. Tujuannya adalah untuk membentuk masyarakat Indonesia yang beragama, berkemanusiaan, dan beradab, yang berkerakyatan dan adil. Dalam era globalisasi saat ini. Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi moralitas bangsa, khususnya generasi milenial, yang jika dibiarkan dapat melemahkan nasionalisme generasi milenial. Pendidikan kewarganegaraan bahwa materi ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang hak dan kewajiban kita sebagai warga negara serta pentingnya berpartisipasi secara aktif dalam kehidupannasional dan Kata Kunci: Kebhinekaan. Nasionalisme. Tantangan Abstract The biggest challenge faced by the Indonesian nation in managing diversity is finding the best model to construct a national identity with pleasant psychological implications. However, national identity is still needed by a political community, such as the Indonesian Not only to build national pride, but more importantly, to build a sense of compassion, solidarity, and shared responsibility for national interests. The research method used is the literature review method where this literature review research is the result of analyzing various conceptual information and qualitative and quantitative data from various previously published scientific articles. To form the Indonesian nation as a whole, civic education is the main objective of the 1945 Constitution. The goal is to form JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 an Indonesian society that is religious, humane, and civilized, that is democratic and just. In the current era of globalization. Indonesia faces various challenges that affect the morality of the nation, especially the millennial generation, which if left unchecked can weaken the nationalism of the millennial generation. Civic education that this material is intended to increase understanding of our rights and obligations as citizens and the importance of actively participating in national and international life. Keywords: Diversity. Nationalism. Challenges Pendahuluan Nasionalisme, setidaknya dalam seratus tahun terakhir merupakan sebuah temuan fenomena sosial paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah umat manusia hingga sampai saat ini. Ideologi nasionalisme cukup memiliki pengaruh dalam segala urusan dalam ruang sosial, sehingga dalam keberlanjutannya kemudian ideologi ini mempengaruhi gerak sejarah manusia yang mulai sadar akan identitas kolektifnya sebagai sebuah bangsa (Supardan, 2. Kesetiaan tertinggi dari seorang individu yang diberikan kepada negaranya merupakan perwujudan nasionalisme dalam bentuk yang lebih konkrit. Secara sederhana, nasionalisme ialah perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air (Kartodirdjo, 1. Nasionalisme adalah bentuk persatuan dan kesetiaan seorang warga negara dengan mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau golongan untuk memelihara dan merawat nilai-nilai kebangsaan (Yunianti, 2. Jika dilihat dalam perspektif sejarah, nasionalisme berkembang dengan sangat pesat, yang dimulai dengan AoNasionalisme EropaAo pada Abad ke-19 dan kemudian berkembang menjadi Aoa universal idea-forceAo pada Abad ke-20 dalam sejarah global-kontemporer hingga abad pan Nasionalisme (Kohn, 1. Universalitas nasionalisme menjangkau berbagai wilayah belahan dunia, khususnya ketika praktik kolonialisme melakukan penghisapan atas bangsa lain. Ide tentang nasionalisme masuk ke Indonesia setidaknya pada Abad 19 yang diawali adanya kesadaran primordial yang kemudian diwujudkan dalam suatu wadah perjuangan dengan mengakomodir segala kepentingan primordial untuk mencapai tujuan yang lebih bersifat nasional. Nasionalisme Indonesia menjadi suatu kekuatan besar dengan munculnya kesadaran nasional dari para kaum intelektual kemudian diperluas dan diimplementasikan melalui organisasi pergerakan, partai politik yang dikenal dengan era pergerakan nasional hingga mewujudkan gerakan massa yang anti-kolonial (Alfian, 1996. Bourchier, 2. Bangsa Indonesia, secara historis, telah melewati berbagai periode dengan berbagai tantangannya untuk mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Ibrahim, 2. Nasionalisme Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh praktik kekuasaan kolonialisme bangsa Barat. Nasionalisme Indonesia yang berkembang dan bertumbuh mengikuti perkembangan pergerakan kebangsaan Indonesia adalah sebuah jawaban politik, sosial, dan ekonomi secara spesifik yang timbul diakibatkan oleh situasi kolonial JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 (Utomo, 1. Nasionalisme Indonesia bergerak dari nasionalisme kultural, berkembang ke sosio-ekonomi, dan memuncak menjadi nasionalisme politik revolusioner multidimensional yang tampak menjadi suatu proses pendewasaan dan pematangan konsep nasionalisme (Kartodirdjo, 1990. Wilson, 2. Terwujudnya kemerdekaan Indonesia dan usaha secara berkelanjutan dalam mempertahankannya merupakan suatu bentuk perjuangan yang berakar dari ideologi nasionalisme. Kebhinekaan akan menjadi modal dasar pembangunan, manakala perbedaan itu dihargai dan dikembangkan dalam berbagai bentuk kerjasama sosial untuk mewujudkan tujuan pembangunan. Artinya, kebhinekaan bangsa Indonesia harus dilihat dan dikelola dengan skema multikulturalisme sehingga perbedaan dapat ditransformasikan sebagai modal budaya . ultural capita. yang produktif bagi pembangunan. Mengingat basis multikulturalisme adalah menggali kekuatan suatu bangsa yang tersembunyi dalam kebudayaan yang berjenis-jenis (Tilaar, 2004:. Modal budaya inilah yang seharusnya digali dan digalang menjadi kekuatan nasional. Bukan sekedar untuk mengokohkan kebudayaan nasional, melainkan juga agar segenap elemen bangsa dengan nilainilai budayanya dapat berkontribusi positif dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan secara adil dan setara (Triguna, 2016, 2. Bahaya serius pada masyarakat multikultur karena keanekaragaman nilai, visi tentang kehidupan yang baik, dan interpretasi sejarah dapat menajamkan sekatsekat perbedaan masyarakat (Parekh, 2007:. Bertalian erat dengan itu. Tilaar . mengemukakan tiga tantangan multikulturalisme dewasa ini, yaitu . hegemoni Barat di bidang Iptek, politik, ekonomi, sosial, dan budaya melalui wacana modernisasi terutama yang diarahkan kepada negara-negara berkembang. esensialisasi budaya, yakni menggali esensi budaya sendiri menumbuhsuburkan yang berpotensi xenopobhia dan etnosentrisme. globalisasi yang berpretensi melunturkan jati diri dan identitas khas setiap bangsa seiring mencairnya batas batas politik dan kebudayaan. `Ketiga tantangan tersebut menciptakan paradoks keindonesiaan yang berbhineka. Modernisasi yang mengacu kepada ide-ide kemajuan versi Barat mendorong pola pembangunan yang cenderung mengarah pada transfromasi masyarakat agraris ke industri kapitalis. Pengabaian kepentingan masyarakat lokal dalam pembangunan yang melibatkan relasi pemerintah dan kapitalis di dalamnya, rentan memicu konflik sosial. Ketimpangan sosial antardaerah dan ketidakmerataan pembangunan memperburuk harmonisasi hubungan antara pusat dan daerah. Ketika kesadaran masyarakat terhadap hegemoni Barat tumbuh, justru reaksi yang dilakukan sering berlebihan. Esensialisasi budaya yang direpresentasikan dengan pernyataan bahwa etnis, budaya, dan agama mempunyai nilai keunggulan esensial yang tidak kalah dari Barat, ditunjukkan dengan sikap anti-Barat dan segala yang dipandang sebagai representasinya, termasuk negara. Tumbuhnya etnonationalism dan religionationalism sebagai identitas politik baru Aoyang lainAo dari nasionalisme JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 negara bangsa membangun imajinasi bahwa negara dengan komunitas etnis atau agama yang seragam akan lebih baik (Suaedy, dkk. , 2007:. Hal ini tidak lepas dari pengaruh globalisasi yang meniscayakan masuknya berbagai ideologi, gaya hidup, dan budaya, melalui saluran informasi yang tanpa batas (Triguna, 2. Uraian di atas menegaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mengelola kebhinekaan adalah menemukan model terbaik untuk mengkonstruksi identitas nasional dengan implikasi psikis yang menyenangkan. Bagimanapun, identitas nasional tetap diperlukan oleh suatu komunitas politik, seperti bangsa Indonesia. Tidak sekedar untuk membangun kebanggaan berbangsa, tetapi lebih penting dari itu adalah membangun rasa kasih sayang, solidaritas, dan tanggung jawab bersama terhadap kepentingan nasional. Pemahaman tentang identitas nasional harus mampu menyatukan anggotanya pada seputar pemahaman diri, memberi fokus serta energi pada rasa memiliki bersama, membangun citra diri kolektif, mengolah kebaikan-kebaikan yang relevan, memfasilitasi berlangsungnya reproduksi komunitas dan kesinambungan antargenerasi, mempertahankan kesetiaan umum, serta menata kehidupan moral dan politik. Ringkasnya, identitas nasional memiliki peranan penting untuk menumbuhkan rasa saling memiliki antara komunitas-komunitas yang beraneka ragam (Parekh, 2008:. Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara terkhususnya pada mahasiswa Universitas Negeri Medan. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain-lain akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga diharapkan untuk dapat bijak dalam perkembangan zaman. Nasionlisme sangat diperlukan dalam kelangsungan suatu negara, sama hal nya di Universitas Negeri Medan dengan harapan memunculkan rasa persatuan di dalam negara kita. Dizaman serba teknologi yaitu era globalisasi seperti ini, rasa nasionalisme mulai berkurung, terutama dikalangan mahasiswa. Budaya dan teknologi dari luar mulai menghiasi kebiasaan mahasiswa saat ini. Kebiasaan yang sesuai dengan kebudayaan kita, tidaklah akan menjadi masalah. Namun kebiasaan yang bertentangan dengan kebudayaan kita tentunya akan memunculkan beberapa masalah yang nantinya juga berpengaruh dalam tingkat nasionalisme terhadap Metode Metodologi penelitian adalah serangkaian hukum, aturan, dan tata cara tertentu yang diatur dan ditentukan berdasarkan kaidah ilmiah dalam menyelenggarakan suatu penelitian dalam koridor keilmuan tertentu yang hasilnya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. menurut Bogdan dan Taylor mengemukakan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 secara holistik. Sehingga tidak diperkenankan mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variable atau hipotesis tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu yang utuh. Penelitian kualitatif bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti. Penelitian kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti dan kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka. Untuk itu pengumpulan data merupakan langkah strategis dalam penelitian, dengan pengumpulan data maka upaya untuk menganalisanya dapat dilakukan. Pengumpulan data juga merupakan prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Tanpa adanya teknik pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Adapun teknik pengumpulan data yang di laksanakan oleh penulis yaitu dengan teknik wawancara yang dimana wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara . yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara . yang memberikan jawaban atas pertanyaan. Wawancara merupakan salah satu teknik metode pengumpulan data yang digunakan pada hampir semua penelitian kualitatif. Karena seringnya wawancara digunakan dalam penelitian kualitatif, seakan akan wawancara menjadi ikon dalam metode pengumpulan data penelitian kualitatif. Hasil dan Pembahasan Nasionalisme dengan kebhinekaandalamkalangan Masyarakat dewasa ini dianggapsebagai dua konsep yang salingberhadapan dan saling melengkapi. Nasionalisme di tunjukan dengan rasa cinta dan kesetiaankitaterhadap negara, sertakemampuan dan kemauanbangsa untuk memenuhi kepentingan negara. Dibalik itu terdapat kebhinekaan yang ditunjukkan lewat keberagaman yang sangat kaya di Indonesia. Keberagaman itu antara lain, etnis, budaya. Bahasa, agama, suku, ras, dan golongan. Indonesia sendiri, nasionalisme dapat dimaknai dengan Upaya bangsa Indonesia dalam menjaga dan memajukan negara sesuai bingkai Pancasila yang mengakui dan menghargai keberagaman. Tentu saja dalam hal ini, bangsa Indonesia mengalami sejumlah tantangan untuk menyeimbangkan rasa nasionalisme dengan penghargaan terhadap kebhinekaan yang dapat dilakukan dengan beberapa Tindakan seperti: Memperkuat identitas Bersama, dalam hal ini nasionalisme harus mengarah pada penguatan identitas bersama, yang inklusif yang mengakui keberagaman sebagaibagian integral daribangsa. Ini bisadiwujudkan melalui Pendidikan serta melalui kampanye yang mempromosikan rasa persatuan dan Menghargai Perbedaan, nasionalisme yang sehat dalam hal ini tidak mengharuskan homogenitas, melainkan menghargai perbedaan sebagai JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 Mengintegrasikan berbagai budaya dan tradisi dalam kerangka nasional bisa memperkaya pengalaman kolektif. Dialog dan kolaborasi, terbukanyaruanguntuk dialog antarkelompok dan kolaborasi dalam penyelesaian masalah bersama dalam memperkuat Dengan adanya saling pengertian dan kerjasama, perbedaan dapat menjadi peluang untuk kemajuan bersama. Kebijakaninklusif, pemerintah dan Lembaga harus menciptakan kebijakan yang mendukung kesetaraan dan keadilan, memastikan bahwa semua kelompok mersa diakui dan dihargai dalam konteks nasional. Oleh Karena itu, antara nasionalisme dan kebhinekaan harus di integrasikan supaya dapat membangun Masyarakat yang lebih harmonis dan berdayasaing. Tantangan Kebhinekaan Tilaar . menyebutkan tiga tantangan yang dihadapi oleh multikulturalisme saat ini: pertama, hegemoni Barat dalam bidang ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya melalui wacana modernisasi, terutama yang ditujukan kepada negara-negara berkembang. kedua, esensialisasi budaya, yang berarti menggali esensi budaya sendiri, yang dapat menyebabkan xenopobhia dan etnosentrisme meningkat. dan ketiga, globalisasi yang berpretensi menghilangkan jati diri dan identitas nasional. Paradoks keindonesiaan yang berbhineka dihasilkan oleh ketiga tantangan Modernisasi, istilah yang mengacu pada konsep kemajuan versi Barat, mendorong pola pembangunan yang cenderung membawa masyarakat agraris ke Konflik sosial sering terjadi ketika kepentingan masyarakat lokal dalam pembangunan diabaikan, yang melibatkan relasi antara pemerintah dan Ketidakmerataan pembangunan dan ketimpangan sosial antar daerah memperburuk hubungan antara pusat dan daerah. Ketika masyarakat lebih menyadari hegemoni Barat, reaksi yang dilakukan seringkali berlebihan. Sikap anti-Barat terhadap Barat dan semua yang dianggap sebagai representasinya, termasuk negara, adalah contoh esensialisasi budaya yang ditunjukkan dengan pernyataan bahwa agama, budaya, dan etnis memiliki nilai penting yang tidak kalah dari Barat. Dengan munculnya etnonasionalisme dan religionationalisme sebagai identitas politik "yang lain" dari nasionalisme negara bangsa, orang percaya bahwa negara yang memiliki komunitas etnis atau agama yang sama akan lebih baik (Suaedy et al. , 2007:. Ini adalah hasil dari globalisasi, yang memungkinkan berbagai budaya, ideologi, dan cara hidup masuk melalui jalur informasi yang tidak terbatas (Triguna, 2. Salah satu tantangan terbesar bagi Indonesia dalam mengelola kebhinekaan adalah menemukan model terbaik untuk membangun identitas nasional tanpa mengakibatkan konsekuensi psikologis yang buruk. Namun, identitas nasional masih penting bagi komunitas politik, seperti Indonesia. Tidak hanya menumbuhkan kebanggaan nasional, tetapi lebih penting lagi adalah menumbuhkan JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 rasa kasih sayang, solidaritas, dan tanggung jawab bersama untuk kepentingan Memiliki pemahaman tentang identitas nasional harus mampu membuat orang lain lebih tahu tentang diri mereka sendiri, membuat mereka merasa lebih baik tentang siapa mereka, membangun citra diri kolektif, mempelajari hal-hal yang baik, membantu reproduksi komunitas dan kesinambungan antar generasi, mempertahankan kesetiaan bersama, dan mengatur kehidupan moral dan politik. Pada akhirnya, identitas nasional sangat penting untuk memupuk rasa memiliki di antara komunitas yang beragam (Parekh, 2008: . Kebhinekaan budaya Indonesia harus dikelola agar menjadi kekuatan potensial untuk mengubah masa depan. Apabila bangsa Indonesia "selesai" dengan kebhinekaannya, modal budaya ini pasti akan berkembang menjadi peluang produktif lainnya. Artinya, selama perbedaan etnis, ras, budaya, dan agama terus dianggap sebagai hambatan untuk berinteraksi dan membangun kerja sama sosial. Indonesia akan menghadapi kesulitan untuk keluar dari masalah dan sekaligus menghalangi peluang yang mungkin terbuka. Dengan kata lain, peluang untuk menjadikan kebhinekaan Indonesia sebagai kekuatan di masa depan akan tersedia selama kohesi sosial dapat dibangun di atas perbedaan. Dalam konteks kohesi sosial, pengelolaan kebhinekaan membutuhkan penjelasan tentang lima aspek hubungan sosial dikotomis: . kebersamaanAi pengisolasian . ilai-nilai bersama, identitas, perasaan, dan komitme. pengikutsertaanAipengesampingan . esempatan akses setar. partisipasiAi ketidakterlibatan . alam kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan buday. penerimaanAipenolakan . enghargai dan mentolerir perbedaan dalam hubungan Dengan mengurangi perbedaan, ketidakadilan, dan pengesampingan sosial, kohesi sosial bertujuan untuk memperkuat relasi, interaksi, dan ikatan sosial yang sudah ada dalam modal sosial . ocial capita. Ini dapat dipahami dari kelima Pembangunan kohesi sosial dalam masyarakat plural pasti akan terjadi jika kelima komponen tersebut dapat diuraikan dengan baik (Triguna. Dalam era revolusi industri 4. 0 saat ini, ada tantangan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. Salah satunya adalah siswa yang sudah terbiasa menggunakan ponsel dan perangkat elektronik lainnya. Mereka dapat dengan mudah mendapatkan informasi dari sumber luar melalui internet, yang terkadang bertentangan dengan prinsip Pancasila. Namun, di era revolusi industri 4. 0, hal ini juga dapat diatasi dengan memanfaatkan kemajuan informasi dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sebagai media untuk menanamkan dan mempromosikan Pancasila (A. Lestari. Aini, dan Z. , 2. Meskipun keluarga dan masyarakat telah memberikan pendidikan kewarganegaraan, pendidikan yang lebih baik harus diberikan di sekolah juga, mengingat pentingnya pembangunan karakter generasi milenial. Paradigma pendidikan kewarganegaraan yang diterapkan di sekolah saat ini adalah Perilaku moral siswa masih sangat mengecewakan, dan sering terjadi keretakan dan ketegangan sosial yang berkaitan dengan pendidikan JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 Banyak fenomena kemerosotan moral masyarakat menunjukkan bahwa ada masalah serius dengan pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan di sekolah sekolah. Di sekolah, pendidikan kewarganegaraan masih jauh dari peran pentingnya dalam membangun moral bangsa. Kesalahpahaman tentang subjek ini juga menyebabkan kesenjangan hidupdalampendidikankewarganegaraan. Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Memupuk Nasionalisme Pendidikan kewarganegaraan memiliki tujuan untuk membimbing warga negara, terutama generasi muda, dan mempengaruhi generasi mendatang sehingga mereka berkontribusi pada kehidupan bangsa dan negara. Menurut Akbal . , pendidikan kewarganegaraan memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dalam konteks pembangunan bangsa dan karakter. Salah satu jenis pendidikan karakter terkait langsung dengan rangka peraturan pembangunan nasional, pembangunan bangsa, dan karakter. Membela Indonesia adalah cara untuk menunjukkan cinta Anda padanya. Sebagai warga negara Indonesia, setiap individu memiliki hak dan kewajiban untuk membela negara, yang diatur oleh peraturan perundang-undangan mengenai ketentuan-ketentuan dasar pertahanan negara. Pendidikan kewarganegaraan mengajarkan warga negara untuk tidak hanya mematuhi dan mematuhi pemerintah, tetapi juga untuk menjadi lebih mandiri dan toleran. Pendidikan membentuk karakter masyarakat dan memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi penerus. Dalam pendidikan kewarganegaraan, pengembangan dan komunikasi dengan lingkungan meliputi cara mempersiapkan generasi muda untuk memikul fungsi dan tanggung jawab kewarganegaraan, khususnya fungsi pendidikan, termasuk mekanisme belajar mengajar dan sekolah. Karena Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara modern yang didirikan atas dasar nasionalisme, atau keinginan masyarakat untuk membangun masa depan bersama di dalam satu bangsa tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, atau budaya, generasi muda diharapkan belajar tentang kewarganegaraan dan menjadi warga negara yang tangguh dan bertekad membela NKRI. Pendidikan kewarganegaraan membantu generasi muda mencapai pembangunan nasional dengan memberikan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk hidup selaras dengan berbagai tradisi dan adat istiadat. Ini dicapai melalui model pendidikan kehidupan nasional. Rasa saling memiliki akan meningkat ketika Anda dapat membuat kebiasaan hidup bersama orang-orang dari berbagai ras dan Salah satu tujuan utama pendidikan kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan kesadaran tentang bangsa, sikap bernegara, dan cinta tanah air, semuanya dikombinasikan dengan budaya, pemahaman nusantara, dan kemampuan untuk mempertahankan bangsa di masa depan. Pemahaman tentang masalah politik di tingkat nasional dan rasa kepekaan membentuk warga negara yang sadar akan tanggung jawabnya terhadap negara mereka. Ini mengedepankan jati diri dan JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 moralitas negara dalam situasi sehari-hari. Selain itu, tujuannya adalah untuk memupuk nilai-nilai produktivitas, integritas, dan tanggung jawab dalam (Hapsari,et. ,al,2. Pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan nasionalisme, terutama di tengah masalah kebhinekaan. Ada beberapa cara pendidikan dapat membantu A A A A Penanaman nilai-nilai kebangsaan yang di dapat di satuan pendidikan ataupun lingkungan keluarga. Siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai Pancasila, sejarah bangsa, dan pelajaran kewarganegaraan. Pendidikan multikultural membantu siswa belajar menghargai dan menghormati perbedaan budaya, agama, dan etnis. Pendidikan multikultural juga membantu meningkatkan toleransi dan mengurangi konflik sosial. Pengembangan Karakter pendidikan karakter yang menekankan prinsip-prinsip seperti kejujuran, tanggung jawab, dan cinta tanah air dapat membentuk generasi muda yang berjiwa nasionalis. Kegiatan Luar Kelas/Ekstrakulikuler seperti pramuka, upacara bendera, dan lomba-lomba kebangsaan dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan nasional siswa (Komala. Pendidikan kewarganegaraan bahwa materi ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang hak dan kewajiban kita sebagai warga negara serta pentingnya berpartisipasi secara aktif dalam kehidupannasional dan Penggunaan Internet dan TeknologiSosial bahwa memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk menyebarkan pesan positif tentang kebhinekaan dan nasionalisme hal ini juga dapat digunakan untuk mengajarkan siswa betapa pentingnya untuk tetap bersatu di era internet. Strategi Memperkuat Nasionalisme di Tengah Kebhinekaan Untuk membentuk bangsa Indonesia secara keseluruhan, pendidikan kewarganegaraan adalah tujuan utama Undang-Undang Dasar 1945. Tujuannya adalah untuk membentuk masyarakat Indonesia yang beragama, berkemanusiaan, dan beradab, yang berkerakyatan dan adil. Dalam era globalisasi saat ini. Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi moralitas bangsa, khususnya generasi milenial, yang jika dibiarkan dapat melemahkan nasionalisme generasi Nasionalisme adalah perasaan cinta tanah air, komitmen untuk mendorong rakyat untuk mempertahankan kedaulatan, dan komitmen untuk membentuk negara berdasarkan kebangsaan sebagai dasar budaya dan ekonomi. Pendidikan kewarganegaraan mengajarkan warga negara untuk tidak hanya tunduk dan patuh pada negara tetapi juga toleran dan mandiri. Pendidikan seperti ini menumbuhkan karakter publik, memberikan pengetahuan kepada generasi berikutnya, dan menumbuhkan keterampilan. JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 Salah satu cara untuk mengatasi pengaruh globalisasi terhadap jiwa nasionalisme adalah dengan memberi generasi milenial pemahaman dan pengetahuan tentang nasionalisme, sehingga mereka dapat membentuk mentalitas mereka dan menjadi individu yang memiliki kepribadian, cinta tanah air, dan siap berkorban untuk bangsa dan negara Indonesia. Di sekolah, elemen pendidikan kewarganegaraan harus disusun menurut skala prioritas dan urutan materi. Dimensi konsekuensial pendidikan kewarganegaraan harus diberi prioritas pertama. Mengajak dan melatih siswa untuk menerapkan nilai-nilai PKn dalam kehidupan nyata, seperti menjaga kebersihan, bertindak jujur dalam ujian, membantu orang lain, dan menghormati orang lain. Mengajarkan siswa untuk menyisihkan uang jajannya untuk diberikan kepada orang Mengajak siswa untuk mengunjungi orang lain dan berpartisipasi dalam kegiatan bersama untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, rasa hormat, toleransi, dan kerja sama warga negara. Untuk menunjukkan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah rahmat bagi kehidupan bersama, pendidikan kewarganegaraan harus menjadi perekat, bukan pemecah, solusi, atau masalah. Karena setiap warga negara ingin kedamaian, sejahtera, dan kehidupan yang baik. Sebagai hasil dari pendidikan kewarganegaraan, siswa penting disadarkan untuk berperilaku baik. Hal itu dicapai melalui upaya untuk meningkatkan kesadaran peserta didik. Peserta didik secara konsisten menikmati keindahan, kedahsyatan, dan kecanggihan alam semesta yang diciptakan Tuhan, serta melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Ketiga, mempertimbangkan aspek ideologis sambil mempertahankan sikap Keyakinan siswa terhadap kebenaran tidak boleh mengarah pada (Komala. Peran dan Pandangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dalam memaknai Nasionalisme di Tengah Tantangan Kebhinekaan Menurut pendapat saudara Muhammad Waldano, dari jurusan Pendidikan Sejarah,Stambuk 2020, bahwasannya nasionalisme cinta terhadap bangsa dan bagaimana kita menjaga kebhinekaan sebagai warga negara Indonesia. Untuk saat ini nasionalisme masih terjaga,akan tetapi ada beberapa hal yang membuat masyarakat Indonesia Sendiri itu sudah tidak lagi mencintai bangsa itu sendiri,karena dapat kita lihat perilaku-perilaku para petinggi negara yang membuat masyarakat Indonesia itu tidak lagi menjadi seseorang yang nasionalisme, jadi daoat diketahui bahwa nasionalisme itu masih dikatakan seimbang dan masih Nasionalisme itu Penting, karena rasa nasionalisme itulah yang menjaga kita berkehidupan didalam Masyarakat yang berbeda-beda,jadi itu sangat penting untuk kedepannya dan untuk keberlanjutan Negara Indonesia. Yang dimana perbedaan Indonesia ini berdiri atas dasar perbedaan, jadi kita sebagai Masyarakat Indonesia harus tetap menjaga perbedaan-perbedaan, karena kita diciptakan juga JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 dengan berbeda-beda , maksudnya ialah yang berbeda-beda yang akan lebih Meningkatkan atau menumbuhkan rasa kecintaan kita Terhadap sesama maupun Terhadap bangsa ini, jadi kita sebagai bangsa Indonesia harus pandai mengatur budaya-budaya luar yang masuk kepada kita,kita harus pandai mengaturnya dan Jadi makna nasionalisme dilingkungan ilmu Sosial cinta terhadap bangsa ,sayang Terhadap bangsa dan harus pandai juga menjaga bangsa ini agar tetap berjalan dengan baik, jadi menurut saudari sebagai pandangan mahasiswa kita harus kritis, peduli Terhadap bangsa Indonesia ini,agar bangsa Indonesia ini tetap ada di tahun-tahun selanjutnya. Mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) berperan penting dalam penguatan kewarganegaraan di tengah tantangan keberagaman. Mereka dapat menyelenggarakan seminar, diskusi dan lokakarya untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengikuti acara budaya dan seni budaya dari seluruh Indonesia untuk memperkuat rasa bangga terhadap keberagaman budaya. Melalui program pekerjaan sosial, mereka dapat berpartisipasi langsung dalam kegiatan yang mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong kohesi sosial. Siswa juga dapat berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan yang fokus pada isu-isu nasional dan keberagaman serta menggunakan media sosial untuk menyebarkan kabar baik tentang negara dan keberagaman. Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa FIS UNIMED dapat menjadi pemimpin perubahan untuk memperkuat kewarganegaraan dan menjaga persatuan di antara keberagaman Indonesia. Lensi Sigalingging adalah mahasiswa jurusan PPKn stambuk 2024 asal Sidikalang, dengan agama Kristen Protestan dan berasal dari suku Batak Toba. Menurut Lensi, nasionalisme adalah rasa cinta tanah air yang juga mencakup solidaritas dalam satu fakultas atau lingkungan. Sayangnya, nasionalisme saat ini kurang diterapkan di kalangan mahasiswa. Pengaruh teknologi membuat mahasiswa kurang tertarik untuk mengetahui cara menjaga dan melestarikan rasa nasionalisme di era modern. Lensi menekankan bahwa rasa nasionalisme sangat penting dalam menjalani kehidupan. Dengan jiwa nasionalisme, kita dapat menjamin kehidupan yang sejahtera. Nasionalisme memungkinkan kita hidup bersama dengan mementingkan solidaritas dan kebersamaan yang baik. Mengenai tantangan terkait perbedaan. Lensi berpendapat bahwa sebagai mahasiswa, kita harus tahu bagaimana memposisikan diri saat menghadapi Perbedaan harus dihargai dan dijadikan dasar untuk saling membangun rasa nasionalisme. Dengan begitu, kita bisa bersolidaritas dan saling menghargai serta melengkapi di lingkungan kita. Bagi Lensi, makna nasionalisme bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial adalah semangat kebersamaan untuk membangun masa depan dengan mematuhi peraturan. Sebagai mahasiswa, harus ada sikap jujur, disiplin, dan berani untuk menerapkan nilai-nilai nasionalisme. JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 Mohammad Yoga Pratama salah seorang mahasiswa dari Jurusan PPKn, beragama Islam, suku Jawa dan beralamat di Binjai. Menurut Mohammad Prayoga Nasionalisme itu adalah bagaimana cara kita dapat menghargai keseluruhan dari negara kita salah satunya ialah dengan tetap menjaga kelestarian budaya, memgang teguh semboyan kita dan juga kita sebagai warga negara yang baik harus dapat menunjukkan karakter dan moral kita dengan kehidupan kita. Nilai nilai luhur kita harus tetap terjaga supaya tidak ada penurunan dengan adanya budaya luar yang masuk ke negara Indonesia. Kita boleh mengambil budaya asing dari luar, tapi jangan sampai menghilangkan budaya kita sendiri. Rasa nasionalisme menurut Mohammad Prayoga di Indonesia sudah mulai pudar, dapat dilihat melalui rasa kecintaan rakyat terhadap bangsa nya sendiri sudah mulai menurun dari yang seharusnya kita lebih suka dengan produk lokal, tapi sekarang malah lebih minat terhadap brand luar negeri yang di impor. Hal ini juga terjadi dalam kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, kita penting untuk menjaga rasa nasionalisme yang dimana karena kita dilatarbelakangi dengan bangsa yang multikultural. Multikultural yang dimaksudkan bukan saja tentang perbedaan budaya, suku, agama, ras, tapi juga perbedaan ekonomi. Masyarakat jangan sampai merasakan adanya perbedaan tanpa dibarengi toleransi. Perbedaan yang ada pada kita harus menjadikan kita semakin erat karena itu lah keunggulan dari bangsa kita sendiri. Dalam lingkungan Fakultas ilmu Sosial universitas negeri Medan, yang mana mahasiswa tentu saja pemikiran nya lebih kritis seharusnya kita jangan sampai memiliki pemikiran kita kuliah hanya untuk mengejar pendidikan untuk Oleh karena itu kita harus berpola pikir bahwasanya kita adalah sama, dan jangan sampai hanya karena adanya perbedaan pendapat timbul perselisihan. Ditengah tantangan nasionalisme dalam menjalani hidup yang bhineka ialah kita tidak perlu memandang teman dari agamanya, suku, ataupun dari budaya nya. Kita hanya cukup berteman sesuai dengan perlakuan nya kepada kita, tanpa memandang latar belakang nya. Kita hanya memandang individual nya bukan latarbelakang, terlebih kita sebagai mahasiswa PPKn. Krisna Natalia Simbolon merupakan mahasiswi jurusan Geografi, fakultas ilmu sosial, universitas Negeri Medan, berasal dari Samosir, beragama Katolik, dan suku Batak Toba. Ia berpendapat bahwa nasionalisme adalah rasa persatuan, rasa bahwa kita itu memiliki bangsa yang satu. Nasionalisme saat ini masih terjaga akan tetapi tidak di semua daerah. Rasa nasionalisme sangat penting bagi kita karena kalau kita terpecah belah masa depan bangsa ini tidak akan baik. Tantangan yang kita hadapi saat ini ialah karena teknologi yang sangat maju yang dipengaruhi globalisasi dan hal ini jugalah yang mempengaruhi warga negara Indonesia terutama generasi muda . Simpulan JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2024 Nasionalisme dengan kebhinekaan dalam kalangan Masyarakat dewasa ini dianggap sebagai dua konsep yang salingberhadapan dan saling melengkapi. Nasionalisme di tunjukan dengan rasa cinta dan kesetiaan kita terhadap negara, serta kemampuan dan kemauan bangsa untuk memenuhi kepentingan negara. Dibalik itu terdapat kebhinekaan yang ditunjukkan lewat keberagaman yang sangat kaya di Indonesia. Keberagaman itu antara lain, etnis, budaya. Bahasa, agama, suku, ras, dan golongan. Kebhinekaan budaya Indonesia harus dikelola agar menjadi kekuatan potensial untuk mengubah masa depan. Apabila bangsa Indonesia "selesai" dengan kebhinekaannya, modal budaya ini pasti akan berkembang menjadi peluang produktif lainnya. Artinya, selama perbedaan etnis, ras, budaya, dan agama terus dianggap sebagai hambatan untuk berinteraksi dan membangun kerja sama sosial. Indonesia akan menghadapi kesulitan untuk keluar dari masalah dan sekaligus menghalangi peluang yang mungkin terbuka. Pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan nasionalisme, terutama di tengah masalah kebhinekaan. Ada beberapa cara pendidikan dapat membantu seperti: Penanaman nilai-nilai kebangsaan yang di dapat di satuan pendidikan ataupun lingkungan keluarga. Siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai Pancasila, sejarah bangsa, dan pelajaran kewarganegaraan. Pendidikan multikultural membantu siswa belajar menghargai dan menghormati perbedaan budaya, agama, dan etnis. Pendidikan multikultural juga membantu meningkatkan toleransi dan mengurangi konflik sosial. Pengembangan Karakter pendidikan karakter yang menekankan prinsip-prinsip seperti kejujuran, tanggung jawab, dan cinta tanah air dapat membentuk generasi muda yang berjiwa nasionalis. Kegiatan Luar Kelas/Ekstrakulikuler seperti pramuka, upacara bendera, dan lomba-lomba kebangsaan dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan nasional siswa (Komala. Pendidikan kewarganegaraan bahwa materi ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang hak dan kewajiban kita sebagai warga negara serta pentingnya berpartisipasi secara aktif dalam kehidupannasional dan internasional. Referensi