Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. December 2024 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Model Edukasi Seksual Incest pada Anak Berbasis Parenting Islam di Madarasah Ibtidaiyah Kota Bengkulu Asniti Karni1. Diana Zumrotus SaAoadah2. Putri Rahmalia3 UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu asnitikarni@mail. zs@gmail. rahmalia@gmail. Abstract Child sexual abuse has become an epidemic that continues to worsen, the increasing number of cases has caused deep anxiety among parents, schools, and the community. This study aims to design a parent education model that integrates Islamic parenting principles as a preventive measure against cases of child sexual abuse. This study will examine how Islamic values can be taught effectively to protect children from sexual abuse by their own family members. The sample of this study was all MI students in Bengkulu City, totaling 105 students. This study adopted a development research approach to develop an effective program. Data collection was carried out by distributing questionnaires to students, parents, and teachers, as well as through observation, interview, and documentation study techniques. This questionnaire was compiled based on three domains, namely cognitive, affective, and psychomotor, using a Likert scale. The results of the study showed that the use of the human skeleton as a learning medium was proven to be effective in helping students understand material about the human body. Teachers felt more comfortable, but students' practical skills still needed to be improved. Open communication about sexuality between parents and children is still a challenge. The SBFC model has emerged as a promising solution in preventing and addressing incest cases through strengthening family and school relationships. Keywords: Educational Model. Incest. Children. Islamic Parenting. How to cite this article: Karni. SaAoadah. Rahmalia. Model Edukasi Seksual Incest pada Anak Berbasis Parenting Islam di Madarasah Ibtidaiyah Kota Bengkulu. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 9. , 293-303. Received: 8/26/2024 Revised: 11/24/2024 Accepted:12/14/2024 294 | Asniti Karni1. Diana Zumrotus SaAoadah2. Putri Rahmalia3 PENDAHULUAN Kekerasan seksual terhadap anak merupakan permasalahan yang sangat krusial terutama kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya sendiri. Kekerasan seksual terhadap anak dari waktu ke waktu semakin meningkat dan beragam bentuknya. Kekerasan Seksual pada Anak (KSA) merupakan salah satu bentuk kekerasan yang menjadi masalah global serius (Vega-Arce et al. , 2. Dikutip dari data milik Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) bahwa sepanjang tahun 2023 mayoritas aduan kasus sebanyak 1. 915 dari 3547 kasus kekerasan pada anak merupakan kasus kekerasan Adapun berdasarkan tempat kejadian mayoritas kekerasan yang dialami oleh anak terjadi dilingkungan keluarga sebesar 35% (Nabilah, 2. Bentuk kekerasan seksual pada anak di lingkungan keluarga salah satunya yaitu inces (Azzahra, 2. Inces dalam bahasa Arab juga disebut ghisyan al-maharim, sifah al-qurba atau zina al-maharim yaitu hubungan seksual antara orang yang diharamkan menikah diantara mereka oleh syariah, karena ras kekerabatan (Nuroniyah, 2. Secara umum, inces merupakan hubungan seksual atau perkawinan terlarang yang dilakukan oleh dua orang yang memiliki hubungan pertalian sedarah atau masih kerabat dekat (Fairuz, 2. , seperti misalnya ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki Ae lakinya, atau antar sesama keluarga kandung (Susila et al. , 2. Pada dasarnya, kekerasan seksual terhadap anak tidak terbatas pada hubungan seksual semata, tetapi bila seseorang dengan sengaja melakukan tindakan yang mengarah pada aktivitas seksual yang meliputi : menyentuh tubuh anak dengan membuka pakaian atau tidak, melakukan penetrasi seks, penetrasi ke mulut korban dengan alat atau anggota tubuh, secara sengaja melakukan aktivitas seksual dihadapan anak, serta menampilkan altivitas seksual berupa film, gambar, atau adegan lainnya yang tidak senonoh. Kekerasan seksual inces seringkali terjadi di lingkungan masyarakat dengan ekonomi rendah (Siregar, 2. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap KSA, salah satunya adalah faktor orang tua, seperti : pola asuh orang tua (Anggraeini et al. , 2. , kehadiran ayah tiri (Ayan & Bilican, 2. , ketidakhadiran ayah (Kidman & Palermo, 2. , kelainan seksual pada ayah, dan keluarga tidak menjadi tempat berlindung sebagaimana fungsinya (Suteja & Ulum, 2. Kemudian, kondisi dalam rumah yang tidak memungkinkan orang tua, anak, serta saudara pisah kamar yang menyebabkan antar keluarga tidak memiliki ruang privasi. Keluarga juga lebih memilih menutup mata terhadap kekerasan seksual karena takut stigma masyarakat dan korban tidak memiliki keberdayaan dalam melakukan perlawanan karena takut ancaman dari pelaku (Azzahra, 2. KSA menimbulkan berbagai dampak buruk yang akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan korban, seperti anak mengalami sulit tidur, nafsu makan menurun, sakit kepala, berisiko terkena penyakit menular seksual, luka akibat pemerkosaan (Foster. Mengalami depresi, menyalahkan diri sendiri, menurunnya harga diri, post traumatic, gejala somatic, menghindari interaksi sosial, merasa takut dan tidak aman jika berada di lingkungan umum, sekolah, bahkan di rumah (Afrian & Susanti, 2022. Choudhary et al. , 2. Anak juga akan mengalami penurunan minat belajar dan perhatian, serta ketidakhadiran sehingga terjadi kemerosotan prestasi akademik di sekolah yang merupakan dampak dari kekerasan seksual (Choudhary et al. , 2. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 293-303 | 295 Komunikasi dan pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor perlindungan yang kuat terhadap kejadian KSA (Rudolph et al. , 2. Orang tua dapat memberikan tindakan preventif dalam mencegah tindak KSA dengan pemberian edukasi pada anak mengenai Pendidikan seks, membangun hubungan komunikasi efektif dengan anak, dan pemantauan kegiatan anak sehari Ae hari (Septiani, 2. Bentuk pengawasan orang tua terhadap anak contohnya adalah membatasi aktivitas bermalam, memperhatikan kehidupan dan kebiasaan anak terkait aktivitas, pikiran, dan perasaan anak. Pencegahan KSA berbasis orang tua merupakan salah satu pencegahan yang memiliki banyak Adapun pengetahuan yang dimiliki orang tua mempengaruhi sikapnya dalam pencegahan KSA (Pertiwi et al. , 2. Orang tua perlu memberikan parenting aau pola asuh yang baik dalam menciptakan lingkungan aman dan membuat anak merasa aman serta percaya diri sehingga kecil kemungkinan anak menjadi sasaran pelaku kejahatan Pencegahan KSA yang berfokus pada orang tua dapat mengurangi terjadinya resiko KSA (Utami & Nooratri, 2021. Rudolph et al. , 2. Oleh karena itu pencegahan KSA yang melibatkan parenting dari orang tua sangat diperlukan. Penelitian tentang model edukasi seksual inses pada anak berbasis parenting islam di Indonesia masih jarang ditemukan. Penelitian sebelumnya oleh Solehati et al . berupa metode pencegahan kekerasan seksual pada anak berbasis orang tua terkait dengan penggunaan multimetode. Penelitian lain berbentuk literatur review yaitu mengidentifikasi pengaruh pendidikan seksual orang tua pada anak usia dini terhadap kejadian sexual abuse (Hasanah et al. , 2. , mengidentifikasi edukasi kesehatan seksual sebagai upaya pencegahan KSA (Tiwery, 2. , dan penelitian mengeksplorasi pencegahan KSA secara digital bagi anak dan orang tua, bukan khusus pada orang tua saja (Tambaip & Tjilen, 2. Sehingga diperlukan penelitian yang lebih mengeksplor secara khusus terkait kekerasan seksual pada anak yang kian meningkat. Salah satu alternatif pencegahan kekerasan seksual pada anak-anak di Indonesia, khususnya siswa di MI Kota Bengkulu, peneliti melakukan pengembangan dengan menggunakan pendekatan SBFC (School-Based Family Counsellin. , yakni model edukasi dengan memposisikan orang tua, siswa, dan sekolah ke dalam hubungan metamodel yang tidak terpisahkan. Model pengembangan dengan pendekatan SBFC diyakini akan mampu mencegah kekerasan seksual pada anak Ae anak. Dengan demikian, peneliti merasa perlu melakukan penelitian tentang AuModel Edukasi Seksual Inces pada Anak Berbasis Parenting Islam di MI Kota BengkuluAy. METODE Penelitian ini berfokus pada siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah di Kota Bengkulu, mengingat tingginya angka kasus kekerasan seksual dalam keluarga, khususnya incest, yang sering menimpa anak usia sekolah dasar. Masalah ini telah menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah research and development. Tujuannya adalah untuk menciptakan dan mengembangkan sebuah model pendidikan seks yang efektif dalam mencegah terjadinya kasus incest pada anakanak di tingkat sekolah dasar. Metode dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Developmen. Penelitian pengembangan ini adalah metode penelitian yang digunakan This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 296 | Asniti Karni1. Diana Zumrotus SaAoadah2. Putri Rahmalia3 untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Yanti et , 2. Menurut Borg dan Gall . alam Setia et al. , 2. , penelitian dan pengembangan adalah proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk Pendidikan. Sehingga, penelitian pengembangan merupakan penelitian untuk menghasilkan produk baru, menguji keefektifan produk yang telah ada atau mengembangkan dan menghasilkan produk baru berdasarkan analisis kebutuhan, pengembangan produk dan uji coba produk. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa MI Mafaza Kota Bengkulu sebanyak 105 siswa. Adapun penelitian mengambil teknik sample yaitu, purposive sampling dengan kriteria : . siswa kelas 3 dan 4. bersedia menjadi informan. siswa yang aktif dan rajin sekolah. Sehingga, berdasarkan kriteria tersebut yang memenuhi kritera adalah 27 siswa. Adapun langkah Ae langkah penelitian ini sebagai berikut : . mengidentifikasi permasalahan seksual inces pada anak sekolah dasar dengan melakukan wawancara mendalam dengan para narasumber yang kemudian dianalisis serta dideskripsikan secara . mengidentifikasi kebutuhan, potensi, pendidikan seksual inces anak sekolah dasar berbasis parenting Islam. Sehingga dapat disusun model dan materi pendidikan seksual anak sekolah dasar berbasis parenting islam. focus group discussion (FGD) tentang model Pendidikan seksual inces anak sekolah dasar berbasis parenting islam, yaitu dengan melibatkan para orang tua/wali murid dan guru. Sehingga dapat memperkuat model Pendidikan seksual inces anak sekolah dasar. Uji model Pendidikan seksual dengan melibatkan psikolog dan ahli Pendidikan terutama pada saat peneliti sudah merumuskan model Pendidikan seksual kategori inces anak MI Mafaza Kota Bengkulu. HASIL DAN PEMBAHASAN Permasalahan Seksualitas Incest Pada Anak-Anak di Provinsi Bengkulu Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak(SIMFONI PPA), sepanjang 2023 tercatat 480 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Bengkulu, 323 kasus di antaranya dialami oleh anak usia 17 tahun ke Hingga November 2022, dilansir dari SIMFONI PPA. Kota Bengkulu menempati urutan pertama kasus kekerasan seksual tertinggi di Provinsi Bengkulu, yakni 48 kasus. Menyusul Kepahiang 39 kasus. Seluma 27 kasus dan Rejang Lebong 19 kasus. Kemudian. Bengkulu Utara 14 kasus. Bengkulu Tengah 12 kasus. Mukomuko 11 kasus dan Bengkulu Selatan 2 kasus. Kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam hubungan kekeluargaan atau inses terus meningkat di Provinsi Bengkulu. Kasus inses kakak adik di provinsi Bengkulu ditangkap polisi karena menghamili adik kandungnya. R . hingga memiliki anak yang kini berusia dua tahun. Ternyata dari hubungan inses tersebut, korban sudah tiga kali hamil dan dua di antaranya keguguran. Berdasarkan data dan penelitian yang dilakukan oleh Nori Certiliani Lestari. Sudirman Sitepu, dan Susi Ramadhani , terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kasus kekerasan seksual kategori inses di Provinsi Bengkulu, antara lain: Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 293-303 | 297 Faktor Budaya: Patriarki: Budaya patriarki yang kuat di Bengkulu, di mana laki-laki memiliki kontrol dan kuasa atas perempuan, dapat memicu perilaku posesif dan kontrol terhadap perempuan, termasuk anak perempuan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Kurangnya edukasi seksual: Kurangnya edukasi seksual yang komprehensif dan terbuka di masyarakat Bengkulu dapat menyebabkan ketidakpahaman tentang batasan-batasan seksual yang sehat, termasuk dalam hubungan keluarga. Stigma dan tabu: Stigma dan tabu yang melekat pada incest di Bengkulu membuat korban enggan untuk melapor dan mencari pertolongan, sehingga menghambat upaya pencegahan dan penanganan kasus. Faktor Sosial Ekonomi: Kemiskinan: Kemiskinan dapat mendorong terjadinya inses karena faktor seperti ketimpangan gender dalam pembagian peran domestik, eksploitasi anak untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, dan kurangnya akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan. Tingkat pendidikan rendah: Tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan tentang hak-hak anak dan perempuan, serta kurangnya pemahaman tentang bahaya inses. Kurangnya akses terhadap layanan sosial: Kurangnya akses terhadap layanan sosial seperti konseling, pendampingan hukum, dan rehabilitasi dapat membuat korban inses kesulitan untuk mendapatkan dukungan dan pemulihan. Faktor Psikologis: Masalah kesehatan mental: Pelaku inses seringkali memiliki masalah kesehatan mental seperti trauma masa kecil, depresi, dan adiksi. Riwayat pelecehan seksual: Korban inses juga lebih berisiko mengalami pelecehan seksual lainnya, baik di masa kecil maupun di masa dewasa. Dinamika keluarga yang tidak sehat: Dinamika keluarga yang tidak sehat, seperti komunikasi yang buruk, konflik yang tinggi, dan kurangnya kasih sayang, dapat meningkatkan risiko terjadinya inses. Identifikasi Kebutuhan. Potensi. Pendidikan Seks Incest Anak Inses merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual yang terjadi dalam keluarga, di mana pelaku dan korban memiliki hubungan darah. Kasus inses, khususnya yang melibatkan anak sekolah dasar, semakin marak terjadi dan menimbulkan dampak yang serius bagi korban. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan upaya pencegahan dan penanganan inses melalui pendidikan seks berbasis parenting Islam. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti tanggal 22 Mei 2024 kepada Kepala Sekolah MI Mafaza Kota Bengkulu. Beliau mengatakan bahwa belum adanya edukasi intensif yang dilakukan sekolah terkait pencegahan kekerasan seksual sedarah atau inses, beliau juga mengatakan bahwa sekolah terkadang juga keteteran dengan program penanganan kekerasan seksual incest karena sekolah yang menjadi tonggak utama This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 298 | Asniti Karni1. Diana Zumrotus SaAoadah2. Putri Rahmalia3 selama ini. Padahal kerjasama orang tua juga sangat dibutuhkan dalam peran ini. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa diperlukan adanya edukasi spesifik terkait pengenalan tubuh alat vital anak, adab terhadap lawan jenis yang terkadang tabu dibahas dikelas dan dibutuhkan tenaga professional untuk menyampaikannya. Selain kepada guru di MI Mafaza, wawancara dilakukan kepada orang tua pada tanggal 12 Juni 2024, salah satu orang tua berisial NA menyatakan bahwa ingin mengetahui lebih banyak mengenai pencegahan kekerasan seksual anak karena belum mengetahui cara yang tepat untuk mengedukasi anak. Wawancara juga dilakukan kepada Psikolog Klinis yaitu Muhamad Febrian Al-Amin pada tanggal 10 Juni 2024. Beliau menyatakan bahwa edukasi kepada anak perlu didukung juga oleh program edukasi kepada orang tua, dan juga program edukasi kepada guru sehingga terbentuknya program komprehensif antara edukasi kepada anak agar Materi yang perlu disampaikan juga perlu sesuai dengan tahapan perkembangan anak, yaitu pengenalan anggota tubuh, serta etika kepada orang tua. Wawancara juga dilakukan kepada anak pada tanggal 12 Juni 2024, salah satu anak berinisal AN menyatakan bahwa belum mengetahui apa itu kejahatan seksual dan siapa siapa saja yang biasa melakukannya. Hal-hal tersebut mendorong peneliti untuk membuat sebuah pendekatan komprehensif antara edukasi anak, sekolah dan kepada orang tua agar terciptanya program efektif dalam upaya pencegahan kekerasan seksual anak. Identifikasi Kebutuhan Kebutuhan Anak: Mendapatkan informasi yang tepat dan sesuai dengan usia tentang seksualitas dan Memahami batasan-batasan sentuhan fisik yang boleh dan tidak boleh. Mengetahui cara untuk menjaga diri dari pelecehan seksual. Mendapatkan dukungan emosional dan spiritual dari orang tua. Kebutuhan Orang Tua: Mendapatkan pengetahuan tentang seksualitas anak dan cara untuk membicarakannya dengan anak. Mengetahui bagaimana membangun hubungan yang terbuka dan komunikatif dengan Memahami tanda-tanda anak yang mengalami pelecehan seksual. Mempelajari cara untuk mencegah inses dan melindungi anak dari pelecehan seksual Identifikasi Potensi Potensi Anak: Memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang seksualitas dan reproduksi. Mampu memahami batasan-batasan sentuhan fisik yang boleh dan tidak boleh. Mampu belajar cara untuk menjaga diri dari pelecehan seksual. Memiliki potensi untuk menjadi individu yang berkarakter dan berakhlak mulia. Potensi Orang Tua: Menjadi sumber informasi dan pendidikan seks yang terbaik bagi anak. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 293-303 | 299 Membangun hubungan yang kuat dan penuh kasih sayang dengan anak. Melindungi anak dari bahaya pelecehan seksual. Menanamkan nilai-nilai moral dan agama yang kuat pada anak Pendidikan Seks Incest Anak Madrasah Ibtidaiyah Berbasis Parenting Islam Pendidikan seks incest anak MI/SD berbasis parenting Islam harus dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa prinsip berikut: Sesuai dengan ajaran Islam: Pendidikan seks harus sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga kesucian diri dan kehormatan. Berpusat pada anak: Pendidikan seks harus berpusat pada kebutuhan dan potensi anak, dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sesuai dengan usia Membangun komunikasi yang terbuka: Orang tua harus membangun komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anak tentang seksualitas dan reproduksi. Menanamkan nilai-nilai moral: Pendidikan seks harus menanamkan nilai-nilai moral dan agama yang kuat pada anak, seperti rasa malu, rasa hormat, dan tanggung jawab. Memberikan perlindungan: Orang tua harus memberikan perlindungan kepada anak dari bahaya pelecehan seksual dengan mengajarkan mereka cara untuk menjaga diri dan melaporkan pelecehan kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya. Berikut beberapa metode yang dapat digunakan untuk memberikan pendidikan seks incest anak sekolah dasar berbasis parenting Islam: Cerita: Orang tua dapat menceritakan kisah-kisah teladan dari Rasulullah SAW dan para sahabat tentang menjaga kesucian diri dan kehormatan. Diskusi: Orang tua dapat berdiskusi dengan anak tentang seksualitas dan reproduksi dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sesuai dengan usia anak. Permainan: Orang tua dapat menggunakan permainan edukatif untuk mengajarkan anak tentang batasan-batasan sentuhan fisik yang boleh dan tidak boleh. Buku: Orang tua dapat membaca buku-buku tentang parenting Islam yang membahas tentang pendidikan seks anak. Seminar: Orang tua dapat mengikuti seminar atau workshop tentang pendidikan seks anak berbasis parenting Islam. Focus Group Discussion (FGD) Model dan Materi Pendidikan Seks Kategori Incest Madrasah Ibtidaiyah Berbasis Parenting Islam FGD dilakukan kepada dewan guru dan wali murid, dengan narasumber ahli psikologi dan konselor untuk menemukan model dan materi yang tepat untuk memberikan pendidikan seksual incest kepada anak di Madrasah Ibtidaiyah. Setelah FGD dilaksanakan selanjutnya peserta diberikan intrumen untuk mengetahui model dan materi yang akan diberikan kepada anak-anak khususnya anak yang masih sekolah dasar. Dari hasil FGD disimpulkan bahwa Orang tua, guru, psikolog dan konselor harus bekerja sama untuk memberikan edukasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang seksualitas, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, bahagia, dan bertanggung jawab. Materi pendidikan seksual anak MI berbasis parenting Islam: Mengenal Tubuh Sendiri. Pentingnya Menjaga Aurat This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 300 | Asniti Karni1. Diana Zumrotus SaAoadah2. Putri Rahmalia3 dan Perilaku Sopan. Pubertas dan Perubahan Tubuh serta Menanamkan Nilai-Nilai Moral dan Agama. Validitas Model dan Materi Pendidikan Seks Anak Madrasah Ibtidaiyah Validasi terhadap model dan materi pendidikan sek anak sekolah dasar dilakukan kepada ahli pendidikan dan psikolog anak yang memiliki keahlian di bidang pendidikan seks anak sekolah dasar. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui apakah model dan materi pendidikan seks usia sekolah dasar yang dikembangkan dapat diimplementasikan anak usia sekolah dasar atau tidak. Validasi dilakukan dengan mengacu pada tiga aspek Bloom, yaitu aspek kognisi, afeksi dan psikomotorik. Para ahli memberikan penilaian dengan menggunakan skala Likert berdasarkan tiga kategori: . Baik, . Cukup, dan . Kurang. Kategori Baik . adalah materi bisa dipahami dengan mudah dan disampaikan tanpa menimbulkan intepretasi salah. Kategori Cukup . , apabila materi mampu dipahami, tetapi masih sulit untuk disampaikan. Kategori Kurang . adalah apabila materi sulit dipahami dan tidak bisa disampaikan dengan baik. Hasil uji materi oleh ahli, diperoleh hasil sebagaimana disajikan pada Tabel dibawah ini: Tabel 1. Rangkuman Validasi Model dan Materi Pendidikan Seks dari Ahli Aspek Skor Keterangan Kognitif Baik Afektif Baik Psikomotorik Baik Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa materi tentang Aku dan Tubuhku. Menjaga dan Merawat Tubuh dengan mengunakan media rangka manusia bisa lebih mudah disampaikan dengan baik. Dari hasil uji validasi dari Ahli dapat disimpulkan bahwa tidak ada keraguan dari guru untuk menjelaskan tentang hal yang dianggap tabu. Selanjutnya materi tersebut diujicoba kepada peserta didik, diperoleh hasil sebagaimana disajikan pada tabel dibawah ini: Tabel 2. Rangkuman Validasi 1 Model dan Materi Pendidikan Seks Anak MI Aspek Skor Keterangan Kognitif Baik Afektif Baik Psikomotorik Kurang Tabel 2 menunjukkan bahwa materi AuAku dan TubuhkuAy. AuMerawat TubuhAy, dan AuMenjaga TubuhAy mendapatkan penilaian kurang untuk aspek psikomotorik. Ketiga materi tersebut menyentuh pada hal-hal yang sensitif dan selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Ini menyulitkan guru dalam penyampainnya sehingga pesan tidak dipahami oleh anak didik. Oleh karena itu, pendidik/guru maupun orang tua perlu mempertimbangkan aspek kearifan lokal dalam menyampaikannya. Materi AuAku dan TubuhkuAy. AuMerawat TubuhAy dan AuMenjaga TubuhAy selama ini jarang dijelaskan secara Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 293-303 | 301 terbuka, baik oleh guru maupun orang tua. Ketidak terbukaan itu besar kemungkinan akan berakibat fatal karena anak usia sekolah dasar menjadi tidak siap apabila organ vitalnya disentuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu dilakukan perbaikan, terutama untuk materi merawat tubuh dan menjaga tubuh. Perbaikan materi perlu dilakukan antara lain dengan menggunakan media rangka manusia sehingga anak didik dapat memahami maksud yang disampaikan. Perbaik an materi lainnya mengarah pada penggunaan istilah alat kelamin laki-laki maupun perempuaan. Baik guru maupun orang tua menggunakan istilah AuburungAy untuk alat kelamin laki-laki, dan Aukupu-kupuAy untuk alat kelamin Berdasarkan saran para ahli, seyogyanya guru maupun orang tua tidak perlu ragu-ragu untuk menyebut penis untuk alat kelamin laki-laki ataupun vagina untuk alat kelamin perempuan pada saat mengajarkan pendidikan sek. Perbaikan pada materi merawat dan menjaga tubuh juga menyangkut penajaman informasi yang disampaikan antara lain terkait dengan kemungkinan anak mengalami tindakan sodomi ataupun kekerasan seksual. Untuk keperluan ini, guru maupun orang tua bisa menggunakan media khusus . eperti rangka manusi. agar materi yang disampaikan dapat diterima oleh anak. Jika penjelasan tersebut masih belum memadai, guru ataupun orang tua bisa mengembangkan cara lain, yakni dengan mengembangkan materi menjaga tubuh ke dalam cerita animasi, seperti anak yang akan disodomi tetapi bisa menyelamatkan diri. Setelah dilakukan perbaikan terhadap model dan materi pendidikan seks anak usia sekolah dasar, diperoleh hasil sebagaimana disajikan pada tabel di bawah ini: Tabel 3. Rangkuman Validasi 2 Model dan Materi Pendidikan Seks Anak MI Aspek Skor Keterangan Kognitif Baik Afektif Baik Psikomotorik Baik Berdasarkan data pada Tabel 3, siswa yang menjadi sasaran uji coba secara rata-rata menunjukkan kemampuan untuk menangkap materi yang disampaikan oleh guru. Siswa juga mampu mengenali potensi kekerasan seksual yang mungkin akan dialaminya dan sekaligus mampu mengemukakan pilihan tindakan yang akan dilakukannya jika kekerasan seksual benar-benar terjadi pada dirinya. Sesi uji coba kelompok pengguna membuktikan bahwa materi-materi pendidikan seks anak usia dini sangat efektif bila dilakukan melalui sentra bermain peran. Tetapi, sentra bermain peran ini membutuhkan alat bantu berupa media pembelajaran yang mendukung seperti rangka manusia, gambar-gambar ilustrasi dan slide maupun film KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa temuan penelitian ini sebagai This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 302 | Asniti Karni1. Diana Zumrotus SaAoadah2. Putri Rahmalia3 Penelitian ini sudah menghasilkan model edukasi seksual berbasis parenting Islam yang Penelitian ini menghasilkan uji model edukasi seksual incest pada anak menunjukan bahwa materi aku dan tubuhku, merawat tubuh, menjaga tubuh, mendapatkan penilaian kurang untuk aspek psikomotorik. Begitu juga bagi orang tua, dalam memberikan edukasi ketiga materi tersebut masih belum terbuka dan merasa tabu mengajarkan kepada anaknya secara fulgar. Sedangkan bagi guru dalam mengajarkan materi aku dan tubuhku, merawat tubuh, menjaga tubuh, dengan menggunakan media rangka manusia bisa lebih muda disampaikan dengan baik. Tidak ada keragaman dari guru untuk menjelaskan tentang hal yang dianggap tabu. Model edukasi yang tepat diterapkan dalam mengatasi kekerasan seksual kategori incest pada anak di Madrasah Ibtidaiyah Mafaza Kota Bengkulu Adalah School Based Family Counseling (SBFC), yakni model edukasi dengan memposisikan orang tua, siswa dan sekolah ke dalam hubungan metamodel yang tidak terpisahkan DAFTAR PUSTAKA