p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No 12. Desember 2025 Uji Aktivitas Anti-Bakteri Ekstrak Etanol Daun Ashitaba (Angelica Keiske. Terhadap Bakteri Acinetobacter Baumannii dan Klebsiella Pneumoniae Maretha Ezra Tabitha Sinaga1*. Samuel Joshua Hamonangan Tua Rajagukguk2. Suandy3 Fakultas Kedokteran. Kedokteran Gigi dan Ilmu Kesehatan Universitas Prima Indonesia PUI Phyto Degenerative & Lifestyle Medicine. Universitas Prima Indonesia Email: marethaezra@gmail. com1*,dr. rajagukguk@gmail. suandy76@gmail. Kata kunci: Resistensi antibiotik, infeksi Acinetobacter Klebsiella pneumoniae, ekstrak etanol Ashitaba (Angelica Keywords: Antibiotic Acinetobacter Klebsiella Ashitaba (Angelica keiske. ABSTRAK Masalah resistensi antibiotik yang semakin meningkat, terutama pada infeksi nosokomial, telah menjadi masalah kesehatan global yang Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae termasuk di antara patogen paling berbahaya yang berkontribusi pada resistensi ini, sehingga infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini sulit Penelitian ini menyelidiki ekstrak etanol Ashitaba (Angelica keiske. , tanaman obat yang dikenal memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri, sebagai agen antibakteri alternatif Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas antibakteri ekstrak etanol Ashitaba terhadap patogen resisten seperti Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. Potensi antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram (KirbyAeBaue. untuk mengukur diameter zona hambat pertumbuhan Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae pada berbagai konsentrasi Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga tentang potensi Ashitaba sebagai sumber alami agen antibakteri, menawarkan alternatif bagi antibiotik konvensional dalam mengobati infeksi bakteri resisten. ABSTRACT The growing problem of antibiotic resistance, especially in nosocomial infections, has become a significant global health issue. Acinetobacter baumannii and Klebsiella pneumoniae are among the most dangerous pathogens contributing to this resistance, making infections caused by these bacteria difficult to treat. This study investigates ethanol extracts of Ashitaba (Angelica keiske. , a medicinal plant known for its antioxidant, anti-inflammatory, and antibacterial properties, as a potential alternative antibacterial agent. The aim of this study is to evaluate the antibacterial effectiveness of Ashitaba ethanol extracts against resistant pathogens such as Acinetobacter baumannii and Klebsiella pneumoniae. Antibacterial potential was tested using the disk diffusion (KirbyAeBaue. method to determine the inhibition zone diameter of Acinetobacter baumannii and Klebsiella pneumoniae at various extract concentrations. The results of this study are expected to offer helpful information regarding the potential of Ashitaba as a natural source of antibacterial agents, offering an alternative to conventional antibiotics in treating resistant bacterial infections. Uji Aktivitas Anti-Bakteri Ekstrak Etanol Daun Ashitaba (Angelica Keiske. Terhadap Bakteri Acinetobacter Baumannii dan Klebsiella Pneumoniae PENDAHULUAN Bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah masalah kesehatan global yang semakin Salah satu kelompok bakteri yang berkontribusi terhadap peningkatan resistensi antibiotik adalah Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. Kedua bakteri ini dikenal sebagai penyebab utama infeksi nosokomial yang sulit diobati, terutama pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Resistensi tinggi terhadap banyak kelas antibiotik, seperti beta-laktam dan karbapenem, membuat infeksi yang disebabkan oleh kedua bakteri ini sangat sulit diobati dan meningkatkan morbiditas serta mortalitas. Karena itu, perlu mencari agen antibakteri lain yang efektif dalam mengatasi masalah resistensi ini (Kyriakididis et al. Karami-Zarandi et al. , 2. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengembangan agen antibakteri baru adalah penyelidikan senyawa aktif dari sumber makanan, seperti tanaman obat. Ashitaba (Angelica keiske. , anggota keluarga Apiaceae, dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan, termasuk sifat antioksidan, anti-inflamasi, dan antibakteri. Menurut Halid dan Rahmawati . , tanaman mengandung zat bioaktif seperti flavonoid, kalkon, dan kumarin yang telah terbukti memiliki aktivitas biologis yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Namun, penelitian tentang efektivitas ekstrak etanol Ashitaba terhadap bakteri patogen resisten, khususnya Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae, masih kurang dan perlu penelitian lebih lanjut. Untuk mengidentifikasi potensi antibakteri ekstrak etanol Ashitaba, diperlukan metode yang dapat menilai efektivitasnya secara kuantitatif. Salah satu metode yang sering digunakan adalah uji aktivitas antibakteri, seperti metode difusi cakram atau dilusi, yang dapat mengurangi area tempat bakteri tumbuh sebagai akibat dari paparan senyawa aktif (Hossain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai aktivitas antibakteri Ashitaba terhadap Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan wawasan tentang potensi ekstrak etanol Ashitaba sebagai agen antimikroba dan mendukung terapi alternatif untuk infeksi bakteri resisten. Seiring meningkatnya masalah resistensi antibiotik, penelitian tentang agen antibakteri menjadi semakin penting. Diharapkan penggunaan ekstrak tanaman sebagai terapi alternatif dapat memberikan solusi terhadap masalah resistensi antibiotik konvensional. Jika ekstrak etanol Ashitaba efektif dalam menghambat pertumbuhan Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae, penelitian ini dapat menjadi dasar penelitian di masa depan untuk mengembangkan formulasi obat yang lebih efektif dan aman berdasarkan bahan alam. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, penelitian ini merumuskan permasalahan sebagai A Apakah ekstrak etanol daun Ashitaba (Angelica keiske. memiliki aktivitas antibakteri terhadap Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae? A Sejauh mana ekstrak etanol daun Ashitaba (Angelica keiske. dapat menghambat pertumbuhan bakteri Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae? Maksud dan Tujuan Penelitian Mengacu pada rumusan masalah di atas, penelitian ini memiliki maksud dan tujuan sebagai A Mengetahuii aktivitas anti-bakteri dari ekstrak etanol daun Ashitaba (Angelica keiske. terhadap Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. A Menentukan efektivitas ekstrak etanol daun Ashitaba pada berbagai konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Maretha Ezra Tabitha Sinaga*. Samuel Joshua Hamonangan Tua Rajagukguk. Suandy Suandy Manfaat Penelitian Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam bidang mikrobiologi dan farmakologi, khususnya terkait potensi antibakteri dari ekstrak etanol daun Ashitaba (Angelica keiske. Hasil penelitian ini dapat memperkaya literatur mengenai aktivitas antibakteri bahan alam terhadap Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian lanjutan yang bertujuan mengembangkan agen antibakteri berbasis bahan alami sebagai alternatif dalam menghadapi permasalahan resistensi antibiotik. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam eksplorasi dan pengembangan obat herbal berbasis ekstrak tanaman untuk mengatasi infeksi bakteri yang resistan terhadap antibiotik. Jika ekstrak etanol daun Ashitaba terbukti memiliki efektivitas antibakteri yang signifikan, maka tanaman ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku dalam formulasi sediaan farmasi yang lebih aman dan ramah lingkungan. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan informasi bagi tenaga medis dan peneliti dalam mencari solusi alternatif terhadap keterbatasan antibiotik konvensional dalam mengatasi infeksi nosokomial yang disebabkan oleh Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental laboratorium yang bertujuan menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun Ashitaba (Angelica keiske. terhadap Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae. Desain yang diterapkan adalah post-test only control group design, yaitu ekstrak diuji pada bakteri uji dalam variasi konsentrasi, kemudian zona hambat pertumbuhan bakteri diamati sebagai indikator efektivitas antibakteri. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap utama, yaitu: preparasi sampel . kstraksi daun Ashitaba menggunakan metode ekstraksi etano. , uji aktivitas antibakteri . enggunakan metode difusi cakram/Kirby-Bauer untuk mengukur diameter zona hambat pada berbagai konsentrasi ekstrak, dan analisis data . ata hasil uji antibakteri dianalisis untuk menentukan efektivitas ekstrak yang berperan dalam aktivitas antibakter. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biomolekuler Terpadu Universitas Prima Indonesia (UNPRI) pada bulan Agustus tahun 2025. Populasi dan Sampel Populasi Sampel Populasi penelitian ini adalah daun Ashitaba (Angelica keiske. yang dikumpulkan dari Desa Sembalun. Nusa Tenggara Barat. Indonesia. Sampel Penelitian Sampel penelitian yaitu ekstrak daun Ashitaba (Angelica keiske. dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Sampel dan Estimasi Jumlah Pengulangan Pada penelitian ini digunakan sampel berupa daun Ashitaba (Angelica keiske. Penetapan jumlah replikasi sampel dalam penelitian ini didasarkan pada rumus Federer: . Ae . Ae . Ou 15, dimana t = jumlah perlakuan dan r = jumlah replikasi. Penelitian ini menggunakan lima macam konsentrasi dari ekstrak etanol daun Ashitaba dan dua kontrol bakteri maka didapatkan jumlah pengulangan: . Ou 15, sehingga 6r - 6 Ou 15, maka 6r Ou 21, dan r Ou 3,5 OO 4. Mengacu pada rumusan di atas, jumlah pengulangan minimal dalam penelitian ini adalah tiga Selanjutnya, peneliti menetapkan empat kali pengulangan untuk meningkatkan ketepatan Identifikasi Variabel Penelitian Variabel bebas merupakan variabel yang variasinya mempengaruhi variabel terikat. Yang termasuk dalam variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak etanol 70% daun Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Uji Aktivitas Anti-Bakteri Ekstrak Etanol Daun Ashitaba (Angelica Keiske. Terhadap Bakteri Acinetobacter Baumannii dan Klebsiella Pneumoniae Ashitaba (Angelica keiske. yang digunakan sebesar 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Variabel terikat merupakan suatu variabel yang di pengaruhi oleh adanya variabel bebas. Yang termasuk variabel terikat dalam penelitian ini adalah diameter zona hambat. Prosedur Kerja Pengambilan Sampel Daun Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu daun Ashitaba (Angelica keiske. yang diambil dari Desa Sembalun. Nusa Tenggara Barat. Indonesia. Pengolahan Sampel Daun Ashitaba yang telah dipetik dibersihkan, dipisahkan dari kotoran yang menempel padanya, dicuci dengan air mengalir, dan kemudian diangin-anginkan di tempat yang tidak terkena langsung sinar matahari untuk mencegah senyawa aktifnya terurai selama 2-3 hari. Sampel siap untuk diekstraksi setelah kering dan diserbukkan. Ekstraksi Sampel Ekstrak daun Ashitaba dibuat melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% sebagai Proses maserasi diawali dengan memasukkan 500 gram serbuk daun Ashitaba ke dalam bejana maserasi. Selanjutnya, serbuk tersebut direndam menggunakan pelarut etanol 70% dalam wadah tertutup dan dilakukan pengadukan secara berkala (Rahmawati et al. Hasil dari maserasi dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring dan corong, hasil dari penyaringan dikumpulkan dalam labu erlenmeyer. Maserat yang telah terkumpul selanjutnya dipekatkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40AC hingga diperoleh ekstrak semi Sterilisasi Alat Peralatan yang diperlukan selanjutnya dicuci, kemudian dikeringkan dengan posisi terbalik di udara terbuka sebelum dibungkus menggunakan kertas tahan panas. Selain itu, tabung reaksi dan gelas Erlenmeyer disumbat dengan kapas bersih. Alat-alat yang terbuat dari kaca dibersihkan selama dua jam dalam oven pada suhu 140AC. Pembuatan Media dan Peremajaan Kultur Bakteri Untuk membuat media Mueller Hinton Agar (MHA), bubuk MHA dilarutkan dengan air suling steril sesuai dengan prosedur bakteriologi biasa. Timbang 19Ae20 gram bubuk MHA dan campurkan dengan 500 mL hingga 1 L aquadest steril. Kemudian, aduk hingga larut sempurna. Larutan media ditutup dengan aluminium foil dan dibersihkan selama 15 menit dalam autoklaf pada suhu 121AC. Kultur murni Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae diremajakan dengan metode inokulasi zigzag pada media MHA. Pembuatan Suspensi Bakteri Sebelum pengujian difusi cakram, isolat murni A. baumannii dan K. pneumoniae pertama kali diperoleh dari media padat, seperti agar Mueller-Hinton/MHA, yang bertahan selama 18 hingga 24 jam. 3Ae5 koloni bakteri diambil dan disuspensikan dalam pelarut fisiologis steril (NaCl 0,85Ae0,9%). Kekentalan suspensi bakteri menjadi 0,5 McFarland . ekitar 1,5y10A CFU/mL), yang setara dengan absorbansi (OD) 0,08Ae0,10 pada panjang gelombang 600 nm. Pembuatan Larutan Ekstrak Dalam penelitian ini, metode Cakram Kirby-Bauer digunakan, yang merupakan teknik yang sederhana dan mudah digunakan untuk mengukur aktivitas antimikroba dengan melihat zona hambat yang terbentuk pada uji cakram. Ekstrak kental yang didapatkan merupakan ekstrak etanolik daun Ashitaba (Angelica keiske. Pada penelitian ini menggunakan ekstrak daun Ashitaba dengan konsentrasi sebesar 10%, 20%, 30%, 40%, 50% volume yang diinginkan yaitu 5 ml. Pembuatan konsentrasi ekstrak dengan cara menimbang ekstrak kental daun Ashitaba sejumlah 0,71 ml/g, 1,4 ml/g, 2,1 ml/g, 2,8 ml/g, dan 3,5 ml/g. Selanjutnya, masingmasing konsentrasi ekstrak daun Ashitaba yang sudah dibuat dilarutkan menggunakan pelarut DMSO (Dimetil sulfoksid. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Maretha Ezra Tabitha Sinaga*. Samuel Joshua Hamonangan Tua Rajagukguk. Suandy Suandy Uji Aktivitas Antibakteri dengan Metode Kirby Bauer Uji antibakteri dilaksanakan dengan metode Kirby Bauer. Pertama, bakteri dimasukkan secara merata ke dalam tabung Mueller Hinton Agar (MHA) secara aseptis dengan cotton Kemudian, selama 15 menit, di inkubasi pada suhu 37 derajat Celcius. Selanjutnya, rendam kertas cakram steril dalam larutan ekstrak Daun Ashitaba (Angelica keiske. pada konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% selama 1 menit. Setelah itu, diletakkan pada Kemudian, sebagai kontrol negatif kedua bakteri, rendam kertas cakram dalam larutan DMSO selama satu menit pada permukaan media. Kontrol positif untuk A. menggunakan cakram doxycycline 30 mcg dan untuk K. pneumoniae menggunakan cakram ciprofloxacin 5 mcg, kemudian simpan selama 24 jam di suhu 37AC. Pengamatan Zona Hambat Aktivitas antibakteri diamati setelah bakteri diinkubasi selama 1y24 jam. Zona hambat kemudian diukur sebagai indikator untuk menentukan kepekaan bakteri terhadap bahan uji. Zona hambat ditetapkan berdasarkan terbentuknya atau tidak terbentuknya zona bening di sekitar bahan uji. Hasil dinyatakan positif bila terdapat zona bening yang terbentuk di sekeliling Pengukuran dilakukan dengan jangka sorong. Rancangan Analisis dan Uji Hipotesis Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan untuk mengukur dan membandingkan efektivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun Ashitaba. Data yang diperoleh berupa ukuran zona hambat . alam m. Uji hipotesis dilakukan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan . kstrak dengan berbagai konsentras. dan kelompok kontrol . ontrol positif: antibiotik standar. kontrol negatif: pelaru. Metode analisis yang digunakan meliputi: analisis deskriptif untuk menggambarkan hasil uji aktivitas antibakteri dalam bentuk tabel dan grafik, dan uji statistik menggunakan uji ANOVA satu arah untuk membandingkan efektivitas antibakteri antara kelompok perlakuan dan kontrol . ika data terdistribusi norma. , atau uji Kruskal-Wallis sebagai alternatif non-parametrik . ika data tidak terdistribusi norma. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok, dilakukan uji post-hoc Tukey atau uji Mann-Whitney jika data non-parametrik. Interpretasi hasil: jika terdapat perbedaan signifikan . < 0,. , maka hipotesis alternatif diterima dan ekstrak dianggap memiliki aktivitas antibakteri. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas Anti-Bakteri dari Ekstrak Etanol Daun Ashitaba Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun Ashitaba (Angelica keiske. terhadap Klebsiella pneumoniae dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumuran . ell diffusion metho. untuk mengamati pembentukan zona hambat di sekitar sumur yang berisi ekstrak pada berbagai konsentrasi. Terbentuknya zona hambat merefleksikan efektivitas ekstrak dalam menekan pertumbuhan bakteri uji. Diameter zona hambat yang semakin luas mengindikasikan daya antibakteri ekstrak yang semakin kuat. Hasil pengamatan menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada diameter zona hambat yang dihasilkan dari berbagai konsentrasi ekstrak etanol daun Ashitaba. Nilai rerata daya hambat aktivitas antibakteri terhadap Klebsiella pneumoniae disajikan pada Tabel 1 Tabel 1. Rerata Daya Hambat Aktivitas Antibakteri Klebsiella pneumoniae Konsentrasi Rerata Kriteria K (-) iTidak ada Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Uji Aktivitas Anti-Bakteri Ekstrak Etanol Daun Ashitaba (Angelica Keiske. Terhadap Bakteri Acinetobacter Baumannii dan Klebsiella Pneumoniae Konsentrasi Rerata Kriteria K ( ) Sangat Kuat iTidak ada iTidak ada iTidak ada iTidak ada iTidak ada Berdasarkan Tabel 1, hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Ashitaba pada seluruh konsentrasi yang diuji, yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%, tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Klebsiella pneumoniae, yang ditandai dengan tidak terbentuknya zona hambat . pada semua ulangan. Kontrol negatif (KA. juga tidak menghasilkan zona hambat, sesuai fungsinya sebagai pembanding tanpa zat antibakteri. Sebaliknya, kontrol positif (K ), yang menggunakan antibiotik standar, menunjukkan daya hambat sangat kuat dengan diameter zona hambat sebesar 21,5 mm. Perbedaan yang mencolok ini menegaskan bahwa ekstrak daun Ashitaba tidak mampu menghambat pertumbuhan Klebsiella pneumoniae pada konsentrasi 10Ae50%. Tabel 2. Rerata Daya Hambat Aktivitas Antibakteri Acinetobacter baumannii Konsentrasi Rerata Kriteria K (-) Tidak ada K ( ) Sangat Kuat 3,625 Lemah 0,75 Lemah Lemah Tidak ada Tidak ada Berdasarkan Tabel 2, hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Ashitaba hanya memberikan aktivitas antibakteri yang sangat terbatas terhadap Acinetobacter Pada konsentrasi 10% terlihat adanya zona hambat dengan rerata 3,625 mm yang masih termasuk kategori lemah, sedangkan pada konsentrasi 20% dan 30% rerata zona hambat semakin kecil, yaitu 0,75 mm dan 0,5 mm, yang juga berada pada kategori lemah. Namun, pada konsentrasi 40% dan 50% ekstrak tidak menunjukkan aktivitas antibakteri sama sekali, ditandai dengan tidak terbentuknya zona hambat. Kontrol negatif (KA. tidak menimbulkan zona hambat. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Maretha Ezra Tabitha Sinaga*. Samuel Joshua Hamonangan Tua Rajagukguk. Suandy Suandy sesuai dengan fungsinya sebagai pembanding tanpa zat aktif, sedangkan kontrol positif (K ) menghasilkan zona hambat sebesar 26 mm yang dikategorikan sangat kuat. Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Ashitaba Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data diameter zona hambat pada masing-masing konsentrasi tidak berdistribusi normal, yang terlihat dari nilai signifikansi . -valu. < 0,05. Kondisi ini menandakan bahwa asumsi normalitas pada uji parametrik seperti ANOVA tidak Dengan demikian, tahap analisis berikutnya dilakukan menggunakan uji KruskalWallis. Uji ini merupakan metode nonparametrik untuk membandingkan lebih dari dua kelompok data, khususnya ketika data tidak berdistribusi normal atau varians antar kelompok tidak homogen. Hasil analisis untuk uji antibakteri terhadap Klebsiella pneumoniae dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3. Hasil Uji Kruskal-Wallis Antibakteri Klebsiella pneumoniae Sumber Keragaman Derajat Bebas Statistik (H) Nilai p (Sig. Kelompok . 15,00 0,008 Berdasarkan hasil uji KruskalAeWallis pada Tabel 3, diperoleh nilai H sebesar 15,00 dengan nilai signifikansi 0,002, yang berarti nilai dari p <. 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara variasi konsentrasi ekstrak etanol daun Ashitaba dalam memengaruhi pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae. Dengan demikian, perbedaan konsentrasi ekstrak memberikan pengaruh nyata terhadap diameter zona hambat yang terbentuk. Karena data tidak berdistribusi normal, maka analisis lanjutan dilakukan menggunakan uji MannAeWhitney untuk membandingkan dua kelompok secara berpasangan. Hasil uji Mann-Whitney pada Tabel 4 berikut: Tabel 4. Hasil Uji Mann-Whitney Beda Nyata Antibakteri Klebsiella pneumoniae Pasangan Perbandingan Sig. -taile. Keterangan K (-) vs K ( ) -2,646 0,008 Berbeda signifikan K (-) vs 10% 8,000 0,000 1,000 Tidak berbeda K (-) vs 20% 8,000 0,000 1,000 Tidak berbeda K (-) vs 30% 8,000 0,000 1,000 Tidak berbeda K (-) vs 40% 8,000 0,000 1,000 Tidak berbeda K (-) vs 50% 8,000 0,000 1,000 Tidak berbeda Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney pada Tabel 4, diketahui bahwa hanya pasangan K() vs K( ) yang menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,008 . < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa kontrol positif . ntibiotik standa. memberikan daya hambat yang jauh lebih besar dibandingkan kontrol negatif. Pada pasangan K(-) vs seluruh konsentrasi ekstrak . %, 20%, 30%, 40%, dan 50%), nilai p yang dihasilkan adalah 1,000 . > 0,. Ini merujuk Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Uji Aktivitas Anti-Bakteri Ekstrak Etanol Daun Ashitaba (Angelica Keiske. Terhadap Bakteri Acinetobacter Baumannii dan Klebsiella Pneumoniae bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara kontrol negatif dan masing-masing konsentrasi ekstrak etanol daun Ashitaba. Tabel 5. Hasil Uji Kruskal-Wallis Antibakteri Acinetobacter baumannii Sumber Keragaman Derajat Bebas Statistik (H) Nilai p (Sig. Kelompok . 7,000 0,008 Berdasarkan hasil uji KruskalAeWallis pada Tabel 5, diperoleh nilai statistik H = 7,000 dengan nilai signifikansi p = 0,008 . < 0,. Ini merujuk pada perbedaan yang signifikan antara kelompok konsentrasi ekstrak etanol daun Ashitaba dalam menghambat pertumbuhan Acinetobacter baumannii. Hasil uji MannAeWhitney disajikan pada Tabel 6 berikut: Tabel 6. Hasil Uji Mann-Whitney Beda Nyata Antibakteri Acinetobacter baumannii Pasangan Perbandingan Sig. -taile. Keterangan K (-) vs K ( ) 0,000 -2,646 0,008 Berbeda signifikan K (-) vs 10% 2,000 -1,984 0,047 Berbeda signifikan K (-) vs 20% 6,000 -1,000 0,317 Tidak berbeda K (-) vs 30% 6,000 -1,000 0,317 Tidak berbeda K (-) vs 40% 8,000 0,000 1,000 Tidak berbeda K (-) vs 50% 8,000 0,000 1,000 Tidak berbeda Berdasarkan Tabel 6, hasil uji MannAeWhitney menunjukkan bahwa terdapat beberapa pasangan perlakuan yang berbeda secara signifikan. Pasangan K(-) vs K( ) memiliki nilai signifikansi 0,008 . < 0,. , sehingga keduanya berbeda signifikan. Selanjutnya, pasangan K(-) vs 10% juga menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p = 0,047 . < 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa ekstrak dengan konsentrasi 10% sudah mampu memberikan efek penghambatan yang berbeda dibandingkan kontrol negatif, meskipun kategori aktivitasnya masih lemah. Untuk pasangan lainnya, yaitu K(-) vs 20%. K(-) vs 30%. K(-) vs 40%, dan K(-) vs 50%, nilai dari p seluruhnya lebih besar dari 0,05 . > 0,. , yang artinya tidak terdapat perbedaan signifikan antar kontrol negatif dan konsentrasi-konsentrasi Pembahasan Aktivitas Anti-Bakteri dari Ekstrak Etanol Daun Ashitaba. Fenomena tidak munculnya aktivitas antibakteri terhadap Klebsiella pneumoniae dan rendahnya aktivitas terhadap Acinetobacter baumannii dapat dijelaskan melalui karakteristik kedua bakteri Gram-negatif Struktur dinding sel Gram-negatif memiliki lapisan lipopolisakarida yang tebal dan kuat, sehingga menjadi penghalang bagi difusi senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan kumarin yang terdapat dalam ekstrak Ashitaba. Hambatan permeabilitas ini membuat senyawa aktif tidak mampu mencapai target aksi di dalam sel bakteri, sehingga tidak dapat Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Maretha Ezra Tabitha Sinaga*. Samuel Joshua Hamonangan Tua Rajagukguk. Suandy Suandy menyebabkan kerusakan membran, gangguan metabolisme, atau kebocoran isi sel secara Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Putri et al. yang melaporkan bahwa efektivitas senyawa flavonoid dari ekstrak tanaman lebih rendah terhadap bakteri Gram-negatif akibat lapisan membran luar yang sulit ditembus. Penelitian Kusuma dan Dewi . juga melaporkan bahwa Ashitaba memiliki efektivitas yang lebih tinggi terhadap bakteri Grampositif dibandingkan Gram-negatif. Hal ini diduga karena struktur dinding sel Gram-positif lebih sederhana sehingga lebih mudah mengalami disrupsi. Selain itu. Rahmawati et al. melaporkan bahwa meskipun ekstrak Angelica sp. mengandung fenolik dan kumarin yang bersifat antibakteri, aktivitasnya terhadap bakteri Gram-negatif tetap lemah karena resistensinya yang tinggi. Efektivitas ekstrak etanol daun Ashitaba dalam menghambat pertumbuhan kedua bakteri uji dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney. Hasil dari uji Kruskal-Wallis pada Klebsiella pneumoniae menunjukkan nilai H = 15,00 dengan signifikansi 0,008 . < 0,. , yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok konsentrasi. Namun, hasil uji lanjut Mann-Whitney memperlihatkan temuan yang lebih spesifik. Hanya pasangan K(-) vs K( ) yang menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,008, membuktikan bahwa kontrol positif memberikan daya hambat yang jauh lebih besar dibandingkan kontrol negatif. Sementara itu, seluruh konsentrasi ekstrak . %, 20%, 30%, 40%, dan 50%) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan kontrol negatif, dengan nilai p = 1,000 . > 0,. untuk semua pasangan perbandingan. Hasil yang berbeda ditemukan pada pengujian terhadap Acinetobacter baumannii. Berdasarkan uji Kruskal-Wallis, diperoleh nilai statistik H = 7,000 dengan nilai signifikansi p = . 0,008 . < . , menghasilkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan bakteri ini. Hasil uji Mann-Whitney memberikan informasi yang lebih detail mengenai pasangan konsentrasi yang berbeda secara nyata. Pasangan K(-) vs K( ) memiliki nilai signifikansi 0,008 . < 0,. , mengkonfirmasi efektivitas kontrol positif. Yang menarik, pasangan K(-) vs 10% juga menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,047 . < 0,. , mengindikasikan bahwa ekstrak dengan konsentrasi 10% sudah mampu memberikan efek penghambatan yang berbeda dibandingkan kontrol negatif terhadap Acinetobacter baumannii, meskipun aktivitasnya masih dalam kategori lemah. Hasil penelitian ini menunjukkan aktivitas antibakteri yang lemah terhadap Klebsiella pneumoniae, yang sejalan dengan beberapa penelitian lain terhadap bakteri gram negatif Dalam penelitian skrining aktivitas antibakteri. Qolbi dan Yuliani . menguji ekstrak etanol 70% dari sepuluh daun tanaman terhadap Klebsiella pneumoniae dan menemukan bahwa tidak semua ekstrak tanaman memperlihatkan aktivitas yang bermakna terhadap bakteri ini, mengindikasikan bahwa K. pneumoniae memiliki resistensi intrinsik yang tinggi terhadap berbagai ekstrak herbal. Perbedaan hasil ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, karena variasi kandungan senyawa bioaktif pada bahan tanaman yang dipengaruhi oleh lokasi tumbuh, usia tanaman, metode ekstraksi, serta tingkat resistensi isolat bakteri yang digunakan dalam penelitian. Hasil penelitian terhadap Acinetobacter baumannii yang menunjukkan aktivitas lemah pada konsentrasi rendah juga konsisten dengan temuan penelitian lain. Saputra et al. dalam penelitian uji aktivitas antibakteri ekstrak bawang putih dan bawang hitam siung tunggal terhadap Acinetobacter baumannii melaporkan bahwa ekstrak etanol bawang putih hanya menghasilkan zona hambat kategori sedang . ,5-9,8 m. pada konsentrasi 50-100%, menunjukkan bahwa bakteri ini memerlukan konsentrasi tinggi untuk mencapai penghambatan yang memadai. Resistensi Acinetobacter baumannii terhadap agen antimikroba, termasuk ekstrak herbal, berkaitan erat dengan kemampuannya membentuk biofilm, memiliki sistem Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 2 No. 7 Juli 2025 Uji Aktivitas Anti-Bakteri Ekstrak Etanol Daun Ashitaba (Angelica Keiske. Terhadap Bakteri Acinetobacter Baumannii dan Klebsiella Pneumoniae pompa efluks yang efisien, dan struktur membran luar yang kompleks yang membatasi penetrasi senyawa antibakteri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Ashitaba memiliki potensi antibakteri yang terbatas terhadap Klebsiella pneumoniae, namun menunjukkan aktivitas yang lebih menjanjikan terhadap Acinetobacter baumannii, khususnya pada konsentrasi 10%. Aktivitas yang lemah ini mengindikasikan bahwa mekanisme kerja ekstrak kemungkinan bersifat bakteriostatik ringan atau memerlukan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang diuji untuk mencapai efek penghambatan yang optimal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai Uji Aktivitas Anti-Bakteri Ekstrak Etanol Daun Ashitaba (Angelica keiske. terhadap Bakteri Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Ashitaba tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Klebsiella pneumoniae pada seluruh konsentrasi yang diuji . %, 20%, 30%, 40%, dan 50%), yang ditandai dengan tidak terbentuknya zona hambat . pada semua ulangan, sama dengan kontrol negatif (KA. Kontrol positif (K ) menunjukkan daya hambat sangat kuat dengan zona hambat 21,5 mm. Ketidakefektifan ini dipengaruhi oleh dinding sel Gram-negatif K. pneumoniae yang kompleks dan resisten terhadap senyawa aktif dalam ekstrak. Untuk Acinetobacter baumannii, ekstrak hanya menunjukkan aktivitas terbatas pada konsentrasi 10% dengan zona hambat 3,625 mm . ategori lema. Konsentrasi lebih tinggi justru menurun: 20% . ,75 m. , 30% . ,5 m. , sedangkan 40% dan 50% tidak menunjukkan aktivitas . Kontrol positif menghasilkan zona hambat 26 mm dan kontrol negatif 0 mm. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikansi p = 0,008 untuk Klebsiella pneumoniae dan p = 0,008 untuk Acinetobacter baumannii, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan. Namun, uji lanjut Mann-Whitney menunjukkan bahwa untuk K. pneumoniae, tidak ada perbedaan signifikan antara kontrol negatif dengan seluruh konsentrasi ekstrak . = 1,000 untuk semua pasanga. , hanya K(-) vs K( ) yang berbeda signifikan . = 0,. Untuk A. baumannii, hanya konsentrasi 10% yang menunjukkan perbedaan signifikan dengan kontrol negatif . = 0,. , sedangkan konsentrasi lainnya . %-50%) tidak berbeda signifikan dengan kontrol negatif. REFERENSI