Magistrorum Et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 05 Nomor 01. Agustus 2024, 99 - 108 P-ISSN: 2722-9270 edu/jms Cegah Bullying. Jaga Kesehatan Mental: Psikoedukasi Siswa dengan Metode Problem Based Learning Adyatma Susilo Nugroho1 Keisya Shaskia Dea Fanda1 Samuel Miracle Wangko1 Andre Novan Andika1 Rafy Qurniawan Bayu Sudibyo1 Doddy Hendro Wibowo1* Hanik Setiarsih2 Program Studi S1 Psikologi UKSW1 SMP Negeri II Boyolali2 ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Received 20-8-2024 Revised 25-9-2024 Accepted 2-10-2024 Bullying often occurs in teenagers and mostly occurs in junior high school students. Therefore, school institutions try to carry out various efforts to prevent bullying. Community service aims to prevent bullying based on psychoeducation activities with an understanding of the problem of bullying at school and how to prevent bullying at school. The activity was carried out at SMP Negeri II Boyolali, for participants namely class Vi-B, totaling 26 students. Classical guidance is carried out using psychoeducation based on the ProblemBased Learning (PBL) method. Students show enthusiasm and activeness in participating in activities. The results of the learning process evaluation show that they have a better understanding of bullying after following psychoeducation. This activity is expected to be beneficial for students to improve their mental and emotional wellbeing, create a safe and comfortable learning environment, and build positive social interactions. Key words: Bullying. Problem Siswa SMP Based-learning. DOI: 24246/jms. ABSTRAK Kasus bullying banyak terjadi di usia remaja dan sebagian besar terjadi pada siswa di jenjang SMP. Oleh sebab itu Lembaga sekolah berupaya melakukan berbagai usaha preventif terjadinya bullying. Tujuan dilaksanakan kegiatan psikoedukasi pencegahan bullying adalah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang permasalahan bullying di sekolah dan bagaimana cara untuk mencegah terjadinya bullying di Kegiatan dilaksanakan di SMP Negeri II Boyolali, untuk partisipan yakni siswa kelas Vi-B yang berjumlah 26 siswa. Bimbingan klasikal dilakukan dengan psikoedukasi berbasis metode Problem Based Learning (PBL). Siswa menunjukkan antusiasme dan keaktifan dalam mengikuti kegiatan. Hasil evaluasi proses belajar menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bullying setelah mengikuti psikoedukasi. Kegiatan ini diharapkan bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, dan membangun interaksi sosial yang positif. Cegah Bullying. Jaga Kesehatan Mental: Psikoedukasi Siswa Dengan Metode Problem Based Learning (Adyatma Susilo Nugroho. Keisya Shaskia Dea Fanda. Samuel Miracle Wangko. Andre Novan Andika. Rafy Qurniawan Bayu Sudibyo. Doddy Hendro Wibowo. Hanik Setiarsi. PENDAHULUAN Usaha untuk mencegah terjadinya bullying di sekolah terus diupayakan. Namun, bullying itu sendiri adalah sebuah siklus, dalam arti pelaku saat ini kemungkinan besar adalah korban dari pelaku bullying sebelumnya (Damayanti et al. , 2. Dari 30 kasus perundungan pada 2023, sebanyak 50% terjadi di jenjang SMP/sederajat, 30% di jenjang SD/sederajat, 10% di jenjang SMA/sederajat, dan 10% di jenjang SMK/sederajat (Annur, 2. Kasus Perundungan di Sekolah Jenjang SMK Jenjang SMA Jenjang SMP Jenjang SD Gambar 1. Data Kasus Perundungan di Sekolah tahun 2023 Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa kasus bullying banyak terjadi di usia remaja dan sebagian besar terjadi pada siswa di jenjang SMP. Bentuk-bentuk bullying yang dilakukan di sekolah bersifat tradisional, misalnya dengan sebutan nama yang tidak baik, memanggil nama orang tua, dan juga perundungan siber atau sering kali disebut Oleh sebab itu penting bagi orang tua dan guru untuk menyadari potensi masalah dan dampak akibat terjadinya bullying (Borualogo et al. , 2. Perilaku bullying dapat menimbulkan dampak fisik dan dampak psikologis. Dampak fisik dari perlakuan bullying berupa kondisi lebam, lacet, luka, dan mungkin cedera sedangkan dampak psikologis bullying tersebut diantaranya. harga diri, dikucilkan, ketidakhadiran, reaksi emosional, menurunnya performansi di sekolah dan bahkan hingga terjadinya bunuh diri (Damayanti et al. , 2. Hal ini juga diperkuat bahwa terdapat lima dampak psikologis yang diakibatkan oleh perilaku bullying. Dampak psikologis yang dialami korban bullying tersebut berupa rendahnya psychological wellbeing, psychological distress, kurangnya keterbukaan diri, kemampuan regulasi emosi yang rendah, dan atau penurunan kemampuan sosial dan bidang akademik (Sartika & Bajirani, 2. Lembaga sekolah berupaya melakukan berbagai usaha preventif terjadinya bullying misalnya: . perlu meniadakan jarak antara siswa baru dengan siswa lama melalui pengadaan kegiatan bersama/ beregu yang berkompetisi. pembentukan dewan pengawas untuk memantau sejauh mana bullying dapat dicegah. memanfaatkan fasilitas sekolah dan keterampilan siswa untuk menciptakan kreativitas, . memanfaatkan pelayanan bimbingan Jurnal Magistrorum Et Scholarium. Volume 05 Nomor 01. Agustus 2024, 99-108 konseling sebagai upaya proteksi dari perilaku bullying, . dan pembentukan dukungan teman sebaya . upport grou. sebagai program sekolah dalam mengatasi bullying (Simbolon. Otoritas sekolah juga dapat berperan dalam menumbuhkan iklim sekolah yang positif untuk mengurangi bullying (Borualogo et al. , 2. Seringnya kejadian bullying di sekolah memang sangat mengkhawatirkan, terutama bagi siswa yang menjadi korban perilaku bullying dari teman sekolahnya. Awalnya Sekolah merupakan tempat dimana para siswa dapat belajar dan mengembangkan potensi dan bakatnya, namun malah menjadi tempat kejahatan. Ketika berada di lingkungan sekolah, siswa merasa takut dan tidak aman. Rasa aman, nyaman, dan dicintai merupakan hal yang dibutuhkan siswa ketika berada di sekolah. Apabila hal ini hilang pada diri siswa maka menimbulkan perasaan cemas, takut, dan terancam ketika berada di lingkungan sekolah. Kegiatan Psikoedukasi ini merupakan bagian dari mata kuliah Psikologi Pendidikan yang dilaksanakan semester Genap tahun ajaran 2023/ 2024. Dari kelas dibentuk tim pengabdian masyarakat, dengan berkoordinasi dengan pihak sekolah melalui Guru BK, mengupayakan untuk usaha pencegahan terjadinya bullying di sekolah melalui kegiatan Kegiatan bimbingan klasikal dalam bentuk psikoedukasi dengan mengambil tema: AuCegah Bullying. Jaga Kesehatan MentalAy. Tim pengabdian masyarakat merancang kegiatan psikoedukasi kepada siswa dengan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Metode pembelajaran PBL adalah model pembelajaran yang dalam proses pembelajarannya siswa dihadapkan pada suatu permasalahan dunia nyata dan dilakukan saat pembelajaran dimulai sebagai stimulus sehingga dapat memicu siswa belajar dan bekerja keras dalam memecahkan permasalahan. Karakteristik Metode PBL yakni: . pembelajaran berorientasi pada suatu masalah, . siswa sebagai subjek dalam pembelajaran, . menciptakan pembelajaran yang interdisiplin, . pembahasan kasus terintegrasi pada pengalaman dunia nyata, memberi pengajaran pada siswa bahwa materi di kelas dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, . guru berperan sebagai fasilitator, dan . masalah yang dikaji dapat meningkatkan keterampilan problem solving siswa (Ardianti et al. , 2. Metode pembelajaran PBL dipilih dalam pelaksanaan psikoedukasi karena metode PBL dapat menjadi metode yang lebih efektif dan lebih membangkitkan motivasi belajar dibandingkan metode pembelajaran tradisional atau konvensional. Metode pembelajaran PBL juga terbukti efektif diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teori, dan metode pembelajaran berbasis problem (PBL) terbukti lebih efektif dibandingkan metode pembelajaran tradisional untuk pembelajaran teori (Supratiknya & Kristiyani, 1. Berdasarkan penjelasan permasalahan, maka kegiatan psikoedukasi ini akan fokus pada pencegahan permasalahan bullying yang terjadi di lingkungan sekolah, khususnya yang dialami oleh siswa SMP. Tujuan dilaksanakan kegiatan psikoedukasi pencegahan bullying adalah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang permasalahan bullying di sekolah dan bagaimana cara untuk mencegah terjadinya bullying di sekolah. Dan manfaat dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, interaksi sosial yang positif dan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif untuk belajar dan berkembang serta menumbuhkan rasa aman di kalangan siswa dan staf sekolah. Cegah Bullying. Jaga Kesehatan Mental: Psikoedukasi Siswa Dengan Metode Problem Based Learning (Adyatma Susilo Nugroho. Keisya Shaskia Dea Fanda. Samuel Miracle Wangko. Andre Novan Andika. Rafy Qurniawan Bayu Sudibyo. Doddy Hendro Wibowo. Hanik Setiarsi. METODE PELAKSANAAN Prosedur Perijinan dan Asesmen Kebutuhan SMP Negeri 2 Boyolali, yang terletak di Jalan Pandanaran 35 RT 3. Boyolali. Sekolah ini menjadi favorit dan kebanggaan masyarakat Boyolali. Kegiatan ini diawali dengan meminta perizinan terlebih dahulu kepada pihak sekolah SMP Negeri 2 Boyolali untuk melakukan kegiatan psikoedukasi. Setelah mendapatkan izin, mahasiswa praktikan menentukan hari dan jam wawancara dengan dengan salah satu Guru Bimbingan Konseling di SMP tersebut sebagai pengumpulan data awal dan pendukung kegiatan. Asesmen kebutuhan dilakukan melalui wawancara kepada Guru BK SMP Negeri 2 Boyolali sebagai narasumber. Narasumber menjelaskan bahwa di SMP Negeri 2 Boyolali sebagian besar siswa seringkali melakukan perilaku bullying dan terdapat kasus yang terjadi kepada salah satu siswa yang menjadi korban bullying sehingga siswa tersebut sampai melakukan perilaku selfharm. Berdasarkan hasil diskusi dengan Guru BK maka disepakati untuk topik layanan yang diangkat yaitu tentang pencegahan bullying. Hasil diskusi juga disepakati bahwa dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan dan kesesuaian materi, maka sesuai dari saran Guru BK, maka partisipan dipilih satu kelas yakni kelas Vi-B yang berjumlah 30 orang. Rancangan Pelaksanaan Layanan (RPL) dan rancangan modul disusun di hari yang disepakati yakni hari Rabu 19 Juni 2024. Dan pelaksanaan psikoedukasi di hari Jumat 21 Juni 2024. Secara lengkap, data disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Rancangan Pelaksanaan Layanan Indikator Keterangan Tempat SMP Negeri 2 Boyolali Topik Layanan Cegah Bullying. Jaga Kesehatan Mental Peserta Kelas Vi-B Jumlah Peserta 30 Siswa Tanggal Pelaksanaan 21 Juni 2024 Waktu Pelaksanaan 30 Ae 10. 30 WIB Prosedur Kegiatan Kegiatan ini dibagi tiga tahapan pelaksanaan yang meliputi tahapan awal atau pendahuluan, tahapan inti dan tahapan penutup. Tahapan disajikan secara lengkap dalam Tabel 2. Tabel 2. Tahapan Kegiatan Psikoedukasi Tahapan Kegiatan Tahap Awal atau Tujuan Rincian Kegiatan Menciptakan suasana 1. Menyampaikan salam Pembukaan, berdoa Jurnal Magistrorum Et Scholarium. Volume 05 Nomor 01. Agustus 2024, 99-108 Pendahuluan yang santai dan menjalin keakraban diantara siswa dan perkenalan Menyampaikan tujuan umum dan tujuan khusus kegiatan Melakukan absensi terhadap siswa Tahap Inti Meningkatkan pemahaman tentang materi bullying bagi Menyampaikan materi tentang bullying dengan menampilkan PPT Menayangkan video edukasi tentang Melakukan ice breaking yang bernama tepuk ganjil, ini gunanya sebagai melatih konsentrasi dan sebagai refreshing terhadap Membagi siswa menjadi 5 kelompok untuk melaksanakan metode Project Based Learning, di dalam satu kelompok berisi 6 siswa dan dibagikan masing-masing 1 topik studi kasus yang berbeda di tiap kelompok. Contoh kasus disajikan pada table 3. Melakukan presentasi studi kasus, di setiap masing-masing sekitar 1 atau 2 orang yang melakukan Melakukan LKPD mengerjakan evaluasi hasil dari kegiatan yang dilakukan secara individual Tahap Akhir atau Penutup Meningkatkan pemahaman tentang pencegahan bullying bagi siswa. Mahasiswa keseluruhan kegiatan yang telah dilakukan bahwa psikoedukasi yang bertemakan tentang bullying itu sangat penting bagi Berdoa dan melakukan salam penutup Sedangkan untuk contoh-contoh permasalahan dalam metode PBL yang disajikan kepada siswa sebagai bentuk diskusi adalah sebagai berikut: Tabel 3. Contoh permasalahan dalam metode PBL Kasus Studi Kasus 1 Studi Kasus 2 Studi Kasus 3 Studi Penjelasan Kasus AuJulukan Menyakitkan: Menghadapi Bullying Berbasis FisikAy Ali sering dipanggil AusumoAy oleh teman-temannya karena berat badannya diatas rata-rata. Bagaimana Ali harus merespons dan apa yang harus dilakukan teman-temannya? AuGosip Merusak: Menangani Fitnah dan RumorAy Rina mendengar teman sekelasnya. Sari, menyebarkan gosip bahwa Rina mencuri uang kas kelas. Bagaimana Rina harus menghadapi situasi ini dan apa langkah yang harus diambil oleh guru dan siswa AuEjekan Akademik: Mengatasi Bullying dalam Prestasi AkademikAy Budi sering diejek oleh teman-temannya sebagai Auotak udangAy karena nilainya selalu rendah. Bagaimana Budi bisa mengatasi ejekan ini dan apa peran teman-teman dan guru dalam situasi ini? AuBullying Online: Menavigasi Dunia Digital dengan AmanAy Cegah Bullying. Jaga Kesehatan Mental: Psikoedukasi Siswa Dengan Metode Problem Based Learning (Adyatma Susilo Nugroho. Keisya Shaskia Dea Fanda. Samuel Miracle Wangko. Andre Novan Andika. Rafy Qurniawan Bayu Sudibyo. Doddy Hendro Wibowo. Hanik Setiarsi. Kasus 4 Studi Kasus 5 Tina menerima pesan kasar dan menghina di media sosial dari akun Bagaimana Tina harus menangani situasi ini dan apa yang bisa dilakukan sekolah untuk membantu? AuDiskriminasi Sosial: Menghargai Keberagaman Sosial EkonomiAy Joko sering diejek oleh teman-temannya karena dia berasal dari keluarga kurang mampu. Bagaimana Joko bisa merespons ejekan ini dan apa yang bisa dilakukan sekolah dan teman-temannya untuk HASIL DAN PEMBAHASAN Psikoedukasi "Cegah Bullying. Jaga Kesehatan Mental" telah sukses dilaksanakan di SMP Negeri 2 Boyolali pada tanggal 21 Juni 2024. Kegiatan ini diikuti oleh 26 siswa kelas Vi-B dan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang bullying dan cara Tim Pengabdian Masyarakat menggunakan berbagai metode untuk menyampaikan materi, seperti ceramah, video edukasi, ice breaking, problem based learning, dan LKPD. Siswa menunjukkan antusiasme dan keaktifan dalam mengikuti kegiatan, dan hasil evaluasi menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bullying setelah mengikuti psikoedukasi. Kegiatan ini bermanfaat bagi peserta didik untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional mereka, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, dan membangun interaksi sosial yang positif. Berdasarkan evaluasi reaksi siswa, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa telah menilai materi yang disajikan dalam pelatihan ini telah sesuai kebutuhan siswa, disampaikan dengan jelas, dan menggunakan metode yang menarik. Gambar 2. Kegiatan Penyampaian Materi Kegiatan psikoedukasi diawali dengan melakukan pembukaan terlebih dahulu kepada siswa sebagai bentuk perkenalan dan pendekatan sehingga rapport dapat terjalin dengan baik. Setelah melakukan perkenalan, satu persatu anggota tim pengabdi menjelaskan materi tentang bullying sesuai dengan tugas dan bagiannya. Di saat kelompok menjelaskan, siswa mendengarkan dengan baik bahkan banyak juga siswa yang aktif untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari kelompok. Saat memberikan materi, kelompok juga berinteraksi dengan siswa bertujuan agar suasana lebih santai tetapi tetap serius mengenai Setelah memaparkan materi, kelompok menampilkan sebuah video pendek mengenai bullying. Di dalam video itu terdapat contoh perilaku bullying dan cara mengatasinya sehingga siswa bisa mendapat pelajaran yang bisa diambil. Jurnal Magistrorum Et Scholarium. Volume 05 Nomor 01. Agustus 2024, 99-108 Gambar 3. Diskusi siswa dengan Metode PBL Setelah melihat video, siswa dibagi menjadi 5 kelompok yang berisikan 6 orang per Setelah pembagian kelompok, setiap kelompok diberi satu studi kasus dan siswa diberi arahan agar dapat memberikan solusi untuk kasus tersebut. Pada sesi ini merupakan tahapan dimana siswa belajar dari kasus yang diberikan (Problem Based Learnin. Siswa di dalam kelompok dihantarkan terlebih dahulu oleh fasilitator kelompok sehingga dapat membaca dan memahami kasus yang disajikan tiap kelompok. Setelah diberi waktu untuk berdiskusi, salah satu siswa tiap kelompok maju untuk membacakan hasil diskusi mereka. Rerata Nilai Penilaian Reaksi 3,75 3,65 3,55 3,45 3,35 3,75 3,642857143 3,678571429 Saya merasa senang menerima materi tentang pencegahan bullying Setelah menerima materi, timbul kesadaran akan pentingnya pencegahan bullying Setelah menerima materi, saya memiliki kesadaran untuk mencegah perilaku bullying Materi menyadarkan saya untuk mengingat dan mengimplementasikan pencegahan bullying Gambar 4. Rerata nilai penilaian reaksi Mengacu kepada evaluasi kegiatan pelatihan menurut Kirkpatrick (Smidt et al. , 2. maka tahapan evaluasi mengacu pada 4 tahapan yakni: . Tahap reaksi. Tahap belajar. Tahap perilaku. Tahap dampak. Dari hasil kegiatan psikoedukasi yang telah dilakukan, ada 2 tahapan yang dinilai oleh tim pengabdian yakni tahap reaksi dan tahap Tahap reaksi berisi tentang bagaimana gambaran kepuasan peserta terhadap kegiatan pelatihan yang dilakukan. Berdasarkan hasil instrumen penilaian bimbingan klasikal, menunjukkan reaksi siswa yakni: sangat bermanfaat dan mengedukasi, materi menarik dan Cegah Bullying. Jaga Kesehatan Mental: Psikoedukasi Siswa Dengan Metode Problem Based Learning (Adyatma Susilo Nugroho. Keisya Shaskia Dea Fanda. Samuel Miracle Wangko. Andre Novan Andika. Rafy Qurniawan Bayu Sudibyo. Doddy Hendro Wibowo. Hanik Setiarsi. meningkatkan kesadaran tentang bullying, materi bermanfaat dan sesuai dengan situasi di sekolah, dan siswa berharap diwaktu selanjutnya dapat dilakukan kegiatan psikoedukasi dengan tema yang berbeda. Hasil rerata nilai penilaian hasil yang ditunjukkan pada gambar 4, dengan rentang nilai rendah . Ae nilai tinggi . , juga menunjukkan adanya rerata nilai yang tinggi pada pernyataan bahwa siswa senang menerima materi tentang pencegahan bullying . erata nilai 3,. materi menyadarkan siswa untuk mengingat dan mengimplementasikan pencegahan bullying . erata nilai 3,. setelah menerima materi, siswa memiliki kesadaran akan pentingnya pencegahan bullying . erata nilai 3,. setelah menerima materi muncul kesadaran siswa dalam pencegahan bullying . erata nilai 3,. Hasil Penilaian LKPD Nilai A B C D E F G H L M N O P Q R S T U V W X Y Z AA AB AC AD Siswa Gambar 5. Hasil Penilaian Lembar Kerja Peserta Didik Sementara itu, evaluasi hasil belajar, dengan rentang nilai rendah (Skor . Ae nilai tinggi (Skor . menunjukkan sebagian besar siswa mendapatkan nilai tinggi dengan rerata nilai . 14,3. Evaluasi belajar yang dilakukan melalui lembar kerja peserta didik (LKPD) merupakan evaluasi yang diberikan setelah dilakukan pemberian materi. LKPD disusun berdasarkan materi tentang bullying yang sudah disampaikan, dengan demikian maka dapat diambil kesimpulan bahwa siswa memiliki pemahaman tentang materi yang telah Secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa proses kegiatan psikoedukasi bagi siswa dengan temaAuCegah Bullying. Jaga Kesehatan MentalAy berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan, permasalahan dapat terselesaikan dan tujuan kegiatan dapat tercapai. Implikasi hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan siswa dapat menerapkan cara dan strategi pencegahan masalah bullying di sekolah sehingga di lingkungan sekolah dapat tercipta kesehatan mental bagi siswa, kondisi belajar yang mendukung antara guru dan siswa, dan relasi sosial antar siswa yang positif dan saling mendukung. Tim Pengabdian Masyarakat menyadari bahwa kelemahan kegiatan ini adalah lemahnya kontrol untuk melihat adanya perubahan perilaku dan dampak sesuai dengan evaluasi kegiatan dari teori Kirkpatrick (Smidt et al. , 2. Maka untuk menyelesaikan Jurnal Magistrorum Et Scholarium. Volume 05 Nomor 01. Agustus 2024, 99-108 kelemahan tersebut diharapkan dari pihak sekolah dan orang tua untuk aktif mendampingi siswa sehingga materi dan hasil kegiatan psikoedukasi yang telah dilakukan dapat dilaksanakan oleh siswa di masa depan. SIMPULAN Pelaksanaan kegiatan psikoedukasi dengan tema: AuCegah Bullying. Jaga Kesehatan MentalAy telah dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Metode pembelajaran problem based learning yang digunakan dapat memfasilitasi siswa untuk mengenal dan memiliki kesadaran tentang contoh permasalahan bullying yang terjadi. Siswa juga merasa senang dan mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan psikoedukasi serta dapat belajar dan harapannya dapat mengimplementasikan pencegahan bullying di sekolah. Saran yang diajukan berdasarkan evaluasi kegiatan yakni kegiatan bimbingan klasikal berupa psikoedukasi hendaknya dapat dilakukan dengan berbagai macam topik pengembangan diri secara rutin berbasis pada kebutuhan siswa, sehingga pengetahuan baru yang diperoleh siswa dapat digunakan sebagai wujud usaha preventif sebelum terjadi permasalahan pada siswa di Sekolah. UCAPAN TERIMA KASIH Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Psikologi UKSW Salatiga mengucapkan terima kasih atas dukungan pihak Sekolah yakni SMP Negeri II Boyolali, terkhusus kepada pihak Kepala Sekolah. Bapak Suroto. Pd. Pd. dan Guru Bimbingan dan Konseling (BK). Ibu Hanik Setiarsih. Pd. yang telah memberikan ijin dan diskusi sehingga pelaksanaan kegiatan psikoedukasi dapat berjalan sesuai rencana. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Seluruh siswa kelas Vi-B yang terlibat secara langsung dalam kegiatan Psikoedukasi dan semoga apa yang dipelajari dapat bermanfaat di waktu selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA