INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA PADA RELIGIO-SOSIAL MASYARAKAT Zaini Fasya Dosen Tetap Prodi S2 PAI Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Email: zainifasya045@gmail. Eka Yuliana Nurohmah Mahasiswa Prodi S2 PAI Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Email: ekayuliananurohmah@gmail. Abstract Nowadays, religious activities have become the center of education in society. Massive religious activities are an indication that interest in studying and exploring Islamic teachings in society is increasing. So that religious activities can become a forum for instilling Islamic educational values. The aim of this research is to describe the process of internalizing the values of Islamic education in society and its implications for the religio-social society. This research uses a qualitative approach with descriptive research type. Data was obtained through observation, interviews and documentation. Then it is analyzed through data reduction, data presentation, and drawing conclusions . The results of this research show that Internalization consists of three stages. First, the value transformation stage which includes the receiving process. Second, value transactions contain responding and valuing processes. Third, transinternalization of values includes organizing and characterization processes which have implications for the religiosocial conditions of society. The implications of internalizing the value of Islamic education on the religio-social community are realized by . increasing community religiosity. the emergence of an attitude of caution in worship, muamalah, and behavior in . the formation of a calm, peaceful and peaceful atmosphere of life in society. 17 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 Keywords: Internalization. Islamic Education. Religio-social. Society Abstrak Dewasa ini, kegiatan keagamaan menjadi central of education di Masifnya kegiatan keagamaan menjadi indikasi bahwa minat mempelajari dan mendalami ajaran Islam dimasyarakat semakin meningkat. Sehingga kegiatan keagamaan dapat menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskriikan proses internaliasasi nilainilai pendidikan Islam pada masyararat dan implikasinya terhadap religio-sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian dianalanisis dengan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Internalisasi yang terdiri dari tiga tahapan. Pertama, tahap transformasi nilai yang memuat proses receiving. Kedua, transaksi nilai memuat proses responding dan valuing. Kegtiga, transinternalisasi nilai memuat proses organizating dan characterization yang berimplikasi terhadap kondisi religio-sosial Implikasi internalisasi nilai pendidikan Islam terhadap religio-sosial masyarakat diwujudkan dengan . meningkatnya religiusitas masyakat. munculnya sikap kehati-hatian dalam beribadah, bermuamalah, dan bertingkah laku dimasyarakat. terbentuknya atmosfer kehidupan yang tenang, tentram dan damai di Kata Kunci: Internalisasi. Pendidikan Islam. Religio-sosial. Masyarakat PENDAHULUAN Dewasa ini, minat mempelajari Islam di masyarakat cenderung mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan majelis taklim di masyarakat yang cenderung mengalami peningkatan baik dari segi 18 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 kuantitas maupun kualitas. 1 Kegiatan keagamaan masyarakat yang menjadi central education untuk memperdalam ajaran Islam ini, sekaligus wadah untuk menumbuhkan jiwa sosial melalui majelis taklim, jamaah yasinan, dibaAoan, barzanzi, manakib, hingga madrasah atau TPQ. 2 Namun, peningkatan minat mendalami Islam tersebut dibarengi dengan seglintir problematika masyarakat diantaranya adanya rasa malu untuk belajar Islam dikarenakan berbagai macam faktor seperti rasa malu, sungkan, dan canggung untuk memulai belajar perihal islam. Maka, disinilah peran kegiatan keagamaan Islam di masyarakat dimunculkan sebagai upaya atau inovasi yang dikembangkan untuk mempermudah masyarakat untuk mendapatkan asupan keilmuan perihal ilmu keislaman. Salah satu kegiatan keislaman yang lazim dilakukan di masyakat adalah yasinan. Yasinan merupakan tradisi masyarakat yang difungsikan sebagai tempat untuk menyiarkan ajaran Islam dengan jalan mengajak masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melalui kegiatan membaca Al-QurAoan, khususnya membaca QS. Yasiin. 3 Kegiatan yasinan yang pada nyatanya tidak hanya dijadikan sarana untuk mendoakan leluhur, menjadi tempat untuk belajar dan menimba ilmu khususnya berkaitan dengan ilmu pendidikan agama Islam. Melainkan juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam pada masyakarat. Walaupun pada realitanya penginternalisasian nilai tersebut belum efektif dan maksimal. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik mengkaji lebih dalam bagaimana proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam melalui Ahmad Sarbini. AuInternalisasi Nilai Keislaman Melalui Majelis Taklim,Ay Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies 5, no. 16 (September 4, 2. : 53Ae70, https://doi. org/10. 15575/idajhs. Andika. AuInternalisasi Jiwa Sosial Masyarakat Bagi Generasi Milenial Melalui Nilai-Nilai Al-QurAoan,Ay Januari-Juni, 2, no. 1 (June 2. : 99Ae116, https://doi. org/DOI: 18592/jiiu. Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin. Vol. 21, no 1 (Januari-Juni, 2. DOI: 10. 18592/jiiu. Supriadi Supriadi. Amrazi Zakso, and Edwin Mirzachaerulsyah. AuTradisi Religi Dalam Ritual Yasinan-Tahlilan Sebagai Upaya Pelestarian Kearifan Lokal Masyarakat Sukamulia Kota Pontianak,Ay Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistuwa 10, no. : 1Ae9, https://dx. org/10. 26418/jppk. Sarbini. AuInternalisasi Nilai Keislaman A, hlm. 19 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 kegiatan yasinan yang terjadi dimasyarakat beserta implikasinya terhadap religio-sosial masyarakat. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti akan menjelaskan secara terperinci perolehan data yang dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara, observasi partisipan, dan dokumentasi. Lokasi penelitian adalah di Desa Dayu. Kecamatan Nglegok. Kabupaten Blitar. Data dianalisis berdasarkan analisis interaktif sebagaimana teori Milles dan Hubbermen yang terdiri dari tiga tahapan yang saling yaitu reduksi data, penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan . rawing conclusion/verificatio. PEMBAHASAN Konsep Internalisasi Internalisasi merupakan upaya menghadirkan sesuatu atau nilai yang pada mulanya berasal dari luar diri menjadi miliknya baik bagi seseorang atau lembaga. Internalisasi nilai dimaknai sebagai pengakuan adamya nilai-nilai eksternal diri yang dipandang perlu untuk dimiliki 6 Selaras dengan hal tersebut Safei memaparkan bahwa internalisasi adalah proses penanaman nilai-nilai positif secara terus menerus dan berkesinambungan ke dalam diri seseorang supaya nilainilai tersebut menjadi cermin dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Sederhananya, inti dari internalisasi ada dua hal yaitu pertama, proses transfer sesuatu yang baru, dari luar diri ke dalam diri seseorang. Kedua, proses penguatan sesuatu yang sudah ada dalam diri seseorang sehingga terbangun kesadaran dalam dirinya perihal sesuatu yang sangat berharga. Sedangkan menurut Tafsir internalisasi merupakan upaya memasukkan pengetahuan . dan keterampilan melaksanakan Agus Zaenul Fitri and Nik Haryanti. Metodologi Penelitian Pendidikan (Malang: Madani Media, cet. 1, 2. , hlm. Kama Abdul Hakam and Encep Syarief Nurdin. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Untuk Memodifikasi Perilaku Berkarakter (Bandung: CV. Maulana Media Grafika, cet. , hlm. Abdullah Saefani. Al-QurAoan Menjelaskan Gagasan Atomic Habits (Jakarta: Publica Indonesia Utama, cet. 1, 2. , hlm. 20 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 . ke dalam diri pribadi seseorang. Hal ini menurut Tafsir juga disebut sebagai personalisasi. Karena upaya tersebut berusaha untuk menjadikan pengetahuan dan keterampilan menyatu dengan pribadi seseorang . Berdasarkan pemaparan definisi tersebut dapat dimaknai bahwa internalisasi merupakan upaya yang didalamnya memuat proses penanaman pengetahuan . dan nilai-nilai positif ke dalam diri seseorang sekaligus menanamkan keterampilan melaksanakan . terhadap suatu nilai, sehingga berimplikasi pada tumbuhnya habit yang menjadi kebiasaan . Dimensi-Dimensi Internalisasi Internalisasi merupakan sebuah proses yang terdiri dari tiga dimensi tahapan. Pertama, transformasi nilai merupakan tahap yang memuat proses penginformasian nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Tahap ini terjadi komunikasi verbal searah antara pelatih dan peserta yang dilatih. 9 Sehingga dapat dipahami bahwa dalam tahap transformasi nilai ini hanya terjadi pemindahan pengetahuan . ransformation of knowledg. tentang nilai baik dan buruk yang berasal dari eksternal diri Nilai yang dijelaskan hanya sebatas mengakomodir ranah kognitif atau pengetahuan seseorang, sehingga nilai tersebut akan sangat mudah untuk hilang dan terlupakan sebab batasan yang dipatok adalah Kedua, transaksi nilai merupakan proses peninternalisasian nilai yang memuat proses komunikasi verbal dua arah oleh pelatih dan peserta yang dilatih, dimana proses ini memunculkan hubungan timbal baik diantara keduanya. 10 Artinya bahwa, dalam tahap ini terjadi persetujuan nilai . ransaction of value. sehingga hal ini memungkinkan timbulnya penerimaan terhadap nilai yang disampaikan. Pada tahap ini pelatih dapat mempengaruhi nilai peserta yang dilatih melalui pemberian contoh Ahmad Tafsir. Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, cet. 2, 2. , hlm Hakam and Nurdin. Metode Internalisasi Nilai-Nilai A, hlm. Ibid. , hlm. 21 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 . teehadap nilai yang ingin diinternalisasikan. Pemberian contoh tersebut akan berimplikasi pada pencocokan nilai dalam diri peserta yang dilatih sehingga akan memunculkan penerimaan dan pesetujuan terhadap nilai yang di contohkan. Ketiga, penginternalisasian nilai yang tersusun dari komunikasi verbal dan komunikasi kepribadian yang ditampilkan oleh pelatih melalui keteladanan, pengkondisian, dan pembiasaan untuk berperilaku sesuai dengan nilai yang diharapkan. 11 Artinya bahwa, pada tahap ini peserta yang dilatih tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang nilai yang benar dan salah, melainkan juga diberikan contoh . serta diberikan gambaran implementasi nilai yang diwujudkan dengan memberikan keteladanan, pengkondisian, dan pembiasaan. Sehingga secara tidak langsung hal ini akan berimplikasi pada terbentuknya kepribadian yang baik . ood attitud. , sebab tersusun dari kebiasaan baik . ositive habi. yang sesuai dengan nilai yang diinternalisasikan. Proses Pembentukan Nilai Nilai dalam diri manusia terbentuk dengan melalui beberapa Teori Krathwohl menyatakan bahwa terdapat 5 tahapan pembentukan nilai diantaranya yaitu sebagai berikut. Gambar 1. 1 Proses pembentukan nilai Ibid. , hlm. Niken Ristianah. AuInternalisasi Nilai-Nilai Keislaman Perspektif Sosial Kemasyarakatan,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 1 (March 2. : 1Ae13. 22 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 Tahap receiving. Pada tahap ini seseorang akan menerima stimulus dan dihadapkan dengan berbagai fenomena yang mengharuskan dirinya untuk selektif dalam menghadapinya. Tahap responding. Pada tahap ini seseorang mulai menerima dan menanggapi stimulus dari luar yang telah diberikan. Tahap valuing. Tahap valuing atau memberi nilai. Ini berarti seseorang pada tahap ini sudah mampu menangkap stimulus nilai yang telah Sehingga akan menimbulkan sikap percaya terhadap nilai yang di terima, merasa terikat dengan nilai yang dipercayainya, dan memiliki komitmen untuk memperjuangkan nilai yang didapatkan dan Tahap organizing atau mengorganisasikan nilai. Pada tahap ini seseorang sudah mulai menkonsepsikan nilai dalam dirinya, mengorganisasikan cara hidup dan tata perilakunya atas dasar nilai yang sudah diyakininya. Tahap characterization atau karakterisasi nilai. Pada tahap ini terjadi proses pemelekatan nilai terhadap jiwa seseorang. Hal ini ditandai dengan munculnya keajekan atau konsistensi seseorang dalam memegang dan menerapkan nilai yang diyakininya. Nilai Ae Nilai Pendidikan Islam Pendidikan merupakan suatu proses atau usaha untuk menumbuhkan nilai peradaban individu dan masyarakat dari keadaan sebelumnya menjadi keadan yang lebih baik. 14 Pendidikan Islam menurut Mujib dan Mudzakkir didefinisikan sebagai proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan Ristianah. Zaini Fasya and Nihayah Chusnatun. AuInisiasi Pendidik Dalam Membentuk Karakter Anak Generasi Z,Ay Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 14, no. 2 (September 2. : 43, http://ejournal. id/mataraman/index. php/ifkar/article/view/4298. 23 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 potensi-potensi manusia, guna untuk mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. Nilai-nilai pendidikan Islam tersusun dari nilai normative ajaran islam yang bersumber pada Al-QurAoan. Al-QurAoan memuat nilai normative yang menjadi acuan dalam mengkontruk pendidikan Islam. Nilai yang dimaksud terdiri atas tiga pilar utama, yaitu: iAotiqadiyyah, khuluqiyyah dan Aoamaliyah. Nilai iAotiqadiyyah merupakan nilai normative pendidikan Islam yang berkaitan dengan pendidikan keimanan. Sebagaimana pengimanan terhadap enam rukun iman yang terdiri dari iman kepada Allah, malaikat, kitab suci, rasul Allah, hari kiamat dan qadaAo qadar. Nilai khuluqiyyah merupakan nilai normative pendidikan islam yang berkaitan dengan pendidikan etika, yang ditujukan untuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi diri dengan perilaku yang baik dan terpuji. Nilai Aoamaliyah merupakan nilai normative pendidikan Islam yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari. Cakupan pendidikan tingkah laku ini terdiri dari pendidikan ibadah, muamalah, janaAoiyyah, murafaAoat, dusturiyah, duwaliyah dan iqtishadiyah. Internalisasi Nilai Ae Nilai Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Yasinan Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam dilakukan melalui kegiatan keagamaan yang ada di masyarakat, khususnya pada kegiatan yasinan. Yasinan merupakan serangkaian agenda keagamaan yang terdiri dari proses pembacaan surah yasin, tahlil, dan doa. Menariknya, kegiatan yasinan di desa penulis ini ditambah dengan kegiatan pengajian. Kajian yang dibahas yaitu perihal kajian keislaman umumnya, seputar fiqih ibadah dan fiqh wanita pada khususnya yang notabene sangat dekat Abdul Mujib and Jusuf Mudzakkir. Ilmu Pendidikan Islam. Edisi Pertama. Cetakan ke-5 (Jakarta: Kencana, 2. , 28. Ibid. , hlm. Ibid. , hlm. Ibid. , hlm. 24 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 dengan kehidupan sehari-hari. Proses internalisasi nilai pendidikan Islam dilakukan dengan melalui tiga tahapan diantaranya sebagai berikut. Pertama, transformasi nilai. Pada tahap ini ustadzah hanya menyampaikan nilai nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam yang terdiri dari tiga pilar utama yaitu iAotiqdiyyah . , khuluqiyyah . dan Aoamaliyah . Transformasi nilai ini dapat disebut sebagai proses pemindahan pengetahuan . ransfer of knowledg. yang dari ustadzah kepada jamaah melalui pengajian yang tercover dalam kegiatan Tahap ini memuat proses penanaman nilai yang menurut teori Krathwohl disebut dengan tahap receiving . Artinya, para jamaah mulai menyimak dan mendapatkan stimulus berupa pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran Islam. Sehingga dapat dipahami kegiatan tersebut berimplikasi pada pengetahuan jamaah perihal ajaran Islam yang semakin bertambah. Kedua, transaksi nilai. Nilai yang internalisasikan ustadzah pada jamaah diantaranya bagaimana cara untuk meningkatkan keimanan . Aotiqadiya. , cara beretika yang baik . serta cara beribadah yang baik dan benar sesuai yang di ajarkan Rasulullah . Pada tahap ini proses komunikasi dua arah sudah terjadi. Hal ini diwujudkan dengan upaya ustadzah membuka diskusi dan tanya jawab seputar ajaran Islam dengan jamaah. Proses penanaman nilai yang termuat pada tahap ini adalah proses responding dan valuing. Proses ini bermuara pada penerimaan pengetahuan yang disampaikan ustadzah oleh para jamaah. Jamaah menjadi tahu, paham, dan menerima pengetahuan yang diajarkan sehingga muncullah penerimaan dalam diri serta kesadaran untuk melaksanakan ajaran Islam. Wujud nyata dari proses transaksi nilai adalah kesadaran jamaah untuk berhimmah, beribadah, dan bertingkah sesuai dengan ajaran Islam. Ketiga, transinternalisasi nilai. Pada tahap ini ustadzah tidak hanya memberikan pengetahuan berkaitan dengan nilai iAotiqdiyah, khuluqiyah, dan Aoamaliyah saja. Melainkan juga memberikan keteladanan atau contoh secara langsung implementasi dari pengetahuan yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Proses internalisasi nilai yang terjadi pada tahap 25 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 ini berupa organizing dan characterization. Artinya bahwa jamaah sudah mulai melakukan pengorganisasian nilai beserta implementasinya dalam kehidupannya, sehingga bermuara pada pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam yang diketahui, diyakini, dihayati dan Pada aspek iAotiqadiyah, transinternalisasi nilai diwujudkan dengan cara utadzah memberikan keteladanan dalam bentuk kekhusyukkan membaca dan menghayati bacaan QS. Yasin Secara implisit dapat diketahuii bahwa sejatinya melalui membaca dan menghayati bacaan ini tentu mengingatkan pembaca pada Allah. Dalam aspek khuluqiyyah, ustadzah memberikan pengetahuan sekaligus memberikan keteladan serta melakukan pembiasaan dalam kegiatan yasinan dan pengajian berupa implementasi etika makan, etika bersalaman, etika menghormati orang lain. Sedangkan dalam aspek Aoamaliyah, ustadzah ini melakukan pembiasaan dengan melaksanakan pengajian yang merupakan sarana untuk memperbaiki kualitas ibadah dan muamalah kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ranah ibadah, jamaah dibiasakan untuk mengikuti rutinan pembacaan yasin dan tahlil. Adapun dalam bermuamalah, jamaah dibiasakan untuk melakukan transaksi arisan dengan cara yang baik. Berdasarkan pemaparan hasil diatas dapat dipahami bahwa internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam yang terdiri dari penanaman nilai iAotiqadiyyah, khuluqiyyah dan Aoamaliyah dilakukan melalui tiga tahapan yang berkesinambungan mulai dari transformasi nilai berlanjut transaksi nilai sehingga terjadilah transinternalisasi nilai. Implikasi Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Terhadap Religiososial Masyarakat Proses penanaam nilai pendidikan islam yang terinternalisasi melalui kegiatan yasinan ini berimplikasi terhadap sikap keagamaan masyarakat. Secara umum, masyarakat yang awam terhadap ajaran dan pembelajaran Islam berangsur-angsur mengalami peningkatan dalam aspek religiososialnya baik dari segi ibadah ataupun muamalah. Setidaknya ada tiga poin yang merupakan dampak internalisasi nilai pendidikan Islam terhadap kondisi religio-sosial masyarakat. 26 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 Pertama, sikap religiusitas masyarakat meningkat. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya beribadah sesuai dengan tuntunan Islam. Rutinnya kegiatan yasinan sebagai sarana menambah pengetahuan tentang kajian keislaman yang menjadi dasar dalam beribadah. Penyampaian pengajian dalam yasinan menjadi wadah yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kepahaman masyarakat akan pentingnya ibadah sesuai tuntunan. Kegiatan tersebut juga menjadi salah satu indikator yang menunjukkan bahwa penanaman nilai pendidikan Islam mencapai tahap characterization atau karakterisasi nilai. Artinya bahwa konsistensi masyarakat dalam menjalakan kegiatan yasinan sudah mencapai tahap mapan, ajek dan konsisten. Sehingga nilai-nilai pendidikan Islam dapat diterapkan dalam segala lini kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai berdampak pada aspek religiusitas masyakarat. Kedua, masyakarat lebih berhati-hati dalam tindak tanduk dan bersikap dalam kehidupan sosial. Pengetahuan tentang nilai iAotiqodiyah, khuluqiyah dan Aoamaliyah yang diinternalisasi melalui kegiatan yasinan ini memberikan dampak pada kehati-hatian dalam beribadah dan Artinya bahwa ibadah dijalankan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan disandarkan pada keilmuan yang telah diperoleh dari kegiatan pengajian. Begitu pula pada aspek muamalah. Masyarakat semakin sadar dan menyadari bagaimana cara bertingkah laku dan beretika yang baik dan benar sesuai dengan ajaran islam. Hal ini menjadi salah satu indikator keberhasilan penanaman nilai yang telah mencapai tahap tertinggi yaitu characterization yang sudah mencapai tahap being. Ketiga, internalisasi nilai pendidikan Islam terhadap aspek religiososial masyarakat tentu berdampak pada munculnya tenangan, ketentraman dan kedamaian hidup dimasyarakat. Sehingga konflik laten, konflik mencuat, ataupun konflik terbuka dapat dihindarkan. PENUTUP Nilai ajaran Islam yang menjadi dasar dalam beribadah, bermuamalah, dan bertingkah laku di masyarakat ini menjadi indikator nilai pendidikan Islam terinternalisasi dengan baik melalui kegiatan keagamaan 27 AL-IFKAR. Volume XX. Nomor 02. September 2023: 2337 8573 di masyarakat. Internalisasi yang terdiri dari tahap transformasi nilai yang memuat proses receiving, transaksi nilai memuat proses responding dan valuing, dan transinternalisasi nilai memuat proses organizating dan characterization yang berimplikasi terhadap kondisi religio-sosial masyarakat diwujudkan dengan . meningkatnya sikap religiusitas . munculnya sikap kehati-hatian dalam beribadah. terbentuknya atmosfer masyarakat yang tenangan, tentram dan damai. Maka dari itu, internalisasi nilai normatif pendidikan dalam sendi kehidupan sangat perlu digiatkan. Supaya kualitas religio-sosial masyarakat semakin DAFTAR PUSTAKA