JEKPEND Jurnal Ekonomi dan Pendidikan Volume 9 Nomor 2 Bulan Juli 2026 Hal. p-ISSN: 2614-2139. e-IS SN: 2614-1973. Ananta Maulida. Utomo. Peningkatan Kreativitas Seni Rupa SiswaA| 47 Homepage:http://ojs. id/JEKPEND Peningkatan Kreativitas Seni Rupa Siswa Melalui Pengelolaan Kelas Berbasis Project Based Learning Ananta Maulida1. Utomo2 . Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Nusa Putra Email: ananta. maulida_sd22@nusaputra. utomo@nusaputra. Publish: 13 Juli 2026 Abstract. This study aims to describe the level of student creativity in art learning through ProjectBased Learning (PjBL) classroom management in the fourth grade of Citamiang Public Elementary School, including the classroom management conditions and the implementation of PjBL itself. descriptive quantitative approach was used with 30 fourth-grade students from a single class at one elementary school as subjects, selected through saturated sampling. findings should therefore be interpreted within this limited scope. Instruments included observation sheets, a validated and reliable Likert-scale creativity questionnaire (Cronbach's Alpha = 0. , and interview guidelines. Data were analyzed descriptively using percentage calculations and score interval categorization. Results showed that classroom management prior to PjBL was suboptimal, marked by a less conducive environment and theory-heavy learning. PjBL-based classroom management, implemented through six systematic stages, successfully created a conducive learning atmosphere and active student involvement. After implementation, 53. 33% of students were in the very high creativity category and 40% in the high category, with an average score of 64. The study concludes that PjBL-based classroom management is associated with a high to very high level of student creativity in art learning in the fourth grade at Citamiang Public Elementary School. Keywords: student creativity. art education. classroom management. project based learning Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kreativitas siswa pada pembelajaran seni rupa setelah implementasi pengelolaan kelas berbasis Project Based Learning (PjBL) di kelas IV SD Negeri Citamiang, termasuk kondisi pengelolaan kelas dan implementasi PjBL itu sendiri. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan 30 siswa kelas IV dari satu kelas di satu sekolah dasar sebagai subjek, menggunakan teknik sampling jenuh. karena itu temuan penelitian perlu dimaknai dalam lingkup terbatas tersebut. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, angket kreativitas skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach's Alpha = 0,. , dan pedoman wawancara. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dengan perhitungan persentase dan kategorisasi interval skor. Hasil penelitian menunjukkan kondisi pengelolaan kelas sebelum implementasi PjBL masih kurang optimal, ditandai kondisi kelas kurang kondusif dan pembelajaran yang bersifat teoretis. Implementasi pengelolaan kelas berbasis PjBL dilaksanakan melalui enam tahapan sistematis yang berhasil menciptakan suasana belajar kondusif dan keterlibatan aktif siswa. Setelah implementasi, sebanyak 53,33% siswa berada pada kategori kreativitas sangat tinggi dan 40% pada kategori tinggi, dengan rata-rata skor 64,3. Kesimpulan penelitian ini yaitu pengelolaan kelas berbasis PjBL berkaitan dengan tingkat kreativitas seni rupa siswa yang tinggi hingga sangat tinggi di kelas IV SD Negeri Citamiang. Kata Kunci: kreativitas siswa. pembelajaran seni rupa. pengelolaan kelas. project based learning PENDAHULUAN Kreativitas merupakan salah satu potensi yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, karena memungkinkan siswa untuk berpikir secara mengekspresikan gagasan dan imajinasinya (Undang-Undang No. 20 Tahun 2. Pembelajaran seni rupa di sekolah dasar menempatkan kreativitas sebagai kemampuan DOI:10. 26858/jekpend. siswa dalam mengembangkan ide visual, mengolah unsur seni seperti garis, bentuk, warna, dan tekstur, serta menuangkannya ke dalam karya yang orisinal dan bermakna (Karyadi, 2. Namun, pada kenyataannya pembelajaran seni rupa di sekolah dasar masih menghadapi permasalahan serius terkait pengelolaan kelas yang belum optimal. Berdasarkan observasi awal di kelas IV SD Negeri Citamiang. Kecamatan Kadudampit. Kabupaten Ananta Maulida. Utomo. Peningkatan Kreativitas Seni Rupa SiswaA| 48 Sukabumi, ditemukan bahwa kondisi kelas sering kurang kondusif, ditandai rendahnya perhatian siswa dan kurangnya keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, pembelajaran seni rupa lebih sering berfokus pada penyampaian materi secara teoretis, sementara kegiatan praktik masih jarang dilakukan, sehingga kesempatan siswa untuk terlibat langsung dalam proses berkarya menjadi terbatas dan kreativitas siswa belum berkembang secara optimal. Kondisi tersebut menuntut adanya solusi konkret melalui pemilihan model pembelajaran yang tepat. Pengelolaan kelas yang efektif bukan sekadar mengatur tempat duduk atau menjaga ketertiban, melainkan menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan setiap tahapan proyek terlaksana secara optimal (Mustakim et al. Berdasarkan teori pengelolaan kelas (Zahroh, 2. , pengelolaan kelas merupakan upaya guru dalam mengkondisikan kelas dengan mengoptimalkan segala sumber yang ada, baik sumber daya manusia maupun lingkungan belajar, agar tujuan pembelajaran dapat terlaksana secara Oleh karena itu, peneliti memandang perlu adanya implementasi model pembelajaran inovatif yang mampu menciptakan suasana belajar kondusif sekaligus mendorong kreativitas siswa berkembang secara optimal dalam pembelajaran seni rupa. Sejumlah penelitian terdahulu telah membuktikan efektivitas Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan kreativitas siswa. Salim et al. mengemukakan bahwa penerapan PjBL memberikan pengaruh positif terhadap kreativitas siswa sekolah dasar melalui mengembangkan ide. Rosalina dan Sanoto . menunjukkan peningkatan kreativitas yang signifikan melalui penerapan PjBL pada pembelajaran seni rupa kelas II. Septyan Nur Fadholi et al. juga menegaskan bahwa manajemen pembelajaran seni berbasis proyek yang dirancang secara sistematis mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan meningkatkan kreativitas siswa. Namun demikian, kajian-kajian tersebut belum secara spesifik membahas aspek pengelolaan kelas sebagai faktor pendukung utama keberhasilan implementasi PjBL dalam pembelajaran seni rupa di sekolah dasar, khususnya pada konteks pengembangan kreativitas melalui pembuatan karya seni dekoratif. Kesenjangan inilah yang menjadi dasar penting bagi penelitian ini untuk dilakukan. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji secara spesifik DOI:10. 26858/jekpend. peningkatan kreativitas siswa dalam pembelajaran seni rupa melalui pengelolaan kelas berbasis PjBL di sekolah dasar. Model PjBL dipilih karena menekankan keterlibatan siswa dalam kegiatan berorientasi proyek, sehingga siswa tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi terlibat aktif dalam proses berkarya (Nababan et al. , 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada penekanan aspek pengelolaan kelas yang terarah berbasis PjBL sebagai fondasi utama keberhasilan peningkatan kreativitas, mencakup pengaturan waktu, pembentukan kelompok kerja produktif, penataan ruang, distribusi bahan, dan pengelolaan perilaku siswa, didukung teori kreativitas (Primawati, 2. dan teori pengelolaan kelas berbasis PjBL (Mustakim et al. , 2. Penelitian mendeskripsikan: . kondisi pengelolaan kelas dalam pembelajaran seni rupa di kelas IV SD Negeri Citamiang sebelum implementasi PjBL. implementasi pengelolaan kelas berbasis PjBL dalam pembelajaran seni rupa melalui enam tahapan sistematis (Nababan et al. , 2. tingkat kreativitas seni rupa siswa setelah implementasi pengelolaan kelas berbasis PjBL di kelas IV SD Negeri Citamiang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kuantitatif dipilih karena data yang dikumpulkan berupa angka yang diperoleh melalui instrumen penelitian terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematis dan faktual kondisi pengelolaan kelas berbasis PjBL serta kreativitas siswa selama proses pembelajaran seni rupa di sekolah dasar, sebagaimana fenomena yang terjadi pada saat penelitian berlangsung, tanpa manipulasi terhadap variabel yang diteliti (Nugroho, 2018. Rukoyah et , 2. Desain penelitian yang digunakan adalah menggambarkan kondisi dan proses pembelajaran sebagaimana terjadi secara alami di kelas, mulai dari pengaturan ruang kelas, pelaksanaan proyek, hingga keterlibatan siswa di setiap tahap pembelajaran, sehingga hasil penelitian dapat mencerminkan praktik pengajaran seni berbasis proyek di kelas IV SD Negeri Citamiang (Nugroho. Partisipan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Citamiang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Ananta Maulida. Utomo. Peningkatan Kreativitas Seni Rupa SiswaA| 49 sampling jenuh, yaitu seluruh anggota populasi Citamiang, untuk memastikan kesesuaian indikator dijadikan sampel penelitian, sebanyak 30 siswa dengan aspek yang diamati. Setelah melalui proses dari satu kelas di satu sekolah, yang seluruhnya revisi berdasarkan masukan para ahli, lembar terlibat langsung dalam pelaksanaan pembelajaran observasi dinyatakan layak digunakan. seni rupa berbasis PjBL. Pemilihan sampling jenuh Data yang telah terkumpul dianalisis dilakukan karena populasi penelitian relatif kecil menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. dan homogen, sehingga seluruh siswa dapat Data dari angket diolah dengan menghitung skor dijadikan responden untuk memperoleh data yang dan persentase untuk menggambarkan tingkat lebih akurat dan merepresentasikan kondisi kelas kreativitas siswa serta efektivitas pengelolaan kelas secara keseluruhan (Suriani et al. , 2. Cakupan berbasis PjBL. Data hasil observasi dan wawancara sampel yang terbatas pada satu kelas dan satu dianalisis secara deskriptif untuk memperkuat dan sekolah ini membatasi generalisasi temuan memperjelas hasil analisis kuantitatif, disajikan penelitian ke konteks yang lebih luas. dalam bentuk tabel dan uraian naratif (Qomaruddin Pengumpulan & Sa'diyah, 2. menggunakan beberapa instrumen, yaitu lembar observasi, angket . , wawancara, dan HASIL DAN PEMBAHASAN Lembar observasi digunakan untuk Kondisi Pengelolaan Kelas Sebelum mengamati secara langsung pengelolaan kelas dan Implementasi PjBL aktivitas siswa selama kegiatan proyek seni rupa Hasil observasi awal dan wawancara Angket disusun dalam bentuk dengan guru kelas IV menunjukkan bahwa pernyataan tertutup dengan skala Likert . Ae. yang pengelolaan kelas pada pembelajaran seni rupa mengukur konstruk kreativitas siswa secara belum berjalan secara optimal. Data menunjukkan langsung Ai bukan skala persetujuan/sikap Ai kondisi kelas yang kurang kondusif, masih terdapat sehingga skor total tiap siswa diinterpretasikan siswa yang mengobrol dengan teman sebangku dan sebagai tingkat kreativitasnya, dan diberikan kurang memperhatikan penjelasan guru. Guru kepada seluruh siswa untuk memperoleh data menyatakan bahwa pembelajaran seni rupa lebih kuantitatif mengenai kreativitas siswa serta respons sering berfokus pada penyampaian materi secara siswa terhadap penerapan PjBL. teoretis, sementara kegiatan praktik masih jarang Sebelum digunakan, angket kreativitas dilakukan, sehingga kesempatan siswa untuk diuji cobakan kepada 30 siswa di luar sampel terlibat langsung dalam proses berkarya menjadi penelitian utama. Uji validitas dilakukan dengan terbatas dan kreativitas siswa belum berkembang teknik korelasi item-total . roduct momen. , secara optimal. Kondisi ini menegaskan bahwa membandingkan nilai r hitung tiap item dengan r pengelolaan kelas yang bertujuan menciptakan tabel pada taraf signifikansi 5% . tabel = 0,361 kondisi belajar kondusif agar siswa dapat belajar untuk n=. Dari 18 item yang diujicobakan, dengan baik belum sepenuhnya tercapai, dan sebanyak 15 item dinyatakan valid dan 3 item (P11, menjadi dasar empiris perlunya perbaikan P15, dan P. dinyatakan tidak valid sehingga pengelolaan kelas melalui pemilihan model digugurkan, menyisakan 15 item yang digunakan pembelajaran yang tepat. Perlu dicatat bahwa dalam angket final penelitian. Selain itu. Uji kondisi awal ini didokumentasikan secara kualitatif reliabilitas terhadap 15 item yang dinyatakan valid melalui observasi dan wawancara guru, bukan menghasilkan koefisien Cronbach's Alpha sebesar melalui pengukuran kuantitatif dengan instrumen 0,926, yang menunjukkan bahwa instrumen angket yang sama seperti yang digunakan setelah kreativitas memiliki tingkat reliabilitas sangat implementasi PjBL. tinggi (Alpha > 0,. dan layak digunakan untuk Hasil Observasi Implementasi PjBL mengukur kreativitas siswa dalam penelitian ini. Observasi dilakukan terhadap 30 siswa Selain angket, lembar observasi yang selama pelaksanaan pembelajaran seni rupa digunakan dalam penelitian ini juga dikembangkan berbasis PjBL melalui kegiatan pembuatan kipas berdasarkan kajian teori pengelolaan kelas dekoratif berbentuk bunga, menggunakan lembar (Zahroh, 2. , implementasi PjBL (Nababan et observasi dengan 16 indikator yang terbagi ke , 2. , dan indikator kreativitas (Primawati, dalam tiga variabel: pengelolaan kelas. Lembar observasi divalidasi melalui expert implementasi PjBL, dan kreativitas siswa. judgment oleh dua orang ahli, yaitu dosen pendidikan seni rupa dan guru kelas IV SD Negeri Tabel 1. Ringkasan Hasil Observasi Implementasi Project Based Learning (PjBL) Variabel Indikator Utama Deskripsi Hasil Pengamatan DOI:10. 26858/jekpend. Ananta Maulida. Utomo. Peningkatan Kreativitas Seni Rupa SiswaA| 50 Pengelolaan Kelas Implementasi PjBL Kreativitas Penataan ruang, distribusi bahan. Ruang ditata mendukung kerja kelompok. bantuan bahan terdistribusi merata. suasana kondusif. fasilitator, aturan kerja kelompok fasilitator aktif membantu. siswa mengikuti aturan kerja Perencanaan desain, tahapan Siswa berdiskusi merencanakan desain. pengerjaan, kerja sama, saling mengerjakan proyek runtut . ewarnaiAe membantu, presentasi, refleksi mengguntingAemenempe. saling berbagi tugas dan membantu. presentasi cukup percaya diri. melakukan refleksi pengalaman Inisiatif ide, kombinasi warna. Sebagian besar siswa mengembangkan ide ciri khas karya, kepercayaan diri, secara mandiri. memilih kombinasi warna apresiasi karya lain menghasilkan karya berciri khas cukup percaya diri presentasi. memberi apresiasi pada karya kelompok lain Data observasi pada variabel pengelolaan kelas menunjukkan bahwa penataan ruang mendukung aktivitas kelompok, dengan meja dan kursi ditata membentuk kelompok kecil sehingga siswa dapat berinteraksi dalam satu area kerja yang Bahan dan alat terdistribusi merata ke setiap kelompok sehingga seluruh kelompok dapat memulai dan menyelesaikan proyek secara Suasana kelas tetap kondusif selama kegiatan proyek berlangsung, dengan kebisingan yang wajar berupa diskusi kelompok dan tidak ada siswa yang mengganggu kelompok lain. Peneliti sebagai fasilitator aktif berkeliling memberikan bantuan kepada kelompok yang mengalami kesulitan dalam teknik mewarnai, menggunting, maupun menempel, dan hampir seluruh siswa mengikuti aturan kerja kelompok yang telah Pada variabel implementasi PjBL, siswa terlibat aktif dalam seluruh tahapan proyek Ai dilaksanakan melalui enam tahapan sistematis, yaitu penentuan pertanyaan mendasar, mendesain perencanaan proyek, menyusun jadwal, memonitor siswa dan kemajuan proyek, menguji hasil, serta mengevaluasi pengalaman (Nababan et al. , 2. Siswa berdiskusi merencanakan desain dan kombinasi warna sebelum mengerjakan proyek secara runtut: mewarnai, menggunting, hingga menempelkan motif pada kardus menjadi kipas. Siswa yang lebih cepat menyelesaikan tugasnya membantu teman sekelompok. Sebagian besar kelompok tampil percaya diri saat presentasi, meskipun beberapa siswa masih terlihat gugup. Pada tahap refleksi, sebagian besar siswa menyampaikan bahwa mereka merasa senang dan DOI:10. 26858/jekpend. lebih percaya diri. Temuan ini sejalan dengan Septyan Nur Fadholi et al. yang menyatakan bahwa manajemen pembelajaran seni berbasis proyek yang dirancang sistematis mampu menciptakan suasana belajar kondusif dan meningkatkan keterlibatan siswa, sekaligus memperkuat argumen bahwa keberhasilan PjBL sangat bergantung pada efektivitas pengelolaan kelas yang mendasarinya (Mustakim et al. , 2. Pada variabel kreativitas, sebagian besar siswa mampu mengembangkan ide desain secara menambahkan variasi motif tanpa diminta meskipun sebagian masih memerlukan stimulus dari peneliti. Setiap kelompok menghasilkan karya kipas dengan ciri khas berbeda dari segi warna, motif, dan teknik penempelan, menunjukkan bahwa siswa tidak sekadar meniru contoh. Siswa juga memberikan apresiasi berupa tepuk tangan dan komentar positif terhadap karya kelompok lain. Hasil Angket Kreativitas Siswa Angket disebarkan kepada 30 siswa kelas IV SDN Citamiang setelah pelaksanaan pembelajaran berbasis PjBL, terdiri dari 15 pernyataan valid dengan skala Likert . Ae. yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Tabel 2 menyajikan distribusi frekuensi tingkat kreativitas siswa berdasarkan kategori interval skor. Ananta Maulida. Utomo. Peningkatan Kreativitas Seni Rupa SiswaA| 51 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Kreativitas Siswa Interval Skor Frekuensi . Persentase (%) 63Ae75 53,33 51Ae62 40,00 39Ae50 0,00 27Ae38 0,00 15Ae26 6,67 Total Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran berbasis PjBL, 53,33% siswa berada pada kategori kreativitas sangat tinggi dan 40% siswa pada kategori tinggi, dengan rata-rata skor 64,3. Tidak terdapat siswa pada kategori sedang maupun rendah. Sebagai data anomali, ditemukan 6,67% siswa . dari 30 sisw. pada kategori sangat rendah, menunjukkan bahwa meskipun implementasi PjBL secara umum berdampak positif, sebagian kecil siswa masih membutuhkan pendampingan dan stimulus tambahan agar kreativitasnya dapat berkembang Karena pengukuran kreativitas hanya dilakukan satu kali . etelah implementasi PjBL) tanpa data pretest dengan instrumen yang sama, temuan ini menggambarkan tingkat kreativitas Interpretasi Kreativitas Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah siswa setelah implementasi PjBL, bukan besaran peningkatan kuantitatif dari kondisi sebelumnya. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Salim. Putra, dan Suhendro . yang menyatakan bahwa penerapan PjBL dapat meningkatkan kreativitas siswa sekolah dasar melalui mengembangkan ide, serta memperkuat pandangan Primawati . bahwa kreativitas terwujud melalui kemampuan menciptakan bentuk baru dan menemukan cara baru dalam memecahkan Hasil Wawancara Wawancara dilakukan kepada dua orang siswa (Siswa A dan Siswa B) sebagai data pendukung untuk memperkuat data kuantitatif. Tabel 3. Ringkasan Transkrip Hasil Wawancara dengan Siswa Aspek yang Ditanyakan Tanggapan Siswa A Tanggapan Siswa B Ketertarikan pada proyek Sangat suka karena bisa bekerja Suka karena tidak bosan dan bisa sama dengan teman belajar dari teman Kebebasan dalam mewarnai Bisa memilih warna sesuai Bebas dan dapat berkreasi memilih keinginan sendiri Peningkatan rasa kreatif Menjadi lebih berani mencoba hal Mampu membuat karya yang lebih Diskusi dengan teman Aktif bertanya kepada teman Saling memberi ide Kepercayaan saat Sedikit gugup namun tetap percaya Percaya diri karena karyanya Keseruan pembelajaran Sangat lebih Sangat seru dan ingin mengulang berbasis proyek menyenangkan dari biasanya kegiatan serupa Suasana selama Lebih fokus dan tertib Tidak ada keributan, lebih nyaman Manfaat arahan peneliti Lebih memahami cara mengerjakan Sangat membantu saat mengalami Data wawancara mendukung temuan kuantitatif bahwa siswa merasa antusias, bebas berekspresi, lebih kreatif, dan menikmati pembelajaran berbasis proyek. Kedua siswa implementasi PjBL dalam pembelajaran seni DOI:10. 26858/jekpend. Aktivitas Kerja Kelompok Pembelajaran Berbasis Proyek Aktivitas pembelajaran seni rupa berbasis PjBL berjalan dengan baik dan kondusif. Siswa bekerja secara berkelompok mulai dari perencanaan desain, pemilihan warna, pelaksanaan tahapan proyek Ananta Maulida. Utomo. Peningkatan Kreativitas Seni Rupa SiswaA| 52 . ewarnai, menggunting, dan menempe. , hingga presentasi hasil karya, saling berbagi tugas, bertukar pendapat, dan saling membantu ketika ada anggota kelompok yang mengalami Aktivitas kerja kelompok yang optimal ini tidak terlepas dari pengelolaan kelas yang terstruktur, di mana peneliti sebagai fasilitator aktif memberikan arahan dan bantuan, sehingga tidak hanya mendukung kelancaran pelaksanaan proyek, tetapi juga mendorong pengembangan kreativitas, keaktifan, dan kepercayaan diri siswa. Implikasi dan Keterbatasan Penelitian Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi guru sekolah dasar dalam merancang pengelolaan kelas berbasis proyek pada pembelajaran seni rupa, khususnya dalam penataan ruang, distribusi alat dan bahan, pembentukan kelompok kerja, serta peran guru sebagai fasilitator. Secara teoretis, hasil penelitian memperkuat kerangka pemikiran bahwa pengelolaan kelas merupakan fondasi utama bagi peningkatan kreativitas siswa melalui implementasi PjBL. Penelitian ini memiliki beberapa Pertama, jumlah sampel relatif kecil . dan terbatas pada satu kelas di satu sekolah, sehingga generalisasi hasil pada konteks sekolah lain perlu dilakukan dengan hati-hati. Kedua, durasi pelaksanaan pembelajaran berbasis PjBL relatif singkat . atu minggu dalam jadwal penelitian satu bula. , sehingga belum dapat menggambarkan dampak jangka panjang terhadap kreativitas siswa. Ketiga, data wawancara hanya melibatkan dua orang siswa, sehingga perspektif siswa yang terungkap masih terbatas dan berpotensi tidak merepresentasikan seluruh siswa, termasuk siswa pada kategori kreativitas sangat rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini mengonfirmasi bahwa tingkat kreativitas seni rupa siswa berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi setelah implementasi pengelolaan kelas berbasis Project Based Learning (PjBL) di kelas IV SDN Citamiang. Sebelum implementasi PjBL, pengelolaan kelas belum berjalan optimal, ditandai kondisi kelas yang kurang kondusif dan Implementasi PjBL yang dilaksanakan melalui enam tahapan sistematis berhasil mengubah kondisi tersebut menjadi lingkungan belajar yang terstruktur, kondusif, dan kolaboratif. Hasil menunjukkan peningkatan kreativitas yang signifikan, dengan 53,33% siswa berada pada DOI:10. 26858/jekpend. kategori sangat tinggi dan 40% pada kategori tinggi, serta rata-rata skor 64,3, mendukung temuan utama bahwa pengelolaan kelas yang terarah merupakan fondasi penting bagi peningkatan kreativitas siswa melalui PjBL. Penelitian ini memberikan beberapa kontribusi utama: . memperkuat kerangka pengelolaan kelas dan implementasi PjBL sebagai dua aspek yang saling menopang dalam peningkatan kreativitas siswa. memberikan pengelolaan kelas berbasis PjBL secara spesifik dalam konteks pembelajaran seni rupa di sekolah dan . memperkaya bukti empiris mengenai indikator kreativitas siswa sekolah dasar yang dapat diamati melalui kegiatan pembuatan karya seni dekoratif. Berdasarkan keterbatasan dan temuan penelitian, disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk: . memperluas sampel penelitian ke beberapa kelas atau sekolah dengan karakteristik berbeda guna meningkatkan generalisasi hasil. melaksanakan implementasi PjBL dalam durasi yang lebih panjang untuk mengetahui dampak berkelanjutan terhadap kreativitas siswa. melakukan kajian lebih lanjut terhadap siswa pada kategori kreativitas sangat rendah untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan strategi . mengembangkan instrumen penilaian kreativitas yang lebih spesifik pada pembelajaran seni rupa berbasis proyek di jenjang sekolah dasar. DAFTAR RUJUKAN Karyadi. Edukasi dan apresiasi seni rupa kontemporer bagi siswa sekolah dasar. Jurnal Abdidas, 6. , 835Ae845. Mustakim. Ependi. , & Mardiana. Manajemen kelas dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran PAI siswa kelas V sekolah dasar . tudi kasus di SDN Cikawung Kec. Sindangbarang-Cianju. PeTeKa: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran, 8. , 1247Ae1256. Nababan. Marpaung. , & Koresy. Strategi pembelajaran project based (PjBL). Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, 2. , 706Ae719. Nugroho. Metodologi penelitian kuantitatif pendidikan jasmani. Purwodadi: CV. Sarnu Untung. Primawati. Pengembangan kreativitas Ananta Maulida. Utomo. Peningkatan Kreativitas Seni Rupa SiswaA| 53 seni rupa anak usia dini. Journal of Early Childhood Studies, 1. Qomaruddin. , & Sa'diyah. Kajian teoritis tentang teknik analisis data dalam penelitian kualitatif: Perspektif Spradley. Miles dan Huberman. Journal of Management. Accounting. Administration, 1. , 77Ae84. Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. Rosalina. , & Sanoto. Upaya peningkatan kreativitas siswa dengan model project based learning pelajaran seni rupa kelas II di SD Negeri Pulutan 02. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, 9. , 34Ae46. Rukoyah. Nursobah. , & Jaelani. Analisis peran pembelajaran seni rupa dalam mengembangkan kreativitas siswa sekolah dasar. Jurnal Intisabi, 3. , 94Ae108. Salim. Putra. , & Suhendro. Implementasi model project-based learning dalam meningkatkan kreativitas siswa sekolah dasar. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10. , 401Ae413. Septyan Nur Fadholi. Sustiawati. , & Mawan. Manajemen pembelajaran seni berbasis proyek: Studi kasus pada pameran seni lukis di SMP Negeri 2 Bondowoso. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6. , 3059Ae3065. Suriani. Risnita, & Jailani. Konsep populasi dan sampling serta pemilihan partisipan ditinjau dari penelitian ilmiah pendidikan. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 1. , 24Ae36. Zahroh. Pendekatan dalam pengelolaan kelas. Tasyri', 22. , 175Ae189. DOI:10. 26858/jekpend.