Ilmu Al-QurAoan (IQ) Jurnal Pendidikan Islam Volume 7 No. ISSN: 2338-4131 (Prin. 2715-4793 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 37542/iq. Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Mts Al-Kautsar Depok Agus Nur Qowim Universitas PTIQ Jakarta agusqowim@gmail. Abstrak: Aqidah Akhlak seringkali dipandang sebagai mata pelajaran yang menjemukan dan kurang membuka ruang bagi siswa untuk lebih kritis dan kreatif dalam proses pembelajarannya. Tidak mengherankan jika kemudian siswa menjadi malas dan kurang bersemangat mengikuti mata pelajaran ini. Sehingga seorang guru harus tepat memilih metode dan pendekatan pembelajaran yang tidak saja membuat proses pembelajaran menarik tapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk berkreatifitas dan terlibat secara aktif sepanjang proses pembelajaran. Hingga kini, telah dilakukan berbagai upaya dalam pengembangan sistem pembelajaran aqidah akhlak, yang salah satunya dengan mengadaptasi gaya pembelajaran melalui pendekatan konstruktivistik yang disesuaikan dengan kerakteristik dari aqidah akhlak itu sendiri. Adapun pendekatan konstruktivistik merupakan suatu kegiatan dimana memungkinkan siswa membangun pemikiran sendiri dengan pengetahuannya. Dari fenomena di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang penerapan pendekatan konstruktivistik dalam pembelajar aqidah akhlak di mts al-kautsar depok, faktor-faktor yang mendukung dan menghambat serta upayaupaya yang di lakukan untuk mengatasi problematika yang dihadapi. Kata Kunci: Penerapan. Pendekatan Konstruktivistik. Pembelajaran Aqidah Akhlak Abstract: Aqidah Akhlak is often seen as a boring subject and does not open up enough space for students to be more critical and creative in their learning process. It is not surprising that students Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Mts Al-Kautsar Depok become lazy and less enthusiastic about taking this subject. So a teacher must choose the right learning methods and approaches that not only make the learning process interesting but also provide space for students to be creative and actively involved throughout the learning process. Until now, various efforts have been made to develop a moral aqidah learning system, one of which is by adapting the learning style through a constructivist approach that is adapted to the characteristics of the moral aqidah itself. The constructivist approach is an activity that allows students to build their own thoughts with their knowledge. From the above phenomenon, researchers are interested in conducting research on the application of a constructivist approach in students of moral aqidah at MTS Al-Kautsar Depok, the factors that support and hinder and the efforts made to overcome the problems faced. Keyword: Application. Constructivist Approach. Learning Aqidah Akhlak Pendahuluan Tugas bagi pendidik tidak hanya terbatas pada mengalihkan hasil-hasil ilmu dan Selain itu, bidang pendidik bertugas pula menanamkan nilai-nilai baru yang dituntut oleh perkembangan ilmu dan teknologi pada diri anak didik dalam membentuk nilai-nilai dasar yang telah disepakati oleh bangsa Indonesia. Meningkatkan mutu pendidikan merupakan suatu proses yang harus dilaksanakan secara terus menerus untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan berbagai faktor yang berkaitan dengan itu, dengan arah agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efesien. Peningkatan mutu tidak lain adalah pencapaian tujuan pendidikan. Proses belajar mengajar menempati posisi yang amat penting dan menentukan. Namun, perlu dicatat bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu interaksi yang bersifat manusiawi antara pendidik dan peserta didik yang penuh Pendidikan agama Islam mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional dan keberhasilan pembangunan di segala bidang ini sangat ditentukan faktor pendidikan. Sebagai aktivitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, pendidikan Islam memerlukan landasan kerja guna memberi arah bagi Suparlan. Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan Volume 1. No 2. Juli 2019, h. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 19 Agus Nurqowim program yang akan dilakukan, landasan tersebut terutama berasal dari Al-QurAoan dan AsSunnah. Pendidikan merupakan ikhtiar yang kompleks untuk meningkatkan sumber daya manusia sebuah bangsa. Namun demikian, ketepatan memilih metode dan pendekatan pembelajaran yang tidak saja membuat proses pembelajaran menarik tapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk berkreatifitas dan terlibat secara aktif sepanjang proses pembelajaran. Memudahkan pembelajaran bagi murid adalah tugas utama guru. Untuk itu guru tidak saja dituntut untuk membuat suasana pembelajaran menjadi nyaman dan menarik, tetapi juga harus mampu menciptakan metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan keadaan murid. Di sini, guru dituntut untuk benar-benar sesuai dengan perkembangan diri murid yang menjadi subjek sekaligus objek pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah proses pembelajaran yang diberikan kepada peserta Melalui proses pembelajaran peserta didik akan memperoleh pemahaman terhadap Salah satu prinsip pendidikan adalah guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didik juga harus aktif membangun pengetahuannya. Apa yang peserta didik pelajari berhubungan dengan apa yang mereka ketahui sebelumnya. Artinya, pengetahuan dibentuk dengan pemikiran mereka sendiri. Menurut Piaget, anak-anak lahir membawa potensi rasa ingin tahu dan secara terus menerus berusaha keras memahami dunia sekitar mereka. Rasa ingin tahu ini memotivasi mereka untuk membangun gambaran-gambaran dalam pikiran mereka tentang lingkungan yang mereka tempati. Dalam dunia pendidikan, paradigma lama mengenai proses belajar mengajar bersumber pada teori . Locke mengatakan bahwa pikiran anak seperti kertas kosong yang putih dan bersih dan siap menerima coretan-coretan gurunya. Dengan kata lain, otak seorang anak ibarat botol kosong yang siap di isi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan sang maha guru. Berdasarkan asumsi ini dan asumsi yang sejenisnya, banyak guru dan dosen melaksanakan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut: memindahkan pengetahuan dari guru ke peserta didik sehingga di sini tugas guru adalah memberi dan tugas seorang peserta didik adalah menerima. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , h. Nur Uhbuyah. Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1. , h. Rusmono. Strategi Pembelajaran dengan Program Based Learning itu perlu untuk meningkatkan Profesionalitas Guru, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2. , h. Anita Lie. Cooperative Learning . empraktekan Cooperative Learning di RuangRuang Kela. , (Jakarta: Grasindo, t. , h. 20 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Mts Al-Kautsar Depok Dalam konteks pendidikan agama Islam, sudah saatnya kita merubah paradigma pengajaran yang selama ini lazim digunakan dalam proses belajar mengajar aqidah akhlak ke arah paradigma pembelajaran. Bukan rahasia lagi bahwa paradigma belajar mengajar aqidah akhlak kita selama ini masih sarat orientasi pengajaran ketimbang pembelajarannya. Akibatnya dikalangan siswa, aqidah akhlak sering kali dipandang sebagai mata pelajaran yang majemukan, sarat dengan dogma dan indoktrinasi norma-norma agama yang kurang membuka ruang bagi peserta didik untuk lebih kritis dan kreatif dalam proses belajar mengajar. Tidak mengherankan jika kemudian peserta didik malas dan kurang bersemangat mengikuti mata pelajaran ini. Hasil studi Xaviery menyimpulkan sekurang-kurangnya terdapat tiga masalah pokok yang melatarbelakangi keengganan peserta didik mempelajari suatu mata pelajaran. Pertama, masalah teknik pembelajaran yang tidak menumbuhkan motivasi peserta didik. Kedua, eksistensi guru bukan sebagai fasilitator yang membelajarkan peserta didik, melainkan pribadi yang belajar atau menggurui peserta didik. Ketiga, penyampaian pesan pembelajaran dengan media yang kurang interaktif dan atraktif. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, maka sekolah perlu menerapkan langkah-langkah yang strategis baik dengan perubahan kurikulum maupun sistem Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah mengimplementasikan pendekatan konstukrivistik dalam pembelajaran. Konstruksi berarti bersifat membangun. Konstruktivistik merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah buatan kita sendiri. Hal ini terjadi karena pendekatan konstruktivistik menyadari bahwa pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing individu. Dalam proses itu, keaktifkan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya. Inti dari prinsip konstruktivistik adalah bahwa belajar adalah proses yang aktif. Dengan demikian, peluang untuk menerapkan Auparadigma pembelajaranAy dalam kegiatan belajar mengajar aqidah akhlak menjadi semakin mendesak dilakukan mengingat posisi penting Pendidikan Agama Islam dalam sistem pendidikan kita sebagai satu dari tiga mata pelajaran yang wajib diajarkan disemua jenis, jalur dan jenjang pendidikan dan perannya dalam mencapai suatu tujuan pendidikan nasional. Qawaid, et. Inovasi Pembelajaran Pai, (Jakarta: Pena Citra Satria, 2. , h. Agus Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-teori Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Diva Press, 2. , h. Nurfatimah Sugrah. Implementasi Teori Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sains. Jurnal Humanika. Vol. No. September 2019, h. Akmal Hawi. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2. , h. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 21 Agus Nurqowim Pembelajaran konstruktivistik berpandangan bahwa dalam membangun pengetahuan atau kemampuan baru dibutuhkan suatu proses konstruksi yang dibangun oleh peserta didik. Pembelajaran konstuktivistik dapat dilaksanakan dengan menerapkan beberapa metode Metode-metode konsturktivistik tentunya merupakan metode yang di dalamnya terdapat memuat atau merepresentasikan karakteristik pembelajaran konstruktivis. Metode pembelajaran tersebut antara lain cooperative learning, contextual teaching, inquiry learning, dan problem based 10Pandangan tersebut tentu harus diimplementasikan juga dalam pendidikan agama islam, dan salah satunya adalah dalam pembelajaran Aqidah Akhlak. Hakikat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik yakni pembentukan pengetahuan yang memandang subyek aktif menciptkan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses Yang terpenting dalam teori konstruktivistik adalah bahwa dalam proses pembelajaran, para peserta didik lah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar peserta didik secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan peserta didik akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif peserta didik. Belajar lebih diarahkan pada experimental learnig yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontempalsikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada pengajar melainkan pada pembelajar. Proses belajar menurut teori ini adalah tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh peserta didik, melainkan melalui interaksi jaringan sosial yang unik, atau suatu usaha pemberian makna oleh peserta didik kepada pengalamannya melalui proses asimiasi dan akomodasi, yang akan terbentuk suatu kontruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran pada kognitifnya. Menurut teori ini belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Sigit Mangun Wardoyo. Pembelajaran Konstruktivisme, (Bandung: Alfabeta, 2. , h. 22 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Mts Al-Kautsar Depok peserta didik harus aktif melakukan kegiatan, aktif dalam berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dan hakekatnya kendali belajar sepenuhnya terdapat pada peserta didik. Perkembangan pendekatan kontruktivistik tidak terlepas dari usaha keras Jeam Piaget dan Vygotsky mereka adalah psikologi pertama yang menggunakan filsafat konstruktivistik dalam bidang pendidikan yang menekankan bahwa perubahan kognitif kearah perkembangan terjadi ketika. Teori konstruktivistik lahir seiring dengan perkembangan perhatian manusia atau perkembangan zaman dalam ruang lingkup pendidikan sehingga tehadap pendidikan modern dan cara manusia memandang dirinya sendiri. Meski lahir pada era modern sehingga disebut sebagai teori belajar kontemporer. Pengertian dari pendekatan konstruktivistik merupakan sebuah keadaan dimana individu menciptakan pemahaman mereka sendiri berdasarkan pada apa yang mereka ketahui, serta ide dan fenomena dimana mereka berhubungan. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivistik menuntut agar seseorang pendidik mampu menciptakan pembelajaran sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat terlibat secara aktif dengan materi peserta didik dengan interkasi sosial yang terjalin di dalam kelas. Berdasarkan paparan di atas, maka fokus peneliti adalah berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: Bagaimana Penerapan Pendekatan Konstruktivistik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Mts Al-Kautsar Depok? Apa saja Indikator-indikator yang Mendukung Pembelajaran Aqidah Akhlak Dengan Pendekatan Konstruktivistik di Mts Al-Kautsar Depok? Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif dimana penelitian ini melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi, klasifikasi, kemudian diinterpretasikan. Disamping itu juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi data yang diperoleh. Sumber data yang di dapat oleh peneliti berasal dari: data primer dan data sekunder. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah: Asri Budiningsih. Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rienka Cipta, 2. , h. Karwono dan Heni Sunarsih. Belajar dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber Belajar, (Jakarta: Rajawali Pres, 2. , h. Sigit Mangun Wardoyo. Pembelajaran Konstruktivisme Teori dan Aplikasi Pembelajaran Karakter, (Bandung: Alfabeta, 2. , h. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 23 Agus Nurqowim observasi . , interview /wawancara, dokumentasi. Untuk pengecekan keabsahan data dengan cara keikutsertaan, pengamatan, triangulasi dan pemeriksaan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Penerapan Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Al-Kautsar Depok Penerapan pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran aqidah akhlak di MTs Al-Kautsar Depok diimplementasikan dengan membaca doa sebelum belajar yang dipimpin oleh ketua kelas. Tujuannya adalah agar dengan pembiasaan membaca doa sebelum belajar membangun kepribadian peserta didik dan pembelajaran ini semakin Kemudian dilanjutkan oleh guru dengan presensi peserta didik untuk mengecek tanda kehadiran peserta didik. Selanjutnya guru menanyakan materi pekan lalu kepada peserta serta mengulangulang materi yang lalu itu agar terus melekat dalam pikirannya dan bisa dipahami dalam Selanjutnya guru memberikan penjelasan singkat tentang materi yang akan disampaikan mengenai tentang Menghindari Akhlak Tercela . naniyah, putus asa, ghadab dan tama. yang ada di depan menggunakan power point yang ada di proyektor, walaupun di buku paket ada tapi gurunya tetap membuat variasi dengan power point agar peserta didik tidak bosan dengan penjelasannya. Materi yang diberikan guru dalam mata pelajaran aqidah akhlak pada peserta didik adalah menghindari akhlak tercela, ada beberapa dalil yang menerangkan ciri-ciri akhlak tercela seperti ananiyah, putus asa, ghadab dan tamak itu ada semua dalilnya di dalam materi yang disampaikan oleh guru. Tujuan dari pembelajaran tersebut adalah supaya peserta didik dapat memahami pengertian akhlak tercela, dapat menyimpulkan dan memberikan pemaknaan yang terkandung pada dalil-dalil yang telah disampaikan guru. Selain itu diharapkan siswa bisa menghindari akhlak tercela seperti ananiyah, putus asa, ghadab dan tamak dalam kehidupan sehari-hari. Salah seorang guru Aqidah Akhlak di MTs Al-Kautsar Depok. Bapak H. Zaini. Pd. I menggunakan pendekatan konstruktivistik dengan metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi. Beliau lebih lanjut Konstruktivistik dalam pembelajaran aqidah akhlak sebagai berikut: 24 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. tentang Pendekatan Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Mts Al-Kautsar Depok AuUntuk beberapa upaya yang saya lakukan adalah anak-anak sering saya berikan kesempatan untuk mendatangi perpustakaan untuk sering-sering membaca baik dalam kelas atau luar kelas. Jadi wawasannya itu luas dan tidak monoton pada satu pengetahuan saja. Ay Metode lain yang digunakan guru dalam mengkonstruksi pemikiran siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak adalah dengan memberikan kesempatan pada peserta didik untuk membaca selama 5 menit atau secukupnya setelah itu menerangkan kembali pemahamannya dari apa yang telah dibaca. Selanjutnya diadakan tanya jawab antara guru dengan peserta didik atau antara peserta didik dengan peserta didik serta diberikannya tugas kepada siswa untuk lebih memahami materi yang telah diberikan serta memberikan dalildalil yang berkaitan dengan akhlak tercela, kemudian peserta didik diberi tugas untuk mengahafal dan menganalisisnya sesuai dengan pola pikir peserta didik. Hal tersebut sejalan dengan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran Aqidah Akhlak, wawancara dengan pak H. Zaini S. Pd. I mengatakan: AuDalam pembelajarnya terdapat banyak metode dimana salah satunya saya juga menggunakan metode ceramah dan tanya jawab setelah itu ada pemberian tugas. Adapun pada awal pelajaran biasanya setelah saya jelaskan peserta didik akan saya suruh untuk membaca selama 5 menit atau secukupnya. Dengan adanya timbal balik seperti ini dampaknya sangat baik karena pembelajaran menjadi komunikatif dan tidak Ay Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan pada pembelajaran ini terdapat beberapa tahapan. Yakni: pada awal pembelajaran guru menanyakan beberapa hal mengenai pengetahuan peserta didik tentang akhlak tercela kemudian barulah guru memberikan materi pelajaran mengenai akhlak tercela, menyimpulkan dan memberikan makna yang terdapat pada dalil yang menerangkan tentang akhlak tercela . naniyah, putus asa, ghadab dan tama. sehingga kita bisa mengetahui hal tersebut dan menghindari dari sifat akhlak tercela sehari-hari. Metode lain dalam rangka penerapan pembelajaran konstruktivistik adalah, guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan materi yang telah Setelahnya guru memberikan tugas individu kepada peserta didik untuk mengetahui macam-macam akhlak tercela serta memberikan pandangan dan analisisnya mengenai akhlak-akhlak tercela. Sebagaimana hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran aqidah akhlak, pak H. Zaini. Pd. I mengatakan: IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 25 Agus Nurqowim AuUntuk penerapan pendekatan konstruktivistik disini peserta didik diajak unutk leih komunikatif. Sehingga tidak terjadi peserta didik yang ngantuk atau bicara sendiri. Sehingga menurut saya sangat penting dilakukan dengan pendekatan konstruktivistik ini. Dalam penerapannya biasanya saya beri beberapa pertanyaan pada peserta didik secara acak dimana peserta didik bergiliran untuk mengungkapkan pendapatnya. Jadi disini kadangkala peserta didik yang berceramah nanti akan saya beri pertanyaan. Ay Pada pertemuan berikutnya, masing-masing peserta didik diberikan kesenpatan untuk memaparkan pendapatnya. Dimana menjelaskan materi pada pertemuan sebelumnya dan dipaparkan penemuannya dilapangan. Disini peserta didik memiliki berbagai sumber yang didapat untuk menganalisis materi tersebut. Yakni dari: buku paket yang dimiliki peserta didik, buku-buku yang terdapat diperpustakaan. Dalam pembelajaran ini yang sangat menarik adalah saat masing-masing peserta didik memaparkan analisisnya yang didapat dari hasil temuannya dari buku yang dibaca ataupun pendapat dari beberapa tokoh. Zaini. Pd. I selaku guru Aqidah Akhlak menyatakan bahwa peserta didik yang aktif sering bertanya ataupun berpendapat mereka mendapatkan reward berupa nilai yang Mereka juga diberikan tugas tambahan, baik mengulang materi sudah pelajari, atau diberikan lebih banyak lagi tugas dirumah. Biasanya peserta didik yang aktif dia akan menggali terus materi yang telah disampaikan dengan kemampuannya, jadi kesempatan itu pasti akan digunakan dengan baik oleh mereka. Adapun perkembangan yang diasah dalam pembelajaran pada mata pelajaran Aqidah Akhlak ini adalah meliputi: menganalisis materi yang bersangkutan dengan akhlak tercela, pemahaman akan suatu ayat serta menemukan makna yang terkandung di dalam beberapa ayat Al-QurAoan tersebut mengenai akhlak tercela dan macam-macamnya. Lebih lanjut guru pada mata pelajaran Aqidah Akhlak ini menjelaskan mengenai perkembangan yang diasah melalui pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik ini yang mana dapat dilihat adalah dari kemampuan peserta didik dalam memahami sesuatu dan bagaimana cara peserta didik memaparkan pendapatnya yang paling ditonjolkan. Sehingga dengan keaktifkan mereka kelas menjadi hidup dengan pendapat-pendapatnya. Setelah semua proses pembelajaran selesai maka guru mereview materi yang telah disampaikan dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membuat kesimpulan tentang keseluruhan materi yang telah disampaikan dan memberikan pesan yang bertujuan untuk memotivasi belajar peserta didik. Proses pembelajaran Aqidah Akhlak diakhiri dengan cara guru memberikan pertanyaan seputar materi yang telah 26 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Mts Al-Kautsar Depok diajarkan secara random, lalu ditutup dengan pembacaan doa bersama-sama dan pemberian salam oleh guru. Adapun evaluasi atau penilaian yang dilakukan oleh guru adalah dengan cara: Tes tulis: Menuliskan dalil-dalil tentang menghindari akhlak tercela Mengerjakan Latihan yang ada di buku paket aqidah akhlak Menghafalnya Tes lisan: Keaktifan dalam individu maupun kelompok dalam proses pembelajaran Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan dari guru Menjelaskan materi yang disampaikan guru Adapun sarana prasarana yang telah disediakan adalah ruang kelas dengan seperangkat alat tulis digunakan oleh guru . apan tulis, spidol, penghapu. dan ada juga proyektor serta penyediaan fasilitas oleh madrasah berupa perpustakaan yang sewaktuwaktu bisa digunakan apabila memang diperlukan pada saat proses pembelajaran. Dari hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti maka terdapat kesimpulan bahwa ada beberapa aspek dari pendekatan konstruktivistik yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, yakni: Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengekspresikan pikiran dan Memberikan respon positif kepada semua peserta didik ketika pembelajaran. Pendidik membiarkan peserta didik berfikir setelah mereka dikasih pertanyaanpertanyaan yang terukur oleh guru. Indikator Yang Mendukung Pendekatan Konstruktivistik Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan murid Mts Al-Kautsar Depok yakni Rizky Ferdiansyah, peneliti mendapatkan hasil dari Penerapan Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Mts Al- Kautsar Depok sebagai Sebagaimana yang sudah ditanyakan kepada salah satu murid tentang pembelajaran di dalam kelas yang dilakukan oleh guru dengan pendekatan konstruktivistik. Rizky IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 27 Agus Nurqowim Ferdiansyah menyebutkan kita dianjurkan untuk mengekspresikan apa yang ingin disampaikan dengan pendapat kita sendiri. Maksadnya adalah bagaimana murid tersebut bisa aktif dengan pemikiranya sendiri ketika materi sudah dijelaskan sehingga agar pembelajaran tidak membosankan dan berjaalan dengan penuh semangat. Dalam proses belajar dikelas, peserta didik perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik harus mengkosntruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivistik ini sendiri adalah ide. Peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. Dengan dasar itu, maka belajar dan pembelajaran harus dikemas menjadi proses . , bukan . Dalam proses belajar dan pembelajaran peserta didik harus terlibat aktif dan peserta didik menjadi pusat kegiatan belajar dan pembelajaran dikelas. Guru dapat memfasilitasi proses ini dengan mengajar menggunakan cara-cara yang membuat sebuah informasi menjadi bermakna dan relevan bagi peserta didik. Untuk itu, guru harus memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan atau mengapliaksikan ide-ide mereka sendiri, disamping mengajarkan peserta didik untuk menyadari dan sadar akan strategi belajar mereka sendiri. Memaksimalkan peran guru sebagai perancang pembelajaran, dan pengembangan dalam rangka menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk terjadinya proses Karena para pendidik tidak saja mentransfer pengetahuan yang di milikinya tetapi membantu peserta didik untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Memberikan kesempatan yang sama kepada peserta didikuntuk mendapatkan respon positif baik yang aktif ataupun yang tidak aktif supaya mendapatkan tugas yang terukur dengan sama rata tidak dibedakan agar ketika ada yang kesulitan dalam menjawab bisa dibantu dengan bekerja sama memecahkan masalahnya. Dari hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti maka terdapat kesimpulan bahwa ada beberapa aspek dari pendekatan konstruktivistik yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, yakni: Semua peserta didik harus bisa berperan aktif Mendapatkan kesempatan dari guru 28 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Di Mts Al-Kautsar Depok Bisa aktif sehingga ikut andil ketika ada kompetisi atau menjawab pertanyaan dari Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengekspresikan pikiran dan Memberikan respon positif kepada semua peserta didik ketika pembelajaran Pendidik membiarkan peserta didik berfikir setelah mereka dikasih pertanyaanpertanyaan yang terukur oleh guru. Dari hasil kedua wawancara yang peneliti lakukan dengan guru Aqidah Akhlak dan Muridnya Mts Al-Kautsar Depok dapat disimpulkan bahwa Penerapan Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak sudah berjalan dengan baik dan diterapkan sebagaimana yang sudah tertera hasil wawancara diatas. Kesimpulan Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Al-Kautsar Depok dijalankan dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik sehingga menuntut agar seseorang pendidik mampu menciptakan pembelajaran sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat terlibat secara aktif dengan materi. Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Mts Al-Kautsar Depok menekankan peserta didik untuk berinteraksi sosial di dalam kelas sehingga bisa mengeskpresikan pemikirannya. Dengan kesempatan tersebut peserta didik bisa aktif dengan sendirinya tanpa ada paksaan dari seorang guru dan terciptanya pembelajaran yang lebih Peserta didik di MTs Al-Kautsar Depok mampu menciptakan pemahaman mereka sendiri berdasarkan pada apa yang mereka ketahui, serta ide dan fenomena dimana mereka Pendekatan konstruktivistik dalam Mata Pelajaran Aqidah Kahlak di MTs Al-Kautsar depok diterapkan dengan menekankan proses belajar bukan pada proses mengajarnya. Peserta didik diberikan kesempatan oleh guru untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang di dasarkan pada pengalaman yang nyata. Peserta didik di dorong untuk mengkonstuksi Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sendiri dan tidak dapat di pindahkan dari guru ke murid kecuali dengan keaktifan peserta didik sendiri untuk menalar. Saran IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 7 No. 01 2024 | 29 Agus Nurqowim Saran atau masukan peneliti terhadap penelitian yang berjudul Penerapan Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Mts Al-Kautsar Depok ini bertujuan agar dapat dijadikan bahan rujukan dan pertimbangan sehingga adanya kesadaran dan perbaikan dari pihak sekolah dan perlu adanya pembenahan yang lebih abik. Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat disarankan sebagai berikut: Bagi kepala sekolah, kepala sekolah merupakan orang yang bertanggung jawab dalam keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah maka dari itu kepala sekolah harus lebih ekstra dalam memonitor guru-guru yang sedang mengajar. Kepada guru di Mts Al-Kautsar, terutama guru Aqidah Akhlak, untuk terus meningkatkan profesionalisme, meningkatkan kompetensi, mengembangkan wawasan, dan hendaknya bisa mampu menguasai metode belajar yang bermacam-macam untuk mencapai keberhasilan pembelajaran yang lebih baik. Kepada peserta didik terus semangat dalam belajar, memberikan pemikirannya sendiri, aktif bertanya, sehingga bisa menjadi peserta didik yang percaya diri berkepribadian baik, akhlakul karim, dan bisa berprestasi. Daftar Pustaka